Hello My Glassess Namja (Part 2)

Tittle : Hello My Glassess Namja Part 2

Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young

Genre : Romance, Married life

 

Main Cast :

  • Lee Min Ah
  • Lee Sungmin

Support Cast :

  • Shin Je  Young
  • Cho Kyuhyun

Hello My Glassess Namja by Dha Khanzaki


——–o0o——–

Min Ah merasa gugup. Ini pertama kalinya sejak menikah mereka tidur dalam satu kamar. ia terus melirik pintu kamar mandi yang sejak tadi menutup. Apa yang dilakukan suaminya itu di dalam sana? Mengapa lama sekali?

“Oppa..” Panggil Min Ah ragu. Ia menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya hendak mengecek ke kamar mandi. Namun saat kakinya baru menyentuh lantai, ia mendengar pintu menderit terbuka. Sungmin muncul dengan balutan piyama dan kacamata itu masih menempel di wajahnya. ia mengurungkan diri turun dari ranjang dan memilih kembali duduk di atasnya.

“Em, aku bisa tidur di lantai jika kau keberatan..” Ucap Sungmin kaku. Wajahnya tampak gelisah dan ia berusaha menghindari kontak mata dengan Min Ah.

“Oppa kenapa?” Min Ah menyadari keanehan Sungmin malam ini. Apa yang terjadi padanya? namun ia berusaha mengabaikan.

“Tidurlah bersamaku. Lagipula di luar kan dingin sekali. dan jika Oppa tidur di lantai, Oppa bisa sakit. lagipula kita tidak punya kasur lantai, bukan?” tanya Min Ah.

Sungmin mengerjap. benar juga. “Ah, kau benar..” ia melirik tempat tidur yang tampak luas jika di tempati oleh Min Ah saja. akhirnya dengan berat hati dan sedikit erangan putus asa ia menghampiri ranjang lalu perlahan naik.

Min Ah tersenyum gembira.  Ini adalah saat-saat yang paling di tunggu olehnya.

“Jangan menatapku begitu, Lee Min Ah. kau membuatku tidak nyaman” gumam Sungmin gugup.

“Kenapa Oppa gugup sekali?” goda Min Ah. mendadak saja ia terpikir untuk kembali membully Sungmin, seperti dulu.

“Tidak..” Sungmin memalingkan wajahnya.

“Apa karena Oppa akan tidur bersamaku?”

“Tidak..” jawab Sungmin lagi. kini ia membaringkan dirinya lalu menyelimuti diri dengan selimut.

 

Min Ah memberengut. “Oppa..” panggilnya sambil menyentuh bahu Sungmin. Namja itu tersentak kaget saat tangan Min Ah hinggap di bahunya. Ia menepis cepat tangan itu. lalu bangkit.

“Jangan sentuh aku!!!!” teriaknya tanpa sadar. Min Ah terkejut karena ia melihat ekspresi Sungmin begitu menyeramkan. Ia merasakan tubuhnya mundur menjauhi Sungmin.

“Ma-maaf..”  Min Ah bergetar takut. Jantungnya pun berdetak lebih cepat.

“Kau terlalu sering mengganggu hidupku, Min Ah. dan sekarang kau… sial..” Sungmin meremas rambutnya sendiri, dan rasa frustasi yang sekarang melandanya rupanya membuat Min Ah terenyuh. Ia merasa ada yang tidak beres dengan Sungmin.

“Oppa, kau kenapa?” tanya Min Ah ragu. Sungmin mencoba menormalkan napasnya yang sempat terengah. ia pun merasa heran dengan yang terjadi dalam dirinya. Hanya saja, saat ia melihat Min Ah dalam balutan gaun tidur tipis, tidur di atas ranjangnya, dan tersenyum manis membuat sebuah gejolak asing dalam dirinya meletup-letup kuat dan tak bisa ia bendung kecuali…

 

“Aku  tidak tahu, tapi rasanya aku merasa sangat aneh..” gumamnya sambil memegangi kening. Min Ah mendekat lalu menurunkan tangan Sungmin dari dahinya dan mengganti dengan tangannya. Ia cemas bahwa suaminya itu sakit. cuaca memang sulit di prediksi dan itu bisa membuat penyakit mudah sekali menyerang. Tapi tidak, suhu badan Sungmin normal. Hanya saja, keringat dingin terus mengalir melewati pelipisnya.

“Mungkin Oppa hanya kelelahan. Sebaiknya Oppa segera berbaring dan tidur.”

Sungmin menangguk lalu membaringkan tubuhnya dengan susah payah. tapi sebelum itu ia melepaskan kacamatanya terlebih dahulu lalu meletakkannya di nakas samping ranjang. Min Ah tersenyum gembira melihat Sungmin tanpa benda pengganggu itu. menurutnya, pesona Sungmin akan lebih terlihat tanpa kacamata. Tapi biarlah, bukankah dengan begitu hanya ia saja yang melihat pesonanya?

 

“Min Ah, kenapa kau dulu sering menggangguku?” gumam Sungmin sebelum Min Ah memejamkan matanya. ia menoleh ke arha Sungmin yang berbaring di sampingnya. Namja itu masih belum memejamkan matanya. dan ia tampak tidak baik. wajahnya tampak gelisah. Akhirnya Min Ah memutuskan untuk menemaninya mengobrol.

“Kenapa lagi? tentu saja karena kau sangat lucu dan pantas untuk di ganggu..” jawabnya dengan senyum riang. Padahal semua itu bohong. Sungmin merengut.

“Oh, kupikir. Lalu kenapa kau setuju menikah denganku? Apa karena kau belum puas membullyku?” tanyanya lagi.  Min Ah ingin sekali mencubit pipinya yang chubby itu. pertanyaannya seperti pertanyaan anak umur lima tahun.

“Masih juga bertanya. Untuk yang ini, aku menikah denganmu karena..” Min Ah mendekatkan wajahnya ke telinga Sungmin “Aku mencintaimu Oppa..” bisiknya.

 

Sungmin terbelalak. Kepalanya menoleh  cepat ke arah Min Ah. “Kau mencintaiku?”

Min ah mengangguk. “Tapi sepertinya Oppa masih marah padaku. Buktinya sejak kita menikah kau tidak pernah memperlihatkan raut bahagia” ucapnya sedih. Sungmin terdiam. Ia memiringkan tubuhnya menghadap Min Ah. dengan perasaan gugup dan gelisah, ia memaksakan diri menatap gadis itu.

“Bukan begitu. Aku hanya belum terbiasa. Aku takut jika berhadapan denganmu. Aku takut kau akan..berbuat yang aneh-aneh padaku seperti dulu.. karena itu, aku sebisa mungkin menjauhimu..” jelasnya dengan suara tercekat. Sungmin pun berkali-kali menelan ludahnya dengan susah payah. Ia baru menyadari posisi mereka terlalu dekat. Hal itu, membuat gejolak hebat itu kembali meluap-luap.

Mata itu, kini tengah menatapnya lembut. Min Ah merasakan debaran jantungnya semakin bertalu cepat. Ia balas menatap mata Sungmin langsung.

“Oppa salah. Aku tidak akan menjahilimu lagi, saat status mu berubah menjadi suamiku. bukan namja aneh yang membuatku selalu penasaran. Oppa, dulu kau terlalu dingin padaku.” Jelas Min Ah. ia mengusap pipi halus Sungmin dengan gerakan perlahan. Oh Tuhan, ini pertama kalinya ia merasa sangat gugup saat tangannya menyentuh langsung kulit Sungmin.

 

Sungmin memejamkan matanya. ia berusaha menahan diri dengan memegang tangan Min Ah lalu menjauhkan dari wajahnya. Min Ah mengerjap atas tindakan Sungmin. Ia merasa, namja itu masih menolaknya. Ini sama saja seperti Sungmin menjatuhkannya ke bawah jurang secara langsung.

“Aku mengerti, aku minta maaf Oppa..”  Min Ah menarik tangannya dari genggaman Sungmin. Raut wajahnya berubah sedih. Sungmin diam menatap wajah sedih Min Ah. ini tidak benar. tujuan dia menyingkirkan tangan Min Ah dari wajahnya bukan untuk melihat ekspresi itu.

 

Harus ada satu hal yang perlu diketahui Min Ah. ia selama ini tidak pernah marah atas tindakan jahil yang dilakukan olehnya. Bahkan ia tidak pernah membenci yeoja yang sekarang menjadi istrinya ini. Berkat ulahnya yang tidak biasa itu, hari-hari buram dan sepinya menjadi lebih berwarna. Seperti yang dikatakan Eomma, ia sudah belajar hidup mandiri sejak kecil dan itu membuatnya kesepian. Ia menjadi pribadi yang dingin dan terkesan tertutup hingga ia tidak mempunyai terlalu banyak teman. Hanya buku dan komputer yang menjadi teman bermainnya. Hingga akhirnya, pada saat kuliahnya mendekati tahun terakhir, Min Ah muncul dan mengganggunya dengan cara-cara yang mengesalkan.

 

Pada awalnya ia sebal, namun lambat laun rasa kesal itu berubah menjadi rasa cinta. Ia merasa terbiasa dengan segala tindakan Min Ah. namun ia terlalu pengecut untuk mengatakan perasaannya pada Min Ah. yang bisa ia katakan hanya ‘maaf’. Itu saja. dan kini, setelah mereka menikah, rasa gugup itu tetap saja ada. Dan diluar semua itu, sesungguhnya ia amat mencintai gadis ini. Ia bahkan tidak berani menyentuh apalagi melakukan tugasnya sebagai seorang suami. Ia takut Min Ah tidak mencintainya. Namun sekarang, setelah semuanya jelas, setelah Min Ah mengatakan bahwa ia mencintainya, ia merasa sangat lega.

 

Sekarang, sudah waktunya ia berdamai dengan jiwa pengecutnya dan menjadi Sungmin yang lebih pemberani dan jujur.

“Baiklah..aku memaafkannya..”  ucap Sungmin. Min Ah menoleh ke arah namja itu. Sungmin tersenyum, dan ini pertama kalinya ia melihat senyum tulus di wajah suaminya itu. terakhir kali ia melihat Sungmin tersenyum saat pernikahan mereka, itu pun senyum terpaksa.

“Oppa.. memaafkanku?” tanya Min Ah terkejut. Sungmin mengangguk dan bersamaan dengan itu tanpa di duga Min Ah mendekatkan wajah, lalu mengecup bibirnya singkat. Sentuhan halus di bibirnya membuat Sungmin membelalakkan matanya, terkejut.

 

Min Ah merasa pipinya memanas sendiri. ini adalah ciuman pertamanya. Dulu, saat menikah Sungmin hanya mengecupnya di dahi. Lebih baik ia segera tidur saja. Min Ah memutuskan untuk membalikkan tubuhnya namun tangan Sungmin menahan tubuhnya. Min Ah menoleh kembali pada Sungmin. Tak ada kata yang keluar dari mulut namja itu, hanya saja, keheningan yang menyelimuti suasana mereka sekarang membuatnya lebih gugup lagi. Min Ah mengerjap karena merasa Sungmin semakin mendekatkan wajahnya. ia bahkan tidak berniat menghindar ataupun menjauhkan wajahnya. dengan hati bergetar, ia menanti apa yang akan Sungmin lakukan.

 

Napas sungmin yang hangat menerpa pipinya, membuat Min Ah tersadar bahwa jarak mereka semakin mendekat. Ia mulai menutup matanya karena di saat bersamaan, ia merasakan bibirnya menyentuh material lembut, memagutnya dengan gerakan pelan. Adrenalinnya semakin tersulut kencang. Tangannya cepat merengkuh rahang kokoh suaminya. Ia tidak ingin suasana ini cepat berakhir. Reaksi Min Ah membuat Sungmin semakin semangat. Ia menggerakan tangannya menarik tubuh ramping Min Ah agar menempel dengan tubuhnya. Sejak awal, gairah ini memang sudah ia rasakan hanya saja ia berusaha keras untuk menahannya. Untunglah Tuhan mengasihani penderitaannya dengan memberikan kesempatan untuk….melampiaskannya.

 

Berikutnya Sungmin menyentuh tali gaun tipis Min Ah lalu menurunkannya. gadis itu membiarkan Sungmin melakukannya. Bahkan ia menyambutnya dengan gembira. Biarlah, malam ini mereka melakukan ritual indah yang seharusnya terjadi pada malam pertama.

 

Sementara itu..

 

Eomma merasa haus dan pergi ke dapur untuk mengambil minuman. Ia berniat kembali ke kamar dengan segelas jus jeruk di tangannya. Namun ketika melewati kamar Sungmin,  langkahnya terhenti. Ia berjalan lebih dekat hingga tiba di depan pintu kamar anak-anaknya. ia mendengar suara-suara aneh dari dalam sana. Seperti desahan halus dan suara lain yang membuat bulu kuduk siapapun meremang jika mendengarnya. Diam-diam, hatinya merasa senang dan bibirnya terangkat membentuk lengkungan senyum.

“Akhirnya..” desisnya senang. “Sepertinya obat perangsangku berhasil..” dengan langkah riang Eomma kembali ke kamarnya untuk tidur.

 

—-o0o—-

 

Alarm ponsel yang berbunyi nyaring membuat Min Ah terjaga dari tidur cantiknya. Ia memaksakan diri berguling ke samping lalu mematikan ponsel berisik yang tergeletak di nakas samping tempat tidur.

“Ah, sial..” ia mengerang begitu melihat waktu sudah menunjukkan pukul 07.00. jika ia tidak bergegas ia bisa terlambat masuk kantor. Min Ah mendudukkan dirinya di atas tempat tidur. senyumnya mengembang ketika melihat dirinya sendiri yang polos tanpa sehelai benang pun yang menempel kecuali selembar selimut yang menutupinya. Ia memeluk tubuhnya sendiri, meresapi kembali apa yang baru saja ia alami semalam. Hal paling indah baru saja terjadi. Kini tangannya turun mengusap perutnya. Mungkin di dalam sini, akan tumbuh janin yang kelak ia menjadi calon anaknya. Ia tersenyum gembira.

“Satu langkah besar sudah kulewati..” gumamnya. Ia menoleh ke arah tempat kosong di sampingnya. Sungmin mungkin sudah bangun sejak beberapa menit lalu. Ia tahu suaminya itu tidak pernah terlambat bangun. Min Ah segera turun dari tempat tidurnya karena ia tidak mau terlambat datang ke kantor.

 

—-o0o—-

 

“Ayo sarapan..” ucap Eomma ketika melihat Min Ah keluar dari dalam kamar dalam keadaan rapi dengan pakaian kantornya. Ia tersenyum namun langkahnya terhenti begitu tatapannya bertabrakan dengan tatapan Sungmin. Namja itu kelihatan canggung, ia cepat memalingkan pandangannya ke arah lain. Min ah pun merasa pipinya memanas jika mengingat apa yang baru saja terjadi semalam. Memutuskan untuk duduk dan memulai sarapan.

 

Akhirnya setelah makan pun baik Sungmin maupun Min Ah tidak ada yang bersedia angkat bicara lebih dulu. bahkan, ketika Eomma bilang ingin meminjam mobil Min Ah untuk pulang, gadis itu tidak menolak karena ia merasa kesempatan bagus bisa berangkat bekerja di antar oleh suaminya. sekarang di sinilah ia, di dalam mobil Sungmin dalam perjalanan menuju kantor.

“Itu..”

“Anu..”

Keduanya mengerjap karena berkata di saat yang bersamaan. Min Ah membasahi bibirnya yang kering, gugup. Begitupun Sungmin. Ia mencengkram erat setir yang dikemudikannya.

“Kau dulu saja, Oppa..” ucap Min Ah mengalah. Sungmin mengangguk kaku.

“Itu, semalam. Aku minta maaf. Aku tidak bisa mengontrol emosiku sendiri jadi…. begitulah.” Jelasnya terbata.

“Tidak apa-apa. lagipula, bukankah wajar saja jika pasangan yang sudah menikah melakukan hubungan intim. Itu, tidak melanggar hukum” sahut Min Ah santai. Sungmin merasa semakin gugup.

“aku juga tidak tahu kenapa semalam aku tidak bisa menahan diri. Entahlah, tapi sepertinya Eomma memasukkan sesuatu ke dalam susu yang kuminum..” Sungmin baru menyadari kemungkinan itu ketika ia bangun tidur tadi pagi.

Min Ah mengerjap. “Jangan-jangan, karena pengaruh obat perangsang..” ucapnya pelan. Ia menoleh pada Sungmin sekaligus mengingat-ingat kondisi Sungmin semalam. Matanya melebar ketika menyadarinya. Memang seperti itu, Sungmin terlihat gelisah dan seperti menahan sesuatu. Jadi, semalam, apa yang mereka lakukan karena..pengaruh obat? Jadi, Sungmin tidak melakukannya karena cinta?

“Sepertinya memang karena itu. maaf, jika kau keberatan..”

“aku tidak keberatan..” sela Min Ah. suaranya terdengar sedikit cepat dan ketus. Sungmin melirik sekilas.

“Jika Oppa mau, lakukan saja. aku dengan senang hati melayanimu..” Ucapnya. kali ini Sungmin terkejut. Min ah menatap dirinya sungguh-sungguh. “Hanya saja, aku ingin Oppa melakukannya karena mencintaiku..”

 

Setelah itu, keduanya kembali terdiam. Sungmin fokus menyetir sementara Min Ah memilih memandangi jalanan yang ramai oleh kendaraan. Hatinya kembali terguncang. Ia ingin sekali saja mendengar suaminya itu mengatakan kalimat : ‘aku mencintaimu’. Dan Sungmin merutuki diri sendiri karena tidak bisa membalas ucapan Min Ah. ia benar-benar merasa dirinya pecundang sejati.

 

—-o0o—-

 

“Youngie, ada pesta natal di rumahku. Appa mengadakan pesta khusus untuk rekan-rekan bisnisnya dan kali ini aku tidak mau datang sendiri. aku akan memperkenalkanmu padanya. jadi kau harus ikut oke..”

Harusnya hari ini menjadi hari tenang bagi Shin Je Young. Tapi rupanya Tuhan bersekongkol untuk membuatnya jengah karena namja itu kembali muncul. Cho Kyuhyun kembali mengganggunya dan kali ini apalagi masalah yang dibawanya? Mengajaknya ke pesta natal?

“Tidak perlu, bukankah ayahmu sudah mengenalku. Kau lupa aku sekretarisnya?”

“Bukan seperti itu, Youngie..aku ingin memperkenalkanmu sebagai calon ist—“

“Oh, bukankah itu Sungmin Oppa!!!” seruan Je Young membuat ucapan Kyuhyun terpotong. Kepalanya ikut berputar ke arah jalan di mana sebuah mobil berhenti di sana, menampilkan seorang namja berkacamata yang baru saja turun dari mobil. Siapa dia?

“Siapa dia?” tanyanya curiga, terdengar jelas ia cemburu.

 

Je Young menatap semangat pemandangan di depannya. Baru saja ia tiba di kantor, tidak percaya bisa melihat namja itu. namun mendadak senyumnya menghilang ketika ia melihat sahabat baiknya, Lee Min Ah turun dari pintu yang dibukakan Sungmin. Ah,, ia hampir saja lupa kalau Sungmin adalah suami Min Ah.

“Ho,  Lee Min Ah. jadi laki-laki itu pacarnya?” ucap Kyuhyun senang.

Je Young mendengus. “Bukan, dia suaminya”

“Jeongmal?” seru Kyuhyun gembira. Untunglah.

 

Je Young tersenyum ketika  Min Ah menghampirinya. Mereka berdua lalu meninggalkan Kyuhyun sendirian di depan pintu masuk utama perusahaan.

 

—-o0o—-

 

“Ulang tahun suamimu?” tanya Je Young kaget. Min Ah mengangguk.

“Aku memutuskan untuk membuatkan pesta kejutan untuknya. Karena kebetulan, ulang tahun Sungmin Oppa bertepatan dengan tahun baru. Kau punya saran?”

Je Young diam sebentar, seperti tengah merenungkan sesuatu. Ia bingung harus mengatakan apa.

“Bagaimana kalau kalian dinner romantis bersama lalu kau memberikannya kado..tepat pada jam dua belas malam”

Kedua gadis itu menoleh pada sesosok namja yang berdiri di depan meja mereka.

“Kyuhyun..” seru Min Ah. “Duduklah, sepertinya saranmu bagus..” tambahnya kemudian. Kyuhyun dengan senang hati menarik kursi lalu duduk di samping Je Young.

“Kalau begitu aku pergi. Presdir memanggilku..” ucap Je Young. Ia beranjak dari tempatnya lalu pergi keluar dari kafetaria. Kyuhyun menatap sedih punggung Je Young yang menjauh. Ia mendesah berat.

 

Min Ah merengut bingung. “Kenapa?”

Kyuhyun mengangkat kepalanya. “Sebenarnya, aku bermaksud mengajak Je Young  kencan malam natal nanti. Tapi sepertinya dia menolak.”

“Kalau begitu ajaklah”

“sudah kulakukan tapi dia tidak mempedulikanku. Kumohon, sebagai sahabat kau bujuklah dia…” pinta Kyuhyun sambil memohon.

“Em..baiklah. asal kau mau melanjutkan usulmu tadi.. aku menyukainya..”

“Itu masalah kecil. Sini..” Kyuhyun membisikkan sesuatu pada Min Ah. sebuah rencana untuk kejutan di hari ulang tahun Sungmin nanti.

 

—o0o—

 

“Je Young, aku tidak mengerti kenapa kau terus menghindari Cho Kyuhyun”

Je Young menghentikan langkahnya tepat sebelum ia melewati pintu masuk utama perusahaan. Kepalanya menoleh ke arah Min Ah yang sekarang memasang tampang polos.

“Kenapa? apa itu membuatmu terganggu?” tanyanya balik. Ia lalu berjalan keluar.

“Tidak” sahut Min Ah lalu menyusulnya. “Apa yang membuatmu menolaknya?”

“Min Ah, aku tidak mengerti mengapa kau tiba-tiba membahas Kyuhyun tapi..”

“Tapi apa? kau menyukai pria lain?”

“Tidak”

“Kalau begitu tidak ada alasan untukmu menolaknya”

Je Young terdiam. Ia akan membuka mulut namun suara klakson mobil mengangetkan mereka. Min Ah menoleh dan bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman ketika tahu mobil suaminya sudah menunggu di sisi jalan sana.

“Suamiku sudah tiba. kalau begitu aku pergi dulu. Shin Je Young, pertimbangkanlah Kyuhyun..” nasihatnya lalu berlari menghampiri mobil.

 

“Kenapa temanmu tidak ikut juga?” tanya Sungmin saat Min Ah duduk di sampingnya.

“Dia membawa mobil sendiri” jawab Min Ah santai sambil memasang sabuk pengaman. Sesaat kemudian ia terdiam ketika menyadari ada yang aneh. Ia baru saja tersadar bahwa tadi Sungmin mengajaknya berbicara lebih dulu. ini, kemajuan besar!! Ia memandangi suaminya dengan tatapan penuh arti. Apa mungkin, kejadian semalam membawa dampak baik bagi pernikahan mereka? Ini, berita bagus.

 

—o0o—

 

Min Ah melingkari tanggal 1 januari di kalender barunya sebagai hari spesial awal tahun. Apalagi kalau bukan hari ulang tahun Sungmin. Ia sudah menyusun rencana untuk hari itu. Segalanya sudah tersusun rapi tinggal tunggu hari H-nya saja. tinggal satu minggu lagi sebelum tahun baru tiba. Untung saja suaminya tidak curiga sedikitpun.

 

Ah, ada yang aneh dengan Sungmin. Semenjak hari itu entah kenapa dia berubah. Min Ah tidak tahu apa yang berubah. Hanya saja, ia merasa Sungmin berbeda. Namja itu mulai tidak dingin lagi. malah ia cenderung banyak bicara. Membuat Min Ah terkejut setiap kali Sungmin mulai melontarkan kalimat-kalimat tak terduga dari mulutnya. Dan jangan lupa, namja itu entah sudah berapa kali melakukan hal-hal romantis padanya. Min Ah harus berterima kasih pada Eomma yang sudah memasukkan obat itu pada susu yang kebetulan di minum Sungmin. Tanpa tindakannya, mungkin selamanya Min Ah tidak akan merasakan kebahagiaan menjadi seorang istri.

 

Seperti malam ini, Sungmin kembali menunjukkan sisi baru di hadapan Min Ah. gadis itu melongo takjub menatapi suaminya makan dengan lahap. Ia hanya mampu menggigit sumpitnya melihat Sungmin terus menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dan hampir menghabiskan seluruh makanan yang terhidang di atas meja. Sungmin bahkan tidak memberikan Min Ah kesempatan untuk mencicipi masakan yang di buatnya sendiri itu.

 

Sebenarnya aku lapar, tapi melihatnya makan selahap itu membuat rasa laparku hilang. batin Min Ah dengan mata  melotot ke arah suaminya.

“Ah, kenyangnya!!!” seru Sungmin setelah meneguk segelas air. ia mengusap perutnya. Wajahnya tampak ceria dan puas. kepalanya tertoleh ke arah Min Ah yang masih duduk di tempat. Keningnya berkerut heran.

“Kau tidak makan? nasimu masih utuh.” Ucapnya polos karena nasi di dalam mangkuk Min Ah tidak berkurang sedikitpun.

Min Ah merengut sedih. “Bagaimana bisa makan. makanannya habis dimakan oleh mu..” gumamnya. Ia meratapi nasib malang dirinya karena Sungmin hanya menyisakan sepotong ayam goreng dan sup. Itupun hanya kuahnya saja. perutnya meronta-ronta minta di isi.

Sungmin mengerjap kaget. “Ah, maaf. Aku sangat lapar tadi..” ujarnya sambil mengusap tengkuk.

Tatapan Min Ah menajam. “Tunggu, apa Oppa melakukan ini semua untuk balas membully-ku?” tanyanya curiga. Sebenarnya itu tidak serius, pria sepolos Sungmin mana mungkin melakukannya.

 

Hanya saja, reaksi Sungmin sungguh di luar dugaan. Namja itu tersenyum lalu bangkit.

“Memang. Selanjutnya kau yang membereskan meja, oke..” ucapnya. sungmin mengacak singkat rambut Min Ah sebelum pergi dengan kekehan puas.

Min Ah terbelalak kaget. “Omo—Kau.. Oppaa!!!!!!!” teriaknya histeris. Tak di sangka ternyata Sungmin melakukan ini untuk membalas perbuatannya di masa lalu. Kini, yang ada di hadapannya adalah masalah serius. Banyak sekali cucian piring yang harus ia bersihkan. Setelah menghabiskan seluruh makanan pria itu pergi meninggalkan kekacauan sebesar ini. Lee Sungmin benar-benar mengerjainya!!!!!

 

—-o0o—-

 

Ada satu hal yang paling Min Ah sukai dari perubahan Sungmin. Karena setiap tidur, namja itu selalu memeluknya. Ia merasa sangat bahagia ketika bisa menghirup lebih dalam bau tubuh Sungmin. Saat tangan namja itu melingkari tubuhnya, membuat jarak di antara mereka terhapus, ia merasa sangat bahagia. Ia hanya berharap semua keindahan itu bukanlah sebuah mimpi dan bisa bertahan lama.

 

“Oppa, kau tidak pergi ke kantor?” ucap Min Ah sambil mengguncang halus tubuh Sungmin yang tetap terlelap di atas tempat tidur. hari sudah semakin siang dan suaminya itu bisa terlambat pergi ke kantor. Ia tahu Sungmin tidak pernah terlambat bangun. Ini aneh. Sungmin melenguh sekilas lalu membuka matanya.

“Pagi, Min Ah..” gumamnya lalu bangkit. Sungmin mengeryitkan matanya ketika cahaya matahari terlalu silau bagi penglihatannya.

“Kepalaku..” mendadak saja Sungmin merasa kepalanya begitu berat dan ia merasa mual. Ada apa ini? Mungkinkah ia masuk angin atau terjadi sesuatu dengan lambungnya karena semalam ia makan terlalu banyak.

“Oppa kenapa?” tanya Min Ah cemas. Ia segera berlari keluar kamar. tak lama ia kembali dengan segelas air, obat, dan termometer. Ia mengecek suhu tubuh Sungmin. Dan ia merasa aneh karena alat itu menunjukkan suhu tubuh Sungmin normal.

“Aneh, suhunya normal. Kalau begitu Oppa tidak demam. Mungkin masuk angin. Apa Oppa merasa mual?”

Sungmin mengangguk. “Rasanya ingin muntah..”

Min Ah menghela napas. “Ini juga karena Oppa makan macam-macam semalam. Ya sudah, aku ambilkan obat untuk masuk angin dulu..”

 

—-o0o—–

Sungmin POV

 

Tanpa sadar aku tersenyum melihat istriku itu patuh sekali. Aku pun merasa heran dan tidak mengerti dengan yang terjadi padaku akhir-akhir ini. Aku berubah menjadi pribadi yang berbeda. Yah, aku sadar bahwa kebersamaanku dengannya justru membuatku semakin mencintainya. Aku berniat menyatakan perasaanku padanya ketika aku ulang tahun nanti. Itu akan menjadi moment paling bersejarah dalam hidupku.

 

Setelah Min Ah memberiku obat, aku merasa lebih segar dan aku yakin bisa bekerja hari ini. Saat menatap cermin, entah kenapa aku ingin sekali membuat gebrakan baru dengan mengubah penampilan. Aku, ingin membuat Min Ah terkesan denganku. Maka dari itu, kulepaskan kacamata ini lalu memilih setelan jas dengan model modis lalu mematut diri setelahnya. Aku tersenyum bangga melihat penampilan baruku.

 

Aku keluar dari kamar dengan percaya diri. Min Ah sudah rapi dengan pakaian kantornya. Ketika ia membalikkan badan dan  mata kami bertemu, aku bisa melihat raut kaget di wajahnya. tubuhnya mematung dan berkas yang dipegangnya jatuh berhamburan di lantai.

“O-oppa..apa yang terjadi, kacamatamu..” gumamnya linglung. Aku tersenyum lalu mendekat.

“Bagaimana? Apa aku tampan?” tanyaku langsung. Dia mengangguk tanpa mengatakan sepatah katapun. Aku yakin ia terkesima dan kenyataan itu membuatku senang.

“Sebaiknya kita berangkat.”

 

—o0o—

 

Sepanjang perjalanan, ia terus menatapiku. Itu membuatku gugup.

“Em, apa kau tidak bisa memperhatikan hal lain?” tanyaku gusar. Min Ah tersentak kaget.

“Aku..terkejut. Oppa banyak berubah akhir-akhir ini. Syukurlah..” nada suaranya terdengar senang. Aku sendiri bingung mengapa aku ingin sekali mengubah diri. Kulihat dia masih tersenyum menatapku.

“Min Ah, ada satu hal penting yang sangat ingin kutanyakan. Sebenarnya ini pertanyaan yang ku simpan sejak dulu.” tiba-tiba saja aku ingat. Pertanyaan ini memang ingin kuajukan padanya sejak kami pertama kali bertemu saat kuliah dulu. Namun, aku terlalu pengecut untuk bertanya.

“Apa?”

“Kenapa kau menyukaiku?”

Suasana hening seketika,Min Ah melebarkan matanya kaget. Pertanyaanku tidak salah bukan? Aku berhak tahu kenapa dia menyukaiku. “Aku tahu kau memiliki banyak penggemar. Tapi aku heran kenapa kau menyukaiku yang terlalu biasa. Bukankah dulu di kampus banyak sekali pria yang lebih baik segalanya dariku?”

Aku menoleh sekilas ingin tahu reaksinya. Min Ah masih terdiam. Sikapnya itu membuatku gugup. Apa aku salah bertanya? Atau aku sudah menyinggungnya?

“Ada seseorang yang mengajarkanku arti lain dari keindahan..” lirih Min Ah. Aku menoleh padanya. Min Ah menerawang lurus ke depan.

“Dia mengatakan padaku, bahwa keindahan itu lahir dari kesederhanaan. Terkadang, tidak perlu pakaian atau aksesoris bermerek untuk membuat seseorang tampak menawan. Hanya perlu menjadi diri sendiri dan tampilkanlah kecantikan dari dalam diri. Maka sebiasa apapun dirimu, orang pasti akan melihat keindahan itu” Min Ah diam sejenak lalu menoleh padaku. Melihat wajahnya yang dipenuhi senyuman itu membuat jantung ku berdegup kencang.

“Karena itu, aku menilai pria tidak hanya dari penampilannya. Aneh memang, tapi aku justru jatuh cinta pada pria biasa sepertimu. Dan di balik itu semua, aku tahu Oppa pria yang sangat luar biasa.”

“Kenapa?” tanyaku terkejut.

“Bukankah Oppa sudah membuatku jatuh cinta? Itu luar biasa..”

 

Deg deg deg..

 

Lee Sungmin, kau harus menahan diri. Aku berusaha tetap mengemudikan mobil dalam keadaan stabil. Berkat ucapan Min Ah aku hampir saja membuat mobilku ini menabrak sesuatu. Aku benar-benar gugup sekarang. Aku tidak menyangka bahwa Min Ah sangat mencintaiku. Sekarang, giliran aku mengungkapkan perasaanku padanya.

 

To be continued…

68 thoughts on “Hello My Glassess Namja (Part 2)

  1. huwaaa..sungmin sdkt demi sdkt mulai berubah..hal baik buat min ah..tp sikap je young agak aneh wkt ngeliat sungmin nganter min ah..apa jgn2 bnr dia suka sama sungmin..

  2. Benar” romantis😀 sikap dingin nya sungmin, sudah menghilang sekarang.😀 oh ya, ff baru yang aku baca sesudah I HATE YOU BUT ini eon. Maaf aku sempat salah komen:(

  3. Huwwwaaa senang nya sungmin bisa berubah… Penampilannya bisa ku bayangkan😀
    Ok saat nya kau Lee sungmin, ungkapkan apa yang selama ini mau rasakan….

  4. Huwwwaaa senang nya sungmin bisa berubah… Penampilannya bisa ku bayangkan😀
    Ok saat nya kau Lee sungmin, ungkapkan apa yang selama ini kau rasakan….

  5. Kayanya perubahan sungmin oppa,diakibatkan karna sang istri lgi hamil ? Kan biasanya gitu,istrinya kg ngerasain mual tapi malah suaminya yg ngerasain ?

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s