Shady Girl (Part 13)

Tittle : Shady Girl Part 13
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Married life, Romance

Main Cast :

  • Park Haebin / Lee Haebin
  • Lee Donghae

 

Support Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Leeteuk
  • Sunny Lee
  • Kwon Yuri

balik lagi dengan dha khanzaki. FF ini masih panjang loh. jadi jangan bosen buat tetep baca yah… maaf untuk typo, bahasa amburadul, ataupun feel yang gak kena.

Happy reading…

Shady Girl by Dha Khanzaki

————–0.0—————

Siang ini, kelasnya selesai lebih awal dari biasanya. Dan ia memanfaatkan waktu luang yang ia punya untuk berjalan-jalan. In Sung tidak bisa diajaknya karena ia harus membantu ibunya di TK, mengurus anak-anak kecil itu. Dan Haebin tidak mungkin ikut membantu. Karena ia memang tidak begitu terampil menghadapi anak kecil. Ia juga ingin mengunjungi Hyun Jung, yeoja baik hati teman satu pekerjaannya itu. Tapi, jam istirahat seperti ini dia pasti sedang sibuk. Lalu sempat terpikir juga untuk menemui Mi Ra di klub, tapi.. klub malam kan buka 8 jam dari sekarang. Masih lama sekali..

 

Kini, ia sedang melampiaskan kesenangannya dalam hal fashion. Seperti biasa, kali ini pun ia hanya datang ke butik terkenal itu hanya untuk melihat lihat.

“Wuah.. cantik sekali high heels ini..” Haebin sedikit membungkukkan badannya untuk melihat lebih dekat dan jelas sepasang high heels cantik yang terpajang di salah satu etalase toko.

“Kalau memang suka, beli saja.”

Eh, siapa itu yang bersuara tepat di sampingnya? Dengan ragu Haebin menolehkan kepalanya ke samping.

“Wuahhhh!!!” Haebin memekik kaget saat menyadari wajah Kyuhyun begitu dekat dengannya. Bahkan ia sampai jatuh terjengkang ke belakang dan menabrak baju-baju yang digantung di tempatnya.

“Wae? Wae?” Kyuhyun kebingungan sendiri. Kenapa Haebin bisa sebegitu kagetnya sampai jatuh seperti itu? Dia kan bukan hantu atau binatang buas. Kyuhyun segera membantu Haebin berdiri.

“Kenapa kau sekaget itu melihatku?” tanya Kyuhyun setelah Haebin berhasil berdiri tegap. Bukannya menjawab Haebin malah balik bertanya. Tentu dengan ekspresi yang masih kaget.

“Professor, apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku?” Kyuhyun menunjuk dirinya sendiri, seperti orang bodoh saja.

“Aku mengantar Sherry ke salon.” Ucapnya enteng.

“Sherry?” tanya Haebin kebingungan. Kedengarannya seperti nama seorang yeoja. Jadi Professor sepertinya punya yeojachingu juga. Haebin otomatis memperhatikan penampilan Kyuhyun secara keseluruhan. Pantas penampilannya sedikit rapi meski hanya memakai jas.

“jadi prof, kau punya yeojachingu?” tanya Haebin. ia mendekati Kyuhyun yang tengah sibuk memilih-milih baju di antara koleksi baju musim gugur.

“Siapa?” dengan polosnya dia malah balik bertanya.

“Sherry, dia yeoja kan?”

Seketika Kyuhyun menoleh, menatap Haebin dengan pandangan melongo. Lalu sedetik kemudian ia tergelak begitu kencang. Gantian Haebin yang kebingungan.

“Kenapa kau tertawa? Aku serius Prof.”

 

Kyuhyun masih tertawa hingga lima menit kemudian. Setelah puas, ia menatap Haebin lagi.

“Haebin, Sherry itu nama anjing Shih Tzu ku..” ucapnya sambil mengusap airmata karena terlalu puas tertawa.

“Mwo? Jadi itu anjing? Aigoo..” kenapa nama anjingnya saja bagus begitu. Jadi teringat anjing yang tempo hari ia lihat di rumah Kyuhyun, anjing yang tengah di pangkunya waktu itu. Jadi itu Sherry? Anjing yang lebih terlihat seperti singa kecil itu?

“Ya, Professor. Seharusnya bukan anjing yang kau ajak ke salon.” Ujar Haebin.

“Lalu siapa?” tanya Kyuhyun cuek. Haebin bersedekap jengkel.

“Tentu saja dirimu.” Tegasnya. Kyuhyun menoleh mendengar nada bicara Haebin yang terkesan sedang menceramahinya. Benar saja, kini gadis itu sedang menatapnya dari ujung rambut  sampai ujung kaki lalu kembali menatap wajahnya.

“Lihat penampilanmu, Professor. Tidak menarik sedikitpun. Jika begini siapa yang akan menyukaimu. Kau akan kesulitan mendapatkan istri kelak.” Omelnya.

Kyuhyun mengeryitkan keningnya. “Ya ampun, kau terdengar seperti ibuku. Cerewet sekali.” Ia lalu balas berkacak pinggang.

“Dengar ya? Jika aku merapikan diriku sedikit saja, yeoja-yeoja di luar sana pasti akan pingsan melihatku. Kau tahu, aku ini sangat tampan.” Ucapnya narsis sambil mengedipkan mata.

“Oh, God, kenapa ada manusia senarsis ini di dunia. Aku kira hanya Siwon-ssi yang memiliki kadar kepercayaan diri di ambang batas normal. Ternyata kau juga..”

 

Namja itu hanya tertawa ringan menanggapinya. “Karena itu aku seperti ini. Aku tidak ingin orang menyukaiku hanya karena penampilan luarku saja” ucapnya. Haebin tersentak, oh, jadi itukah alasannya? Haebin jadi merasa bersalah sudah berpikir yang tidak-tidak. Ia sempat mengira Kyuhyun adalah orang yang memiliki kelainan karakter. Ternyata setiap orang memang memiliki alasan mengapa menjadi seperti itu.

 

“Ngomong-ngomong, kau kemari ingin belanja?” Kyuhyun balik bertanya.

“Ah, tidak. Hanya melihat-lihat.” Sanggahnya cuek, lalu kembali menatapi high heels yang tadi diminatinya.

“Hei, kau kan sudah jadi Nyonya Lee, menantu dari Lee Dong Il, salah satu developer terkaya di Korea. Kenapa pergi ke butik hanya untuk melihat-lihat. Sudah, jika ada yang kau suka, beli saja.” Kyuhyun menarik Haebin ke hadapan high heels itu.

“Kau suka kan? Beli saja.” Ucapnya sambil menunjuk high heels itu. Haebin menggeleng cepat.

“Ani.. tidak perlu..”

“Tidak apa-apa..”

 

Haebin menahan tangan Kyuhyun. “Sebenarnya, professor… aku tidak membawa uang.” Bisik Haebin serius.

“Tenang saja” Kyuhyun mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya. “Tara…” serunya riang sambil mengacungkan sebuah kartu kredit.

“Professor, kau tidak perlu membuang-buang uangmu untuk membeli ini.” Haebin menolaknya mentah-mentah.

“Siapa bilang ini milikku. Ini milik suamimu.” Ucapnya dengan kekehan ala setan miliknya.

“Mwo? Kau meminjamnya?”

Kyuhyun menggeleng cepat. “Aku mengambil secara diam-diam dari dompetnya.” Kyuhyun mengerlingkan matanya. Ia teringat hari itu, saat ia pergi ke kantor Donghae dan berbicara banyak hal dengannya. Saat itulah ia mengambil kartu kredit itu dari dompet Donghae.

Haebin tercengang. “Professor Kyuhyun!!! Itu pencurian kartu kredit namanya..” tegur Haebin.

“Ckckck.. tenang saja.. anak itu memiliki banyak kartu kredit. Jadi dia tidak akan menghiraukan satu kartu kreditnya yang hilang. Nah.. sekarang tidak perlu cemas lagi. Ayo..” Kyuhyun kembali menariknya ke kasir.

 

@@@

 

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, sudah satu minggu sejak Haebin ke kantornya untuk mengantarkan bekal makan siang. Sejak itu pula yeoja itu selalu mengantarkannya makan siang namun dia menolak untuk bertemu dengannya dan langsung pergi. Hm.. apa dia tersinggung dengan ucapannya waktu itu? Ah, sudahlah.. kenapa jadi memikirkannya begini ya?

Donghae membuka kotak makan siang yang kini kembali diantarkan Haebin untuknya.

Ia menyuapkan sepotong kimbab ke mulutnya. Menikmati makanan itu sambil memejamkan matanya. Rasanya memang sama dengan yang So Yeon buat dulu. Namun, kenapa makanan buatan Haebin terasa sedikit berbeda ya?

“Pak..” ucap Yuri sambil mengetuk pintu ruang kerja donghae. Namja itu mendongkakan kepalanya.

“Ya?”

“Maaf mengganggu waktu istirahat anda”  Yuri mendekatinya dan meletakkan sebuah map berwarna hijau di hadapannya.

“Apa ini?” tanya Donghae bingung. Ia sedang tidak menunggu dokumen apapun sekarang.

“Itu berkas tagihan dari bank, Pak.”

“Tagihan?” Donghae mengerutkan keningnya bingung. Lantas dengan tidak sabar  ia membuka dan membacanya sekilas. Beberapa detik setelahnya, matanya terbelalak melihat deretan angka yang menunjukkan jumlah uang tagihan kartu kreditnya.

“Mwo? Apa maksudnya ini? Aku tidak pernah berbelanja sebanyak ini.” Protesnya sambil melempar map itu ke atas meja.

Otaknya berpikir keras mencoba mencari jawaban yang paling memungkinkan.  Ia lalu bangkit.

“Yuri, dimana tempat uangku dibelanjakan?” tanyanya datar. Yuri cepat-cepat mengambil kembali map itu lalu membacanya.

“Di sebuah butik ternama di Apgujeong-dong, Pak.”

Tak membuang waktu, Donghae segera pergi menuju tempat itu. Dan di sana, ia bertanya pada penjaga toko siapa yang sudah berbelanja hari itu menggunakan kartu kreditnya.

“Sepasang pria dan wanita, Tuan. Mereka membeli beberapa pakaian musim gugur, tas, juga sepatu.” Jelas penjaga toko yang kebetulan saat itu bertugas menjadi kasirnya.

Mendengarnya Donghae langsung teringat haebin. mungkinkah dia?

“Lalu pria itu apa seperti ini?” tanya donghae sambil memperlihatkan foto Siwon yang ada di ponselnya. Penjaga toko itu menggeleng.

“Ini?” Donghae kini memperlihatkan foto Eunhyuk. Penjaga toko itu kembali menggeleng.

“Apa ini?” Gantian foto Kibum yang diperlihatkan, dan jawabannya tetap sama. Donghae menahan amarahnya, ia sebenarnya sempat menduga, namun ia ingin memastikan dulu.

“Mungkinkah ini?” Donghae menunjukkan foto Kyuhyun dan kali ini penjaga toko itu mengangguk.

“Benar Tuan, dia orangnya.”

 

Donghae mengepal tangannya erat. Sesuai dengan dugaannya. Kyuhyun pasti pelakunya. Dan ia tahu kapan pria usil itu mencuri kartu kreditnya. Pasti saat dia datang ke kantornya tempo hari.

“Cho Kyuhyun, mati kau..” geramnya. Ia lalu cepat pergi dari butik itu, sambil berjalan menuju mobil yang diparkir, ia menelepon polisi.

“Pak, tolong tangkap namja bernama Cho Kyuhyun. Dia mencuri kartu kreditku” ucap Donghae dengan penuh amarah.

 

—–o0o—-

 

@QC Office Building

 

“Hoammffth….” untuk ke dua kalinya Kyuhyun menguap siang itu. Baru 1 jam yang lalu ia menyelesaikan konsep game terbarunya. Sekarang ia sudah bosan.

“Ah, aku menyesal masuk kantor hari ini.” Keluhnya sambil membanting pensil pelan. Tangannya yang lincah itu mengutak-atik tombol keyboard.  Entah mengetik apa. Jika sedang sendiri seperti itu ia tak tampak seperti seorang CEO pada umumnya. Ia lebih senang bermalas-malasan di ruang kerja dan bermain game dibandingkan harus menghadiri rapat dan menandatangani setumpuk dokumen.

“Aku rindu Sherry-ku…” ia mengacak-acak mejanya sendiri saking bosannya. Bahkan papan nama bertuliskan ‘CEO: Cho Kyuhyun’ jatuh begitu saja dari atas meja. Ia mengambil selembar kertas tak terpakai dan menyobek-nyobeknya menjadi serpihan kecil.

 

Tok tok..

 

Kyuhyun berhenti menyobek kertas, ia menoleh ke arah pintu. “Siapa?”

Seorang gadis ragu-ragu masuk ke dalam ruangannya. Kyuhyun tersenyum, ia membenarkan posisi duduknya. “Sunny, ada apa?” tanyanya pada sekretarisnya itu.

Sunny belum menjawab karena kini ia terheran-heran melihat kondisi meja yang berantakan dan banyak sekali sampah kertas berserakan di atas meja dan sekitarnya.

“Jangan hiraukan ini. Katakan saja..” Kyuhyun tahu Sunny pasti kebingungan melihat kekacauan yang selalu dibuatnya. Tapi ia sedang tidak mau membahasnya.

“Pak Presdir, Anda kedatangan tamu.”

Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya. “Tamu?”

Sunny mengangguk, ia segera pergi dan tak lama masuk beberapa orang berpakaian resmi. Ho, siapa mereka? Kyuhyun merasa tidak pernah bertemu dengan mereka.

“Anda Tuan Cho Kyuhyun?” tanya salah satu dari mereka bahkan sebelum Kyuhyun membuka mulut untuk mengajukan pertanyaan.

“Iya.”

Salah satu dari mereka mendekati Kyuhyun dan menyerahkan selembar surat. Kyuhyun tanpa ragu mengambilnya. Ia terkejut melihat isi surat itu.

“Apa ini? Surat panggilan dari kepolisian?” tanyanya kaget. Orang di hadapan Kyuhyun itu mengangguk.

“Kami datang kemari untuk menangkap Anda atas tuduhan telah mencuri kartu kredit.”

“MWO!!!” pekiknya kaget.

 

@@@

 

@Kantor Polisi

“Aku tidak mencurinya Pak, jadi sekarang bebaskan aku.” Ujar Kyuhyun tak sabar. Sudah satu jam ia di interogasi di kantor polisi dan jawaban yang di ucapkannya tetap sama. Ia tidak merasa mencuri sama sekali.

“Tidak bisa. Korban meminta kasus ini dibawa ke pengadilan segera” tegas seorang petugas polisi yang menginterogasinya.

Batin Kyuhyun mendidih secara perlahan. Harus berapa kalimat lagi yang harus diucapkannya agar mereka percaya bahwa ia tidak mencuri kartu kredit. Menyebalkan.

“Pak, Memang siapa yang sudah melaporkanku??”

“Seorang Namja bernama Lee Donghae.”

“Apa?? Dia??” Kyuhyun menggeram. Ia segera merogoh saku jasnya, mengambil ponsel untuk segera menelepon Donghae.

 

Sementara itu…

 

Donghae sedang menikmati makan malam bersama Haebin, Tuan Lee dan Leeteuk. Seperti biasa, Haebin tetap memberikan perhatian lebih padanya. Meskipun Donghae mulai terbiasa, tetap saja ia merasa risih.

“Haebin, berhenti meletakkan telur gulung itu di atas nasiku. Aku sudah kenyang.” Protes Donghae.

“Kau butuh banyak masukan protein, Oppa. Lihat, badanmu kurus kering begitu.” Haebin membela diri. Donghae menggelengkan kepalanya pasrah, berdebat dengan Haebin hanya membuang-buang tenaganya.

“Aish.. romantisnya. Bikin iri saja.” Goda Leeteuk. Tuan Lee pun tersenyum menanggapinya.

 

Tiba-tiba ponsel Donghae berdering. “Yeobseo” jawabnya sambil tetap melanjutkan makan.

“LEE DONGHAE!!!” Teriakan seseorang langgung menggema sampai bisa terdengar oleh orang-orang di sekitarnya. Donghae menjauhkan ponsel dari telinganya sejenak. Ia memutar bola matanya malas setelah tahu pemilik suara cempreng itu.

“Tidak perlu berteriak, Cho Kyuhyun. Aku tidak tuli.”

“Apa maksudmu menuduhku mencuri kartu kreditmu?” cecarnya di ujung sana.

“Memang kau pelakunya kan?” jawabnya enteng.

“Mworago? Ya! Sekarang juga cabut tuntutanmu dan akan kujelaskan semuanya—“

“Shireo” potong Donghae. “Maaf, sekarang sudah malam. Jika ingin membela diri, katakan di pengadilan nanti.” Donghae langsung memutuskan sambungan dan kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.

“Memang ada masalah apa dengan Professor Kyu?” Haebin penasaran. Dari apa yang didengarnya tadi sepertinya mereka membicarakan masalah serius.

“Tidak ada.” Jawabnya acuh tak acuh. Tanpa mempedulikan raut wajah Haebin yang khawatir dan penasaran, Donghae kemudian memilih pamit dan pergi lebih dulu.

 

@@@

“uh, kenapa kepalaku pusing begini ya? Apa aku sakit?” Haebin memijat pelan tengkuknya. Ia sekarang sedang menyiapkan susu hangat untuk suaminya.

“Sepertinya besok aku harus menemui Dokter Kim untuk berkonsultasi.” Setelah selesai, ia segera menuju kamar Donghae. Untuk menyerahkan susu itu.

 

Leeteuk melihat Haebin berjalan menaiki tangga dan ia diam-diam mengikutinya.

 

“Oppa..” Haebin membuka pelan pintu kamar Donghae. Suasana kamar itu remang-remang. Hanya lampu meja yang ada di dekat tempat tidur saja yang menyala. Tapi ia tidak melihat Donghae di sana.

“Hmm.. di mana dia?” Haebin meletakkan susu itu di atas meja depan sofa. ia melirik ke arah pintu kaca yang mengarah ke beranda terbuka, oh mungkin saja Donghae ada di sana. Ia segera menyusulnya.

 

“Hehehe.. Haebin-ah.. mianhae.. ini perintah Tuan Lee.” Bisik Leeteuk sambil tertawa pelan. Setelah ia yakin Haebin tidak akan masuk kamar dulu, Leeteuk mengendap-endap masuk, ia mengeluarkan botol kecil dari dalam kantong celananya dan mencampurkan cairan bening dari dalam botol itu ke dalam susu untuk Donghae. Setelah selesai, ia segera keluar dan menutup pintu kamar lalu menguncinya dari luar.

“Selamat bersenang-senang malam ini..” ia terkekeh lagi. Membayangkan hal yang akan terjadi begitu Donghae meminumnya nanti.

 

Tuan Lee tahu bahwa anaknya dan Haebin tidak tidur sekamar. Ia ingin menegur tapi melihat kondisi Donghae, ia tidak berani mengatakannya. Jadi ia memerintahkan Leeteuk untuk melakukan sesuatu terhadap mereka berdua. Dan inilah yang terpikirkan oleh Leeteuk.

 

“Oppa..” panggil Haebin sekali lagi saat menapaki beranda kamar Donghae. Ia menoleh kanan kiri mencari sosok Donghae. Dan benar saja, ia menemukan suaminya tengah duduk sambil memejamkan mata di sofa ayunan. Pantas saja ia tidak mendengar. Toh di telinganya kini terpasang Headphone. Haebin tersenyum tipis menatapi wajah tampan Donghae yang seperti pangeran tidur.

 

Terkadang, Haebin selalu bertanya-tanya seperti apa namja yang ada di hadapannya ini dulu. Ia ingin sekali melihat secara langsung. Namun kini sepertinya ia melihat sedikit gambaran tercermin dari wajahnya. Dulu, namja ini pasti selalu tampak tenang seperti sekarang dilihatnya. Haebin duduk di samping Donghae, membuat ayunan itu sedikit bergerak. Donghae tersentak dan ia membuka matanya.

“Kau..” gumamnya sambil melirik Haebin sekilas.

“Oppa, apa yang kau lakukan di sini?”

“Membaca buku.” Jawabnya ringan. Memang sih, di pangkuan Donghae terdapat sebuah buku tebal. Tapi sepertinya itu bukan bacaan santai.

Haebin menganggukkan kepalanya. “Memang sih, di sini suasananya tenang, dan indah..” ucap Haebin segera sambil mendongkakkan kepalanya ke arah langit yang berbintang.

“Ngomong-ngomong, untuk apa kau kemari?” nada bicara donghae tetap terdengar datar.

“Oh..” haebin baru ingat. Ia segera pergi dan tak lama kembali membawa segelas susu.

“Aku membuatkan ini untukmu. Cepat diminum. Susunya sudah mulai dingin.” Haebin menyerahkan gelas itu pada Donghae.

 

Donghae mengambilnya tanpa curiga sedikitpun. Ia langsung meminumnya hingga habis 3/4nya.

Haebin merasa terhormat karena Donghae kini mulai menuruti apapun yang dilakukan untuknya. Termasuk meminum susu itu. Ia langsung duduk kembali di samping Donghae.
“Haebin, sebenarnya kau ini siapa?”

Eh, Haebin menoleh mendengarnya. Kenapa tiba-tiba Donghae bertanya seperti itu?

“Siapa? Apa Oppa bertanya tentang asal usulku?”

Donghae mengangguk.

 

“Aku hanya gadis dari keluarga biasa.” Ujar haebin sambil menundukkan kepalanya. donghae menatap Haebin. ia terdiam.

“Ayahku adalah seorang pegawai biasa dan ibuku pelayan sebuah toko swalayan. Kami hidup dengan sederhana. Namun semuanya terasa begitu bahagia”

Donghae bisa melihat kebahagiaan terpancar dari mata Haebin yang berbinar saat menceritakannya. Ia hanya diam tanpa ingin memotongnya.

“Kami tidak merasakan kekurangan apapun karena kami saling memiliki satu sama lain. Hingga pada akhirnya Ayahku meninggal dalam kecelakaan mobil..”

Donghae mengerjap, ia kini merasa binar itu perlahan menghilang dari sorot matanya. Berganti dengan airmata yang mulai membendung.

“Seluruh hidupku berubah sejak saat itu. Aku bekerja siang malam untuk biaya sekolahku dan hidupku sehari-hari. Aku bahkan sampai dikejar-kejar rentenir karena keluargaku memiliki hutang yang sangat besar. bahkan aku sampai dipekerjakan di klub malam segala.” Haebin tersenyum pahit mengingat masa-masa itu.

“Aku juga terancam di DO dari kampus karena hampir 1 tahun tidak membayar biaya kuliah. Beruntunglah saat itu Tuhan mengirimkan Tuan Lee padaku” Haebin berhenti sejenak.

“Appa?” gumam Donghae

“Beliau datang padaku seperti malaikat, mengulurkan tangannya untuk membantuku. Mengeluarkanku dari kehidupanku yang gelap. Beliau memberikanku kehidupan yang lebih baik, asalkan..” Haebin menarik napas, lalu menatap Donghae. “Aku bersedia menikah denganmu, Oppa.”

 

Sedetik Donghae hanya diam, namun sedetik kemudian matanya melebar kaget. Jadi selama ini alasan Haebin bersedia menikah dengannya untuk itu? Agar ia bebas dari kehidupannya yang dulu? Tapi.. kenapa mengetahuinya ia malah merasa sakit hati?

“Awalnya aku berpikir tidak apa-apa. Menikah? Itu bukan hal buruk. Lagipula Tuan Lee memiliki anak yang tampan. Meskipun dia dingin dan bersikap buruk padaku.” Haebin tetap melanjutkan ceritanya dan sedikit menyinggung Donghae.

Donghae masih diam. Hatinya kian bergemuruh. Entah kenapa, ia pun tidak mengerti. Sesuatu yang aneh berdesir di relung hatinya.

“Namun, setelah sedikit mengenalmu, mengetahui masalahmu, aku mencoba memahamimu sedikit demi sedikit. Dan aku tidak menyangka kalau akhirnya akan menyukaimu juga” Haebin menarik napas setelah selesai bercerita.

 

“Kenapa kau menyukaiku? Kau kan tahu aku tidak mungkin balas menyukaimu juga.” Tanya Donghae dingin. Walau sebenarnya bertentangan dengan perasaan hatinya yang kacau balau.

Haebin mengangkat bahu. “Aku juga tidak tahu. Tapi menyadari bahwa aku merasakan hal itu terhadapmu, aku jadi sangat bahagia..” jelas Haebin sambil tersenyum. Ia lalu berdiri.

“Tak peduli kau akan mengacuhkanku ataupun mendiamkanku. Aku tetap akan menyukaimu.”

 

Donghae tidak mengerti. Bukankah kebanyakan yeoja akan merasa gengsi dan segan untuk mengakui perasaannya pada namja. Tapi kenapa Haebin tampak begitu santai saat mengatakan dia menyukainya? Apa gadis itu sedang bersandiwara untuk membuatnya luluh? Namun dilihat dari sorot matanya, Donghae merasa Haebin itu begitu jujur. Seperti yang dikatakan Kyuhyun, Haebin itu yeoja yang polos dan apa adanya.

 

Huh.. kenapa ia jadi merasa panas seperti ini? Padahal malam itu angin bertiup semilir.

“Kau kenapa Oppa?” Haebin kebingungan melihat Donghae yang gusar di tempat duduknya. Berkali-kali namja itu tampak mengipasi dirinya dengan tangan. Bahkan Haebin melihat titik-titik keringat mulai membanjiri pelipisnya.

“Haebin, apa yang kau masukkan ke dalam susu yang kuminum tadi?” tanya Donghae dengan napas tersengal.

“Mwo? Aku tidak memasukkan apapun.” Jawab Haebin. kecuali vitamin yang Dokter Kim berikan padaku. Tambahnya dalam hati. Tapi bukankah biasanya tidak pernah menimbulkan efek samping seperti itu.

“Benarkah? Tapi, kenapa aku jadi seperti ini?” keluhnya kepayahan.

 

Aku ingin sentuhan.. batinnya mulai berpikir liar. Ia pernah mendengar dari Eunhyuk, seseorang akan merasakan kepanasan dan seluruh saraf di tubuhnya mengharapkan sentuhan di saat ia telah meminum obat perangsang. Oh, apa mungkin Haebin menambahkan obat terkutuk itu pada minumannya?

 

“Oppa kenapa?” tanya Haebin panik sambil memegang kening Donghae. Sontak Donghae merasakan sengatan listrik bertegangan rendah menjalari tubuhnya kala tangan Haebin menyentuh kulitnya. Secepat kilat Donghae menepis tangan Haebin dari kepalanya. haebin kaget.

“Kha!” teriaknya kencang. Haebin sampai mundur beberapa langkah.

“Kau kenapa Oppa?” tanya Haebin takut melihat Donghae seperti orang kesetanan.

 

Oke, entah Haebin jujur atau tidak, namun Donghae yakin telah meminum susu dengan obat perangsang di dalamnya. Pasti. Jika tidak, mana mungkin ia merasa seperti ini.

Donghae berdiri. Matanya menatap Haebin tajam.

“Pergi dari sini jika kau ingin selamat!” ucapnya setengah membentak. Sungguh, Donghae sudah tidak bisa menahan gejolak yang membuncah dari dalam dirinya. Ia ingin sekali menerkam gadis di hadapannya itu. Tapi akal sehatnya masih bisa bekerja normal sehingga ia masih mampu menyuruh gadis itu pergi.

“Baik..” ucap Haebin takut-takut. Ia segera berjalan agak cepat ke dalam kamar. Namun saat akan membuka pintu, ia kaget. Pintunya terkunci dan ia tidak bisa membukanya.

“Eotteohke..” lirihnya panik.

 

“Kenapa kau tidak keluar?” Donghae melihat Haebin masih berada di kamarnya, tepat di depan pintu kamarnya.

Haebin membalikkan badannya dengan ekspresi takut. “Anu, pintunya.. terkunci..”

“Apa?” Dengan langkah cepat Donghae segera menghampiri Haebin lalu mencoba memutar engsel pintu namun hasilnya nihil. Pintu memang benar-benar terkunci. Pasti ini ulah seseorang yang menguncinya dari luar. Buktinya kunci pintu yang tadinya tergantung di lubang kunci menghilang begitu saja.

Donghae menoleh pada Haebin yang berdiri di sebelahnya. Jarak mereka sangat dekat, dan dalam kondisi seperti ini, ia merasa Haebin begitu cantik dan menggodanya. Hei.. hentikan semua ini..

“Kau kenapa Oppa?” Haebin kini merasa dirinya terancam karena di intimidasi oleh tatapan Donghae seperti ingin menerkamnya hidup-hidup.

 

Akal sehat Donghae sudah menghilang sepenuhnya sekarang. Seluruh pikirannya kini mengharapkan sesuatu yang lain. Yaitu Haebin.

“Oppa, tolong jangan menakutiku..” Haebin yang tidak mengerti kondisi Donghae sedikitpun perlahan mundur seiring dengan Donghae yang maju mendekatinya.  Hingga akhirnya langkah Haebin berakhir karena terhalang tembok di belakangnya. ia melihat tatapan liar Donghae terhadapnya. Oh.. jangan bilang malam ini mereka akan… tidak…

Donghae mendekat dan Haebin tidak bisa kabur lagi karena ke dua tangan Donghae diletakkan di samping kiri dan kanan kepalanya, menghalanginya.

 

Haebin tidak bisa menghindar lagi bahkan saat Donghae mulai mengunci mulutnya dengan sebuah ciuman yang liar dan menuntut. Ia tidak bisa menghindar ataupun menolaknya. Otaknya perlahan lumpuh dan mulai menikmati permainan itu. Omona.. ini sangat memabukkan.. apakah seperti ini rasanya gairah cinta? Donghae mulai bergerak lebih jauh lagi dalam menjamahi dirinya. Ia bahkan tidak bisa melawan lagi. Ia pasrah dengan semua yang dilakukan Donghae kepadanya. Malam ini, sepertinya ia akan menyerahkan dirinya pada Lee Donghae.

 

To be continued..

 

78 thoughts on “Shady Girl (Part 13)

  1. Ohh jadi yang di ambil magnae evil kartu kredit suami gue *dasar magnae evil* Rasain tuh#ketawa evil, yang sabar nnti juga di keluarin lg cuman anceman aja supaya kyu gak kyk gitu?
    Wkwkwk Appa Lee kocak dah, anak nya sendiri di kerjain wkwkw Haebin Donghae bersiap lah#plak jiahaha

  2. haha ternyata kartu kredit toh yang diambil diem” sama kyuhyun, kasian si evil hahaha
    malam pertamanya harus dijebak dulu sama tuan lee&leeteuk hahaha

  3. Hhahahaha ngakak banget pas bagian kyuhyun di tangkp polisi wkwkwk
    Semoga emang jadi malam pertama, dan mereka bkal saling terbuka-suka-lalu cinta.
    Cus ke part selanjutnya.

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s