Hello My Glassess Namja (Part 4) End

Tittle : Hello My Glassess Namja Part 4 End

Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young

Genre : Romance, Married Life

 

Main Cast :

  • Lee Min Ah
  • Lee Sungmin

Support Cast :

  • Shin Je Young
  • Cho Kyuhyun

 

akhirnya tiba juga di part ending. bagaimana kesan pesannya? nah, dha tunggu kritik dan saran kalian…

 

Hello My Glassess Namja by Dha Khanzaki


———–o0o———-

Sungmin POV

 

Aku terdiam melihat binar wajah istriku yang bahagia. Aku baru saja mengatakan bahwa dia sedang hamil. Aku sendiri terkejut ketika mendengarnya dari dokter. Aku tidak menyangka bahwa apa yang kami lakukan malam itu membuahkan hasil. Aku sangat gembira dan tidak percaya sebentar lagi aku akan menjadi ayah. Dan aku penasaran apa yang Min Ah rasakan setelah mengetahui bahwa ia akan menjadi ibu.

“Oppa tidak bercanda?” matanya berkaca-kaca. Aku mengangguk untuk meyakinkannya.

“Aku tidak pandai berbohong, Min Ah. Percayalah bahwa sembilan bulan lagi kita akan hadir satu anggota baru dalam keluarga kecil kita..”

Min Ah menutup mulutnya dengan kedua tangan untuk menahan isakan tangis. Aku tahu ia pasti terharu. Sama sepertiku. Kami berdua akan menjadi orangtua beberapa bulan lagi.

“Aku..tidak percaya ini. Oppa..” Dia diam sebentar. “Memang, sudah berapa lama sejak kejadian itu?”

“Hampir dua bulan. Dan dokter bilang usia kandunganmu menginjak sepuluh hari” jelasku. Aku pun sempat bingung. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat.

 

Aku tepekur melihatnya tersenyum bahagia sambil mengusap perutnya yang masih datar itu. Mengetahui aku akan menjadi ayah adalah berita yang paling membahagiakan dalam hidupku. Orang tua kami pun sampai merayakan berita ini tadi sore. Mereka terlalu bahagia. Kehamilan Min Ah memang sebuah anugerah terindah.

“Oppa, mungkinkah ini yang membuatku cepat lelah akhir-akhir ini?” tanyanya membuyarkan lamunanku. Aku mengerjap.

“Oh, mungkin saja.” jawabku linglung. Tadi dokter juga memang sempat mengatakannya.

Tiba-tiba saja Min Ah menatapku dengan mata menyipit. Seolah menyelidikiku. Itu membuatku sangat gugup.

“Oppa, jangan bilang sikap anehmu juga karena kehamilanku..” selidiknya curiga. Omo..kenapa sekarang dia malah menuduhku seperti penjahat. Aku sendiri bingung kenapa sikapku mendadak aneh. Aku jadi lebih sensitif dan..moodku mudah sekali berubah.

“Itu aneh!! Mana mungkin. Lagipula sikapku berubah sebulan terakhir ini. Kenapa kau malah menuduhku macam-macam?”

Min Ah bersedekap. “Itu mungkin saja. Kita tanyakan pada dokter besok.”

 

—o0o—-

 

Besoknya, sebelum Min Ah pulang kami sempat berkonsultasi singkat dengan dokter ahli kandungan. Dan pernyataan dokter itu membuat kami terkejut. Dokter mengatakan bahwa mungkin saja perubahan sikapku karena Min Ah akan mengandung. Terkadang, emosi itu di rasakan oleh suami. Bukan oleh istri. Tapi itu tidak masuk akal. Bagaimana bisa aku yang merasakan sensasi aneh seperti mood yang berubah-ubah dan perasaanku seperti lebih sensitif dari biasanya.

 

Aku masih tertegun dengan perkataan dokter tadi. Bahkan setibanya di rumah pun aku tetap terdiam. Aku yang mengidam? Bukan Min Ah? Rasanya sulit dipahami.

“Oppa, mungkin itu karena rasa cintamu terlalu besar untukku. Sehingga apa yang seharusnya aku rasakan, kau juga merasakannya. Oppa, kenapa bukan kau juga yang mengandung dan melahirkan anak..” Min Ah kembali membully-ku dengan candaannya yang tak lucu itu. Aku tersinggung mendengarnya.

“Kau mulai lagi..” gerutuku lalu melipat kedua tangan di depan dada. Min Ah tertawa dan ia memelukku dari belakang.

“Kau lucu sekali saat cemberut, Oppa”  Dia mencubit pipiku. Aish, dia benar-benar tidak peka. Atau aku saja yang terlalu sensitif?

“Oh, iya..” Min Ah mendadak melepaskan lingkaran tangannya lalu pergi ke kamar. Aku terdiam di sofa ruang tengah memikirkan kejadian yang kulalui selama kami menikah. Aku termenung mengingat betapa dinginnya aku saat itu. sebenarnya, bukan maksudku mendiamkan Min Ah. Aku tidak keberatan sama sekali dengan pernikahan ini. Hanya saja, kehadiran Min Ah yang tiba-tiba dalam hidupku membuatku terkejut. dan aku belum terbiasa dengan sikapnya yang mendadak saja berubah.

 

Saat kuliah dulu, Min Ah sering kali membully-ku setiap kali bertemu. Dan saat bertemu kembali, sikapnya berubah menjadi manis dan perhatian. Apalagi setelah kami menikah. Setiap perlakuan yang diperlihatkannya membuatku terpesona. Dan..lambat laun aku menyukainya. Syukurlah, Min Ah tidak menyerah menghadapi sikapku. Aku sangat bersyukur di sukai oleh gadis sepertinya. Dan dia pantas mendapatkan lebih daripada sekedar di cintai.

 

“OPPA!!!!” Aku tersentak kaget mendengar Min Ah berseru tiba-tiba. Saat aku mengangkat kepalaku dan menatapnya, mataku melebar takjub. Min Ah berdiri di depanku dengan sebuah kue tart di tangannya.

“Saengil chukhahamnida, Oppa..” ucapnya riang. Ia lalu menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Dan aku mencoba menahan tawa karena Min Ah tidak terlalu pandai menyanyi. Namun di balik semua ini, aku benar-benar terkejut sekaligus terharu. Ini, ulangtahun terindah dalam hidupku.

“Ayo tiup lilinnya..”

Kutiup lilin yang menyala di atas kue tart itu setelah sebelumnya berdoa. Min Ah mengecup pipiku ringan dan aku membalasnya dengan mengecup bibirnya.

 

Semburat merah tampak menghiasi pipinya. Min Ah tersipu malu.

“Aku ada hadiah untukmu, Oppa..”

“Oh ya? Mana?” aku penasaran dengan hadiah yang akan ia berikan padaku. Min Ah meletakkan kue tart di atas meja lalu merogoh saku sweternya. Ia menyerahkan sebuah kotak kecil padaku.

“Apa ini?” keningku berkerut heran. Hadiah apa yang ada di dalam kotak sekecil ini? Min Ah hanya tersenyum manis.

“Buka saja.”

 

Daripada aku penasaran, lebih baik kubuka saja kotak kecil berwarna pink ini. Kerutan keningku semakin bertambah. Aku menatapnya bingung.

“Flashdisk?” Min Ah memberiku flashdisk? Untuk apa?

Min Ah mengangguk antusias. “Hadiahku ada di dalam benda itu.”

 

Tidak butuh waktu lama untuk membuatku paham. Mungkin ada sesuatu di dalam flashdisk ini dan Min Ah ingin aku melihatnya. Aku segera berjalan ke arah tv plasma di depanku lalu memasangkan flashdisk itu di sana untuk melihat isinya. Min Ah sudah duduk manis di sofa dan sikapnya itu membuatku makin penasaran. Segera saja aku duduk di sampingnya. Min Ah memeluk lenganku dan menyandarkan kepalanya di pundakku. Posisi ini membuatku nyaman.

 

Tak lama, di layar televisi tampak sebuah slide berisi kata-kata pembukaan.

 

‘Sweet Memories of My Glassess Namja’

 

Aku mengerjap melihat judul itu di layar tv. Rasa penasaranku semakin terpacu. Kira-kira apa yang akan di tampilkan selanjutnya. Dan yang muncul di layar berikutnya benar-benar membuatku terpana.  Layar itu menampilkan slide-slide foto diriku. Yang membuatku terkejut sekaligus terharu adalah, foto-foto itu adalah potret diriku sejak saat kuliah dulu hingga saat ini. Ya Tuhan, kapan semua itu diambil? Dari setiap foto yang muncul, aku bisa melihat diriku sendiri dalam berbagai macam ekspresi. Aku yang sedang tertawa riang, merengut, bingung, tersenyum, ban banyak ekspresi lain. Aku tidak tahu jika..aku pernah memunculkan ekpresi-ekspresi yang kulihat di layar saat ini. Bukankah itu berarti, Min Ah sudah lama memperhatikanku.

 

Tanpa sadar, airmataku meleleh. Aku tidak pernah menangis karena hal sepele seperti ini sebelumnya. Namun, kali ini aku merasa tersentuh dan airmata ini jatuh dengan sendirinya. Dan di akhir slide, foto yang ditampilkan adalah foto pernikahan kami. Jantungku berdebar kencang. Min Ah, dia benar-benar mencintaiku.

“Oppa, aku memperlihatkan ini semua bukan untuk membuatmu menangis” Min Ah mengusap airmata yang mengalir di pipiku dengan jarinya.

“Lalu, untuk apa?” suara yang keluar di tenggorokanku terdengar serak. Ini pasti pengaruh airmata.

“Aku ingin menunjukkan padamu, bahwa aku sangat mencintaimu. Tak peduli dulu kau itu sangat culun dan tidak menarik perhatian..”

 

Sudut bibirku tertarik membentuk senyuman mendengarnya.

“Boleh aku bertanya, kenapa kau jatuh cinta padaku? Aku ingin tahu alasan yang sebenarnya darimu.” Sampai detik ini, aku masih  penasaran. Apa yang membuat Min Ah begitu menyukaiku. Seperti yang dikatakannya, aku tidak menarik perhatian sama sekali. Bahkan, gadis yang paling biasa saja tidak menyukaiku. Karena itu aku terkejut  gadis seperti Min Ah bisa menyukaiku.

 

Min  Ah menatapku lekat. “Oppa, apa kau percaya dulu kita pernah bertemu?”

Ucapannya itu membuatku terkejut. Dulu kami pernah bertemu? Tepatnya kapan? Aku tidak ingat.

“Kapan itu?”

“Saat aku masih di tingkat 6 SD”

Benarkah? Sejujurnya aku tidak ingat sama sekali kejadian masa kecil. Itu, sudah lama sekali. Aku terus memperhatikan Min Ah yang sedang bercerita.

“Dulu, aku anak yang selalu di intimidasi oleh teman-teman karena penampilanku yang culun. Aku memakai kacamata, gigiku memakai kawat gigi dan percayalah, aku tidak menarik perhatian sama sekali. Aku mengikuti pertandingan balet dan teman-temanku mengejek bahwa aku tidak akan menang pertandingan karena penampilanku tidak menarik. Saat itu aku menangis sehabis di bully teman-teman. Lalu tiba-tiba, seorang namja datang menghampiriku..” Min Ah berhenti sejenak. Kepalanya terangkat memandangku. Aku tidak mengerti. Tapi pasti namja yang dimaksud adalah diriku.

 

—o0o—

 

Author POV

 

Min Ah menatap Sungmin sejenak untuk melihat ekspresi namja itu. Dia masih tampak kebingungan. Min Ah heran. Kenapa dia tidak kunjung mengingat kejadian hari itu juga?

“Namja itu berlutut di hadapanku yang sedang menangis di bangku taman. Dengan senyum yang manis, dia memberitahuku satu kalimat yang sangat indah…” Min Ah terdiam kembali. “Keindahan itu lahir dari kesederhanaan..”

 

Sungmin terbelalak. Jadi, kalimat yang sering ia dengar dari mulut Min Ah itu sebenarnya adalah kalimat yang pernah diucapkan oleh dirinya sendiri? Bagaimana bisa? Ia tidak ingat pernah mengatakannya.

“Dia juga mengatakan padaku agar jangan diam saja jika diperlakukan tidak adil oleh teman-temanku. Aku harus menjadi anak yang kuat. Penampilan, tidak mempengaruhi bakat seseorang. Aku tetap bisa memenangi kompetisi balet meskipun penampilanku biasa saja. Karena, semua anak itu istimewa..” Min Ah menatap Sungmin lagi. “Itulah yang Oppa katakan padaku. Berkat kata-katamu itu, semangatku pulih kembali dan aku bisa percaya diri menghadapi pertandingan serta teman-temanku. Dan kau benar Oppa, penampilan tidak akan mempengaruhi bakat seseorang. Aku berhasil meraih juara pertama dalam kompetisi itu. Sejak itulah, aku berusaha sekuat tenaga untuk mengubah diri menjadi lebih baik. aku melepas kacamataku, kawat gigi, dan aku pun belajar bagaimana caranya menjadi wanita yang cantik karena jika suatu saat aku bertemu kembali dengan namja yang sudah memberiku semangat, aku bisa membuatnya jatuh cinta karena aku juga mencintainya.”

 

Sungmin tersentuh mendengar cerita itu. Mulutnya sudah gagu untuk berkata-kata. Ia bingung harus mengatakan apa.

“Tapi, saat bertemu denganmu kembali, aku kecewa. Oppa tidak mengenaliku sama sekali. padahal aku sekali melihatmu saja sudah bisa mengenalimu”

“Tunggu dulu Min Ah..” sela Sungmin. “Bagaimana kau yakin bahwa namja yang memberimu nasihat waktu itu adalah aku..” Ia sungguh tidak ingat ada kejadian itu.

“Dulu, Oppa memakai seragam SMP saat menemuiku. Dan di seragam itu ada papan nama bertuliskan Lee Sungmin. Nah, apa aku salah mengenali orang?” tanya Min Ah heran karena Sungmin masih kebingungan juga. Namja itu berusaha mengingat keras apa benar kejadian itu pernah dialaminya? Dan sesaat kemudian ia mengerjap ketika menyadari sesuatu yang terlupakan.

“Aku tidak mengingatnya..” ucapnya dengan suara tercengang. Min Ah terkejut.

“Aku memang tidak bisa mengingat kejadian masa kanak-kanak. Eomma pernah mengatakan, dulu saat SMP aku kecelakaan dan sebagian ingatanku hilang karena trauma. Mungkin saat itu aku juga melupakan kejadian ketika bertemu denganmu.” Itu satu-satunya alasan masuk akal mengapa ia tidak bisa mengingat Min Ah.

 

Min Ah terdiam melihat Sungmin tampak begitu tersiksa. Ia sudah mengingatkan Sungmin pada kenangan yang tak menyenangkan.

“Oppa..yang lalu lupakan saja. Bukankah yang terpenting sekarang Oppa tahu aku mencintaimu..” Min Ah kembali memeluk Sungmin untuk menenangkannya. Namja itu menganggukan kepala.

“Kau benar. sekali lagi terima kasih atas semuanya..” Sungmin balas memeluk Min Ah. Ia mengangkat kepala istrinya lalu mendekatkan wajahnya. Min Ah terkesiap.

“Oppa, tunggu!!!!” cegahnya. Sungmin yang berniat mencium Min Ah berhenti sejenak.

“Kenapa?” tanyanya bingung.

Min Ah melepaskan kacamata yang masih bertengger di hidung Sungmin lalu tersenyum. “Kacamata ini menghalangi kegiatan kita, Oppa. Kau harus melepaskannya..”

Sungmin tersenyum tipis melihat tindakan Min Ah. keduanya saling berpandangan. Setelah itu, mereka tenggelam dalam ciuman yang hangat dan mesra. Dengan  begini, kehidupan bahagia rumah tangga mereka dimulai.

 

—-o0o—-

 

Beberapa bulan kemudian..

 

“Oppa..aku ingin sekali makan buah apel!! Cepat kupaskan!!” rengek Min Ah membangunkan Sungmin di tengah malam. namja itu menguap sebentar lalu menoleh pada istrinya yang menatapnya setengah memohon.

“Ini tengah malam Min Ah, yang benar saja..” ucapnya malas.

“Oppa ini bukan keinginanku tapi bayi kita..” Min Ah mengusap perutnya yang sudah mulai membesar. Kandungannya sudah menginjak usia enam bulan. Ia melotot pada suaminya yang masih enggan bangun dari tempat tidur.

“Ppalli Oppa.. kupaskan aku buah apel!!” Min Ah sudah tidak sabar segera mengguncang lengan Sungmin.

“Tapi Min Ah, kau terlalu sering makan buah apel akhir-akhir ini. Lagipula persediaan buah apel kita sudah habis. Bagaimana kalau besok saja” rayu Sungmin. Sebenarnya dia malas. Ia sangat mengantuk karena akhir-akhir ini dia jarang tidur. Min Ah seringkali mengganggu acara tidur cantiknya seperti sekarang ini.

 

Min Ah merengut, bersiap-siap untuk menangis. “Oppa kira aku hamil karena siapa. Ini semua ulahmu Oppa! Kau yang sudah membuatku mengandung. Dan sekarang, Oppa tidak ingin bertanggung jawab.. hiks..Eomma…” Min Ah menangis juga akhirnya.

“Aigoo..baiklah, baiklah. Tunggu sebentar.” Sungmin bergegas bangun. Min Ah menjadi lebih sensitif saat ia hamil. Dia mudah sekali menangis dan moodnya berubah-ubah. Sungmin pun merasa heran. Sekarang ia merasa menjadi dirinya yang dulu namun Min Ah justru yang menjadi aneh semenjak hamil. Dan ia tidak keberatan. Bukankah wajar saja jika wanita hamil meminta hal-hal aneh.

 

Sungmin kalang kabut mencari apel di tengah malam. beruntung ia menemukannya di supermarket 24 jam. Setibanya di rumah, Min Ah sudah menunggu di meja makan dan Sungmin sibuk mengupaskan apel untuknya.

“Ini apelnya, putri. Apa ada hal lain yang kau inginkan?” Sungmin meletakkan sepiring apel di hadapan Min Ah. Gadis itu terkikik  geli melihat tampang kusut suaminya. wajah mengantuk bercampur lelah terlihat jelas di wajah Sungmin.

“Aku ingin di suapi..” pintanya dengan wajah aegyeo. Tak lupa juga ia mengedip-ngedipkan mata meminta Sungmin menurutinya.

Sungmin menghela napas lalu duduk di samping Min Ah. Ia mengambil sepotong apel lalu mengarahkannya ke mulut istrinya. “Aa—buka mulutmu, putri..”

Min Ah menurut. Ia membuka lebar mulutnya lalu mengunyah apel itu dengan semangat. Sungmin hanya bisa menggelengkan kepalanya. Entah sudah berapa puluh kilo apel yang dihabiskan Min Ah selama hamil. Ia tidak pernah meminta hal aneh lain selain hal-hal yang berbau apel. Ada-ada saja. Jangan-jangan anak mereka nanti perempuan.

“Oppa, kau berkeringat di cuaca dingin seperti ini..” Min Ah mengusap titik-titik keringat yang ada di kening Sungmin dengan tangannya.

“Kau pikir ini karena perbuatan siapa??” tanyanya sarkastis. “Kukira setelah ini hidupku akan lebih indah dan tenang. rupanya saat hamil pun kau masih suka membully-ku..” Ia mengasihani diri sendiri. Min Ah kembali tergelak.

“Habis, aku suka melihat wajah sengsaramu..”

Sungmin mendelik tajam lalu kembali menyuapkan sepotong apel sebagai pelampiasan rasa gemas bercampur kesalnya. Ia memang lelah menghadapi Min Ah, tapi itu bukan beban sama sekali baginya. Ia justru merasa sangat bahagia.

“Oke, sekarang waktunya tidur kembali..” ucap Sungmin begitu apel di atas piring habis. Min Ah menguap singkat lalu memeluk leher Sungmin.  Namja itu tersenyum lalu mengangkat tubuh Min Ah dari kursi, menggendongnya menuju kamar mereka.

“Jangan menyusahkanku lagi dan tidur yang manis, nyonya Lee..” gumam Sungmin sambil menyelimuti tubuh istrinya dengan selimut. Min Ah mengangguk lalu terlelap sambil memeluk tubuh suaminya.

 

—o0o—

 

Tanpa terasa waktu berlalu. Usia kandungan Min Ah sudah menginjak sembilan bulan. Je Young sering sekali mengunjunginya untuk melihat keadaan Min Ah. Semenjak hamil, Min Ah berhenti dari pekerjaannya dan fokus mengurus rumah tangga sementara Je Young mulai menerima Kyuhyun dalam hidupnya meskipun terkadang ia sebal juga pada sifat aneh pria itu.

“Apa? kau harus menerimanya Shin Je Young!!” seru Min Ah semangat. Ia duduk di sofa ruang tengah sambil memakan buah apel yang sudah dikupas oleh Je Young. Gadis di sampingnya itu tersipu malu karena baru saja ia menceritakan pada Min Ah bahwa Cho Kyuhyun sudah melamarnya kemarin.

“Mungkin..” ucapnya dengan senyum malu tersungging di bibir. Min Ah memukul halus bahu Je Young.

“Apa lagi yang kau pikirkan. Cho Kyuhyun pria yang sempurna untuk dijadikan suami! Aku tidak sabar melihatmu memakai gaun pengantin..akh—“ aliran kata-kata Min Ah terhenti karena ia merasakan sakit yang luar biasa di perutnya.

“Kau kenapa Min Ah..jangan-jangan, kau akan melahirkan!!!” seru Je Young panik. Min Ah tidak menjawab apapun karena sibuk menahan rasa sakit. sepertinya ia memang akan melahirkan. Je Young pontang-panting menelepon rumah sakit. Min Ah akan bersalin tidak lama lagi!!

 

—-o0o—-

 

Min Ah terus berteriak kesakitan di ruang bersalin. Suster dan dokter yang membantu proses persalinan sampai kebingungan menghadapi ulah Min Ah. Sungmin yang baru saja tiba segera menangkan istrinya.

“Ayo chagi, kau ibu yang kuat dan hebat” hibur Sungmin. Ia gugup dan takut menghadapi saat-saat seperti ini. Kedua orang tua mereka menunggu di luar dengan perasaan cemas yang sama. Min Ah terus mengerang menahan kontraksi dalam perutnya. Dokter yang membantu proses persalinannya pun terus memberikan instruksi pada Min Ah.

“Iya, tarik napas, lalu dorong sekuat tenaga nyonya..” ucapnya. Min Ah melakukannya dengan sekuat tenaga. Ia sampai mencengkram erat tangan Sungmin dan keringat terus mengucur di dahinya. Rasanya sangat menyakitkan, Ia seperti akan mati.

 

Sungmin merasa takut melihat Min Ah kesakitan dan airmata sedikit meleleh di sudut matanya. Ya Tuhan, kalau bisa, biar dirinya saja yang merasakan kesakitan itu. Ia tidak tega melihat Min Ah tersiksa seperti ini. Ia terus berdoa dalam hati sambil memberikan spirit pada istrinya.

Akhirnya, tangis bayi itu terdengar. Sungmin lega luar biasa, begitupun Min Ah. Kepalanya terhempas lunglai di atas bantal.

“Bayiku sudah lahir..” gumamnya lemah. Sungmin segera mengecup kening Min Ah.

“Kau hebat chagi, kau hebat..” ucapnya bangga sekaligus senang. Ia tak menyangka akhirnya masa-masa menegangkan tadi sudah terlewat.

“Selamat, tuan, nyonya..bayi yang lahir perempuan..” ucap dokter sambil menunjukkan bayi yang sekarang sudah terselubung kain hangat. Sungmin menerima bayi yang masih merah itu dengan rasa haru yang tak bisa di utarakan lagi. Ia bingung harus menggambarkan perasaan yang meluap dalam dirinya saat ini kala melihat anaknya menangis dalam gendongannya. Bayi ini..putrinya.

“Chagi..lihat anak kita..dia cantik sepertimu..” Sungmin meneteskan airmata haru. Ia memperlihatkan bayi itu pada Min Ah. gadis itu pun menitikkan airmata. Ia mengulurkan tangannya ingin menyentuh anak yang baru saja dilahirkan olehnya itu.

“Biarkan aku menyentuhnya, Oppa..” ucap Min Ah. Sungmin memberikan bayi itu padanya. Min Ah menelungkupkan bayi di atas dadanya. Dan bayi itu seketika menangis. Min Ah tertawa sekaligus menangis. Ia sangat bahagia karena sekarang ia sudah menjadi seorang ibu.

“Putriku..” Min Ah mengecup puncak kepala bayi dalam pangkuannya dengan penuh kasih sayang. Sungmin pun melakukan hal yang sama, mengecup singkat anaknya lalu ia mengecup kening istrinya dengan perasaan bahagia yang tak terkira. Suasana haru itu berlangsung tak lama karena kemudian situasi mendadak gaduh berkat ulah orang tua mereka yang gembira melihat kelahiran cucu pertamanya.

“Cucuku.. aish, dia cantik sepertiku..” ucap Eomma Sungmin semangat. Dia menimang bayi yang menangis itu dengan perasaan gembira.

“Ani, dia cantik sepertiku tentu saja..” balas Eomma Min Ah sambil mengelus-elus pipi bayi itu.

 

Min Ah tersenyum dari jauh melihat kedua orang tua mereka yang berisik. Ia menoleh pada Sungmin yang tertawa senang melihat tingkah orang-orang tua itu.

“Oppa..” gumam Min Ah. Sungmin menoleh.

“Mulai sekarang aku akan memanggilmu..’Appa’..” ucap Min Ah dengan senyuman manis. Sungmin mengerjap mendengarnya.

“Baiklah, aku juga akan mulai memanggilmu ‘Eomma’..” ia membungkuk lalu mengecup singkat  bibir Min Ah. Mereka saling melempar senyum kemudian. Mulai sekarang, kehidupan baru mereka sebagai orang tua resmi dimulai.

.

.

.

—o0o—

 

Tiga tahun kemudian..

 

“Minrae, jangan bermain-main dengan Eomma sayang..ayo makan..”

“Shileo Eomma..Shileo..” Minrae cilik berlarian menghindari Eommanya yang terus memaksanya agar makan. gadis cilik itu bersembunyi di bawah meja makan sambil terkikik senang karena berhasil membuat ibunya kelelahan. Min Ah berhenti sejenak untuk mengambil napas. Kenapa anak itu lincah sekali? padahal usianya baru menginjak tiga tahun.

“Minrae sayang..jika kau tidak makan..Eomma tidak akan memberimu hadiah barbie..” rayu Min Ah. dia sudah kehabisan akal untuk membuat putrinya itu menurut. Minrae tetap bersembunyi di bawah meja. Kepalanya menggeleng cepat dan tangan mungilnya itu menutup mulutnya pertanda ia tidak ingin makan.

 

“Aku pulang..”

 

Dari arah depan terdengar suara Sungmin yang baru saja pulang kerja. Ia sekarang sudah menjadi seorang Presdir perusahaan milik Appanya dan penampilannya pun sudah berubah sejak menjadi seorang ayah. Sungmin sudah melepas kacamatanya dan tampil lebih dewasa. Entah sudah berapa banyak wanita yang terpesona setiap melihatnya. Tapi itu sudah tidak berarti lagi bagi Sungmin, karena ia sudah memiliki istri yang sangat mencintainya dan Minrae, putri kecilnya yang kini berusia tiga tahun.

 

Min Ah menoleh mendengar suara Sungmin sementara Minrae melonjak senang.

“Appa!!!” gadis cilik itu berlarian menghampiri Sungmin. Begitu tiba di dekat Sungmin yang sedang melepas jas, tangan mungilnya itu memeluk kakinya.

“Appa, Appa!!” serunya senang. Sungmin tersenyum.

“Aigoo, putri Appa..” ia segera menggedongnya. “Kau jadi anak baik selama Appa bekerja?” tanya Sungmin lembut sambil mengusap puncak kepala Minrae. Gadis itu mengangguk antusias.

“Aigoo, Appa..dia sulit sekali saat kusuruh makan.” keluh Min Ah. Sungmin melirik pada gadis dalam gendongannya itu.

“Minrae, Appa sudah bilang jangan menyusahkan Eomma. sekarang ayo makan..” Sungmin mendudukkan putrinya di salah satu kursi meja makan lalu mulai menyuapinya. Anehnya gadis cilik itu mau memakannya. Min Ah mendengus kesal.

“Aigoo, kenapa dia menurut sekali padamu, Appa..” ucapnya frustasi. Sungmin melirik pada istrinya itu lalu tertawa.

“Mungkin dia ingin membully-mu saja, chagi..”

“Mwo???” Min Ah terbelalak kaget mendengarnya. Jadi maksudnya, sekarang ia dikerjai oleh putrinya sendiri? aigoo, rupanya hukum karma sedang berlaku sekarang. Minrae yang pipinya menggembung oleh makanan menoleh padanya.

“Minnie senang lihat Eomma kecape-an..” ucapnya dengan suara lucu khas anak kecil. Sungmin tertawa mendengarnya. Minrae benar-benar mirip dengan Min Ah dulu.

“Aigoo..kau berani membully Eomma, sekarang lihat pembalasan Eomma..” Min Ah gemas sekali melihat putrinya. Ia mendekat lalu menggelitiki pinggang Minrae membuat gadis cilik itu tergelak senang. Minrae turun dari kursinya lalu berlari ke belakang Sungmin dengan tawa riang menghiasi wajah cerianya. Sungmin merasa terhibur dengan tingkah Minrae dan rasa lelah yang didapatkannya sehabis bekerja hilang begitu saja.

 

Begitulah setiap harinya kehidupan rumah tangga mereka. Selalu dihiasi gelak tawa dan kehagiaan berkat hadirnya malaikat cilik untuk melengkapi keseharian mereka. Semuanya tampak sangat indah dan berwarna.

 

The end..

 

 

101 thoughts on “Hello My Glassess Namja (Part 4) End

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s