Guardian Angel (Part 3)

Tittle : Guardian Angel Part 3
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Fantasy, SG, Romance

Main Cast :

  • Jo Youngmin (Yeoja)
  • Jo Kwangmin (Yeoja)
  • Kim Donghyun (Namja)

Support Cast :

  • Lee Jeongmin (Namja)
  • Shim Hyunseong (Namja)
  • No Minwoo (Yeoja)
  • Kim Jaejoong (Donghyun’s Appa)
  • Kim Taeyeon (Donghyun’s Eomma)

akhirnya FF dengan genre aneh terbit juga. Di sini Jo Twins jadi yeoja. gak papa ya.. namanya juga fanfiction. *nyengir kuda*

FF ini murni keluar dari otak kecilku yang suka ngehayal ini. Maaf kalau banyak typo ataupun bahasanya kamseupay gitu. *bow*

Don’t copas without mypermission. This FF is mine. the casts belongs to themselves. arigatou and happy reading ^^

Guardian Angel By Dha Khanzaki

———o.o———-

Hari ini Donghyun melakukan sesuatu yang berbeda. Entah apa yang dipikirkan Youngmin sampai memintanya untuk menemui adiknya.
Donghyun berdiri di balik pohon, matanya berkali-kali melirik ke gerbang sekolah tempat adik Youngmin menuntut ilmu. Murid-murid sekolah itu sebagian sudah berhamburan keluar. Tapi Youngmin tidak kunjung menunjukkan yang mana dongsaengnya itu.
“Benar ini sekolah adikmu?” tanya Donghyun curiga pada Arwah jejadian di sebelahnya itu. Dan Youngmin mengangguk.
“Iya” Youngmin menoleh pada Donghyun. “Kamu serahkan kotak itu padanya dan jangan bilang tentang aku padanya. Arra!”
“Oke” jawab Donghyun malas-malasan. Daripada berdiri di balik pohon seperti maling, ia berinisiatif pergi ke depan gerbang dan berdiri sambil bersandar di tembok samping gerbang.
“Donghyun-ssi, kenapa berdiri di sini?” tanya Youngmin gugup
“Ini agar menghemat waktu, jika adikmu datang aku bisa langsung menghampirinya. Kau tinggal beritahu aku yang mana adikmu” Donghyun diam dan mulai memasang headphone di telinganya untuk mendengarkan lagu.

Sementara itu..

Kwangmin baru saja keluar dari kelas dan sekarang sedang berjalan menuju gerbang. Ia harus bergegas ke tempat kerja paruh waktunya atau manajer yang galak itu akan memecatnya.
Di gerbang, tanpa sengaja ia melihat seorang namja berseragam berbeda berdiri sambil memasang Headphone di telinga. Aish, siapa dia? Ah, Kwangmin tidak punya waktu untuk memperhatikan hal tidak penting begitu dan bergegas pergi.

“Omo, Donghyun-ssi, itu adikku!” seru Youngmin sambil mengguncang pelan bahu Donghyun saat melihat Kwangmin berlalu di depan mereka.
“Mana?” Donghyun melepas headphonenya.
“Itu, yang pakai bando putih?” seru Youngmin dengan tangan menunjuk Kwangmin yang berjalan di depan mereka. Donghyun mengerutkan kening. Dongsaengnya berambut panjang lurus dan.. Memakai rok??
“Adikmu yeoja?” tanya Donghyun bingung.
“Ne. Cepat kejar sebelum dia menghilang!” cerca Youngmin. Tanpa membuang waktu Donghyun segera berlari menghampiri adik Youngmin itu.
“Chogio..” ujar Donghyun dengan nafas terengah sambil menepuk pundaknya.

Yeoja itu berhenti sejenak dan menoleh. Omo.. Donghyun kaget dan matanya melebar melihat yeoja di depannya. Matanya, hidungnya, bibirnya.. Bahkan wajahnya mirip sekali dgn Youngmin! Apa mereka kembar?

Kwangmin kebingungan karena namja yang ada di hadapannya ini malah melongo menatapnya.
“Nuguseyo?” tanya Kwangmin dengan nada tinggi.
Namja itu tidak menjawab. Masih bergelut dengan pikirannya sendiri. Oke, mungkin dia gila. Pikir Kwangmin.
“Kwangmin-ah!” Kwangmin menoleh mendengar suara cempreng Minwoo, sahabatnya yang cantik dan aegyeo itu. Dia berlari-lari kecil dan menghampirinya.
“Wow, siapa dia?” bisik Minwoo saat melihat Donghyun. Kwangmin menggeleng.
“Molla. Kajja, kita pergi..” Kwangmin menarik Minwoo pergi meski Minwoo sepertinya tidak mau.
“Siapa dia Kwangmin-ah? Apa dia mau me’nembak’mu? Atau dia fansmu? Aish, kau harus terima! Dia sangat tampan!” cerocos Minwoo. Mereka sedang berjalan menuju tempat kerja paruh waktu Kwangmin.
“Aish.. Kenal saja tidak. Bagaimana mungkin dia menyukaiku..”
“Siapa tahu dia ‘secret admirer’mu.. Hehe” goda Minwoo.
“Tidak mungkin!” tegas Kwangmin sambil melotot. Minwoo tertawa dengan reaksi Kwangmin.
“Araseo..”

—o0o—-
“Donghyun-ssi, kau kenapa jadi bengong begini?” tanya Youngmin sambil menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Donghyun dan namja itu tidak bergerak sesenti pun dari tempatnya berdiri. Donghyun mengerjapkan mata begitu tersadar. Ia segera menatap Youngmin dengan pandangan serius.
“Kalian kembar?” tanya Donghyun tidak percaya. Youngmin mengangguk.
“Iya. Kami hanya berbeda 6 menit”
“Kenapa tidak bilang dari awal?” Donghyun belum bisa melenyapkan keterkejutannya.
“Kau tidak pernah bertanya” jawab Youngmin polos. Aish.. Donghyun mengacak-acak rambutnya pelan. Kenapa dia jadi merasa frustasi begini?
“Waeyo Donghyun-ssi? Gwaenchana?”
“Ani. Oke, kita pergi cari adikmu lagi. Kau tahu kan dia biasanya kemana?”
“Ne. Kita ke Cafe The Chocola!”
“Untuk apa?”
“Adikku kerja di sana!”
“Oke”

di Cafe The Chocola..

Donghyun masuk perlahan ke kafe itu. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar.
Akhirnya sosok yang ia cari ketemu juga. Kwangmin sedang mencatat pesanan tamu di salah 1 meja.
Donghyun memutuskan duduk tempat kosong dekat jendela. Youngmin duduk di sebelah Donghyun.
“Hmm.. Tempat ini tidak banyak berubah, sofanya, tata letak mejanya, suasananya.. Dan tetap ramai seperti dulu” gumam Youngmin sambil meraba-raba sofa yang di dudukinya. Donghyun yang tengah diam-diam mengamati Kwangmin menoleh.
“Dulu kau kerja di sini juga?”
“Ani. Aku sering mampir ke sini. Karena tempatku bekerja berbeda dengannya”
Donghyun mengangguk. Hm,, sepertinya hidup mereka sulit. Di usia semuda ini harus bekerja dan sekolah. Sementara dirinya yang bergelimang harta, tidak melakukan apapun yang bermanfaat dan malah berniat bunuh diri. Bukankah itu tindakan bodoh? Menyia-nyiakan hidupnya yang bisa dikatakan beruntung itu. Sementara orang lain yang hidupnya susah, berusaha mati-matian agar tetap bisa menyambung nafas. Ironis..
“Ah, Adikku datang” bisik Youngmin membuyarkan lamunan Donghyun. Belum ia mengangkat wajah, yeoja yang tadi ditemuinya sekarang sudah ada di hadapan Donghyun dengan seragam waitress, dan rambut panjangnya di ikat ekor kuda.
“Permisi Tuan, Anda ingin pesan apa?” tanyanya ramah sambil menyerahkan menu. Senyumannya.. Donghyun melirik Youngmin. Sama.. Mereka benar-benar kembar identik. Tentu saja dia tidak bisa melihat arwah Youngmin.

Kwangmin mengerutkan kening karena namja itu kebingungan sambil melihat ke sampingnya yang jelas-jelas tidak ada apa-apa. Ah, bukankah dia namja aneh yang menyapanya tadi? Jangan-jangan.. Dia ada di sini karena mengikutiku.. Batin Kwangmin
“Tuan, anda ingin pesan apa?” tanya Kwangmin lagi.
“Oh.. Wait..” Donghyun tersadar dan kembali memindai menu.
“Em.. Caramel latte saja” ucap Donghyun dan Kwangmin mencatatnya.
“Baik. Pesanan Anda akan segera datang. Harap tunggu sebentar” ucap Kwangmin lalu membalikkan badan.
“Chakkaman!” pinta Donghyun menghentikan langkah Kwangmin.
“Ne. Ada apa?” Kwangmin mendekati meja Donghyun lagi.
“Siapa namamu?”
Kwangmin mengerutkan dahi. Tuh kan, pasti ada maunya ni namja! Batin Kwangmin jengkel.
Kwangmin tersenyum sekilas lalu menghela napas berat.
“Kwangmin. Jo Kwangmin” ucapnya singkat dan tegas.
“Kim Donghyun” balas Donghyun ramah sambil mengulurkan tangan. Tapi tidak disambut oleh Kwangmin. Tanpa membuang waktu lagi ia segera pergi.
Donghyun bingung. Kenapa yeoja itu ketus kepadanya?

Setelah Kwangmin mengantar pesanan Donghyun ke mejanya, ia kembali ke balik meja kasir. Minwoo menghampiri Kwangmin.
“Tuh, aku yakin sekali namja itu sengaja mengikutimu. Dia pasti suka padamu Kwangmin-ah” ucap Minwoo pelan dan matanya berkali-kali melirik Donghyun yang sedang menikmati minumannya.
“Mustahil” jawab Kwangmin pendek. Minwoo mendengus sebal.
“Kau ini. Mulailah membuka hatimu untuk namja. Sudah berapa ratus orang yang cintanya kau tolak. Dan dia..” Minwoo melirik Donghyun. “Dia sangat tampan”
Kwangmin kesal jika sudah diceramahi begini.
“Kau juga Minwoo-ah, untuk apa bekerja begini. Kau kan tuan Putri. Memang tidak dimarahi oleh orangtuamu?”
“Ani. Aku suka di sini. Hehe” ucapnya riang. Kwangmin geleng-geleng kepala. Kadang ia tidak paham dengan yang dipikirkan sahabatnya ini. Dia lahir di keluarga kaya. Kenapa mesti ikut bekerja dengannya? Aneh.

Donghyun sesekali mencuri pandang pada saudara kembar Youngmin.
“Donghyun-ssi, kapan kau akan menyerahkannya?” tanya Youngmin.
“Sebentar, aku sedang menanti moment yang pas” jawabnya pelan.
“oh, Kim Donghyun!” panggil seseorang. Namja itu mengangkat kepalanya. Omo.. Ia melihat Jeongmin dan Hyunseong berjalan menghampirinya. He.. Kenapa bisa kebetulan begini..
“Wah, ternyata kau ada di sini” ujar Jeongmin sambil duduk di hadapan Donghyun.
“Kau sering kemari?” tanya Hyunseong, duduk di sebelah Jeongmin.
“Ani. Aku hanya mampir” jawab Donghyun sambil menyeruput minumannya dan kedua temannya itu percaya saja.
Kwangmin datang lagi. Kali ini dia tampak ramah pada teman-temannya. He, ini diskriminasi! Saat menyerahkan minuman pun senyumnya tidak kunjung hilang. Dasar..
“HUH!” Tanpa sadar Donghyun mendengus kesal.
“wae?” Jeongmin jadi bertanya-tanya karena Donghyun meletakkan gelasnya dengan kasar.
“Ani” Mata Donghyun terus memperhatikan Kwangmin. Jeongmin ikut menoleh ke arah pandang sahabatnya itu. Kemudian ia tersenyum.
“Aku tahu, waitress itu cantik” ujar Jeongmin sambil mengamati Kwangmin.
Youngmin mengangguk meski Jeongmin tidak bisa melihatnya. “Pasti dong. Dia kan dongsaengku” gumamnya bangga.
Hyunseong terlalu asyik memainkan ponselnya. Jadi tidak banyak bicara.
“Apa maksudmu?” tanya Donghyun bingung. Jeongmin mencondongkan badannya “Kau suka kan pada yeoja waitress itu…” goda Jeongmin sambil menaik turunkan alisnya cepat.
“MWO!!” teriak Donghyun kaget setengah mati. Tamu lain sampai menoleh ke arah mereka. Sesaat mereka menjadi pusat perhatian.
“Gila!” umpat Donghyun sambil menjitak kepala Jeongmin.
“Auch.. Ya, kalau bukan terus untuk apa?” bentak Jeongmin sambil mengusap kepalanya yg dipukul Donghyun tadi.
“Kau sendiri, ngapain kemari?”
“Aku kan memang sering kemari. Lagipula kafe ini milik Hyunseong”
Donghyun kaget. Baru kali ini ia tahu.
“Kenapa aku baru tahu?”
“Makanya, jangan suka larut didunia sendiri. Kami sudah sering mengajakmu ke sini. Kau saja yang selalu nolak” jawab Hyunseong.
Oh.. Donghyun menggaruk-garuk belakang kepalanya canggung. Sebelumnya ia terlalu terbebani pikiran tentang keluarganya yang berantakan. Jadi lupa untuk menikmati dunia luar.
“Ditambah lagi yeoja itu..” Hyunseong melirik ke arah Minwoo yang berada di balik meja kasir.
“Dia pacarnya Jeongmin”
“Nde!! Yang benar!” Donghyun benar-benar tidak tahu apapun. Mungkin ia sudah terlalu lama terpuruk.
“Ne” jawab Jeongmin malu malu kucing. Youngmin juga kaget. Ia mengenal Minwoo, tapi tidak tahu kalau Minwoo adalah pacar sahabatnya Donghyun.

Akhirnya Donghyun menunggu hingga Kwangmin pulang kerja paruh waktunya meski hari sudah gelap.
Dari kejauhan Donghyun melihat Kwangmin berpamitan dengan Minwoo. Mereka tadi sempat berkenalan berkat Hyunseong yang meminta dua yeoja itu berbincang sebentar.

“Hei!” Donghyun mencegat Kwangmin saat yeoja itu berjalan melewatinya.
Kwangmin memasang tampang supermalas.
“Ada perlu apa?!” tanyanya ketus sambil mendengus kesal.
“Anu.. Darimana ya mulainya?” Donghyun mendadak gugup. Youngmin dari samping menyemangatinya. Jika terus begini Kwangmin jadi jengkel.
“Maaf Donghyun-ssi, ini sudah malam dan jika kamu tidak kunjung bicara jelas, aku lebih baik pergi!” ucap Kwangmin dengan nada tinggi lalu berjalan melewati Donghyun.
“Hei.. Tung~” Donghyun baru akan mengejar ketika tiba-tiba Kwangmin berbalik dan menatapnya tajam.
“Jangan ikuti aku!” ucapnya dingin. Donghyun terpaku di tempatnya karena tatapan Kwangmin tadi. Ia membiarkan Kwangmin pergi dan menghilang begitu gadis itu naik bus.
“Donghyun-ssi, kenapa kau membiarkan adikku pergi?” Youngmin mengeluh

Donghyun melirik ‘guardian angel’ di sampingnya.
“Adikmu.. Apa ada yaang tidak beres dengan sifatnya?” Donghyun masih syok, pertama kali ia diperlakukan begitu dingin oleh yeoja.
“Hehe, Mianhae.. Adikku, memang sedikit galak” aku Youngmin merasa tidak enak.
Donghyun memelototi Youngmin “Bukan sedikit, tapi BANGET!!” dia lalu berjalan pergi dengan langkah cepat. Tujuannya sekarang, pulang!

“Donghyun-ssi, mianhae atas kelakuan adikmu. Kau tahu, sebenarnya dia anak yang baik dan manis. Dia galak jika moodnya sedang tidak baik” jelas Youngmin saat mereka sudah tiba di rumah. Donghyun acuh tak acuh mendengarkannya. Ia duduk di sofa dan menyalakan Tv, memindah-mindahkan channel tak tahu hendak menonton apa.
“Aku minta maaf sekali lagi Donghyun-ssi, jika sikap adikku membuatmu kesal” lanjut Youngmin sambil membungkukan badan berkali-kali. Donghyun yang tadinya berniat cuek jadi tidak enak juga. Ia menghela napas.
“Gwaenchana. Aku hanya heran. Kalian kembar, tapi sifat kalian sangat berbeda”
Jika melihat sifat Youngmin yang ceria, rendah hati, selalu tersenyum dan sopan, sifat Kwangmin tadi sangat berbeda. Dia ketus, galak, arogan dan..pilih kasih!
“Mungkin dia seperti tadi karena kesepian. Sekarang dia harus hidup seorang diri. Tanpa ada aku..” lirih Youngmin.
“Nah, kau tahu akan begini lalu kenapa kau bunuh diri!”
“Waktu itu aku terjepit dalam situasi yang sulit. Jika adikku tidak segera dapat donor, dia akan meninggalkanku. Aku tidak sanggup ditinggal pergi” wajah Youngmin kembali murung dan keadaan jadi hening.
“Egois” gumam Donghyun pelan. “Geurae, besok aku akan ke tempat adikmu lagi. Siapa tahu moodnya sudah lebih baik”
“Kau masih mau membantuku? Aish, aku tahu kau orang yang sangat baik Donghyun-ssi” seru Youngmin sambil berjingkrak-jingkrak.

—o0o—

Donghyun belum menyerah juga. Ia terus menguntit Kwangmin mesti yeoja itu menyuruhnya berhenti. Tujuannya kan belum terlaksana. Kali ini ada yang berbeda. Kwangmin mengunjungi pemakaman. Omo, apa untuk berziarah ke makam Youngmin? Atau orangtuanya?

Kwangmin meletakkan bunga mawar ke makam kedua orangtuanya. Berdoa sebentar, lalu pergi. Tanpa ada sepatah katapun yang dikatakannya.

“Kenapa ekspresinya datar gitu?” Donghyun yang memperhatikan dari jauh heran. Kwangmin sepertinya tidak merindukan orangtuanya.
“Kwangmin tidak memiliki ingatan yang jelas tentang orangtua kami. Dia terluka parah ketika kecelakaan dulu. Itu membuat memorinya terhapus sebagian” kenang Youngmin. “Aku yang selalu memaksanya agar sering mengunjungi makam orangtua kami. Mungkin ia bisa ingat sesuatu. Tapi sepertinya dia masih tidak ingat”
Donghyun terdiam. Perasaanya sedikit terusik.

Kwangmin kini berdiri di depan makam Youngmin. Matanya kembali berkaca-kaca. Setelah meletakkan bunga mawar dan berdoa, Kwangmin berlutut, badannya bergetar dan ia menangis. Sampai detik ini ia masih tidak bisa menerima kenyataan Youngmin bunuh diri untuk menyelamatkannya.

“Kwangmin-ah..” gumam Youngmin tidak tega melihat adiknya terpuruk begitu.
“lihat akibat dari perbuatan egoismu! Adikmu lebih menderita dibandingkan bahagia” ucap Donghyun. Youngmin juga tahu. Tapi segalanya sudah terjadi dan waktu tidak bisa diputarbalik. Ingin rasanya Youngmin memeluk Kwangmin dan mengatakan..
‘aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian’ tapi hal ini di luar tugasnya.

Kwangmin kaget, karena saat pulang pun ia dicegat kembali oleh Donghyun
“Sebenarnya tujuanmu apa! Apa kau tidak punya kesibukan lain sampai terus menggangguku begini?” mood Kwangmin masih belum baik rupanya. Donghyun menghela napas, ia baru akan membuka mulut ketika Kwangmin mulai meninggalkannya.
“Hei! Aku menemuimu karena Saudarimu, Youngmin!” teriak Donghyun seketika mampu menghentikan langkah kaki Kwangmin. Betapa terkejutnya gadis itu mendengar nama Youngmin disebutkan. Ia menengok.
“Maksudmu? Apa hubunganmu dengan Youngmin?” tanyanya mulai memberikan lampu hijau pada Donghyun.
“Anu, aku.. Temannya” jawab Donghyun terpaksa berbohong. Kwangmin bereaksi, tapi kadar kecurigaannya tidak berkurang sedikitpun.
“Teman? Youngmin tidak pernah bercerita. Kau bohong kan!”
Donghyun jadi salah tingkah “tidak! Ini sungguhan! Aku kenal Youngmin di.. Ah, Orkestra tempat ia sering tampil” lagi-lagi Donghyun mengarang alasan. Jelas-jelas ia tidak suka musik. Buat apa ia menonton orkestra.
Namun naasnya Kwangmin percaya. “Begitu..” wajahnya berubah sedih.
“Kau tahu kan kalau Eonniku itu sudah..”
“Meninggal. Aku tahu” potong Donghyun. “Karena itu ada yang ingin ku bicarakan denganmu. Ini pesan Youngmin sebelum ia meninggal” lanjutnya. Karena alasan itu akhirnya hati Kwangmin yang keras luruh juga. Ia mengangguk dan mengajak Donghyun mampir ke rumahnya, rumah Youngmin.

Rupanya persepsi Donghyun harus diubah. Dilihat dari keadaan rumah yang bagus, sepertinya kehidupan Youngmin tidak terlalu buruk.
“Kau, ternyata dari keluarga berada” gumam Donghyun pada Youngmin ketika duduk di ruang tamu dan memperhatikan sekeliling ruangan itu. Youngmin tersenyum lebar seraya berkeliaran di sekitar ruang itu.
“Hanya rumah ini yang ditinggalkan orangtuaku. Dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami harus bekerja” jawab Youngmin. Donghyun mengangguk paham. Ia melihat beberapa foto terpajang di dinding. Youngmin dan saudarinya memang kembar identik. Secara fisik, yang membedakan hanya rambutnya saja. Youngmin berambut pirang dan Kwangmin hitam kecoklatan. Hmm..

“Jadi, kau ingin bicara apa Donghyun-ssi?” tanya Kwangmin sambil duduk.
Tak lupa juga ia meletakkan dua kaleng jus dan camilan. Ekspresinya mulai melembut meski tetap tidak ada senyum di wajahnya. Youngmin hanya terdiam di belakang Kwangmin, berdiri cukup jauh sambil mengamati mereka.

Donghyun bangkit, ia mengamati salah 1 foto yang tergantung di dinding. Foto Youngmin yang berukuran cukup besar.
“Itu Eonni beberapa bulan yang lalu. Kau tahu kan, saat dia mendapat penghargaan di festival musik” jawab Kwangmin sambil menghampiri Donghyun.
“Rupanya dia benar-benar menyukai musik..” gumam Donghyun tertegun.
“Apa?”
“Ah, tidak”
“Jadi apa keperluanmu, cepat katakan!” Kwangmin sudah tidak sabar. Donghyun teringat, ia segera merogoh tasnya. Mengambil sebuah kotak beludru berwarna merah dan menyerahkannya pada Kwangmin.
“Apa ini?” Kwangmin bingung
“Itu titipan dari kakakmu. Ia memintaku menyerahkannya padamu”
Kwangmin terkesiap. Ia buru-buru membukanya. Matanya langsung berair melihat isi kotak itu. Tangannya pun bergetar saat mengambil kalung dari dalamnya.
“Ini, kalung miliknya..” tetes demi tetes airmata pun jatuh dari sudut mata yeoja itu. Donghyun hanya menatap iba tanpa ada yang bisa di perbuatnya. Kwangmin juga meraih sepucuk surat dan segera membacanya

To Kwangmin

Hidupku adalah hidupmu. Kalimat itu mungkin hanya frasa yg tidak ada artinya bagi oranglain. Tapi untuk kita, kalimat itu terasa sangat nyata. Aku mungkin sudah tidak ada ketika kau membaca surat ini.
Ketahuilah Kwangmin, aku berderai airmata ketika menulis surat ini. Aku tidak ingin pergi meninggalkanmu sendiri. Dan ini adalah keputusan terberat sepanjang hidupku. Kulakukan ini semua untuk membuatmu tetap hidup. Tetap bisa melihat dunia yang begitu indah ini.
Berbahagialah meskipun tidak ada aku di sisimu. Karena hidup ini hanya sekali. Berjanjilah kau akan tetap tersenyum dan menjalani hidupmu dengan ceria. Temukanlah cinta sejati untukmu. Dengan begitu kau tidak akan kesepian. Sebagai kenangan, kutitipkan benda yang kusayangi untukmu..
Youngmin

Kwangmin mendekap surat itu di dada. “Youngmin..” lirihnya parau dengan airmata berderai.
Youngmin yang tidak bisa berbuat apapun hanya diam di tempatnya berdiri. Matanya pun mulai buram karena airmata yang tertahan di pelupuk matanya. Ia ingin sekali menghamburkan diri memeluk saudarinya itu tapi.. Itu bukan tugasnya..

Kwangmin menangis tanpa mengeluarkan suara. Hanya airmata yang terus mengalir deras hingga kakinya rasanya tidak sanggup menahan berat badannya ragi. Kwangmin hampir ambruk ke lantai jika Donghyun tidak segera menahan tangannya.
“Gwaenchana?” tanya Donghyun cemas pada Kwangmin yang tertunduk di hadapannya.
Sedetik kemudian ia terkaget karena tiba-tiba Kwangmin mengangkat kepalanya, dengan pandangan tajam dan dingin.
“Kau menerima ini langsung dari kakakku?” suara Kwangmin begitu berat dan menusuk. Donghyun mengangguk ragu. Memang separuhnya benar kok.
“Kapan?!” nada Kwangmin mulai meninggi, seperti membentaknya. Ah, apa yang harus ia katakan? Terpaksa Donghyun mengarang.
“Em.. 3 bulan lalu.. Sekitar.. Sehari sebelum kematian Youngmin”
Kwangmin terbelalak. Bibirnya bergetar dan airmata semakin deras membasahi pipinya yang memerah. Mendadak Kwangmin mencengkram kerah seragam Donghyun dan menatapnya tajam dengan mata penuh amarah. Donghyun tidak mampu berkutik dibuatnya. Ia lebih bingung atas ulah Kwangmin.
“Kenapa, kenapa kau tidak mencegahnya waktu itu.. Kenapa..” Kwangmin berkata sambil terisak tanpa mengendurkan cengkramannya. “Harusnya kau menahannya waktu itu.. Seandainya waktu itu kau lakukan.. Hiks.. Ia mungkin masih ada di sini..”
Akhirnya tangisan Kwangmin pecah juga. Ia mengguncang-guncang tubuh Donghyun membuatnya sulit bernafas.
“Aku tidak tahu.. jika akan begi..ni..” ucap Donghyun terputus-putus karena sesak nafas. Ia juga berusaha melepaskan cengkraman Kwangmin di kerahnya.
Suara tangisan Kwangmin melemah bersamaan dengan cengkramannya. Kemudian gadis itu ambruk di lantai. Masih menangis.
“Aku tidak memintanya untuk menyelamatkanku. Yang kubutuhkan hanya keberadaannya di sisiku.. Kenapa.. Youngmin.. Kenapa meninggalkanku sendiri.. Kau harusnya tahu hanya kau yg kupunya di dunia ini..” isak Kwangmin.

to be continued….

 

 

11 thoughts on “Guardian Angel (Part 3)

  1. Donghyun kan suka sama Youngmin ? Tapi itu tidak mungkin karna mereka udh beda alam ! Kenapa Donghyun kg sama Kwangmin aja ? Kan kalo gitu kwangmin kg kesepian & Youngmin bisa pergi dengan tenang… Sungguh mengharukan kisah kedua bersaudara ini

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s