Hello My Glassess Namja (Part 3)

Tittle : Hello My Glassess Namja Part 3

Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young

Genre : Romance, Married Life

 

Main Cast :

  • Lee Min Ah
  • Lee Sungmin

Support Cast :

  • Shin Je Young
  • Cho Kyuhyun

Hello My Glassess Namja by Dha Khanzaki

——o0o——–

Author POV

 

Sekarang sudah waktunya jam pulang kantor. Sungmin terus tersenyum pada pegawainya yang tampak takjub melihat perubahannya hari ini. Mereka sempat mengira Sungmin orang lain ketika melihatnya datang ke kantor pagi tadi.

“Apa kau berpikir Direktur tampak sangat tampan hari ini?” tanya salah satu pegawai wanita sambil berbisik.

“Iya. Kemana kacamatanya? Tapi aku lebih suka melihat Direktur seperti ini..” balas yang lain.

 

Sungmin tidak mempedulikan suara-suara berisik itu. Ia melihat jam tangannya. Oh, gawat. Jika tidak bergegas mungkin Min Ah harus menunggu lama. Eomma belum mengembalikan mobil istrinya sehingga Sungmin harus mengantar jemputnya.

 

Setibanya di depan kantor Min Ah, ia merasa heran karena tidak melihat sosok istrinya di pintu depan. Biasanya, gadis itu sudah berdiri di sana. Sungmin memarkirkan mobilnya dulu lalu turun.

“Oh, bukankah kau sahabat Min Ah.” ucap Sungmin ketika melihat Shin Je Young berjalan keluar dari pintu masuk utama. Gadis itu tersenyum.

“Sungmin-ssi. Sedang apa di sini?”

“Aku ingin menjemput Min Ah. tapi kulihat dia tidak ada di sini.”

“Min Ah sedang ada rapat dengan GM kami. Tapi kurasa sekarang sudah selesai. Ayo kuantarkan..” tawar Je Young. Sungmin tersenyum sekilas lalu mengikuti gadis itu masuk ke dalam gedung. Naik lift menuju lantai atas tempat Min Ah berada.

“Ini dia tempatnya.” Ucap Je Young ketika mereka sampai di depan pintu sebuah ruangan.

“Min Ah ada di dalam?” tanya Sungmin ragu. Je Young mengangguk. Ia lalu membukakan pintu untuk Sungmin. Namja itu masuk ke dalam ruangan dengan langkah ragu.

 

Ruangan yang menyerupai ruangan rapat itu sudah sepi. Sungmin mengerutkan keningnya. Bukankah Je Young bilang Min Ah ada di sini? Ia masuk lebih dalam dan ia mendengar suara tawa pria dan wanita dari dalam ruangan yang ada di samping tempatnya berada. Pintu menuju ruangan itu agak terbuka. Sungmin melongok sedikit ke dalam untuk melihat apakah ada Min Ah di dalam sana.  Bibirnya mengeluarkan seulas senyum ketika ia melihat istrinya ada di sana. Tapi apa yang dilihatnya? Min Ah sedang berangkulan dengan seorang namja!

 

Sungmin merasakan seluruh tubuhnya kaku ketika retina matanya menangkap sosok sang istri tengah dirangkul oleh namja. Matanya terbelalak dan ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya atas pemandangan di hadapannya itu. Ia mundur secara teratur namun ketika akan berbalik, tanpa sengaja Sungmin menabrak salah satu kursi hingga terciptalah suara gaduh.

 

Di dalam, Min Ah dan Kyuhyun yang sedang membicarakan masalah rencana kejutan itu tersentak kaget. Mereka menoleh cepat bersamaan ke arah luar pintu. Min Ah mengerjap kaget melihat Sungmin berdiri di depan sana.

“Oppa..” desisnya dengan mata melebar. Sungmin membalikkan badan dan pergi. Tidak, Min Ah segera menderap keluar mengejar Sungmin. Namja itu pergi melewati Je Young yang berdiri di depan pintu ruang rapat.

“Loh, Sungmin-ssi!!” teriaknya heran bercampur panik. Sungmin terus berjalan cepat dan masuk lift. Min Ah berlari ke arahnya dengan wajah kusut.

“Kau melihat Sungmin Oppa?” tanyanya buru-buru.

“Dia, berlari ke arah lift. Sebenarnya apa yang terjadi?”

“Nanti kujelaskan.” Min Ah dengan panik segera berlari mengejar suaminya. Ia segera masuk lift begitu pintu lift terbuka.

 

Min Ah berlarian hingga akhirnya tiba di depan pintu masuk. Ia melihat punggung Sungmin masuk ke mobilnya. Ia sudah beberapa kali memanggil, namun pria itu sepertinya sengaja tidak mendengarkannya. Mobil suaminya bergerak pergi, Min Ah mempercepat larinya berharap bisa mengejar. Namun gagal. Ketika ia tiba di sisi jalan, mobil yang dikemudikan Sungmin sudah raib bercampur dengan ratusan mobil lainnya di jalan raya.

 

Bagaimana ini? Sungmin mungkin salah paham dengan apa yang dilihatnya tadi. Min Ah bergegas kembali ke ruangannya untuk mengambil tas yang tertinggal di sana.
“Min Ah, apa yang terjadi?” tanya Je Young. Mereka berpapasan di lobi.

“Aku tidak tahu, tapi sepertinya Sungmin Oppa salah paham. Aku harus pergi tapi uangku tertinggal di dalam tas.”

Je Young menyerahkan kunci mobilnya pada Min Ah. “Pakai mobilku. Kau kejarlah suamimu itu.”

“Tapi, kau bagaimana?”

“Aku bisa pulang naik taksi”

“Baiklah, kalau begitu aku pinjam mobilmu..” Min Ah bergegas pergi. lain kali ia akan membalas kebaikan Je Young. Tapi sekarang yang terpenting adalah suaminya. Kehidupan mereka baru berjalan baik dan sekarang kembali di landa masalah.

 

—o0o—

 

Begitu tiba di apartementnya, Sungmin langsung membanting pintu lalu menghempaskan diri di atas sofa ruang tamu. Sekarang, dalam dirinya sedang berkecamuk perasaan sakit, sedih, dan terasa perih di bagian ulu hatinya. Tenggorokannya pun terasa sesak. Sungmin harus mengakui ia merasa cemburu dan marah melihat Min Ah bersama Namja lain. Dan pertanyaan terbesarnya adalah siapa namja itu?

 

Tanpa sadar ia mulai terlelap.

 

“Oppa..” Min Ah berhenti berteriak ketika tiba di apartement ia melihat suaminya tertidur di atas sofa. Syukurlah. Ia sempat mengira akan terjadi sesuatu yang fatal di apertement sederhana mereka. Beruntung sekali Sungmin bukan tipe orang yang akan melampiaskan kekesalannya pada benda-benda.

Min Ah terdiam. Tak lama ia kembali dengan selimut lalu menyelubungi tubuh Sungmin dengan selimut. Ia memandangi wajah suaminya sejenak.

“Oppa, Mianhae.. tapi, aku tidak akan pernah berselingkuh atau apapun. Tadi kau hanya salah lihat.” gumamnya seraya mengelus kening Sungmin dengan lembut. Min Ah mengecup singkat kening namja itu sebelum pergi.

 

Hari berganti malam. Sungmin terbangun dari tidurnya. Kepalanya melirik ke arah luar jendela yang sudah berubah gelap. Ia mencium bau wangi makanan dari arah dapur. Mungkin Min Ah sedang memasak.

“Oh, Oppa sudah bangun rupanya. Kebetulan sekali makan malamnya sudah siap. Oppa duduk dulu saja.”

Sungmin mengerutkan keningnya. Kenapa Min Ah bersikap biasa saja? Ia tidak merasa bersalah? Namun ia tetap mengikuti ucapan Min Ah. tangannya menarik salah satu kursi lalu duduk. Mulutnya mengerucut sebal.

 

“Oppa, kenapa wajahmu kusam begitu?” seru Min Ah bercanda. Sungmin kesal sekali. Min Ah benar-benar tidak menyadari kondisinya sekarang? Apa ia tidak mencoba untuk meminta maaf atas apa yang dilakukannya di kantor?

“Apa ada yang ingin kau jelaskan?” tanya Sungmin sinis. Min Ah mengerjap lalu berhenti makan.

“Anu, yang tadi Oppa lihat itu..”

“Siapa namja itu? kau berselingkuh?” potong Sungmin dengan mata menyipit. Min Ah tergagap.

“Tidak, Oppa..itu..Kyuhyun hanya rekan kerjaku. Dan yang kau lihat tidak seperti yang kau pikirkan. Kami hanya..”

“Saling berangkulan..” potong Sungmin lagi.

“Oppa, demi Tuhan. Dengarkan dulu penjelasanku hingga selesai..” Min Ah ikut tersulut emosi. “Aku tahu Oppa cemburu. Tapi bisakah mendengarkan alasanku lebih dulu?”

Sungmin mengerjap. “Tunggu, aku tidak cemburu” sanggahnya sambil bangkit. Min Ah ikut bangkit lalu menunjuk Sungmin dengan sendok yang dipegangnya.

“Kau cemburu Lee Sungmin. Jika tidak mengapa kau marah.”

“Siapa yang tidak marah jika melihat istrinya bersama namja lain?” Sungmin memutari meja untuk berhadapan langsung dengan Min Ah. Ingin sekali Min Ah berteriak tepat di depan wajah suaminya itu tapi tidak bisa. Ia hanya bisa melakukannya di dalam hati.

“Tidak ada apapun yang terjadi di antara kami. Kyuhyun itu menyukai Je Young!!” sungutnya kesal.

“Lalu kenapa kalian berangkulan? Apa itu membuktikan bahwa tidak ada yang terjadi di antara kalian!!”

“Itu karena…” Min Ah menutup bibirnya rapat-rapat. Ia tidak mungkin menceritakan apa yang sedang ia bahas bersama Kyuhyun di ruangan itu. semuanya bisa rusak.

 

Sungmin merasa terpukul melihat Min Ah memilih diam. Rupanya dugaannya benar, Min Ah memang menyembunyikan sesuatu darinya.

“Baik. kalau begitu jangan jelaskan apapun.” Sungmin menderap pergi ke kamar lalu membanting pintu.

“Oppa!!!” Min Ah mengejar suaminya itu. “Oppa, dengarkan ceritaku sampai selesai..” pintanya sambil menggedor pintu. Tetap tidak ada jawaban. Sungmin benar-benar marah malam itu.

“Aigoo, ada apa lagi. sejak kapan seorang Lee Sungmin menjadi sensitif seperti perempuan?” umpatnya kesal.

 

—o0o—

 

Tanpa terasa tiba juga pada hari natal. Meskipun hingga detik ini Sungmin masih enggan berbicara dengannya, Min Ah tetap berusaha untuk memberikan penjelasan. Sekarang, terpaksa mereka menunda acara rajuk-merajuk karena mereka harus mengunjungi keluarga mereka yang berkumpul untuk merayakan pesta natal bersama.

 

“Min Ah, apa kau belum memberikan kami kabar baik?” tanya Eommanya ketika mereka makan  malam bersama di rumah keluarga Sungmin.

“Em, itu.. Kami sedang mengusahakannya..” jawab Min Ah tergagap. Ia melirik Sungmin yang sedang memakan salad buah dengan tenang.

“Kalian harus lebih serius. Jika tidak, terpaksa Eomma akan mengawasi kalian..” ancam Eomma Sungmin serius. Dia bahkan tersenyum penuh arti. Min Ah hanya membelalakkan matanya.

 

—-o0o—

 

“Ini semua karenamu!!” protes Min Ah pada Kyuhyun siang itu. acara natalnya gagal karena Sungmin salah paham. Ia tidak mau jika pertengkaran mereka terus berlanjut hingga tahun baru nanti. Bisa-bisa semua rencana yang sudah di susunnya gagal total.

“Bukankah kau bisa meminta maaf dan menjelaskan semuanya?” ucap Kyuhyun tidak mau di salahkan.

“Sudah kulakukan. Tapi, Sungmin Oppa sekarang lebih sensitif dari yeoja. Aku juga tidak mengerti kenapa kali ini sulit sekali membuatnya berhenti merajuk setiap kali melihatku.”

“Jangan salahkan aku soal itu”

“Tapi bukankah kau berhasil mengajak Je Young kencan juga karena aku. Jadi sekarang bantu aku.” Paksa Min Ah. tak ada jalan lain lagi  selain meminta Kyuhyun sendiri yang menjelaskan semuanya.

“Baiklah, baiklah..” Kyuhyun angkat tangan. “Aku akan datang ke rumahmu nanti untuk menjelaskan pada suamimu secara langsung!”

“Mwo?”  Min Ah tidak mengerti dengan ucapan Kyuhyun barusan. Datang ke rumahnya dan menemui suaminya? Dia sudah gila.

 

—-o0o—-

 

Dua hari lagi menuju tahun baru. Min Ah dan Sungmin tak kunjung berbaikan. Min Ah kali ini menunggu dengan perasaan cemas bercampur panik di ruang tamu apartementnya. Sekarang hari libur sehingga Sungmin ada di rumah. Yang ia cemaskan adalah, Kyuhyun mengatakan hari ini ia akan datang untuk menjelaskan kesalahpahaman di antara Sungmin dan Min Ah.

 

Ting tong.

 

Sungmin menolehkan kepalanya dari laptop saat mendengar suara bel berbunyi. Ia bangkit dari tempat duduknya di ruang tengah menghampiri pintu masuk. Namun, beberapa langkah sebelum ia membuka pintu, Min Ah mendahuluinya.

“Kyuhyun..” seru Min Ah senang. Sungmin membelalakkan mata mendengar nama itu. Bukankah Kyuhyun adalah namja yang merangkul istrinya waktu itu? Ia mendekati Min Ah agar bisa melihat lebih dekat.

“Hai, Min Ah. Tiba-tiba saja aku ingin sekali mengunjungimu.” Ucap Kyuhyun. melihat pria yang berdiri di samping Min Ah melotot padanya, Kyuhyun cepat mengoreksi “Dan aku tidak datang sendiri. Aku datang bersama Je Young.”

“Oh ya? Mana dia?”

 

Kyuhyun menarik Je Young agar lebih dekat dengannya. Dengan ragu, ia tersenyum pada Min Ah dan Sungmin. Sebenarnya ia enggan pergi di hari libur bersama Kyuhyun apalagi untuk mengunjungi rumah Sungmin-Min Ah. Tapi karena namja itu terus memaksa dan ia tidak sanggup untuk menolak lagi, akhirnya ia menerima ajakan Kyuhyun.

“Annyeong..” sapa Je Young kikuk.

Melihat ada gadis lain yang diajak namja itu, Sungmin berhenti memperlihatkan raut menakutkan. Berangsur ekspresinya pulih. Ia memasang wajah datar dan belum ada senyum di bibirnya.

Min Ah melihat Sungmin mulai luluh. Ia memberikan kode pada Kyuhyun untuk masuk. Ia tersenyum sekilas pada sahabatnya yang tampak cemberut. Sepertinya Je Young tidak terlalu suka idenya untuk ‘pura-pura menjadi teman kencan Cho Kyuhyun’.

“Kenapa kau sedih? Bukankah menyenangkan bisa bersama dengan GM kita?” goda Min Ah.

“Diamlah..”

 

—o0o—

 

Min Ah terus menatapi suaminya yang sedang duduk di ruang tengah bersama Kyuhyun. Ia berharap namja itu mau menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi antara mereka. Ia tidak bisa fokus memasak makan siang untuk mereka semua.

“Min Ah, ayammu gosong!!” teriak Je Young panik karena melihat gadis itu terus melamun. Min Ah tersentak kaget. Wajan yang dipegangnya memang sudah berasap dan menimbulkan bau hangus.

“Arrrgghh.. bagaimana ini??” serunya panik. Ia segera memindahkan wajan ke tempat kosong di samping kompor lalu menggantinya dengan panci berisi air untuk merebus sayuran.

“Kau ini, sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan..” ucap Je Young.

“Aku masih mengkhawatirkan Sungmin Oppa yang merajuk. Sifatnya terlanjur aneh setelah kejadian itu.” cerocos Min Ah tanpa sadar.

“Kejadian itu??” Je Young menoleh penasaran. Gerakannya mengupas buah terhenti.

 

Mendadak saja Min Ah gugup. “Ah, itu. kami, kau tahu lah..Suami istri harus melakukan apa. Aku dan Sungmin Oppa sudah melakukannya.” Pipi Min Ah  merona kemerahan setelah menjelaskannya. Tak perlu waktu lama untuk membuat Je Young paham maksud ucapannya. Gerakan tangan gadis itu benar-benar berhenti. Ia terdiam atau lebih tepatnya terkejut. Mereka sudah melakukannya….

Min Ah tidak menyadari kondisi Je Young saat ini. Ia terlalu penasaran dengan apa yang tengah didiskusikan oleh Kyuhyun dan Sungmin di dalam sana.

 

Sementara itu…

 

Kyuhyun merasa seperti penjahat karena kini sang tuan rumah tengah menatapnya dengan ekspresi menusuk. Ia bisa merasakan aura jahat menyelubungi atmosfer sekitar mereka. Ia membenarkan duduknya lalu berdehem sebentar untuk mengurangi kegugupan.

“Ini benar-benar kejutan. Aku baru tahu bahwa Min Ah sudah menikah.” Ucapnya seriang mungkin, ia sedang berusaha mencairkan suasana. Namun rupanya kalimat itu tidak membuat Sungmin berhenti mengintimidasinya. Namja itu justru menyipitkan mata.

“Karena itu kau bisa dengan bebas merangkulnya?” nada curiga terdengar jelas dari ucapan Sungmin. Kyuhyun semakin salah tingkah.

“A-aku tidak merangkulnya, Hyung” jelas Kyuhyun gelagapan.

“Siapa yang kau panggil Hyung!! Aku bukan Hyungmu!!!” tegas Sungmin tajam. Kyuhyun melonjak kaget mendengar bentakan itu. Ia menoleh kiri kanan meminta bantuan namun para gadis sedang sibuk memasak di dapur dan tidak ada seorang pun yang bisa dimintai tolong olehnya.

“Apa karena kau atasan Min Ah lalu kau dengan seenaknya melakukan apapun pada bawahanmu? Apa kau tidak berpikir bahwa mungkin gadis yang kau rangkul itu sudah bersuami?” tambah Sungmin lagi.

Kyuhyun menelan ludahnya dengan susah payah. Astaga, ia tidak menyangka suami Min Ah pencemburu dan overprotektif. Ditambah lagi sangat sensitif seperti yeoja. Bisakah dia membiarkannya memberi penjelasan tentang yang sebenarnya terjadi?

“Aku tidak memiliki perasaan apapun pada Min Ah, sungguh. Kejadian yang kau lihat tempo hari tidak berarti apa-apa. Lagipula aku menyukai Shin Je Young, sahabat istrimu”

 

Sungmin tetap bersedekap menatapnya tajam. Kyuhyun bingung harus bilang apa lagi untuk meyakinkannya. Ia kemudian balas menatap Sungmin.

“Hyung, kau cemburu?” selidiknya bak detektif professional.

Sungmin mengerjapkan mata kaget. Perlahan sikap angkuh yang diperlihatkannya tadi runtuh.

“Tidak” ucapnya, terdengar ragu. Kyuhyun tersenyum dalam hati. Kesempatan ini digunakannya untuk membalikkan keadaan memojokkan Sungmin. Ia sudah mendengar ceritanya dari Min Ah sendiri bahwa suaminya itu terlalu kaku dan dingin untuk mengucapkan apa yang dirasakannya. Akan ia buat Sungmin mengakui perasaannya sendiri.

“Kau jelas cemburu..” jelas Kyuhyun santai. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.

“Hyung, jika kau cemburu seharusnya kau mengatakannya pada Min Ah. Di banding tindakan, yeoja terkadang mudah sekali tersentuh jika kau mau mengutarakan isi hatimu sesungguhnya. Jika kau marah, katakan saja. Jika kau cemburu, senang atau apapun, kau harus mengatakannya. Bukankah kalian sudah suami istri sekarang. Saling percaya adalah satu sikap penting dalam berumah tangga”

“Kau bermulut besar. Seenaknya saja menasihati orang lain sementara kau sendiri belum menikah” bantah Sungmin.

“Terserah. Yang pasti, aku hanya ingin mengatakan bahwa Min Ah sangat mencintaimu. Dia tidak mungkin berselingkuh atau semacamnya. Dan kejadian kemarin hanya salah paham. Jadi berhentilah cemburu dan membuat istrimu itu kebingungan setengah mati.”

 

Sungmin terdiam. Perkataan Kyuhyun telah memukul hatinya dengan telak. Ia memang cemburu. Itu benar. Dan ia pun terlalu bodoh dan lamban untuk mengakuinya di depan Min Ah.

 

—-o0o—-

 

Sungmin hanya bisa berdiri menatapi punggung istrinya dari jauh. Pandangannya menerawang. Banyak sekali yang ingin dikatakannya namun saat ia sudah berhadapan dengan Min Ah, otaknya mendadak saja  kosong. Ia mendekati Min Ah yang sedang mencuci piring. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti karena ia merasa tubuh Min Ah mulai melemah. Benar saja, tak lama kemudian Min Ah jatuh pingsan di lantai dapur rumahnya.

“Min Ah!!!” teriaknya panik.

 

Samar-samar Min Ah melihat seberkas cahaya. Ia mengerjapkan mata dan menyadari bahwa kini ia terbaring di atas ranjang kamar. Kepalanya terasa berat. Ia ingat, bukankah ia pingsan saat mencuci piring tadi? Pasti Sungmin yang sudah memindahkannya kemari. Ia memutuskan untuk turun dari tempat tidur dan mencari suaminya itu.

 

“Oppa..” panggilnya. Ia mengerjap karena melihat seisi rumah sudah bersih dan rapi. Bukankah terakhir kali keadaanya cukup berantakan setelah dipakai pesta sederhana bersama Je Young dan Kyuhyun. Apa mungkin ini juga perbuatan Sungmin?

“Kenapa kau bangun?”

Tubuh Min Ah berputar ke arah belakang begitu mendengar suara yang ia rindukan itu. Sungmin berdiri di ambang pintu kamar mandi dengan handuk bertengger di kepalanya. rupanya ia sehabis mandi.  Tanpa sadar Min Ah tersenyum karena saat ini ia melihat Sungmin tanpa kacamata. Namja itu tampak sangat mempesona dan polos.

“Aku haus..” kilahnya beralasan. Sungmin mendekatinya. Ia berdiri tepat di hadapan Min Ah lalu menyentuh keningnya dengan telapak tangan. Min Ah terkejut dengan ulah mendadak Sungmin. Apa yang dilakukannya? Tangan Sungmin yang terasa dingin, jarak mereka yang terlampau dekat, dan bau segar yang berasal dari tubuhnya membuat dada Min Ah berdebar kencang. Ia merasa pipinya kembali memanas.

 

“Suhu badanmu normal. Tapi kenapa tadi kau bisa pingsan? Kau kelelahan?” interogasi Sungmin. Terselip nada cemas dari suaranya.

“Mu-mungkin.” ucapnya terbata. Min Ah memaksakan diri mengangkat kepalanya dan tepat saat itulah mata mereka bertemu. Iris mata kecokelatan Sungmin seperti pisau yang menusuk jantungnya. Sangat indah namun mematikan.

“Maafkan aku..” lirih Sungmin pelan, nyaris berbisik. Min Ah mengerjapkan mata kaget. Sungmin dengan pandangan datarnya menatapnya langsung.

“Aku pria yang pengecut dan kekanakan. Aku marah padamu tanpa mendengarkan penjelasanmu. Hari itu, saat aku melihatmu dirangkul namja lain di kantor, entah kenapa rasanya seperti ada seseorang yang merebut oksigenku dengan paksa. Rasanya, jantungku seperti berhenti memompa udara dan yang ingin kulakukan hanyalah melampiaskan amarahku. Mungkin, itu karena aku… cemburu..” Ia mengatakannya dengan kalimat terpatah-patah. Ia tahu ia tidak terlalu pandai mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. Ia gugup luar biasa dan rekasi Min Ah justru membuatnya lebih gelisah. Karena saat ini, gadis itu terpaku.

 

Sungmin memalingkan wajahnya ke arah lain. Ini memalukan dan tidak akan membantu apapun.

“Jadi, Oppa memaafkanku?” tanya Min Ah tak percaya. Sungmin mengangguk meskipun ia masih tidak mau menatap Min Ah. Ia menyadari ucapan Kyuhyun benar. Mengutarakan perasaannya secara langsung ternyata membuatnya jauh lebih tenang.

 

—-o0o—-

 

*Min Ah POV*

 

Aku hampir tidak percaya saat mendengar bahwa suamiku yang kaku itu cemburu. Meskipun ia tidak telalu baik saat mengutarakannya tapi siapa yang peduli. Aku terlalu senang  mengetahui Sungmin Oppa sudah mulai menerimaku. Segera saja kupeluk dirinya ketika ia hendak membalikkan badan.

“Gomawo Oppa. Kau tahu, selama beberapa hari ini aku sangat takut. Kau marah padaku. Aku takut jika kau mengacuhkanku seperti dulu lagi.” tanpa sadar aku kini terisak. Ini bukan airmata sedih tapi ini adalah airmata bahagia.

“Mi-Min Ah..”

Aku tahu Sungmin Oppa kini gugup. Bisa kurasakan tubuhnya menegang saat kupeluk.

“Bolehkan aku memelukmu sebentar lagi, Oppa?” lirihku. Sungmin Oppa mulai melemaskan tubuhnya yang tegang. Tak ada yang dilakukannya. Ia hanya membiarkanku memeluknya.

 

“Min Ah…”

Aku mengangkat kepalaku mendengar gumamannya. “Terima kasih.”

Ucapan yang sederhana itu entah kenapa terasa begitu berbeda. Aku mengerjap kembali karena saat ini, kulihat Sungmin Oppa tersenyum tulus. Ia mengangkat sebelah tangannya lalu mengusap puncak kepalaku.

“Terima kasih sudah bersabar menghadapi pria sepertiku. Kau teralu banyak memberikanku cinta hingga aku tidak tahu bagaimana membalasnya. Aku juga tahu kau bisa saja memilih orang lain yang jauh lebih baik segalanya dariku. Terima kasih sudah mencintaiku.”

 

Dadaku berdesir hebat dan mataku kembali mengabur karena kalimat yang terucap barusan itu. aku tidak mengerti apa makna dibalik ucapannya. Tapi, bolehkan aku berharap bahwa maksud kalimat itu adalah bahwa.. Sungmin Oppa juga mencintaiku?

“Kalau begitu, boleh aku memberitahumu bagaimana cara membalasnya?” ucapku dengan lelehan airmata. Sorot matanya yang meneduhkan itu membuatku tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis.

“…..”

“katakan bahwa Oppa mencintaiku”

Sungmin Oppa tampak terkejut selama beberapa saat. Aku tidak peduli lagi. Aku menatapnya setengah memohon. Aku ingin tahu bagaimana jawabannya.

 

Sungmin Oppa menutup matanya sebentar lalu menghela napas. Ia tersenyum manis, lalu mengecup singkat pipiku.

“Aku mencintaimu, Lee Min Ah.”

Akhirnya..inilah kalimat yang aku nantikan selama beberapa tahun terakhir. Perasaan bahagia yang tak terkira merasuki diriku seperti banjir bandang. Tidak ada harapan yang paling kuinginkan selama ini selain bisa membuat Sungmin Oppa membalas perasaanku.

“Ke-kenapa kau menangis?” Sungmin Oppa berseru panik karena airmataku tak kunjung berhenti mengalir.

“Bagaimana caranya agar berhenti???” dia tampak kebingungan sementara aku masih terisak. Aku tidak mengingat apapun lagi karena mendadak saja otakku kosong. Mataku mengerjap kaget dan jantungku berdebar kencang. Entah ini mimpi atau bukan, namun tangisanku sukses terhenti karena kini, Sungmin Oppa mengunci bibirku dengan ciuman yang lembut dan hangat.  Tangannya memelukku erat.

 

Perlahan mataku terbuka. Sungmin Oppa tersenyum tulus di hadapanku.

“Sudah tidak ingin menangis lagi?” tanyanya jahil. Aku mengulum senyum.

“Sepertinya aku harus sering-sering menangis. Bukankah dengan begitu Oppa akan terus menciumku?”

Sungmin Oppa tergelak lalu kembali memelukku. “Kau coba membully-ku lagi?”

“Huh, tidak..” Aku terdiam dalam pelukannya. Rasanya sangat nyaman. Selanjutnya aku tidak ingat lagi. semuanya mendadak gelap.

 

—-o0o—-

 

Apa yang terjadi padaku sebenarnya? Saat tersadar aku sudah berada di ruangan yang serba putih. Kulihat di tanganku tertempel selang infus dan aku baru sadar bahwa aku terbaring di salah satu kamar rumah sakit.

“Kau sudah sadar..”

Dari arah pintu, Sungmin Oppa masuk dengan tenang. Ia meletakkan vas berisi bunga mawar di nakas samping.

“Oppa, aku kenapa bisa di sini?” tenggorokanku rasanya kering dan aneh. Sungmin Oppa duduk di samping tempat tidur lalu mengusap keningku lembut.

“Kau pingsan lagi, chagi. Dokter bilang, kau kelelahan dan stress.”

Aku mengangguk ringan. Akhir-akhir ini beban pikiranku memang bertambah dan entah kenapa aku merasa mudah lelah.

“Maaf. Ini pasti karena aku sudah membuat pikiranmu terbebani” Sungmin Oppa terlihat sangat menyesal. Owh, aku tidak tega melihatnya. Maka kugenggam erat tangannya. Kuharap ini bisa membuatnya berhenti merasa bersalah.

“Tidak apa-apa. Ini salahku tidak menjaga diri.” Aku terdiam sejenak. “Oppa, sekarang hari apa?” aku penasaran berapa lama aku pingsan.

“Sekarang hari senin. Kau pingsan seharian penuh.”

 

Kepalaku menangguk ringan. Namun sesaat kemudian aku mengerjap. Omo, hari senin!! Bukankah itu artinya besok adalah tahun baru? Mendadak aku bangkit dengan gerakan cepat. Aku panik.

“Kenapa?” Sungmin Oppa menatapku kaget. Aku tidak menghiraukan seruan cemasnya. Aku melihat ke arah luar jendela. Hari sudah gelap.

“Oppa, jam berapa sekarang??” tanyaku panik.

“Jam 11 malam”

Apa.. tubuhku melemas seketika. Tinggal satu jam lagi tahun baru akan terlewati. Bukankah dengan begitu aku gagal memberikan hadiah ulang tahun yang sudah kurencanakan jauh-jauh hari? mataku kembali mengabur dan kurasakan tenggorokanku tercekat. Tidak, Lee Min Ah. Kau tidak boleh menangis. tapi nyatanya, Aku tidak bisa menahan diri. Airmata itu lolos begitu saja dari sudut mataku.

“Kenapa Min Ah? Apa ada yang terasa sakit?”

Aku menatap Sungmin Oppa yang cemas melihatku menangis. Wajahnya tampak mengabur dalam penglihatanku.

“Oppa.. Aku gagal. Aku..ingin memberimu kejutan tahun baru, tepat di saat kau berulang tahun. Tapi..aku menggagalkan semuanya.  Hiks..bagaimana ini..” Aku menangis tersedu dan Sungmin Oppa segera memelukku erat. Di sela isak tangis, kuceritakan semuanya pada suamiku itu. tentang rencana kejutan yang kususun bersama Kyuhyun. dan itulah sebenarnya alasan mengapa kami bersama saat itu. Kulihat Sungmin Oppa terdiam. Matanya berkaca-kaca namun bibirnya tersenyum tulus. Dia kembali memelukku.

“Begitu rupanya. Tidak apa-apa. Aku tidak membutuhkan semua itu” tangannya mengusap lembut rambutku. “Aku sangat senang karena kau merencanakan itu semua untukku. Maaf aku sudah mencurigaimu macam-macam. Sekarang yang harus kau lakukan adalah berhenti menangis. Lagipula, kau sudah memberiku satu hadiah besar..” gumamnnya. Aku berhenti terisak sesaat lalu memandangnya.

“Hadiah? Bukankah aku belum memberi hadiah apa-apa?” Seingatku, hadiah yang ingin kuberikan padanya masih tersimpan di lemari bajuku, di apartement.

 

Sungmin Oppa kembali tersenyum. Tanganku di genggam erat olehnya. Sebelah tangannya lagi mengusap perutku dengan lembut. Apa maksudnya?

“Min Ah, kau tahu? Dokter bilang sekarang kau sedang hamil..” Matanya berbinar saat mengatakannya. Hah? Apa? Aku terkejut mendengarnya. Aku, hamil?

 

To be continued..

 

54 thoughts on “Hello My Glassess Namja (Part 3)

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s