My Girl Is Flower Boy (Part 2)

Tittle : My Girl Is Flower Boy Part 2
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : SG, School, Friendship

Main cast :

  • Jo Youngmin (Yeoja)
  • Jo Kwangmin (Namja)
  • Kim Donghyun (Namja)

Support Cast :

  • No Minwoo (Yeoja)
  • Lee Jeongmin (Yeoja)
  • Shim Hyunseong (Namja)
  • Kim Heechul (Jo Twins’s Eomma)
  • Nickhun (Jo Twins’s Appa)
  • Kyuhyun (Jo Twins’s Older brother)

 

Nah, ini dia FF aku yang gendrenya agak ngaco. Di sini Youngmin berperan sebagai yeoja yang jadi namja. *hah?* gak papa ya.. namanya juga fanfic. jadi apapun jadi. yang biasnya Youngmin maaf ya.. habis Youngmin cantik sih. jadi otak kecilku yang suka ngehayal ini gak sengaja kelintas ide FF ini. so, happy reading ^^

My Girl Is Flower Boy By Dha Khanzaki

——–o0o————

Osaka, Jepang..

 

“Shireo!!” teriak Youngmin untuk ke sekian kalinya pagi itu. Ia mendenguskan napasnya berkali-kali dengan gaya kesal. Sambil sesekali merapikan rambut pirangnya yang panjang dan bergelombang.

“Aku menolak, Papa” tegas Youngmin kembali duduk dengan gaya anggun ala putri raja. Baru saja Nickhun Jo, Appanya yang merupakan pengusaha permata kaliber dunia mengatakan tentang pernikahan.

“Jangan menolak, Jo Youngmin! Pria yang Papa jodohkan denganmu bukan pria sembarangan. Dia anak dari pemilik departement store terbesar di Korea sana”

“Aku tidak peduli. Bahkan jika dia seorang pangeran dari Negeri Seribu Satu Malam pun aku menolak! Permisi.” Youngmin dengan anggun sedikit mengangkat Kimono yang dipakainya agar bisa berjalan lebih cepat.

“Jo Youngmin!!!” teriak Nichkhun namun tak digubris oleh putrinya itu.

 

Cukup! Youngmin menolak untuk berdebat lagi. Ia segera menarik dirinya dari perbincangan itu. Kimono yang dipakainya membuat ia kesulitan bergerak. Namun ia tetap bersikeras lari meskipun harus mengangkat kimono itu hingga setinggi lututnya. Hatinya kesal. Sangat kesal. Sudah sampai di sini Sang Papa ikut campur tangan dalam urusan hidupnya. Ia bukan boneka yang bisa diatur sesuka hati. Ataupun robot yang akan menurut dengan mengaturnya lewat remote control.

“Apa Papa lupa, aku ini putrinya!!” dengan rasa kesal yang memuncak Youngmin melempar bantal yang ada di kasurnya ke mana-mana. Membuat seisi kamarnya yang luas dan indah itu berantakan.

 

Youngmin kembali terisak sendirian. Ia menelungkupkan dirinya di atas kasur berseprai motif bunga sakura itu. Perlakuan sang Papa kepadanya sudah sangat keterlaluan. Dahulu, saat ia dilarang bermain basket hanya karena ia yeoja dan takut terluka ia masih bisa memakluminya. Kemudian, secara sengaja Sang Papa memasukannya ke sekolah khusus perempuan hanya karena tidak mau ia dekat dekat namja sembarangan. Dan banyak sekali larangan yang harus ditanggungnya hanya karena ia YEOJA. Youngmin sudah muak dengan semua itu. Ia juga ingin sesekali merasakan hidup seperti perempuan pada umumnya. Bermain sepuasnya, melakukan banyak kegiatan di luar ruangan, dan.. merasakan jatuh cinta pada seorang namja. Tapi apa yang terjadi? Ia justru akan berakhir seperti di cerita dongeng menyedihkan. Dijodohkan dengan namja yang tak dikenalinya.

 

“Tidak. Aku adalah Youngmin. Selamanya hidupku adalah milikku. Aku yang berhak mengaturnya. Bukan orang lain.” Youngmin bertekad sambil memandangi pantulan dirinya di cermin besar setinggi dirinya. Tangannya mengepal kuat dan pandangannya menajam. Maka, detik itu juga. Setelah ia mengumpulkan semua keberanian, ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Papanya.

 

Dan negara pertama yang terlintas di benaknya adalah, Korea Selatan. Tempat seharusnya ia berada.  Youngmin membuka seluruh isi tabungannya, mengepak baju seadanya, mengambil paspor, lalu kabur dari rumahnya yang besar seperti istana itu. Penjagaan rumah itu cukup ketat. Namun bukan Jo Youngmin jika tidak bisa mengelabui penjaga-penjaga di sana. Dan akhirnya, ia bisa keluar dari rumah itu dan menghirup udara bebas.

 

#flashback end#

 

Youngmin menunduk takut melihat ekspresi tercengang yang ditunjukkan tiga orang di hadapannya. Ia sudah menceritakan semua penyebab kepulangannya kembali ke Korea. Dan di akhir cerita, ia justru menyaksikan wajah terkejut Umma, Oppa dan dongsaengnya.

“Aku kabur kemari tanpa sepengetahuannya.” Tambahnya membuat Heechul makin menegang.

“Kau gila! Appa bisa membunuh kita jika tahu kau di sini!” teriak Kyuhyun dengan tangan menunjuk Youngmin, menuduhnya bak seorang penjahat teroris.

“Nuna, aku tidak tahu kau senekat ini.” Kwangmin menggelengkan kepalalnya tak percaya.

Tundukkan kepala Youngmin makin dalam. “Aku tahu aku salah. Tapi, tidak ada tempat yang bisa kudatangin selain di sini.” Sesalnya.

 

Heechul bangkit dari tempat duduknya yang berada di seberang Youngmin, beralih duduk di samping putrinya itu. Ia memandang sendu Youngmin sejenak sebelum akhirnya memilih untuk memeluk Youngmin.

“Umma paham. Sudah. Appamu memang sedikit keterlaluan” Heechul mengusap kepala Youngmin dengan penuh kasih sayang. Seperti yang ia sering lakukan ketika dirinya masih kecil dulu.

“Jadi Umma, aku boleh tinggal di sini?” tanya Youngmin takut-takut. Kyuhyun hanya bersedekap melihatnya dan Kwangmin lebih memilih melanjutkan makannya yang tertunda dibandingkan menyaksikan adegan mengharukan itu.

“Tentu saja. Kita bisa menjadi partner yang baik. Kau tahu, Umma bosan hanya ditemani bocah-bocah namja yang manjanya minta ampun.” Heechul melirik Kyuhyun dan Kwangmin saat mengatakannya. Youngmin tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa. Ia tertawa puas. Baru kali ini ia bisa tertawa selepas ini.

“Ya! Umma, apa maksud perkataanmu??” seru Kyuhyun jengkel. Ia mendengus lalu bangkit pergi dari ruangan itu.

Heechul mendelik menyaksikan tingkah Kyuhyun. “Kau lihat, Oppamu itu sifatnya mirip sekali dengan Appamu.” Bisiknya.

 

@@@

 

“Maaf ya.. karena kamu tidak mungkin tidur bersama Kwangmin apalagi bersama Kyuhyun, Umma jadi harus memberikanmu kamar di loteng ini. Agak berantakan sih, tapi Umma akan membantumu merapikannya.”

Youngmin tersenyum samar melihat ruangan yang sangat dirindukannya. Dulu, saat masih kecil, ketika bermain petak umpet dengan Kwangmin, ia selalu bersembunyi di loteng ini karena saat itu fungsi ruangan ini adalah sebagai gudang penyimpanan baju-baju rancangan Ummanya. Tapi sekarang, ruangan yang berada di loteng rumahnya itu sudah beralih fungsi menjadi ruang pribadi Kyuhyun dan Kwangmin. Dan sekarang akan diambil alih olehnya.

“Tidak apa-apa Umma. Ini lebih dari cukup.” Ya.. harus diakui, meskipun tidak sebagus kamarnya yang ada di Jepang, namun Youngmin lebih nyaman dengan kamar ini. Youngmin melirik ke arah luar jendela, ia merasa seperti seorang putri yang berada di puncak sebuah menara istana.  Ruangan itu memang berada di lantai teratas rumah itu alias loteng. Sementara kamar Kyuhyun dan Kwangmin ada di lantai 2. Satu-satunya akses ke kamarnya pun hanya berupa tangga kayu semi permanen.

“Aku akan memulai hidup baru mulai dari detik ini..” gumamnya senang. Entah kenapa, hatinya merasa yakin bahwa setelah ini akan banyak terjadi hal menyenangkan dalam hidupnya. Ia membongkar kopernya, saat menemukan sebuah figura yang di isi oleh foto dirinya bersama Sang Papa, Youngmin tersenyum.

“Maaf, Papa. Tapi aku hanya ingin Papa mengerti. Aku ini sudah dewasa. Sudah saatnya aku menentukan hidupku seperti apa. Bukan hidup yang sudah di atur olehmu.” Youngmin meletakkan foto itu di atas meja yang ada di samping tempat tidur.

 

@@@

 

Rutinitas tetap berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Kyuhyun tengah memasukkan laptop beserta alat-alat tulis ke dalam tasnya bersiap untuk pergi kuliah. Ia melirik sejenak adik perempuannya yang sampai hari ini masih asyik dengan kegiatan ‘bermalas-malasan’.

“Youngmin, apa kau tidak bosan seharian diam di depan tv seperti itu?” Kyuhyun memprotes. Ia mendekati Youngmin yang masih asyik duduk di depan tv menonton acara kesayangannya. Youngmin menoleh, dengan mulut penuh cemilan.

“Tidak..” ucapnya sambil menggeleng. Kyuhyun mendengus.

“Setidaknya temukan kegiatan lain yang menarik”

“Oppamu benar..” Heechul yang sudah rapi dengan pakaian rapi, membenarkan ucapan Kyuhyun. Ia juga hendak berangkat bekerja.

“Apa kau akan terus-terusan diam di rumah? Sebaiknya kau juga sekolah seperti Kwangmin.”

“Mwo? Ada apa denganku?” tanya Kwangmin. Ia baru turun dan sudah memakai seragam.

 

Youngmin menoleh, menatap satu persatu anggota keluarganya. Ia juga tahu hal itu. Tapi sepertinya ia masih membutuhkan waktu untuk beristirahat.

“Araseo Umma.. itu akan kupikirkan nanti” ia diam sejenak. “Sepertinya siang ini aku akan berjalan-jalan keliling Seoul. Kalian berangkat saja. Tidak perlu mengkhawatirkanku.”

Heechul menghela napas. “Baiklah. Kalau begitu Umma pergi. jaga rumah baik-baik ya sayang..” Heechul mendekat lalu mengecup singkat kepala Youngmin.

“Hei,  Umma tidak pernah seperti itu padaku.” Protes Kwangmin. Kenapa perlakuan Ummanya terhadap anak laki-laki berbeda.

“Kau juga mau? Kemari..” Heechul lalu mengecup pelan dahi Kwangmin. Sukses membuat Kyuhyun bergidig ngeri melihatnya.

“Aigoo..” ringisnya seperti menyaksikan adegan yang menjijikan.

“Kenapa? Kau juga ingin?” tanya Heechul menggoda.

“Tidak!” tegas Kyuhyun. Ia lalu mengambil tasnya dan berinisiatif meninggalkan orang-orang yang terinfeksi virus gila itu.

 

Setelah semua orang pergi, Youngmin merenung sambil memindahkan sembarangan channel tv. Ya..ia memang harus kembali bersekolah. Bagaimanapun ia tidak mau ketinggalan pelajaran. Lagipula, sekolah di Korea.. adalah salah satu impiannya. Ia hanya berharap Ummanya tidak akan memasukkannya ke sekolah khusus perempuan seperti yang di lakukan Papanya.

 

Hari semakin siang. Youngmin melirik jam dinding. Waktu sudah mendekati tengah hari. Ia mulai bosan.

“Sepertinya aku memang harus pergi rekreasi..” gumamnya. ia beralih ke kamarnya untuk bersiap-siap. Youngmin memilih hotpants berwarna putih dengan atasan kemeja kotak-kotak berwarna pink. Youngmin mengikat rambutnya ala ekor kuda dan juga sepatu sneaker warna senada. Ia memandangi dirinya di cermin.

“Ah, jika Papa melihatku, ia pasti akan membunuhku..” gumamnya. saat di Jepang, Papa melarangnya menggunakan celana. Katanya itu sangat tidak sopan untuk seorang perempuan terhormat. Ada-ada saja.

Setelah siap, Youngmin mematut dirinya sejenak di depan cermin. Ia tersenyum puas melihat penampilannya sendiri. Tinggal di tambah topi, sempurna…

“Tidak akan ada yang mengenaliku..”

 

“Wuah.. kota Seoul memang indaaahh..” serunya sambil merentangkan tangan lebar-lebar. Setelah mengunjungi berbagai tempat yang indah, museum, taman kota, sekarang ia berada di tempat yang paling difavoritkan oleh warga kota Seoul. Namsan Tower. Youngmin mengarahkan kamera DSLRnya ke beberapa sudut yang ia anggap menarik.

 

Saat menyorot ke sebuah sudut, matanya tertarik melihat seorang namja tampan dari kameranya tengah berjalan melewati Namsan Tower. Youngmin menyingkirkan kameranya karena ingin melihat namja itu dengan mata kepalanya sendiri. Namun ternyata namja itu sudah menghilang.

“Loh, kemana dia?”

Youngmin segera menuju kearah namja tadi menghilang. Ia melihat namja itu menyebrang jalan. Entah kenapa Youngmin ingin sekali mengikutinya. Ia pertama kalinya terpesona saat melihat seorang namja.

 

Namja itu berhenti di sebuah lapangan basket. Ia mengambil bola basket yang tergeletak dekat ring. Memainkannya, mendribble, lalu melompat untuk memasukkannya ke dalam ring. Youngmin terpana melihatnya. Tak pernah ia menyaksikan aksi semenawan itu seumur hidupnya. Oh, tentu saja. Memang berapa banyak namja yang ia kenal selama di Jepang? Bisa di hitung dengan jari. Ia sampai tidak mengedipkan matanya sedikitpun. Ia segera mengarahkan kameranya membidik setiap aksi keren namja itu.

 

Saat namja itu membalikkan  badannya, Youngmin segera bersembunyi di balik pohon. Ia mengintip sebentar. Gawat, namja itu bergerak pergi. youngmin segera mengikutinya. Ia berjalan beberapa meter di belakang namja itu di antara kerumunan orang-orang yang lalu lalang di sekitar trotoar area pertokoan itu. Youngmin sampai tidak fokus ketika akan menyebrang.

“Loh, mana namja itu?” ia tidak melihat namja yang sedari tadi ia ikuti. Saat akan menyebrang,…

 

“Kyaaaaa!!!” Youngmin menjerit sekeras-kerasnya. Ia pasrah dengan apa yang akan terjadi setelah ini.

 

 

Namun tak di sangka ada sebuah tangan menariknya ke sisi jalan. Youngmin selamat dari bencana itu. Jantungnya berdetak cepat. Bukan karena ia bersyukur dirinya baik-baik saja. Tapi karena namja yang sudah membuatnya hilang konsentrasi kini berada di hadapannya.

“Gwaenchana?” tanyanya cemas. Youngmin hanya terpaku. Ternyata dari dekat namja ini tampak begitu mempesona. Namja itu tidak bisa melihat dengan jelas wajah Youngmin karena tertutup topi. Ia hanya bisa melihat rambut pirang Youngmin yang terikat dan mulai berantakan.

Youngmin mengangguk. Namja itu tersenyum lalu pergi.

 

Youngmin terpaku di tempatnya. Cukup lama sampai ia  tersadar karena ponselnya berbunyi.

 

“Moshi-moshi” jawabnya. Ia terbiasa menjawab dengan bahasa Jepang..

“Ya! Jangan berbicara denganku dalam bahasa Jepang, Nuna!” teriak Kwangmin dari ujung sana. Youngmin menegakkan badannya. Ia berusaha menjawabnya dengan tenang.

“Mianhae. Aku sudah terbiasa. Ada apa?”

“Di mana kau sekarang?”

“Aku?” Youngmin menengadahkan kepalanya ke kiri dan kanan mencari sesuatu yang bisa dijadikan penunjuk. “Di tempat yang penuh dengan toko-toko. Tak jauh dari namsan Tower.”

“Oh, aku tahu. Kita bertemu di depan taman xxx tempatnya tak jauh dari situ. Oke.” Kwangmin segera memutuskan sambungan.

Youngmin mengerutkankeningnya. “Tumben sekali dia. Sejak kapan dia menjadi rajin begini?”

Ah, masa bodoh. Yang penting ia tidak perlu pusing memikirkan jalan pulang.

 

@@@

 

“Sial! Anak itu malah terlambat!!” Youngmin menggerutu karena sudah 10 menit ia menunggu di taman itu namun sosok adiknya tak kunjung muncul juga. Ia baru akan pergi saat ia melihat Kwangmin sedang berbicara dengan seseorang. Eh, tunggu dulu, bukankah itu namja yang menolongnya tadi? Dan ia baru sadar kalau namja itu juga memakai seragam yang sama seperti Kwangmin.

 

“Siapa namja itu?” tanya Youngmin ketika adiknya sudah berada tepat di hadapannya.

“namja mana?” Kwangmin menoleh ke belakang.

“Itu, yang tadi bicara dengannmu. Dia memakai seragam yang sama denganmu.”jelas Youngmin gemas. Uuuhh.. padahal IQ adiknya ini kan tinggi. Tapi kenapa otaknya bekerja sangat lamban?

“Oh, itu, dia sunbae-ku di sekolah. Namanya Kim Donghyun.” Jawabnya. Youngmin mengerjap. Ia memegang erat ke dua bahu Kwangmin.

“Jinjja??? Itu artinya dia satu sekolah denganmu?”

Kwangmin agak meringis karena Youngmin mencengkram bahunya terlalu keras.

“I-iya..”

“Apa itu sekolah campuran?”

“Tentu saja. Seoul of Performing Art School adalah sekolah terbaik di sini.”

 

Youngmin melepaskan pegangannya. Ia membalikkan badannya dengan perasaan senang. Sekarang ia mempunyai alasan baru untuk tinggal lama di Seoul. Ia harus masuk sekolah yang sama dengan Kwangmin!

 

Youngmin tertawa keras seperti orang kerasukan setan. Kwangmin bingung melihat kakaknya mulai aneh lagi.

“Seoul of Performing Art School, I’m Coming!!!” teriaknya

 

To be continued…

15 thoughts on “My Girl Is Flower Boy (Part 2)

  1. Waaaa..cepet lanjutin thor ^^
    aq pernah baca ni FF di FB nya author(ketauan silent reader),tapi ngga pernah di lanjutin lagi,,kan jadi penasaran..
    Lagian saya suka sama karakter nya youngmin disini,,cute imut,,beda sama sifat aslinya yang sok cool berkharisma#plak fans geblek,ngatain idolanya😄

  2. Waaaa..cepet lanjutin thor ^^
    aq pernah baca ni FF di FB nya author(ketauan silent reader),tapi ngga pernah di lanjutin lagi,,kan jadi penasaran..
    Lagian saya suka sama karakter nya youngmin disini,,cute imut,,beda sama sifat aslinya yang sok cool berkharisma#plak fans geblek,ngatain idolanya😄
    yahh..walaupun dia bukan bias saya..

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s