Shady Girl (Part 11)

Tittle : Shady Girl Part 11
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Married Life, Romance

Main Cast :

  • Park Haebin / Lee Haebin
  • Lee Donghae

Happy Reading ^^

Shady Girl by Dha Khanzaki

———-0.0———-

“Apa? Jangan membuatku penasaran!!” Haebin mulai merengek

“Baiklah..” Eunhyuk pura-pura pasrah lalu menyerahkan kertas itu pada Haebin. secepat kilat mata Haebin memindai setiap tulisan di kertas itu.

Sepersekian detik seusai Haebin menelaah isinya, ia langsung memekik sekencang-kencangnya. “Kyaaaaa…!!!!”

Eunhyuk tahu Haebin akan bereaksi seperti itu. Maka dengan  cekatan ia menutup telinga serapat-rapatnya.

“Apa-apaan ini” Protes Haebin dengan ekspresi tak percaya.

“Itu cara ampuh spesial dariku. Aku jamin Donghae pasti akan luluh..” Eunhyuk memamerkan gummy smilenya sambil mengacungkan jempol.

“Luluh dari mana? Yang ada Oppa akan mengecapku sebagai gadis murahan!!” teriak Haebin lagi.

“Lagipula saran apa ini. ‘peluk Donghae tiba-tiba selagi ada kesempatan’, lalu ‘Berikan morning kiss setiap membangunkannya’ lalu bla bla bla… Lee Hyukjae-ssi… kau ingin membuatku menjadi gadis agresif??” Haebin tidak terima dengan semua saran yang Eunhyuk berikan.

“memang itu tujuanku. Jika Donghae tidak berani melakukan ‘sesuatu’ padamu, maka kau yang harus ambil langkah lebih dulu. Lagipula Donghae suka yeoja yang romantis.”

“Tapi..” Haebin masih tidak bisa menerima saran itu. Membayangkannya saja wajahnya sudah merah padam.

“Ayolah.. kau pasti bisa. Hwaiting!! Aku mendukungmu seratus persen!” Eunhyuk mengepalkan tangannya memberi Haebin semangat.

Beberapa saat Haebin masih terdiam, mencerna apakah ia akan mengikuti saran Eunhyuk. Tapi sepertinya ia memang harus melakukannya. Atau Donghae selama-lamanya akan dingin seperti manusia kutub.

“Oke. Aku ikuti semua saranmu. Tapi..”

“Apa lagi?”

“kenapa kau dan teman-temanmu membantuku?” Haebin merasa heran. Hari ini mulai dari Kyuhyun, lalu Siwon, kemudian Kibum, dan sekarang Eunhyuk, semua membantunya.

“Aku hanya ingin kau dan Donghae bahagia. Itu saja.” Jawaban yang cukup singkat dan jelas. Eunhyuk menghela napas. Ia tersenyum pelan mengingat bagaimana masa-masa yang ia lewati bersama Donghae dan yang lain dulu.

“Sudah terlalu lama dia sedih seperti itu. Dan selama itu juga kami berusaha membuatnya kembali ceria dan itu selalu gagal. Aku harap, kau bisa mengembalikan Donghae kami yang dulu. Apa itu berlebihan?”

Haebin menggeleng. Sepertinya ia paham. “Tidak. Itu justru setia kawan namanya”

“Bagus jika kau tahu..”

@@@

Malamnya..

Haebin mondar-mandir di kamar dengan perasaan gelisah. Aduh, apa yang harus ia lakukan sekarang? Berkali-kali ia menatap jam dinding. Malam sudah larut dan Donghae belum pulang juga? Apa dia lupa kalau sudah menikah dan ada istri yang menunggunya di rumah? Haebin memutuskan keluar kamar dan menuju pintu depan rumah yang luas itu.

“Menunggu Donghae?” tanya Leeteuk yang memergoki Haebin sedang mengintip ke luar dari jendela.

“Iya. Sekarang sudah jam 10 malam tapi dia belum pulang juga.” Haebin cemas.

“Donghae itu pulang paling awal saja pukul 11. Jadi sepertinya sekarang dia masih di kantor.” Jelas Leeteuk.

“Nde?? Semalam itu?” seru Haebin tidak percaya.

“Iya. Kau tidak perlu menunggunya. Tidurlah duluan.”

“Tidak. Aku akan menunggunya di sini. Leeteuk-ssi, kau silakan tidur duluan saja” ujar Haebin halus.

Tak lama setelah Leeteuk pergi, Haebin kembali melanjutkan kegiatannnya menunggu Donghae. Dia berkali-kali berpindah tempat dari sofa, melirik jendela, duduk kembali, begitulah berulang-ulang. Sampai-sampai ia ketiduran di kursi ruang tamu.

Pukul 23.30 malam

Donghae baru tiba di rumah itu. Saat menoleh ke ruang tamu, ia melihat Haebin tertidur di salah satu sofa panjang. Keningnya berkerut. Apa gadis itu menunggunya pulang? Donghae mendekatinya.

“Hei.. Haebin..” Donghae menyentuh lembut bahunya bermaksud membangunkannya.

“Emh.. Umma..” Haebin bergumam menyebut Ummanya. Donghae sedikit kaget. Dia mengigau?

“Jangan tidur di sini. Nanti kau bisa sakit.” Ucap Donghae sambil mengguncang pelan tubuh Haebin. perlahan mata Haebin terbuka.

“Oh, Oppa.. kau sudah pulang.” Serunya dengan suara lirih. Ia mengucek matanya lalu bangkit.

“Kau menungguku?” tanya Donghae curiga.

“Iya” Haebin bangkit tapi karena keseimbangannya belum pulih seutuhnya, ia hampir saja jatuh namun dengan sigap Donghae menangkapnya hingga tanpa sengaja Haebin jatuh memeluknya.

“Kau ini..” Donghae ingin sekali protes namun ia tidak tega.

“Mianhae..” Haebin tersadar lalu segera berdiri normal lagi. Donghae berdecak kesal sambil merapikan jasnya yang sedikit kusut.

“Lain kali kau tidak perlu menungguku pulang.” Donghae mendahului Haebin pergi. Haebin merengut, ia merasa tidak enak hati.

Donghae tidak habis pikir. Biasanya saja Haebin tidak pernah menunggunya. Kenapa hari ini gadis itu melakukannya? Apa karena sekarang dia sudah menjadi istrinya, jadi merasa perlu melakukannya. Sungguh konyol.

“Aish..” Donghae jadi kesal sendiri. Kenapa dasinya jadi susah dilepaskan begini. Apa karena dia sedang kesal?

“Oppa.. berhentilah marah-marah pada benda yang tidak bersalah.” Haebin tiba-tiba saja mengambil alih dasi yang susah dilepaskan itu. Dengan sabar ia melepasnya. Donghae memperhatikan wajah Haebin yang tertunduk. Gadis itu melakukannya dalam diam.

“Sudah selesai” lamunan Donghae tersadar karena seruan Haebin. ia melihat dasi itu sudah terlepas dan kini Haebin letakkan di atas meja di samping tempat tidur. Donghae kembali berdecak. Saat ia akan melepaskan kemejanya, ia menoleh ke arah Haebin.

“Kau ingin melihatku ganti baju?” tanyanya. Haebin tersentak,

“Kalau begitu aku keluar dulu, Oppa.. oh iya, aku sudah menyiapkan segelas susu hangat untukmu. Jangan lupa di minum yah..” setelah mengatakannya Haebin segera keluar dari kamar itu.

Donghae baru akan mencegahnya pergi setelah menyadari perilakunya sedikit keterlaluan pada Haebin. namun gadis itu sudah terlanjur pergi. Donghae menatap segelas susu yang ada di atas meja. Entah kenapa perasaannya menjadi hangat saat itu. Dan pikirannya kembali mengingat So Yeon, dulu di saat ia akan tidur, gadis itu juga terkadang menyiapkan susu untuknya. Seandainya gadis itu tidak pergi, mungkin saja yang menyiapkan susu kali ini pun dia. Tapi nyatanya bukan.

“yes.. aku berhasil!” gumam Haebin pelan ketika ia melihat Donghae meminum susu yang dibuatnya dari balik pintu yang terbuka sedikit. Ia lalu memandang kembali botol obat di tangannya.

“Hehehe, mianhae oppa..aku tahu dari Dokter Kim kau kekurangan vitamin. Jadi aku campurkan vitamin ke dalam susu itu. Aku harap kesehatanmu kembali prima.” Batinnya. Sekarang ia mengantuk dan ingin tidur. Tapi tidur bersama Donghae? Ah, tidak.. lebih baik tidur di kamar yang dulu ditempatinya saja.

@@@

Paginya,

Aneh sekali, Donghae tidak merasakan pegal-pegal seperti biasanya saat ia bangun. Apa ini efek dari susu yang diminumnya semalam? Ia menoleh ke sekitarnya. Lagi-lagi ia tidak melihat Haebin. apa gadis itu juga tidak tidur di kamarnya? Ah, kenapa ia selalu berharap Haebin tidur bersamanya? Donghae membuang jauh pikiran itu dan segera bergegas keluar dari kamarnya. Ia haus. Dan tujuan utamanya adalah menuju dapur, seperti biasa.

Donghae mengambil satu botol air mineral dari dalam kulkas. Membukanya, lalu meminumnya.

“Oppa….” seru Haebin tiba-tiba sambil memeluknya dari belakang. Donghae yang kaget hampir saja tersedak. Bahkan sisa-sisa air yang diminumnya menetes dari mulut dan membasahi leher serta sebagian dadanya.

“Ya!! Apa yang kau lakukan hah!!” protes Donghae. “Kau ingin membuatku mati terkejut!” tambahnya karena hingga kini Haebin masih juga memeluknya. Ada apa dengannya hari ini? Donghae bingung setengah mati.

Haebin malah mengeratkan pelukannya dan menyandarkan kepalanya di punggung Donghae. Seperti saran yang Eunhyuk berikan kemarin, ia harus memeluk Donghae dari belakang. Dan sepertinya Donghae memang paling tidak bisa melawan jika dipeluk dari posisi seperti ini.

“Aku hanya ingin memeluk suamiku. Ini tidak melanggar hukum kan?” Haebin tersenyum di balik tubuh Donghae,

“Iya, tapi aku sesak. Lepas!!” Donghae berusaha melepaskan tangan Haebin yang melingkar di pinggangnya.

“Ya! Jika kau seperti ini tidak ada bedanya dengan wanita murahan!!” ucap Donghae setelah ia menyerah karena tidak bisa melepaskan dekapan Haebin yang begitu erat.

“Kalau Oppa mengira aku begini yah.. memang beginilah aku.” Balas Haebin.

Leeteuk sebenarnya pergi ke dapur hendak mengambil gula untuk tehnya, namun ia kaget ketika memasuki dapur, pemandangan yang dilihatnya adalah adegan mesra sepasang pengantin baru. Dia sampai tersedak teh yang sedang diseruputnya.

Uhuk uhuk…

Baik Donghae maupun Haebin menoleh. Donghae semakin merasa risih dengan ulah Haebin itu. Tapi sepertinya Haebin tidak mempedulikannya.

Leeteuk kalang kabut mengambil tissue dapur yang ada di dekatnya. Ia menggaruk kepalanya sendiri.

“Haduh, sepertinya aku salah masuk. Kenapa aku kemari ya?” ucapnya linglung. Leeteuk lalu memutuskan pergi seolah tidak melihat apapun.

“Haebin…” seru Donghae sedikit membentak. Haebin hanya terkekeh lalu melepaskan pelukannya. Tanpa malu ia menjinjitkan kakinya dan…

Chup~

Donghae membulatkan matanya, syok. Bagaimana tidak, setelah tadi tiba-tiba Haebin memeluknya dari belakang-harus diakui itu salah satu kelemahannya-sekarang gadis itu tanpa malu lagi mencium pipinya lalu pergi setelah membuatnya terkejut seperti itu.. grrr… dan setelah semua itu, ia hanya berdiri mematung di tempatnya.

@@@

Tingkah laku Haebin yang kelewat perhatian padanya kini terjadi lagi. Saat sarapan, dengan sigap Haebin menyiapkan sarapan untuk Donghae. Ia tahu Donghae suka sarapan roti bakar dengan telur setengah matang, ia sudah menyiapkannya.

“Ayo, Oppa, makan yang banyak. Biar nanti kau tidak kelaparan saat bekerja.” Haebin mengoleskan selai strawberry pada roti bakar Donghae.

Donghae kembali speechless. Ia bahkan bingung antara ingin protes dan marah. Namun ia hanya tercengang menatapi semua tindakan Haebin.

Tuan Lee hanya tersenyum melihatnya. “Donghae, kau beruntung sekali memiliki istri penuh perhatian sepertinya.” Goda Tuan Lee.

Donghae mulai merasa risih kembali “Haebin, berhentilah. Aku bisa sendiri.” Ucap Donghae.

“Aku tidak keberatan kok Oppa. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku.” Tolak Haebin halus.

Siapa yang mencemaskanmu. Batin Donghae jengkel. Anehnya ia bahkan tidak bisa marah dengan perilaku Haebin pagi ini. Ada apa dengannya? Kenapa ia bisa terpengaruh seperti ini?

Seusai sarapan, Haebin mengantar Donghae hingga ke depan pintu. Sementara Tuan Lee sudah pergi lebih dulu bersama Leeteuk.

“Sekarang apa lagi yang kau inginkan?” keluh Donghae. Haebin tersenyum simpul, sepanjang ia tinggal di rumah ini, baru kali ini ia bisa mendengar Donghae banyak berbicara. Padahal biasanya Donghae hanya mengatakan kalimat seperlunya dan tidak berniat untuk mengajaknya bicara lebih dulu. Ini kemajuan. Benar kata Eunhyuk, jika dia yang bertindak lebih dulu, Donghae tidak akan sulit untuk dijinakkan *lo kira binatang?*

“Aku hanya ingin bilang, hati-hati di jalan Oppa, dan semoga pekerjaanmu hari ini berjalan dengan baik dan lancar.” Ucap Haebin sambil tersenyum kembali. Donghae menatapnya dengan pandangan aneh dan heran.

“Apa kau salah minum obat kemarin?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa tingkahmu hari ini aneh sekali.”

“Aku tidak aneh.”

“ah, sudahlah, aku malas berdebat lagi.” Donghae memutuskan untuk pergi saja.

“Oppa..” panggil Haebin. donghae menengok malas.

Chup~

Glek.. donghae menelan ludahnya. Lagi-lagi dan lagi-lagi.. gadis itu dengan lancang menciumnya. Omona.. sepertinya dia memang salah minum obat hari ini. Atau memang ada yang salah dengan dirinya.

“Selamat jalan Oppa.”

Donghae segera menormalkan kembali pikirannya. Ia hampir saja gila, lebih baik ia segera pergi saja sebelum Haebin melakukan tindakan yang bukan-bukan lagi.

Haebin tersenyum dan melambai-lambaikan tangannya menyambut kepergian Donghae. Setelah mobil itu menghilang, senyum di bibir Haebin menghilang. Ia secepat kilat berlari ke dalam rumah, melesat dengan cepat ke dalam kamarnya. Menutup pintu kamar rapat-rapat. Ia menyandarkan badannya pada daun pintu, memegang dadanya yang berdegup kencang dan napasnya tidak teratur.

“Eotteohke.. aku malu sekali.. bagaimana aku bisa memandang wajah Oppa lagi..” Haebin menutupi mukanya karena malu. Tadi tindakannya benar-benar diluar kendalinya. Seumur-umur ia tidak pernah bertingkah seagresif itu pada laki-laki. dan itu sangat memalukan. Ia benar-benar merasa malu. Ia yakin wajahnya sekarang sudah semerah saus tomat.

“Ah, saran Eunhyuk-ssi memang manjur. Tapi.. aku jadi merasa jadi gadis gampangan..” Haebin merosot hingga ia terduduk di lantai.

“Bagaimana ini.. Donghae Oppa pasti berpikir yang tidak-tidak tentang aku..” gumamnya putus asa.

—–o0o—-

Hari semakin siang. Matahari sudah sampai di atas cakrawala. Cuaca begitu panas. Haebin hari ini tidak ada kegiatan lain. Kebetulan jadwal kuliahnya kosong.

“Sekarang aku ngapain yah?” Haebin kebingungan sendiri. Biasanya, jika tidak ada jadwal kuliah dia pasti pergi bekerja. Tapi sekarang setelah menjadi Nyonya di rumah itu Tuan Lee melarangnya bekerja lagi. Ah, jadi beginilah sekarang. Ia bosan.

Padahal tadi dia sudah berkeliling melihat-lihat rumah besar itu sampai 4 kali. Tapi tetap saja sekarang rasa bosan itu kembali menyerang.

“Ah..” Mendadak ide muncul di benaknya saat ia duduk di meja makan. Haebin kembali melihat gulungan kertas yang di berikan Kyuhyun kemarin. Di situ berisi semua hal yang di sukai dan dibenci Donghae. Ia juga membaca kertas yang di berikan Siwon. Jadwal Donghae setiap harinya.

“Hmm.. jam segini waktunya Donghae Oppa istirahat” Haebin terpikir untuk membuatkannya makan siang. Dia juga teringat ucapan Siwon bahwa Donghae tidak pernah makan siang dan hanya diam di ruangannya.

“Sebaiknya ku buatkan dia makan siang” Haebin tersenyum sendiri. Kemudian ia bergegas membuat bekal yang akan dibawanya ke kantor Donghae hari ini.

@@@

@halte bus

Haebin kembali melirik jam tangannya. Kapan bus akan datang? Jika begini ia tidak akan bisa mengantarkan bekal makan siang tepat waktu. Ia terus menunggu sampai sebuah mobil menepi di dekatnya.

“Haebin-ah..” ternyata mobil itu milik Eunhyuk. Namja itu tersenyum manis sambil melambaikan tangannya dari dalam mobil.

“Eunhyuk-ssi” Haebin balas tersenyum.

“Kau mau kemana?”

“Mengantarkan makan siang untuk Donghae Oppa.”

“Omo.. kenapa naik bus, ayo aku antar. Masuklah.”

“Jinjjayo? Kau ingin mengantarku? Jeongmal Gomawo.. ini sangat membantuku.” Haebin segera membuka pintu mobil dan duduk di sebelah kursi kemudi. Eunhyuk tersenyum dan menjalankan mobilnya.

“Em, Eunhyuk-ssi. Memang tidak masalah kau mengantarku? Bukankah kau juga punya tempat tujuan?”

“Tidak. Aku akan ke sekolah Taemin. Kebetulan searah dengan kantor Donghae.”

“Sekolah Taemin? Dia membuat masalah lagi?”

Eunhyuk mengangkat bahu. “Sepertinya. Ah, anak itu benar-benar..”

Haebin tertawa pelan. “Biarlah. Namanya juga anak remaja.”

Eunhyuk ikut tertawa.

“Ngomong-ngomong, kenapa Nyonya Lee masih berpergian menggunakan bis? Memang Mertuamu tidak memberimu mobil?” Eunhyuk heran. Bukankah keluarga Lee Donghae adalah salah satu keluarga terkaya di Korea? Rasanya aneh juga jika Haebin masih berpergian menggunakan angkutan umum.

“Ah, itu. Sebenarnya aku tidak bisa menyetir. Lagipula tidak ada supir yang mengantarku. Leeteuk-ssi juga sibuk membantu Appa dinas di luar kota.”

“Ah, aku paham sekarang.” Eunhyuk mengangguk-angguk.

@@@

“Eunhyuk-ssi, sekali lagi terima kasih sudah mengantarku kemari” Haebin menundukkan kepalanya setibanya ia di depan Kantor.

“Tidak perlu seformal itu padaku. Panggil aku Eunhyuk saja. Kalau begitu sampai bertemu lagi nanti”

“Ne.”

Haebin melambai-lambaikan tangannya. Setelah mobil Eunhyuk tidak terlihat lagi, ia segera masuk ke gedung yang besar dan bertingkat-tingkat itu.

“Wuah.. ini kantor apa hotel? Bagus sekali..” Gumam Haebin saat pandangannya menelisik seluruh hal yang ada di hadapannya sekarang. Padahal baru lobby, tapi dia sudah dibuat takjub begini.

“Aku baru sadar kalau aku menikahi anak dari pemilik gedung semewah ini.”

Setelah cukup puas berkagum ria, ia segera menuju bagian resepsionis.

“Permisi, Ruangan Tuan Lee Donghae ada dimana?”

“Pak GM? Ada di lantai 15, nona. Apakah Anda sudah membuat janji sebelumnya?”

Haebin menggaruk kepalanya, bingung. “Em, sebenarnya aku tidak punya janji. Aku datang kemari untuk mengantarkan sesuatu.”

“Maaf, tapi Anda tidak bisa bertemu dengannya jika belum membuat janji” ucap resepsionis itu ramah.

“Nde??” Haebin tercengang plus kaget. Jika sudah begini bagaimana jadinya bekal makan siang yang dibawanya?

“Anu.. aku ini sebenarnya Istrinya..” Aku Haebin. sebenarnya ia tidak mau menggunakan alasan yang satu itu. Tapi ini keadaan mendesak.

Resepsionis itu tampak terbelalak. “Tunggu, jadi Nona ini Park Haebin? ah, maaf, Lee Haebin?”

Haebin meski bingung, ia mengangguk. Resepsionis itu membungkukkan badannya, ia merasa menyesal. “Maafkan saya. Saya tidak tahu”

“Tidak apa-apa.” Haebin mengibaskan tangannya. “Apa itu artinya aku boleh pergi menemuinya?”

“Tentu saja.”

Haebin segera pamit dan pergi. Setelah ia keluar dari lift dan berada di lantai 15, ia sempat kebingungan juga mencari ruangan Donghae. Ia menyesali kenapa tadi tidak sempat bertanya di mana ruangannya.

“General Manager. Ah, ini pasti ruangannya..” Haebin merasa yakin karena di depan ruangan itu terpasang papan nama bertuliskan ‘General Manager’. Ia masuk saja tanpa mengetuk pintu lebih dulu.

“Maaf, anda siapa?” tanya seorang yeoja saat Haebin memasuki ruangan itu.

“Aku ingin bertemu dengan Lee Donghae. Apa dia ada di ruangannya?” tanya Haebin agak linglung.

“Tidak ada. Beliau sedang menghadiri rapat sekarang.”

Haebin kembali tercengang. “Apa?”

Donghae tidak ada di tempatnya? Lalu bagaimana dengan bekal yang sudah ia buat untuknya?

“Tapi tenang saja, rapatnya mungkin akan selesai sebentar lagi.”

“Jinjja?” senyum Haebin kembali mengembang.

“Kalau boleh tahu, Anda siapa dan ada keperluan apa?”

“Aku Park Haebin.” Haebin membungkukkan badannya sekilas. Yeoja yang ada di hadapannya agak terkejut.

“Maafkan aku, aku tidak tahu kalau Anda itu istri dari Pak GM.”

Haebin kembali mengerjap. Bagaimana dia tahu kalau dirinya adalah istri dari Lee Donghae? Padahal kan mereka tidak pernah bertemu.

“Silakan masuk. Anda bisa menunggunya di dalam.” Ucapnya sopan

“Terima kasih. Aku menunggu di sini saja.” Tolak Haebin halus ia duduk di sofa yang ada di ruangan itu, bukannya masuk ke dalam ruangan Lee Donghae. Sesekali ia melirik yeoja cantik yang kini sudah duduk di balik meja kerjanya.

Hmm.. jadi selama ini Donghae bekerja di temani yeoja secantik itu. Haebin membatin dengan tatapan iri pada yeoja itu.

“Anda ingin minum apa?” tawarnya kembali membuyarkan lamunan Haebin. mata Haebin yang bulat itu mengerjap sementara.

“Tidak usah.” Ia diam sebentar. “Em, kalau boleh tahu Siapa namamu, nona.” Haebin tidak bisa menahan rasa penasarannya.

“Namaku Kwon Yuri. Aku sekretaris Pak Lee Donghae.” Ucapnya ramah.

Hem. Sekretarisnya saja cantik begitu. Mana mungkin Donghae Oppa tertarik padaku jika setiap hari selalu bertemu wanita secantik dia. Haebin menghela napas berat. Kenapa rasa percaya dirinya jadi drop begini ya?

“Em, apa kau tahu apa yang di makan Donghae Oppa saat istirahat kantor tiba?”

“Pak GM tidak pernah keluar makan. Dia hanya meminta segelas kopi selama istirahat.” Jawab Yuri.

“Ha? Memang minum kopi saja bisa kenyang? Pantas badannya kurus seperti itu.” Haebin kembali membatin.

“Yuri, siapkan berkas untuk pertemuan besok..” Donghae baru saja tiba di ruangan itu seusai rapatnya tampak terkejut. Ia bahkan langsung menghentikan kalimatnya ketika matanya menangkap sosok Haebin berada di depannya.

“Oppa..” Haebin berseru gembira, ia sampai berdiri saking senangnya.

“Kenapa kau ada di sini?” Donghae masih berdiri di tempatnya. Jadi Haebin inisiatif mendekati Donghae. Dalam situasi seperti ini, dimana ada orang lain, ia tidak mungkin mencoba menghindari Haebin. orang bisa bingung melihatnya. Mereka baru saja menikah. Donghae harus bersikap selayaknya suami pada umumnya.

“Aku mengantarkan sesuatu untukmu.” Haebin mengangkat sebuah keranjang kecil ke hadapan Donghae.

“Ara. Ayo masuk.” Donghae mengajaknya masuk ke ruangannya. Di dalam sana mereka bisa berbicara tanpa takut di lihat orang lain.

To be continued..

82 thoughts on “Shady Girl (Part 11)

  1. Wkwkw ini semua gara2 hyukie#omo bener2 haebin ngelakuin walaupun dia deg2-an..
    Haduh gmn nasib haebin selanjutnya? plis ikan tampan jangan marah2 ><

  2. Hahahhahaha.. si hyuk sarannya bikin orng jd sesat ahhaa tp bgus jg sih si hae uh agak dkit brubah yahh awal yg baiklah utk mreka brdua

  3. Meski donghae udah lumayan banyak ngomong tpi tetep aja ngerasa sesak2 di dada *apa ini* jangan buat haebin menangis ne oppa.
    Cus ke part selanjutnya.

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s