Shady Girl (Part 17)

Tittle : Shady Girl Part 17
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Married Life

Main Cast :

  • Park Haebin / Lee Haebin
  • Lee Donghae

Support Cast :

  • *find by yourself*

Warning : typo bertebaran
Disclaimer : This FF is mine. casts belongs to themselves. don’t copy-paste or re-posting without my permission

Shady Girl by Dha Khanzaki3

———–0.0————-

Part 17

Rapat berlangsung pagi itu. Donghae sebagai wakil Appanya mendengarkan dengan baik saat salah satu bawahannya menjelaskan rancangan proyek mereka di Incheon. Ia menarik map dengan sampul transparan agar bisa melihat lebih jelas materi yang tengah di bahas itu.

Prang!!!

Semua orang tersentak kaget mendengar suara gelas pecah di suasana cukup hening seperti itu. Serentak mereka menoleh ke satu arah. Donghae.
Tangan Donghae yang memegang map bergetar pelan. Secara tak sengaja saat ia menarik map, tangannya menyenggol gelas yang ada di dekatnya hingga jatuh. Mendadak perasaannya tidak enak.
“Ah, maaf sudah membuat keributan.” Donghae meminta maaf kepada semua orang di ruangan itu setelah ia bisa menormalkan kembali pikirannya. Kemudian ia meminta salah seorang staf untuk membersihkan pecahan gelas itu. Rapat pun kembali berjalan.
“Kenapa? Kau tampak kebingungan.” Bisik Siwon yang kebetulan duduk di sebelahnya. Donghae menoleh. Sejujurnya, hatinya sangat resah sekarang. Ia mendapatkan firasat buruk. Seketika pikirannya tertuju pada Haebin. Semoga firasatnya ini salah.

Belum sempat mulutnya terbuka untuk menjawab, ponsel bergetar. Donghae mengerutkan kening dan debaran jantungnya mendadak mengencang kala melihat nama yang muncul di layar ponselnya. Haebin.
Tanpa ragu Donghae segera menjawabnya. Tak peduli saat itu ia sedang berada di sebuah rapat.
“Yeobseo..” ucapnya cepat.
Kerutan di keningnya makin bertambah. Di ujung sana tidak terdengarsuara apapun.
“Haebin.. kau kenapa?” Suara Donghae mulai menegang. Siwon yang berada di sampingnya pun ikut mengerutkan kening karena sahabatnya itu terlihat panik.
Beberapa detik kemudian, yang terdengar justru isakan tangis. Ini pasti suara tangisan Haebin! donghae sangat yakin.
“O-oppa..” suara yang di dengarnya serak dan berat. Sepertinya Haebin sedang menahan diri agar tidak menangis di telepon.
“Umma..”
Donghae mencengkram map yang di pegangnya. “Kenapa Ummamu?”
“Umma meninggal..”
“Mwo??!!” teriak Donghae keras. Kembali membuat seisi ruangan itu kembali menoleh ke arahnya. Ia bahkan sampai berdiri dari tempat duduknya.
“Ada apa Pak GM?” tanya salah satu dewan direksi.
Donghae tidak menjawab karena perhatiannya fokus pada Haebin.

Tadi Haebin bilang apa? Ummanya meninggal? Umma yang di temuinya beberapa hari lalu meninggal? Tuhan.. kenapa ini bisa terjadi?

“Kau di mana sekarang?” tanya Donghae tidak sabar. Orang-orang saling pandang melihat tingkah aneh Donghae. Baru kali ini, General Manager yang terkenal dingin dan tertutup itu tampak paik seperti itu.
“Aku.. di Seoul General Hospital..” suaranya bergetar. Sudah jelas. Ia pasti tidak akan kuat menerima kenyataan seperti ini.
“Baik. Aku akan segera ke sana..” Donghae segera membereskan map yang ada di depannya, lalu menoleh pada Siwon.
“Aku serahkan rapat ini padamu. Aku harus pergi.”
“Oh.. baik.” Jawab Siwon bingung. Rasa penasarannya harus ia tahan sementara waktu karena melihat Donghae begitu panik luar biasa.

Tanpa basa basi Donghae segera berlari ke luar ruang rapat, tanpa sempat berpamitan dengan orang-orang yang mengikuti rapat. Mendadak suasana jadi ribut setelah Donghae pergi. Mereka bertanya-tanya tentang sikap Donghae tadi.
“Ekhem..” Siwon berdehem. Seketika suasana menjadi tenang. Siwon membenarkan kemejanya, lalu berdiri di tempat yang tadi di duduki Donghae. Ia tersenyum ramah kepada semua orang terutama dewan direksi yang hadir.
“Maaf, Pak GM ada urusan yang sangat mendesak. Jadi dia harus pergi secepatnya. Rapat akan tetap berlangsung, dan kali ini aku yang akan memimpin rapat.” Ucapnya.

@@@

@Seoul General Hospital

Donghae berlarian di lorong rumah sakit itu, mencari tempat dimana Haebin berada. Ia tidak mempedulikan teriakan suster yang melarangnya berlari. Setelah menemukan tempat yang dicarinya, langkahnya mendadak terhenti. Dunia seakan berubah menjadi suram saat itu. Tepat ketika kedua matanya menatap sosok Haebin yang duduk di lantai dengan kepala terbenam di antara kedua lututnya yang ditekuk.
“Haebin..” panggilnya dengan suara lirih. Hatinya sangat takut untuk melihat ekspresi Haebin sekarang. Ia mendekatinya karena gadis itu tak kunjung bereaksi juga.
“Haebin..” ulangnya sekali lagi. Kini Donghae memberanikan diri untuk menyentuh kepalanya dengan gerakan lembut.

Barulah ia merasakan Haebin meresponnya. Kepalanya terangkat perlahan. Dan Donghae mengerjap menyaksikan keadaan Haebin yang begitu menyedihkan. Hatinya terasa begitu pedih, seperti tersayat oleh jutaan belati tajam dan panas. Di tambah lagi rasa sesak yang sangat menyiksa.
“Oppa..” mata Haebin yang membengkak karena terlalu banyak mengeluarkan airmata mulai basah lagi. Bibirnya pun bergetar saat berucap tadi. Donghae tidak tahan melihat situasi seperti ini. Tanpa menunggu, Donghae segera memeluknya.

Akhirnya tangisan Haebin kembali pecah. Airmata yang sudah banyak tumpah itu kembali terurai. Bagaimana tidak, airmata sebanyak apapun yang dikeluarkan, tidak akan bisa menggantikan rasa sakit dan penyesalan karena ditinggal pergi orang yang dicintai.

 

Donghae tahu bagaimana perasaan Haebin sekarang. Karena ia pun merasakan hal yang sama ketika So Yeon meninggal dahulu. Tangan Donghae bergerak mengelus punggung Haebin. tak terasa matanya juga ikut panas. Oh, apakah ia sedang bersimpati sekarang? Bukan.. ini bukan simpati. Melainkan perasaan yang lebih kuat dari itu.

“Sudah.. kau terlalu banyak menangis.” Hanya itu yang bisa Donghae ucapkan.

 

Setelah cukup tenang, Donghae menemani Haebin untuk melihat jenazah Ummanya sekali lagi.

Di ruangan itu, ada beberapa petugas rumah sakit dan kepolisian. Juga turut Kibum yang sempat mengotopsi jenazah itu.

Haebin tak kuasa menahan airmatanya lagi saat melihat Ummanya sudah tidak bernyawa. Kedua tangannya membekap erat mulutnya, namun ia tidak bisa menahan diri lagi. Haebin menangis sejadi-jadinya sambil mendekap jenazah Ummanya.

“Umma…” isaknya. Kibum yang berdiri di belakangnya pun menahan airmatanya. Sebenarnya ia ingin menangis namun di tahannya.

 

Sebagai seseorang yang kini menyandang predikat sebagai suaminya, Donghae merasa miris melihat Haebin menangis seperti itu. Matanya berkaca-kaca. Setidaknya, setelah beberapa waktu mereka lewatkan bersama, Donghae bisa memahami sedikit tentang Haebin. gadis itu meskipun ceria, namun ia bisa melihat sorot kesedihan dan rasa kesepian dalam dirinya. Hidup dalam keadaan sangat  sulit dan berat. Tanpa orang tua yang bisa mendukungnya. Namun ia bisa setegar itu. Kini, setelah memahaminya, ia merasa menyesal karena telah menyia-nyiakan hidupnya selama ini.

Apa yang tidak dimilikinya?

Harta? Dia memiliki setumpuk uang untuk ia habiskan. Orangtuanya pun masih lengkap meskipun tidak tinggal bersama. Ditambah lagi, dia memiliki sahabat yang begitu perhatian padanya. Mengapa ia bisa mengabaikan semua itu.. kenapa ia barus sadar kalau hidupnya lebih jauh lebih sempurna dibandingkan Haebin. tapi kenapa ia tidak bisa tegar?

 

Donghae mendekati Haebin perlahan. Ia menarik tubuh Haebin dari depan jenazah ibunya dan segera memeluknya kembali. Membiarkan gadis itu mengangis dipelukannya.

 

Tak lama tuan Lee datang bersama Leeteuk. Ia tercengang melihat keadaan Haebin. begitu menyedihkan. Ia menghampiri mereka. Terutama ke dekat jenazah Umma Haebin. Tuan Lee menahan napasnya melihat sosok yang sudah tidak bernyawa lagi itu. Ia seperti menahan rasa sesak di dadanya. Tuan Lee menutup rapat matanya sejenak.

“Tuan..” Leeteuk cemas melihat Tuan Lee seperti itu.

“Haebin..”  Tuan Lee  menghampiri Haebin. gadis itu menengokkan kepalanya, ia menunduk menyembunyikan wajah sedihnya.

“Kau harus kuat. Ini bukanlah akhir dari hidupmu.”

Haebin mengangguk lemah. Tanpa menjawab sedikitpun. Donghae juga tidak berniat komentar.

 

Kibum menghela napas berat, ia mendekati mereka.

“Aku turut berduka cita, Haebin-ah” ucapnya.

“Gomawo” haebin menjawab dengan suara serak.

 

Tuan Lee melirik pada Leeteuk. Namja itu paham. Lalu menghampiri polisi.

“Pak, Tuan Lee Dong Il ingin bertanya sesuatu padamu.”

Polisi itu mengerti lalu mendekati mereka,

“Tuan, Nyonya, kami turut berduka cita atas kejadian ini.”

“Pak, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa  bisa jadi seperti ini.” Tanya Tuan Lee

“Korban ditemukan tewas di depan panti rehabilitasi itu. Di duga korban terjun dari atap panti karena di atap ditemukan sandal yang dipakai korban hari itu.”

Haebin kaget mendengarnya. “Mustahil. Jadi maksud Anda Umma bunuh diri??”

Polisi itu mengangguk. “Motif kenapa korban melakukannya masih kami selidiki.”

 

Dada Haebin bergemuruh dan kembali sesak. Pikirannya menolak anggapan bahwa Ummanya bunuh diri. Tidak mungkin.

“Tapi Pak, Umma memiliki kelainan pada kejiwaannya. Bagaimana mungkin orang yang sakit seperti itu bisa melakukan tindakan seperti bunuh diri. Umma bergerak dari kursi rodanya saja tidak bisa.” Jelas Haebin dengan suara serak dan tertahan. Matanya kembali basah. Ia hampir menangis kembali.

“Dengan sangat menyesal kami belum bisa memastikan kebenarannya. Ini hanya dugaan sementara berdasarkan keadaan di TKP.”

Tuan Lee mengangguk. “Baik saya mengerti. Jika ada sesuatu, Anda bisa menghubungiku.”

Polisi itu lalu pamit pergi. tuan Lee dan Leeteuk juga harus pergi untuk mengurusi administrasi bersama Kibum. Kini hanya tinggal mereka berdua di sana. Donghae pun tidak mau berlama-lama berada di ruangan itu. Ia segera menarik Haebin keluar.

 

Donghae melihat Haebin mulai goyah. Ia hampir saja terjatuh. Buru-buru Donghae menahan tangannya.

“Haebin, kau tidak apa-apa?”

Haebin terdiam. Pandangannya kosong. Roh haebin seakan sudah melayang dari raganya.

“Kenapa..” terdengar Haebin mulai berkata, ekspresinya sangat memilukan

“Kenapa Umma melakukan ini..” lirihnya lemah. Dengan segenap tenaga yang dimilikinya, Donghae memegang tangan dan pinggang Haebin dan mencoba membuat gadis itu berdiri tegak.

Walau pun sudah bisa menopang tubuhnya sendiri, namun tatapan kosong Haebin belum berubah juga. Donghae menangkup pipi Haebin dengan kedua tangannya. Menatapnya lembut. Ia benar-benar tidak sanggup melihat ke adaan Haebin seperti ini.

“Haebin, lihat aku.” Ujar Donghae serius. “Haebin.. kau harus tegar. Semua ini akan berlalu. Kesedihan ini akan berlalu.” Jelasnya.

 

Mendengar kalimat yang diucapkan Donghae, justru membuat Haebin kembali berkaca-kaca. Airmata itu kembali luruh.

“Tapi Oppa.. Itu Artinya, kedua orang tuaku sudah tiada..” lirihnya berat. Nada bicara Haebin membuat Donghae bungkam. Bagaimana mungkin ia bisa lupa hal itu.. Appanya sudah tiada. Dan sekarang Ummanya pun pergi. Donghae tidak bisa membayangkan itu terjadi pada dirinya.

 

—o0o—

 

Seusai pemakaman..

 

Haebin masih terisak juga di depan pusara sang ibu. Kibum, Kyuhyun, Eunhyuk dan Siwon sudah pulang bersama pelayat lain. Bahkan di saat Donghae meminta agar Haebin pulang, gadis itu menolak dengan tegas.

“Aku masih merindukan Umma..” jawabnya. Ia tetap bertahan di sana. Donghae pun dengan setia menunggunya. Ikut duduk di sampingnya. Pandangan Haebin melayang jauh pada kenangannya bersama sang Ibu beberapa tahun ke belakang. Begitu gembiranya ia waktu itu. Semua itu kini hanya lah sebuah potongan dari film kehidupannya yang tidak mungkin bisa diputar ulang.

 

Mendadak ia teringat kejadian kemarin, saat polisi datang menemuinya.

 

#flashback#

“Ada apa Pak?”tanya Haebin. Ia sedang menemani beberapa tamu yang datang ke rumah duka saat polisi itu datang ke sana.

“Kami ingin menyerahkan sesuatu pada Anda. Benda ini ditemukan di kamar Ibu Anda. Silakan” polisi itu menyerahkan sebuah kotak pada Haebin. tentu saja ia tidak akan tahu isinya jika tidak membukanya. Maka dengan segenap rasa penasaran, ia membukanya.

Polisi itu pamit lebih dulu dan Haebin tidak memperhatikannya karena terlalu sibuk melihat isi kotak itu. Matanya yang bulat melebar karena terkejut. Mulutnya menganga, suaranya pun tercekat melihat isi dari kotak itu.

Haebin menemukan secarik kertas, kalung dan topi rajutan berwarna merah muda di dalamnya. Haebin sangat kenal topi rajutan ini. Sama seperti yang diberikan pada kakaknya, topi ini adalah topi hasil rajutannya untuk Ummanya. Matanya berkaca-kaca kembali. Dengan tangan bergetar dan perasaan campur aduk, ia mengambil topi itu lalu memakainya. Ia juga mengambil surat, membukanya dengan cepat. Haebin melihat tulisan tangan seseorang tertera di atas kertas yang kini dipegangnya. Oh.. Airmatanya sudah tidak bisa di bendung lagi.

 

Umma, ini aku anakmu. Haera. Bagaimana kabar Umma dan Appa di sana. Aku di sini baik-baik saja. Sekarang aku sedang dalam masa-masa penjejakkan cita-citaku. Kau tahu, Aku ini ingin sekali menjadi seorang penyanyi. Aku tahu cita-citaku ini sangat bertentangan dengan keinginan kalian yang mengharapkanku menjadi seorang dokter. Tapi Umma, aku sangat bahagia menjalani hidupku sekarang. Aku harap Umma dan Appa bisa mengerti. Aku kirimkan sesuatu padamu sebagai kenang-kenangan dan bukti dari kerja kerasku. Sebuah kalung yang indah. Tidak semua orang bisa mendapatkannya. Oh, iya.. bagaimana keadaan Haebin?? aku harap Umma dan Appa bisa lebih menyayanginya. Dia anak yang kesepian. Umma, aku harap kalian bertiga akan tetap bahagia tanpa aku. Dan maafkan kesalahanku bila aku sudah menyakiti kalian. Aku mencintaimu, Appa, Umma, dan Haebin.

 

Love forever, Park Haera.

 

Tepat setelah Haebin membacanya, ia menangis kembali. Ini surat dari kakaknya.. kakak yang selama ini menghilang dari kehidupannya. Ia mendekap erat surat itu. Dan jatuh bersimpuh dengan lelehan airmata terus membasahi wajahnya.

#flashback end#

 

Donghae menatapi Haebin yang tak bergeming dari posisinya. Pandangannya kini tertuju pada topi rajutan yang dipakai Haebin. ia merasa pernah melihat topi seperti itu sebelumnya.

 

“Aku ingin sekali mendengar Umma bilang ‘Haebin, nado bogoshipo yo’”

Namja itu mengerjap karena Haebin berbicara tiba-tiba. namun Donghae tidak menjawab gumaman Haebin tadi. Ia tidak tahu harus berkata apa di saat seperti ini. Jujur saja, ia tidak bisa melihat kondisi Haebin seperti ini. Namun ia yakin, setiap orang pasti memiliki masa-masa paling sulit dalam hidupnya. Dan itu akan segera berlalu. Jadi, ia hanya bisa membiarkan Haebin sementara waktu merenung seperti sekarang ini.

 

Perlahan dari langit yang kelabu itu, turun butir-butir salju pertanda musim dingin sudah tiba. donghae mendongkakan  kepalanya ke langit. Awan berwarna putih pekat menggulung menutupi cakrawala. Udara dingin pun menusuk tubuhnya hingga ke tulang. Pusara sang Ibu pun mulai terhiasi oleh salju putih.

“Umma, sepertinya musim dingin tahun ini adalah musim dingin tersulit dalam hidupku.” Lirih Haebin.

 

@@@

 

“Ini sudah malam, Haebin. kenapa kau malah diam di teras di cuaca sedingin sekarang.” Donghae menyampirkan selimut tebal di bahu Haebin. istrinya itu sudah lebih dari 1 jam diam di depan rumah mereka hanya memakai piyama dan jaket. Haebin menatap taman rumah yang kini sudah terselimuti salju tebal.

“Di sini indah sekali. Aku suka.” Gumamnya. sudah satu bulan sejak kematian sang ibu. Sekarang sudah memasuki pertengahan musim dingin. Salju turun membuat udara malam itu semakin beku. Dan Haebin sudah mulai bisa mengkondisikan kembali hidupnya. Tenggelam dalam kesedihan hanya akan menyia-nyiakan hidupnya. Lagipula selama sebulan terakhir Donghae selalu ada di sampingnya. Itulah yang membuat Haebin bertahan hingga sekarang.

“Ayo masuk. Atau kau akan sakit.” Donghae meraih tangan Haebin, membimbingnya masuk ke dalam rumah mereka.

 

Haebin duduk di depan meja makan sementara Donghae beranjak ke dapur.

“Kau ingin minum apa? Akan kubuatkan untukmu” ucap Donghae.

“Coklat panas saja, Oppa”

Haebin tersenyum memandangi punggung Donghae yang sibuk menyiapkan gelas dan cokelat bubuk. Donghae yang sekarang sangat berbeda dengan Donghae saat pertama kali dikenalnya. Haebin bahagia sekali. Ternyata, ia berhasil mengembalikan pribadi Donghae seperti sedia kala. Siapa yang tahu kalau ternyata kejadian buruk yang dialaminya bisa membuat seorang Lee Donghae terpengaruh dan berubah.

 

Lihat saja, sekarang namja itu sangat perhatian. Tidak pernah berkata kasar lagi padanya dan sikap dinginnya, sudah lenyap entah kemana. Benar kata Ibunya dulu. Donghae memang namja yang perhatian dan bertanggung jawab. Hanya saja, sampai saat ini Haebin tidak tahu apakah Donghae menyukainya atau tidak. Namja itu belum menyatakan perasaannya hingga detik ini.

 

Haebin berdiri, dengan langkah pelan ia mendekati Donghae. Entah kenapa malam ini ia ingin sekali bermanja-manja pada suaminya.

Donghae sedang mengocek hot chocolate buatannya saat secara mendadak Haebin memeluknya dari belakang. Membuat semua gerakannya otomatis berhenti.

“Haebin.. kau mulai lagi..” ujarnya kaku. Ia selalu gugup jika Haebin sudah mulai bertingkah mesra padanya. Haebin tersenyum di balik tubuh Donghae.

“Biarkan saja Oppa, cuaca sangat dingin. Aku butuh kehangatan.”

Donghae tersenyum tipis. Ia melepaskan tangan Haebin yang melingkar di pinggangnya.

“Kalau begitu segera habiskan cokelat panas ini, agar badanmu hangat.” Donghae menyerahkan cokelat panas yang tadi sudah dibuatnya.

Haebin mendengus kesal “Huh, kau tidak romantis, Oppa.” Namun pada akhirnya ia mengambil coklat itu juga.  Lalu menyesapnya perlahan.

 

“Ah.. mashita..” serunya girang. “Oppa, cokelat buatanmu enak sekali.”

“Benarkah?” Donghae ikut tersenyum. Ia lalu menggandeng tangan Haebin, membawanya duduk di ruang tengah yang hangat.

Benak Donghae begitu tenang menyaksikan Haebin sudah kembali ceria seperti saat pertama kali mereka bertemu. Sekarang, ia bisa tersenyum bebas semua berkat Haebin juga.

“Aku senang. Kau sudah tidak tenggelam dalam kesedihanmu lagi.” Ujar Donghae sambli menyesap coklat panas miliknya.

Haebin menoleh. Ia membalas dengan senyuman juga. “Tentu saja. Aku harus tegar. Jika tidak, Umma dan Appa di pasti akan sedih melihatku.”

 

Mengenai kasus Ummanya, polisi sampai detik ini masih menyelidikinya. Seperti yang dikatakan polisi saat itu, untuk sementara polisi menduga Ummanya bunuh diri. Meskipun Haebin tidak mau mempercayainya, namun saat ia menyempatkan diri melihat TKP di panti itu, ia mau tak mau harus menerima dugaan polisi. Bagaimanapun, ia yakin Ummanya tidak mungkin bunuh diri. Jika iya, apa motifnya?

 

“Haebin..” Donghae mengibas-ngibaskan tangannya  di depan wajah Haebin karena dia tiba-tiba saja melamun. Pasti kembali terkenang pada ibunya. Matanya mengerjap beberapa detik kemudian.

“A-apa?” ucapnya linglung. Donghae mendengus, ia sebal melihat ekspresi Haebin yang seperti itu.

“Kau melamun tadi.”

“Aku? Ah, tidak…” Haebin diam. Ia jelas sekali sedang merenung. Lalu mendadak wajahnya ceria.

“Oppa, kau tahu, sebenarnya aku masih mempunyai keluarga.”

Donghae terperangah. “Jinjja?” tanyanya tak percaya

“Iya. Aku punya seorang kakak. Dia pergi dari rumah beberapa tahun yang lalu. Dulu aku hanya seorang anak kecil yang tidak tahu harus melakukan apa. Tapi sekarang aku sudah besar. jadi mungkin aku bisa mencarinya.”

“Siapa nama kakakmu?” Donghae mendadak semangat. Ia senang sekali mendengar berita bagus itu. Ia ingin membantu Haebin menemukannya.

“Park Haera..” seru Haebin.

“Park Haera..” ulang Donghae. Pikirannya sekarang penuh oleh cara untuk menemukan kakak Haebin itu. Satu-satunya keluarga Haebin yang dimilikinya. Ia menoleh pada Haebin lagi.

“Apa kau benar-benar ingin menemukannya?”

“Tentu saja. Hmm.. sekarang kakakku pasti sangat cantik.”

Donghae tersenyum kembali. “Baiklah. Aku akan membantumu menemukan kakakmu.”

“Apa? Oppa mau membantuku?” Haebin tak percaya mendengarnya. Ia langsung memeluk Donghae. Namja itu hampir terjengkang ke belakang karena pelukan Haebin begitu mendadak. Jantungnya saja hampir copot. Haebin, bisakah kau tidak seagresif ini.. batinnya.

“Gomawo.. kau memang suami terbaik di dunia, Oppa..”

 

Mendengarnya Donghae tersenyum simpul. kenapa ia selalu speechless saat Haebin bersikap romantis padanya? Haebin merenggangkan pelukannya. Ia menatap langsung wajah Donghae yang berjarak beberapa senti dari wajahnya.

“Kau ingin menggodaku, hah?” tanya Donghae dengan mata menyipit. Haebin mengangkat bahunya.

“kalau aku memang ingin menggodamu, bagaimana?” tantangnya.  Haebin sangat menikmati tingkahnya sekarang. Menggoda suaminya itu menjadi hobi barunya akhir-akhir ini*buset dah*

Donghae mendecakkan lidahnya.  “kau ini.. tidak takut apa kalau aku bisa saja menyerangmu seperti waktu itu jika kau menggodaku seperti sekarang.”

 

Haebin agak takut juga mendengarnya. Ia sedikit menjauhkan dirinya dari Donghae. Namun pria itu dengan sengaja mendekap erat pinggang Haebin agar tidak menjauh. Dia membalas perlakuan Haebin tadi.

“Kenapa? Kau takut?” Donghae balas menggoda.

“Aish, siapa yang takut.” Haebin menantang

“Mwo, kau benar-benar tidak takut aku akan menerkammu hidup-hidup?”

“tentu saja. Kita sudah menikah. Jika kita tidak pernah melakukan ‘skinship’ sama sekali itu artinya ada yang salah dengan pernikahan kita.” Jelas Haebin polos. Eh.. Haebin segera mengatupkan mulutnya begitu menyadari kalau kata-katanya tadi bisa membuat Donghae salah paham. Aish, aku keceplosan.. batin Haebin. eotteohke..

 

Donghae membulatkan matanya mendengar ucapan Haebin. “Omo.. jangan bilang selama ini kau mendambakan aku sentuh seperti waktu itu.” tebaknya.

Haebin langsung gugup. “Aigoo.. Oppa kau salah paham. Sekarang lepaskan aku.. aku ingin tidur..” ia memberontak dari pelukan Donghae.

“Enak saja. Setelah menggodaku kau ingin pergi begitu saja? Aku akan memberimu pelajaran malam ini..” Donghae menyunggingkan senyum menakutkan seperti milik Kyuhyun.

Haebin menggelengkan kepalanya panik. “Ini tidak seperti yang kau bayangkan Oppa, aku bukan gadis yang..” ucapan Haebin terhenti karena sekarang bibirnya dibungkam oleh ciuman Donghae. Matanya yang sempat terbelalak perlahan menutup menikmati sentuhan lembut itu di bibirnya. tangannya pun mulai naik memeluk tengkuk Donghae. Seringaian muncul di sudut bibir Donhgae saat mengetahui Haebin mulai terbawa permainannya. Bahkan gadis itu mulai membalas perlakuannya, membuat ciuman mereka makin dalam dan panas.

 

Di saat Haebin mulai menikmati kemesraan itu, Donghae secara sepihak melepaskan ciumannya. Sekilas raut kekecewaan tampak di wajah Haebin. donghae menatap Haebin tajam.

“Kau serius ingin melakukannya denganku?” tanya Donghae memastikan. Haebin menunduk malu, menyembunyikan wajahnya yang memerah. kenapa Donghae meski menanyakannya dulu? Dia kan suaminya. Bebas melakukan apapun terhadap dirinya.

Kepala Haebin mengangguk perlahan. “Aku tidak pernah seyakin ini, Oppa.” Jawabnya pelan.

Donghae tersenyum, lalu mendekap tubuh Haebin agar bisa merasakan kehangatannya langsung.

“Benarkah? Baik, jika kau sudah menyetujuinya.” Ia lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Haebin.

“Kali ini tanpa obat perangsang” bisiknya nakal. Haebin terkekeh kecil mendengarnya. Ia baru tersadar.

“Omo. Jadi waktu itu Oppa terpengaruh obat itu?” ujarnya menatap Donghae dengan alis bertautan.

“Loh, bukankah kau yang memasukkannya..” Donghae balik bertanya

“Tidak.” Tegas Haebin yakin. “Kecuali ada orang lain yang memasukkanya secara diam-diam ke dalam susu yang kau minum” tambah Haebin.

Donghae mengendikkan bahunya tak peduli. “Whatever, siapapun yang melakukannya, aku harus berterima kasih padanya. Berkat dia, aku bisa melakukannya juga..”

“Oppa..!!!” seru Haebin sambil memukul pelan dada Donghae. Telinganya hampir tak percaya Donghae mengucapkan kalimat seperti itu.

“Tapi terlambat bagimu untuk menghindar. Malam ini cuaca sangat dingin. Kita saling menghangatkan saja. Bagaimana?”

“Jih, itu sih maumu.” Cibir Haebin.

“Memang. Kajja..” Donghae menggendong Haebin ala bridal menuju kamarnya.

 

Malam itu, salju kembali turun.

 

To be continued..

72 thoughts on “Shady Girl (Part 17)

  1. Abang nemo mesum njirrr >< cinta sudah tumbuh di antara kalian berdua, seneng dah happy bacanya.
    Dan kaka Haebin? Apkah bkal ketemu? Semoga. Cus ah ke part selanjutnya.

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s