Shady Girl (Part 12)

Tittle : Shady Girl Part 12
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Married Life, Romance

Main Cast :

  • Park Haebin / Lee Haebin
  • Lee Donghae

Support Cast :

  • Leeteuk
  • Choi Siwon

Udah bosen baca FF ni? wah, sebaiknya jangan dulu deh. soalnya masih panjang banget partnya. Tanpa membuang waktu, check this out lah..

Shady Girl by Dha Khanzaki

———0.0———

Part 12..

“Kenapa kau datang kemari? Apa kau bosan berada di rumah?” tanya Donghae acuh tak acuh sambil melipat tangannya di depan dada. Haebin tidak mau ambil pusing dengan sikap Donghae yang dingin. Ia menarik Donghae agar duduk di sofa untuk tamu yang ada di sana.

“Aku membawakan makan siang untukmu, ku dengar kau tidak pernah pergi ke luar untuk makan.” Haebin membuka bekal makan siang yang tadi dibuatnya.

Donghae mengerjap takjub melihat bekal yang dibuat Haebin. itu semua adalah makanan kesukaannya. Dari mana ia tahu?

“Hehehe.. aku dengan Oppa suka sekali Kimbab. Jadi aku membuatkannya khusus untukmu. Silakan dinikmati, Oppa. Aku yakin sekarang kau belum makan siang kan?”

Donghae malu mengakui bahwa sekarang perutnya sedang meronta-ronta meminta asupan makanan. Ia hanya diam menatap makanan di hadapannya. Biasanya ia memang malas sekali makan dan hanya minum segelas kopi untuk menghilangkan rasa laparnya.

Haebin memberikan sumpit pada Donghae sambil tersenyum. “Makanlah Oppa. Mulai sekarang aku akan rajin membawakanmu makan siang agar suamiku tidak jadi kurus seperti tengkorak hidup. Kau tahu Oppa, terlalu banyak Kafein tidak baik untuk kesehatan tubuh dan kejiwaanmu.”

Donghae menghela napas, ia malas sekali mendengar orang menceramahinya seputar kesehatannya. “Huh, kau ini seperti Kim Kibum no.2. selalu merecokiku soal kesehatanku.” Ia mengeluh.

“Aku paham. Dia melakukannya karena menyayangimu.”

Donghae kembali menatap Haebin setelah mendengar ucapannya tadi. Apa tadi yang dikatakannya? Apa mungkin Haebin melakukan ini juga karena menyayanginya? Hahaha.. tidak mungkin.

Donghae menyerah setelah perutnya kembali berbunyi. Ia mengambil sumpit lalu mulai menyuapkan sepotong kimbab ke mulutnya hingga penuh. Ia mengunyahnya perlahan, sesaat kemudian  ia terdiam. Rasa ini, ia mengenalnya. Kenapa makanan yang dibuat Haebin bisa sama rasanya seperti yang pernah dibuat So Yeon untuknya dulu? Mengingatnya, tanpa sadar mata Donghae mulai berkaca-kaca.

“Kenapa? Tidak enak ya?” Haebin cemas melihat ekspresi Donghae. Namja itu menggeleng.

“Ani.” Ia berusaha menormalkan kembali ekspresinya yang sempat tercengang tadi.

“Siapa yang mengajarimu membuat ini?” Donghae memilih mengalihkan perasaannya dengan mengajukan pertanyaan.

“Ibuku.”

Gerakan makan Donghae kembali terhenti. Bahkan jawabannya pun sama. Kenapa, ada apa ini sebenarnya? Ia menatap Haebin yang kini sedang menerawang, memikirkan sesuatu. Kenapa sekarang ia merasa melihat So Yeon dalam diri Haebin? buru-buru Donghae menepis pemikiran itu. So Yeon adalah So Yeon. Mana ada orang yang bisa menyamainya di dunia ini. Tidak ada.

Donghae kembali melanjutkan makannya dalam diam.

“Sebenarnya ada apa denganmu hari ini? Kau aneh.” Ucap Donghae tiba-tiba. haebin mengerjap.

“Ada apa denganku? Aku baik-baik saja.” Haebin berusaha bersikap biasa saja. Padahal dalam hati ia takut. Takut kalau Donghae akan berpikir yang tidak-tidak tentangnya.

“Tadi pagi kau mendadak bertingkah agresif padaku. Lalu sekarang, kau membawakanku bekal. Ini sangat mencurigakan. Apa Appa yang menyuruhmu begitu?” pandangan Donghae terhadapnya kini menajam. Jelas sekali ia curiga.

Haebin menegang di tempat duduknya. “Ini tidak ada hubungannya dengan Appa.” Elak Haebin tegas. Donghae meletakkan sumpit ke atas meja dengan keras. Emosinya mulai bangkit.

“Kalau begitu berhentilah bersikap seperti itu! Kau tahu, kau sangat menggangguku!” ujarnya dengan suara tinggi. Haebin terperangah, ia sangat terkejut karena kalimat Donghae tadi terdengar seperti sedang membentaknya.

“Memangnya salah aku berbuat seperti itu? Aku sekarang istrimu, Oppa” Haebin membela diri.

“Lalu kenapa? Apa itu artinya kau boleh berbuat seperti itu padaku? Bagaimanapun kita menikah karena Appa yang memintanya! Kau tidak berhak melakukan apapun terhadap kehidupanku!”

Kata-kata Donghae tadi sangat menyinggung perasaan Haebin. matanya sempat terbelalak sebelum akhirnya pandangannya mulai mengabur karena airmata. Haebin berdiri, ia memandang donghae dengan pandangan lirih.

“Kenapa kau bisa mengatakan itu padaku? Memang apa salahku padamu?”

Donghae balas menatap Haebin. “Banyak.” Tegasnya. Ia lalu berdiri.

“Kau ingin aku menyebutkannya satu persatu?” tanyanya sarkastis, mendesak Haebin mundur.

Haebin tidak menjawab, hatinya terasa di sayat-sayat melihat tatapan mata donghae yang menyiratkan perasaan terluka. Karena Haebin tidak merespon ucapannya, ia melanjutkan.

“Kenapa kau mau menikah denganku? Kenapa kau bersikap baik padaku padahal aku berusaha untuk tidak mempedulikanmu? Dan terakhir, kenapa kau muncul dalam hidupku?” ujar Donghae tajam.

Haebin tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia mulai menangis. “Yang harus disalahkan itu Ayahmu, Lee Donghae! Dia yang membawaku ke kehidupanmu! Ia tidak mau melihat kau terus seperti ini.” Haebin diam sejenak. “Harusnya Ayahmu bukan menyuruhmu untuk menikah jika ingin mengembalikanmu seperti dulu! Harusnya ia membawamu ke psikiater..!!!” teriak Haebin di hadapan Donghae.

Sesaat kemudian Haebin menyadari sesuatu. Ia terdiam. Donghae masih menatapnya, ia juga terkejut mendengar ucapan Haebin tadi.

Yah.. sekarang Haebin mengetahui alasan kenapa Tuan Lee ingin menikahkannya dengan Donghae. Sekarang bukankah ia sedang kuliah psikologi, apa mungkin Tuan Lee bermaksud meminta pertolongannya untuk membantu menyembuhkan luka dalam hati donghae tanpa perlu memaksa Donghae pergi ke psikiater ataupun psikolog?

Kepala Haebin mendadak pusing, pandangannya mengabur bukan karena airmata, tapi karena kepalanya tiba-tiba saja begitu sakit. Donghae melihat keanehan itu, rasa kesalnya hilang tergantikan oleh rasa cemas dan panik.

“Kau kenapa?” Donghae meraih tangan Haebin saat gadis itu mulai agak terhuyung.

“Tidak apa-apa” Haebin melepaskan tangannya. Setelah kesadarannya mulai pulih kembali, ia segera meraih tasnya dan pergi tanpa pamit lebih dulu. Ia ingin pergi dari ruangan yang membuatnya sesak itu. Ia ingin mencari udara segar.

Donghae ingin sekali mencegah Haebin pergi. Entah kenapa kini ia merasa bersalah sudah menyalurkan semua amarah yang selama ini dipendamnya pada Haebin. terlebih setelah melihat ekspresi dan mendengar kata-katanya. Appanya ingin mengembalikannya seperti dulu? Memang sekarang ia seperti apa? Seburuk itukah sikapnya sekarang?

Donghae duduk di sofa yang tadi di tempatinya. Ia memegang kepalanya yang sedikit berdenyut. Mengingat semua tingkahnya setelah kematian So Yeon, Donghae tersenyum pahit.

“Dia benar, aku memang harus ke psikiater.” Ucapnya lirih.

Sepeninggal So Yeon, hidupnya memang berubah 180 derajat. Dia seperti membawa pergi semua kebahagiaan yang dimilikinya. Ia hanya bisa menyesal dan memendam semua emosinya dengan berdiam diri dan menyibukkan diri dengan pekerjaan. Perhatiannya teralih pada bekal Haebin yang masih tergeletak di atas meja. Ia ingin mencicipinya lagi, setidaknya ia ingin merasakan kembali rasa yang sangat disukainya dulu. Saat menghabiskannya satu persatu, ingatan Donghae terlempar kembali ke masa lalu, saat ia dan So Yeon sering makan bersama di sela-sela waktu istirahat kerja. So Yeon selalu membawakannya bekal, sama seperti yang dilakukan Haebin hari ini. Tuhan.. kenapa kenangan itu kembali terlintas padahal ia sudah lama ingin melupakannya..

“Apa Haebin sudah makan?” mendadak otaknya tertuju pada Haebin.

@@@

Air jernih dan cahaya matahari sore yang terpantul dari permukaan sungai tidak membuat perasaan Haebin membaik. Benaknya kembali terpikir pada kata-kata Donghae yang terasa amat memukul hatinya itu.

“Kenapa kau mau menikah denganku? Kenapa kau bersikap baik padaku padahal aku berusaha untuk tidak mempedulikanmu? Dan terakhir, kenapa kau muncul dalam hidupku?”

Haebin membuang napasnya yang terasa menyesakkan dada. Pandangannya kembali menatap air sungai yang ada di bawahnya. Tangannya bersandar pada pagar pembatas jembatan itu.

“Memang aku tidak boleh bersikap baik padanya?” gumamnya. Ia terdiam kembali. Mengingat Tuan Lee yang begitu ingin agar ia menikah dengan Donghae, mengingat sikap dingin Donghae, membuat Haebin tersenyum samar. Entah ia harus senang atau tidak.

“Appa menginginkanku bisa mengobati luka di hatinya sebagai psikolog, bukan sebagai istrinya? Lucu sekali.”  Apa memang itu alasannya?

Kriuukkkk..

Haebin memegangi perutnya yang berbunyi. Ia baru tersadar kalau hari ini dia belum makan lagi selain sarapan tadi pagi.

“Emh.. gara-gara sibuk menyiapkan makan siang untuk Oppa, aku jadi lupa makan. Pantas saja tadi aku pusing.”

Matahari sudah mulai bergeser turun. Haebin sekarang sedang berjalan mencari restoran untuk makan.

“Haebin-ssi?” tanya seseorang. Haebin menoleh. Ia tersenyum hangat mendapati Siwon sedang berdiri di dekatnya.

“Siwon-ssi, sedang apa di sini?”

“Jalan-jalan. Mencari inspirasi. Kau sendiri?”

Haebin menggaruk kepalanya. “Ah, sebenarnya..” Haebin belum menjawab, perutnya sudah berbunyi lebih dulu. Keduanya sempat terpaku beberapa saat sampai kemudian Siwon tergelak.

“Hahaha. Aku tahu, kau pasti lapar kan? Ayo, aku tahu tempat yang bagus untuk makan.” Tawarnya. Pipi Haebin memanas, ia malu sekali. Ia menggerutu sendiri sambil mengikuti Siwon di belakangnya.

“Kau pasti mencari inspirasi untuk rancangan arsitekturmu.” Tebak Haebin seusai menikmati hidangannya. Kini mereka sedang berbicara santai di temani minuman hangat.

Siwon mengangguk sambil menyeruput Capucino panasnya. “Suamimu terus memaksaku membuat rancangan ulang proyek barunya. Kau tahu, dia itu sangat cerewet jika menyangkut masalah pekerjaan. Hah, aku jadi tertekan karena ulahnya.” Siwon mengeluarkan semua keluhannya.

Haebin terkekeh pelan. “Benarkah? Aku ingin sekali melihatnya saat sedang cerewet.” Haebin kemudian hanya mengeluarkan seulas senyum tipis. “Dia selalu dingin di depanku.”

“itu karena dia belum bisa menerima kehadiranmu. Nanti jika sudah terbiasa, perlahan kau akan mengetahui seperti apa dia.” Jelas Siwon.

Haebin menundukkan kepalanya, ia kembali teringat kejadian di siang tadi.

“Tapi kenapa rasanya aku jadi tidak percaya diri begini ya? Sepertinya kehadiranku malah menjadi beban baginya.”

“Maksudmu?” Siwon mengerutkan keningnya.

“Donghae Oppa.. dia..” suara Haebin semakin berat, ia berusaha mengendalikan emosinya lagi. Ia tidak mau menangis di depan orang lain.

“Apa yang sudah dilakukan Donghae padamu? Apa dia bertindak kasar?” cecar Siwon panik. Dia memang tipikal orang yang cepat panik.

“Tidak” Haebin menahan perasaannya “Sudahlah, ini bukan masalah besar.” Haebin tersenyum.

Siwon tahu Haebin memendam emosinya sendiri. “Jika ada masalah, jangan kau pendam sendiri. Kau bisa menceritakkannya padaku. Meski aku belum tentu bisa membantumu,setidaknya perasaanmu bisa sedikit lega kan.” Perkataan Siwon ada benarnya juga. Haebin sekarang memang butuh tempat untuk berbagi.

Haebin menarik napas sebelum menceritakan perasaannya.

“Siwon-ssi, bagaimana kau bisa sabar berharap seseorang yang belum tentu menyukaimu agar bisa menyukaimu?”

Siwon membelalakan matanya. Ia merasa pertanyaan Haebin telah menyinggungnya. Mendadak ia teringat pada sosok Tiffany Hwang, yeoja yang sampai saat ini tetap dinantikannya meskipun gadis itu mungkin sekarang sudah melupakannya.

“Aku..” Siwon terdiam. Ia menatap Haebin dengan tatapan sendunya. Ia selalu menjadi namja sensitif setiap kali menyangkut soal Tiffany

—–o0o—-

“Maaf, apa pertanyaan tadi menyinggungmu?” tanya Haebin takut-takut setelah melihat ekspresi Siwon.

“Tidak. Tentu saja tidak.” Siwon menepis pikirannya sendiri. Dia harus fokus. Sejenak suasana hening. Siwon sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Tentang sabar.. kau bertanya kenapa aku bisa tahan suka pada satu orang yang belum tentu menyukaiku?”

Haebin mengangguk ragu.

“Apa kau tahu sesuatu tentang cerita asmaraku?” tanya Siwon. Matanya yang setajam elang itu menatap Haebin. “Soal Tiffany Hwang?”

“Sedikit. Aku mendengarnya dari Sungmin Oppa” aku Haebin.

“Ah, tidak heran kalau kau bertanya seperti itu padaku.” Siwon tersenyum pahit.

Haebin menundukkan kepalanya berkali-kali. “Mianhae. Aku tahu tidak sepatutnya aku bertanya hal sensitif seperti itu.”

“Haebin-ssi, kenapa kau selalu merasa bersalah begitu?” Siwon tersenyum pelan, ia tidak suka melihat orang yang selalu merasa bersalah seperti itu. “Baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu.” Ia menarik napas sejenak sebelum memulai bercerita.

“Jika kau memang sudah mendengar cerita tentangku, kau pasti akan bertanya-tanya kenapa aku bisa bersabar sampai detik ini, mengharapkan seseorang yang tidak menyukaiku. Bukankah seharusnya aku menyerah saja?”

Haebin mengangguk.

“Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi aku hanya berpikir bahwa aku menyukainya. Menunggunya menyukaiku memang hal yang melelahkan, tapi selama kau melakukannya dengan senang hati, hatimu tidak akan terasa sakit ataupun lelah.”

Jawaban yang begitu sederhana. Cara Siwon mengatakannya pun tidak tampak ragu sama sekali.

Haebin sempat tertegun untuk beberapa detik lamanya.

“Sesederhana itukah?” Mata Haebin membulat, terkejut sekaligus heran. Ditatapinya sekali lagi ekspresi Siwon, mencoba mencari keraguan dari matanya. Namun, sekeras apapun ia berusaha, keraguan itu tak ditemukannya. Tak terlihat ada beban ataupun keraguan dari raut mukanya. Dia serius.

Memang seperti itulah sikap Siwon dalam menghadapi kenyataan. Rasa sakit saat cinta tulus yang ditujukan untuk seseorang tidak terbalas dan malah terabaikan, Siwon tidak menampakkannya sama sekali.

Siwon menganggukkan kepalanya ringan. “Saat kau sudah menyukai seseorang, semua hal yang kau lakukan untuknya bukanlah sebuah beban, tapi merupakan salah satu caramu untuk bahagia.” Seulas senyum ringan namun menyiratkan perasaan yang dalam terbit di wajahnya. Membuat Haebin tersentuh. *Bener banget Bang Wonnie, itu yang Author rasain buat Oppadeul Suju. #abaikan*

Haebin perlahan tersenyum.

“Aku yakin siapapun yeoja yang kau sukai, dia pasti akan menangis terharu jika mendengar apa yang kau ucapkan tadi.”

Siwon membalasnya dengan senyum juga. “Kuharap begitu.”

Haebin menarik napasnya, ia merasa sedikit lega setelah mendengar saran yang bagus darinya.

“Siwon-ssi, gomawo” ujar Haebin pelan.

“Aku senang bisa membantu.”

@@@

Bulan sudah muncul saat Haebin tiba di rumah yang besar itu. Ia menghela napas sebelum masuk ke dalamnya.

“Aku harus kuat!” tekadnya pada diri sendiri. Yah.. setelah ini, sikap apapun yang akan ditunjukkan Donghae padanya, ia tidak akan kalah. Kelak, ia pasti berhasil melelehkan kebekuan dalam diri namja itu.

“Kenapa baru pulang sekarang?” langkah Haebin terhenti ketika mendengar suara yang dingin dan berat dari arah belakangnya. Ia membalikkan badannya perlahan. Keadaan lorong rumah saat itu remang-remang. Hanya cahaya bulan yang menerobos masuk dari balik jendela yang menjadi penerangan di lorong itu.

“Donghae Oppa..” tanya Haebin ragu. Ia menyipitkan matanya untuk melihat sosok namja yang sekarang sedang bersandar di dinding sambil melipat kedua tangannya itu.

“Kau pikir siapa lagi.” Ujarnya ketus. Ia mendekat. Barulah Haebin bisa melihat dengan jelas wajahnya saat terkena cahaya bulan. Ternyata memang Donghae.

Haebin membelalakkan matanya. “Oppa sudah pulang? Ini kan baru jam 8” Haebin kaget lalu melirik jam tangannya. Waktu memang menunjukkan pukul 20.12 malam. Rasanya aneh Donghae sudah pulang sebelum jam 10.

Gantian kini Donghae yang menyipitkan matanya, ia menatap intens yeoja di hadapannya itu.

“Memang tidak boleh aku pulang lebih awal? Lagipula darimana saja kau jam segini baru pulang? Atau setiap hari kau memang selalu pulang malam seperti ini?” introgasinya seperti seorang polisi.

Mulai keluar lagi Donghae yang bermulut tajam dan berhati sedingin es. Haebin tetap harus sabar dan menghadapinya dengan senyum.

“Aku hanya jalan-jalan. Apa Oppa sudah makan? Aku bisa menyiapkannya untukmu. Oh, atau Oppa ingin mandi dulu, akan aku siapkan air hangat untukmu.” Haebin mencoba bersikap selayaknya istri pada suaminya.

Donghae merasa hatinya tersayat-sayat melihat Haebin tersenyum seperti itu. Gadis itu tetap sabar menghadapi sikapnya. Ini sangat menyebalkan. Donghae segera menahan tangan Haebin saat gadis itu hendak membalikkan badannya.

“Chankaman.” Tahannya. Haebin menoleh. Senyumnya perlahan memudar melihat ekspresi Donghae yang dingin.

“Kenapa? Kenapa kau bersikap seperti ini?” tanyanya dengan suara dingin dan berat. Mata elangnya itu menatap lurus mata Haebin. sontak hal itu membuat sekujur tubuh Haebin seperti terkunci dan tak bisa bergerak.

“Kenapa kau bisa tahan menghadapi sikapku? Kenapa kau tidak menjauh dan pergi saat menerima semua perlakuanku seperti yeoja lain? Kenapa? Apa kau merencanakan sesuatu?”

Haebin bergetar. Sungguh, kakinya sudah bergetar lemah dan tak kuasa lagi menahan beban tubuhnya karena tatapan Donghae begitu melumpuhkan seluruh kerja ototnya. Namun ia berusaha untuk kuat. Mendadak terngiang kata-kata Siwon di telinganya.

“Saat kau sudah menyukai seseorang, semua hal yang kau lakukan untuknya bukanlah sebuah beban, tapi merupakan salah satu caramu untuk bahagia.”

Perlahan tapi pasti, senyum itu kembali terbit. Kekuatan pun perlahan kembali. Ia bisa berdiri tegak kembali.

“Karena aku menyukaimu, Oppa”

Mata Donghae membulat mendengar kata-kata Haebin yang diucapkan pelan, singkat, namun tegas itu. Pegangannya di tangan Haebin pun secara perlahan melonggar begitu saja. Senyum Haebin semakin kuat, dan matanya kini berbinar menatap Donghae.

“Aku bertahan dari semua sikap dinginmu terhadapku, berusaha memberikan yang terbaik untukmu, dan aku bisa sabar dengan semuanya. Aku melakukan semua itu bukan karena mengharapkan timbal balik darimu, Oppa. Semua kulakukan dengan senang hati. Tidak peduli seburuk apapun sikapmu terhadapku, aku hanya berharap kau bisa bahagia. Karena melihat Oppa tersenyum adalah kebahagiaan terbesar dariku.”

Mulut donghae terkatup rapat-rapat. Ia kembali kehilangan suaranya. Ia terkejut atas pengakuan Haebin itu. Kata-kata Haebin begitu tulus. Haebin mendekati Donghae, mencoba menghapus jarak di antara mereka. Dan Donghae pun tidak sanggup untuk mundur. Entah kenapa.

“Karena itu, Oppa..” tangan Haebin menyentuh kerah kemeja Donghae pelan dan lembut. “Aku tidak akan menyesal ataupun marah padamu. Dan aku juga tidak mengharapkan Oppa akan balas menyukaiku. Aku menyukaimu, Oppa, itu saja sudah membuatku bahagia. Jadi..” kini tangan Haebin bergerak turun, dengan pelan mulai melingkarkan tangannya ke pinggang Donghae. Haebin menundukkan kepalanya, matanya mulai berkaca-kaca.

“Biarkan aku melakukan apa yang bisa kulakukan sebagai istrimu Oppa, misalnya..” Gumamnya lalu mulai mengeratkan pelukannya. “Memelukmu seperti ini..” Haebin memeluk Donghae dengan erat namun tidak membuat namja itu merasa sesak.

Donghae mematung. Ia tidak sanggup menolak sikap Haebin sekarang. Entah kenapa ia takut untuk bergerak. Terlebih saat ini ia merasakan gadis itu menyandarkan kepalanya ke dadanya, dan hatinya sedikit tergetar. Sesuatu yang basah terasa menyentuh kulit dadanya. Tuhan.. jangan bilang Haebin menangis. Meski ia tidak mengeluarkan suara isakan, tapi Donghae merasa sangat yakin gadis yang sedang memeluknya ini tengah menangis.

Tangan Donghae yang sejak tadi terkulai di samping tubuhnya perlahan mulai ia gerakkan. Kedua tangannya itu bergerak begitu saja melingkari tubuh Haebin. sepertinya ia mulai tersentuh.

“Uljima..” ucapnya pelan. Meski tetap terdengar datar. Namun Donghae sungguh-sungguh berharap Haebin menghentikan tangisannya.

Haebin sendiri tidak mengerti kenapa saat dirinya memeluk Donghae seperti ini ia tak sanggup menahan airmatanya. Selama ini ia memang selalu bertahan untuk tidak menangis di hadapan orang lain. Tapi berada di dekat Donghae, semua pertahanannya itu goyah dan hancur seketika. Dari dulu ia memang menunggu datangnya seseorang yang bisa ia jadikan sebagai tempat bersandar selain sahabatnya, In Sung. Dan ia merasa, Donghae adalah orang yang ia tunggu selama ini.

@@@

“Kau tidak ingin tidur bersamaku?” tanya Donghae. Haebin yang sedang mengompres matanya dengan es menoleh kaget.

“Mwo?” pekiknya lebih terdengar seperti teriakan. Untung di dapur kini hanya ada mereka. Semua pelayan di rumah itu sedang beristirahat. Sementara Tuan Lee dan Leeteuk tengah pergi dinas ke luar kota.

Donghae yang duduk di kursi tinggi yang ada di dekat bar kecil tampak gusar. Sepertinya Haebin sudah salah paham.

“Maksudku, tidur di kamarku. Ku rasa, jika kau terus tidur di kamarmu yang dulu Appa akan curiga dan akan bertanya macam-macam.” Jelasnya gugup.

Haebin terpaku, bukan karena penjelasan Donghae itu, melainkan karena ini kali pertamanya ia melihat sikap ‘salting’ Donghae. Rasanya ia ingin sekali tertawa. Namun ditahannya.

“Tapi sekarang Appa kan sedang tidak ada.” Ucap Haebin membuat Donghae semakin salting saja.

“Ah, Tuan Lee Donghae, apa kau sedang merayuku sekarang…” Haebin spontan ingin sekali menggoda Donghae. Rasa sedihnya tadi hilang begitu saja setelah melihat ekspresi lain dari Donghae. Sekarang ia merasa… senang.

“Siapa bilang!” bentak Donghae. Ia lalu turun dari tempat duduknya.

“Ya sudah jika memang tidak ingin. Aku tidak memaksa.” Ia lalu pergi dari hadapan Haebin.

“Eh..eh.. suamiku..” rengek Haebin lalu mengejarnya.

“jangan marah dulu.. Araseo, aku minta maaf..” Haebin terus merengek meminta maaf sampai tiba di depan kamar Donghae.

“Sudahlah, bukankah kau tidak mau. Sana tidur di kamarmu.” Donghae membuka pintu kamarnya.

“Tapi, aku kan belum bilang tidak..”

Donghae tidak mendengarkan lalu.. Blam!!! Pintu tertutup dengan keras dan cepat tepat di hadapan wajah Haebin.

“Ya!! Lee Donghae!! Kenapa kau ini seperti yeoja! Sensitif sekali!” gerutu Haebin. ia membalikkan badannya, lalu mendengus.

“Huh, padahal tadi sudah bagus. Sikapnya sudah mulai membaik. Sekarang kumat lagi penyakitnya. Ukh.. Haebin pabo. Harusnya tadi kau tidak perlu menggodanya..” Haebin memukul-mukul kepalanya sendiri. Menyesali sikapnya yang kekanak-kanakan seperti tadi.

Dari balik pintu kamarnya, Donghae menyandarkan dirinya ke pintu. Ia berkali-kali menarik napas dan menghembuskannya dengan cepat. Beberapa saat lalu, ia merasa terbawa dengan sikap Haebin. sepertinya perlahan hatinya sudah mulai menerima segala perlakuan gadis itu terhadapnya. Oh, tidak.. ini pertanda buruk.

Mulai sekarang ia harus menghindari Haebin.

To be continued..

81 thoughts on “Shady Girl (Part 12)

  1. huaaaaaaaaaa T^T saya nangis tapi ngakak di scene akhir..
    eh, iya.. apa mungkin, mungkin loh ya.. mungkin… apa mungkin kalo soyeon itu kakaknya haebin yang dulu kabur??? O___O

  2. Berkaca-kaca gue baca penuturan siwon n Haebin? sumpah thor kata2 lu, jleb banget.
    Mudah2-an suami gue sikap nya berubah >< kasian haebin oppa

  3. Jangan menjauhi Haebin, Donghae itu perbuatan salah. Donghae takut banget kalau So Yeon bkal tergantikan padahal bgus buka hatimu untuk Haebin uri nemo yang dingin.
    Cus ke part selanjutnya.

  4. Ceritanya makin seru aj nih😀 jadinya pingin cepet2 lanjut part selanjutnya🙂 maaf y br ksh komen di part 12 krn keasikan bc😀

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s