Guardian Angel (Part 4)

Tittle : Guardian Angel Part 4
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Fantasy, Romance, SG

Main Cast :

  • Jo Youngmin (Yeoja)
  • Jo Kwangmin (Yeoja)
  • Kim Donghyun (Namja)

Support Cast :

  • Lee Jeongmin (Namja)
  • Shim Hyunseong (Namja)
  • No Minwoo (Yeoja)
  • Kim Jaejoong (Donghyun’s Appa)
  • Kim Taeyeon (Donghyun’s Eomma)

FF ini hasil jerih payah setelah memeras otak semaleman. So, check this out..

Guardian Angel By Dha Khanzaki

 

————0.0————-

Donghyun berlutut di hadapan Kwangmin yang menangis sejadi-jadinya. Ia mengulurkan tangannya untuk mengusap-usap punggung Kwangmin. Menenangkannya.
Sudut matanya melirik Youngmin yang berada di belakang Kwangmin. Tidak bisa dipungkiri, dia pun menangis karena merasakan hal yang sama seperti Kwangmin.
“Mianhae.. Mianhae Kwangmin..” lirihnya sambil terisak. Donghyun semakin bingung, di situasi begini apa yang bisa dilakukannya? Ia tidak pernah menenangkan orang yang menangis. Sekalipun Ummanya, Kim Taeyeon sedang menangis pun, Donghyun tidak pernah menenangkannya.
“Tenanglah.. Semua akan baik-baik saja” gumam Donghyun terus mengusap punggung Kwangmin. Tak tahunya Kwangmin mendadak memeluknya. Eh, Donghyun mematung. Ia memang pernah dipeluk yeoja sebelumnya, yaitu Youngmin. Tapi kali ini ia bisa merasakan kehangatan tubuh seorang manusia yang bernyawa, detak jantungnya pun terasa di dadanya dan pundaknya.. Hangat oleh.. Tetes airmata Kwangmin..
Eotteohke.. Situasi macam apa ini?

Cukup lama juga Kwangmin memeluknya, meluapkan segala emosi yang sudah lama dipendamnya. Selama ini Kwangmin ingin sekali menangis sambil memeluk seseorang tapi tidak ada. Dia tidak mungkin memeluk Minwoo sambil menangis sesenggukan. Sahabatnya itu pasti akan menangis lebih darinya dan justru Kwangmin yang harus menenangkannya.

“Mianhae..” ucap Kwangmin sambil membungkukkan badan saat mengantar Donghyun ke depan rumah karena ia akan pulang.
“Tidak apa-apa. Kau sudah baikan? Benar tidak apa-apa kutinggal?” Donghyun jadi cemas. Ia takut emosi Kwangmin masih labil dan ujungnya Kwangmin melakukan sesuatu yang superbodoh. Bunuh diri.
Kwangmin menggeleng.
“Aku baik-baik saja”
“Oke. Dan Kwangmin” kata-kata Donghyun menggantung. Kwangmin mengangkat wajahnya. Ia terkesiap melihat Donghyun tersenyum. Senyumnya sangat manis dan Kwangmin baru menyadarinya.
“Ne” ucapnya gugup. Aneh, hatinya berdesir aneh. Pipinya juga jadi terasa panas.
“Jika kau merasa sedih atau membutuhkan tempat bercerita, datanglah padaku” ujarnya entah kenapa membuat hati Kwangmin jadi hangat. Ia mengangguk.

“Dan jangan berpikir untuk menyia-nyiakan hidupmu. Kau akan membuat arwah kakakmu penasaran selamanya karena melihatmu tidak bahagia. Dan hal itu, menjadikan pengorbanan kakakmu sia sia” lanjut Donghyun.
Youngmin tersenyum mendengar ucapan Donghyun. Kalimat yang mewakili seluruh hal yang membuatnya tidak bisa pergi ke alam baka dengan tenang.

Kwangmin kembali mengangguk. Kemudian ia tersenyum. Senyuman tulus dan ini baru pertama kalinya Donghyun lihat.
“Gomawo” katanya tulus. Donghyun mendadak salting dibuatnya. Buru-buru dia melirik arloji di tangannya.
“Karena sudah malam, aku pamit” Donghyun segera pergi setelah Kwangmin masuk ke dalam rumah.

Di perjalanan ke rumah, ia merenung. Youngmin menatapnya heran sekaligus sedih. Heran karena ia tidak tahu apa yang dipikirkan Donghyun, dan sedih karena dengan begini.. Alasannya untuk berada di samping Donghyun sudah tidak ada. Waktunya sudah habis dan tugasnya hampir selesai.
“Aku baru sadar, ternyata keberadaan seseorang yang dicintai itu mampu mempengaruhi kehidupan seseorang” gumam Donghyun yang sukses membuat Youngmin menoleh. Dilihatnya wajah Donghyun tersenyum miris.
“Baru sadar betapa beruntungnya dirimu? Kau masih mempunyai orangtua. Meski mereka tidak rukun, setidaknya mereka tetap ada di dunia ini dan masih bisa kau sentuh. Jadi, jika kau bunuh diri karena masalah ketidakharmonisan orangtuamu, itu tindakan yang teramat bodoh. Karena, pada akhirnya, kau hanya akan melukai perasaan orangtuamu.”
yah, Donghyun memang banyak belajar dari kehidupan Youngmin. Ia juga bisa memperkirakan bagaimana orangtuanya nanti dengan melihat Kwangmin yang hampir gila karena Youngmin bunuh diri.

—o0o—

Mereka sudah tiba di depan rumah Donghyun. Ia membuka pintu perlahan.
PRAANGGG!
Donghyun kaget karena ketika membuka pintu, sebuah vas bunga melayang ke arahnya. Untung Donghyun cepat menghindar dan vas bening itu hancur berkeping-keping setelah menghantam tembok di sampingnya. Youngmin sampai memekik.
“Aish, ada apa lagi?” Donghyun yakin orangtuanya bertengkar lagi. Benar saja.

Kim Jaejoong, Appanya tengah berdebat dengan Kim Taeyeon, Ummanya di depannya. Mereka terlalu sibuk bertengkar sampai tidak sadar keberadaan Donghyun di dekat mereka.
Donghyun menghembuskan napas berat. Sekarang apa yang mereka ributkan?
Youngmin berdiri di belakang Donghyun, tidak tahu harus berbuat apa dan wajahnya bingung serta takut.

“Pergi kau ke rumah wanita itu! Aku bisa mengurus Donghyun sendiri” Bentak Taeyeon penuh amarah. Donghyun berhenti melangkah. Wanita? Jadi Appanya selingkuh?
Wajah Jaejoong menggeram. Giginya menggertak tanda ia sangat marah.
“Sudah beribu kali ku bilang, aku tidak berselingkuh dengan siapapun! Dia hanya rekan kerjaku dalam proyek musikku kali ini!” Jaejoong balas berteriak.
Donghyun mematung menyaksikan pertengkaran kedua orangtuanya.
“Lalu untuk apa kau menciumnya di depanku? Sekarang kau pergi! Jangan pernah muncul di hadapanku lagi” usir Taeyeon sambil menunjuk pintu depan.
“Kau!” Jaejong mengangkat tangan hentak memukul Taeyeon.
“STOP!” Teriak Donghyun tidak tahan. Gerakan Jaejoong terhenti. Orangtuanya menengok dan terkejut melihat Donghyun sudah ada di dekat mereka, menyaksikan pertengkaran mereka. Donghyun mendekat
“Umma, Appa, bisakah kalian berhenti bertengkar! Aku pusing setiap kali harus melihat kalian saling berteriak satu sama lain” emosi Donghyun juga tersulut. Selama ini ia selalu menahan diri setiap kali pertengkaran ini terjadi. Tapi tidak kali ini. Ia benar-benar tidak tahan. Emosi yang ia simpan sudah menumpuk dan tidak sanggup disimpannya lagi.
“Donghyun..” gumam Taeyeon tidak tega melihat putra semata wayangnya geram, wajahnya menyiratkan kekecewaan yang tertahan.

Jaejoong pun sudah muak dengan semua ini. “Baik, jika kau mengusirku, aku bawa Donghyun pergi bersamaku!” ucapnya membuat Taeyeon menegang. Donghyun juga terkejut.
“Andwae! Jangan bawa dia.. Dia anakku!” cegah Taeyeon ketika Jaejoong menarik tangan Donghyun.
“Tapi dia anakku juga!” tegas Jaejoong kesal. Ia melepaskan tangan Taeyeon dari lengan Donghyun.
“Appa!” protes Donghyun ketika Jaejoong menariknya pergi.

Taeyeon kembali menarik tangan Donghyun. Menahannya agar tidak pergi.
Jaejong sudah terbakar api. Entah apa yg merasukinya, ia mendorong kasar Taeyeon hingga wanita itu jatuh tersungkur di lantai.
“Umma!” pekik Donghyun. Ia ingin menghampiri Taeyeon tapi Jaejoong terus menyeretnya.
“Berhenti Kim Jaejoong!” teriak Taeyeon. 2 laki-laki itu menoleh bersamaan dan entah darimana Taeyeon sudah memegang cutter di tangannya. Donghyun menegang. Begitu juga Jaejoong, tangannya meremas lengan Donghyun.
“Jika kau berani keluar pintu dengan membawa Donghyun aku akan bunuh diri!” ancam Taeyeon sambil mengarahkan cutter ke lengannya. Bersiap memotong urat nadinya sendiri jika Jaejong benar-benar membawa Donghyun pergi.

Youngmin menggigit jarinya dan tubuhnya bergetar ketakutan. Ia ingin menolong, tapi itu di luar wewenangnya.

Donghyun terbelalak. Ia melepaskan diri dari Jaejoong dan menghampiri Taeyeon.
“Umma, apa yang kau lakukan?!”
“Biarkan saja dia! Jika ingin mati itu keinginannya!” Jaejoong kembali menyeret Donghyun. Taeyeon semakin terpuruk. Ia sudah bertekad untuk bunuh diri saja. Dia bersiap memotong nadi di tangannya namun Donghyun melihatnya.
“Umma..!” teriak Donghyun sambil berlari untuk mencegah perbuatan Taeyeon.
“Auch..”
“Kyaaa”
“Andwae!”
ketiga orang itu berteriak bersamaan karena bukan lengan Taeyeon yg tergores tapi lengan Donghyun..

Jaejong, Taeyeon, dan Youngmin kaget. Taeyeon memekik sementara Jaejong tersentak. Youngmin tadi berhasil mencegah cutter itu melukai tangan Donghyun lebih parah. Tapi tetap saja tangannya tergores.

Orangtua itu bergegas menghampiri putranya yang tengah kesakitan sambil memegangi tangannya yang terluka. Youngmin meringis dan merasa sangat bersalah karena tidak bisa melindungi Donghyun.
“Donghyun! Eotteohke!!” Taeyeon panik. Apalagi darahnya sudah berceceran di lantai. Youngmin mondar-mandir panik tanpa bisa bertindak apapun.
“Kau tidak apa-apa nak?” tanya Jaejoong khawatir seraya memegang pundak Donghyun.
“Tidak apa-apa!” tegas Donghyun tajam sambil menyingkirkan tangan Appanya. Ia kesal.

Baik Jaejong maupun Taeyeon tersentak kaget. Donghyun beringsut bangun dengan susah payah sambil menahan sakit di tangannya.
Tanpa berkata apa-apa ia beranjak menaiki tangga menuju kamarnya. Taeyeon mengejarnya segera. Ia cemas karena darah yang mengalir tak kunjung berhenti dan menimbulkan jejak darah di lantai, tangga, dan sepanjang jalan ke kamar Donghyun.
“Apa yang kau lakukan nak?” tanya Taeyeon panik karena ia melihat Donghyun memasukkan bajunya asal ke dalam tas. Setelah itu ia mengambil scarf untuk membalut lukanya.
Donghyun tidak mengatakan apapun dan bergerak pergi melewati Taeyeon yang terus menyebut namanya.
“Donghyun, kau mau kemana?” tanya Jaejoong kaget. Ia melihat anaknya membawa tas dan bergegas pergi.
“Aku mau pergi dari sini. Silakan kalian lanjutkan pertengkaran kalian. Jangan pedulikan aku!” tegas Donghyun dingin.
Taeyeon mencegah Donghyun. “Andwae nak.. Jangan tinggalkan Umma” mohon Taeyeon.
“Baik, tapi kalian harus berbaikan!” ancam Donghyun.
“Shireo!” jawab Jaejoong dan Taeyeon bersamaan.
“Geurae! Kalau begitu jangan cegah aku!”
Donghyun menarik diri dan pergi dengan langkah cepat. Ia sempat mendengar jeritan Taeyeon. Tapi Donghyun tidak peduli. Ia terus melangkah cepat hingga jalan raya. Ia duduk di halte bus yang sepi dan duduk di sana. Wajahnya amat frustasi.
“Donghyun-ssi, tanganmu..” Youngmin berdesis ngeri saat melihat tangan Donghyun. Scarf yg dipakai untuk membalut luka itu sudah bernoda darah.
“Tidak apa-apa. Luka ini tidak sesakit dengan luka di sini” ucap Donghyun seraya meletakkan tangan di dada. Youngmin paham. Pasti rasanya lebih perih dan menyesakkan.
“Sekarang kau akan ke mana?”
Donghyun merasa kepalanya mulai berkunang-kunang. Ia memijat pelipisnya pelan. Mungkin karena ia kekurangan darah. Atau, entahlah.
“Mungkin aku akan ke tempat Haraboejiku di Busan. Dan berlibur di sana beberapa hari” gumamnya. Ia lalu bangkit, ia hendak menyebrang jalan. Namun pandangannya mendadak kabur..

“AWAS!!” Teriak Youngmin.

BRAKK!!

Pandangan Donghyun gelap seketika seiring rasa sakit di sekujur tubuhnya.

—o0o—-

Taeyeon duduk lemah di lantai depan pintu sementara Jaejoong duduk di pinggiran sofa ruang tamu.
Mereka sama-sama merenungkan sikap mereka selama ini. Pertengkaran yang tidak ada ujungnya ini sudah melukai hati Donghyun, buah hati mereka satu-satunya.
“Kali ini, kita benar-benar salah” lirih Taeyeon dengan nada mengasihani diri sendiri.
Jaejoong mengangguk. “Donghyun tidak seharusnya mengalami ini” gumamnya
“Akh! Aku sudah gagal jadi orangtua untuknya!” maki Taeyeon menyesal. Ia kemudian melirik tajam pada Jaejoong “Ini semua karenamu! Andai saja kau tidak menyeleweng!”
Jaejonog yang merasa tidak bersalah berdiri. “Aku tidak berselingkuh!”
Taeyeon ikut berdiri. Mereka kini saling bertatapan tajam.
“Lalu wanita itu? Kau menciumnya di depan mataku! Dan jangan coba kau bilang aku salah lihat!”
Jaejoong mengusap wajahnya tidak sabar. “Saat itu aku sedang mabuk! Dan bukan aku yang mencium wanita itu! Tapi dia yang menciumku lebih dulu!” teriak Jaejoong
“Bohong!” Bentak Taeyeon.

Pertengkaran mereka terpotong oleh suara dering telepon. Taeyeon mendesah berat dan mengangkat cepat gagang telepon.
“Yeobseo. Kediaman keluarga Kim” ucap Taeyeon dengan nada di buat ramah.
“Bisa bicara dengan Tuan Kim?” ujar seseorang di ujung sana. Suaranya jelas laki-laki.
“Saya istrinya” jawab Taeyeon jengah ketika menyebut ‘istri’. Jaejoong mendekat.
“Begini, apa anak anda bernama Kim Donghyun?”
Alis Taeyeon terangkat heran. “Ne. Kenapa?”
“Nyonya, anda harus segera kemari. Anak anda mengalami kecelakaan”
Bagai halilintar yang menerjang bumi dengan kecepatan cahaya, tubuh Taeyeon bergetar hebat. Gagang telepon jatuh begitu saja dari genggamannya. Jaejonog yang kebingungan segera mengambil alih telepon itu.
“Halo, apa yang terjadi!” tanya Jaejoong tidak sabar.
“Anda harus segera ke Seoul Hospital. Anak anda tertabrak mobil beberapa saat lalu,..” mata Jaejoong membulat. Kini ia tahu kenapa Taeyeon gemetar begitu.
“Andwae! Donghyun!” pekik Taeyeon. Tangisannya pecah. Buru-buru Jaejoong menyudahi pembicaraan dan menarik Taeyeon pergi ke Seoul Hospital.

—-o0o—-

@Seoul Hospital
Taeyeon berlari di belakang Jaejoong. Bangsal rumah sakit di telusurinya dengan cepat. Langkah mereka terhenti tepat di depan ruang rawat anak mereka. Tangan Jaejoong bergetar ketika akan membuka kenop pintu. Taeyeon bahkan sampai menutup mulut karena tidak kuat menahan airmata yang hampir jatuh. Dari kaca pintu mereka bisa melihat keadaan Donghyun di dalam sana.
Cklek..
Pintu dibuka oleh Jaejoong. Taeyeon langsung berhambur ke tepian ranjang tempat Donghyun terbaring. Airmatanya jatuh dan tangisannya pecah melihat keadaan putranya. Kepalanya di perban, dan ada beberapa luka di tubuhnya.
“Donghyun.. Bagaimana mungkin ini terjadi padamu.. Umma mohon.. Jangan tinggalkan Umma..” Taeyeon mengguncang pelan tubuh putranya berharap ia akan sadar. Namun hasilnya nihil. Donghyun tak bergeming sedikitpun. Matanya tetap tertutup rapat. Jaejoong mendekati Taeyeon. Berusaha menenangkan istrinya.
“Dia akan baik-baik saja. Dia anak yang kuat” hibur Jaejong.

Dokter mengatakan Donghyun tertabrak ketika akan menyebrang. Tidak ada luka yang serius. Benturan di kepalanyapun tidak berdampak apapun. Hanya saja Donghyun kehilangan banyak darah.

Taeyeon duduk di samping ranjang Donghyun. Mengusap kening anaknya pelan. Mata wanita itu tampak lelah. Wajarlah, ia tidak bisa tidur nyenyak mengingat Donghyun belum sadar juga.
“Ini sudah 4 hari nak.. Kenapa matamu tak kunjung terbuka juga. Kau merajuk pada kami atau ingin menghukum kami?” gumam Taeyeon.
Jaejoong baru kembali dengan membawa makanan untuk Taeyeon.
“Makanlah. Wajahmu tampak pucat” Jaejoong menyerahkan kotak makanan pada Taeyeon.
“Aku tidak berselera. Perutku sama sekali tidak lapar”
Jaejoong menghela napas berat. Ia pun mencemaskan keadaan Donghyun. Tapi ia tidak tega melihat Taeyeon tersiksa. Ia terus berdoa dalam hati agar putranya bisa segera siuman.
Sepertinya ini saat yang tepat untuk bisa bicara baik-baik dengan istrinya mengenai masalah mereka.

—-o0o—-

Kwangmin heran. Sudah hampir 1 minggu ia tidak melihat Donghyun. Kemana dia? Minwoo tersenyum melihat Kwangmin cemas.
“Aku tahu, kau pasti merindukan namja bernama Donghyun itu kan..” goda Minwoo sambil mencolek dagu Kwangmin, membuat yeoja itu tersentak kaget. Ia cepat menoleh pada sahabat yang kini tersenyum penuh arti padanya.
“Mwoya? Tentu saja tidak!” tegas Kwangmin. Ia kembali menekuni tugasnya yang sempat tertunda, yaitu mengeringkan gelas-gelas yang baru saja dicuci dengan kain. Minwoo jadi makin semangat menggoda Kwangmin.
“Aish, lalu untuk apa kau terus melirik ke tempat dia duduk kemarin? Kau berharap dia datang lagi kan?”
“Tidak”
Hmm.. Dia masih menyanggah juga. Padahal terlihat sangat jelas begitu. Selama ini Kwangmin selalu dingin pada kaum namja. Hanya satu alasan yang Minwoo tahu. Kwangmin selalu berpikir semua namja yang mendekatinya pasti menyukai Youngmin, kakaknya yang sekarang sudah beristirahat dengan tenang di alam sana.

Kwangmin memang tidak berani bilang. Namun sejujurnya ia juga merasa ada yang aneh dengan dirinya. Sejak Donghyun tidak muncul lagi, Kwangmin selalu merasa ada yang tidak benar dengan suasana hatinya. Aneh memang.

“Geurae, jika kau penasaran, akan kutanyakan pada Jeongmin Oppa. Jika ia kemari hari ini” usul Minwoo. Kwangmin mengerling senang. Seulas senyum terukir di bibir mungilnya. Entah kenapa usul Minwoo itu membuat hatinya hangat.

Cklek..

Kwangmin mengangkat kepalanya dan melihat Jeongmin serta Hyunseong masuk bersama.
“Itu mereka. Chakkaman, aku akan bertanya ke mereka” bisik Minwoo
“Tapi jangan mengatakan apapun tentang diriku! Arra!” Kwangmin melotot pada Minwoo.
“Oke!” Minwoo mengacungkan jempolnya dan langsung pergi.

Selama Minwoo mengobrol dengan Jeongmin dan Hyunseong, berkali-kali Kwangmin melirik ke arah mereka dari balik barista. Tangannya terus bergerak mengelap gelas dan matanya diam-diam mencuri pandang ke arah Minwoo.

Tak lama Minwoo kembali. Kwangmin merasa tidak enak ketika melihat ekspresi Minwoo. Dia seperti menahan airmata.
“Wae? Apa katanya?” tanya Kwangmin tidak sabar
“Kwangmin-ah, Donghyun Oppa.. Kecelakaan 5 hari yang lalu” suara Minwoo bergetar saat mengatakannya.
APA?!!
Kwangmin membatu. Waktu terasa berhenti detik itu juga. Segala aktivitasnya pun terhenti. Kwangmin sudah seperti patung saja.
“Kwangmin-ah, gwaenchana?” Minwoo mengguncang lengan Kwangmin pelan, membuatnya tersadar.
“Oh, ne” jawabnya datar. Pandangan matanya tampak kosong.
“Di mana Donghyun Oppa dirawat? Apa dia terluka parah?” tanya Kwangmin datar. Ia terlihat linglung, sorot matanya seperti makhluk yang tidak bernyawa lagi.
“Jeongppa bilang, sampai saat ini dia belum siuman” lirih Minwoo tidak tega. Kwangmin menoleh cepat. Ia tercengang. Sampai detik ini belum siuman? Berarti sudah lebih dari 120 jam!
“Donghyun Oppa dirawat di Seoul Hospital” lanjut Minwoo.

Geurae.. Ini bukan saatnya berdiam diri!
“Minwoo, aku harus pergi sekarang!” ujar Kwangmin bergegas pergi. Ia tidak peduli pada manager galak yang mungkin akan memarahinya nanti karena pergi seenaknya. Yang penting ia ingin melihat keadaan Donghyun dengan mata kepalanya sendiri.

Sepanjang jalan dari tempatnya bekerja hingga rumah sakit Kwangmin terus berpikir. 5 hari yang lalu, waktu Donghyun pulang dari rumahnya. Oh Tuhan, jangan katakan Donghyun kecelakaan ketika pulang dari rumahnya. Jika itu benar, Kwangmin merasa bertanggung jawab. Memang bukan salahnya, tapi tetap saja ada sangkut pautnya.

to be continued..

 

10 thoughts on “Guardian Angel (Part 4)

  1. what it is? it is like a shit :-\
    So bad

    this is a very bad fanfiction what i know..

    i’m sorry if my english it’s so bad😦

    i’m french

  2. Semoga dengan adanya kejadian ini,orang tua Donghyun akan berbaikan & menjadi keluarga harmonis seperti sebelumnya… Udh Kwangmin sama Donghyun aja

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s