How To Make You Jealous

Tittle : How To Make You Jealous
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Married Life, Romance
Length : Oneshoot

Main Cast :

  • Han Ji Jae
  • Lee Donghae

Support Cast :

  • Jessica Jung

Heheh.. ini sebenarnya FF special ultah abang Donghae. tapi telat gini postingnya *telat banget malah*
Maaf untuk typo dan maaf juga kalau feelnya gak dapet.

Happy Reading

How To Make You Jealous by Dha Khanzaki

———–0.0————-

*Donghae POV*

 

Orang sering mengatakan kehidupan setelah menikah itu adalah moment-moment paling membahagiakan dalam hidup seseorang. Tapi sepertinya itu tidak berlaku untukku.

 

Aku sudah menikah? Tentu saja. meskipun usiaku baru 25 tahun, aku muda, tampan dan sukses. Gadis mana yang tidak mau menikah denganku. Hanya gadis bodoh yang menolak lamaranku. Dan hanya ada satu wanita di dunia ini yang beruntung bisa menikah denganku. Namanya.. Han Ji Jae..

 

Dan seperti pagi-pagi sebelumnya, hari ini pun dia membangunkanku dengan cara yang tak biasa..
Chuupp..

 

Yah, beruntungnya aku. Setiap pagi Han Ji selalu memberiku morning kiss meskipun aku tidak pernah memintanya.

“Oppa, bangun..” tangannya membelai pipiku lembut. Aku menggeliat pelan. Mataku terbuka perlahan. Dan pemandangan pertama yang kulihat adalah wajah Han Ji yang tersenyum manis.

“Pagi..” ucapku pelan. Aku beringsut bangun lalu tersenyum padanya.

“sekarang sudah hampir siang. Oppa tidak pergi ke kantor?”

Kepalaku tertoleh pada jam weker di sisi tempat tidur. ah, sial. Sudah jam 8. Appa pasti akan memarahiku..

“Baiklah istriku..sepertinya kau berniat mengusirku dari rumah” candaku. Dia mendelik. Aish, tahukah kalian. Aku suka sekali saat dia menyipitkan matanya seperti itu. Dia sangat cantik saat merajuk seperti itu. Aku jamin, beberapa detik lagi dia pasti akan tersenyum dan bermanja-manja kembali..

“Oppa.. kau lucu sekali..” dia tersenyum lalu mencubit pipiku. “Aku memang mengusirmu..”

Setelah itu dia bangkit dan meninggalkanku.

 

Aku menghela napas berat. 2 tahun sudah aku resmi menjadi suaminya. tapi ada satu hal yang tidak aku mengerti dari istriku. Kepribadiannya.

 

Han Ji itu adalah tipe gadis yang baik, ceria, dan tidak pernah marah. Ingat, TIDAK PERNAH MARAH. Sejak aku mengenalnya—tepatnya 3 tahun yang lalu—aku tidak pernah sekalipun melihatnya berteriak marah. Aku melakukan kesalahan seperti apapun, dia tetap bisa tersenyum dan memaafkanku. Aku jadi ragu.. apa benar Han Ji mencintaiku?

 

Bahkan aku tidak pernah melihatnya cemburu. Sekalipun dia sering memergokiku sedang bersama yeoja lain..

 

—o0o—

 

Setelah selesai bersiap-siap, aku segera menuju dapur untuk sarapan bersama. Yah, bisa kutebak apa menu sarapan kali ini. Seperti biasa, pasti hanya telur goreng dan roti. Hanya itu yang bisa Han Ji siapkan. Tapi tidak masalah. Aku tetap mencintainya. Baru saja menginjakkan kaki di ruang makan,  aku mendapati Han Ji sedang menelepon seseorang.

 

“Iya Appa..jadi jangan marahi menantumu, ok. Hari ini dia akan da—hei!!!”

Aku segera saja mengambil ponsel dari telinganya. Dia ini kebiasaan. Jika aku membuat masalah pasti segera merengek pada Appanya agar tidak memarahiku. Aku tidak suka. Jika aku berbuat salah wajar saja jika Appa—mertuaku—menegurku. Harusnya ia biarkan ini terjadi agar aku bisa bekerja dengan tenang. apa dia tidak tahu bagaimana pegawai kantor menyikapi sikap Appa padaku? Mereka menyangka aku bisa bekerja santai karena Presdir mereka adalah ayah dari istriku. Dengan kata lain, nepotisme.

“Oppa..” rengeknya sambil berusaha merebut ponsel.

“Ya! Sudah berapa kali kubilang.. jangan melakukan itu. Kau ini..” dengusku.

“Tapi aku tidak mau kalau Appa sampai memarahimu. Kau ini tidak tahu betapa menyeramkannya Appa jika sudah marah.”

 

Aish, lihat sekarang.. dia malah mengerucutkan bibirnya. harusnya kan aku yang kesal. Huh.. bikin gemas saja. langsung saja kucium bibirnya yang lucu itu. Seketika pipinya merona kemerahan. Hihi.. padahal aku sering melakukannya kenapa dia masih malu-malu begini juga?

“Maka dari itu jangan berbuat aneh-aneh. Aku berbuat salah kenapa tidak di marahi. Kau tahu apa tanggapan orang lain?”

Han Ji menggeleng.

“Mereka menganggapku seenaknya. Sudah, aku berangkat sekarang. Sekarang lebih dari terlambat..” aku melirik jam. Sial, aku harus mengebut sekarang juga.

 

“Oppa, kau tidak makan???” teriak Han Ji saat aku berjalan cepat menuju pintu.

“Tidak, chagi. Aku akan makan di kantor saja..” balas ku berteriak.

 

—o0o—

 

“Kau yakin? Masih tidak ada perubahan juga?” tanya Jessica. Aku mendesah sambil menggelengkan kepala.

 

Sekarang adalah jam makan siang dan aku selalu bertemu dengan Jessica seperti biasanya. Jangan berpikir Jessica adalah selingkuhanku. Separuhnya memang benar. Tapi aku hanya meminta gadis ini menjadi selingkuhanku—hanya pura-pura—karena aku ingin tahu isi hati Han Ji yang sesungguhnya. Jessica adalah sahabatku yang sudah lama tinggal di luar negeri. Namun tahun lalu ia kembali ke Korea. Dan saat itulah aku meminta bantuannya untuk menjadi ‘teman’ ku. Tujuanku hanya satu. membuat Han Ji cemburu atau marah. Ku harap berhasil. Karena dengan begitu, aku bisa tahu Han Ji mencintaiku.

 

Tapi sejauh ini, setiap kali melihat aku bersama Jessica, Hanji tidak pernah menunjukkan ekspresi cemburu ataupun marah. Ini membuatku pusing dan lemas. Sepertinya Han Ji memang tidak mencintaiku.

 

“Kau yakin masih ingin melanjutkan sandiwara kita? Sebagai sesama wanita, aku tidak tega melakukan ini pada istrimu.” Lanjut Jessica memecah lamunanku.

“Sedikit lagi” ucapku yakin. Yah..aku memang ingin sekali melihat istriku cemburu meskipun sedikit saja.

 

Jessica meletakkan cangkir kopinya. “Lagipula apa untungnya bagimu melihat kecemburuan di wajah Han Ji? Kurang baik apa dia padamu? Han Ji tidak pernah menuntutmu melakukan ini itu, dia  juga tidak pernah marah padamu. Katakan padaku, di mana lagi kamu bisa menemukan wanita seperti istrimu sekarang? Kau ini bodoh, Lee Donghae.” tegur Jessica.

 

Aku mengerjapkan mata. Omona.. sekarang dia malah menceramahiku. Memang benar. Han Ji tidak memiliki kekurangan apapun sebagai seorang wanita. Dia cantik, tinggi semampai, badannya sexy, meskipun cerewet, tapi dia yeoja pintar, tahu tata krama, dan berasal dari keluarga berada. Pria bodoh mana yang menolak jika di ajak menikah olehnya. Sama sepertiku. Asal kalian tahu, aku menikah dengan Han Ji karena dia yang memaksaku untuk segera melamarnya. Padahal waktu itu kami masih berada di tingkat akhir sebagai mahasiswa.

 

“Kau tidak tahu rasanya. Aku memang di manja. Entah sudah berapa kali kata ‘saranghae’ keluar dari mulutnya. Bahkan dia tidak mengijinkan Appanya memarahiku jika aku berbuat kesalahan. Iya, kau benar. Aku beruntung sekali” ucapku entah bangga atau sombong. Tapi terdengar nada jengkel saat aku mengucapkannya.

 

Jessica mengangguk asal seolah tak peduli. Aish, dia pasti sudah bosan mendengar keluh kesahku yang sama setiap harinya.

“Oh God.. ternyata Lee Donghae memang bodoh. Dengar ya.. Han Ji mungkin memang tidak pernah marah. Siapa tahu itu karena didikan keluarganya sejak kecil. Dan apa kau tahu, jika seorang istri marah. Hanya 2 kemungkinan, dia tempramental atau overprotektif padamu. Lihat, Han Ji bukan keduanya. Betapa beruntungnya dirimu. Harusnya kau bersyukur.” Jelas Jessica panjang lebar. Oke, cukup, aku malas diceramahi. Bukannya bersimpati malah menusukku dengan kata-katanya. Dasar putri es!!

 

Aku membuka mulut untuk protes. Namun Jessica kembali mendahuluiku. “Aku malah bingung pada Han Ji. Apa yang dilihatnya darimu. Dia bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik darimu. Kenapa dia bisa tergila-gila setengah mati padamu? Bahkan mengetahui suaminya bersama yeoja lain pun dia tidak marah.” Ucapnya sambil mengerutkan kening.

 

“Tuh, kau tahu masalahnya. Aku yakin pasti ada yang salah dengan kejiwaan Han Ji. Apa aku harus membawanya ke psikiater?”

“Kau gila. Yang harus dibawa ke psikiater itu dirimu!! Bahkan seharusnya kepalamu itu digetok oleh palu seberat 100 kg!!”

“ah, aku sudah malas berbicara denganmu. Aku harus kembali ke kantor. Dan ingat, perjanjian kita masih belum selesai…” ucapku seraya bangkit.

“dan jangan lupa tas prada-ku..” seringai Jessica. Ah, aku hampir lupa. Aku sudah berjanji akan memberikan tas Prada untuknya jika dia mau membantuku. Dasar, dia tidak berubah sejak dulu. selalu memanfaatkanku.

“Iya, aku tahu.”

 

*Donghae POV end*

 

—o0o—

*Han Ji POV*

 

Kreeekkk..

 

Sial!! Kaleng minuman yang kupegang sekarang mulai berubah bentuk karena pengaruh cengkraman tanganku yang terlalu kuat. Segera kulemparkan kaleng kosong itu ke dalam tempat sampah, tanpa membuang waktu kutinggalkan tempat menyebalkan ini.

 

Sepanjang perjalanan aku mendengus sebal dan sekuat tenaga aku menepis rasa kesal di hatiku ini. Tahu kenapa? lagi-lagi aku melihat suamiku bersama yeoja itu!! Yeoja yang bernama Jessica itu. Aku marah? Jelas sekali. Namun aku tidak pernah sanggup memperlihatkannya pada suamiku sendiri. Karena yah.. ada alasan yang kuat kenapa aku tidak bisa melakukannya. Alasan utamanya karena aku takut..

 

Sesampainya di rumah, aku segera mengeluarkan kotak berisi berbagai macam kertas berwarna. Seperti kebiasaanku ketika sedang kesal, aku langsung saja melipat kertas-kertas itu menjadi bentuk burung bangau. Lalu menatapnya saat sudah selesai.

 

“Lee Donghae, apa aku kurang cantik di matamu? Apa aku kurang baik di matamu? Apa aku kurang kaya? Aku kurang pintar? Katakan apa yang tidak kumiliki sehingga kau memilih berselingkuh dengan yeoja itu..” ucapku berat. Aku merasakan tenggorokanku tercekat dan dadaku terasa sesak.

“Apa dia pintar memasak? Atau dia lebih romantis dariku? Dia lebih rajin atau dia tidak terlalu memanjakanmu sepertiku??” sial.. kenapa mataku terasa mengabur sekarang?? Dan tanpa izin, pipiku mulai di aliri tetesan bening dari mataku. Aku menangis.

 

Tentu saja, istri mana yang tidak sakit hati mendapati suaminya selingkuh. Donghae adalah lelaki yang begitu sempurna di mataku. Saat pertama kali bertemu dengannya, awalnya aku tidak tahu kalau aku akan jatuh cinta padanya. Dia sangat sederhana sebagai seorang namja. Aku tahu dia bukan orang biasa. Tapi dia selalu merendah dan tidak ingin menyulitkan orang lain. Aku juga tahu dia itu kesepian karena orang tuanya tinggal di luar negeri dan ia sendiri di Korea. Karena itu aku selalu memperhatikannya. Aku tidak ingin dia merasa kesepian hingga akhirnya justru aku jatuh cinta pada seorang Lee Donghae.

Semuanya terasa begitu singkat. Masih segar di ingatanku saat pertama kali aku terpesona pada namja sederhana sepertinya. Namun sepertinya semua itu adalah takdir. Pertemuan tak terduga yang berujung pada akhir bahagia.

 

Rasanya tidak percaya juga  saat aku bisa menikah dengannya. setelah aku merayunya selama 3 tahun dia bersedia juga menikah denganku. Eits, kenapa malah terkesan aku yang begitu tergila-gila pada Lee Donghae? entahlah. Tapi sepertinya namja itu memang sudah membuatku tergila-gila setengah mati. Aku sudah sepenuhnya tenggelam dalam oase pesonanya yang tumbuh subur dalam padang gersang jiwaku. Sungguh ini bukan puisi ataupun rayuan gombal. Memang seperti itulah kenyataannya.

 

Bahkan aku masih ingat betapa beratnya perjuanganku meyakinkannya untuk segera melamarku..

 

#Flashback

 

Sudah hampir 2 jam aku menunggu. Ingat, 2 jam. Sudah hampir 4 gelas Milkshake yang kuhabiskan dan namja itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya juga. Untung aku mencintaimu, Lee Donghae! jika tidak, mungkin isi caffe ini sudah ku obrak-abrik saking kesalnya.

 

“Mianhae..mianhae..hosh..aku terlambat..”

 

Senyumku merekah indah. Akhirnya namja idamanku datang juga. Perlu diketahui, tujuanku mengajaknya bertemu hari ini adalah untuk meminta jawabannya atas permintaanku 2 hari lalu. Aku memintanya melamarku.

 

“Gwaenchana..em..kau berkeringat. Minum dulu..” Aku menyodorkan milkshake ke-5 ku yang belum ku sentuh padanya.

“Kau tahu kan ayahmu.. dia benar-benar ingin segalanya sempurna..tadi dalam meeting..”

“Iya, aku paham. Sudah kubilang tidak apa-apa..” Inilah yang membuatku jatuh cinta setengah mati padanya. Dia berbeda dengan namja kebanyakan. Donghae-ku begitu polos, jujur, dan sederhana. Dan sikapnya juga yang membuatku tidak pernah bisa marah padanya.

 

Aku tahu kok seperti apa Appa-ku. Dia sangat tegas dalam pekerjaan. Dan oh iya, Donghae ini bekerja sebagai Manager perencanaan di perusahaan milik Appa. Dia masuk ke sana bukan mengandalkan koneksiku. Tapi kemampuannya-lah yang membuat Appa menerimanya untuk bekerja di sana. Dia sangat hebat.

“Jadi, bagaimana jawabanmu?” aku menopangkan dagu seraya menatap Donghae lekat-lekat. Ia sempat termenung sesaat sampai akhirnya senyumnya yang indah itu terbit.

“baik, aku akan melamarmu. Dan kita menikah satu bulan lagi.”

Mataku membulat . sungguh, ini adalah kalimat terindah sepanjang hidupku. Aku lantas berdiri, berjalan ke sampingnya, dan dengan mata berbinar aku segera memeluknya.

“Gomawo Donghae-ah.. kau sudah mewujudkan satu mimpiku..”

“Ne..” ucapnya. Kurasakan tangannya menepuk-nepuk punggungku.

#Flashback end

 

Donghae benar-benar melakukannya. Ia melamarku keesokan harinya. Appa sempat terkejut saat Donghae bilang ingin menikahiku sebulan kemudian. Tapi aku memasang tampang memelas padanya dan sukses membuat kedua orang tuaku luluh lantak dan menyetujui permintaan Donghae. Mereka memang sangat menyayangiku.

 

Sekarang pun, jika aku sudah mengatakan pada Appa agar tidak memarahi Donghae, Oppa sungguh melakukannya. Kenapa? karena Appa tidak ingin aku sedih melihat Donghae menderita di kantor.

 

Sekali lagi, memang apa kekuranganku? Padahal aku sudah berusaha tampil secantik dan seseksi mungkin demi dirinya. Kenapa dia tidak meninggalkan wanita itu juga? Oh, apa dia bosan sudah menikah denganku? Atau ada yang tak memuaskan dari diriku?

 

Aku tidak bisa memasak? Itu kah yang membuatnya malas memakan sarapan yang kubuatkan? Baiklah, aku akan belajar memasak.

 

Hatiku ini masih terasa sakit. Karena itu aku terus saja melipat kertas sampai hatiku benar-benar tenang.

 

*Han Ji POV end*

 

—o0o—

 

*Author POV*

 

Han Ji bertekad, ia ingin menjadi wanita yang diidamkan Donghae. ia ingin tahu apa yang Donghae lihat dari yeoja bernama Jessica itu. Lebih cantik? Tidak juga. Pasti ada sesuatu yang membuat Donghae mengalihkan perhatiannya pada Jessica.

“Wah, tumben makan malamnyamewah sekali?” tanya Donghae takjub. Han Ji tersenyum manis. Dia meminta Donghae duduk di salah satu kursi dan meletakkan mangkuk nasi di hadapannya.

“Kau memesan makanan di mana?” Donghae penasaran sekali. Dia belum pernah melihat masakan seperti ini sebelumnya.

“Aku membuatnya sendiri Oppa, cicipilah..” ucap Han Ji. Donghae tercengang. Ia tak percaya begitu saja dengan ucapan istrinya.

“Yang benar? Kau belajar memasak?” Donghae jujur saja terkejut sekali. Ini adalah sesuatu yang tak pernah di sangkanya. Seorang Han Ji Jae, yeoja yang tidak suka berlama-lama tinggal di dapur belajar memasak?

Han Ji tersenyum. “Tentu saja. aku tidak suka Oppa makan di luar. Jadi lebih baik aku belajar memasak”

“Aigoo..kau manis sekali..gomawo..” Donghae bangkit lalu mengecup pipi istrinya. Sejujurnya setelah semua yang dilakukan Han Ji, ini adalah yang paling membuatnya terharu.

 

Donghae mencicipi masakan yang di buat Han Ji satu persatu. Meskipun rasanya belum seenak buatan para chef di restoran mahal, tapi ini sudah sangat lumayan. Tanpa sengaja ia melirik tangan Han Ji yang tidak semulus biasanya. Dia berhenti makan.

“Tanganmu kenapa?” tanya Donghae curiga. Han Ji segera menarik tangannya.

“tidak apa-apa.”

“Bohong. Ulurkan!!” perintahnya tak sabar. dengan pelan dan takut Han Ji mengulurkan tangannya ke arah Donghae. seketika namja itu terbelalak. Ia melihat tangan Han Ji terluka di beberapa bagian dan terdapat bekas terkena cipratan minyak panas.

“Ini tidak masalah Oppa. Tenang saja.” ucap Han Ji menenangkan begitu melihat muka suaminya pucat pasi.

 

Tidak ada suara yang keluar dari mulut Donghae. namja itu langsung bangkit pergi. han Ji menundukkan kepalanya. ia yakin Donghae pasti marah.

 

“Ulurkan tanganmu..” tak di sangka Donghae kembali lagi membawa kotak P3K. Han Ji sempat terkejut melihat Donghae mengobati tangannya.

“Kenapa kau belajar masak sampai seperti ini? Seharusnya, jika memang tidak bisa jangan  diteruskan..” ujar Donghae.

“Aku ingin membuatmu terkesan Oppa..” ucap Han Ji pelan.

“Terkesan?” Donghae mulai mengangkat kepalanya dan menatap mata Han Ji. “Kenapa?”

“Akhir-akhir ini Oppa dingin sekali padaku. Aku takut Oppa akan pergi meninggalkanku. Jadi, mungkin jika aku bisa memasak, Oppa akan sering berada di rumah..”

 

Donghae terdiam beberapa saat. Ia melihat kesungguhan di mata istrinya. Tak ada jawaban. Setelah selesai mengobati Han Ji, Donghae memasukkan obat kembali ke dalam kotak P3K lalu pergi.

 

Han Ji terdiam. Apa tindakannya salah? Bukankah ia memang tidak mau  Donghae pergi ke pelukan Jessica? Lalu apa yang membuat Donghae marah?

 

Tanpa sepengetahuan Han Ji, di dalam kamar Donghae merenung sendirian. Hatinya sakit sekali. Ia merasa sangat bersalah melihat Han Ji begitu berusaha demi dirinya padahal ia tidak pernah meminta Han Ji melakukannya. Ia mencintai Han Ji apa adanya. Tapi kenapa ia malah menyakiti Han Ji?

 

Mungkin Han Ji memang tidak pernah mengatakannya secara langsung, namun Donghae yakin istrinya itu marah atas ‘perselingkuhannya’ itu. Tapi kenapa Han Ji tidak meluapkan emosinya saja? memarahinya atau mungkin menamparnya. Dengan begitu ia tahu bahwa Han Ji hanyalah wanita biasa. Dan pada saat itu pula ia akan memutuskan untuk menyudahi rencana konyolnya itu.

 

—o0o—

 

*Han Ji POV*

 

Nenekku pernah bilang, jika aku sudah menikah semarah apapun aku pada suamiku, jangan pernah meluapkannya pada suami. Dan beliau menyarankan saat aku marah agaraku membuat burung origami untuk meredakan amarahku. Dan entah sudah berapa banyak burung origami yang kubuat. Semua ini karena Lee Donghae!! dan aku berharap bisa menyelesaikannya hingga jumlah seluruhnya seribu buah.

 

Sesuai dengan sebuah legenda di Jepang, jika kita membuat burung origami berjumlah seribu buah dan menggantungkannya di beranda rumah dan membuat satu permohonan, maka permohonan itu akan terkabul.

 

Dan ku harap Donghae Oppa berhenti berselingkuh dan kembali padaku.

 

Tapi…

 

Suamiku yang bodoh namun kucintai setengah mati itu terus saja berbuat ulah meskipun sudah beberapa kali tertangkap basah olehku. Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?

Segala macam cara sudah kulakukan untuk membuatnya berhenti menyakitiku.

 

“Akh..” aku merasakan kepalaku sakit sekali. Sebenarnya aku sudah merasakan gejala aneh ini beberapa hari yang lalu. Tapi karena terlalu memikirkan Donghae Oppa, aku tidak menghiraukannya. Dan sekarang rasa sakitnya semakin terasa.

 

Pandanganku mulai berkunang-kunang. Dan kepalaku rasanya tertimpa sesuatu yang berat hingga akhirnya aku jatuh tak sadarkan diri.

 

Hening.. hitam..berangsur-angsur terlihat cahaya putih menyeruak masuk celah-celah mataku. Aku terbangun dan mendapati diriku terbaring di ruangan putih. Dan apa ini..ada selang infus tertempel di tanganku. Rupanya aku ada di rumah sakit.

 

“Kau sudah bangun..” seru seseorang. Aigoo..ini dia wajah yang amat kurindukan. Donghae Oppa tersenyum bahagia melihatku sudah tersadar kembali.

“Oppa..” suaraku serak sekali. “Kenapa aku di sini??”

“Kau jatuh pingsan di rumah saat aku pulang. Han Ji-ah..kau ini kenapa? dokter bilang kau stress berat.” Tangannya mengusap-usap keningku. Aku terdiam menatap wajah khawatirnya. Aku stress kan karena dirimu, bodoh.. batinku. Tapi mulutku terkatup rapat. Aku tidak sanggup memarahinya. Aku takut mendengar pada cerita nenekku bahwa seorang suami akan bosan pada istrinya jika istrinya itu tempramental dan terlalu mengekang. Aku takut Donghae Oppa akan meninggalkanku.

 

Akhirnya hanya airmataku yang keluar. Donghae Oppa mengerjap dan langsung mengusap airmata di pipiku.

“Ada apa, chagi? Apa aku membuat kesalahan? Ceritakanlah..aku tidak suka melihatmu menderita sendirian seperti ini..” ucapnya khawatir. sejujurnya dadaku sesak sekali. Aku harus mengatakannya sekarang. Aku juga tidak mau terbebani sendiri. Aku harus menanyakan apa kekuranganku hingga dia berselingkuh di belakangku.

“Oppa..katakanlah apa yang membuatmu tidak puas padaku?” tanyaku sehalus mungkin. Aku tidak ingin membuatnya tersinggung.

 

Donghae Oppa terbelalak kaget. “Apa maksudmu? Kau sudah sangat sempurna sebagai istriku, chagi..”

“Lalu kenapa Oppa berselingkuh dengan yeoja bernama Jessica itu? Apa dia memiliki sesuatu yang tak kumiliki?”

 

Mulut Donghae Oppa langsung terkatup rapat. Segurat rasa bersalah tampak sekali di wajahnya.

“Sejujurnya aku tidak paham. Aku sudah melakukan segala cara agar Oppa tidak berselingkuh. Tapi kenapa oppa..” sial..aku mulai terisak. Air mata ini tak henti-hentinya keluar.

Donghae Oppa langsung bangkit lalu memelukku. “Mianhae..mianhae..” tangannya tak henti-hentinya mengusap rambutku.

“Aku sudah bersalah padamu, Han Ji-ah.. maaf..” donghae Oppa melepaskan pelukannya.

“Sebenarnya aku berselingkuh karena ingin melihatmu marah. Tapi tak kusangka aku malah membuatmu seperti ini”

“Marah.?” Tanyaku terkejut. inikah kekuranganku? Aku tidak pernah marah? Karena itu?????? Ini sangat tidak masuk akal..

“Aku pikir kau tidak menyayangiku karena kau tidak pernah marah. Maaf..” Donghae Oppa menggenggam tanganku erat.

“Jadi Oppa berpikir jika seseorang marah atau cemburu itu membuktikan bahwa dia mencintai pasangannya? Pikiranmu ini kekanakan sekali..” ucapku. Donghae Oppa menundukkan kepalanya.

 

“Bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu, Oppa. Apa semua yang kulakukan belum juga membuktikan bahwa aku ini sangat mencintaimu?  Jadi, aku harus marah dulu lalu bisa membuatmu percaya?” tanyaku dengan suara tercekat. Aku sedih sekali. Ternyata Oppa melakukan ini semua hanya ingin melihatku berteriak marah padanya?

Donghae Oppa menggeleng keras. “Tidak. Aku yang salah. Maafkan aku. Tentu saja aku tahu kau sangat mencintaiku dan aku juga melakukan sandiwara itu karena aku sangat mencintaimu..”

 

Donghae Oppa mendekat lalu mencium bibirku dengan lembut. Kali ini aku merasakan ciumannya penuh dengan cinta.

 

“Jadi, apa Oppa akan menyudahi sandiwara konyolmu itu?” tanyaku kemudian. Donghae opp tertawa lalu mengangguk.

“Tentu saja istriku yang cantik. Jessica hanya sahabatku. Aku meminta bantuannya untuk membuatmu cemburu. Dan sekarang aku sudah menghentikannya. Bukankah aku sudah memiliki istri sempurna?” ucapnya membuatku tersenyum. Ah, Donghae Oppa memang selalu membuat ku terkejut.

 

Besoknya, setelah aku keluar dari rumah sakit Donghae Oppa mengajakku bertemu dengan Jessica. Ternyata gadis itu memiliki hati yang baik. Dia bercerita bahwa sudah berapa kali dia memperingatkan Donghae Oppa agar tidak menyakiti istri sebaik diriku. Dan mendengarnya membuatku ingin sekali menjitak kepala suamiku itu. Huuh.. sandiwara mereka memang berhasil membuatku cemburu berat. Namun aku tidak mengungkapkannya pada Oppa.

 

—–

 

“Ini apa?” tanya Donghae Oppa bingung melihat di beranda rumah yang tidak pernah di singgahinya selama tinggal di sini, sudah penuh dengan seribu burung origami yang di gantung. Aku selalu melarangnya kemari. Karena ini adalah tempat privatku di lantai 2 rumah kami ini.

“Aku ingin mengajukan permohonan Oppa. Legenda Zuru mengatakan bahwa dengan menggantung seribu burung akan mengabulkan satu permintaan.” Ucapku memandang senang burung di hadapanku.

Donghae Oppa tertawa pelan lalu memelukku dari belakang. “lalu apa permintaanmu?”

 

Aku menangkupkan tangan dan mulai berdoa. Setelah itu aku menolehkan kepalaku ke samping, untuk membisikkan sesuatu padanya.

 

“Aku ingin Donghae junior, Oppa..” bisikku. Matanya melebar begitu mendengar permohonanku. Ia tersenyum kemudian.

“Permintaanmu kukabulkan..” ucapnya dengan seringaian lebar. Aku bergidig melihatnya. Dan tiba-tiba saja Donghae Oppa menarikku ke dalam rumah.

“Oppa.. kau mau apa???” pekikku mencoba melepaskan cengkraman tangannya.

“mau apa lagi? Bukankah kau ingin Donghae junior? Ayo kita buat..”

“Mwo???”

 

Baiklah, sekarang aku akui bahwa kehidupan setelah menikah itu..100% menyenangkan.. hahaha..—Donghae–

 

THE END

 

 

 

111 thoughts on “How To Make You Jealous

  1. Baru minta ijin masa, reader baru thor..😀
    mian thor, jeongmal..
    ijin baca smua ff.a ya thor

    sekali lagi, sk bgt sm alur.a yg ga terburu”.. daebak thor (y)
    Dongeee cara lu aneh pisan bang, pan kasian Han Ji.. tp, Han Ji jg rsa takut.a itu lo.. ckck suka semua.a deh (y)(y)

  2. Suka sama ff nya sumpah!! Haha.. Aneh juga ya si han ji. Kalo jadi hanji mah udah gue gebugin tuh donghae nya. Ya ampun

  3. Aku reader baru Author, slm kenal dan ijin main2 di blog ini yak…😉

    Ff nya keren Author, ini ff pertama yg ku baca di blog ini cz ada cast bang ikan… Suka banget dongek disini, meski sdikit kurang masuk akal karena pengen istri marah untuk ngeyakinin cinta, pdhal di luar sana banyak suami yg gak sanggup di cerewetin istri😀
    Tp itulah istimewanya bang Ongek😀

    Yang endingnya co cweet… Di lanjut seru tuh Author… Dongek junior …🙂 :*

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s