Shady Girl (Part 9)

Tittle : Shady Girl Part 9
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance

Main Cast :

  • Park Haebin
  • Lee Donghae

Support Cast :

*find By your self*

 

Happy reading…maaf untuk typo dan semacamnya *bow

Shady Girl by Dha Khanzaki2

@@@

“Lihat..kau tampak sangat cantik dalam gaun pengantin ini Haebin..” seru In Sung sambil memeluk haebin yang sedang duduk di depan meja rias. Tepat setelah ia memakai riasan lengkap dan gaun pengantin yang sangat indah.

“Gomawo..” Haebin tersenyum manis. In Sung berlutut di depan Haebin yang duduk di kursi.

“Kenapa? Sepertinya kau tidak terlalu senang? Pengantin mana boleh sedih di hari pernikahannya” ucap In Sung lembut.

Mata Haebin mulai berkaca-kaca atas perhatian In Sung. “In Sung-ah.. peluk aku..” Haebin berbicara dengan suara tertahan.

In Sung tersenyum, lalu bangkit dan segera memeluk Haebin seperti permintaannya.

Dalam pelukan In Sung, Haebin terisak pelan. “Hei, kenapa menangis begini?”

Haebin tidak menjawab, ia malah mengeratkan pelukannya. “Aku hanya sedih, karena tidak ada satupun keluargaku yang bisa datang ke pernikahanku..” lirih Haebin.

In Sung bisa memahami maksud Haebin. ia mengusap-usap punggung Haebin lembut.

“Kau lupa ya? Aku kan juga keluargamu. Kita sudah bersahabat lebih dari 6 tahun. Kau sudah kuanggap sebagai keluargaku. Jadi sudah, jangan sedih lagi.” In Sung melepaskan pelukannya, kemudian ia mengambil tissue untuk mengelap airmata yang meleleh di pipi Haebin.

“Mulai sekarang berjanjilah untuk tidak bersedih atau menangis lagi karena kau tidak punya keluarga. Arasseo!!”

Haebin mengangguk. “Ne. Mianhae.”

“Aigoo, lihat riasanmu jadi rusak..” In Sung mengambil ponselnya untuk kembali memanggil tukang rias yang tadi pergi. Ia pergi dari ruangan itu meninggalkan Haebin seorang diri.

Ckleekk..

Pintu dibuka oleh seseorang. Haebin yang tengah memperbaiki riasannya terkejut. Dari cermin ia melihat Donghae masuk ke dalam ruangan itu.

“….” Haebin ingin mengatakan sesuatu, namun tak ada satupun yang terucap karena dia gugup sendiri. Ia terlalu terpaku menatap penampilan Donghae dalam balutan tuxedo warna putihnya. Dengan kemeja dalam berwarna abu-abu dan bow tie warna senada.. aish.. dia tampak sangat tampan.. apalagi jika ekspresinya tidak sedingin itu.

“Apa kau baik-baik saja” tanya Donghae dengan wajah datar setelah memperhatikan dengan seksama wajah Haebin yang sudah terhias make-up. Ada sisa airmata di pipinya.

“Ne. Aku baik-baik saja.” Ucap haebin malu. Ia tersadar, tunggu, apakah Donghae mulai mengkhawatirkannya?

“Apa kau mencemaskanku?” tanya Haebin ragu.

“mwo? Mencemaskanmu? Jangan bercanda.” Donghae berdehem sebentar lalu pergi.

“Orang aneh..” gumam Haebin menyadari tingkah Donghae seperti itu.

@@@

*Donghae Pov*

Apa katanya tadi? Aku mengkhawatirkannya? Mustahil. Aku hanya tidak mau orang berpikir yang tidak-tidak jika melihat wajahnya yang kusut seperti itu. Namun, tadi sebelum aku masuk, aku sedikit tersentuh melihatnya menangis. Aku baru tahu kalau dia sudah tidak mempunyai keluarga lagi. Ini membuatku sedikit terganggu. Entahlah, aku hanya tidak suka melihat wajahnya yang seperti tadi. Mengingatkanku pada ekspresi sedih So Yeon ketika merindukan keluarganya. Dan itu membuat hatiku sakit.

Haruskah aku melihat ekspresi seperti itu lagi? Tidak.

Aku mengambil kotak kecil berisi cincin dari saku celana. Mendadak keyakinanku untuk memakaikan cincin ini ke jari Haebin menjadi ragu. Entahlah, apa aku akan siap melakukannya nanti.

“Donghae, kemana saja kau…” teriak si evil Kyuhyun. Dia berlari kecil menghampiriku. Segera kumasukkan kembali kotak itu ke dalam saku.

“Aku mencari-carimu kemana-mana kawan..” ucapnya lalu merangkulku.

Aku menghela napas setiap kali dia bertindak sedikit lancang. “Sampai kapan kau akan bertindak sopan padaku, hah!!” aku agak membentaknya. Tapi memang dasarnya dia tidak sensitif, Kyuhyun hanya terkekeh pelan.

“Wae? Kalau aku sopan padamu itu artinya aku mengakuimu kau itu seniorku.” Ucapnya membuatku jengkel

“tapi buktinya justru aku yang seniormu. Hihihi” dia kembali mengeluarkan tertawa ala setan miliknya. Yah, harus aku akui dia lulus 3 tahun lebih awal dariku.

Pletak!!!

“Auch..” Kyuhyun mengerang kesakitan karena kepalanya dipukul seseorang.

“Tapi kau tetap yang paling muda, dasar bungsu!” Eunhyuk muncul dari belakangnya. Ia kemudian memamerkan senyum yang entahlah, menurutnya mampu membuat para yeoja meleleh. Aku kembali menghela napas.

“Ya!! Sakit tahu! Jangan samakan aku dengan Dongsaengmu yang nakal itu!” protes Kyuhyun tidak terima sudah diperlakukan seperti itu oleh Eunhyuk

“Jangan bawa-bawa Taemin! Kau mau kupukul lagi? Oh, Donghae. Selamat yah..” Eunhyuk merangkulku sekilas. Kyuhyun mendengus sebal. Ya ampun, kenapa aku bisa berteman dengan orang-orang seperti mereka?

“Oh, itu dia..” setelah itu Siwon dan Kibum juga muncul memberiku selamat. Kami berbincang-bincang sesaat sebelum ada seseorang yang kembali memanggilku.

“Donghae…” tubuhku mematung mendengar suara itu. Mungkinkah….*kita kan selalu bersama…*#author geblek, malah nyanyi# back to ff

Perlahan namun pasti kubalikkan badanku, dan benar rupanya apa yang kupikirkan. Mataku membulat melihat sosok ibuku, wanita yang kurindukan kini sedang berjalan ke arahku. Rupanya orang tua itu memenuhi permintaanku.

Aku masih belum bisa bergerak bahkan ketika sosoknya berada tepat di depan mataku. Aku masih tidak percaya dengan semua ini. Kejadian ini apakah nyata atau tidak, aku terlalu takut untuk bergerak.

“Kenapa kau terkejut begitu nak, ini Umma..” suara Umma yang merdu itu terasa begitu nyata di telingaku. Benarkah dia Ummaku? Umma yang meninggalkanku 10 tahun yang lalu?

Tanpa di duga Umma memelukku dengan erat dan segenap perasaan. Aku juga bisa merasakan tubuhnya yang hangat, dan tangannya yang lembut melingkari tubuhku dengan penuh kerinduan. Benar, ini Ummaku.

“Umma..” ucapku dengan suara bergetar.

“Ne, ini Umma..” aku juga mendengar suara Umma yang tertahan, sepertinya ia sama denganku, berusaha untuk tidak menangis.

Aku mengerjapkan mataku sekali lagi. Setelah aku yakin aku tidak sedang bermimpi, aku segera membalas pelukannya. Yah.. kini aku merasa semuanya nyata. Karena aku bisa merasakan hangat tubuhnya.

Tak lama Umma melepaskan pelukannya. “Kau tumbuh menjadi pria yang sangat tampan dan dewasa. Dan Umma tidak menyangka masih bisa melihatmu menikah nak..” tangan Umma yang lembut kini tengah mengusap kepalaku, seperti yang sering dilakukannya dulu saat aku masih kecil. Sungguh, jika aku tidak ingat sekarang umurku sudah 26 tahun, mungkin aku sudah menangis sambil memeluknya erat-erat. Namun kini aku hanya bisa berdiri terpaku tanpa sanggup menangis ataupun mengutarakan semua perasaan rinduku padanya.

“mana istrimu? Umma ingin bertemu dengannya.” Ucap Umma kemudian. Aku mengerjap lagi, mendengar Umma menyebut kata istri, otakku langsung tertuju pada Haebin.

“Oh, dia ada di ruangannya.” Ucapku linglung.

“Kalau begitu antarkan Umma padanya. Umma ingin melihatnya sebelum upacara pernikahan berlangsung.”

Tentu saja aku tidak bisa menolaknya. Aku segera mengantar Umma kembali ke ruang rias di mana Haebin berada.

*Donghae Pov end*

@@@

*Haebin Pov*

Kini riasanku sudah diperbaiki. In Sung pergi meninggalkanku sendiri di sini. Aku melirik jam dinding yang ada di ruangan ini, setengah jam lagi upacara akan dimulai. Dan setelah itu, aku akan secara resmi menjadi istri seorang Lee Donghae. Aduh.. kenapa aku jadi gugup begini. Sejak kemarin rasa gugup ini selalu kurasakan. Apa ini penyakit para calon pengantin?

Tok tok..

Tubuhku menegak, sekarang siapa yang datang?

“Masuk..” ucapku tanpa beranjak dari tempat dudukku.

Tak lama pintu ruangan dibuka seseorang. Lagi-lagi aku melihat Donghae masuk. Oh, sekarang dia mau apa lagi? Apa dia mengkhawatirkanku lagi? Aish, mana mungkin.

“Ada apa?”

Donghae tampak linglung. Reaksi yang jarang kulihat.

“Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.” Ucapnya. Lalu seseorang masuk, aku mengerjap dan berdiri tanpa sadar. Seorang wanita paruh baya yang begitu cantik dan anggun masuk dengan wajah berseri yang membuatku hangat.

“Kaukah, Park Haebin?” tanyanya lembut. Aku mengangguk karena takjub sekaligus tidak mengerti. Siapa wanita ini? Kulirik Donghae, dia hanya diam dengan mimik sulit kutebak.

“Aigoo.. kau cantik sekali nak..” dia mengelus pipiku lembut. Aku bisa merasakan kehangatan mengalir dari tangannya. Hal seperti ini sering kurasakan di saat Ibuku melakukan hal yang sama padaku. Oh Tuhan, siapa sebenarnya wanita ini?

“Gomawo..” ucapku. Tanpa sadar mataku mulai berkaca-kaca lagi. Mendadak aku jadi merindukan Ibuku. Andai dia juga bisa datang..

Wanita itu mengerjap. “Jangan menangis nak.. apa aku sudah menyinggung perasaanmu?” tanyanya hati-hati. Aku cepat-cepat menggeleng.

“Ani, melihat anda mengingatkan ku pada ibuku..” ucapku jujur. Wanita itu tersenyum lalu memelukku hangat. Aku terpaku, lagi-lagi aku merasa seperti ibuku sendiri yang memelukku. Begitu hangat dan penuh cinta.

“kau dan Donghae adalah anakku. Mulai sekarang kau juga panggilah aku Umma”

Apa? Aku segera melepaskan pelukannya. “U.. Umma?” tanyaku bingung.

Wanita itu mengangguk. “Ne. Aku Ummanya Donghae. Mulai sekarang aku Ummamu juga.”

Entah ekspresi apa yang harus aku perlihatkan sekarang. Perasaan senang, haru, tak percaya, takjub, semua menjadi satu. Aku tersenyum.

“ne.. Umma..” ucapku. Kulihat dari sudut mataku Donghae mengerjap ketika aku mengucapkan kata ‘Umma’.

Umma memegang tanganku dan tangan Donghae, lalu membuat tangan kami saling menggenggam erat.

“Aku merestui kalian anak-anakku. Semoga pernikahan kalian membuat hidup kalian lebih bahagia.” Ucap Umma membuat aku dan Donghae terkesiap bersamaan. Sejenak kami saling pandang.

“Berjanjilah kalian tidak akan membuat ikatan suci yang akan terjalin hari ini putus di tengah jalan begitu saja.” Umma memberikan nasihatnya lagi dengan wajah penuh harapan.

“Donghae, jagalah istrimu nanti baik-baik. Jangan membuatnya menangis apapun yang terjadi.”

Kulihat Donghae hanya diam saja, tidak ada respon maupun reaksi.

“Dan Haebin, kau juga percayalah pada Suamimu. Aku yakin, Donghae pasti bisa membuatmu bahagia. Dia adalah anakku yang bertanggung jawab, baik, dan penuh perhatian.” Ucap Umma sambil memandang Donghae sekilas. Aku mengangguk pelan. Namun aku tidak bisa berjanji aku akan bahagia jika bersama Donghae nanti. Entahlah, hanya saja aku tidak yakin apakah Donghae akan mencintaiku atau tidak.

*Haebin Pov end*

@@@

*Author Pov*

Tanpa terasa, moment itu tiba juga. Haebin berjalan dengan anggun menuju altar di dampingi Tuan Lee yang menggandeng tangannya. Sesekali ia melirik ke arah tamu, ia melihat teman-temannya seperti In Sung, Hyun Jung, bahkan Mi Ra pun ia undang. Mereka tersenyum sambil melambaikan tangan memberinya spirit. Haebin membalas mereka dengan senyuman termanis yang ia punya.

Di sisi lain, ia juga melihat Eunhyuk, Siwon, Kibum dan Kyuhyun yang heboh melambai-lambaikan tangannya pada Haebin. melihat mereka, Haebin terharu. Entah kenapa. Dan ia juga melihat Sungmin sedang menggendong Minki di pangkuannya. Ia dan Minki melambaikan tangannya ke arah Haebin. haebin juga tersenyum pada mereka.

Dan kini, perhatiannya sepenuhnya tertuju pada sosok namja di hadapannya. Namja yang kelak akan menjadi suami Haebin, Lee Donghae. Entah hanya formalitas atau perasaannya saja, kini Donghae sedang tersenyum pada haebin . Omona.. ia tersihir walau hanya melihat senyumnya itu.

Tepat ketika berada di hadapannya, Donghae mengulurkan tangannya untuk segera menyambut tangan sang pengantin. Tuan Lee atau kini akan menjadi Appanya menyerahkan tangan Haebin dan Donghae menyambutnya dengan baik.

Di depan altar itulah, Donghae dan Haebin akan mengucapkan ikrar pernikahan yang akan membuat mereka terjalin ikatan yang sangat suci. Haebin menghela napas sekali lagi, mengumpulkan seluruh kekuatan yang dimilikinya..

#ikrarnya di skip ajah yah.. Author tahunya kan ijab kabul ajah.. jadi kagak ngerti gitu..

Sekaranglah saatnya Donghae memakaikan cincin pertunangan di jari Haebin. ia mengambil cincin itu, sejenak sebelum memasangkannya di jari manis Haebin, Donghae sempat ragu. Orang-orang bingung melihat tingkah Donghae itu.

Haebin memandangi wajah Donghae. Ia berpikir, apa setelah mengucapkan ikrar tadi Donghae menyesal telah menikahinya?

Donghae menggelengkan kepalanya sebentar, mencoba meyakinkan diri bahwa keputusannya untuk melupakan So Yeon itu benar. Ia kemudian dengan mantap memasangkan cincin itu ke jari Haebin. gadis itu tersenyum bahagia melihat cincin itu benar-benar melingkar di jarinya. Namun ia menahan diri untuk tidak menangis. Tuan Lee menghela napas lega melihatnya, sesaat tadi ia sempat ketakutan Donghae akan melakukan hal yang tidak-tidak.

Kini giliran Haebin memakaikan cincin itu. Dan dia melakukannya tanpa ragu. Ia memakaikannya ke jari Donghae. Semua orang di aula itu bertepuk tangan sambil berdiri seusai prosesi pertukaran cincin itu. Haebin ikut tersenyum gembira sementara Donghae tidak tersenyum sedikitpun. Entah apa yang ada di pikirannya.

“Nah, sekarang Suami dipersilakan untuk mencium istrinya.” Ucap sang pendeta. Haebin menghentikan senyumnya mendadak, kaget.

“Nde?” ujar Haebin tanpa sadar. Pendeta itu mengangguk.

Haebin memandang Donghae baik-baik. Melihat matanya yang dingin itu Haebin tidak yakin apakah Donghae akan melakukannya atau tidak. Tapi lebih baik dia tidak melakukannya. Yah.. tidak di depan orang banyak seperti ini.

“Kau tidak harus melakukannya jika tidak mau.” Ucap Haebin pelan. Donghae mengangkat alisnya sebelah.

“Kenapa tidak?” tanyanya bingung. Haebin mengerjap. Oh, jangan bilang dia akan melakukannya di depan ratusan pasang mata yang memperhatikan mereka.

“Lakukanlah. Silakan” ucapan Sang pendeta membuat Haebin makin gugup. Donghae mendekati Haebin yang mematung di tempatnya. Perasaan gugup yang hebat kini melanda gadis itu.

Tangan Donghae mulai memeluk pinggangnya. Haebin menundukkan kepalanya karena gugup. Jangan.. jebal.. batin Haebin, dari sudut matanya ia bisa melihat semua orang kini tengah memperhatikannya dengan semangat. Sungmin bahkan sampai menutup mata putrinya agar tidak melihat adegan yang tidak seharusnya dilihat putrinya.

Semua orang jadi memperhatikan mereka dengan tidak sabar. Hmm…

“Kenapa kau gugup? Aku kan tidak akan memakanmu” ujar Donghae datar. Ia memegang dagu Haebin hingga kepala gadis itu terangkat menatapnya.

“Jika ingin pernikahan ini cepat berakhir, lakukan semua intruksi dengan baik, Lee Haebin” ucap Donghae. Haebin dibuat terkejut lagi walaupun ucapan Donghae terdengar datar. Tapi terkesan ada kesungguhan di dalamnya. Dekapan tangannya di pinggang Haebin semakin mengerat. Tanpa ragu-ragu Donghae mendekatkan wajahnya lalu…

Chup..

Sorak sorai tamu semakin membahana memenuhi ruangan itu tatkala 2 orang itu saling menyalurkan perasaan masing-masing melalui sebuah ciuman mesra.

Haebin masih terpaku bahkan saat Donghae melepaskan bibir yang beberapa saat tadi mengecup bibirnya. matanya membulat dan bibirnya langsung mengatup secara otomatis. Setelah melakukan itu, Donghae tetap tidak menunjukkan ekspresi bersalahnya. Dia tetap dingin seolah tidak melakukan apa-apa. Ia bahkan tidak menyadari ekspresi Haebin yang syok saat ini. Ingin sekali rasanya Haebin berteriak sekencang-kencangnya. Tapi tidak saat ini dan di tempat ini. Jadi walaupun sedikit kesal, ia tetap menahannya. Yang ada ia ingin sekali menangis.

@@@

Saat acara resepsi, semua orang memberi mereka selamat. Jangan ditanya seberapa meriah acara resepsi itu. Acara pernikahan putra sulung dari seorang Lee Dong Il, yang notabenenya adalah CEO dari L.D corporation, perusahaan raksasa yang bergerak di bidang konstruksi sudah pasti begitu spektakuler. Tamu yang hadir pun semua orang-orang penting.

Oleh Tuan Lee, Haebin dikenalkan pada kerabat-kerabatnya yang datang dari berbagai tempat. Bahkan ada yang dari luar negeri. Sementara Donghae mengobrol dengan teman-temannya.

“Kau memesan cincin pernikahanmu di tempat lain?” tanya Heechul penasaran. Ia merasa aneh kenapa Donghae tidak menggunakan cincin hasil rancangannya.

“Oh, itu.. aku sudah menyiapkannya.” Donghae menjawabnya asal.

“Cie.. ternyata diam-diam kau peduli juga pada Haebin.” goda Siwon

“Siapa?” elak Donghae. Diam-diam ia melirik Haebin yang sekarang sedang dikenalkan oleh Appanya kepada rekan-rekan kerjanya.

Ekspresi Haebin ketika berada di altar bersamanya tadi terus terngiang-ngiang di otaknya. Ini sangat membingungkan. Kenapa bisa terjadi? Apa mungkin dia sudah mulai bersimpati pada gadis itu?

Seusai acara,

“Oppa.. tunggu aku..” pinta Haebin setengah merengek pada Donghae yang meninggalkannya lebih dulu. Haebin kini memanggil Donghae ‘oppa’ karena yah.. dia merasa panggilan itu akan membuatnya terasa lebih dekat dengan Donghae.

“Aku ingin cepat pulang. Capek” ucap Donghae datar namun tetap meninggalkan Haebin di belakangnya. Haebin mendengus dan mengikutinya dengan susah payah. Padahal gaun pengantin yang dipakainya begitu berat. Apakah laki-laki itu tidak bersimpati padaku? Batin Haebin jengkel.

Eunhyuk, Siwon, Kyuhyun, dan Kibum yang memperhatikan mereka dari jauh menggelengkan kepalanya secara kompak.

“Ckckckck.. jika terus begini sampai kapanpun hubungan mereka tidak akan ada kemajuan” komentar Eunhyuk.

“Ah, aku jadi ingin melakukan sesuatu untuk mereka.” Ucap Kibum.

“Aku juga.” Balas Kyuhyun

“Sama” timpal Siwon.

Sedetik kemudian mereka saling berpandangan dan menunjukkan ekspresi yang mencurigakan. Di otak masing-masing sudah tersusun rencana untuk kedua pasangan yang baru menikah itu. Mereka juga terkekeh secara bersamaan.

—-o0o—-

Malam itu, seharusnya menjadi malam yang tak terlupakan bagi pasangan yang telah menikah. Namun, malam itu tidak ada yang terjadi. Haebin duduk di sofa di kamar pengantinnya dengan Donghae. Sementara namja itu entah sejak kapan sudah terlelap tidur di atas ranjang. Mungkin dia kelelahan seusai acara resepsi tadi.

Haebin mendengus pelan. Entah dia harus sebal atau justru lega. Manik matanya melirik Donghae yang tertidur di ranjang. Haebin menghampirinya.

“Aish… Apa dia terlalu lelah sampai tidurpun tidak mengganti bajunya dulu” gerutunya sambil berkacak pinggang. Donghae tidur memang masih mengenakan tuxedo yang tadi dipakainya saat pernikahan. Bahkan sepatu pun masih di pakainya. Haebin tertegun sejenak.

“Aku istrinya kan sekarang? Jadi boleh dong kalau aku menyentuhnya?” gumam Haebin.

Haebin memutuskan untuk duduk di tepi ranjang dan melepas perlahan sepatu Donghae. Lalu ia juga melepskan dasi yang dipakai donghae berikut membuka 2 kancing kemejanya. Haebin kembali tertegun memandang muka tertidur Donghae.

“Bukankah kondisi seperti ini juga pernah terjadi, Oppa..” lirihnya sambil merapikan poni Donghae yang berantakan.

Yah.. dulu saat Donghae mabuk Haebin juga mengurusinya seperti ini. Waktu itu ia berangan-angan ia mempunyai suami seperti namja yang saat itu tertidur di hadapannya. Haebin tersenyum mengingat kejadian hari itu.

“Siapa yang sangka kau benar-benar menjadi suamiku kini.” Mau tak mau kali ini Haebin percaya bahwa takdir itu benar-benar ada. Cukup lama juga Haebin diam hanya memandangi wajah Donghae. Ia tidak peduli walaupun Donghae tidak menyadari perasaannya, namun setelah memandang lekat-lekat wajahnya, Haebin merasa yakin bahwa ia menaruh seluruh harapannya pada namja ini..

“Tuhan.. aku sungguh-sungguh mencintainya” batin Haebin.

@@@

“Emmmh..”

Donghae mengerang pelan. Matanya perlahan membuka. Suasana kamar yang remang-remang membuat matanya agak sulit untuk beradaptasi. Ia meraba-raba meja kecil di samping ranjang untuk menyalakan lampu meja. Setelah menyala dan suasana sedikit terang, ia melirik jam. Waktu menunjukkan pukul 03.30. masih pagi buta ternyata. Donghae baru menyadari bahwa ia tidur dalam baju seperti ini.

“Ah, aku lupa.. bukankah aku baru menikah kemarin” gumamnya setelah tersadar. Lalu mendadak pikirannya terfokus pada Haebin. kemana gadis itu? Mereka sudah suami istri sekarang. Bukankah seharusnya dia juga berada di kamar ini? Tapi kenapa di kamar ini hanya ada dirinya?

Donghae turun dari tempat tidur. Ia melihat gaun pengantin Haebin tergeletak di lantai dekat sofa. Lalu kemana gadis itu? Donghae mencarinya di kamar mandi yang ada di dalam kamar, tetap saja tidak ada. Lalu ia keluar dari kamarnya, mencari-carinya di sekitar kamar. Tetap tidak ada.

“Kemana dia?” gumamnya bingung. Donghae memutuskan kembali ke kamarnya. Ah, ia tersadar kalau dari tadi pintu yang menuju ke beranda terbuka. Jangan bilang Haebin ada di sana..

Dengan ragu ia berjalan menuju ke beranda kamarnya. Langit masih malam dan di atas sana bintang bertebaran memancarkan cahayanya yang berkelap-kelip. Indah sekali.

Pandangan Donghae berkeliling mencari sosok yeoja itu. Benar saja, ia menemukan Haebin tertidur di ayunan sofa yang ada di beranda. Dengan memakai piyama.

“yeoja pabo” desis Donghae tak habis pikir. Bagaimana mungkin dia bisa tertidur di sini hanya memakai piyama tipis seperti itu. Apa dia tidak tahu kalau udara malam itu sangat tidak baik untuk kesehatan? Dia bisa sakit jika tertidur di sini. Kenapa tidak di dalam saja. Tidur di ranjang bersamanya.. tunggu dulu, kenapa ia berharap begitu?

Donghae menggeleng-gelengkan kepalanya. pikirannya itu tidak benar. Minimal jika tidak tidur di tempat tidur dia bisa tidur di sofa yang penting tidak di luar sini.

“Aku harus memindahkannya atau tidak dia akan sakit”

Tanpa pikir panjang Donghae mengangkat tubuh Haebin *ala bridal* untuk memindahkannya ke kamar. Donghae pelan-pelan merebahkan tubuh Haebin di atas kasur, lalu menyelimuti tubuhnya.

“Have a nice dream..” tangannya terulur mengusap kening Haebin yang tertutup poni. Seulas senyum tipis mengembang di bibirnya. entah kenapa, mungkin sesuatu memang terjadi di dirinya. Melihat Haebin dalam keadaan terlelap seperti ini mengingatkannya pada So Yeon. Dulu, saat gadis itu tidak bisa tidur, ia pasti selalu meminta Donghae untuk mengusap kepalanya sampai tertidur. Sekarang, tanpa sadar Donghae melakukannya pada Haebin.

@@@

Paginya…

Tuan Lee tersenyum cerah melihat putra beserta menantunya duduk bersamanya di meja makan, menemaninya sarapan pagi.

“Ekhem..” dia berdehem bermaksud untuk membuat kedua anaknya itu memperhatikannya.

Benar saja, baik Donghae maupun Haebin menoleh.

“Bagaimana tidur kalian? Apakah nyenyak?” tanya Tuan Lee

Uhuk uhuk..

Haebin tersedak mendengarnya. Pertanyaan Tuan Lee membuatnya sedikit kaget.

“Itu..” Haebin bingung menjawab apa.

“Begitulah. Tubuhku pegal semua” ucap Donghae mendahului Haebin. ia memang merasakan tubuhnya pegal-pegal karena setelah memindahkan Haebin semalam, ia tidur di sofa.

Eh.. Haebin memekik tertahan. Secepat kilat kepalanya tertengok ke arah Donghae yang tetap saja makan dengan tenang.  Apa maksud perkataannya? Mendengarnya saja bisa membuat orang salah paham. Benar saja, Tuan Lee senyam-senyum setelahnya.

“Bagus. Sepertinya kalian melakukannya dengan baik. Segeralah memberiku cucu. Aku sudah tidak sabar dipanggil ‘harabeoji. Hehehhe” tuan Lee terkekeh kemudian.

Haebin menunduk malu. Wajahnya merona merah. “Huh, memberikan cucu apa? Dia menyentuhku saja tidak” batin Haebin dalam hati, diam-diam ia melirik Donghae.

“Kalau begitu Appa beri kalian hadiah.” Tuan Lee menyodorkan 2 lembar tiket ke hadapan Haebin.

“Apa ini?” tanya Haebin tidak mengerti.

“Itu tiket bulan madu kalian ke Jepang.” Ucap Tuan Lee

Mata Haebin melebar takjub. Tiket keluar negeri untuk berbulan madu?? Omo.. baik sekali Tuan Lee memberikan mereka hadiah seperti itu. Apalagi perginya berdua dengan Donghae saja.

“Benarkah? Ke Jepang?” Haebin berbinar-binar menatap tiket di hadapannya.

“Aku tidak bisa.” Jawab Donghae, singkat, jelas, dan tegas. Heee… Haebin sangat kecewa mendengarnya. Ia menoleh lunglai ke arah Donghae.

“Banyak sekali pekerjaan yang harus ku selesaikan di sini. Dan tidak ada waktu bagiku untuk berbulan madu. Maaf” ucapnya lagi. Ia lalu bangkit. “Aku sudah selesai. Waktunya berangkat ke kantor.”

Haebin menunduk kecewa, teramat sangat kecewa. Padahal tadi ia membayangkan perjalanan yang teramat menyenangkan karena akan menjadi pengalaman pertamanya pergi ke luar negeri. Dan semua angan-angannya itu sirna karena ucapan tegas Donghae.

 

To be continued..

76 thoughts on “Shady Girl (Part 9)

  1. kok saya nyesek yaa.. walopun saya yakin banget donghae bakal berubah nantinya.. tapi ini bikin nyesek bener.. T^T /ambil tissu lagi/

  2. Ayo Hyuk-siwon-kibum rencanain sesuatu biar Haeppa sadar tuh sama perasaan nya sendiri..
    Sabar Haebin mungkin dia lelah, Haeppa jahat bner ke jepang masa gak mau kasian haebin *hiks *hiks

  3. Kyaa..haebin udah jatuh cinta sama donghae tinggal nnggu dongaheny…tp aku agak kesel setipa kali donghae ngliat si haebin mesti disama2in sama seoyon..ikut kesel tau rasanyaa….coba aja kalo haebin tau meati dia udah sakit ati…habein-ah yg sabar yaaa..fighting😀

  4. Sungmin gendong Minki berasa baper mengingat sungmin emang bener2 udah nikah hhuhuhu Donghae-ya sikapmu sungguh sangat dingin.. Haebin kudu super sabar.
    cus ke part selanjutnya.

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s