Shady Girl (Part 15)

Tittle : Shady Girl Part 15
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Married Life

Main Cast :

  • Lee Haebin / Park Haebin
  • Lee Donghae

Support Cast :

  • Leeteuk
  • Kim Kibum

Maaf kalau ada typo atau semacamnya *bow*. FF ini hasil dari pemikiranku sendiri. jadi jangan diplagiat ya.. ^^

Shady Girl by Dha Khanzaki

———–0.0.———–

Part 15…

 

“Ah, tentu saja aku tahu. Maaf sudah bertanya hal seperti ini.” Ucap Mi Ra

“Kau tidak pergi bekerja?” tanya Haebin mengalihkan pembicaraan.

“Hari ini aku libur. Maka dari itu aku berjalan-jalan sebentar. Tak tahunya bertemu kamu di sini.”

“Aku senang bertemu denganmu lagi. Apa aku bisa mengunjungimu lain waktu?”

“Tentu saja. Aku akan menyambutmu secara spesial.” Seru Mi Ra. “jangan lupa ajak suamimu juga jika kau datang ke klub ataupun ke rumahku.”

“Ajak Suamiku?”

“Iya.”

Haebin terdiam. Ia bahkan tidak memikirkan untuk kembali ke rumah itu.

 

“Ayo pulang.”

Eh, sepertinya ia mendengar suara Donghae. Walau ragu, Haebin mengangkat kepalanya. jantungnya langsung berdebar kencang kala melihat Donghae berdiri di hadapannya.

“Aku masih ingin di sini.” Elak Haebin. Mi Ra tersenyum sambil menundukkan kepalanya pada Donghae.

“Wah, kau sudah dijemput suamimu. Kalau begitu aku pamit yah..” Mi Ra lalu pergi. Setelah itu, perhatian Donghae sepenuhnya tertuju pada Haebin yang tetap menunduk. Ia enggan menatap donghae.

“Kenapa? Kau suka diam di tempat terbuka seperti ini? Ayo pulang” ucapnya dengan pandangan datar.

Haebin memalingkan pandangannya. “Biarkan saja. Lagipula siapa yang peduli padaku. Tidak ada. Aku tidak ingin pulang ke rumah itu lagi.”

“Mwo?” Donghae tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

“Jangan berulah, cepat pulang denganku.” Donghae menarik tangan Haebin hingga gadis itu terpaksa berdiri namun dengan cepat pula Haebin melepaskannya.

“Oppa, berhenti menyakitiku seperti ini. Kumohon..” pinta Haebin dengan nada memohon. Tampak dengan jelas hatinya yang terluka itu dalam ekspresinya. Haebin membalikkan badannya hendak pergi.

“kajima..” ujar Donghae dengan suara tinggi. Langkah Haebin terhenti seketika. Bukan karena ucapan Donghae itu. Namun karena saat ini Donghae tengah memeluknya dari belakang.

Omona.. jantungnya.. kenapa berdebar kencang lagi.. tidak.. haruskah tubuhnya kembali lumpuh setiap kali merasakan sentuhan Donghae?

“kajima..” ulangnya sekali lagi, kini dengan suara rendah. Tepat ditelinganya. Haebin semakin merasa dirinya sudah tidak sanggup berdiri lagi. Namun dekapan Donghae di pinggangnya membuatnya mampu bertahan.

 

Perlahan airmata Haebin menetes kembali.

“Kenapa Oppa melakukan ini padaku..” ia mulai terisak lagi.

“Harusnya sekarang Oppa membiarkanku pergi. Seperti keinginanmu sebelumnya..”

Donghae tidak menjawab, dan ia malah semakin mengeratkan pelukannya. Terasa di tengkuknya napas Donghae yang berhembus, terasa hangat menjalari kulit lehernya.

“Pulanglah bersamaku, Haebin-ah.” Akhirnya Donghae bersuara juga. Dari caranya mengucapkan, terdengar begitu meyakinkan.

“Kau boleh marah padaku. Tapi jangan pergi dariku dengan cara seperti ini.”

Haebin mengerjapkan matanya lagi. Apa yang tadi dia dengar? Donghae memintanya untuk jangan pergi? Apakah mungkin dia sudah mulai membalas perasaannya?

“Baiklah, aku akan pulang..” pada akhirnya, Haebin kembali takhluk hanya dengan beberapa patah kalimat dari Donghae. Lagipula, ada yang ingin ia tanyakan pada Tuan Lee setibanya di rumah nanti.

 

—-o0o—

 

Sesuai tujuannya pulang, malam itu Haebin menemui Tuan Lee di ruang kerjanya. Donghae mengantarkan Haebin hingga ke depan ruang kerja Ayahnya itu.

“Ada apa haebin?” tanya Tuan Lee seramah biasanya. Haebin mendekat hingga ke depan meja Tuan Lee.

“Ada yang ingin kutanyakan. Ini soal rumahku yang dulu.”

“Oh, ada apa dengan itu?”

“Saat aku melihatnya hari ini, kenapa di depan rumahku ada tanda ‘disita’? bukankah Appa sudah berjanji untuk melunasi semua hutangku? Lalu kenapa pada akhirnya rumahku juga di sita?” cecar haebin dengan nada tidak sabar.

“Ah, itu.. aku memang sudah melunasi semua hutangmu, haebin. tapi aku tidak menjamin rumahmu tidak di sita kan? Lagipula rumah itu sudah lama. Aku bisa memberikanmu rumah yang lebih mewah dari itu. Kau mau yang di mana? Di Seoul? Di pulau jeju? Atau kau ingin villa yang di Jepang? Semuanya bisa kuberikan.” Tawarnya.

“Mwo?” pekik Haebin menahan amarahnya. “Semudah itu kah? Ini bukan masalah rumah lama atau bukan. Tapi ini soal kenanganku bersama keluargaku di rumah itu. Apa kau tidak mengerti betapa berharganya rumah itu bagiku? Bahkan lebih berharga dari rumahmu yang luas dan besar ini.” Jelas Haebin dengan emosi tertahan. Setidaknya ia masih bisa menahan diri agar tidak berteriak dan membentak Tuan Lee. Rasa kesal itu perlahan berubah kembali menjadi rasa pedih yang menyesakkan hati. Donghae yang saat ini berada di belakang Haebin pun terperangah mendengarnya. Apalagi Tuan Lee yang melihatnya secara langsung.

“Tapi.. kenapa kau membiarkan rumahku di sita.. itu..satu-satunya harta milikku sekarang..” lirihnya..

 

Pikirannya sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Haebin ingin pergi dari rumah ini sekarang juga. Ia tidak ingin melihat semua orang di rumah ini untuk sementara waktu. Namun ketika membalikkan badannya, Haebin merasa kepalanya mendadak sakit, seperti ada seseorang yang menimpa kepalanya dengan batu berukuran besar. bahkan  pandangannya pun perlahan menjadi gelap.

Donghae melihat Haebin terhuyung di hadapannya. Oh, tidak. Sepertinya gadis itu akan segera pingsan.

“Haebin, gwaenchana..” Donghae cepat-cepat menyongsong tubuh Haebin yang akan terjatuh. Dan benar saja, tak lama gadis itu pingsan tepat di pelukannya.

“Haebin..!!” teriak Tuan Lee. Ia segera bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Haebin yang tak sadarkan diri dalam dekapan Donghae.

“Haebin.. Haebin.. kau kenapa??” cecar Donghae panik sambil menepuk-nepuk pipinya. Namun gadis itu tetap menutup matanya. Perasaan panik itu semakin memuncak saat ia melihat wajah pucat Haebin. tubuhnya begitu dingin dan denyut nadinya melemah.

“Leeteuk.. cepat panggil ambulans!!!” teriak Tuan Lee panik.

Tidak ada waktu untuk menunggu ambulans! Jika tidak cepat Haebin akan…

Tanpa pikir panjang Donghae segera mengangkat tubuh Haebin dan melarikannya ke rumah sakit.

 

@Seoul General Hospital

 

Kim Kibum baru keluar dari ruang periksa Haebin. donghae, Tuan Lee dan Leeteuk segera menghampirinya dengan tatapan cemas.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Donghae buru-buru

Kibum menghela napas. “Dia kelelahan. Beban pikiran yang terlalu banyak dan tekanan mental membuat daya tahannya menurun drastis. Bisa dibilang, ini stress tahap awal.” Jelasnya. Wajah Donghae dan orang-orang di sekitarnya memucat.

“tapi, dia baik-baik saja kan? Tidak ada hal serius yang terjadi?” tanya Tuan Lee. Kibum mengangguk.

“Tenang saja, Ahjussi. Aku sudah menyuntikkannya obat khusus. Dia hanya perlu istirahat. Dan jika dia siuman nanti, tolong jangan biarkan dia berpikir tentang hal-hal yang membuatnya stress dulu.”

“Araseo. Gomawo.”

Kibum menahan tangan Donghae yang ingin masuk ke ruangan itu. “Ada yang ingin aku bicarakan.” Ucap Kibum menjawab tatapan heran Donghae. “Ikut denganku ke ruanganku.”

 

“Apa?” Donghae memekik tak percaya mendengar apa yang baru saja di ucapkan Kibum padanya. “Kau bilang tadi pagi dia kemari? Jadi dia sedang sakit hari ini?”

Kibum mengangguk. “Apakah dia tidak meminum obat yang kuberikan?”

Donghae menggeleng. “Aku tidak tahu. Tapi, apakah dia menderita suatu penyakit?”

“Secara jasmani tidak. Tapi secara kejiwaan, ya. Dia menderita penyakit mematikan.”

“Maksudmu?” Donghae tidak mengerti sama sekali dengan yang diucapkan Kibum.

Kibum menghela napasnya. “Dia sehat secara jasmani. Tidak ada penyakit serius dalam dirinya. Tapi, kau tahu, hatinya sangat terluka.”

Donghae mengerutkan kening. Ia masih tidak mengerti juga.

“Donghae, kau tahu kenapa ada seseorang yang mengidap penyakit mematikan bisa sembuh? Selain karena takdir Tuhan, juga karena dukungan dan perhatian dari orang-orang yang disayanginya. Dan kenapa ada orang dari luar tampak baik-baik saja bisa tiba-tiba meninggal? Itu karena dia menderita tekanan batin yang begitu kuat dalam dirinya.”

“Jadi?” tanya Donghae belum paham juga.

“Artinya, kau harus lebih memperhatikannya. Jika kau tidak ingin cepat-cepat kehilangannya. Seseorang yang menderita tekanan mental memiliki kemungkinan hidup lebih kecil dibandingkan yang tidak”

“Maksudmu, dia sangat tertekan saat ini?”

Kibum mengangguk tegas. “siang tadi saat dia memeriksakan diri kemari, aku melihat wajahnya begitu pucat. Itu bukan pucat karena sakit. Tapi karena terlalu banyak beban pikiran yang ditanggungnya. Jadi aku harap mulai sekarang kau harus lebih memperhatikannya.”

 

Setelah itu, Donghae terus didera dilema berkepanjangan*maksud lo thor??* ia masuk ke ruang rawat Haebin dengan perasaan bersalah. Ketika menatap wajah Haebin yang tertidur pun, hatinya begitu sakit dan pedih.

“Mianhae.. karena aku kau jadi seperti ini..” Donghae menggenggam erat tangan Haebin.

“Emh.. Umma..” Eh, Donghae mendongkakkan kepalanya menatap wajah Haebin. hatinya hampir melonjak kegirangan. Ia kira Haebin sudah siuman ternyata gadis itu hanya mengigau.

Wajahnya tampak gelisah dan butir-butir keringat kecil mulai mengalir di pelipisnya.

“Kau kenapa Haebin?” tanyanya cemas. Ia menyeka keringat di dahi Haebin dengan lembut.

Tak lama Haebin kembali tenang. Bahkan terlalu tenang.

 

Matahari sudah terbit di ufuk timur. Donghae pun terbangun. Semalam ia tertidur saat menjaga haebin. ya ampun, ia bahkan melupakan semua tugas kantornya. Ini bertentangan dengan sifatnya yang workaholic.

Perhatiannya kembali pada Haebin yang belum siuman juga. Melihat keadaannya seperti itu, ia harus melupakan niatnya bekerja hari ini.

 

Tok tok..

 

Leeteuk masuk membawakan makanan untuk Donghae.

“Kau pasti belum makan kan. Aku membawakan sarapan untukmu.” Leeteuk meletakkan sekotak makanan di atas meja di samping tempat tidur Haebin.

“Aku tidak lapar Hyung. Tapi terimakasih sudah mempedulikanku.” Ucap Donghae lemah. Yang sekarang ia khawatirkan hanya kesadaran Haebin. bahkan ia berharap sekarang ia bisa memakan masakan yang dibuat Haebin seperti hari-hari sebelumnya. Kenapa baru sekarang ia menyadari betapa ia merindukan gadis ini. Gadis yang sekarang sedang tidur terlelap ini.

“Jangan begitu. Haebin tidak akan suka kau kelaparan.” Ucap Leeteuk sambil memegang bahunya.

“Baiklah..” Donghae menyerah juga. Ia teringat perkataan Haebin tentang badannya yang terlalu kurus karena jarang makan.

“Apa kau akan bekerja hari ini?” tanya Leeteuk ketika Donghae selesai makan.

“Tidak. Sepertinya aku akan cuti hari ini.”

Leeteuk tersenyum. “Bagus. Serahkan tugas kantor padaku.” Ia sekarang bersiap-siap untuk pergi lagi.

“Hyung.” Cegah Donghae. Leeteuk membalikkan badannya.

“Ada apa?”

“Soal rumah Haebin, apa kau tahu kenapa itu di sita? Bukankah selama ini kau selalu bersama dengan Appa.”

Leeteuk menggeleng. “Tentang Haebin, Tuan menangani semuanya seorang diri. Aku tidak dilibatkan sama sekali.” Ucapnya. “Jadi maaf, aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu.”

Donghae mengangguk. “Tidak apa-apa. Akan aku cari tahu sendiri.”

 

Leeteuk tersenyum lagi. Ia senang melihat Donghae yang mulai mau memperhatikan orang lain. Mungkin ini pengaruh Haebin juga.

“Baiklah.”

“Rumah itu.. begitu penting baginya.” Ucap Donghae kembali menghentikan langkah Leeteuk yang akan keluar kamar rawat itu.

“Karena rumah itu, Haebin jadi seperti ini.” Tambahnya.

“Kalau begitu, dapatkan kembali rumah itu, demi dia..” jawab Leeteuk. Ia lalu pergi.

 

Donghae membenarkan selimut yang menutupi tubuh Haebin. hari ini. Ia benar-benar memutuskan untuk ambil cuti hingga Haebin keluar dari rumah sakit. Saat ia akan mengambil air untuk minum, ia mendengar Haebin kembali mengigau. Secepat mungkin ia menghampirinya.

“Haebin.. kau tidak apa-apa?”

Perlahan dengan pasti, mata Haebin terbuka. Betapa gembiranya Donghae melihat Haebin sudah tersadar. Ia tersenyum, benar-benar senyum dari hati. Untuk pertama kalinya setelah meninggalnya So Yeon beberapa tahun lalu.

“Haebin, kau sudah siuman?”

Haebin masih mengerjapkan matanya. Ia sedang menyesuaikan penglihatannya dengan keadaan ruangan yang terang benderang. Pandangannya kini teralih pada Donghae yang ada di sampingnya.

“Oppa..” ucapnya dengann suara serak.

“Ne. Ini aku.” Ia segera memencet tombol merah untuk memanggil Dokter.

“Sebentar. Dokter akan datang untuk memeriksa keadaanmu.”

“Oppa.. di mana aku? Apa ini di rumah sakit?”

Donghae mengangguk. “Iya. Kau sudah berada di sini sejak semalam. Kau pingsan haebin”

“Benarkah?” Haebin berusaha untuk bangun. Donghae membantunya.

“Sebaiknya kau berbaring saja. Keadaanmu masih lemah.”

“Aku ingin pulang. Aku benci rumah sakit.” Ujar Haebin lemah.

“Tidak sebelum dokter memastikan keadaanmu baik-baik saja.”

 

@@@

 

Setelah diperiksa oleh Kibum, Donghae baru bisa tenang. Ia mengatakan Haebin baik-baik saja dan bisa pulang esok hari.

“Maaf sudah merepotkanmu.” Ujar Haebin. donghae menoleh. Ia melihat Haebin menunduk di tempat tidurnya.

“Tidak apa-apa” jawab Donghae dengan nada datar. Padahal dalam hati ia berdebar-debar. Ini aneh sekali. “Kau tidak perlu memikirkan apapun sekarang. Setelah keadaanmu lebih baik, kita bisa pulang.”

“Aku tidak mau pulang ke rumah itu.” Tegas Haebin. donghae menoleh. Ekspresi Haebin tidak bisa dijelaskan. Sepertinya gadis itu memang tidak mau pulang.

“Waeyo?”

“Aku.. tidak nyaman berada di sana.” Nada suaranya semakin berat. Ia menahan emosinya.

Haebin pun kembali merasakan sesak yang sama seperti saat berada di ruang kerja Tuan Lee. Ia memegang dadanya untuk mengurangi rasa sakit itu.

“Haebin, gwaenchana..” Donghae segera menghampirinya. Haebin tampak meringis kesakitan.

“Aku tidak apa-apa..” Haebin berusaha menahan sakitnya itu.

 

Donghae tidak sanggup melihat Haebin menderita lagi. Dengan segenap tenaga, ia memeluk Haebin lembut. Berharap dengan melakukan itu Haebin akan merasa lebih baik.

“Sudah” Donghae mengelus rambut Haebin yang tergerai.

Haebin terdiam beberapa saat. Kemudian tubuh Haebin dalam dekapannya bergetar. Ya Tuhan, jangan bilang Haebin akan menangis lagi. Benar saja, gadis itu terisak tak lama kemudian.

 

Sekarang, gadis itu menangis dalam dekapannya. Donghae bisa merasakan airmata Haebin yang dingin merembes menembus hingga menyentuh kulit bahunya. Hatinya ikut bergetar. Tangannya semakin intens mengelus kepala Haebin. menenangkannya.

Bagaimana ini? Ia tidak mau jika ia tetap bersikeras membawa Haebin ke rumah, gadis itu akan semakin tertekan. Ia harus menemukan jalan lain.

“Baiklah. Jika kau tidak mau pulang. Kita akan pulang ke rumah yang lain.”

Tangis Haebin berangsur berhenti. Ia melepaskan pelukan Donghae dan menatapnya.

“Rumah yang lain?”

Donghae mengangguk. “Rumahku. Bukan rumah Appa.” Jawabnya serius.

 

@@@

 

Esoknya, Donghae benar-benar tidak mengajaknya pulang ke sebuah rumah Tuan Lee yang besar itu. Melainkan ke sebuah rumah yang berada tak jauh dari kantornya.

“Ini rumahmu?” tanya Haebin mendongkak menatapi rumah di hadapannya.

“Iya. Rumah yang kubangun diam-diam.” Jawab Donghae sambil membuka pintu rumah itu. Ia mempersilakan Haebin masuk lebih dulu.

Haebin menatapi isi rumah itu dengan pandangan kagum. Yang bisa ia simpulkan dari penglihatannya itu hanyalah kata ‘indah’ dan ‘cantik’. Yah, interior rumah itu tampak begitu indah walaupun bergaya minimalis.

Perabotan rumah itu masih ditutupi oleh kain-kain putih agar tidak terkena debu. Tampak jelas kalau rumah ini sudah lama tidak ditempati.

“Sudah berapa lama rumah ini dikosongkan?” Haebin menyibakkan salah satu kain yang menutupi sofa di ruang tamu.

“2 tahun. Sejak So Yeon meninggal, rumah ini sudah kosong.” Jawab Donghae sambil memandangi besar yang ada di ruangan itu. Haebin menoleh.

“Apa mungkin, ini rumah yang kau bangun untuk dia?” tanya Haebin ragu-ragu. Dalam hati ia berharap Donghae akan menyangkalnya. Namun ternyata dia mengangguk.

“Ini rumah yang akan kami tempati setelah menikah. Tapi nyatanya, hal itu tidak akan pernah terwujud”

Ah, Haebin menyesal sudah bertanya. Daripada hatinya sakit, ia memilih untuk membereskan rumah itu. Bukankah mulai hari ini mereka akan tinggal di sana.

“Apa Appa tahu kita akan tinggal di sini?” Haebin menghampiri Donghae yang sedang membereskan buku-buku di ruang kerjanya.

“Iya. Aku sudah mengatakannya semalam. Dan dia setuju.” Jawab Donghae tanpa memandang Haebin. dia terlalu sibuk merapikan buku-buku ke dalam raknya.

“Araseo.” Haebin mengangguk.

 

Donghae menoleh, ia pikir Haebin akan tetap diam di belakangnya. Ternyata gadis itu sudah pergi. Mungkinkah gadis itu marah? Ia berhenti membereskan buku. Ia lalu pergi untuk melihat apa yang sedang dilakukan Haebin sekarang.

“Uhuk uhuk..” Haebin terbatuk-batuk saat hidungnya menghirup debu karena membersihkan bagian atas lemari yang ada di ruang tengah. Donghae memperhatikannya baik-baik. Semua gerakan Haebin, cara gadis itu berjalan, dan ekspresi yang dikeluarkannya. Semua terasa menarik sekarang. Setelah diamati baik-baik, ia baru menyadari ternyata gadis itu begitu mempesona.

Haebin tampak kesulitan saat akan membersihkan bagian sudut ruangan yang ada sarang laba-labanya. Ia menaiki kursi dan mencoba menggapai bagian sarang laba-laba itu dengan kemoceng. Donghae memperhatikannya, ia mendekat karena sepertinya Haebin kesulitan.

“Butuh bantuan?”

Pertanyaan tiba-tiba dari Donghae membuat Haebin terkejut setengah mati. Itu membuat kursi yang dijadikannya tumpuan goyah. Ah.. ia terhuyung dan akan jatuh.

“Kya..” Haebin menjerit ketakutan. Donghae yang panik refleks segera menangkap Haebin yang hampir jatuh itu.

 

Haebin membuka matanya perlahan. Kenapa ia tidak merasakan sakit? Bukankah ia jatuh dari tempat yang lumayan tinggi? Setidaknya ia harus merasakan pantatnya berdenyut sakit.

“Gwaenchana?”

Mata Haebin membulat kaget. Omona.. bagaimana bisa sekarang ia sedang berada dalam dekapan Donghae*digendong ala bridal gitu-_-*

“Ne. Aku baik-baik saja.” Suara Haebin terdengar gugup. Memang itulah yang sedang dirasakannya sekarang.

“Baiklah..” Donghae menurunkan Haebin setelah yakin dia tidak apa-apa. “Sudalah, kau istirahat saja. Besok akan ada seseorang yang membersihkan tempat ini.” Donghae mengambil kemoceng dari tangan Haebin lalu meletakkannya di atas meja. Haebin menghela napasnya. Beberapa detik tadi, ia hampir saja gila karena berada dalam jarak yang begitu dekat dengannya. Huh.. ia jadi gerah begini karena gugup.

Donghae memperhatikan Haebin lagi, kini gadis itu tengah mengipasi dirinya sendiri.

“Kau baik-baik saja?” tanya Donghae cemas.  Ia menghampirinya, berdiri tepat di hadapan Haebin.

Haebin yang kaget buru-buru mundur selangkah. Ia tidak mau jadi gila karena berdekatan dengan Lee Donghae.

“A..aku baik-baik saja. Sudah, tidak perlu bertanya lagi.”

Donghae mengerutkan keningnya. “Kenapa? Kau gugup berada di dekatku?”

Haebin menggeleng gugup. “Tidak.”

“Kalau begitu berhentilah menjauh dariku. Aku bukan harimau yang akan memangsamu” ucapnya dengan pandangan tajam.

“Oh, baiklah. Maaf.” Haebin menurut. Ia berhenti memundurkan langkahnya. Ia bahkan tidak bergerak saat Donghae kembali mendekatinya. Umma.. apa yang akan dilakukan Donghae Oppa padaku.. batin haebin takut.

Donghae kini berada tepat di hadapannya. Haebin bahkan tidak mau untuk mendongkakan kepalanya. ia terlalu takut. Takut kalau seluruh saraf ototnya kembali lumpuh saat menatap mata gelap Donghae.

Tangan Donghae terulur merapikan poni Haebin yang berantakan. Jantung haebin berpacu lebih cepat karenanya.

“O.. opp, apa kita tidak terlalu dekat?” Haebin sangat gugup sekarang.

“Mwo? Benarkah?”

Haebin mengangguk.

Donghae menundukkan kepalanya. “Ini tidak terlalu dekat.” Donghae meraih dagu Haebin, membuatnya mendongkak ke arahnya. Apa yang tengah dilakukannya sekarang? Donghae sendiri tidak bisa memahaminya. Ia hanya mengikuti nalurinya. Donghae mendekatkan wajahnya dan perlahan..

 

Chu—

 

Haebin terperangah. Omona.. Apa yang terjadi sekarang? Otak Haebin tidak bisa berpikir jernih lagi. Namun yang ia rasakan adalah bahwa bibir mereka saling bersentuhan. Donghae menciumnya!! Apa sekarang juga karena pengaruh obat seperti malam itu? Tapi sepertinya tidak. Donghae melakukannya atas kesadaran penuh. Seluruh tubuhnya bergetar merasakan sensasi itu lagi.

Ciuman itu berlangsung cukup lama. Ia tidak tahu berapa lama, tapi rasanya cukup lama. Donghae bahkan tidak melakukannya sekali, tapi beberapa kali ia melumat bibirnya dengan lembut.

Tidak.. ia harus menghentikan ini segera sebelum ia terbawa suasana.

Dan sepersekian detik sebelum ia sendiri melepaskannya, Donghae lebih dulu melepaskan tautan bibir mereka. Selama beberapa saat mereka hanya diam saling menatap satu sama lain. Haebin tengah menormalkan kembali napasnya yang naik turun karena gairah yang mendadak memuncak tadi. Sementara Donghae tetap diam.

“Kenapa Oppa melakukannya?” Haebin ingin mendengar alasan Donghae menciumnya. Apa karena dia mulai mencintainya? Atau itu hanya pengaruh dari nafsu belaka.

“Aku tidak tahu” ucap Donghae datar. Ia memalingkan wajahnya, lalu secara perlahan ia membalikkan tubuh dan pergi. Haebin terpaku, ia menatap punggung Donghae dengan perasaan campur aduk, seperti kapal yang terombang-ambing di tengah samudera yang dingin. Ia bingung harus mengartikan tindakan Donghae tadi.

 

To be continued..

74 thoughts on “Shady Girl (Part 15)

  1. Huuaaaaa….donghae udah mulai perhatian sma haebin ,,tp dia perhatianny karna mulai cinta sama haebin apa cuma kasian sama haebin??

  2. Thor.. dari part pas donghae nikah sampe ini, aku terharu sampe ngeluarin air mata. Dan pas kejadian kyuhyun maling ATM?? hahahaa benar” tuh si kyuhyun haha. aku rasa hae sama kyu ini karakternya kebalik. Aku suka FF nya thor

  3. Haebin nyampe punya penyakit kayak gtu, sebabnya bukan hanya Donghae doang kan?
    Aduduh Donghae mulai melirik Haebin sweet. Cus ke part selanjutnya.

  4. Kasihan Hee Bin😦 sebegitu cinta’nya kah Donghae sama Soo Yeon ? Sampe” kg menyadari kalo Haeppa udh mulai mencintai Hee Bin !

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s