Shady Girl (Part 16)

Tittle : Shady Girl Part 16
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Married Life, Romance

Main Cast :

  • Park Haebin / Lee Haebin
  • Lee Donghae

 

Support Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Choi Siwon
  • Kim Kibum
  • Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk

 

Masih belum bosen kan baca FF ini? Nah, bagus dong. Soalnya FF ini masih lama tamatnya… dan maaf untuk typo dan sebagainya. *bow*

Shady Girl by Dha Khanzaki3

———–0.0———-

Haebin sudah menyiapkan makan malam. Mendadak ia kembali gugup. Ia baru sadar. Sekarang di rumah ini hanya ada mereka berdua. mungkinkah akan terjadi sesuatu seperti malam itu? Ah, tidak mungkin! Haebin buru-buru menepis pikirannya yang suka melantur kemana-mana itu.
“Kau sudah minum obat?” tanya Donghae. Ia menarik kursi di sebelah Haebin.
“Iya.” Haebin menjawabnya canggung. Ia meneguk segelas air untuk mengurangi rasa gugupnya.

Donghae mengangguk. Ia kemudian memulai lebih dulu acara makan malam itu. Haebin merasa canggung dan kebingungan. Karena mereka hanya makan malam berdua. biasanya kan ditemani Tuan Lee dan Leeteuk. Ah, rasa canggung ini sangat menyiksa. Akhirnya mereka makan malam tanpa mengobrol atau pun berbicara. Hanya diam dan sibuk dengan aktivitas masing-masing.

@@@

“Kau mau tidur di mana? Di kamar tamu atau di kamar utama?” tanya Donghae. Haebin baru saja selesai membereskan meja makan dan mencuci piring.
“Maksudmu?”
“Kita tidak mungkin kan tidur dalam 1 kamar. Nanti..” Donghae tidak melanjutkan kalimatnya, mendadak wajahnya panas mengingat apa yang terjadi malam itu di kamarnya. Oh, jangan sampai hal itu terulang lagi. Ia tidak mau memaksa Haebin melakukan hal yang tidak diinginkannya itu.
Haebin paham maksud Donghae. “Aku tidur di kamar tamu saja. Aku rasa itu lebih adil.” Ucapnya.
Donghae mengangguk. “Baiklah..” ia kemudian pergi.

Haebin menyandarkan dirinya ke tembok. Haduh.. ia tadi melihat ekspresi Donghae yang memerah. Pasti dia juga merasa canggung jika teringat kejadian malam itu. Sekarang juga ia merasakan hal yang sama. Untung donghae bisa memahaminya. Mereka tidak akan tidur sekamar dulu hingga mereka saling menyatakan diri bahwa keduanya saling mencintai. Tapi sepertinya itu tidak akan terwujud.

—-o0o—

Karena hari ini hari Minggu, Donghae memutuskan tidur lebih lama. Walau sebenarnya semalam Siwon meneleponnya hari ini ada pertemuan penting soal proyek barunya. Tapi ia sangat lelah dan ingin beristirahat lebih lama.

Haebin melirik jam dinding sekali lagi. Mengapa Donghae belum bangun juga? Padahal hari ini dia merencanakan sesuatu untuk Donghae.
“Ah, lebih baik kubangunkan dia.” Putusnya. Ia masuk ke dalam kamar Donghae dan menemukan namja itu masih tidur bergelung di balik selimut tebal.
“Oppa.. wake up..” Haebin mengguncang tubuh Donghae pelan agar ia bangun. Tapi hasilnya nol. Donghae tetap tertidur damai. Ia menangkup pipi Donghae dengan kedua tangannya, bermaksud membangunnya dengan menepuk-nepuk pipinya. Namun siapa sangka, Donghae malah menariknya jatuh ke dalam pelukannya. Haebin mengerjap kaget. Aduh.. Donghae pasti mengira dirinya adalah guling sampai mendekapnya seperti itu.
“Min-chan.. kau mau membangunkan Oppa seperti apa lagi?” ucapnya. Hah? Min-chan? Haebin mengerutkan keningnya. Apa Donghae mengigau? Kenapa ia mengira dirinya adalah Minki?

—o0o—

Dada Haebin berdegup kencang. Mungkin bisa menyaingi kecepatan roller coaster di taman bermain. Di tambah lagi keadaan mereka yang saling berdekatan.
“Oppa.. ini aku, bukan Minki.” Suara Haebin nyaris berbisik. Donghae tampak mengerjap, mendengar suara yang didengarnya bukan suara anak kecil seperti yang dibayangkannya. Secepat kilat Donghae membuka matanya. Dan betapa terkejutnya ia ternyata yang sekarang sedang dipeluknya adalah Haebin. bukan Minki.
“Mi-mianhae..” Donghae segera melepaskan pelukannya lalu bangkit, duduk di atas ranjang. Haebin ikut bangkit. Ia merasa sangat canggung.
Donghae menggaruk kepalanya. “Apa yang kau lakukan di sini?”
“Membangunkanmu Oppa.” Jawab Haebin terbata. Donghae menepuk keningnya sendiri saat sadar bahwa mereka sudah pindah dari rumah lamanya. Tentu mana mungkin Minki datang berkunjung ke sana.
“Oppa, di mana rumah Sungmin Oppa?” tanya Haebin tiba-tiba.
“Eh? Itu, tidak jauh dari sini. Kenapa?”
Haebin berdiri. “Kita ke sana sekarang. Ayo Oppa, segera bersiap-siap. Pakai baju santai saja yah..” seru Haebin sambil menarik tangan Donghae agar berdiri.
“Mwo????”

“Haebin, sebenarnya apa yang kau rencanakan?” tanya Donghae tidak mengerti. Tadi Haebin memintanya agar memakai pakaian santai untuk berolahraga. Donghae bahkan sekarang sudah menggunakan pakaian santai lengkap dengan sepatu kets dan topi. Sekarang yang tidak ia mengerti adalah kenapa Haebin sudah bersiap di depan rumah dengan menaiki sepeda? Sepeda milik So Yeon dulu?
“Kita berolah raga hingga ke rumah Sungmin Oppa.” Jelas Haebin dengan wajah cerah. Donghae terperangah. “Aku naik sepeda, dan Oppa berlari.”
“Mwo!!!” serunya tak percaya. Ia berkacak pinggang. “Kau ingin aku berlari ke sana sementara kau naik sepeda? Bukankah itu tidak adil?”
“Ini sangat adil Oppa. Kau kan laki-laki. pasti kuat. Sementara aku wanita, mana bisa aku mengimbangimu berlari.” Jelas Haebin asal. Padahal jika ia mau, ia bisa saja menemani Donghae berlari. Tapi ia sedang malas.
Donghae memalingkan wajahnya. Ia benar-benar tidak bisa menerima usul Haebin itu. Sekarang terpaksa Haebin harus merayunya.
“Ayolah Oppa..” rayu Haebin dibuat manja. Donghae belum bergeming juga.
“Bukankah kau baru sembuh dari sakit. Kau tidak boleh kelelahan Haebin!” ujar Donghae galak.
“Justru itu. Kita berolahraga biar tidak sakit. Lagipula Oppa juga pasti membutuhkannya kan. Berolahraga itu sangat baik untuk pegawai yang lama menghabiskan waktunya di depan meja sepertimu.”
Donghae berdecak sebal. “Yeoja ini, benar-benar..” ia diam sebentar. “Baiklah. Ayo..” akhirnya Donghae setuju juga dengan usul Haebin itu. Lari pagi bukan ide yang buruk ko. Tapi yang lebih penting adalah. Ia senang bisa menghabiskan waktu bersama dengan Haebin seperti ini.

Mereka menelusuri jalan yang ditumbuhi pohon rindang di sisi kiri kanannya. Donghae bisa menghirup udara segar sambil berlari dan Haebin yang mengendarai sepeda di sampingnya.
“Lihat Oppa, pemandangan di sini indah kan?” ujar Haebin sambil terus mengayuh sepeda.
“Ne. Kenapa aku baru sadar yah?” tanyanya pada diri sendiri.

Baru setengah perjalanan, mereka istirahat sejenak di dekat sebuah danau yang ada di sana. Haebin menyodorkan sebotol air mineral pada Donghae. Tanpa ragu Donghae mengambilnya, lalu meneguknya. Ia memang merasa haus sekali.
“Kau benar. Berlari seperti ini membuat jiwaku serasa terlahir kembali.” Ucap Donghae. Matanya kini menelusuri pemandangan indah di sekitar danau itu. Haebin mengangguk. Ia tersenyum bahagia. Terlebih karena akhirnya ia bisa melihat ekspresi Donghae begitu santai seperti sekarang.
“Kau memang sudah terlahir kembali Oppa.”
Donghae menoleh, ia merasa ada yang berbeda dengan cara Haebin berbicara.
“Maksudmu?” ia mengerutkan kening. Haebin tersenyum, ia meluruskan kakinya.
“Sekarang kau tampak lebih bebas dari sebelumnya, Oppa. Kau terlihat lebih tenang dan santai. Tidak seperti dulu. Kau tampak suram, seperti menanggung beban yang sangat berat di pundakmu.”

Donghae merenung, jika dipikir lagi memang sama seperti yang dikatan Haebin. sebelum ini, ia seperti hidup di neraka. Beban berat, perasaan tertekan, rasa tidak bahagia, dan emosi yang meninggi. Ia seperti terhimpit di antara 2 batu besar dan tidak bisa bergerak sama sekali. Seperti itu lah perasaannya. Namun sekarang berbeda, entah sejak kapan perasaan ini datang. Sekarang ia merasa lebih tenang. Tak terasa ada beban ataupun emosi dalam benaknya. Ia merasa damai.

Apakah ini karena Haebin begitu mempengaruhi hidupnya? Perlahan senyum di wajahnya terbit juga. Walau pun hanya seulas senyum tipis, namun itu membuat Haebin yang melihatnya merasa begitu bahagia.
“Oppa.. akhirnya aku bisa membuatmu tersenyum seperti itu juga..” seru Haebin takjub. Donghae mengerjap. Ia menoleh pada Haebin yang sekarang sedang menatapnya dengan mata berbinar-binar. Membuatnya gugup setengah mati.
“Senyum apa?” ucapnya kikuk, lalu memalingkan wajahnya.
“Itu.. tadi,” Haebin juga bingung mendeskripsikannya. Ia hanya menunjuk-nunjuk wajah Donghae sambil tersenyum senang.
“Aish.. Apa maksudmu..” ia merasakan pipinya memanas karena digoda oleh Haebin. ia bangkit.
“Lebih baik, kita lanjutkan perjalanan ke rumah Sungmin Hyung.” Tegasnya lalu kembali berlari.
“Omo.. Oppa tunggu..” Haebin bergegas bangkit lalu menaiki sepedanya dan mengejar Donghae yang sudah berlari meninggalkannya. Meskipun Donghae masih malu-malu mengakuinya, tapi Haebin senang sekali. Setidaknya ia berhasil membuat Donghae tersenyum tanpa beban seperti itu. Perlahan, Donghae yang dulu pasti akan kembali.

@@@

“Hoo.. ternyata kalian pindah rumah. Pantas saja tidak datang..” omel Siwon sore itu. Tanpa diduga, Siwon, Eunhyuk, Kyuhyun dan Kibum datang berkunjung ke rumah mereka. Padahal Donghae baru saja pulang dari rumah Sungmin. Mereka berdua-Donghae dan Haebin- tentu saja kaget dengan kunjungan mendadak teman-temannya itu.
“Kalian kenapa tidak bilang jika ingin datang.” Keluh Donghae, mempersilakan mereka masuk.
“Tadinya kami ingin memberi kejutan. Tapi waktu datang kerumah Appamu, Leeteuk Hyung bilang kau sudah pindah kemari.” Jelas Eunhyuk. Donghae mengangguk.
“Mana Haebin?” tanya Kyuhyun polos. Kibum sampai harus menyikut Kyuhyun setelah melihat tatapan curiga Donghae.
“Ha, sudah kuduga, kau memang menyukai Haebin kan?” Donghae bertanya dengan nada sinis. Terdengar cemburu.
“Tidak. Dia kan muridku. Memang salah.” Jawab Kyuhyun. Donghae sebal sekali mendengar jawaban setan tengil itu. Ingin sekali rasanya menjitak kepala yang isinya hanya game itu.
“Tunggu di sini. Akan aku panggilkan dia.” Donghae lalu pergi.

Tak lama Haebin datang membawakan mereka minuman dan beberapa makanan.
“Wah, kalian kemari kenapa tidak mengabari dulu? Kami kan jadi bisa menyiapkan sesuatu untuk kalian.” Haebin meletakkan gelas-gelas berisi minuman di atas meja.
“Ah, tidak perlu repot-repot. Ini juga sudah lebih dari cukup.” Ucap Siwon.
“Haebin-ssi, kau sudah lebih baik?” tanya Kibum. Haebin mengangguk.
“Tentu saja.”
“Memang kenapa?” kini Kyuhyun bertanya.
“Dia sakit kemarin. Sempat di rawat juga di rumah sakit.” Jawab Kibum.
“Nde!!!!” seru Eunhyuk, Siwon, dan Kyuhyun bersamaan.
“Kenapa tidak bilang. Tahu begitu aku akan menjengukmu kemarin.” Ucap Eunhyuk.
“Ah, mianhae. Lagi pula hanya kelelahan biasa. Tidak menjenguk juga tidak apa-apa.” Ucap Haebin malu-malu.
“Ngomong-ngomong, kenapa kalian pindah kemari? Memang ada masalah yah?” Kyuhyun bertanya lagi. Dia memang suka penasaran. Maklum, jiwa peneliti memang melekat dalam dirinya.
Eunhyuk menjitak kepala Kyuhyun, seperti yang selalu ia lakukan tiap kali melihat Kyuhyun mulai tidak bisa membaca situasi lagi. Haebin mengerjap kaget melihatnya. Baru kali ini ia melihat Eunhyuk yang baik hati itu melakukan tindakan kasar.
“Auch.. ya!” Protes Kyuhyun.
“Hentikan sifatmu yang suka penasaran itu! Sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertanya, bungsu!” omelnya.
“Tapi bisakan tidak pake acara memukul segala? Aku kan bukan Taemin! DAN BERHENTI PANGGIL AKU BUNGSU!!” bentak Kyuhyun. “Aku anak sulung tahu!” tambahnya. Eunhyuk berlagak tidak peduli. Ia bahkan menutup telinganya begitu mendengar Kyuhyun mulai berkoar-koar tidak jelas.
Siwon dan Kibum hanya menggelengkan kepalanya, mereka sudah terbiasa melihat situasi seperti itu.

“Ya! Kenapa kalian malah membuat keributan di rumahku??!!” ujar Donghae dengan nada tinggi.

—o0o—

Kyuhyun, Kibum, Siwon dan Eunhyuk pulang juga akhirnya setelah tadi mereka makan malam bersama sambil bercerita banyak tentang kenangan mereka saat kuliah dulu.

“Haebin, boleh bertanya sesuatu?” Donghae mendekati Haebin yang sedang menonton Tv. Ia duduk di sebelahnya.
“Boleh. Tanya saja Oppa.”
“Aku tahu Appamu sudah meninggal. Lalu bagaimana dengan Ibumu? Apa yang terjadi padanya?”
Haebin seketika terdiam. Ia langsung menundukkan kepalanya. ah, Donghae tahu ia sudah salah bertanya. Seharusnya ia tidak bertanya masalah yang sangat sensitif seperti itu.
“Maaf, kau tidak perlu menjawabnya. Aku hanya penasaran. Karena aku mendengar kau sudah dua kali mengigaukan ibumu.”
Haebin menoleh. “Tidak apa-apa.” Ucapnya cepat. Lalu kembali menundukkan kepalanya.
“Umma.. dia masih hidup. Hanya saja..” Haebin tidak melanjutkan kalimatnya. Ia merasa sedih jika harus membicarakan soal ibunya.
Donghae menegang melihat wajah tertekan Haebin. “Dia sedang sakit..” ucap Haebin dengan suara tertahan. Napasnya pun mulai tercekat.
“Lalu, kenapa kau jarang mengunjunginya?” tanya Donghae takut-takut.
“Sudah kubilang, dia sakit..”
Donghae diam sebentar. Ia menelan ludahnya, lalu menyiapkan diri untuk bertanya lagi. Ia takut menyinggung perasaan Haebin lagi.
“Bolehkah aku mengunjunginya?”
Haebin meloleh, matanya terbelalak kaget. “Oppa, kau benar-benar ingin mengunjungi Umma?” tanya Haebin tidak percaya. “Benarkah?” ulangnya.
Donghae mengangguk pasti. “Kenapa? Apa tidak boleh?”

Haebin tampak ragu. “Boleh. Tentu saja.” Ia diam sejenak. “Kalau Oppa mau, besok kita bisa mengunjunginya.”

Donghae makin penasaran. Kenapa ekspresi Haebin seperti itu? Ia tidak sabar menunggu hari esok tiba.

@@@

Mereka pergi bersama ke sebuah tempat di pinggiran kota Seoul. Donghae mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat mereka berada sekarang. Ia bingung. Bukankah Haebin bilang ibunya sakit? Tempat yang mereka datangi sekarang tidak tampak seperti rumah sakit. Namun kebingungannya itu terjawab saat ia membaca papan berukuran besar yang ada di depan bangunan itu. Donghae sangat terkejut.
“Haebin, ini kan..” Donghae tidak meneruskannya, ia melihat Haebin mengangguk.
“Ayo masuk Oppa, kau akan bertemu dengan Umma”

Mulut Donghae bungkam seketika, ia hanya menatapi Haebin yang tengah menyapa beberapa suster yang sudah dikenalnya, mengikuti gadis itu di belakangnya. Entah Haebin akan membawanya ke mana.
Langkah mereka berhenti tepat di sebuah taman. Haebin menghampiri seorang wanita paruh baya yang duduk di atas kursi roda. Wanita itu hanya diam. Bahkan ia tidak menyadari kehadiran Haebin. donghae berhenti tepat beberapa meter di dekat mereka. Hatinya mendadak miris melihat keadaan Umma Haebin seperti itu.
Jadi, maksud Haebin Ummanya sakit adalah seperti ini? Jadi ini alasan kenapa Ummanya berada di tempat ini karena ini? Ini adalah panti rehabilitasi bagi orang-orang yang menderita kelainan jiwa. Dan apakah itu yang dialami oleh Umma Haebin sekarang?
“Umma..” Haebin tersenyum menyapa Ummanya. Namun tidak ada reaksi dari Ummanya itu. Haebin lalu berlutut di hadapan Ummanya.
“Ini aku, putrimu. Park Haebin. seperti biasa, datang mengunjungimu. Bagaimana kabar Umma sekarang? Baik-baik saja kan?”
Donghae mengerjap. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat Haebin mulai berkaca-kaca. Namun gadis itu bertahan untuk tidak mengeluarkan airmatanya. Aigoo.. kenapa dadanya jadi sesak dan perih sekarang?
“Umma, kau tahu, aku sudah menikah. Lihat, suamiku saja bahkan datang mengunjungimu. Ia berkata sangat ingin bertemu denganmu.” Haebin lalu menoleh ke arah Donghae. Otomatis Donghae mendekatinya.
“Annyeong haseyo, Eommanim..” Donghae menundukkan kepalanya. “Aku Lee Donghae. Seperti yang dikatakan putrimu, aku suaminya.”

Donghae menatap dengan teliti ibu mertuanya itu. Sama seperti sebelumnya, ia tetap diam. Seolah tidak ada siapapun di hadapannya. Haebin sudah tidak bisa membendung airmatanya lagi melihat keadaan ibunya seperti ini. Tetes demi tetes airmata jatuh di sudut ke dua matanya.
“Aku merindukanmu, Umma..” lirihnya. Ia lalu bangkit dan berlari dari sana, ia sudah tidak bisa menahan diri lagi. Ia tidak mau menangis di depan Ummanya.
“Haebin!” teriak Donghae. Ia bingung apa yang harus dilakukannya, jadi ia memutuskan untuk mengejar Haebin saja. Setelah Donghae pergi, dari sudut mata wanita paruh baya itu, menetes sebutir airmata. Ia menangis dalam diam.

—o0o—

Donghae mencari-cari Haebin ke arah gadis itu pergi tadi. Dan akhirnya ia menemukan gadis itu menangis di bawah sebuah pohon maple yang daunnya sudah berubah warna. Donghae mendekatinya perlahan. Dadanya bergemuruh mendengar suara isak tangis Haebin. terdengar seperti syair lagu yang begitu menyayat hati.
“Umma..” dia berkali-kali menyebut Ummanya di sela tangisannya.
“Haebin..” Donghae memegang bahu gadis itu. Barulah saat haebin membalikkan badannya Donghae bisa melihat ekspresi kesedihan dengan jelas di raut wajahnya. Lagi-lagi rasa sesak itu kembali muncul. Tolong, jangan menangis lagi seperti ini.. ia tidak tahu harus melakukan apa untuk menghilangkannya.
Tangan Donghae perlahan bergerak memeluk pinggang Haebin, menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Hanya ini yang bisa ia lakukan sekarang. Memeluk erat seperti ini. Ia harap Haebin bisa berhenti menangis.
“Mianhae.. tidak ada yang bisa kulakukan untukmu selain ini..” bisik Donghae pelan tepat di telinga Haebin.
“Oppa..” Haebin balas memeluknya dan tangisannya kian menjadi. Sama seperti malam itu, Haebin hanya bisa menangis dengan bebas seperti ini saat Donghae ada di dekatnya, memeluknya seperti yang dilakukannya sekarang.

Donghae bisa merasakannya. Dari tangisan Haebin, bahwa gadis itu menyimpan kesedihannya selama ini. Ia bahkan sangat kagum pada Haebin. ia bisa sangat tegar ditengah keadaan keluarganya yang seperti ini. Jika itu adalah dirinya, mungkin ia akan memilih bunuh diri daripada meneruskan hidup dalam keadaan seperti itu.
“Tenanglah.. semuanya akan baik-baik saja.” Donghae mencoba menenangkan Haebin dengan mengusap lembut kepalanya. “Ada aku di sisimu sekarang.” Tambahnya lagi. Mendengar kalimat yang diucapkan dengan tulus seperti itu, perlahan tangis Haebin pun mereda. Menyisakan airmata yang masih saja bergulir membasahi pipinya. Ia merasa tenang sekarang. Sangat tenang.

Benar. Sekarang ada Donghae di sisinya.

@@@

“Oppa.. Ayo banguuun..” teriak Haebin tepat di telinga Donghae. Pagi itu, ia semangat sekali membangunkan Donghae yang masih tertidur di kamarnya.
“Aish.. ini kan masih jam 6..” gerutu Donghae. Ia lalu menarik selimut dan kembali tidur. Haebin berkacak pinggang. Kenapa suaminya jadi pemalas seperti ini? Biasanya tanpa disuruh juga dia bangun sendiri. Yah.. sejak hari itu, hubungan Haebin dengan Donghae memang lebih baik. Meskipun sampai saat ini ia masih penasaran apakah Donghae mencintainya atau tidak, tapi ia senang karena namja itu tidak lagi dingin kepadanya seperti dulu.
“Ayolah.. bangun pagi itu baik untuk kesehatan..”
“Apa?? Sekarang nasehat apa lagi yang kau dapat dari Kibum?” gerutunya dari balik selimut.
“Tidak ada. Ini nasehat dariku tahu..” Haebin menarik selimut dari tubuh Donghae dan ia terkejut karena melihat Donghae hanya tidur dengan menggunakan celana pendek.
“Kyaaaaa…” teriak Haebin kaget, refleks ia menutupi wajahnya dengan selimut.
“Ya!!! Cepat kemarikan selimut itu!!” Donghae pun ikut panik. Ia lupa kalau ia hampir tidak berpakaian saat itu. Haebin melemparkan selimut itu lalu lari kalang kabut keluar kamar. Donghae tersenyum tipis melihat tingkah Haebin seperti itu.
“Dasar.” Ucapnya lalu bangkit.

“Hari ini aku akan pulang malam.” Ucap Dongahe. Haebin mengangguk paham.
“Iya. Lagipula aku juga sibuk. Sebentar lagi kan aku akan lulus kuliah..”ucapnya bangga. Ia mengantarkan Donghae sampai ke depan rumah.
Donghae terdiam sejenak. Bukannya segera masuk ke dalam mobil yang sudah siap menunggunya di sana. Ia malah menatapi Haebin dalam diam.
“Kenapa? Ada yang kurang?” tanya Haebin bingung.
Donghae mengerjap. Ah, kenapa tadi ia berharap Haebin akan memberikannya morning kiss seperti sebelumnya? Dia pasti sudah gila.
“Ah, tidak. Kalau begitu aku pergi yah..” Donghae akan membuka pintunya namun Haebin menahannya.
“Oppa..”
“Kenapa?”

Chuup—

Donghae mengerjap. Tanpa diduga Haebin menciumnya walau hanya sebentar. Ia menatap Haebin yang tersenyum girang.
“Hati-hati di jalan, Oppa..” ucapnya. Donghae mendadak jadi canggung. Ia hanya mengangguk lalu masuk ke dalam mobil. Tak lama mobil pun pergi dan Haebin melambaikan tanggannya. Hah.. jadi seperti inilah seharusnya kehidupan sepasang suami istri. Begitu damai.

Setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah, ia bersiap-siap untuk pergi kuliah. Pakaiannya sudah rapi dan Saat Haebin akan keluar, tiba-tiba telepon rumah berbunyi. Haebin segera mengangkatnya.
“Yeobseo..”
“Apa ini dengan nona Park haebin?”
Haebin mengerjap. “Iya..” jawabnya was was.
“Kami dari rumah sakit. Ini tentang ibu anda….”
Jantung Haebin berdebar kencang. Tanpa sadar ia mencengkram gagang telepon. Tuhan, apa yang akan terjadi sekarang?
“Ibu saya kenapa?”
“Ibu anda ditemukan tewas di Panti rehabilitasi pagi tadi. Mohon Anda segera ke rumah sakit sekarang juga.”

Brakk..

Haebin menjatuhkan gagang telepon yang dipegangnya. Otaknya langsung kosong. Tubuhnya pun kaku seketika.

“Umma..” lirihnya setelah bisa mencerna kata-kata yang didengarnya tadi.. tubuhnya langsung bergetar. Ia tidak percaya dengan berita yang di dengarnya. Itu pasti bohong..
Tanpa bisa ditahan lagi, airmatanya jatuh satu persatu dan tangisnya meledak. Ia jatuh lemas di atas lantai rumahnya.
“Umma!!!!” jeritnya kencang. Dunia terasa runtuh di sekitarnya.

To be continued..

71 thoughts on “Shady Girl (Part 16)

  1. Huh..syukurlah donghae udah bisa nerima haebin..🙂
    Mwoya??umma haebin meninggal??😥 ..haebin ttp sabar tegar ya..ada donghae oppa disisimu…🙂

  2. berasa jadi haebin banget jadi dia stres itu karna mmanya juga yang lagi di panti rehabilitasi😦
    lagi romantis”nya eh pas diakhirnya bikin nyesek banget kayanya nih ff banyak teka-tekinya banget

  3. Yaampun eonni jahat bgt sih T.T masa dari chapter yg kmaren” haebin disuruh nangis terus~
    Sabar ya neng= buat haebin *pukpukpuk

  4. Astagaaaaaaaaa.. kasian si bin cobaannya bner” bertubi” smoga aj si hae bsa mnghiburnya dan mnjdi tmpat sndarannya dahh

  5. Aduh padahal ini part udah manis-manis banget antara Haebin sama Donghae, mendadak jadi sedih di akhir part benar2 hdup Haebin hancur kalau gk ada Donghae.
    Cus ke part selanjutnya.

  6. Owh Ibu Haebin trkena gangguan mental??? Apa krna dtnggl suami dan anaknya,,pdhlkn msi ada Haebin,,ksian ya ortunya gk trllu pduli ama Haebin,,klihtannya lbh syg ama kkk ny… Knp tb2 Ibu Haebin menangis???

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s