Archive | Januari 18, 2013

When We Meet..

Judul: When We Meet
Author: Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre: Romance sad
Rating: Teenage
Length : Oneshoot

Main cast:
~ Choi Siwon
~ Shin Min Ji (OC)

Cuap-Cuap Author: Halo.. Shin Je Young imnida… ini adalah FF pertama Author yang castnya Bang Wowon.. Biasanya sih suami Author Si evil Kyu yang selalu jadi main castnya…hehehe *minta dihajar massa*
Mianhae kalau ada kesalahan ketik, kengawuran karakter, ataupun ada tata bahasa yang amburadul. Maklum, Author masih dalam tahap pembelajaran..
Warning: FF ini kemungkinan bikin reader ngantuk atau ngebosenin.. tapi Author harap readerdeul semua menikmati (?) cerita yang disajikan Author… #bahasa lo Thor!!!

Happy Reading..^_^

When We Meet by Dha Khanzaki

@@@

“Tidak ada pertemuan yang abadi”

(Sunny Quotes, dalam filim ‘Cinta Pertama’)

__o0o__

Langit sore itu tidak secerah biasanya. Mendung dengan awan hitam bergulung di ujung cakrawala. Angin musim semi menerbangkan daun-daun kering berwarna kecoklatan di area pemakaman itu.

Siwon belum juga beranjak dari tempatnya berdiri. Pandangannya sendu. Matanya tampak bengkak setelah seharian terus mengalirkan airmata. Yah, menangisi kepergian orang yang sangat dicintainya.

“Kenapa kau pergi tanpa berpamitan denganku?” suaranya serak. Napasnya tercekat dan dadanya terasa perih ketika kalimat itu terucap. Matanya menatap lurus pusara bertuliskan ‘Shin Min Ji’ di atasnya. Kini wanita itu, wanita yang sangat dicintainya dengan sepenuh hati, telah pergi menyisakan kehampaan bagi jiwanya.

Min Ji adalah separuh jiwanya. Itu benar. Dia mendadak hadir di hidupnya dan kemudian menghilang tanpa bekas bagai asap.

“Kau ingat saat pertama kita bertemu? Mungkin saat itulah aku jatuh cinta padamu..” gumam Siwon sambil menatap lekat nisan yang tidak mungkin bisa menjawab pertanyaannya. Kenangan-kenangan itu kembali berkelebat di otaknya. Memori yang tidak akan terhapus sampai bertahun-tahun ke depan bahkan sampai ia mati sekalipun. Yaitu kenangan saat ia bertemu dengan Min Ji..

*Flashback*

“Aduh, sayang banget kalau dibuang” keluh Min Ji karena kue Black Forest yang dibuatnya lebih mengenaskan dari kue semacam itu pada umumnya.
“Wow, yakin itu bisa dimakan? Kurasa tidak” ucap Park Hye Neul, teman satu kelasnya mengomentari kue hasil karya Min Ji dalam praktek PKK tadi. Min Ji mengangguk lemah.
“Araseo. Ini bahkan jauh lebih berantakan dari kota Texas yg luluh lantak karena badai Kathrina”
Hye Neul menepuk pundak Min Ji untuk menyalurkan spirit pada sahabatnya.
“Ayolah, gagal adalah kesuksesan yang tertunda. Masih ada lain hari” hiburnya.
Min Ji menghela napas berat. Iya, lain hari.. Batinnya mencelos. Bagi Min Ji, kata ‘lain hari’ itu bagai mimpi buruk. Selalu membuat bulu kuduknya meremang dan tubuhnya bergetar.

“Ah, akan kuberikan kue ini pada Choi Siwon! Bukankah sebentar lagi dia ulang tahun?” Min Ji dan Hye Neul menoleh ke arah belakang. Tepat ke kerumunan Kim Chae Rin dan dayang-dayangnya. Mereka memang fans setia Choi Siwon, namja yang berada di urutan no. 1 di daftar murid terpopuler di SMU Byung Moon, sekolah mereka.
“Benar juga! Kue ku juga akan kuberikan padanya ah..” celetuk Hye Neul membuat Min Ji tersentak. Bahkan sahabatnya juga sudah kecanduan Siwon? Oh, dear..

Niatnya Min Ji akan membuang kue gagalnya ke tempat pembuangan sampah yang ada di belakang sekolah. Koridor di sana sepi. Karena sebagian besar murid masih di kelasnya. Saat itu, di detik itu, duduk Siwon di lantai sambil meneguk air dari botol.
Min Ji mengerutkan kening. Sedang apa Siwon di sana? Sepertinya dia sedang istirahat sehabis olahraga. Bisa dilihat dari wajahnya yang basah oleh keringat dan baju olahraganya tampak lusuh oleh debu.
“Ehem..” Min Ji berdehem memberi isyarat bahwa dirinya ada di sana. Siwon justru kaget melihat Min Ji.
“Wae.. Waeyo!” tanyanya gugup seraya berdiri dan bertingkah sok keren.
“Mianhae, membuatmu terkejut. Aku hanya ingin lewat” Ucap Min Ji tanpa ekspresi. Siwon kaget. Kebanyakan yeoja pasti akan kelabakan dan gugup setengah mati ketika berhadapan dengannya. Tapi yeoja ini, dia malah memasang ‘poker face’ seperti ini.

Min Ji memang tidak ikut terjebak dalam ‘Siwon fever’ seperti teman-temannya yang lain. Alasannya sederhana, karena ia takut. Banyak sekali ketakutan dalam hidupnya. Termasuk takut ia akan jatuh cinta pada Siwon, oh bukan, sepertinya ia memang sudah jatuh cinta padanya.. Karena itu, untuk menutupi perasaannya, ia lebih baik acuh tak acuh pada namja tampan di hadapannya.

Siwon mengerutkan kening melihat yeoja di hadapannya melamun. Sesaat kemudian yeoja itu menggeleng dan bergerak melewati Siwon.
Sekilas Siwon melihat raut takut dan sedih di sorot mata yeoja itu. Tapi ia mencoba mengabaikannya.

Kriuukkk~

Langkah Min Ji terhenti. Sementara Siwon membatu di tempat. Min Ji menoleh dengan wajah bertanya-tanya.
“Kamu lapar ya?”
Glek! Siwon menelan ludah. Aduh, malunya! Perut sialan! Kenapa berbunyi di saat begini sih! Gerutunya dalam hati.
Siwon perlahan membalikkan badan, lalu ia tersenyum kikuk pada yeoja poker yang sedang menatapnya masih dengan pandangan datar.
“Eh, sebenarnya.. Iya, aku kelaparan” aku Siwon sambil cengengesan.

Min Ji berusaha agar tidak tertawa, namun usahanya gagal. Ia tetap tertawa meski pelan dan hanya sudut bibirnya yang naik dan membentuk senyuman.

Siwon terdiam lagi. Ia dibuat takjub. Wajah tanpa ekspresinya kenapa jadi tampak menawan ketika dia tersenyum? Meskipun di wajahnya bertengger kacamata tebal dan penampilannya lebih mirip Betty La Fea, tapi di balik semua itu terpancar pesona tersendiri dan Siwon bisa melihatnya dengan jelas.

“Em, siapa namamu?”
Pertanyaan Siwon membuat senyum Min Ji terhenti. Wajah poker itu muncul kembali. Aargh, Siwon mengutuk dirinya sendiri mengapa bertanya hal memalukan begitu.
“Shin Min Ji” jawab Min Ji singkat.
“Oh, aku Choi Siwon. Kau tahu kan?”
Min Ji mengangguk singkat. Siwon melirik sekilas ke arah kue ‘naas’ yang dipegang Min Ji.
“Em, kue itu..” Siwon menunjuk ke arah kue Black Forest yang gagal di tangan Min Ji.
“Oh, ini. Kenapa? Jelek ya? Memang akan kubuang kok”
Min Ji hendak melangkah namun Siwon menahannya.
“Chakkaman, boleh kucoba?”

Min Ji terkejut luar biasa. Siwon, namja keren sepertinya ingin mencoba kue hancur yang bahkan dirinya sendiri ragu untuk mencobanya? Aneh tapi ajaib.
“Benar tidak apa-apa? Jika kau keracunan atau sakit perut jangan salahkan aku. Oke!” ucap Min Ji menasihati.
Siwon mengangguk. Ia mungkin gila. Tapi hati nuraninya mengatakan ia harus mencoba kue itu. Dan perutnya juga tidak bisa diajak kompromi. Ia memang belum sempat makan tadi pagi.
Min Ji menyerahkan kue ditangannya ragu-ragu.
Siwon segera meraih kue itu.
“Tunggu, biar aku belah dulu. Dan kau juga makan pake ini” Min Ji menyerahkan sendok pada Siwon. Ia mengambil kue, dan membelahnya.

Karena sudah terlalu lapar, Siwon tidak mempedulikan tampilan luarnya dan segera melahap kue itu. Min Ji menggigit jari ketika Siwon menyuapkan kue ke mulutnya.
“Gimana rasanya? Gak enak ya?” tanya Min Ji takut-takut.
Siwon sedang menikmati bagaimana rasa itu di mulutnya.
“Em.. Enak kok..” gumam Siwon. Lalu menghabiskan sepotong kue lagi.
Min Ji tidak yakin dengan ucapan Siwon, lantas mencobanya sendiri.
“Ah, benar. Tidak buruk. Untung belum kubuang”
Siwon tersenyum. Mereka akhirnya menghabiskan kue itu.
“Anu, itu di bibirmu ada sisa krim” ucap Siwon sambil menunjuk ke sudut bibir Min Ji.
“Jinjja?” Min Ji segera mengelapnya dengan punggung tangan.
“Masih ada” gumam Siwon. Ia berinisiatif mengelap sendiri krim yg masih tersisa dengan ibu jarinya.
Drrttt.. Sengatan listrik ringan menerjang pembuluh darahnya saat tangan Siwon menyentuh sudut bibirnya. Min Ji terdiam sesaat.
“Udah dulu ya. Karena tadi aku kabur dari pelajaran olahraga. Nanti ketahuan lagi” Siwon mengedipkan mata sekilas sebelum pergi. Tapi baru beberapa langkah, ia kembali menatap Min Ji.
“Lain kali, boleh kan aku mencoba kue buatanmu lagi?”
Min Ji yang masih membeku mengangguk saja. Entah sadar atau tidak dengan ucapan Siwon.

__o0o__

Sejak saat itu, Min Ji selalu memberikan kue hasil eksperimennya pada Siwon dan namja itu seolah menjadi juri yang menilai hasil karyanya itu. Dan Min Ji melakukannya secara terang-terangan. Sampai orang-orang tercengang dan menganga tiap kali Min Ji dengan entengnya meminta atau lebih terlihat seperti menyuruh Siwon agar menerima kuenya.

“Cih, dasar yeoja tak tahu diri! Dia pikir dia cantik apa! Menyebalkan sekali!” cibir Kim Chae Rin, jelas sekali yeoja cantik itu iri pada Min Ji yang bisa akrab dengan Siwon. Sementara dia yang sudah berusaha mati-matian mendekati Siwon selalu gagal.
“Hmm.. Sepertinya aku harus memberi sedikit peringatan padanya” gumam Chae Rin dengan segudang rencana licik tersusun di otaknya. Ia menyeringai pelan sebelum pergi.

“Wow, tuan Choi dapat kue dari si otaku Min Ji lagi!!” teriak Ryeowook, membuat seisi kelas menengok ke arahnya dan tergelak beberapa saat kemudian.
“Shut up!!” Siwon menjitak kepala Ryeowook sekencang yang ia bisa. Namja itu meringis kesakitan karenanya.
Siwon sebenarnya agak risih juga jika harus menjadi kelinci percobaan Min Ji. Namun entah mengapa kue pemberian Min Ji selalu membuatnya merasakan sesuatu yang aneh. Semacam perasaan senang.
Siwon membuka kotak kue yang baru diberikan Min Ji pagi tadi, dan tampaklah sebuah kue tart berlapis coklat.
Seulas senyum tipis merekah di bibirnya. “Kuenya lebih bagus dari kue yang pertama kali kumakan” gumam Siwm senang. Min Ji pasti sudah berusaha mati-matian untuk membuat kue ini.

__o0o__

“Aduh, obatku mana ya?” lirih Min Ji sambil mengaduk-aduk isi tas sekolahnya. Setelah bergelut selama 10 menit, akhirnya ia menemukan juga botol kecil berwarna coklat berisi obat yang dicarinya.
Min Ji mengeluarkan 1 pil dan segera meminumnya. Dadanya terasa lapang dan rasa sakit yang tadi sempat berdenyut di kepalanya perlahan hilang. Yah, Min Ji memang harus meminum obat itu. Baginya, obat itu seperti penyambung tali kehidupan yang sewaktu-waktu bisa putus ataupun bahan bakar untuk tetap membuat api kehidupannya menyala.

Min Ji benci kenyataan dirinya lemah dan tidak berdaya. Hidup rasanya tidak berharga lagi. Min Ji selalu berpikir sebaiknya ia mati saja. Setidaknya ia tidak perlu merasa sakit lagi atas penyakitnya.
Tapi kini ia punya 1 alasan untuk tetap hidup. Choi Siwon, dialah alasan utama Min Ji berusaha melawan penyakitnya. Sejak bertemu namja itu untuk pertama kali, saat itu juga ia memutuskan untuk tetap bernapas. Sejak saat itu ia memutuskan bahwa hidup panjang adalah impian terbesarnya. Ya.. Ia harus sembuh. Agar ia bisa melihat Siwon setiap hari, membuatkan kue untuknya, dan melihatnya tertawa.
“aku akan membuatkan Siwon kue lagi.. Dan kali ini harus super enak!” ucap Min Ji. Tanpa di duga, Kim Chae Rin mencegatnya tepat ketika koridor yang dilaluinya sepi.
“Kamu tadi bilang apa? Membuatkan kue untuk Siwon?” tanya Chae Rin dengan nada menyindir. Matanya yang hitam menatap Min Ji dengan tatapan pembunuh. Min Ji dibuat merinding. Chae Rin mendekat, membuat Min Ji terdesak hingga punggungnya membentur tembok dan membuatnya tidak bisa kabur.
“Heh, kamu percaya diri juga merayu Choi Siwon. Tampang pas-pasan sepertimu mana cocok bersanding dengan Siwon!” gertaknya. Suaranya lebih mirip naga yang tengah menyemburkan api. Menakutkan.
Min Ji tidak mengatakan apapun. Dia juga tidak menunjukkan tanda-tanda ingin melawan. Hal ini justru membuat amarah Chae Rin meluap.
“Kenapa tidak dijawab?!” teriak Chae Rin sambil menjambak rambut Min Ji.
“Auch” Min Ji meringis pelan. Namun ia tetap saja tidak membalas.
Chae Rin menyeringai ala Madam Gothel di cerita Rapunzel. “Oh, jadi kamu menantangku?! Baiklah..” Chae Rin menyeret Min Ji pergi sambil terus menjambak rambutnya. Min Ji hanya meronta tanpa ada perlawanan. Tenaganya terlalu lemah untuk menepis jeratan tangan Chae Rin di kepalanya.

Siwon sedang berjalan pulang, tanpa sengaja ia melihat Min Ji. Tapi tunggu, kenapa ia diseret dengan paksa begitu oleh Chae Rin? Lalu kenapa juga dia menjambak rambut Min Ji, memperlakukannya seperti hewan? Dan kenapa juga Min Ji tidak berusaha melawan?
Siwon terus bertanya-tanya. Dan amarahnya mendadak memuncak. Ia harus melakukan sesuatu!

Kakinya melangkah cepat menyusul mereka. Dan begitu jaraknya dengan Chae Rin sudah dekat, Siwon segera berteriak.
“STOP!” matanya terbelalak kaget melihat keadaan Min Ji yang sudah berantakan karena perlakuan Chae Rin. Siwon menderap dengan langkah lebar. Wajahnya menampakkan aura membunuh pada Chae Rin. Otomatis gadis itu ketakutan dan akhirnya kabur sebelum Siwon benar-benar membunuhnya.

Min Ji lega luar biasa mengetahui Siwon membantunya keluar dari masalah. Ia jatuh terduduk di lantai.
“Gwaenchana?” tanya Siwon berhambur ke hadapan Min Ji, berlutut lalu membantunya berdiri. Min Ji mengangguk.
“Aku tidak apa-apa”
Siwon meneliti setiap inchi tubuh Min Ji. Takut ada yang terluka. Tapi semua baik-baik saja kecuali rambutnya yang berantakan. Siwon jadi merasa bersalah. Mendadak muncul perasaan yang mendesak dirinya untuk membalas perbuatan Chae Rin pada Min Ji.
“Tadi kenapa kau diam saja? Jika diperlakukan semena-mena begitu harusnya kamu melawan” tegur Siwon. Tangannya dengan cekatan merapikan rambut Min Ji.

Min Ji merasakan pipinya memanas. Ia sangat senang Siwon memperhatikannya.
“Bukan masalah besar. Biarkan saja”
“Memang ada masalah apa kau dengannya?”
Min Ji menatap wajah serius Siwon. Sedetik kemudian ia memalingkan wajah. Lagi-lagi rasa takut itu muncul.
“Aku hanya berpikir kalau aku ini tidak pantas ada di dekatmu” ujar Min Ji.
“Kenapa? Apa yang tidak pantas?” Siwon tidak paham.
“Diriku. Kau tidak lihat? Penampilanku lebih buruk dari bebek buruk rupa!”
Siwon tersenyum. “Hanya itu? Penampilan luar tidak penting. Semuanya bisa diubah”

Sekarang justru Min Ji yang tidak mengerti.
“Baik, akan kutunjukkan. Ikut aku!” Siwon menarik Min Ji pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Mereka masuk ke salah 1 butik langganan orangtua Siwon.
“Nah, di sini bebek buruk rupa akan di sihir menjadi putri yang sangat cantik” ucap Siwon sambil tersenyum. Min Ji kehabisan kata-kata. Ia terlalu kagum untuk mengutarakan isi hatinya. Gomawo.. Hanya kata itu yang terucap di hatinya.

Siwon menarik Min Ji ke hadapan cermin besar. Ia menatap Min Ji dari cermin. Min Ji tersipu karenanya. Siwon kemudian melepaskan kacamata yang dipakai Min Ji.
“Lihat, tanpa ini kau sangat cantik” puji Siwon jujur. Min Ji memang tampak berbeda tanpa kacamata.
“Sekarang coba baju sana”

Penjaga toko membantu Min Ji memilih baju. Setelah itu meminta Min Ji agar mencoba salah satunya. Pilihan Min Ji jatuh ke baju sackdress dengan bagian atas dikerut dan bagian roknya berbentuk ruffle yang indah.
Min Ji agak malu ketika menunjukkan dirinya pada Siwon. Tapi namja itu tersenyum cerah dan mengatakan dirinya cantik. Syukurlah.
“Em, kenapa kau juga ganti baju?” tanya Min Ji bingung. Baju seragam yang Siwon kenakan tadi kini berubah jadi celana jeans, kaus berwarna putih dan kemeja kotak-kotak. Siwon tidak berkata apa-apa. Masih dengan wajah cerianya dia menggandeng tangan Min Ji.
“Kita kencan hari ini. Oke”
“Mwo?” Min Ji kaget setengah mati. Namun ia tidak bisa menolaknya. Mana mungkin, ini kesempatan sekali seumur hidup.

__o0o__

Sepanjang sisa hari itu mereka bersenang-senang. Selayaknya pasangan yang berkencan. Sejenak Min Ji melupakan kenyataan bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Yang dirasakannya kini hanyalah kebahagiaan yang tidak terkira. Ia merasa waktu yang terbatas bukan masalah lagi jika ia bersama Siwon.

Begitupun Siwon. Ia merasa gembira. Rasa senang yang tidak pernah dirasakannya. Setiap Min Ji ada di sampingnya, ia seperti menemukan sesuatu yang sudah lama hilang. Mungkinkah ini cinta?

“Cita-citamu apa?” tanya Siwon saat mereka istirahat di taman. Mereka kini duduk di tepian kolam air mancur.
“Aku ingin jadi Pattisier profesional” jawab Min Ji lantang. Matanya bersinar-sinar saat mengutarakannya.
“Oh, pantas kamu rajin membuat kue” Siwon baru tahu. “Yah, semoga impianmu bisa terwujud”

Min Ji tidak menjawab. Hanya tersenyum lemah. Ia seperti menahan sesuatu. Namun Siwon tidak menyadarinya.

“Boleh aku minta 1 hal?” tanya Siwon lagi. Min Ji menoleh.
“Apa?”
“Di acara ulang tahunku nanti, kau harus datang. Aku mengundangmu sebagai tamu spesial”
Eh.. Min Ji terpaku dan terharu. Siwon mengundangnya? Lalu, apa yang mesti dipikirkan lagi? Tentu harus diterima.
“Baik. Gomawo sudah mengundangku” Min Ji tersenyum. “Aku pasti akan membuatkan kue ultah yang sangat spesial untukmu..”

Siwon mengangguk senang. Ia menarik tangan Min Ji, dan..
Chu~
Min Ji lagi-lagi mematung. Tuhan, katakan ini bukan mimpi! Karena saat ini Choi Siwon, namja yang disukainya sedang menciumnya. Mengecup lembut bibirnya. Omona.
“Aku benar-benar mengharapkan kehadiranmu. Kau harus datang. Araseo” tegas Siwon sekali lagi. Wajah Min Ji memerah dan debaran jantungnya tidak terkendali lagi.
“Saranghae Min Ji..” ucap Siwon. Min Ji terkejut lagi. Siwon menyukainya? Tuhan.. Apa yang harus dilakukannya? Apa yang harus diucapkannya? Ia takut, sangat takut.. Takut ia akan membuat Siwon menyesal telah mencintainya.

__o0o__

“Selesai!” seru Min Ji senang. Akhirnya ia berhasil menghias kue ultah untuk Siwon dengan cantik. Ia juga sudah menyiapkan kado untuk Siwon. Namun, saat akan bersiap-siap, mendadak rasa sakit itu muncul lagi. Kali ini lebih sakit. Tuhan, jangan sekarang.. Batin Min Ji.
Tangannya bergerak meraih botol obat di sakunya. Namun terlambat. Kesadarannya hilang dan akhirnya Min Ji ambruk di lantai dapur rumahnya.

Hari Ulang Tahun Siwon..

Pesta itu dilaksanakan di sebuah hotel mewah. Maklum, Siwon adalah putra tunggal seorang pengusaha kaya.
Semua tamu sudah hadir. Tinggal 1 orang.. Yeoja yang paling dinantinya belum juga muncul.
“Tunggu apa? Acaranya bentar lagi mulai” ujar Ryeowook
“Min Ji.. Dia belum datang” gumam Siwon cemas. Perhatiannya berkali-kali teralih ke jam tangan. Ini sudah terlalu terlambat..

Akhirnya sampai acara selesai pun Min Ji tidak kunjung datang juga. Siwon sangat sedih dan kecewa. Min Ji mengingkari janjinya..
Siwon memandangi cincin di tangannya. Padahal hari ini dia ingin memakaikannya di jari manis Min Ji dan mengumumkan kepada seluruh tamu yang hadir bahwa Min Ji adalah calon pendamping hidupnya. Namun semuanya berantakan karena ketidakhadiran Min Ji. Dan sialnya, Siwon tidak tahu alasannya.

__o0o__

Hari-hari berikutnya, sosok Min Ji tidak terlihat lagi di sekolah. Ia sudah bertanya pada Hye Neul, namun sahabatnya pun tidak tahu. Siwon sudah lebih dari 100 kali menelpon Min Ji. Namun tidak pernah dijawab. Siwon cemas. Sangat cemas.
Kenapa? Kenapa?

Siwon sangat merindukan gadis itu. Segala tentangnya membuatnya rindu. Lalu ditengah kebingungannya, ia justru mendengar kabar buruk.
Berita yang lebih mengejutkan daripada suara halilintar di siang bolong.

Shin Min Ji meninggal dunia..

Dunia serasa runtuh di sekitarnya. Dadanya bergemuruh cepat dan airmata tidak bisa ditahan lagi olehnya. Katakan ini bohong! Siapapun katakan ini hanya mimpi! Jika benar tolong bangunkan ia dari tidurnya segera.

Namun rupanya ini kenyataan yang teramat pahit untuk dirasakannya. Ketika tiba di rumah duka, ia melihat foto Min Ji di altar yang dipenuhi bunga dan lilin.

Siwon tidak sanggup berdiri lagi. Ia terduduk di depan altar Min Ji dan menangis. Batinnya berkecamuk oleh berbagai macam emosi. Kehilangan, sedih, marah, tidak percaya, dan kalut. Semuanya berbaur menjadi 1.
“Kenapa kamu pergi Min Ji.. Mengapa..?” tanya Siwon pada foto Min Ji dengan air mata berderai. Namun tidak ada jawaban. Tentu saja. Min Ji sudah pergi.

Hye Neul pun tampak sangat terpukul. Apalagi keluarganya. Kepergian Min Ji begitu memukul hati mereka. Dan Chae Rin, ia pun menangis di hari duka itu. Ia menyesal karena sempat mengasari Min Ji. Sungguh, ia ingin minta maaf namun tidak sempat..

Kenapa bisa terjadi.. Padahal Siwon tidak melihat tanda-tanda kalau Min Ji sakit atau semacamnya. Tapi umur tidak ada yang dapat menebaknya. Di saat dirinya merayakan hari bertambahnya usia, orang lain harus menutup usianya.. Min Ji.. Kau meninggalkanku tanpa menjawab pertanyaanku..

Apa kau mencintaiku juga?

*flashback end*

“Seandainya aku sadar saat itu bahwa kau adalah sebagian hidupku, aku tidak akan menyia-nyiakan waktuku bersamamu” lirih Siwon. Airmata kembali menggenangi pelupuk matanya.
Setetes airmata jatuh, segera Siwon menghapusnya. Ia harus merelakan kepergian Min Ji.
“Istirahatlah yang tenang di sana Min Ji. Aku mendoakanmu dari sini.” ucapnya dalam. Hatinya sakit. Namun ia harus tersenyum.
“Aku bahagia bisa mencintaimu.. Meski aku tidak tahu kau mencintaiku juga atau tidak”

Saat pulang, Siwon berpapasan dengan Hye Neul. Dia menyerahkan sepucuk surat dari Min Ji yang ditulis untuknya.
Siwon segera menambilnya.
Tanpa menunggu waktu, Siwon membuka surat itu dan membacanya.

_Dear Siwon_

Mungkin aku sudah tidak ada saat kamu membaca surat ini. Jujur saat aku mengenalmu, dunia baru yang bernama kebahagiaan dan harapan tercipta di depan mataku. Kamu datang dalam hidupku yang singkat dan memberiku mimpi indah.
Tapi, semua itu terbatasi oleh ketakutanku. Takut bahwa aku tidak akan bisa membalas semua kebaikan yang kamu beri. Dan aku takut membuat semua orang kecewa.
Terima kasih Choi Siwon karena kamu sudah mau mewarnai hari-hari terakhirku. Yang paling ku syukuri dari hidupku yang singkat ini adalah, aku diperkenalkan denganmu..
Dan ada 1 hal yang harus kuakui.. Aku mencintaimu.. Karena cinta inilah yang membuatku bahagia menjalani hari-hari terakhirku.. Terimakasih.. Hanya ini yang bisa ku ucapkan.

Dari yang mencintaimu,
_Shin Min Ji_

Siwon meneteskan airmata lagi. Hye Neul bisa mengerti perasaannya.
“Min Ji menderita penyakit kanker. Selama ini Min Ji menutupi penyakitnya karena takut menyusahkan orang-orang di sekitarnya..” ucap Hye Neul.
Siwon kaget.. Jadi Min Ji meninggal karena kanker?
“Min Ji selalu tampak gembira. Tapi siapa yang tahu dia menderita diam-diam” suara Hye Neul mulai serak. Dia pun menahan airmatanya.
Hal yang sama pun dirasakan Siwon. Selama mengenal Min Ji, dia selalu gembira dan tidak pernah marah. Siwon jadi ingat saat ia berharap Min Ji bisa mewujudkan mimpinya menjadi Pattisier, Min Ji hanya tersenyum. Apa saat itu dia yakin hidupnya tidak akan lama lagi?
“Min Ji ditemukan pingsan di dapur ketika sedang membuat kue untukmu. Tepat di hari ulangtahunmu..”

“Apa!” Siwon tercengang. Jadi.. Ini alasan kenapa ia tidak datang?
“Dan ketika di bawa ke rumah sakit, dokter bilang kankernya sudah stadium akhir.. Dia sempat koma beberapa hari sebelum akhirnya pergi.. Untuk selamanya” Hye Neul mulai terisak. Namun ia cepat menghapusnya.
“Kau tahu, sepertinya Min Ji menyukaimu. Kau bisa lihat kue yang dibuatnya untukmu..”

Siwon menerima kue yang di buat Min Ji untuknya. Kue ini masih bagus.
Yah.. Karena keluarganya menyimpan kue terakhir Min Ji di lemari pendingin sebelum akhirnya diserahkan pada Siwon.
Di atas kue itu, terdapat tulisan ‘I Love You, my lovely namja’..
Siwon tersenyum.. Ternyata Min Ji juga mencintainya. Baguslah. Hanya tahu itu pun ia sudah sangat senang.

Kemudian Siwon membuka kado untuknya dari Min Ji. Isinya sebuah jam berbentuk kalung. Siwon melihat ada sepucuk kertas di dasar kotak hadiah itu.

_Waktu yang mempertemukan kita, dan waktu pula yang akan memisahkan kita_

Selamanya, Min Ji tetap menjadi anugerah penting dalam hidup Siwon. Meskipun pertemuan mereka begitu singkat, tapi cinta yang dirasakannya akan abadi sampai akhir hayatnya nanti.

“I’m okay Min Ji.. Aku pasti akan merindukanmu, seperti jam ini.. Tiap menit dan detiknya.. Adalah waktu yang berharga untuk mengingatmu” gumam Siwon.

_End_

 

gimana, feelnya dapet gak????

After Wedding Story [Honey moon] Part 1

Tittle : After Wedding Story [Honey Moon] Part 1
Sequel of : Would You Marry Me?
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance-comedy, Married Life

Main Cast :

  • Shin Na Ra a.k.a Aira
  • Cho Kyuhyun

 

Ini dia sekuel dari Would You Marry Me. Di FF ini khusus menceritakan tentang honeymoon pasangan aneh bin ajaib itu. so, hope you like this.
Maaf untuk typo *bow*

After Wedding Story Honey Moon by DhaKhanzaki1

———o0o———

*Aira POV*
Aku menjentikkan jariku pada saklar untuk menyalakan lampu di rumah yang baru ku jejaki hari ini. Rasa lelah yang tadi menghujam tubuhku rasanya hilang saat melihat rumah baru kami, aku dan Suamiku, Kyuhyun.
“Wuah.. Oppa, kau yakin ini rumah kita?” tanyaku bodoh karena terlalu kagum dengan interior rumah yang indah dan bergaya klasik minimalis. Cat dinding yang berwarna putih gading dan perabotan kayu yang dipelitur dengan begitu cantiknya. Ah, aku merasa memasuki rumah klasik di Inggris seabad yang lalu.

“Sepertinya kita salah masuk rumah, Ai-chan” jawab Kyuhyun sambil mengedarkan pandangannya. Apa? Aku cepat menoleh padanya. Kulihat wajahnya serius. Kumohon jangan bercanda.
“Yang benar, Oppa!” ini tidak lucu! Aku sungguh menyukai rumah ini, kenapa bisa salah masuk. Aku mendadak sedih dan murung.
mendadak saja aku mendengar ia tergelak puas. “Hahaha, I’m joking yeobo! Tentu ini rumah kita!” Kyuhyun tertawa kencang sambil mengacak-acak rambutku. Sudah kuduga!!

“Oppa, it’s not funny ok!” rajukku sambil merapikan rambut yang berantakan karena ulahnya. Aku mengambil koper berisi pakaianku dan kopernya.
“Ya! Mau ke mana kau!” protes Kyuhyun.
“Kamar kita di mana?” tanyaku sambil menyeret 2 koper di tangan kiri dan kanan.
“Sini..” Kyuhyun membukakan salah satu pintu yang ada di dekat ruang tengah. Aku segera masuk. Wah, bahkan kamarnya pun indah dan luas. Ada Lemari besar hampir menutupi satu sisi tembok dan bentuknya klasik. Aku terkesima. Dindingnya dilapisi wallpaper dengan motif garis putih krem lembut membuat kamar terkesan hangat dan klasik. Aku membuka salah satu pintu lemari dan membereskan baju-baju kami. Walau sebenarnya lemari sudah penuh terisi baju.
“Aku bantu ya..” Kyuhyun membuka koper yang lain.
“Aish, jangan. Oppa kan capek! Udah, biar aku saja yang bereskan” cegahku. Ya, dia kan sibuk dengan jadwalnya bersama Super Junior dan pasti capek. Tidak akan kubiarkan dia kelelahan.
“Wae?” tanyanya agak merajuk.
“Sudah, Oppa duduk manis saja di sini. Ok!” perintahku sambil mendudukkannya di pinggir ranjang. Dan aku kembali membereskan baju. Tak kupedulikan wajahnya yang ditekuk sebal.

—o0o—-

*Kyuhyun POV*
Gadis ini! Aku sudah berniat baik ingin membantunya. Aku memang lelah setelah seharian beraktivitas ke sana kemari bersama Hyungdeul. Tapi aku tidak mungkin tega membiarkannya capek sendirian.

Sudah beberapa hari sejak pernikahan kami, aku terus sibuk dan tidak bisa bersama Ai-chan lebih dari 5 jam. Aku bertemu dengannya di malam hari dan paginya harus pergi bekerja lagi. Tapi dia tidak pernah kesal, mengomel, apalagi marah. Dia selalu menungguku pulang meski aku pulang lewat tengah malam. Aish, kenapa dia bisa sesabar itu?
Karena itulah, hari ini aku ingin memberinya kejutan. Rumah ini hasil rancanganku, eh salah. Sebenarnya aku meminta arsitek merancangnya sesuai permintaanku. Aku senang karena ternyata Aira sangat menyukainya. Padahal semua rumah ini dibangun jauh sebelum aku mengenalnya.
“Ai-chan, lihat..” aku beranjak dan membuka salah salah pintu kloset lemari yang berbeda. Sebenarnya ini pintu ke ruangan lain yang dikamuflase seperti pintu lemari hanya berbeda bentuknya. Aira bangkit lalu berdiri di sampingku. Seketika aku melihat ia mulai bereaksi.

“Huaa” Ia terkesiap. Bisa dilihat matanya melebar dan mulutnya hampir menganga.
“Oppa.. Ini lemari atau ruang Wardrobemu!? Banyak sekali baju-baju bagus dan mahal” serunya dengan mata menyapu ke setiap sudut ruangan. Seluruh dinding di sulap menjadi lemari kaca yang didalamnya tergantung baju-baju untuk menunjang penampilanku. Juga aksesori seperti syal, topi, jam tangan dan sepatu. Sebenarnya bukan hanya bajuku, tapi juga gaun dan baju-baju untuk Aira. ini adalah ide dari Ahra Nuna.
“Lihat, bagian sini khusus untukmu” ucapku menunjuk pada salah satu sudut berisi gaun dan baju-baju wanita. Aira tersenyum kagum.
“Aigoo.. Ini semua indah..” tangannya mengusap salah satu gaun berwarna beby yellow. Aku tersenyum dan mendekatinya, tanganku memeluknya dari belakang. aku suka sekali memeluknya dari posisi ini. Rasanya, sangat romantis.
“Kau suka?”
“Em!” Aira mengangguk cepat.
“Kalau begitu mana ucapan terima kasihnya?” ujarku. Aira menolehkan kepalanya ke samping, tepat kearahku.
“Gomawo, Oppa” ucapnya lalu berbalik untuk memelukku. Aku inginnya bukan cuma dipeluk.
“Aku ingin dicium” pintaku manja sambil balas memeluknya. Sungguh, aku benar-benar merindukannya. Tidak dicium sehari saja rasanya seperti kehilangan sesuatu yang penting.
“Dasar manja!” keluhnya lalu melepas pelukannya. Hei, kenapa? Dia tidak mau menciumku? Ah, jangan-jangan dia marah karena aku mulai mengacuhkannya?
“Wae? Memang tidak boleh ya aku–” Jantungku hampir copot karena Aira tanpa aba-aba mengecup bibirku. Kata-kataku terhenti seketika. Aku belum sempat bereaksi apalagi membalas, ia menyudahinya. Tadi kan baru satu detik Ai-chan! Aku merengek dalam hati.
“Gomawo yeobo..” ucapnya sambil tertawa renyah. Aigoo, lihat ekspresinya! Dia gembira sekali. Berbanding terbalik dengan aku yang kesal.

“Ya! Ciuman macam apa itu! Cepat sekali!” seruku jengkel sambil sedikit memperlihatkan ekspresi evil. Ia malah menampakkan wajah innocent yang membuat tanganku gatal ingin menariknya ke pelukanku.
“Bukankah Oppa meminta DICIUM.. Bukan CIUMAN! Jadi ya hanya sebentar”
Yak! Wajah polosnya itu.. Benar-benar membuatku ingin menerkamnya..
“Tidak mau! Cepat ulangi lagi!!” paksaku.
“Shireo! Wee..” Dia meleletkan dan YAAK! Dia malah kabur. Aish, tingkahnya membuatku jengkel. Awas kalau tertangkap! Akan kusiksa dia! Aku berlari mengejarnya. Pada akhirnya kami malah main kejar-kejaran sambil menjelajahi setiap sudut rumah. Dan anehnya, aku tidak lelah sedikitpun.

—o0o—

*Author POV*
Untuk menghindari kecurigaan media, Kyuhyun hari ini menginap di dorm. Padahal ia sangat rindu pada istrinya. Tapi apa boleh buat. Orang-orang menganggapnya lelaki lajang yang belum menikah. Bahkan Kyuhyun belum memberi tahukan pihak SMent terutama Presdir Lee Soo Man tentang pernikahannya. Yang mengetahuinya hanya Hyungdeul dan beberapa Manager yg bisa dipercaya.
Sebenarnya Kyuhyun ingin sekali membeberkan berita ini pada khalayak ramai. Bahkan di setiap acara Kyuhyun hampir mengatakan dirinya telah menikah. Tapi ia ingat dengan perkataan Aira.
“Oppa, aku tahu pekerjaanmu sebagai public figur itu sangat penting. Fans adalah nyawa bagi seorang bintang. Aku tidak mau karena berita pernikahan ini membuatmu kehilangan fansmu Oppa. Lalu kau menjadi bintang yang meredup dan akhirnya tidak bisa bersinar lagi. Karena itu, untuk saat ini, status pernikahan kita sebaiknya disembunyikan dahulu. Aracchi”

Bagaimana mungkin Aira bisa mengatakan hal itu. Kyuhyun tahu itu pasti demi kebaikannya. Tapi Ia tidak suka! Untuk apa dia menikah dengan Aira jika pada akhirnya dunia tetap tidak mengetahuinya. Tapi demi Aira. Ia harus bersabar. Untuk saat ini, kebahagiaan Aira yang terpenting. Jadi Cho Kyuhyun, hwaiting! Hiburnya pada diri sendiri.

“Kau tidak lapar? Makananmu belum disentuh sedikitpun” tanya Sungmin ketika semua member makan bersama dan si bungsu malah melamun sementara yang lainnya sibuk melahap makanan yang ada di atas meja. Kyuhyun hanya menggigit sumpitnya tanpa berniat menyentuh satupun makanan yangada di hadapannya.
“Ah, dia pasti rindu pada istrinya” ledek Heechul. Yang lain tertawa mendengarnya. Tapi lelucon itu tidak membuat Kyuhyun bereaksi. Hei, kenapa dia? Hyungdeul seketika menghentikan tawa dan saling berpandangan heran.
“Dia pasti ingin makan disuapi istrinya” timpal Siwon
“Seperti ini.. Hae-ya.. Aa–” Eunhyuk memperagakan adegan suap-suapan bersama Donghae. Dan hal itu membuat Kyuhyun semakin merindukan Aira. Ia jadi ingat saat harus menyuapi Aira makan karena gadis itu tidak bisa menggunakan sumpit. Namja itu menghela napas berat.
“Ai-chan.. Dia sudah makan atau belum ya? Aku jadi cemas meninggalkannya sendiri di rumah..” akhirnya Kyuhyun bersuara juga.

Semua orang menoleh ke arah Kyuhyun yang nampaknya berbicara sendiri. Sebelum Kyuhyun jadi gila, hyungdeul harus bertindak.
“Sudah, kalau kau mencemaskannya, telepon dia sana” suruh Leeteuk. Kyuhyun menatap Hyungnya itu, matanya melebar seperti baru menyadari kebenaran ucapan Leeteuk.
“Benar juga! Kenapa aku tidak memikirkan hal itu? Tapi..” Kyuhyun agak ragu.
“Ah, jangan membuang waktu! Tidak akan ada paparazzi yang menyadap teleponmu. Kecuali jika dia lebih pintar dari Albert Einstein” ujar Sungmin memberi semangat.
“Iya. Cepat” Ryeowook pun ikut semangat sendiri.
“Em! Oke Hyung!” seru Kyuhyun tiba-tiba seolah mendapat spirit besar dari Hyungdeulnya. Ia segera bangkit dan mengambil ponsel yang diletakkan di kamarnya. Member Suju lain gelen-geleng kepala memperhatikan tingkah Kyuhyun. sepertinya pernikahan membawa dampak baik bagi sang magnae.

kyuhyun menatap ponsel di tangannya dengan perasaan senang bercampur gelisah. Dengan gerakan cekatan ia memencet angka 1 untuk speed dial ke ponsel Aira. Ia menunggu dengan tidak sabar sambil mondar-mandir di ruang tengah.
“Come on, Ai-chan.. Angkat” Kyuhyun terus bolak balik menyapu ruang kosong di ruang tengah dengan ponsel menempel di telinga.
“Hallo..” ah, akhirnya diangkat juga! hal yang pertama Kyuhyun lakukan adalah mendesah selega-leganya. Hatinya terasa begitu lapang setelah mendengar suara yeoja yang paling dirindukannya. Senyum pun bersemi indah di wajahnya. Diam-diam hyungdeul mengintip Kyuhyun yang nampak gembira dari ambang pintu ruang makan.

—o0o—

*Kyuhyun POV*
Aku sangat gembira, akhirnya kudengar juga suara istriku yang kurindukan itu. Mendengarnya saja membuat semua beban di hatiku lenyap.
“Ai-chan, kenapa suaramu biasa-biasa saja? Kau tidak rindu padaku?” tanyaku dengan nada dibuat ketus tapi bibirku tersenyum.
“Ah, ani. Aku hanya kaget. Oppa meneleponku malam-malam begini” Apa? Jadi dia tidak merindukanku? Sepertinya dia juga tidak menunggu teleponku. Aish, Ai-chan Sampai kapan kau akan membuatku jengkel. Kudengar hening sesaat di ujung sana.
“Oppa..”
“Wae?” nada suaraku mulai agak membentaknya.
“Naega bogoshipo yo..” ucapnya lembut dan dalam. Aku mematung ditempatku berdiri. Aneh, hanya 3 patah kata yang diucapkannya bisa membuat seluruh badanku lumpuh seketika! Aku jadi ingin pulang lalu memeluknya erat hingga kerinduanku terobati.
“Oppa, Hallo, kenapa diam? Oppa sudah makan?” tanyanya membelokkan pembicaraan. Mwoya! Aku belum menyahut perkataanya yang indah itu dia sudah bertanya lagi.
“Aku.. Belum makan..” jawabku jujur.
“Sudah berkali-kali aku bilang Oppa jangan telat makan! Seharian Oppa sibuk kerja. Jangan sampe Oppa sakit karena telat makan..” Aira terus mengoceh di telingaku. Tanpa sadar aku tertawa pelan. Istriku ini selalu cerewet jika aku lupa makan karena terlalu fokus pada karirku. Tapi aku suka ocehannya. Bukannya kesal aku justru ingin tertawa dibuatnya.
“Kau sendiri sudah makan?” dan Ini dia kebiasaan buruknya yang tidak kusukai. Aira suka sekali mengomeliku jika telat makan padahal dia sendiri suka lupa makan ketika sudah keasyikan membuat sketsa disainnya.
“Tentu saja sudah, kau tadu Oppa, aku menghabiskan satu bulat penuh pizza, dua porsi spagetti dan empat potong ayam goreng!”

Omo.. Aku terbelalak. Yah, harus kuakui, Aira memang nafsu makannya luar biasa. Tapi anehnya dia tidak gemuk.
“Ya! Jangan sampai badanmu melar seperti Baby Huey” Ucapku sambil menahan tawa.
“Biar saja.”
Baiklah, aku tidak akan mengajaknya berdebat lagi. “Arra. Karena sudah malam, aku tutup oke. Dan Ai-chan,..” Aku diam sebentar. Menarik nafas pelan. “Nado Bogoshipo..” ucapku akhirnya. Bebanku hilang saat berhasil mengatakannya.
“Ne. Good night Oppa.. Muuaach..” mataku mengerjap cepat. Omo, Ai-chan ini! Untuk apa dia melemparkan kiss bye seperti itu. Dia tidak tahu apa wajahku sekarang memerah dan jantungku berdebar tak karuan! Tak lama kututup teleponku dan berbalik. Aku sekarang harus makan! Berkat Aira nafsu makanku pulih lagi. namun saat membalikkan badan aku mendapati pemandangan yang membuatku memekik kaget.
“Ya! Kalian sedang apa di situ!” teriakku super kaget mendapati Hyungdeul berdiri dengan posisi seperti sedang mengintip di ambang pintu dapur ke arah ruang tengah tempat aku berdiri tadi. jangan-jangan mereka menguping.
“Ah, Kyu. Kami penasaran. Jadi, hehe..” Monyet mesum itu duluan bicara sambil garuk-garuk kepala. Tepat dugaanku!
“Kalian menguping. Benar kan?” tanyaku dengan mata menyipit dan wajah evil. Hyungdeul mundur selangkah karena merasa terancam dengan ekspresiku. Aku bersiap untuk melakukan kejahilanku pada mereka tapi..
Kriuuuk..
Aduh, perutku keroncongan.. Sial! Ideku jadi buyar gara-gara lapar!
“Ah, sebaiknya kau makan Kyu!” usul Yesung Hyung menggiringku ke meja makan. Huh, pasti mereka ingin menghindar!

Setelah kenyang, aku justru lupa pada niatku menjahili Hyungdeul. Kulihat juga mereka lega karena jiwa setanku tidak terbangun.

—o0o—

Aku tidak bisa tidur lagi! Kali ini pun gara-gara yeoja 4D yang sekarang jadi istriku itu! Sampai kapan dia akan membuatku jadi insomnia! Kulirik jam dinding di kamar. Sudah pukul 02.10. Dan aku belum memejamkan mata! Member lain pasti sudah asyik berselancar di alam mimpi masing-masing.

Aku harus pulang! Tidur bersama Aira adalah satu-satunya cara menghilangkan insomniaku! Tanpa membuang waktu, segera kuambil mantel, kunci mobil dan aku bergegas pergi dari dorm. Jam segini mana ada paparazzi yang masih aktif berkeliaran. Aku juga menggunakan penyamaran saat ke luar dorm.

Setibanya di rumah, aku merasa lega. Aira pasti sudah tidur. Pikirku sambil memencet kode masuk rumah. Kubuka pintu pelan. Ku tatap seisi rumah yang sepi dan remang-remang. Suasana rumah yang kurindukan. Tanpa bertele-tele, aku segera melesat ke kamar untuk menemui istriku.

Di kamar, kulihat Aira tertidur pulas dengan posisi menyamping sambil memeluk boneka Mickey Mouse. Tanpa sadar aku mendengus. Mustahil, aku kalah oleh boneka itu lagi! Aku melepas mantel dan sepatu, lalu beranjak tidur di sampingnya sambil menghadap ke arah Aira yang tertidur dengan wajah malaikatnya.
“Yeobo-ah, I miss you..” gumamku sambil menyentuh pelan pipi, mata, hidung, dan bibirnya. Aku rindu sekali rasanya. Dan sekarang dalam jarak sedekat ini, jantungku makin terpompa cepat. Dia bereaksi saat aku mengusap pipinya. Tapi tidak sampai terbangun.Aku hendak memeluknya tapi boneka ini menghalangi! Segera kusingkirkan lalu ku lempar ke lantai. Siapa suruh mengganggu! Sekarang tidak ada penghalang lagi! tanpa membuangwaktu tanganku terulur memeluk pinggangnya dan mendekatkan tubuhnya padaku. Ah, rasanya nyaman dan hangat. Aku mendesah lega merasakan hangat tubuhnya dalam dekapanku. Tapi apa dia tidak merasa saat ku peluk?
“Emh..” dia bergumam disela tidurnya. Makin lucu saja kau chagi. Aku tersenyum melihat tingkahnya saat tidur. Dia hendak membalikkan badannya tapi kutahan.
“Ya! Kau tidak mau suamimu menatap wajahmu saat hendak tidur!” tanpa sadar aku berteriak padanya. Dia benar-benar.

Teriakanku tidak membuat Aira bergeming! Dia tetap nyenyak seolah tidak ada apapun. Aigoo, Dia ini! Seperti Ran Mouri saja! Kalau sudah tidur susah untuk dibangunkan. Apa aku harus ikut cara Conan untuk membangunkannya? Berteriak melalui dasi kupu-kupu pengubah suara yabg sudah di maksimalkan volumenya? *Detective Conan jilid 5 file 3, buat reader yang gak tau*
#Author promosi? Mentang-mentang Detective Conan Lover!*dibunuh massa*

back to FF

Aku membalikkan badan Aira ke arahku lagi. Semakin kupererat pelukanku agar ia tidak bergerak. Tiba2-tiba aku terlintas ide, cara untuk membuatnya terbangun. Sudut bibirku membentuk seulas evil smile andalanku. Aku mendekatkan wajahku dengan wajahnya, lalu ku cium bibirnya pelan. Dia belum bereaksi juga. Aku kembali menciumnya lebih intens dan lama. Dia mulai bereaksi. Alam bawah sadarnya mulai merespon.
Tangan Aira bergerak melingkari punggungku dan memelukku erat. Namun ia masih tertidur. Tingkahnya membuatku gemas! Kali ini kucium lagi bibirnya yang lembut itu #Ampun, gak bosen ni bocah!# melumatnya sebentar dan aku berhenti ketika Aira bergumam pelan.
“Oppa..” Tangannya bergerak merangkul leherku. Dia mengigau? Matanya tetap tertutup. Tapi tak apa. Yang penting aku ada di dalam mimpinya.
“Ne chagi.. Aku di sini” aku membalas igauannya. Kulihat Ai tersenyum dalam tidurnya. Ia mengeratkan pelukannya di leherku sambil menyusupkan kepalanya ke sela bahu dan leherku. Rupanya dalam mimpi kau seromantis ini padaku? Geurae! Tanganku mengeratkan dekapan di pinggangnya dan sebelahnya mengusap rambutnya. Dalam posisi ini aku bisa tidur dengan nyaman!

—-o0o—-

*Author POV*
_ Me, plus you, Imma tell you one time.. One time.. One time_

Alarm ponsel Aira berbunyi. Suaranya yang nyaring mampu membangunkan Kyuhyun. Masih dengan posisi yang sama, yaitu memeluk Aira, Kyuhyun meraba-raba meja di samping tempat tidur tempat suara itu berasal. Matanya masih enggan terbuka. Ia meraih ponsel istrinya dan mematikan alarm.
“Mengganggu saja!” umpat Kyuhyun pelan sambil meletakkan ponsel itu di belakang tubuh Aira. Ia masih mengantuk kembali terlelap.

Aira menggeliat pelan. Ia mulai terbangun. Matanya membuka perlahan. Ia melihat wajah suaminya yang tertidur saat membuka mata. Ia pasti masih bermimpi.
“Oppa.. Aku senang kau ada di sini” gumam Aira seraya mendekap Kyuhyun lebih erat lagi.
“Ne, Ai-chan” jawab Kyuhyun pelan. Aira tersenyum. Ia bisa merasakan hangat dan wangi tubuh suaminya ketika kepalanya disandarkan pada dada Kyuhyun. Tapi sesaat kemudian ia tersadar. Ini bukan mimpi! Melainkan..
“Oppa! Kapan kau pulang?!” seru Aira kaget lalu duduk. Matanya terbuka sempurna dan ia sadar sepenuhnya. Sekarang ia benar-benar melihat Kyuhyun sedang berbaring di sampingnya. Jadi mimpi itu? Dia semalam bermimpi memeluk Kyuhyun dan ternyata dia memang sedang memeluknya? Omo? Maksudnya? #Author bikin Aira bingung.

“Tadi malam. Sudah sini kau tidur lagi. Aku masih ingin memelukmu” Kyuhyun menarik Aira agar kembali tidur di sampingnya. Dan Aira menurut.
“Oppa, jadi semalam kau tidak tidur di dorm?” tanya Aira. Kyuhyun membuka matanya, tersenyum sekilas untuk istrinya.
“Ani. Aku tidak bisa tidur jika tidak memelukmu” jawabnya. Seketika pipi Aira memerah.
“Bagaimana Oppa bisa tidur jika pergi ke luar kota atau ke luar negeri kalau harus memelukku dulu”
Tawa ringan Kyuhyun menguar. “Terpaksa ku ajak kau kemanapun aku pergi” jawabnya enteng sambil tertawa pelan.
“Aish! Oppa kau–*cup*” Aira mencium bibir Kyuhyun membuat namja itu diam. Tawa dan senyumnya terhenti begitu bibir Aira menyentuhnya. Kyuhyun memejamkan mata menikmati morning kiss dari istrinya.
“Oppa, kau harus terbiasa tidur tanpa aku” ucap Aira setelah morning kissnya usai. Kyuhyun memberengut kecewa.
“Mana mungkin aku terbiasa jika sebelum tidur aku harus memelukmu atau aku tidak tidur sama sekali, dan saat bangun aku harus mendapat ‘morning kiss’ darimu agar aktivitasku seharian bisa berjalan lancar” keluhnya panjang lebar.Aira tertawa. Seharusnya ia tahu kalau Kyuhyun terkadang childish.

“Tapi chagi, semalam kau benar-benar tidak sadar aku ada disampingmu?”
Aira mengangguk. “Ne”
“Berarti ciumanku semalam juga kau tidak merasakannya” lirih Kyu kecewa.

“Nde? Oppa menciumku semalam?” seru Aira kaget seraya kembali duduk. Kyuhyun yang jengkel bercampur kecewa ikut duduk. Ia menatap istrinya dengan alis terangkat sebelah.
“Jadi kamu benar-benar tidak merasakan apapun?’
Aira menunduk, merasa tidak enak juga. “Mianhae Oppa, jika sudah tidur. Aku tidak merasakan apa-apa lagi”

mendadak saja darah Kyuhyun mendidih begitu mendengarnya. “Ya! Untung aku yang menyentuhmu! Coba pikirkan bagaimana jika ada orang yang akan membunuhmu atau memperkosamu! Sedangkan kau sendiri tidak merasa terganggu sedikitpun!” Kyuhyun marah dan meluapkan semua emosinya pada Aira. Sebenarnya ia cemas.
“Ne. Araseo” jawab Aira lemah. Kata-kata Kyuhyun mirip dengan yang pernah dikatakannya pada sahabatnya, Syahdan. Karena dia jika sudah tertidur seperti orang mati. Tidak bergerak dan tidak merasakan apa-apa. tapi siapa yang menyangka jika ia akan mengalami kondisi serupa. Mungkin ini karma.

“Em.. Ai, apa kata-kataku terlalu kasar?” tanya Kyuhyun cemas karena Aira terus tertunduk. Mungkin ia tersinggung. Aira menggeleng lalu mengangkat kepalanya
“Ani. Aku tahu Oppa bilang begitu karena mencemaskanku” Aira berkata sambil tersenyum dan membuat Kyuhyun ikut tersenyum.

“Geurae” Kyuhyun diam sejenak. Ia menatap Aira, lalu tersenyum misterius.
“Karena kau tidak merasakan ciumanku semalam, aku akan menghukummu!”
Aira mengerjapkan mata berulang-ulang, kaget. “Mwo? Hukuman apa?!”
Kyuhyun menggeser tubuhnya sedekat mungkin dengan istrinya. “Aku menginginkanmu pagi ini” ucapnya pelan di telinga Aira dan berhasil membangunkan bulu kuduknya. Gadis itu mengerjap berkali-kali dengan pipi merona.
“Oppa, aku harus kuliah pagi ini..” Ujar Aira gugup begitu sadar maksud ucapan suaminya. Kyuhyun menggeleng cepat sambil menggoyangkan jari telunjuknya.
“Aa, Kau tidak bisa berbohong. Hari ini hari Kamis dan artinya, kau tidak ada jadwal kuliah” Kyuhyun mulai merangkul Aira ke dekapannya. Sementara gadis itu mengumpat dalam hati. Aira lupa sekarang jadwalnya kosong.
“Terus bagaimana dengan Oppa, bukannya hari ini jadwalmu padat?” Aira makin gugup saat Kyuhyun semakin mendekatkan wajahnya. Apalagi tangannya sudah meraba punggungnya dengan gerakan seduktif.
“Hanya latihan biasa hingga siang dan aku bisa datang terlambat”

Aira tidak bisa menemukan alasan lagi. Akhirnya ia pasrah dan menuruti kemauan Kyuhyun.
“Ara. Ayo.. Oppa..” jawab Aira dengan senyum tulus diwajahnya. Merasa mendapat lampu hijau, Kyuhyun tersenyum. Ia merebahkan tubuh Aira, mengecup keningnya sekilas lalu perlahan tapi pasti membawa mereka ke dunia yang hanya milik mereka berdua..

—o0o—-

*Aira POV*
Tak kusangka melelahkan juga menjadi ibuu rumah tangga, setelah seharian membereskan rumah sekarang aku baru saja pulang dari supermarket. Aku ingin memasak makan malam untuk suamiku tercinta. Dia bilang setelah pulang nanti ingin makan masakanku. Setibanya di depan rumah, aku melihat ada kurir berdiri di depan gerbang sambil terus memencet bel. Aku mendekat.
“Permisi, ada yang bisa dibantu?”
“Saya mencari pemilik rumah ini. Namanya..” ia melihat sebentar kotak yang dibawanya.
“Ms. Aira Andriani”
“Oh, itu aku!” seruku senang. Dengan sopan ia menyerahkan kotak itu dan memintaku menandatanganinya.

“Dari siapa ini?” aku meletakkan belanjaanku di atas meja dapur. Karena penasaran, kubuka kotak kecil itu cepat. Aku terbelalak ketika melihat isinya.
“Kyaaa.. Tiket konser Justin Bieber!! Dan CD terbarunya! Kyaaa” aku berteriak kegirangan sambil melompat-lompat. Bagaimana tidak, aku adalah fans Justin Bieber! Tentu saja aku bahagia. Aku melihat nama pengirimnya, sebenarnya sudah kutebak siapa pelakunya. Ah, benar ternyata.
“Gomawo, Rian..” ucapku senang. Sahabatku itu sekarang kuliah di Harvard, U.S.A. Jadi dengan mudah ia bisa mendapatkan tiket ini. Ah, aku pasti pergi! aku melompat-lompat senang sambil bersenandung. Namun mendadak gerakanku terhenti saat aku teringat satu fakta penting.

Tapi tunggu, aku sudah menikah. Mana bisa aku pergi begitu saja tanpa minta izin lebih dulu. Eotteohke? Di tiket tertulis tanggal konser yaitu dua hari lagi!! Omona!!
Aku harus minta izin pada Kyuhyun segera! Yup, malam ini aku akan memohon padanya agar aku bisa pergi ke AS.

to be continued..

Shady Girl (Part 17)

Tittle : Shady Girl Part 17
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Married Life

Main Cast :

  • Park Haebin / Lee Haebin
  • Lee Donghae

Support Cast :

  • *find by yourself*

Warning : typo bertebaran
Disclaimer : This FF is mine. casts belongs to themselves. don’t copy-paste or re-posting without my permission

Shady Girl by Dha Khanzaki3

———–0.0————-

Part 17

Rapat berlangsung pagi itu. Donghae sebagai wakil Appanya mendengarkan dengan baik saat salah satu bawahannya menjelaskan rancangan proyek mereka di Incheon. Ia menarik map dengan sampul transparan agar bisa melihat lebih jelas materi yang tengah di bahas itu.

Prang!!!

Semua orang tersentak kaget mendengar suara gelas pecah di suasana cukup hening seperti itu. Serentak mereka menoleh ke satu arah. Donghae.
Tangan Donghae yang memegang map bergetar pelan. Secara tak sengaja saat ia menarik map, tangannya menyenggol gelas yang ada di dekatnya hingga jatuh. Mendadak perasaannya tidak enak.
“Ah, maaf sudah membuat keributan.” Donghae meminta maaf kepada semua orang di ruangan itu setelah ia bisa menormalkan kembali pikirannya. Kemudian ia meminta salah seorang staf untuk membersihkan pecahan gelas itu. Rapat pun kembali berjalan.
“Kenapa? Kau tampak kebingungan.” Bisik Siwon yang kebetulan duduk di sebelahnya. Donghae menoleh. Sejujurnya, hatinya sangat resah sekarang. Ia mendapatkan firasat buruk. Seketika pikirannya tertuju pada Haebin. Semoga firasatnya ini salah.

Belum sempat mulutnya terbuka untuk menjawab, ponsel bergetar. Donghae mengerutkan kening dan debaran jantungnya mendadak mengencang kala melihat nama yang muncul di layar ponselnya. Haebin.
Tanpa ragu Donghae segera menjawabnya. Tak peduli saat itu ia sedang berada di sebuah rapat.
“Yeobseo..” ucapnya cepat.
Kerutan di keningnya makin bertambah. Di ujung sana tidak terdengarsuara apapun.
“Haebin.. kau kenapa?” Suara Donghae mulai menegang. Siwon yang berada di sampingnya pun ikut mengerutkan kening karena sahabatnya itu terlihat panik.
Beberapa detik kemudian, yang terdengar justru isakan tangis. Ini pasti suara tangisan Haebin! donghae sangat yakin.
“O-oppa..” suara yang di dengarnya serak dan berat. Sepertinya Haebin sedang menahan diri agar tidak menangis di telepon.
“Umma..”
Donghae mencengkram map yang di pegangnya. “Kenapa Ummamu?”
“Umma meninggal..”
“Mwo??!!” teriak Donghae keras. Kembali membuat seisi ruangan itu kembali menoleh ke arahnya. Ia bahkan sampai berdiri dari tempat duduknya.
“Ada apa Pak GM?” tanya salah satu dewan direksi.
Donghae tidak menjawab karena perhatiannya fokus pada Haebin.

Tadi Haebin bilang apa? Ummanya meninggal? Umma yang di temuinya beberapa hari lalu meninggal? Tuhan.. kenapa ini bisa terjadi?

“Kau di mana sekarang?” tanya Donghae tidak sabar. Orang-orang saling pandang melihat tingkah aneh Donghae. Baru kali ini, General Manager yang terkenal dingin dan tertutup itu tampak paik seperti itu.
“Aku.. di Seoul General Hospital..” suaranya bergetar. Sudah jelas. Ia pasti tidak akan kuat menerima kenyataan seperti ini.
“Baik. Aku akan segera ke sana..” Donghae segera membereskan map yang ada di depannya, lalu menoleh pada Siwon.
“Aku serahkan rapat ini padamu. Aku harus pergi.”
“Oh.. baik.” Jawab Siwon bingung. Rasa penasarannya harus ia tahan sementara waktu karena melihat Donghae begitu panik luar biasa.

Tanpa basa basi Donghae segera berlari ke luar ruang rapat, tanpa sempat berpamitan dengan orang-orang yang mengikuti rapat. Mendadak suasana jadi ribut setelah Donghae pergi. Mereka bertanya-tanya tentang sikap Donghae tadi.
“Ekhem..” Siwon berdehem. Seketika suasana menjadi tenang. Siwon membenarkan kemejanya, lalu berdiri di tempat yang tadi di duduki Donghae. Ia tersenyum ramah kepada semua orang terutama dewan direksi yang hadir.
“Maaf, Pak GM ada urusan yang sangat mendesak. Jadi dia harus pergi secepatnya. Rapat akan tetap berlangsung, dan kali ini aku yang akan memimpin rapat.” Ucapnya.

@@@

@Seoul General Hospital

Donghae berlarian di lorong rumah sakit itu, mencari tempat dimana Haebin berada. Ia tidak mempedulikan teriakan suster yang melarangnya berlari. Setelah menemukan tempat yang dicarinya, langkahnya mendadak terhenti. Dunia seakan berubah menjadi suram saat itu. Tepat ketika kedua matanya menatap sosok Haebin yang duduk di lantai dengan kepala terbenam di antara kedua lututnya yang ditekuk.
“Haebin..” panggilnya dengan suara lirih. Hatinya sangat takut untuk melihat ekspresi Haebin sekarang. Ia mendekatinya karena gadis itu tak kunjung bereaksi juga.
“Haebin..” ulangnya sekali lagi. Kini Donghae memberanikan diri untuk menyentuh kepalanya dengan gerakan lembut.

Barulah ia merasakan Haebin meresponnya. Kepalanya terangkat perlahan. Dan Donghae mengerjap menyaksikan keadaan Haebin yang begitu menyedihkan. Hatinya terasa begitu pedih, seperti tersayat oleh jutaan belati tajam dan panas. Di tambah lagi rasa sesak yang sangat menyiksa.
“Oppa..” mata Haebin yang membengkak karena terlalu banyak mengeluarkan airmata mulai basah lagi. Bibirnya pun bergetar saat berucap tadi. Donghae tidak tahan melihat situasi seperti ini. Tanpa menunggu, Donghae segera memeluknya.

Akhirnya tangisan Haebin kembali pecah. Airmata yang sudah banyak tumpah itu kembali terurai. Bagaimana tidak, airmata sebanyak apapun yang dikeluarkan, tidak akan bisa menggantikan rasa sakit dan penyesalan karena ditinggal pergi orang yang dicintai.

 

Donghae tahu bagaimana perasaan Haebin sekarang. Karena ia pun merasakan hal yang sama ketika So Yeon meninggal dahulu. Tangan Donghae bergerak mengelus punggung Haebin. tak terasa matanya juga ikut panas. Oh, apakah ia sedang bersimpati sekarang? Bukan.. ini bukan simpati. Melainkan perasaan yang lebih kuat dari itu.

“Sudah.. kau terlalu banyak menangis.” Hanya itu yang bisa Donghae ucapkan.

 

Setelah cukup tenang, Donghae menemani Haebin untuk melihat jenazah Ummanya sekali lagi.

Di ruangan itu, ada beberapa petugas rumah sakit dan kepolisian. Juga turut Kibum yang sempat mengotopsi jenazah itu.

Haebin tak kuasa menahan airmatanya lagi saat melihat Ummanya sudah tidak bernyawa. Kedua tangannya membekap erat mulutnya, namun ia tidak bisa menahan diri lagi. Haebin menangis sejadi-jadinya sambil mendekap jenazah Ummanya.

“Umma…” isaknya. Kibum yang berdiri di belakangnya pun menahan airmatanya. Sebenarnya ia ingin menangis namun di tahannya.

 

Sebagai seseorang yang kini menyandang predikat sebagai suaminya, Donghae merasa miris melihat Haebin menangis seperti itu. Matanya berkaca-kaca. Setidaknya, setelah beberapa waktu mereka lewatkan bersama, Donghae bisa memahami sedikit tentang Haebin. gadis itu meskipun ceria, namun ia bisa melihat sorot kesedihan dan rasa kesepian dalam dirinya. Hidup dalam keadaan sangat  sulit dan berat. Tanpa orang tua yang bisa mendukungnya. Namun ia bisa setegar itu. Kini, setelah memahaminya, ia merasa menyesal karena telah menyia-nyiakan hidupnya selama ini.

Apa yang tidak dimilikinya?

Harta? Dia memiliki setumpuk uang untuk ia habiskan. Orangtuanya pun masih lengkap meskipun tidak tinggal bersama. Ditambah lagi, dia memiliki sahabat yang begitu perhatian padanya. Mengapa ia bisa mengabaikan semua itu.. kenapa ia barus sadar kalau hidupnya lebih jauh lebih sempurna dibandingkan Haebin. tapi kenapa ia tidak bisa tegar?

 

Donghae mendekati Haebin perlahan. Ia menarik tubuh Haebin dari depan jenazah ibunya dan segera memeluknya kembali. Membiarkan gadis itu mengangis dipelukannya.

 

Tak lama tuan Lee datang bersama Leeteuk. Ia tercengang melihat keadaan Haebin. begitu menyedihkan. Ia menghampiri mereka. Terutama ke dekat jenazah Umma Haebin. Tuan Lee menahan napasnya melihat sosok yang sudah tidak bernyawa lagi itu. Ia seperti menahan rasa sesak di dadanya. Tuan Lee menutup rapat matanya sejenak.

“Tuan..” Leeteuk cemas melihat Tuan Lee seperti itu.

“Haebin..”  Tuan Lee  menghampiri Haebin. gadis itu menengokkan kepalanya, ia menunduk menyembunyikan wajah sedihnya.

“Kau harus kuat. Ini bukanlah akhir dari hidupmu.”

Haebin mengangguk lemah. Tanpa menjawab sedikitpun. Donghae juga tidak berniat komentar.

 

Kibum menghela napas berat, ia mendekati mereka.

“Aku turut berduka cita, Haebin-ah” ucapnya.

“Gomawo” haebin menjawab dengan suara serak.

 

Tuan Lee melirik pada Leeteuk. Namja itu paham. Lalu menghampiri polisi.

“Pak, Tuan Lee Dong Il ingin bertanya sesuatu padamu.”

Polisi itu mengerti lalu mendekati mereka,

“Tuan, Nyonya, kami turut berduka cita atas kejadian ini.”

“Pak, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa  bisa jadi seperti ini.” Tanya Tuan Lee

“Korban ditemukan tewas di depan panti rehabilitasi itu. Di duga korban terjun dari atap panti karena di atap ditemukan sandal yang dipakai korban hari itu.”

Haebin kaget mendengarnya. “Mustahil. Jadi maksud Anda Umma bunuh diri??”

Polisi itu mengangguk. “Motif kenapa korban melakukannya masih kami selidiki.”

 

Dada Haebin bergemuruh dan kembali sesak. Pikirannya menolak anggapan bahwa Ummanya bunuh diri. Tidak mungkin.

“Tapi Pak, Umma memiliki kelainan pada kejiwaannya. Bagaimana mungkin orang yang sakit seperti itu bisa melakukan tindakan seperti bunuh diri. Umma bergerak dari kursi rodanya saja tidak bisa.” Jelas Haebin dengan suara serak dan tertahan. Matanya kembali basah. Ia hampir menangis kembali.

“Dengan sangat menyesal kami belum bisa memastikan kebenarannya. Ini hanya dugaan sementara berdasarkan keadaan di TKP.”

Tuan Lee mengangguk. “Baik saya mengerti. Jika ada sesuatu, Anda bisa menghubungiku.”

Polisi itu lalu pamit pergi. tuan Lee dan Leeteuk juga harus pergi untuk mengurusi administrasi bersama Kibum. Kini hanya tinggal mereka berdua di sana. Donghae pun tidak mau berlama-lama berada di ruangan itu. Ia segera menarik Haebin keluar.

 

Donghae melihat Haebin mulai goyah. Ia hampir saja terjatuh. Buru-buru Donghae menahan tangannya.

“Haebin, kau tidak apa-apa?”

Haebin terdiam. Pandangannya kosong. Roh haebin seakan sudah melayang dari raganya.

“Kenapa..” terdengar Haebin mulai berkata, ekspresinya sangat memilukan

“Kenapa Umma melakukan ini..” lirihnya lemah. Dengan segenap tenaga yang dimilikinya, Donghae memegang tangan dan pinggang Haebin dan mencoba membuat gadis itu berdiri tegak.

Walau pun sudah bisa menopang tubuhnya sendiri, namun tatapan kosong Haebin belum berubah juga. Donghae menangkup pipi Haebin dengan kedua tangannya. Menatapnya lembut. Ia benar-benar tidak sanggup melihat ke adaan Haebin seperti ini.

“Haebin, lihat aku.” Ujar Donghae serius. “Haebin.. kau harus tegar. Semua ini akan berlalu. Kesedihan ini akan berlalu.” Jelasnya.

 

Mendengar kalimat yang diucapkan Donghae, justru membuat Haebin kembali berkaca-kaca. Airmata itu kembali luruh.

“Tapi Oppa.. Itu Artinya, kedua orang tuaku sudah tiada..” lirihnya berat. Nada bicara Haebin membuat Donghae bungkam. Bagaimana mungkin ia bisa lupa hal itu.. Appanya sudah tiada. Dan sekarang Ummanya pun pergi. Donghae tidak bisa membayangkan itu terjadi pada dirinya.

 

—o0o—

 

Seusai pemakaman..

 

Haebin masih terisak juga di depan pusara sang ibu. Kibum, Kyuhyun, Eunhyuk dan Siwon sudah pulang bersama pelayat lain. Bahkan di saat Donghae meminta agar Haebin pulang, gadis itu menolak dengan tegas.

“Aku masih merindukan Umma..” jawabnya. Ia tetap bertahan di sana. Donghae pun dengan setia menunggunya. Ikut duduk di sampingnya. Pandangan Haebin melayang jauh pada kenangannya bersama sang Ibu beberapa tahun ke belakang. Begitu gembiranya ia waktu itu. Semua itu kini hanya lah sebuah potongan dari film kehidupannya yang tidak mungkin bisa diputar ulang.

 

Mendadak ia teringat kejadian kemarin, saat polisi datang menemuinya.

 

#flashback#

“Ada apa Pak?”tanya Haebin. Ia sedang menemani beberapa tamu yang datang ke rumah duka saat polisi itu datang ke sana.

“Kami ingin menyerahkan sesuatu pada Anda. Benda ini ditemukan di kamar Ibu Anda. Silakan” polisi itu menyerahkan sebuah kotak pada Haebin. tentu saja ia tidak akan tahu isinya jika tidak membukanya. Maka dengan segenap rasa penasaran, ia membukanya.

Polisi itu pamit lebih dulu dan Haebin tidak memperhatikannya karena terlalu sibuk melihat isi kotak itu. Matanya yang bulat melebar karena terkejut. Mulutnya menganga, suaranya pun tercekat melihat isi dari kotak itu.

Haebin menemukan secarik kertas, kalung dan topi rajutan berwarna merah muda di dalamnya. Haebin sangat kenal topi rajutan ini. Sama seperti yang diberikan pada kakaknya, topi ini adalah topi hasil rajutannya untuk Ummanya. Matanya berkaca-kaca kembali. Dengan tangan bergetar dan perasaan campur aduk, ia mengambil topi itu lalu memakainya. Ia juga mengambil surat, membukanya dengan cepat. Haebin melihat tulisan tangan seseorang tertera di atas kertas yang kini dipegangnya. Oh.. Airmatanya sudah tidak bisa di bendung lagi.

 

Umma, ini aku anakmu. Haera. Bagaimana kabar Umma dan Appa di sana. Aku di sini baik-baik saja. Sekarang aku sedang dalam masa-masa penjejakkan cita-citaku. Kau tahu, Aku ini ingin sekali menjadi seorang penyanyi. Aku tahu cita-citaku ini sangat bertentangan dengan keinginan kalian yang mengharapkanku menjadi seorang dokter. Tapi Umma, aku sangat bahagia menjalani hidupku sekarang. Aku harap Umma dan Appa bisa mengerti. Aku kirimkan sesuatu padamu sebagai kenang-kenangan dan bukti dari kerja kerasku. Sebuah kalung yang indah. Tidak semua orang bisa mendapatkannya. Oh, iya.. bagaimana keadaan Haebin?? aku harap Umma dan Appa bisa lebih menyayanginya. Dia anak yang kesepian. Umma, aku harap kalian bertiga akan tetap bahagia tanpa aku. Dan maafkan kesalahanku bila aku sudah menyakiti kalian. Aku mencintaimu, Appa, Umma, dan Haebin.

 

Love forever, Park Haera.

 

Tepat setelah Haebin membacanya, ia menangis kembali. Ini surat dari kakaknya.. kakak yang selama ini menghilang dari kehidupannya. Ia mendekap erat surat itu. Dan jatuh bersimpuh dengan lelehan airmata terus membasahi wajahnya.

#flashback end#

 

Donghae menatapi Haebin yang tak bergeming dari posisinya. Pandangannya kini tertuju pada topi rajutan yang dipakai Haebin. ia merasa pernah melihat topi seperti itu sebelumnya.

 

“Aku ingin sekali mendengar Umma bilang ‘Haebin, nado bogoshipo yo’”

Namja itu mengerjap karena Haebin berbicara tiba-tiba. namun Donghae tidak menjawab gumaman Haebin tadi. Ia tidak tahu harus berkata apa di saat seperti ini. Jujur saja, ia tidak bisa melihat kondisi Haebin seperti ini. Namun ia yakin, setiap orang pasti memiliki masa-masa paling sulit dalam hidupnya. Dan itu akan segera berlalu. Jadi, ia hanya bisa membiarkan Haebin sementara waktu merenung seperti sekarang ini.

 

Perlahan dari langit yang kelabu itu, turun butir-butir salju pertanda musim dingin sudah tiba. donghae mendongkakan  kepalanya ke langit. Awan berwarna putih pekat menggulung menutupi cakrawala. Udara dingin pun menusuk tubuhnya hingga ke tulang. Pusara sang Ibu pun mulai terhiasi oleh salju putih.

“Umma, sepertinya musim dingin tahun ini adalah musim dingin tersulit dalam hidupku.” Lirih Haebin.

 

@@@

 

“Ini sudah malam, Haebin. kenapa kau malah diam di teras di cuaca sedingin sekarang.” Donghae menyampirkan selimut tebal di bahu Haebin. istrinya itu sudah lebih dari 1 jam diam di depan rumah mereka hanya memakai piyama dan jaket. Haebin menatap taman rumah yang kini sudah terselimuti salju tebal.

“Di sini indah sekali. Aku suka.” Gumamnya. sudah satu bulan sejak kematian sang ibu. Sekarang sudah memasuki pertengahan musim dingin. Salju turun membuat udara malam itu semakin beku. Dan Haebin sudah mulai bisa mengkondisikan kembali hidupnya. Tenggelam dalam kesedihan hanya akan menyia-nyiakan hidupnya. Lagipula selama sebulan terakhir Donghae selalu ada di sampingnya. Itulah yang membuat Haebin bertahan hingga sekarang.

“Ayo masuk. Atau kau akan sakit.” Donghae meraih tangan Haebin, membimbingnya masuk ke dalam rumah mereka.

 

Haebin duduk di depan meja makan sementara Donghae beranjak ke dapur.

“Kau ingin minum apa? Akan kubuatkan untukmu” ucap Donghae.

“Coklat panas saja, Oppa”

Haebin tersenyum memandangi punggung Donghae yang sibuk menyiapkan gelas dan cokelat bubuk. Donghae yang sekarang sangat berbeda dengan Donghae saat pertama kali dikenalnya. Haebin bahagia sekali. Ternyata, ia berhasil mengembalikan pribadi Donghae seperti sedia kala. Siapa yang tahu kalau ternyata kejadian buruk yang dialaminya bisa membuat seorang Lee Donghae terpengaruh dan berubah.

 

Lihat saja, sekarang namja itu sangat perhatian. Tidak pernah berkata kasar lagi padanya dan sikap dinginnya, sudah lenyap entah kemana. Benar kata Ibunya dulu. Donghae memang namja yang perhatian dan bertanggung jawab. Hanya saja, sampai saat ini Haebin tidak tahu apakah Donghae menyukainya atau tidak. Namja itu belum menyatakan perasaannya hingga detik ini.

 

Haebin berdiri, dengan langkah pelan ia mendekati Donghae. Entah kenapa malam ini ia ingin sekali bermanja-manja pada suaminya.

Donghae sedang mengocek hot chocolate buatannya saat secara mendadak Haebin memeluknya dari belakang. Membuat semua gerakannya otomatis berhenti.

“Haebin.. kau mulai lagi..” ujarnya kaku. Ia selalu gugup jika Haebin sudah mulai bertingkah mesra padanya. Haebin tersenyum di balik tubuh Donghae.

“Biarkan saja Oppa, cuaca sangat dingin. Aku butuh kehangatan.”

Donghae tersenyum tipis. Ia melepaskan tangan Haebin yang melingkar di pinggangnya.

“Kalau begitu segera habiskan cokelat panas ini, agar badanmu hangat.” Donghae menyerahkan cokelat panas yang tadi sudah dibuatnya.

Haebin mendengus kesal “Huh, kau tidak romantis, Oppa.” Namun pada akhirnya ia mengambil coklat itu juga.  Lalu menyesapnya perlahan.

 

“Ah.. mashita..” serunya girang. “Oppa, cokelat buatanmu enak sekali.”

“Benarkah?” Donghae ikut tersenyum. Ia lalu menggandeng tangan Haebin, membawanya duduk di ruang tengah yang hangat.

Benak Donghae begitu tenang menyaksikan Haebin sudah kembali ceria seperti saat pertama kali mereka bertemu. Sekarang, ia bisa tersenyum bebas semua berkat Haebin juga.

“Aku senang. Kau sudah tidak tenggelam dalam kesedihanmu lagi.” Ujar Donghae sambli menyesap coklat panas miliknya.

Haebin menoleh. Ia membalas dengan senyuman juga. “Tentu saja. Aku harus tegar. Jika tidak, Umma dan Appa di pasti akan sedih melihatku.”

 

Mengenai kasus Ummanya, polisi sampai detik ini masih menyelidikinya. Seperti yang dikatakan polisi saat itu, untuk sementara polisi menduga Ummanya bunuh diri. Meskipun Haebin tidak mau mempercayainya, namun saat ia menyempatkan diri melihat TKP di panti itu, ia mau tak mau harus menerima dugaan polisi. Bagaimanapun, ia yakin Ummanya tidak mungkin bunuh diri. Jika iya, apa motifnya?

 

“Haebin..” Donghae mengibas-ngibaskan tangannya  di depan wajah Haebin karena dia tiba-tiba saja melamun. Pasti kembali terkenang pada ibunya. Matanya mengerjap beberapa detik kemudian.

“A-apa?” ucapnya linglung. Donghae mendengus, ia sebal melihat ekspresi Haebin yang seperti itu.

“Kau melamun tadi.”

“Aku? Ah, tidak…” Haebin diam. Ia jelas sekali sedang merenung. Lalu mendadak wajahnya ceria.

“Oppa, kau tahu, sebenarnya aku masih mempunyai keluarga.”

Donghae terperangah. “Jinjja?” tanyanya tak percaya

“Iya. Aku punya seorang kakak. Dia pergi dari rumah beberapa tahun yang lalu. Dulu aku hanya seorang anak kecil yang tidak tahu harus melakukan apa. Tapi sekarang aku sudah besar. jadi mungkin aku bisa mencarinya.”

“Siapa nama kakakmu?” Donghae mendadak semangat. Ia senang sekali mendengar berita bagus itu. Ia ingin membantu Haebin menemukannya.

“Park Haera..” seru Haebin.

“Park Haera..” ulang Donghae. Pikirannya sekarang penuh oleh cara untuk menemukan kakak Haebin itu. Satu-satunya keluarga Haebin yang dimilikinya. Ia menoleh pada Haebin lagi.

“Apa kau benar-benar ingin menemukannya?”

“Tentu saja. Hmm.. sekarang kakakku pasti sangat cantik.”

Donghae tersenyum kembali. “Baiklah. Aku akan membantumu menemukan kakakmu.”

“Apa? Oppa mau membantuku?” Haebin tak percaya mendengarnya. Ia langsung memeluk Donghae. Namja itu hampir terjengkang ke belakang karena pelukan Haebin begitu mendadak. Jantungnya saja hampir copot. Haebin, bisakah kau tidak seagresif ini.. batinnya.

“Gomawo.. kau memang suami terbaik di dunia, Oppa..”

 

Mendengarnya Donghae tersenyum simpul. kenapa ia selalu speechless saat Haebin bersikap romantis padanya? Haebin merenggangkan pelukannya. Ia menatap langsung wajah Donghae yang berjarak beberapa senti dari wajahnya.

“Kau ingin menggodaku, hah?” tanya Donghae dengan mata menyipit. Haebin mengangkat bahunya.

“kalau aku memang ingin menggodamu, bagaimana?” tantangnya.  Haebin sangat menikmati tingkahnya sekarang. Menggoda suaminya itu menjadi hobi barunya akhir-akhir ini*buset dah*

Donghae mendecakkan lidahnya.  “kau ini.. tidak takut apa kalau aku bisa saja menyerangmu seperti waktu itu jika kau menggodaku seperti sekarang.”

 

Haebin agak takut juga mendengarnya. Ia sedikit menjauhkan dirinya dari Donghae. Namun pria itu dengan sengaja mendekap erat pinggang Haebin agar tidak menjauh. Dia membalas perlakuan Haebin tadi.

“Kenapa? Kau takut?” Donghae balas menggoda.

“Aish, siapa yang takut.” Haebin menantang

“Mwo, kau benar-benar tidak takut aku akan menerkammu hidup-hidup?”

“tentu saja. Kita sudah menikah. Jika kita tidak pernah melakukan ‘skinship’ sama sekali itu artinya ada yang salah dengan pernikahan kita.” Jelas Haebin polos. Eh.. Haebin segera mengatupkan mulutnya begitu menyadari kalau kata-katanya tadi bisa membuat Donghae salah paham. Aish, aku keceplosan.. batin Haebin. eotteohke..

 

Donghae membulatkan matanya mendengar ucapan Haebin. “Omo.. jangan bilang selama ini kau mendambakan aku sentuh seperti waktu itu.” tebaknya.

Haebin langsung gugup. “Aigoo.. Oppa kau salah paham. Sekarang lepaskan aku.. aku ingin tidur..” ia memberontak dari pelukan Donghae.

“Enak saja. Setelah menggodaku kau ingin pergi begitu saja? Aku akan memberimu pelajaran malam ini..” Donghae menyunggingkan senyum menakutkan seperti milik Kyuhyun.

Haebin menggelengkan kepalanya panik. “Ini tidak seperti yang kau bayangkan Oppa, aku bukan gadis yang..” ucapan Haebin terhenti karena sekarang bibirnya dibungkam oleh ciuman Donghae. Matanya yang sempat terbelalak perlahan menutup menikmati sentuhan lembut itu di bibirnya. tangannya pun mulai naik memeluk tengkuk Donghae. Seringaian muncul di sudut bibir Donhgae saat mengetahui Haebin mulai terbawa permainannya. Bahkan gadis itu mulai membalas perlakuannya, membuat ciuman mereka makin dalam dan panas.

 

Di saat Haebin mulai menikmati kemesraan itu, Donghae secara sepihak melepaskan ciumannya. Sekilas raut kekecewaan tampak di wajah Haebin. donghae menatap Haebin tajam.

“Kau serius ingin melakukannya denganku?” tanya Donghae memastikan. Haebin menunduk malu, menyembunyikan wajahnya yang memerah. kenapa Donghae meski menanyakannya dulu? Dia kan suaminya. Bebas melakukan apapun terhadap dirinya.

Kepala Haebin mengangguk perlahan. “Aku tidak pernah seyakin ini, Oppa.” Jawabnya pelan.

Donghae tersenyum, lalu mendekap tubuh Haebin agar bisa merasakan kehangatannya langsung.

“Benarkah? Baik, jika kau sudah menyetujuinya.” Ia lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Haebin.

“Kali ini tanpa obat perangsang” bisiknya nakal. Haebin terkekeh kecil mendengarnya. Ia baru tersadar.

“Omo. Jadi waktu itu Oppa terpengaruh obat itu?” ujarnya menatap Donghae dengan alis bertautan.

“Loh, bukankah kau yang memasukkannya..” Donghae balik bertanya

“Tidak.” Tegas Haebin yakin. “Kecuali ada orang lain yang memasukkanya secara diam-diam ke dalam susu yang kau minum” tambah Haebin.

Donghae mengendikkan bahunya tak peduli. “Whatever, siapapun yang melakukannya, aku harus berterima kasih padanya. Berkat dia, aku bisa melakukannya juga..”

“Oppa..!!!” seru Haebin sambil memukul pelan dada Donghae. Telinganya hampir tak percaya Donghae mengucapkan kalimat seperti itu.

“Tapi terlambat bagimu untuk menghindar. Malam ini cuaca sangat dingin. Kita saling menghangatkan saja. Bagaimana?”

“Jih, itu sih maumu.” Cibir Haebin.

“Memang. Kajja..” Donghae menggendong Haebin ala bridal menuju kamarnya.

 

Malam itu, salju kembali turun.

 

To be continued..

Shady Girl (Part 16)

Tittle : Shady Girl Part 16
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Married Life, Romance

Main Cast :

  • Park Haebin / Lee Haebin
  • Lee Donghae

 

Support Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Choi Siwon
  • Kim Kibum
  • Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk

 

Masih belum bosen kan baca FF ini? Nah, bagus dong. Soalnya FF ini masih lama tamatnya… dan maaf untuk typo dan sebagainya. *bow*

Shady Girl by Dha Khanzaki3

———–0.0———-

Haebin sudah menyiapkan makan malam. Mendadak ia kembali gugup. Ia baru sadar. Sekarang di rumah ini hanya ada mereka berdua. mungkinkah akan terjadi sesuatu seperti malam itu? Ah, tidak mungkin! Haebin buru-buru menepis pikirannya yang suka melantur kemana-mana itu.
“Kau sudah minum obat?” tanya Donghae. Ia menarik kursi di sebelah Haebin.
“Iya.” Haebin menjawabnya canggung. Ia meneguk segelas air untuk mengurangi rasa gugupnya.

Donghae mengangguk. Ia kemudian memulai lebih dulu acara makan malam itu. Haebin merasa canggung dan kebingungan. Karena mereka hanya makan malam berdua. biasanya kan ditemani Tuan Lee dan Leeteuk. Ah, rasa canggung ini sangat menyiksa. Akhirnya mereka makan malam tanpa mengobrol atau pun berbicara. Hanya diam dan sibuk dengan aktivitas masing-masing.

@@@

“Kau mau tidur di mana? Di kamar tamu atau di kamar utama?” tanya Donghae. Haebin baru saja selesai membereskan meja makan dan mencuci piring.
“Maksudmu?”
“Kita tidak mungkin kan tidur dalam 1 kamar. Nanti..” Donghae tidak melanjutkan kalimatnya, mendadak wajahnya panas mengingat apa yang terjadi malam itu di kamarnya. Oh, jangan sampai hal itu terulang lagi. Ia tidak mau memaksa Haebin melakukan hal yang tidak diinginkannya itu.
Haebin paham maksud Donghae. “Aku tidur di kamar tamu saja. Aku rasa itu lebih adil.” Ucapnya.
Donghae mengangguk. “Baiklah..” ia kemudian pergi.

Haebin menyandarkan dirinya ke tembok. Haduh.. ia tadi melihat ekspresi Donghae yang memerah. Pasti dia juga merasa canggung jika teringat kejadian malam itu. Sekarang juga ia merasakan hal yang sama. Untung donghae bisa memahaminya. Mereka tidak akan tidur sekamar dulu hingga mereka saling menyatakan diri bahwa keduanya saling mencintai. Tapi sepertinya itu tidak akan terwujud.

—-o0o—

Karena hari ini hari Minggu, Donghae memutuskan tidur lebih lama. Walau sebenarnya semalam Siwon meneleponnya hari ini ada pertemuan penting soal proyek barunya. Tapi ia sangat lelah dan ingin beristirahat lebih lama.

Haebin melirik jam dinding sekali lagi. Mengapa Donghae belum bangun juga? Padahal hari ini dia merencanakan sesuatu untuk Donghae.
“Ah, lebih baik kubangunkan dia.” Putusnya. Ia masuk ke dalam kamar Donghae dan menemukan namja itu masih tidur bergelung di balik selimut tebal.
“Oppa.. wake up..” Haebin mengguncang tubuh Donghae pelan agar ia bangun. Tapi hasilnya nol. Donghae tetap tertidur damai. Ia menangkup pipi Donghae dengan kedua tangannya, bermaksud membangunnya dengan menepuk-nepuk pipinya. Namun siapa sangka, Donghae malah menariknya jatuh ke dalam pelukannya. Haebin mengerjap kaget. Aduh.. Donghae pasti mengira dirinya adalah guling sampai mendekapnya seperti itu.
“Min-chan.. kau mau membangunkan Oppa seperti apa lagi?” ucapnya. Hah? Min-chan? Haebin mengerutkan keningnya. Apa Donghae mengigau? Kenapa ia mengira dirinya adalah Minki?

—o0o—

Dada Haebin berdegup kencang. Mungkin bisa menyaingi kecepatan roller coaster di taman bermain. Di tambah lagi keadaan mereka yang saling berdekatan.
“Oppa.. ini aku, bukan Minki.” Suara Haebin nyaris berbisik. Donghae tampak mengerjap, mendengar suara yang didengarnya bukan suara anak kecil seperti yang dibayangkannya. Secepat kilat Donghae membuka matanya. Dan betapa terkejutnya ia ternyata yang sekarang sedang dipeluknya adalah Haebin. bukan Minki.
“Mi-mianhae..” Donghae segera melepaskan pelukannya lalu bangkit, duduk di atas ranjang. Haebin ikut bangkit. Ia merasa sangat canggung.
Donghae menggaruk kepalanya. “Apa yang kau lakukan di sini?”
“Membangunkanmu Oppa.” Jawab Haebin terbata. Donghae menepuk keningnya sendiri saat sadar bahwa mereka sudah pindah dari rumah lamanya. Tentu mana mungkin Minki datang berkunjung ke sana.
“Oppa, di mana rumah Sungmin Oppa?” tanya Haebin tiba-tiba.
“Eh? Itu, tidak jauh dari sini. Kenapa?”
Haebin berdiri. “Kita ke sana sekarang. Ayo Oppa, segera bersiap-siap. Pakai baju santai saja yah..” seru Haebin sambil menarik tangan Donghae agar berdiri.
“Mwo????”

“Haebin, sebenarnya apa yang kau rencanakan?” tanya Donghae tidak mengerti. Tadi Haebin memintanya agar memakai pakaian santai untuk berolahraga. Donghae bahkan sekarang sudah menggunakan pakaian santai lengkap dengan sepatu kets dan topi. Sekarang yang tidak ia mengerti adalah kenapa Haebin sudah bersiap di depan rumah dengan menaiki sepeda? Sepeda milik So Yeon dulu?
“Kita berolah raga hingga ke rumah Sungmin Oppa.” Jelas Haebin dengan wajah cerah. Donghae terperangah. “Aku naik sepeda, dan Oppa berlari.”
“Mwo!!!” serunya tak percaya. Ia berkacak pinggang. “Kau ingin aku berlari ke sana sementara kau naik sepeda? Bukankah itu tidak adil?”
“Ini sangat adil Oppa. Kau kan laki-laki. pasti kuat. Sementara aku wanita, mana bisa aku mengimbangimu berlari.” Jelas Haebin asal. Padahal jika ia mau, ia bisa saja menemani Donghae berlari. Tapi ia sedang malas.
Donghae memalingkan wajahnya. Ia benar-benar tidak bisa menerima usul Haebin itu. Sekarang terpaksa Haebin harus merayunya.
“Ayolah Oppa..” rayu Haebin dibuat manja. Donghae belum bergeming juga.
“Bukankah kau baru sembuh dari sakit. Kau tidak boleh kelelahan Haebin!” ujar Donghae galak.
“Justru itu. Kita berolahraga biar tidak sakit. Lagipula Oppa juga pasti membutuhkannya kan. Berolahraga itu sangat baik untuk pegawai yang lama menghabiskan waktunya di depan meja sepertimu.”
Donghae berdecak sebal. “Yeoja ini, benar-benar..” ia diam sebentar. “Baiklah. Ayo..” akhirnya Donghae setuju juga dengan usul Haebin itu. Lari pagi bukan ide yang buruk ko. Tapi yang lebih penting adalah. Ia senang bisa menghabiskan waktu bersama dengan Haebin seperti ini.

Mereka menelusuri jalan yang ditumbuhi pohon rindang di sisi kiri kanannya. Donghae bisa menghirup udara segar sambil berlari dan Haebin yang mengendarai sepeda di sampingnya.
“Lihat Oppa, pemandangan di sini indah kan?” ujar Haebin sambil terus mengayuh sepeda.
“Ne. Kenapa aku baru sadar yah?” tanyanya pada diri sendiri.

Baru setengah perjalanan, mereka istirahat sejenak di dekat sebuah danau yang ada di sana. Haebin menyodorkan sebotol air mineral pada Donghae. Tanpa ragu Donghae mengambilnya, lalu meneguknya. Ia memang merasa haus sekali.
“Kau benar. Berlari seperti ini membuat jiwaku serasa terlahir kembali.” Ucap Donghae. Matanya kini menelusuri pemandangan indah di sekitar danau itu. Haebin mengangguk. Ia tersenyum bahagia. Terlebih karena akhirnya ia bisa melihat ekspresi Donghae begitu santai seperti sekarang.
“Kau memang sudah terlahir kembali Oppa.”
Donghae menoleh, ia merasa ada yang berbeda dengan cara Haebin berbicara.
“Maksudmu?” ia mengerutkan kening. Haebin tersenyum, ia meluruskan kakinya.
“Sekarang kau tampak lebih bebas dari sebelumnya, Oppa. Kau terlihat lebih tenang dan santai. Tidak seperti dulu. Kau tampak suram, seperti menanggung beban yang sangat berat di pundakmu.”

Donghae merenung, jika dipikir lagi memang sama seperti yang dikatan Haebin. sebelum ini, ia seperti hidup di neraka. Beban berat, perasaan tertekan, rasa tidak bahagia, dan emosi yang meninggi. Ia seperti terhimpit di antara 2 batu besar dan tidak bisa bergerak sama sekali. Seperti itu lah perasaannya. Namun sekarang berbeda, entah sejak kapan perasaan ini datang. Sekarang ia merasa lebih tenang. Tak terasa ada beban ataupun emosi dalam benaknya. Ia merasa damai.

Apakah ini karena Haebin begitu mempengaruhi hidupnya? Perlahan senyum di wajahnya terbit juga. Walau pun hanya seulas senyum tipis, namun itu membuat Haebin yang melihatnya merasa begitu bahagia.
“Oppa.. akhirnya aku bisa membuatmu tersenyum seperti itu juga..” seru Haebin takjub. Donghae mengerjap. Ia menoleh pada Haebin yang sekarang sedang menatapnya dengan mata berbinar-binar. Membuatnya gugup setengah mati.
“Senyum apa?” ucapnya kikuk, lalu memalingkan wajahnya.
“Itu.. tadi,” Haebin juga bingung mendeskripsikannya. Ia hanya menunjuk-nunjuk wajah Donghae sambil tersenyum senang.
“Aish.. Apa maksudmu..” ia merasakan pipinya memanas karena digoda oleh Haebin. ia bangkit.
“Lebih baik, kita lanjutkan perjalanan ke rumah Sungmin Hyung.” Tegasnya lalu kembali berlari.
“Omo.. Oppa tunggu..” Haebin bergegas bangkit lalu menaiki sepedanya dan mengejar Donghae yang sudah berlari meninggalkannya. Meskipun Donghae masih malu-malu mengakuinya, tapi Haebin senang sekali. Setidaknya ia berhasil membuat Donghae tersenyum tanpa beban seperti itu. Perlahan, Donghae yang dulu pasti akan kembali.

@@@

“Hoo.. ternyata kalian pindah rumah. Pantas saja tidak datang..” omel Siwon sore itu. Tanpa diduga, Siwon, Eunhyuk, Kyuhyun dan Kibum datang berkunjung ke rumah mereka. Padahal Donghae baru saja pulang dari rumah Sungmin. Mereka berdua-Donghae dan Haebin- tentu saja kaget dengan kunjungan mendadak teman-temannya itu.
“Kalian kenapa tidak bilang jika ingin datang.” Keluh Donghae, mempersilakan mereka masuk.
“Tadinya kami ingin memberi kejutan. Tapi waktu datang kerumah Appamu, Leeteuk Hyung bilang kau sudah pindah kemari.” Jelas Eunhyuk. Donghae mengangguk.
“Mana Haebin?” tanya Kyuhyun polos. Kibum sampai harus menyikut Kyuhyun setelah melihat tatapan curiga Donghae.
“Ha, sudah kuduga, kau memang menyukai Haebin kan?” Donghae bertanya dengan nada sinis. Terdengar cemburu.
“Tidak. Dia kan muridku. Memang salah.” Jawab Kyuhyun. Donghae sebal sekali mendengar jawaban setan tengil itu. Ingin sekali rasanya menjitak kepala yang isinya hanya game itu.
“Tunggu di sini. Akan aku panggilkan dia.” Donghae lalu pergi.

Tak lama Haebin datang membawakan mereka minuman dan beberapa makanan.
“Wah, kalian kemari kenapa tidak mengabari dulu? Kami kan jadi bisa menyiapkan sesuatu untuk kalian.” Haebin meletakkan gelas-gelas berisi minuman di atas meja.
“Ah, tidak perlu repot-repot. Ini juga sudah lebih dari cukup.” Ucap Siwon.
“Haebin-ssi, kau sudah lebih baik?” tanya Kibum. Haebin mengangguk.
“Tentu saja.”
“Memang kenapa?” kini Kyuhyun bertanya.
“Dia sakit kemarin. Sempat di rawat juga di rumah sakit.” Jawab Kibum.
“Nde!!!!” seru Eunhyuk, Siwon, dan Kyuhyun bersamaan.
“Kenapa tidak bilang. Tahu begitu aku akan menjengukmu kemarin.” Ucap Eunhyuk.
“Ah, mianhae. Lagi pula hanya kelelahan biasa. Tidak menjenguk juga tidak apa-apa.” Ucap Haebin malu-malu.
“Ngomong-ngomong, kenapa kalian pindah kemari? Memang ada masalah yah?” Kyuhyun bertanya lagi. Dia memang suka penasaran. Maklum, jiwa peneliti memang melekat dalam dirinya.
Eunhyuk menjitak kepala Kyuhyun, seperti yang selalu ia lakukan tiap kali melihat Kyuhyun mulai tidak bisa membaca situasi lagi. Haebin mengerjap kaget melihatnya. Baru kali ini ia melihat Eunhyuk yang baik hati itu melakukan tindakan kasar.
“Auch.. ya!” Protes Kyuhyun.
“Hentikan sifatmu yang suka penasaran itu! Sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertanya, bungsu!” omelnya.
“Tapi bisakan tidak pake acara memukul segala? Aku kan bukan Taemin! DAN BERHENTI PANGGIL AKU BUNGSU!!” bentak Kyuhyun. “Aku anak sulung tahu!” tambahnya. Eunhyuk berlagak tidak peduli. Ia bahkan menutup telinganya begitu mendengar Kyuhyun mulai berkoar-koar tidak jelas.
Siwon dan Kibum hanya menggelengkan kepalanya, mereka sudah terbiasa melihat situasi seperti itu.

“Ya! Kenapa kalian malah membuat keributan di rumahku??!!” ujar Donghae dengan nada tinggi.

—o0o—

Kyuhyun, Kibum, Siwon dan Eunhyuk pulang juga akhirnya setelah tadi mereka makan malam bersama sambil bercerita banyak tentang kenangan mereka saat kuliah dulu.

“Haebin, boleh bertanya sesuatu?” Donghae mendekati Haebin yang sedang menonton Tv. Ia duduk di sebelahnya.
“Boleh. Tanya saja Oppa.”
“Aku tahu Appamu sudah meninggal. Lalu bagaimana dengan Ibumu? Apa yang terjadi padanya?”
Haebin seketika terdiam. Ia langsung menundukkan kepalanya. ah, Donghae tahu ia sudah salah bertanya. Seharusnya ia tidak bertanya masalah yang sangat sensitif seperti itu.
“Maaf, kau tidak perlu menjawabnya. Aku hanya penasaran. Karena aku mendengar kau sudah dua kali mengigaukan ibumu.”
Haebin menoleh. “Tidak apa-apa.” Ucapnya cepat. Lalu kembali menundukkan kepalanya.
“Umma.. dia masih hidup. Hanya saja..” Haebin tidak melanjutkan kalimatnya. Ia merasa sedih jika harus membicarakan soal ibunya.
Donghae menegang melihat wajah tertekan Haebin. “Dia sedang sakit..” ucap Haebin dengan suara tertahan. Napasnya pun mulai tercekat.
“Lalu, kenapa kau jarang mengunjunginya?” tanya Donghae takut-takut.
“Sudah kubilang, dia sakit..”
Donghae diam sebentar. Ia menelan ludahnya, lalu menyiapkan diri untuk bertanya lagi. Ia takut menyinggung perasaan Haebin lagi.
“Bolehkah aku mengunjunginya?”
Haebin meloleh, matanya terbelalak kaget. “Oppa, kau benar-benar ingin mengunjungi Umma?” tanya Haebin tidak percaya. “Benarkah?” ulangnya.
Donghae mengangguk pasti. “Kenapa? Apa tidak boleh?”

Haebin tampak ragu. “Boleh. Tentu saja.” Ia diam sejenak. “Kalau Oppa mau, besok kita bisa mengunjunginya.”

Donghae makin penasaran. Kenapa ekspresi Haebin seperti itu? Ia tidak sabar menunggu hari esok tiba.

@@@

Mereka pergi bersama ke sebuah tempat di pinggiran kota Seoul. Donghae mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat mereka berada sekarang. Ia bingung. Bukankah Haebin bilang ibunya sakit? Tempat yang mereka datangi sekarang tidak tampak seperti rumah sakit. Namun kebingungannya itu terjawab saat ia membaca papan berukuran besar yang ada di depan bangunan itu. Donghae sangat terkejut.
“Haebin, ini kan..” Donghae tidak meneruskannya, ia melihat Haebin mengangguk.
“Ayo masuk Oppa, kau akan bertemu dengan Umma”

Mulut Donghae bungkam seketika, ia hanya menatapi Haebin yang tengah menyapa beberapa suster yang sudah dikenalnya, mengikuti gadis itu di belakangnya. Entah Haebin akan membawanya ke mana.
Langkah mereka berhenti tepat di sebuah taman. Haebin menghampiri seorang wanita paruh baya yang duduk di atas kursi roda. Wanita itu hanya diam. Bahkan ia tidak menyadari kehadiran Haebin. donghae berhenti tepat beberapa meter di dekat mereka. Hatinya mendadak miris melihat keadaan Umma Haebin seperti itu.
Jadi, maksud Haebin Ummanya sakit adalah seperti ini? Jadi ini alasan kenapa Ummanya berada di tempat ini karena ini? Ini adalah panti rehabilitasi bagi orang-orang yang menderita kelainan jiwa. Dan apakah itu yang dialami oleh Umma Haebin sekarang?
“Umma..” Haebin tersenyum menyapa Ummanya. Namun tidak ada reaksi dari Ummanya itu. Haebin lalu berlutut di hadapan Ummanya.
“Ini aku, putrimu. Park Haebin. seperti biasa, datang mengunjungimu. Bagaimana kabar Umma sekarang? Baik-baik saja kan?”
Donghae mengerjap. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat Haebin mulai berkaca-kaca. Namun gadis itu bertahan untuk tidak mengeluarkan airmatanya. Aigoo.. kenapa dadanya jadi sesak dan perih sekarang?
“Umma, kau tahu, aku sudah menikah. Lihat, suamiku saja bahkan datang mengunjungimu. Ia berkata sangat ingin bertemu denganmu.” Haebin lalu menoleh ke arah Donghae. Otomatis Donghae mendekatinya.
“Annyeong haseyo, Eommanim..” Donghae menundukkan kepalanya. “Aku Lee Donghae. Seperti yang dikatakan putrimu, aku suaminya.”

Donghae menatap dengan teliti ibu mertuanya itu. Sama seperti sebelumnya, ia tetap diam. Seolah tidak ada siapapun di hadapannya. Haebin sudah tidak bisa membendung airmatanya lagi melihat keadaan ibunya seperti ini. Tetes demi tetes airmata jatuh di sudut ke dua matanya.
“Aku merindukanmu, Umma..” lirihnya. Ia lalu bangkit dan berlari dari sana, ia sudah tidak bisa menahan diri lagi. Ia tidak mau menangis di depan Ummanya.
“Haebin!” teriak Donghae. Ia bingung apa yang harus dilakukannya, jadi ia memutuskan untuk mengejar Haebin saja. Setelah Donghae pergi, dari sudut mata wanita paruh baya itu, menetes sebutir airmata. Ia menangis dalam diam.

—o0o—

Donghae mencari-cari Haebin ke arah gadis itu pergi tadi. Dan akhirnya ia menemukan gadis itu menangis di bawah sebuah pohon maple yang daunnya sudah berubah warna. Donghae mendekatinya perlahan. Dadanya bergemuruh mendengar suara isak tangis Haebin. terdengar seperti syair lagu yang begitu menyayat hati.
“Umma..” dia berkali-kali menyebut Ummanya di sela tangisannya.
“Haebin..” Donghae memegang bahu gadis itu. Barulah saat haebin membalikkan badannya Donghae bisa melihat ekspresi kesedihan dengan jelas di raut wajahnya. Lagi-lagi rasa sesak itu kembali muncul. Tolong, jangan menangis lagi seperti ini.. ia tidak tahu harus melakukan apa untuk menghilangkannya.
Tangan Donghae perlahan bergerak memeluk pinggang Haebin, menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Hanya ini yang bisa ia lakukan sekarang. Memeluk erat seperti ini. Ia harap Haebin bisa berhenti menangis.
“Mianhae.. tidak ada yang bisa kulakukan untukmu selain ini..” bisik Donghae pelan tepat di telinga Haebin.
“Oppa..” Haebin balas memeluknya dan tangisannya kian menjadi. Sama seperti malam itu, Haebin hanya bisa menangis dengan bebas seperti ini saat Donghae ada di dekatnya, memeluknya seperti yang dilakukannya sekarang.

Donghae bisa merasakannya. Dari tangisan Haebin, bahwa gadis itu menyimpan kesedihannya selama ini. Ia bahkan sangat kagum pada Haebin. ia bisa sangat tegar ditengah keadaan keluarganya yang seperti ini. Jika itu adalah dirinya, mungkin ia akan memilih bunuh diri daripada meneruskan hidup dalam keadaan seperti itu.
“Tenanglah.. semuanya akan baik-baik saja.” Donghae mencoba menenangkan Haebin dengan mengusap lembut kepalanya. “Ada aku di sisimu sekarang.” Tambahnya lagi. Mendengar kalimat yang diucapkan dengan tulus seperti itu, perlahan tangis Haebin pun mereda. Menyisakan airmata yang masih saja bergulir membasahi pipinya. Ia merasa tenang sekarang. Sangat tenang.

Benar. Sekarang ada Donghae di sisinya.

@@@

“Oppa.. Ayo banguuun..” teriak Haebin tepat di telinga Donghae. Pagi itu, ia semangat sekali membangunkan Donghae yang masih tertidur di kamarnya.
“Aish.. ini kan masih jam 6..” gerutu Donghae. Ia lalu menarik selimut dan kembali tidur. Haebin berkacak pinggang. Kenapa suaminya jadi pemalas seperti ini? Biasanya tanpa disuruh juga dia bangun sendiri. Yah.. sejak hari itu, hubungan Haebin dengan Donghae memang lebih baik. Meskipun sampai saat ini ia masih penasaran apakah Donghae mencintainya atau tidak, tapi ia senang karena namja itu tidak lagi dingin kepadanya seperti dulu.
“Ayolah.. bangun pagi itu baik untuk kesehatan..”
“Apa?? Sekarang nasehat apa lagi yang kau dapat dari Kibum?” gerutunya dari balik selimut.
“Tidak ada. Ini nasehat dariku tahu..” Haebin menarik selimut dari tubuh Donghae dan ia terkejut karena melihat Donghae hanya tidur dengan menggunakan celana pendek.
“Kyaaaaa…” teriak Haebin kaget, refleks ia menutupi wajahnya dengan selimut.
“Ya!!! Cepat kemarikan selimut itu!!” Donghae pun ikut panik. Ia lupa kalau ia hampir tidak berpakaian saat itu. Haebin melemparkan selimut itu lalu lari kalang kabut keluar kamar. Donghae tersenyum tipis melihat tingkah Haebin seperti itu.
“Dasar.” Ucapnya lalu bangkit.

“Hari ini aku akan pulang malam.” Ucap Dongahe. Haebin mengangguk paham.
“Iya. Lagipula aku juga sibuk. Sebentar lagi kan aku akan lulus kuliah..”ucapnya bangga. Ia mengantarkan Donghae sampai ke depan rumah.
Donghae terdiam sejenak. Bukannya segera masuk ke dalam mobil yang sudah siap menunggunya di sana. Ia malah menatapi Haebin dalam diam.
“Kenapa? Ada yang kurang?” tanya Haebin bingung.
Donghae mengerjap. Ah, kenapa tadi ia berharap Haebin akan memberikannya morning kiss seperti sebelumnya? Dia pasti sudah gila.
“Ah, tidak. Kalau begitu aku pergi yah..” Donghae akan membuka pintunya namun Haebin menahannya.
“Oppa..”
“Kenapa?”

Chuup—

Donghae mengerjap. Tanpa diduga Haebin menciumnya walau hanya sebentar. Ia menatap Haebin yang tersenyum girang.
“Hati-hati di jalan, Oppa..” ucapnya. Donghae mendadak jadi canggung. Ia hanya mengangguk lalu masuk ke dalam mobil. Tak lama mobil pun pergi dan Haebin melambaikan tanggannya. Hah.. jadi seperti inilah seharusnya kehidupan sepasang suami istri. Begitu damai.

Setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah, ia bersiap-siap untuk pergi kuliah. Pakaiannya sudah rapi dan Saat Haebin akan keluar, tiba-tiba telepon rumah berbunyi. Haebin segera mengangkatnya.
“Yeobseo..”
“Apa ini dengan nona Park haebin?”
Haebin mengerjap. “Iya..” jawabnya was was.
“Kami dari rumah sakit. Ini tentang ibu anda….”
Jantung Haebin berdebar kencang. Tanpa sadar ia mencengkram gagang telepon. Tuhan, apa yang akan terjadi sekarang?
“Ibu saya kenapa?”
“Ibu anda ditemukan tewas di Panti rehabilitasi pagi tadi. Mohon Anda segera ke rumah sakit sekarang juga.”

Brakk..

Haebin menjatuhkan gagang telepon yang dipegangnya. Otaknya langsung kosong. Tubuhnya pun kaku seketika.

“Umma..” lirihnya setelah bisa mencerna kata-kata yang didengarnya tadi.. tubuhnya langsung bergetar. Ia tidak percaya dengan berita yang di dengarnya. Itu pasti bohong..
Tanpa bisa ditahan lagi, airmatanya jatuh satu persatu dan tangisnya meledak. Ia jatuh lemas di atas lantai rumahnya.
“Umma!!!!” jeritnya kencang. Dunia terasa runtuh di sekitarnya.

To be continued..

No Other (Part 2)

Tittle : No Other Part 2
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : School Life, friendship

Main Cast :

  • Lee Jiyeon
  • Cho Kyuhyun

Support Cast :

  • Lee Sungmin (Jiyeon’s Oppa)
  • Lee Hyukjae (Jiyeon’s Oppa)
  • Choi Siwon (Jiyeon’s Oppa)
  • etc..

FF ini agak rumit dan berantakan penulisannya… maaf atas ketidaknyamanan itu semua *bow*

No Other by DhaKhanzaki

————o0o————

Part 2

*di rumah sakit*

“heh, cewek tengil, kau sudah menghubungi keluargamu? Aku tidak bisa menemanimu karena urusanku masih banyak!” ujar kyuhyun. Ia mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya tak sabar. ia teringat janjinya pada Heechul. Dan ia tidak bisa membayangkan betapa menyeramkannya sunbaenya itu saat sedang marah.

Jiyeon mendengus jengkel. Namja ini benar-benar perlu di bawa ke psikolog. Sikapnya sangat menyebalkan.”Tenang saja. Aku sudah menghubungi oppa ku” jawab jiyeon mencoba sabar. “Dan jangan panggil aku cewek tengil. Namaku Lee Jiyeon. Aku lihat seragam kita sama. Kau pasti murid Kirin juga kan!”

Tentu saja. Kyuhyun tahu itu.
“Ah iya, Kita sekalian saja berkenalan. Aku Hankyung dan dia Kyuhyun. Cho Kyuhyun. Kau tahu kan?” ujar Hankyung dengan tangan menunjuk Kyuhyun. Namja yang ditunjuk tersenyum sinis.
“Sudahlah Han, yeoja seperti dia mana tahu” celetuk Kyuhyun meremehkan. Dia sangat percaya diri bahwa dirinya begitu terkenal sampai seluruh penghuni sekolah tahu siapa dia.

“Memangnya siapa kau? Nama mu baru pertama kali ini aku dengar. Cho kyuhyun, memang ada murid bernama itu di sekolah” Jiyeon menjawabnya acuh tak acuh. Kyuhyun terpaku mendengarnya. Telinganya seolah tak percaya kalau ada juga murid yang akan mengucapkan kata itu. Apalagi di hadapannya.

“Gadis ini benar-benar cari mati!” umpat Kyuhyun kesal. Dia ingin sekali melakukan sesuatu pada yeoja bernama Jiyeon itu tapi tertahan karena pintu ruangn tiba-tiba menjeblak dibuka seseorang.

Muncul Sungmin disusul Yoona masuk ke dalam ruangan. Hankyung maupun Kyuhyun sedikit kaget dibuatnya.

“Oppa?! Yoona!” seru Jiyeon senang. Sungmin segera menghampiri.
“Kau tidak apa-apa kan? Katakan!” Sungmin berkata dengan nada penuh kepanikan. Jiyeon tersenyum lega.
“Hanya terkilir ringan. Sebentar saja juga sudah sembuh”
“Kau ini..” Sungmin langsung memeluk adik kesayangannya itu. Jiyeon mengerjap kaget. Omona.. Sungmin itu meskipun sedikit kejam padanya, tapi terbukti dia adalah seorang Oppa yang sangat perasa dan menyayanginya.
“Kau hampir membuatku mati berdiri. Semua ini salahku. Coba tadi pagi aku tidak membiarkanmu membawa motor sendiri ke sekolah.” ucap Sungmin terus mendekap Jiyeon.
“Bukan salahmu Oppa, aku saja yang kurang hati-hati.”

Setelah Sungmin melepas pelukannya, Jiyeon menoleh pada Yoona, gadis itu pun terlihat menahan air mata.
“Yoona, kau datang kemari karena mencemaskanku juga?” tanya Jiyeon polos. Yoona
berlari menghambur untuk memeluk Jiyeon, menangis di bahunya.
“Gadis jahat! Kamu berhasil membuatku cemas seharian. Bagaimana mungkin aku tidak kemari saat mendengarmu kecelakaan” lirihnya terisak. Jiyeon balas memeluknya.
“Jeongmal mianhae, karena sudah membuatmu cemas. Aku berjanji aku tidak apa-apa.”

Sungmin baru sadar kalau dari tadi ada 2 makhluk asing di dekat mereka. Tatapannya menajam ketika bertemu dengan pandangan Kyuhyun dan Hankyung.
“Kalian siapa? Orang-orang yang sudah mencelakai adikku?” tanya Sungmin curiga. Kyuhyun maupun Hankyung terperanjat.
“Anu. Kami..” mereka gelagapan saat akan menjawab. Pada kenyataannya memang mereka lah yang sudah membuat adiknya seperti ini.

“Bukan oppa, mereka yang sudah menolongku” potong Jiyeon. Sungmin menatap kedua orang itu. Kyuhyun mengangguk mengiyakan. Dalam hati Kyuhyun lega, setidaknya Jiyeon sudah mengatakan hal bagus.
“Begitu, baguslah” ucap Sungmin percaya.

Kyuhyun berdehem sejenak. “Karena kau sudah ada yang menjaga, kalau begitu kami pamit” ucap Kyuhyun. Tak menunggu lama, ia dan Hankyung keluar ruangan itu.
“Kalau begitu aku akan menelepon rumah dulu” Sungmin mengeluarkan ponsel. Jiyeon tertegun sejenak, ia ingin menanyakan sesuatu tapi ragu.
“Eunhyuk Oppa, apa dia tahu aaku kecelakaan?” tanyanya. Sungmin menoleh.
“Tidak. Sudahlah jangan beritahu dia, kamu tahu kan dia kalau sudah panik seperti apa?”
Jiyeon mengangguk paham.
“Arra” lirihnya.

Sungmin lalu keluar ruangan. Yoona segera duduk di samping Jiyeon begitu Sungmin tidak berada lagi di sana.
“Namja tadi, bukannya dia Cho Kyuhyun dan sepupunya Hankyung ya?” selidik Yoona. Jiyeon agak terkejut. Kenapa Yoona bisa tahu?
“Bagaimana kau tahu? Memangnya dia terkenal?”
Yoona menepuk pundaknya pelan. “Tentu saja! Kamu tahu, keluarganya itu sangat kaya. Selain berbakat dalam bidang musik, dia juga tampan dan pintar. Seluruh sekolah tahu dia.”
“Masa? Terus kenapa aku tidak tahu?” Jiyeon memiringkan kepalanya, berpikir mengapa ia bisa melewatkan hal yang umum seperti itu.
“Kau saja yang kuper.” Yoona diam sejenak, ia ingat kejadian tadi di lorong.
“Pantas saja tadi Heechul oppa mencari-cari Kyuhyun. Ternyata dia ada disini”
“Apa? Heechul oppa? Mau apa dia cari-cari namja tengil itu?” semangat Jiyeon tersulut begitu saja ketika nama Heechul disebutkan. Yoona mendecak.
“Huu! Aku baru sebut namanya saja kau sudah segirang itu. Kau menyukainya apa dongsaengnya?” sindir Yoona. Jiyeon berhenti cengengesan. Mendengar kata ‘dongsaengnya’, otaknya langsung terpikir pada Ryeowook.
“Wookie? Untuk apa aku suka padanya?. Dia itu hanya sebatas chingu bagiku” Jiyeon bingung kenapa mendadak Yoona berkata seperti itu.

Mata sahabatnya itu menyipit. Yoona duduk semakin merapat pada Jiyeon. “heh, kau tidak tahu gosip yang beredar di sekolah?” tanyanya dengan nada penuh misteri.
“Andwae,” jawab Jiyeon polos. Yoona menepuk keningnya. Jiyeon, kau kelewat kuper. Batin Yoona.
“Orang-orang bilang kamu suka pada Ryeowook!”
“MWO!” pekik Jiyeon kaget.
“Darimana datangnya gosip itu!” seru Jiyeon dengan suara keras. “Memangnya sikapku pada Wookie selama ini memperlihatkan kalau aku suka padanya…ah–” Jiyeon mengatupkan bibirnya. Ia seakan tersadar sesuatu. Jika dipikir-pikir, sikapnya pada Ryeowook memang sedikit berbeda. Dia selalu berbagi makan siang denganya, karena Ryeowook itu pandai memasak, dan Jiyeon juga suka memasak. Jadi mereka sering sekali bertukar bekal makan siang. Terkadang juga pulang dengannya. Ha! Jangan-jangan itu yang membuat orang-orang curiga.

“Aku memang sedikit berlebihan pada Wookie.” lirih Jiyeon lemas.
“Tuh kan!” Yoona mengiyakan.
“Tapi semua itu kulakukan karena aku ingin tahu soal Chullppa!” bela Jiyeon. Sebenarnya itu motif utama mengapa ia bisa akrab dengan Ryeowook.
“Tapi orang-orang tidak tahu kau suka pada Heechul Oppa”
“Bagaimana ini…” Jiyeon menatap Yoona dengan wajah khawatir. tangannya menggenggam erat lengan Yoona.
“Tenang, aku dukung kau apapun yang terjadi.” Yoona menepuk-nepuk pundak Jiyeon untuk menyemangatinya.

“Ah, Yoona. Bagaimana perasaanmu sekarang?” mendadak Jiyeon mengalihkan pembicaraan.
“Memangnya kenapa?” Yoona tak paham dengan pertanyaan Jiyeon.
Jiyeon menyikutnya. “Bilang saja lagi kalau kamu sekarang sangat bahagia. Tadi kan kau kemari bersama Sungmin Oppa” ledek Jiyeon. Pipi Yoona seketika memerah. Ia teringat saat ia memeluk pinggang Sungmin karena mereka kemari menggunakan motor milik namja itu.
“Kau ini apaan sih? Memangnya kenapa aku dengan Sungmin Oppa” Yoona berusaha mengelak. Padahal terlihat jelas di wajahnya.
“Kau suka padanya. Iya kan!!” Jiyeon berkata dengan suara keras sehingga Yoona. Terpaksa membekam mulutnya.

Bersamaan dengan itu Sungmin masuk ke dalam ruangan. Yoona menghentikan tindakannya
begitupun Jiyeon. Suasana hening seketika.
“Kok kalian berhenti? Aku mengganggu ya” tanya Sungmin heran. Kedua yeoja itu langsung duduk manis seolah tidak terjadi apapun.
“Tidak kok. Oppa tadi mendengar pembicaraan kita?” Jiyeon menyelidik ekspresi Sungmin sekarang. Yoona tampak memucat melihat Sungmin diam menatap mereka secara bergantian. Jiyeon ikut cemas.

“Tidak. Memang kalian membicarakan apa?” Sungmin bingung.
fuuh.. Untung tidak dengar. Secara bersamaan Jiyeon dan Yoona menghela napas lega.
“Kalian ini, ada apa sih sebenarnya?” Sungmin dibuat penasaran. Tapi baik Jiyeon maupun Yoona tidak berniat untuk menjawab.
“Ah, Jiyeon kau bisa pulang sekarang. Dokter sudah mengizinkan” ia teringat tadi ia sempat menemui dokter. Jiyeon mengerjap senang.
“Jinjja? Ayo pulang” ucap Jiyeon semangat.

__0.0__

*di kamar lain di rumah sakit yang sama*
“Hyung, aku sarankan jantungmu segera dioperasi sebelum kondisinya makin memburuk.” saran Kibum dengan wajah cemas. Yesung yang terbaring lemah hanya tersenyum sambil menepuk tangan Kibum yang terus menggenggam tangannya.
“Aku masih baik-baik saja. Jangan terlalu mencemaskanku. Bagaimana dengan sekolahmu? Kamu jangan terus membolos hanya untuk menjengukku” ucap yesung lemah.

Kibum menghela napas berat.
“Itu bukan hal penting. Bagiku yang terpenting sekarang adalah melihatmu sehat kembali”
Yesung tersenyum. “Maaf sudah membuatmu susah. Kau tidak perlu terlalu mencemaskan ku. Kau bisa lakukan apa saja yang kau inginkan”

Hati Kibum sakit atas ucapan Hyungnya. Ia sedih karena Yesung tidak bisa melakukan hal yang paling disukainya: menyanyi.
“Aku berharap segera ada donor jantung untukmu, Hyung” harap Kibum.
“Jangan terus cemas tentang penyakitku. Sekarang kau sekolah saja baik-baik.” ucap Yesung sambil tersenyum lemah.
Kibum mengangguk. Ia sangat menyayangi Yesung. Apapun akan dilakukannya asal bisa
melihat Hyungnya tersenyum seperti sekarang.

Terdengar pintu dibuka seseorang. Kibum menoleh, Sooyoung gadis cantik yang begitu anggun masuk dengan membawa sekeranjang buah. Senyumnya mengembang bergantian memandang Kibum dan Yesung.
“Seperti biasa, aku datang Oppa” ucapnya hangat sambil duduk di sisi tempat tidur yang lain. Pandangan matanya meredup ketika melihat orang yang dicintainya lemah tak berdaya.

“Oppa terlihat lebih baik.” Sooyoung berkata sambil menahan airmata meskipun di bibirnya tersungging seulas senyum manis.
“Gomawo. Berkat dirimu juga” Yesung menggenggam tangan Sooyoung dengan kasih sayang tulus seperti biasanya. Dan hal itu membuat Sooyoung merasa tenang. di saat suasana sedih seperti ini, senyuman Yesung-lah satu-satunya obat paling ampuh untuk meredakan tangisannya.

Kibum terguncang menyaksikan adegan itu. Bagaimanapun Sooyoung pernah menjadi pujaan hatinya dan mungkin sampai sekarangpun hal itu belum berubah. Kibum memilih menyingkir dari ruangan itu. Dia ingin mencari udara segar.

__o0o__

“Oppa, kau bilang semua pada Appa? Soal kecelakaanku?” tanya Jiyeon tiba-tiba. mereka sekarang sedang dalam perjalanan pulang. Jiyeon terpaksa harus dipapah Sungmin dan Yoona saat berjalan.
“Tentu. dan dari suaranya Appa terdengar sangat terkejut. Terlebih eomma.”
“Ah, sudah kuduga. Siap-siap kena semprot deh” Jiyeon menghela napas berat. Sungmin dan
Yoona secara kompak tertawa.

“Loh Ji, itu kan Kibum” ucap Yoona. Jiyeon menengok ke arah yang dimaksud. Matanya melebar. Ya. Dia melihat sosok orang yang tidak asing lagi baginya itu berjalan tak jauh di hadapannya. Jiyeon terpaku sesaat.

Kibum pun merasakan hal yang sama. Tubuhnya membeku ketika melihat Jiyeon. Ia melrik ke arah kaki Jiyeon yang dibebat. Kenapa dia? Kibum ingin bertanya, tapi ego membuatnya memilih pergi melewati Jiyeon tanpa menyapanya sedikitpun.
Jiyeon tidak percaya Kibum bersikap seolah-olah tidak mengenalnya. Hatinya terasa sangat pedih.
“Kenapa dia? Bahkan menyapa pun tidak!!” ucap Sungmin heran. Ia mengenal Kibum karena Kibum adalah juniornya di klub yang sama dengannya di SMA Kirin.
“Dia kenapa ada di sini?” tanya Yoona heran.
“Yesung, Hyungnya sakit dan dirawat di sini. Mungkin dia datang untuk menjenguk”
jawab Sungmin.

Jiyeon tidak berkomentar. Ia tadi sempat melihat wajah Kibum yang kelelahan dan sedih. Itu sangat mengganggu pikirannya. Ia terus melamun sampai akan masuk taksi.

“Ah!” mendadak Jiyeon berseru. Membuat Sungmin dan Yoona terperanjat.
“Kenapa? Ada yang salah?” tanya Sungmin cemas. Jiyeon menggeleng cepat. Ia hampir saja melupakan sesuatu yang sangat penting. Ia akan kehilangan seorang Oppa jika ia sampai melalaikan hal yang dilupakannya ini.
“Siwon oppa!” jiyeon baru ingat. CD rekaman lagu yang diminta Siwon masih ada di tangannya. Ia menoleh pada Sungmin dengan tatapan penuh harap.
“Oppa, kau mau menolongku?”
Sungmin tidak mengerti tapi dia mengangguk. Jiyeon mengambil sebuah kotak CD lalu menyerahkannya pada Sungmin. “Tolong berikan itu pada Siwon Oppa. Aku yakin sekarang dia sedang kelimpungan menunggu CD itu kuantar.”
Sungmin mendengus malas. “Hah?! Si bintang baru tidak jelas itu?” sindir Sungmin.
“Oppa! Kamu jangan bilang begitu. Meski tidak jelas dia itu Oppaku juga” bantah Jiyeon kesal.
“Arra, arra. Ok, kalau begitu aku pergi kembalikan ini dulu. Yoona, aku titip adikku tercinta ini yah” Sungmin mencubit pipi Jiyeon.
“n-ne” jawab Yoona gugup.
“Oppa!!” seru Jiyeon jengkel. Sungmin langsung kabur sebelum Jiyeon balas memukulnya.

__o0o__

JRENGJRANG!!
Suara dentang piano terdengar tidak karuan dari ruang latihan. Rasa kesal Siwon sudah memuncak hingga ubun-ubun. Kemarahannya terlampiaskan pada piano.
“Calm down” sahut Kangin santai. Dia tengah asyik memainkan gitar listrik dan sedikit bersenandung. Siwon tidak mendengarkan. Sekarang ia benar-benar sudah kehabisan kesabarannya. Bagaimana mungkin Jiyeon tidak kunjung menyerahkan CD itu juga padanya!!
“Lain kali kalau bertemu awas ya! Beraninya dia tidak datang sama sekali!” Siwon mengepal erat tangannya.
“Coba hubungi sekali lagi. Aku cemas terjadi sesuatu padanya” ucap Kangin. Siwon tersenyum sinis.
“Datang terlambat memang sudah menjadi keahliannya. Ini juga bukan pertama kali!” Siwon mencoba menelepon sekali lagi. Hasilnya tetap sama. Ponsel Jiyeon tidak aktif. Hal ini membuatnya makin sebal saja.
“Aish!! Kemana dia? Harusnya dia bawakan CD itu!” gerutu Siwon pada ponsel di tangannya. Kangin hanya bisa cengengesan melihat tingkah Siwon.

“Kau butuh ini?”

Siwon menoleh cepat mendengarnya. Ia kira Jiyeon ternyata bukan. Siwon mengerutkan kening bingung. Apa yang dilakukan Sungmin di sana?
“Kenapa kamu yang datang? Mana Jiyeon?!”
Sungmin memutar bola matanya, malas. Siwon itu benar-benar hanya memikirkan karir keartisannya saja.
“Dia baru pulang dari rumah sakit.” Jawabnya dengan wajah datar.

Raut wajah Siwon langsung berubah, ia terkejut.
“Rumah sakit? Kenapa?! Apa dia kecelakaan?” Siwon buru-buru mendekati Sungmin dengan wajah tak kalah cemas. “Apa parah? Dia baik-baik saja kan?”
“Tidak ada yang serius. Hanya terkilir” Sungmin mengatakannya dengan ekspresi datar. Ia ingin mellihat reaksi Siwon.
Siwon menghela napas lega. Hanya sesaat. Setelah itu ia kembali menjadi Siwon yang menyebalkan. “Lalu mana CD-nya? Kau kemari untuk mengantarkan itu kan?”
“Nih!!” Sungmin menekankan CD itu tepat di dada Siwon, lalu pergi dengan sikap dingin. Siwon tersenyum sinis menanggapi kelakuan Sungmin.
“Lihat dia! Dia pikir dia siapa?”

__o0o__

Bukannya pulang Jiyeon malah mampir ke restoran ayahnya. Mendadak ia ingin mencicipi lagi masakan sang Appa. Jadi ayah adalah seorang chef professional dan sudah membuka restoran sejak Jiyeon berusia 5 tahun.
“Aigoo, Jiyeon, apa yang terjadi padamu?!!” pekik Eunhyuk ketika melihat kaki Jiyeon diperban dan berjalan sambil dipapah oleh Yoona. Belum apa-apa namja itu sudah mondar-mandir panik gak jelas. Entahlah apa yang dilakukanya. Ia segera menata salah satu meja kosong agar Jiyeon bisa duduk di sana.
“Ayo duduk di sini. Sebentar…” Eunhyuk menarik kursi lalu menyandarkan kaki Jiyeon di atasnya. ia lalu pergi mengambil bantal untuk pengganjal kaki yang diperban.
“Sudah nyaman? Masih ada yang sakit?” tanyanya cemas. Jiyeon menggeleng pelan.
“Tidak ada. Gomawo..”ucap Jiyeon terharu dengan sikap perhatian Eunhyuk. Kekhawatiran belum juga lenyap dari wajah Eunhyuk. Namja itu terus saja bergerak-gerak gelisah.
“Sebentar, aku panggil Appa..” ia mengambil langkah seribu.
“Oppa..” baru Jiyeon hendak mencegah Eunhyuk keburu pergi ke dapur. Untung saat itu restoran sedang sepi. ia tidak menjadi pusat perhatian di sana.

“Eunhyuk Oppa tidak berubah ya, apa dia memang selalu begitu?” Tanya Yoona kagum
sambil menggeleng-gelengkan kepala. Jiyeon mengangguk setuju.
“Begitulah. Keahliannya adalah bersemangat setahun pnuh!”
Mendengarnya Yoona tertawa. Tiba-tiba sebuah suara menggelegar yang amat ditakuti oleh Jiyeon terdengar nyaring. Membuat gadis itu kaku seketika.

“LEE JIYEON, apa yang terjadi sebenarnya?!” Appa muncul dari dapur masih mengenakan pakaian chef lengkap terburu-buru menghampirinya. Disusul Eunhyuk. Waduh, Jiyeon bergetar.
“Mianhae Appa.. Kejadian ini murni karena kecerobohanku” jawab Jiyeon sambil menunduk. Takut melihat wajah seram Appa. “kakiku terkilir sedikit. Tapi tidak ada yang serius kok. Aku janji.”
Appa mendekat lalu dengan gerakan cepat tangannya menjitak Jiyeon. Yoona dan Eunhyuk sampai kaget.
“aw!” Jiyeon meringis.
“Sudah Appa bilang, perempuan jangan sembarangan membawa motor! Lihat ini akibat dari tidak menuruti ucapan orangtua!” tegur Appa. Jiyeon makin menundukkan kepalanya. ia akan tahu akan diceramahi seperti ini oleh sang Appa.
“mianhae..” lirihnya seperti suara cicak. Sangat pelan.

Sungmin baru saja tiba disana. Melihat suasana tampak ‘tidak biasa’, Ia segera mencairkan keadaan.
“Jiyeon, kau tiba selamat sampai di sini? Syukurlah” Sungmin menghampiri mereka dengan wajah cerah ceria. Appa masih tampak kesal sementara Jiyeon tetap pada posisi yang sama. Ah, ia harus melakukan sesuatu.
“Appa, aku lapar. Aku ingin sekali makan sup tulang sapi buatanmu.” Ucap Sungmin mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Kau ini, adikmu kecelakaan kau masih bisa meminta makan dengan wajah ceria begitu?”
“Sudahlah Appa, ayo aku bantu siapkan.” Sungmin mendorong tubuh Appa pelan kembali ke dapur. Ia menoleh sebentar ke arah Jiyeon sambil mengedipkan sebelah matanya.

“oppa…jeongmal gomawo” lirih Jiyeon terharu. Ia tahu Sungmin pasti akan menyelamatkannya.
Eunhyuk tertawa ringan. Ia berbisik pelan pada adik perempuannya itu. “lihat, ada-ada saja cara Hyung menolongmu.”
“Ne” ia mengangguk. Jiyeon tahu tu. Meski kadang menyebalkan, tapi ia harus mengakui bahwa Sungmin adalah kakak paling baik di dunia. Ia melirik Yoona yang duduk di sampingnya. Aishy!! Gadis ini malah diam terpaku ke arah dapur. Ia juga tahu, Yoona pasti terpesona pada Sungmin. Seperti biasa. Jiyeon tertawa dalam hati.
“hei, aku tahu. Oppaku yang satu itu memang sangat mempesona” kata jiyeon sambil menyikut Yoona. Otomatis gadis itu sadar dari lamunannya.
“Kenapa?” tanyanya heran. Melihat kepolosan sahabatnya Jiyeon benar-benar tertawa. Meskipun tidak mengerti, namun Eunhyuk juga ikut tertawa.

__o0o__

Mereka akhinya makan siang bersama. Sepanjang makan Appa terus mengobrol dengan Sungmin dan Eunhyuk sementara Jiyeon didiamkan. Akhirnya ia menusuk-nusuk ayam goreng dengan garpu, melampiaskan kekesalannya.
“Menyebalkan! Ternyata Appa memang lebih suka anak laki-laki!” gumamnya jengkel.
Yoona hanya bisa menahan tawa. Tapi Jiyeon tidak bisa membenci oppadeul-nya sedikitpun. Terkadang ia hanya kesal.

Tiba-tiba tercium aroma wangi. Jiyeon mengangkat kepalanya. ternyata Eunhyuk menyodorkan secangkir teh beraroma karamel ke hadapannya. Aigoo.. Ini kan teh kesukaannya. Senyum di bibir Jiyeon pun mengembang.
“Hyukppa, kau memang Oppa ku yang paling pengertian di dunia” seru Jiyeon terharu. Sudah berapa kali hari ini ia dibuat terharu. Eunhyuk tersenyum jahil.
“Araseo. Cepat minum sebelum tehnya dingin. Yoona, kau juga harus coba!” Eunhyuk pun menuangkan secangkir lagi untuk Yoona.
“Gomawo” Yoona menyesapnya sedikit. Ekspresinya langsung berubah. Melihat ekspresi yang ditunjukkan Yoona, Eunhyuk tersenyum lebar.
“Enak kan?” tanya Jiyeon.
“iya.” Yoona mengangguk.
“Itu oleh-oleh dari my mommy. Dia membelinya di Hongkong.”
Appa menoleh mendengar Jiyeon menyebut kata Mommy.

“Jinjja? Wah, tapi aku lebih suka teh hijau” ucap Yoona.
“Begitu. Selera kita ternyata berbeda.” Jiyeon mengangguk-angguk.

__o0o__

Begitu sampai rumah, Jiyeon dipapah Eunhyuk duduk di sofa ruang keluarga. Ketika Eunhyuk akan pergi, Jiyeon menahannya.
“Oppa, jangan pergi” Jiyeon menahan tangan Eunhyuk dengan nada memelas. Ah, Eunhyuk bisa membaca apa mau yeodongsaengnya ini. Lantas ia duduk di samping Jiyeon.
“Ada apa?” tanya Eunhyuk. Ia yakin Jiyeon pasti ingin curhat padanya. Selama ini
Eunhyuk memang selalu menjadi tong sampah semua unek-unek Jiyeon dan ia tidak keberatan sedikitpun. Jiyeon juga merasa Eunhyuk adalah seorang pendengar yang baik.
“Eunhyuk Oppa,.. Apa ada seseorang yang kau sukai?”

Eunhyuk terkejut dengan pertanyaan itu. “Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?” Eunhyuk heran. Jiyeon menatapnya dengan pandangan serius.

To be continued…

No Other (Part 1)

Tittle : No Other Part 1
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : School life, friendship

Main Cast :

  • Lee Jiyeon
  • Cho Kyuhyun

Support Cast :

  • *find by yourself*

Meskipun baru diposting sekarang, tapi gini-gini ini FF aku yang paling awal loh.. *gak nanya*. FF ini udah lama diem di dalem lappy. nah, daripada terus nganggur di sana, lebih baik aku posting aja. Bener gakkk…

Karena FF lama, makanya maaf kalau ada typo, atau bahasa yang dipakai terlalu kamseupay gitu..
Happy reading ^_^

No Other by DhaKhanzaki

———–0.0————-

Part 1

Telaaaat!!!!

Jiyeon baru sadar kalau dirinya terlambat pergi ke sekolah ketika melihat jam Mickey Mousenya menunjukkan pukul 7.00.
“Jiyeon sarapan!!” teriak eomma dari lantai 1 dan itu membuatnya semakin panik. Dengan cepat ia memasukkan semua buku pelajaran hari itu dan sebuah CD yang di minta Siwon, oppanya.
“CD ini, jangan sampai lupa di bawa. Bisa di gorok Oppa kalo aku sampai lupa” batin Jiyeon. Setelah selesai ia bergegas turun ke lantai 1 menuju ruang makan. Di sana sudah duduk Appanya tercinta, Sungmin, Eommanya yang sedang sibuk menata makanan dan Eunhyuk.

“Kenapa kamu berdiri disitu? Ayo duduk!” ucap Appa. Jiyeon menggaruk kepalanya kemudian duduk di sebelah Sungmin.
“Anu, aku jadi malu. Harusnya aku bantu Eomma menyiapkan sarapan. Eomma, mian aku bangun kesiangan” sesal Jiyeon.
“tidak apa-apa. Eomma dibantu Eunhyuk pagi ini”

Jiyeon melirik pada Eunhyuk dengan tatapan penuh penyesalan dan Eunhyuk hanya tersenyum manis.
“ah, kalau aku sih sudah maklum dengan kebiasaanmu itu. Pasti semalam pun kamu memimpikan Heechul lagi kan?!” ledek Sungmin sambil memakan roti.
“Oppa!!” bentak Jiyeon kaget. Yang lainnya ikut kaget juga.
“Kenapa? Tadi waktu aku akan membangunkanmu, kamu mengigau seperti ni: ‘Chullppa, kamu memang pangeran berkuda putihku yang sangat tampan.’. Dan suaramu sangat keras.—umph!” Jiyeon lekas menutup mulut Sungmin sebelum dia berkoar-koar hal yang memalukan. Yang lain hanya melongo melihat tingkah Jiyeon.

“hoo.. Siapa itu Heechul?” tanya Eomma penasaran dengan nada meledek.
“Anii! Bukan siapa-siapa! Oppa, kau ini pagi-pagi sudah melantur” Jiyeon makin panik. Sungmin melepaskan tangan Jiyeon dari mulutnya.
“Ya! benar atau tidak yang pasti kamu menyebut namanya” oceh sungmin.
“Jiyeon, siapa Heechul?!” ini yang bertanya Appa. Suaranya terdengar mrah. Appa memang tidak suka mendengar putri semata wayangnya itu dekat dengan pria manapun. Karena Jiyeon baru kelas 1 SMA. Jiyeon harus mengutamakan pendidikannya dulu di bandingkan urusan cinta.

“Bukan siapa-siapa, Appa. Hanya teman…” Jiyeon tidak melanjutkan kalimatnya.
“teman..?” tanya Appa makin curiga.
“Dia temanku dan Sungmin Hyung di sekolah” jawab Eunhyuk menengahi. Jiyeon menghela napas lega. Dengan wajah berbinar-binar dia tersenyum pada Eunhyuk.
“Gomawo Oppa” ucap Jiyeon dalam hati. Appa mengangguk percaya saja. Jiyeon semakin lega. Kini dia sebal sekali pada Sungmin. Dia menoleh pada oppanya itu dengan tatapan marah. Sungmin segera mengalihkan perhatiannya pada jam tangannya.

“Aish, sudah jam segini. Eunhyuk, ayo kita berangkat!” sungmin meraih tasnya lalusegera pergi diikuti eunhyuk. Didepan rumah, jiyeon mencegah sungmin yang akan menaiki motornya.

“Oppa kau ini tega sekali. Kau tahu kan Appa sangat sensitif soal ‘pacar’. Kau ingin aku diberangus oleh Appa” ucap Jiyeon dengan menekankan kata ‘pacar’.
“Kamu berlebihan. Appa tidak sekejam itu” ucap Eunhyuk.
“Tapi kan tetap saja” Jiyeon menautkan kedua jari telunjuknya tanda kalau dia gusar.
Eunhyuk mengusap-usap kepala Jiyeon dengan lembut.
“Tenang. All is well. Ok”
“Emm!” Jiyeon mengangguk cepat. Perasaan Jiyeon langsung tenang jika Oppanya yang satu ini mengelus kepalanya.

“Ok, sampai bertemu di sekolah, dongsaengku sayang. Ayo Hyuk, naik” Sungmin menyuruh Eunhyuk naik motor dibelakangnya.
“Loh Hyung, Jiyeon bagaimana?”
“Biarkan. Bukannya dia bisa bawa motor sendiri.” Ujar Sungmin. Eunhyuk menurut saja. Jiyeon terperangah sendiri.

“Oppa!!” Jiyeon berteriak ketika motor yang dibawa Sungmin melaju pergi.
“Oppa jahat!!” lirihnya menahan tangis. Tapi tidak jadi karena dia melirik jam tangannya.
“aigoo!! sudah jam segini!!” ia bergegas pergi.

__o0o__

*disebuah rumah mewah*

Kyuhyun bersama sepupunya yang dari luar negeri, Hankyung sedang berjalan menuju mobil yang terparkir di depan rumah.

Rumah itu besar sekali. Beberapa pelayan memberi salam ketika dia lewat. Kyuhyun memang tidak membalasnya, tapi pelayan-pelayan itu tersenyum puas melihat majikannya yang super keren.

Seorang pelayan pria datang menghampiri Kyuhyun untuk menyerahkan sebuah surat undangan.
“Apa ini?” tanya Kyuhyun bingung.

“Itu surat undangan untuk pesta minggu depan Tuan”
“Pesta?” tanya Kyuhyun bingung
“Pesta apa?” Hankyung ikut penasaran.
“Ah, hanya pesta biasa. Tidak begitu penting.” Kyuhyun melengos pergi begitu melihatnya sekilas.
“Loh kenapa? Memangnya kamu tidak akan datang?”
“Tidak!” jawab Kyuhyun tegas sambil membuka pintu mobil. Hankyung beralih membuka pintu yang satunya.
“Kenapa? itu pesta kawan. Pasti menyenangkan” Hankyung duduk di kursi kemudi.
“Percaya padaku, itu pesta biasa antar perusahaan dan sangat-sangat membosankan” ucap Kyuhyun sambil mengenakan sabuk pengaman.
“benarkah! Tapi aku ingin tetap datang.” Hankyung mulai menstarter mobil Pagani Zonda milik Kyuhyun itu.
“Kalau begitu datang saja.”
“Boleh?”
“hei, kau kan anggota keluarga juga”
“Ah kau benar”

mobil mulai melaju. Ditengah perjalanan Kyuhyun mlamun sementara Hankyung sibuk mnyetir mobil.

__o0o__

*di jalan*
Ponsel Jiyeon berdering. Terpaksa Jiyeon menghentikan motor sejenak.
“Hallo…” ucapnya pelan.
“APANYA YANG HALLO BODOH!!” suara teriakan langsung menerjang telinganya begitu Jiyeon menjawab. Jiyeon menjauhkan ponselnya sejenak. Tanpa menyakan identitas pun Jiyeon tahu yang membentaknya adalah Siwon.
“Sekarang jam berapa, hah!! Kenapa masih belum datang juga?! Kamu kira aku ini pengangguran? Setiap detik waktuku satu juta kali lebih berharga dari waktumu!” Siwon terdengar sangat marah. Suaranya menggelegar seperti petir di siang bolong. Jiyeon menganggukkan kepalanya berkali-kali walaupun Siwon tidak mungkin melihatnya.
“Araseo, mianhae. Aku sedang perjalanan ke sekolah. Jika ingin aku cepat sampai, tutup ponselnya segera!”
“Cepat kemari atau aku tidak akan mengakuimu sebagai dongsaeng lagi!”
“Oke! Tunggu aku di gerbang Oppa, aku ngebut sekarang!”

__o0o__

*di sekolah*

Yoona menunggu Jiyeon harap-harap cemas di depan gerbang.
“Anak itu kemana! 10 menit lagi gerbang akan ditutup!” Yoona mondar mandir gelisah.
“Kamu kenapa?” tanya Donghae dari kaca mobilnya. Yoona mendekat.
“Jiyeon belum sampai. Kamu lihat dia di jalan?”

“Tidak.” Donghae kemudian turun dari mobilnya. Sementara mobilnya itu melaju meninggalkan gerbang sekolah.
“Kenapa kau turun?” tanya Yoona bingung.
“Untuk menemanimu”
“What?!” Yoona kaget. Donghae buru-buru meralat.
“Maksudku, menemanimu menunggu Jiyeon. Ah, kemana anak itu, kenapa lama sekali..” Donghae mengalihkan pandangannya ke arah luar gerbang, pura-pura ikut mencemaskan Jiyeon juga. Ia jadi sedikit salah tingkah.

“Kalian mengapa mengumpul disini? Ah, aku tebak. Jiyeon datang terlambat lagi kan?” tebak Ryeowook yang mendadak muncul.
“Iya” ucap Yoona. Ia bersedekap jengkel “Dasar! Anak itu bikin cemas orang saja”
Ryeowook memiringkan kepalanya, ia merasa heran. “Aneh, tadi kulihat Sungmin Hyung dan Eunhyuk Hyung sudah datang”
Yoona mengerjap mendengarnya. “Jinjja!! Terus bagaimana Jiyeon?” wajahnya mendadak memucat.

Tiba-tiba terdengar suara cewek-cewek menjerit histeris. Yoona, Ryeowook dan Donghae serentak menoleh ke arah asal keributan. Rupanya disana ada Siwon, sang bintang di sekolah itu bersama temannya Kangin.

“Mana anak itu! Sebentar lagi gerbang akan ditutup” Siwon bergantian melihat kedepan dan ke jam tangannya. Kangin hanya mengangkat bahu.

Oh iya, sekolah tempat mereka belajar itu merupakan sekolah seni yang sangat terkenal bernama Kirin Art School. Bintang-bintang baru banyak dihasilkan sekolah tu. Salah satunya Siwon dan Yesung.
“Dia benar-benar sudah mempermainkanku! Bisa-bisanya aku membuang waktuku yang berharga demi menunggu hal tidak berguna”
“Tapi tanpa dia, kau tidak bisa tampil hari ini. Dia membawa rekaman lagu barumu kan” ucap Kangin sambil memainkan ponselnya.
“Tentu saja! Aku akan memastikannya, ah sial!” umpat Siwon
“Kenapa?” Kangin kaget.
“Ponselku mati. Pinjami aku ponselmu” paksa Siwon penuh emosi. Kangin menyerahkan ponselnya. Siwon segera menelpon Jiyeon namun tidak ada jawaban.
“Kenapa ponselnya dimatikan!” Siwon melirik Kangin dengan pandangan menyala-nyala kesal. Sahabatnya itu tenang-tenang saja, malah tertawa.
“Di saat seperti ini kamu masih bisa tertawa?” Siwon bertolak pinggang. Sikap angkuhnya mulai bangkit.
“Tenang. Semuanya bisa aman terkendali.” Kangin menenangkan dengan menepuk pundaknya.

“Lihat, Siwon Hyung kelihatannya panik” ujar Ryeowook yang menyaksikan mereka dari jauh.
“Pasti lagi nungguin orang juga” jawab Donghae.
“Siapa?” tanya Yoona penasaran. Donghae dan Ryeowook saling pandang karena tidak tahu jawabannya.
“Biar aku tanya.” Donghae hendak pergi tapi Ryeowook menahannya.
“Jangan. Buat apa. Memang dia mengenalmu?”
Donghae langsung diam. Benar juga sih. Siwon tidak mungkin mengenal murid biasa sepertinya.
“Paling dia cuma mau minta tanda tangan aja. Dia kan fansnya” ledek Yoona.
“Kalian!!” teriak Donghae jengkel.

__o0o__

Jiyeon memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Sehingga ia tidak begitu memperhatikan mobil-mobil lain yang berlalu lalang di sekitarnya hingga tiba-tiba ada mobil yang melintas di depanya.
Jiyeon cepat mengerem namun terlambat, motornya menabrak mobil itu dan ia jatuh dari motornya. Kecelakaan pun tidak dapat terhindarkan.

Braaakkk!!!

“Aduh!” erang Jiyeon menahan sakit di kakinya yang terkilir saat jatuh tadi.

Hankyung dan Kyuhyun terdiam saling pandang setelah mobil yang mereka kendarai menabrak motor. Hankyung segera keluar mobil diikuti Kyuhyun. Kyuhyun melihat seorang yeoja terduduk di aspal. Dia memakai seragam sekolah yang sama dengannya.
“Naneun gwaenchana?” tanya Kyuhyun hati-hati.
“Gimana bisa tidak apa-apa! Aku jatuh dan motorku rusak! Kamu tahu rasanya? Sakit sekali, aduuh” Jiyeon meringis sambil memegang kakinya.

Hankyung segera menghampiri Jiyeon.
“Mianhae. Ini semua salahku.” Hankyung membantu Jiyeon berdiri sementara Kyuhyun terus melihat jamnya. Tak ada segurat rasa bersalah sedikitpun di wajah dinginnya.
“Han, kita sudah terlambat sekolah. Ayo pergi” ia tampak tidak sabar.

Apa? Jiyeon pun melirik jamnya. Matanya terbelalak. Jam masuk sekolah sudah hampir tiba! Tidak! Dia juga sudah terlambat!
“kamu ini, Kita harus bertanggung jawab. Yeoja ini terluka dan motornya rusak.” Hankyung menatap Kyuhyun berharap namja itu mengerti kondisi sedikit saja.
“Aish, menyebalkan!” Kyuhyun dengan hati jengkel menelpon rumah sakit dan bengkel.
“Semuanya sudah kuurus. Han, ayo pergi.” Kyuhyun bergerak menuju mobilnya. Hankyung menurut, ia mengikuti Kyuhyun meskipun sebenarnya ia tidak tega meninggalkan yeoja itu sendirian. Apalagi saat kondisinya seperti itu.

Apa?? Etiket macam apa itu? Tidak sopan sekali! Jiyeon jengkel sekali dengan sikap namja menyebalkan itu. Ia lantas berteriak.
“Ya!! Kalian ingin seenaknya pergi meninggalkanku sendiri? Dasar namja tidak berperasaan!”
Kyuhyun berhenti berjalan mendengar bentakan yeoja yang tak dikenalnya itu. Ia lantas berbalik dengan kening berkerut kesal.
“Mwo?!” Ia tidak terima. Kyuhyun berkacak pinggang.
“Hei, tunggu saja. Sebentar lagi akan ada petugas rumah sakit datang dan motormu itu akan
kami betulkan di bengkel” Jiyeon mencoba bangkit dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya an dengan langkah diseret-seret dia mendekati Kyuhyun. Berdiri tepat di hadapannya.
“Ini bukan soal ganti rugi ok, aku hanya minta pertanggung jawaban dari kalian. Setidaknya temani aku sampai semuanya selesai. Kalian ingin kabur dari masalah?!”

“Kau!!” kyuhyun menggeram sambil telunjuknya ia arahkan tepat ke depan wajah Jiyeon. Ah, bisa terjadi perang sipil jika tidak segera dicegah.
“Hei hei” Hankyung menengahi mereka. “dia benar. Kita memang harus bertanggung jawab” ujar Hankyung. Kyuhyun melayangkan death glarenya pada Hankyung. Ia tidak suka dengan gagasan itu.
“Han, kau malah membela yeoja gak jelas ini?” tuduhnya. Tangannya tetap menunjuk Jiyeon.
“Heh, siapa yang kau panggil yeoja gak jelas? Dasar namja tengil!” ucap Jiyeon seraya menepis tangan Kyuhyun.
“Kau cari mati!!” namja itu kini memelototinya.
“hei hei!” lagi-lagi Hankyung harus menengahi. Akhirnya Kyuhyun memilih menyerah dari perseteruan ini. Ia kembali melirik jam tangannya.
“Waktu kita sudah habis. Kita terlambat sekarang” ujar kyuhyun mendesah kesal. ia orang yang ontime. Sangat benci dengan kata ‘terlambat’.

Suasana sempat hening.

“Ah!” pekik Jiyeon tiba-tiba. Jiyeon kelimpungan mencari ponselnya yang jatuh entah dimana. Ia harus menelpon seseorang.

Kyuhyun melihat ponsel tergeletak dekat mobil. Lantas ia mengambilnya.
“Ini milikmu?” Kyuhyun mengulurkan ponsel ke hadapan Jiyeon.
Gadis itu menoleh. “Ah benar!” ia segera merebutnya. Sayang ponselnya tidak bisa menyala lagi karena tadi berbenturan dengan aspal menyebabkan layarnya retak..
“Haa! Bagaimana ini! Aku harus mengabari oppaku” lirih Jiyeon panik. Dia langsung melirik pada Kyuhyun.
“Apa?!” tanya Kyuhyun heran. Ia merasa ada yang tak beres dengan tatapan Jiyeon.

“Pinjam ponselmu sebentar!” paksanya. Kyuhyun mengerjapkan mata.
“Tidak mau!” tegas Kyuhyun.
“Pinjam cepat!” Jiyeon tetap memaksa. Kyuhyun mendengus jengkel. Yeoja ini benar-benar selalu mencari masalah.
“Kau ini!” pada akhirnya-dengan kesal Kyuhyun menyerahkan ponselnya. Jiyeon mengambilnya dengan wajah sumringah. Tanpa menunggu, Jiyeon segera menghubungi Siwon. Tapi, tidak dijawab. Jiyeon makin panik. Jangan-jangan Siwon marah dan membanting ponsel sampai mati. Waduuh….

—-0.0—-

*di rumah sakit*
“Kau harus istirahat. Jangan melakukan gerakan-gerakan berlebihan selama 2 minggu”
ucap dokter yang bernama Shindong itu begitu selesai membalut kaki Jiyeon dengan perban. Pernyataan yang dilontarkan dokter itu bagaikan petir yang menyambar tepat di dekat telinga Jiyeon.
“APA?! Tapi dokter, minggu depan aku ada tes menari” pekik Jiyeon. Kyuhyun dan Hankyung yang ada disana sampai kaget lalu menoleh. Dokter Shindong adalah dokter keluarga Kyuhyun.
“Sayang sekali kalau begitu” jawab dokter singkat sambil tersenyum ramah. Kyuhyun menyunggingkan senyum evilnya melihat wajah Jiyeon memelas.
“Jadi dok, tidak ada yang terlalu serius kan?” tanya Hankyung.

Dokter Shindong menggeleng. “Tidak ada. Hanya terkilir. Yang lainnya baik-baik saja”
“Kau dengar itu cewek tengil? Hanya terkilir.” ulang kyuhyun penuh penekanan pada tiap kata yang di ucapkannya. Jiyeon melayangkan tatapan sinisnya pada Kyuhyun.
“Ara! Aku denger kok” balas Jiyeon jengkel.

Ah, Jiyeon ingat. Dia harus segera menghubungi seseorang.

__o0o__

“Siapa dia? Teman sekolahmu?” tanya dokter Shindong pada Kyuhyun dan Hankyung karena Jiyeon memakai seragam yang sama.
“Ya begitulah. Tapi aku tidak mengenalnya” jawab kyuhyun acuh tak acuh. Dokter Shin mendadak teringat sesuatu.
“Ngomong-ngomong, minggu ini jadwalmu melakukan pemeriksaan rutin. Kamu harus meluangkan waktu. Jika tidak maka orangtuamu akan mengeluh padaku”
Kyuhyun malas sekali jika mendengar ia harus kembali melakukan medical check up seperti biasanya. Uh,… ia sehat koo.. kenapa harus diperiksa secara rutin segala sih? Orang tuanya terlalu cemas berlebihan.
“Ya,ya. Aku tahu” ucap Kyuhyun malas. Setelah dokter pergi, mereka kembali ke kamar Jiyeon.

__o0o__

*di sekolah*
Yoona cemas karena Jiyeon akhirnya tidak datang juga. Sudah ia hubungi tapi ponselnya tidak aktif.
“Ah! Aku harus bertanya pada Sungmin Oppa!” Yoona bergegas keluar dari kelas, dalam perjalanan menuju kelas Sungmin, tanpa sengaja ia melihat Ryeowook sedang bersama Heechul, hyungntya. Mereka seperti sedang serius membahas sesuatu. Mendadak Yoona tertarik untuk mengetahui apa yang mereka bicarakan.

“kemana Kyuhyun! Dia harusnya menyerahkan partitur musik hari ini, dia ingin band kita tidak bisa latihan?!” Heechul tampak jengkel. Ia meninju pelan tembok di sampingnya.
“hari ini dia tidak masuk Hyung. Mungkin dia sakit” jawab Ryeowook. Kebetulan mereka sekelas.

Kyuhyun sakit? Pikir Yoona heran. Anak orang kaya raya itu bisa sakit juga. Karena ia terlalu cemas pada Jiyeon, Yoona langsung berlari menuju kelas Sungmin. Tanpa sengaja, Sungmin justru menabraknya hingga terjatuh. Yoona sedikit tersipu malu ketika tahu di hadapannya ada Sungmin.
“Mian, aku tidak sengaja” ucap Sungmin sambil membantu Yoona bangun. Yoona masih juga tersipu namun sedetik kemudian ia teringat pada tujuannya menemui Sungmin.
“Oppa kebetulan sekali.. Jiyeon..”
Mendengar kata Jiyeon disebut, Sungmin juga terkesiap. Ia segera memotong ucapan Yoona. Raut kepanikan jelas terlihat di wajah aegyeonya.
“Maaf Yoona, aku sedang buru-buru. Jiyeon kecelakaan” Sungmin tampak sangat panik.
“Ne?!!” Yoona pun memekik kaget.
“aku harus segera ke rumah sakit”
“oppa aku ikut”

To be continued…