Shady Girl (Part 14)

Tittle : Shady Girl Part 14
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Married Life

Main Cast :

  • Park Haebin / Lee Haebin
  • Lee Donghae

Support Cast :

  • Lee Sungmin
  • Leeteuk
  • Cho Kyuhyun
  • Kim Kibum
  • Yesung, etc

Triiing… *muncul dari dalam lampu ajaib* Dha’s here… ada yang kangen ama FF ini? okelah..
Maaf kalau banyak typo, cerita amburadul, feel gak dapet atau malah ngaco kemana-mana. dha masih butuh pembelajaran. so, kritik dan sarannya ditunggu ^^

Shady Girl by Dha Khanzaki

———-0.0————

Apa yang terjadi semalam? Mungkinkah itu mimpi?

 

Pagi itu udara lumayan dingin. Mungkin karena sudah memasuki musim gugur. Di tambah semalam ia lupa menutup pintu berandanya. Donghae pagi ini terbangun karena ada seseorang yang memeluknya.

“Emh…” Ia menggeliat pelan. Mencoba membuka matanya perlahan.

Begitu matanya terbuka, ia kaget dan segera bangkit.

“Min-chan..” ucapnya tak percaya. Gadis cilik itu seperti biasa, selalu membangunkannya dengan cara yang tak biasa..

“Oppa..” suara riangnya terdengar manja. Khas anak kecil.

Donghae tersenyum dan balas memeluknya. Ia memandang ke sekitarnya dan tak menemukan sosok Haebin di manapun. Bukankah semalam mereka…. oh, atau mungkin hanya mimpi?

“Min-chan, kau kemari bersama Appamu?” Donghae mengalihkan perhatiannya pada Minki. Gadis kecil itu mengangguk.

“Appa menyuluh Minni membangunkan Oppa..”

“Hmm.. oke. Oppa sudah bangun sekarang. Jadi sekarang Min-chan pergi dulu yah.. Oppa mau siap-siap dulu.”

Minki mengangguk patuh. Ia segera berlari kecil ke luar kamar Donghae. Seperginya Minki, Donghae ikut bangkit dari tempat tidur. Oh, ia baru sadar kalau di sekitar tempat tidurnya berserakan pakaiannya dan pakaian Haebin. ia tertegun, jadi yang semalam itu bukan mimpi? Omona.. lalu bagaimana ia hari ini akan menatap gadis itu? Ia juga tidak tahu bagaimana perasaan gadis itu setelah kejadian semalam.

“Aish.. Lee Donghae, apa yang akan kau lakukan setelah ini?” ia mengacak rambutnya sendiri.

 

@@@

 

Setelah selesai bersiap-siap untuk berangkat ke kantor, ia turun menghampiri orang-orang rumah itu yang sedang berkumpul di ruang makan.

“Sungmin Hyung, kau di sini juga..” ujarnya saat melihat Sungmin di ruang makan juga.

“Iya. Minki bilang ingin kemari.” Jawabnya. Sedangkan Minki tengah makan di suapi oleh Tuan Lee. Yah, Appanya itu memang menyukai anak kecil. Maka dari itu saat Minki datang berkunjung, Tuan Lee pasti meluangkan waktu untuk mengajaknya bermain. Sebenarnya Donghae menyadari satu keinginan Ayahnya terhadap pernikahannya dengan Haebin. yaitu seorang cucu.

“Ayo cepat sarapan, atau kau nanti akan terlambat.” Ucap Leeteuk seraya menepuk kursi di sampingnya.

Donghae jadi canggung sendiri, entah kenapa. Ia menggaruk bagian belakang kepalanya pelan.

“Haebin mana?” tanyanya canggung sambil duduk di sebelah Leeteuk. Ia menoleh kanan kiri namun tidak menemukannya.

“Oh, dia sudah pergi 10menit yang lalu. Dia bilang ada tugas kuliah yang sangat penting.” Jawab Sungmin.

“Apa?” Donghae kaget.

“Dia bahkan melupakan sarapan.” Tambah Leeteuk. Ia tersenyum penuh arti ketika melihat ekspresi Donghae.

“Benarkah?” sebenarnya Donghae bertanya pada diri sendiri. Apa mungkin Haebin sedang menghindarinya.

 

@@@

 

“Kau kenapa Haebin?” In Sung merasa heran melihat Haebin terus memegangi kepalanya. “Apa kau pusing?” tebaknya. Haebin menggeleng. Sejak pagi ia memang merasa pusing. Tidak hanya hari ini. Kemarin pun ia merasakan hal yang sama. Sepertinya hari ini ia memang harus menemui Dokter Kim. Apa karena tugas akhinya begitu banyak hingga membuat kesehatannya menurun?

“Oh, jangan bilang kau hamil!” In Sung mengerjap kaget saat mengatakannya. Haebin sendiri tersentak.

“Ha-Hamil?” tanyanya kaget. Yah.. memang sih mereka sudah melakukannya semalam. Tapi mana mungkin kan ia hamil dalam waktu semalam.

“Iya. Mungkin saja kan. Sebaiknya kau periksakan diri ke dokter, Haebin-ah..” In Sung mengguncang-guncang tangan Haebin. Ia membereskan semua tugas yang sedang dikerjakan Haebin. mereka sekarang sedang mengerjakan tugas akhir mereka di rumah In Sung.

“In Sung, apa yang kau lakukan.” Haebin bingung

“Cepat kau pergi ke dokter. Jika dugaanku benar, aku akan memberikan hadiah untukmu.” In Sung menarik Haebin berdiri. Ia segera memanggil taksi dan menyuruh Haebin naik.

“In Sung, aku baik-baik saja.” Ujar Haebin.

“Tidak. Kau tampak tidak sehat. Kau harus periksa dan soal tugas, serahkan padaku. Ok. Pak, antar dia ke rumah sakit. Bye..” In Sung segera menutup pintu taksi. Taksipun tak lama berjalan.

“Kau ingin ke rumah sakit mana, Agasshi?” tanya supir.

“Ke Seoul General Hospital.”

 

Di rumah sakit..

 

“Kau terlalu memforsir dirimu sendiri hingga kelelahan. Kau bahkan lupa untuk menjaga asupan nutrisi.” Ujar Kibum sambil menuliskan resep di atas kertas.

Haebin mengangguk paham. Ia juga merasakan hal itu. Akhir-akhir ini ia memang terlalu dipusingkan oleh tugas kuliahnya.

“Tekanan darahmu rendah Haebin-ah. Kau harus lebih banyak beristirahat. Tapi tenang, aku sudah menuliskan resep yang cocok untukmu.” Terangnya.

“Benarkah? Aku hanya kelelahan?” tanya Haebin.

“Memang kau mengharapkan yang lain?”

“Tidak.” Jawab Haebin tegas. Kibum tersenyum. “Aku tahu apa yang kau harapkan. Tapi sepertinya itu belum terjadi.”

Haebin menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang merona.

“Terima kasih Dokter Kim, kalau begitu aku pamit..” Haebin segera bangkit dan pergi.

 

 

“aku benci obat.” Keluhnya saat menatapi kantong obat yang didapatkannya. Sekarang ia harus berhenti mengeluh dulu. Karena sudah waktunya untuk mengantarkan bekal makan siang suaminya. Omona.. sebenarnya Haebin malu jika harus bertatap muka dengan Donghae. Mengingat yang dilakukan namja itu terhadapnya semalam, ia bahkan tidak sanggup untuk melihat wajahnya. Ia malu sendiri.

 

 

“Pak GM sedang tidak ada di kantornya, Nyonya.”  Ucap Yuri begitu Haebin datang seperti biasa ke kantor suaminya.

“Benarkah?” Haebin mendengus. Lalu bagaimana jadinya dengan bekal makan siang yang dibawanya?

“Dia pergi kemana?”

“Ke kantor kejaksaan Seoul”

“Kantor Kejaksaan? Untuk apa?”

“Pak GM melaporkan kasus pencurian kartu kreditnya. Dan sekarang ia diminta kantor kejaksaan untuk memberikan penjelasan mengenai kasus itu.”

Haebin mengerjap. “Pencurian kartu kredit?” ia tak percaya. Jangan-jangan ini ada kaitannya dengan kartu kredit yang digunakan Kyuhyun waktu itu.

“Iya. Pelakunya adalah temannya sendiri. Tuan Cho Kyuhyun”

“What!!!!” Haebin hampir berteriak begitu mengetahuinya. Tanpa membuang waktu, ia segera membalikkan badannya pergi.

“Ini tidak bisa dibiarkan. Professor tidak bersalah.”

 

@@@

 

@Kantor Kejaksaan Seoul

“Pak, Aku tidak mencuri kartu kredit” Tegas Kyuhyun sekali lagi. Yesung, jaksa yang menangani kasusnya hanya bersedekap sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Pandangannya begitu mengintimidasi namja itu.

“Lalu jika bukan kau siapa?” tanya Yesung sarkastis.

“Ya, memang aku sih.. tapi aku tidak mencurinya. Aku hanya meminjamnya. Jika kau tidak percaya, tanyakan saja pada Lee Donghae” Kyuhyun masih bersikeras.

“Iya. Meminjam tanpa izin” jawaban itu terdengar begitu mencekam. Kyuhyun membalikkan badannya dari tempat duduknya. Ia melihat Donghae masuk ke ruangan itu dengan pandangan datar. Kyuhyun tersenyum lebar dan secerah matahari.

“Tuh, tanya langsung padanya.” Kyuhyun berdiri

“Tanya apa. Kau memang pelakunya.”

“Lee Donghae, kenapa kau sekejam ini pada temanmu sendiri? Padahal aku hanya meminjam kartu kreditmu.”

 

Dua orang itu malah berdebat. Yesung juga yang menyaksikannya jadi bingung sendiri.

 

“Aku akan memaafkanmu jika kau melakukan ini sekali. Tapi kau sudah tiga kali mengambil kartu kreditku. Dan kali ini adalah jumlah terbesar kau berbelanja menggunakan kartu kreditku.” Jelas Donghae tidak mau kalah. Otomatis Kyuhyun speechless. Ia sempat tergagap.

“Tapi.. Ya..” ia mengusap wajahnya cepat “Dulu, Aku mengambil kartu kreditmu karena aku ingin membantumu membelikan kado untuk adikmu kau tau kan, kau selalu lupa ulang tahunnya. Lalu yang ke dua, aku juga mengambilnya agar bisa membeli hadiah anniversary kau dengan So Yeon, kau tahu, aku tidak tega melihat So Yeon yang bersedih karena kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu dan melupakan hari jadi kalian.. Dan yang terakhir, aku mengambilnya demi istrimu.” Kyuhyun memelototi Donghae setelah mengucapkannya.

 

Sementara itu..

 

Haebin baru saja tiba di kantor kejaksaan itu. Dengan langkah tergesa ia segera berlari masuk meskipun tidak tahu Donghae berada di mana. Dari sekian banyak ruangan di gedung besar itu haruskah ia mencari ke setiap ruangan satu persatu?

 

Namun beruntungnya ia tanpa sengaja mendengar suara Donghae dan Kyuhyun bertengkar ketika melewati salah satu ruangan.

 

“Apa maksudmu?” terdengar suara donghae. Haebin segera berhenti dan kembali ke tempat asal suara tadi. Wajahnya berseri dan ia ingin masuk. Tapi langkahnya terhenti tepat di depan pintu saat melihat Kyuhyun tengah menatap Donghae dengan mata menyala-nyala. Sementara Donghae diam dengan tatapan datarnya.

Haebin berdiri di balik tembok ruangan itu. Ia masih bisa mendengar dengan jelas setiap perkataan mereka.

“Kau juga tidak tahu kan? Aku mendapati istrimu menatap sepatu dengan wajah berbinar sementara ia sendiri bilang tidak punya uang untuk membelinya. Aku jadi heran, apa kau tidak pernah memperhatikannya sedikitpun?” jelas Kyuhyun panjang. Haebin bergetar di tempatnya.

Ia sedikit mengintip ke dalam ruangan, ia ingin melihat ekspresi Donghae.

“Jadi maksudmu  kau mencuri kartu kreditku hanya untuk membelikan Haebin benda-benda mahal itu? Untuk apa? Kau menyukainya? Menyukai istriku?” tuduhnya.

Kyuhyun begitu geram. Ia menepuk keningnya.

“Bukan itu Donghae si manusia es!!” bentaknya.

Yesung yang dari tadi hanya menyaksikan menghela napasnya. Sebenarnya apa masalah mereka di sini?

“Lalu apa?”

“Kau masih tidak mengerti juga? Kemana sih sebenarnya hati nuranimu?” Kyuhyun mencengkram kerah baju Donghae. Namja itu mengerjap kaget. Begitu juga Haebin dan orang-orang yang  melihatnya.!

“Aku ingin membuatmu sadar! Sampai kapan kau terus mendiamkan istrimu seperti itu! Ingat, dia istrimu sekarang! Seseorang yang paling harus kau pikirkan. Ini bukan soal aku mencuri kartu kreditmu. Aku melakukannya untuk mewakilimu melakukannya. Sama seperti yang kulakukan untuk adikmu dan So Yeon dulu.”

Donghae membelalakkan matanya. Kata-kata Kyuhyun sedikit membuatnya tersadar. Sikapnya memang sudah ke terlaluan selama ini.

BRAKK!!!

Kyuhyun maupun Donghae terkaget lagi. Mereka menoleh bersamaan ke arah Yesung yang mukanya sudah memerah. Ia geram.

“Sebenarnya apa yang kalian inginkan? Kantor kejaksaan bukan tempat berdebat untuk sepasang teman karena masalah pribadi! Jika kalian ingin bertengkar, silakan lanjutkan di tempat lain! Bukankah kalian kemari untuk menyelesaikan kasus pencurian kartu kredit?”

Yesung menatap kedua orang itu bergantian. Kyuhyun merasakan aura menakutkan berada di sekitar jaksa itu.

“Kau, sebaiknya kembali duduk!” perintahnya pada Kyuhyun.

“Ba-baik.” Kyuhyun menurut karena takut.

“Jadi apa yang kalian inginkan untuk menyelesaikan kasus ini? Apa kasus ini benar-benar ingin dibawa hingga ke pengadilan?” tanya Yesung

“Tidak!”

“Iya.”

Kyuhyun dan Donghae saling bertatapan karena jawaban mereka yang berbeda. Kyuhyun mengatakan ‘tidak’ sementara Donghae ‘iya’.

“Ya.. Donghae-ah.. jebal. Bebaskan aku..” rengek Kyuhyun. Mulai sifat childishnya muncul lagi.

“Tidak.” Donghae tetap bersikukuh pada pendiriannya.

 

“Cukup!” teriak Haebin. donghae menoleh, matanya melebar. Oh, akhirnya bisa melihat Haebin juga.

“Haebin-ah..” seru Kyuhyun. Haebin maju mendekati mereka, tepatnya ke hadapan Donghae.

“Jika kau ingin menghukum seseorang, akulah yang seharusnya dihukum. Aku yang menghabiskan uangmu Oppa. Professor hanya meminjamkan kartu kreditmu.” Jelas Haebin dengan nada berat. “Aku tahu ini salah. Seharusnya aku tidak melakukannya. Mianhae. Sebisa mungkin aku akan mengganti uang yang aku belanjakan.” Ucap Haebin menyesal.

“Kenapa harus mengganti? Itu kan uang suamimu.” Bela Kyuhyun.

“Tidak, aku harus menggantinya. Mengambil benda yang bukan hakku, itu pencurian kan. Lagipula..” Haebin menghela napas, ia menatap Donghae. “Oppa belum memberikannya padaku. Jadi sama saja aku mencurinya.”

Donghae mengerjapkan matanya berkali-kali. Perkataan Haebin memukul hatinya dengan telak. Aigoo.. Kyuhyun terharu mendengarnya.

“Haebin-ah.. kau sungguh baik. Harusnya kau tidak menikahi pria dingin seperti itu. Ya! Lee Donghae! Harusnya kau pergi ke psikiater untuk memeriksakan dirimu! Tega sekali kau pada gadis sepolos dia.”

“Professor. Sudah…” pinta Haebin karena Donghae semakin diam.

“Oppa.. aku mohon, bebaskan professor. Dia tidak bersalah.”

 

Satu detik…dua detik.. satu menit.. Donghae tenggelam dalam pikirannya. Sebenarnya ia juga tidak tega memenjarakan temannya sendiri. Dan jika ia melakukannya, mungkin orang akan berpikir kalau dia benar-benar manusia es yang tidak mempunyai hati nurani.

“Baiklah. Aku akan cabut tuntutanku.” Ucap Donghae. Kyuhyun lega luar biasa mendengarnya.

“Benarkah? Terima kasih!!”

“Tapi dengan 1 syarat!” Tegas Donghae.

“Apa?”

“Berhenti bersikap kurang ajar padaku. Panggil aku Hyung, bungsu!” ucap Donghae dengan nada mengintimidasi.

“Mwo??? Shireo!”

“Ya sudah kalau tidak mau. Aku tidak keberatan. Pak, penjarakan dia.” Perintah Donghae bersiap pergi. Kyuhyun takut, ia lekas menangkap tangan Donghae untuk menenangkannya.

“Araseo. Hyung, aku mengerti.” Ucapnya sambil tersenyum terpaksa.

 

Donghae mengangguk setelah melihat kesungguhan di wajah Kyuhyun. Setelah itu, ia meminta agar tuntutannya dicabut dan Kyuhyun dibebaskan. Yesung menggeleng-gelengkan kepalanya. kenapa kali ini ia mendapatkan kasus seaneh ini? Dia kan jaksa bukan juru pendamai 2 orang teman yang saling bertengkar.

 

“Professor, mianhae. Gara-gara aku kau jadi terlibat kasus seperti ini. Seharusnya hal ini tidak terjadi. Lain kali aku akan berhati-hati.” Haebin menundukkan kepalanya berkali kali saat mereka akan berpisah di tempat parkir. Kyuhyun cengengesan.

“Tidak perlu. Suamimu saja yang berlebihan. Kau tidak bersalah, Haebin-ah”

Donghae melotot  karena ia merasa Kyuhyun sedang menyinggungnya. Namun Kyuhyun tidak peduli. Laki-laki itu memang harus dibuat sadar dengan sikapnya.

 

Tak lama setelah mobil Kyuhyun pergi, Donghae segera menahan Haebin saat gadis itu akan pergi juga.

“Mau kemana kau?”

Deg deg deg.. Haebin merasakan seluruh tubuhnya bergetar begitu tangan Donghae menyentuh kulitnya.

“Aku.. aku harus kembali ke rumah In Sung. Tugasku belum selesai di sana.” Ucap Haebin terbata.

“Tidak bisa. Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu.” Donghae menarik tangan Haebin. gadis itu kembali pasrah seperti tadi malam. Oh, kenapa sentuhan Donghae mampu membuat seluruh sel ditubuhnya lumpuh seperti ini?

 

“Apa yang ingin kau bicarakan?” suara Haebin terdengar gugup. Mereka sekarang sedang berada di mobil. Dalam perjalanan pulang. Donghae menepikan mobilnya. Sedari tadi ekspresinya datar. Haebin tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya.

“Apa sebenarnya yang kau inginkan?” tanyanya dengan nada tajam.

“Apa maksudmu?”

Donghae mengalihkan pandangannya, tepat menatap Haebin. “Ekspresi apa yang kau tunjukkan pada Kyuhyun saat itu? Apa kau memelas padanya? Apa kau ingin dikasihani olehnya? Sebenarnya apa tujuanmu?”

haebin tersentak. Hati kecilnya serasa ditusuk ribuan jarum saat mendengarnya.

“Aku..”

“Apa kau ingin aku memberimu uang yang banyak karena telah menikahi pria kaya?  Kau ingin aku membelikanmu barang-barang mewah itu? Baik akan aku lakukan.” Ujar Donghae dingin. Tanpa aba-aba ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke sebuah departement store besar. setelah sampai ia segera menarik Haebin memasuki salah satu butik terkenal di sana. Haebin sudah meronta sejak tingkah aneh Donghae ini dimulai. Namun sekuat apapun ia berusaha melepaskan diri, Donghae tetap lebih kuat darinya.

“Oppa, lepaskan aku.. apa maksudmu membawaku kemari..”

 

Donghae baru melepaskannya setelah berada di dalam sebuah butik terkenal.

“Sekarang pilih semua barang yang kau inginkan! Cepat!” perintah Donghae sambil menyeret Haebin ke salah satu deretan mini dress. Jika keadaannya tidak seperti ini, Haebin mungkin akan senang ditawari seperti itu. Tapi lain ceritanya jika Donghae menyuruhnya dalam keadaan seperti ini, Haebin justru terasa seperti tercabik-cabik.

“Oppa.. kau ini sebenarnya kenapa?” suara Haebin bergetar. Matanya sudah berkaca-kaca.

“Cepat pilih! Bukankah kau suka sekali menghabiskan uang untuk membeli barang-barang mahal seperti ini??”

 

PLAKK!!

 

Donghae terdiam beberapa detik setelah tamparan Haebin melayang di pipinya. Ia sangat marah. Namun rasa geramnya itu tidak bisa menandingi ekspresi Haebin sekarang. Gadis itu tampak begitu terluka. Airmata mulai menetes melintasi pipinya.

“Kau merendahkanku, Oppa.” Ucapnya dengan suara rendah. “Aku tahu aku ini gadis dari keluarga miskin. Tapi aku tidak serendah itu hingga ingin memanfaatkan kekayaan suamiku sendiri untuk bersenang-senang. Memang sempat terlintas dibenakku hal seperti itu. Tapi, aku tidak melakukannya. Karena aku tahu, aku tidak berhak berbuat seperti itu. Karena..” napasnya tercekat. Haebin mengusap dengan cepat airmata yang mengalir.

“Karena aku menyayangimu sebagai suamiku. Karena itu aku tidak melakukannya” haebin menunduk, tanpa menunggu jawaban Donghae, Haebin segera pergi dari hadapannya.

“Haebin…” Donghae mengejarnya.

 

 

Entah kemana kakinya akan membawanya, Haebin sendiri tidak tahu. Sampai akhirnya ia terpikir untuk kembali ke rumahnya yang dulu. Sudah lama ia tidak melihatnya.

“Lebih baik untuk sementara aku tinggal di rumah lamaku dulu.” Gumamnya. Langkahnya terhenti begitu saja ketika sudah tiba tepat di depan rumahnya yang dulu. Ia tercengang. Lututnya bahkan bergetar hebat. Bagaimana mungkin, ia bahkan berharap semua ini mimpi.

Di depan rumahnya terdapat papan bertuliskan ‘disita’.

“A..apa maksud semua ini??” suaranya bergetar. Pikirannya melayang kemana-mana.

“Bukankah Appa sudah melunasi semua hutangku? Kenapa ini..”

Dadanya terasa sesak kembali. Ia bahkan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis. Kakinya pun tidak bisa menahan bobot tubuhnya lagi. Ia jatuh terduduk di depan rumahnya. Airmatanya mengalir begitu saja, bahkan tanpa kehendaknya.

“Appa.. apa yang harus kulakukan?” lirinya di antara isak tangisnya yang semakin kencang.

 

Donghae melihatnya diam-diam dari jauh. Melihat Haebin dalam keadaan seperti itu, hatinya mencelos. Ia merasakan dadanya begitu sesak dan perih. Ini? Apa maksudnya? Ia memegangi dadanya. Di sini.. kenapa terasa sangat menyakitkan?

 

“Haebin-ah? Sebenarnya apa yang kau lakukan padaku?” gumamnya. ia ingin sekali menarik Haebin yang terkulai lemas sambil terisak seperti itu ke dalam pelukannya. Ia ingin sekali menenangkan gadis itu dalam dekapannya. Namun selayaknya seorang pengecut, ia bahkan tidak bisa melangkahkan kakinya sedikitpun. Ia hanya mampu melihat kesengsaraan Haebin dari jauh.

 

Donghae seakan tersadar bahwa dirinya hanya seorang pria berhati dingin dan tidak tahu kondisi. Seperti yang dikatakan Kyuhyun.

 

—–o0o—-

 

Angin musim gugur sore itu terasa menusuk hingga ke tulang. Donghae harus merapatkan mantel panjang yang dikenakannya. Napasnya bahkan berasap tanda udara begitu dingin. Namun kini yang dikhawatirkannya adalah Haebin. gadis itu kini tengah menangis di depan makam Ayahnya.

“Appa.. maafkan aku.. aku tidak bisa mempertahankan satu-satunya peninggalan darimu.. rumah itu, hiks.. sudah bukan milikku lagi sekarang. Apa yang harus kulakukan..” ia menangis sesenggukan sambil mengusap batu nisan Ayahnya.

“Seharusnya kau mengajakku pergi juga, kenapa kau meninggalkan kami di sini.. Appa.. aku merindukanmu..”

 

Melihat Haebin menangis seperti itu, merasakan kesedihan yang terpancar dari setiap kata-kata yang diucapkannya, ia merasa hatinya tersayat sebuah pisau tajam. Donghae merasa dirinya menjadi pecundang sejati karena hanya bisa melihatnya dari jauh. Tanpa berbuat apapun untuknya.

 

Haebin kini duduk termenung di bangku taman. Ia tak peduli meskipun tubuhnya menggigil karena udara dingin sore itu. Ia hanya memikirkan apa yang sudah diputuskannya selama ini. Sebelumnya, ia merasa menikah dengan Donghae adalah suatu takdir yang baik. Namun sepertinya ia harus berpikir sekali lagi mengenai hal itu.  Bukan karena ia membenci Donghae. Tapi ia justru berpikir tidak ada gunanya lagi melanjutkan jika Donghae tidak membutuhkannya dan hanya menganggapnya sebagai beban.

 

“Haebin?”

Haebin mengangkat kepalanya yang tertunduk dan mendapati Kim Mi Ra tersenyum padanya. Gadis itu memakai jaket panjang dengan syal tebal melilit di lehernya.

“Apa yang kau lakukan di sini? Dalam cuaca seperti ini?” tanyanya sambil duduk di sebelah Haebin.

“Aku sedang jalan-jalan.” Haebin berusaha untuk tersenyum.

“Aigoo.. kau tampak pucat. Pasti karena kedinginan. Sini, pakai syalku.” Mi Ra dengan senang hati meminjamkan syalnya pada Haebin. ia terharu dengan kebaikan Mi Ra. Rasanya ia ingin menangis lagi. Tapi tidak, ia sudah berjanji tidak akan menangis di depan orang lain lagi.

“Gomawo..” hanya itu yang bisa diucapkannya.

“Kenapa? Apa ada masalah? Kau bertengkar dengan suamimu?” tanya Mi Ra langsung. Haebin mengerjapkan mata.

“Tentu saja tidak. Oppa orang yang sangat baik dan perhatian. Dia tidak pernah bersikap kasar padaku. Jadi, mana mungkin aku bertengkar dengannya.” Ucap Haebin berbohong. Ia tidak ingin orang lain tahu masalahnya.

 

Donghae yang mendengarnya dari jauh membelalakkan matanya. Hati bekunya mulai tersentuh karena ucapan Haebin itu. Perhatian, baik, tidak pernah bersikap kasar? Semua itu tidak pernah ia lakukan untuk Haebin. Bahkan setelah semua hal buruk yang sudah ia perbuat pada Haebin, gadis itu tetap mengatakan hal baik tentangnya pada orang lain? Kyuhyun benar, Haebin gadis yang sangat polos. Selama ini ia sudah salah menilai Haebin.

 

To be continued..

 

85 thoughts on “Shady Girl (Part 14)

  1. Huwaaaa😥 , tidak tahan..
    Tadinya aku berniat meninggalkan jejak di part akhir seperti biasanya.
    Tapi air mataku meleleh di part ini.
    Eonni, .. Akh, aku harus berkata apa?
    Speachless.. :’)
    Akan kulanjutkan saja. ^^,,

  2. #Hhuuaa sedih banget liat Haebin, yang sabar yak? nanti juga es itu akan mencair dengan sendiri’a^^
    Sumpah part ini bikin gue mewek kasian Haebin, Haeppa kamu??#aaa

  3. Oh my…. Sebenernya Aku mau coment di part2 sebelumnya Kak Author, tapi karena keasyikan sampe lupa^^
    Sejauh ini Aku sedikit menyimpulkan kalo So Yeon itu Kakak Hae Bin^^ Dilihat dari latar belakang mereka yang hampir mirip. Lalu, kesamaan antara So Yeon dan Hae Bin^^ Kemudian dengan Ayah Donghae, mengapa ia bersikukuh menikahkan Donghae dan Haebin karena ia merasa bersalah pada Soyeon, hingga akhirnya Ayah Donghae harus menikahkan Donghae dengan Haebin. Maka Donghae akan kembali seperti sedia kala. Karena Ayah Donghae pikir… Karena mereka saudara mungkin mereka sama.
    Itu sedikit kesimpulan yang Aku tarik sepanjang episod ini Kak Autho^^
    Maka jangan salahkan Aku kalu Aku sok tahu atau bagaimana^^ Aku hanya ingin berkomentar apa yang Aku petik ^^ Keep Writing tuk berkarya Kak Author^^
    #DhasFans

  4. Ngakak bener sama adegan di kejaksaan hahaha :v
    Kesian kan kalo kyuhyun beneran di penjarain sama donghae yang jelas jelas temennya sendiri
    Yesung stress dapet kasus aneh kek gitu kkk~
    Apa disini hanya saya yang ngakak?
    Sebenernya sedih juga di part ini karena donghae bener bener tega sama haebin, tapi kesedihan saya menguap entah kemana kalo inget adegan di kejaksaan itu wkakakakkk
    Aigooo koment macam apa ini :v >.<
    Terus berkarya thor, saya sudah sering loh baca ff karya author😀

  5. Sedih di part ini eonnie, rasanya donghae bener keterlaluan ayolah donghae hatimu pasti akan luluh terhadp Haebin.
    Cus ke part selanjutnya.

  6. Ya ampun,sumpah gw nangis thor😥 sedih amat ya,semoga donghae cepat sadar deh ? Bahwa Hee Bin tidak seperti yg ia fikirkan

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s