Hello My Glassess Namja (Part 1)

Tittle : Hello My Glassess Namja Part 1

Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young

Genre : Married Life, romance

 

Main Cast :

Lee Min Ah

Lee Sungmin

 

Support Cast :

Shin Je Young

Cho Kyuhyun

 

Hai Hai.. ini FF special ultah bang Umin Loh.. nyaaa.. telat banget postingnya.. tapi gak papa kan.. Happy reading  dan maaf untuk typo.

Hello My Glassess Namja by Dha Khanzaki


———-o0o———–

Keindahan itu muncul dari kesederhanaan. Kalimat yang menurut orang tidak begitu penting. Namun kalimat itu memberikan arti lain bagi diriku. Berkatnya, aku bisa menyadari arti lain dari mencintai seseorang. –Min Ah—

 

—-o0o—-

 

Min Ah POV

 

Takdir itu sesuatu yang ajaib bukan. Seumur hidupku, aku hanya mencintai satu orang namja. Dia memang tidak setampan Brad Pitt ataupun Keanu Reeves. Tapi satu hal yang bisa kugambarkan tentang dia. Dia manis dan selalu memakai kacamata. Usia ku dengannya terpaut 3 tahun. Dia adalah seniorku di Kampus Universitas Seoul. Namun itu tidak menyulutkanku untuk berhenti mengambil perhatiannya. Tentu saja dengan cara yang unik, seperti..

 

Bruukk…

 

“Hei, kau tidak dengar sejak tadi aku membunyikan klakson? Apa kacamata tebal membuatmu tidak bisa mendengar??”

Aku menatap namja yang sedang berusaha berdiri setelah jatuh karena hampir terserempet mobilku. Dia membereskan buku-buku tebal yang dibawanya dan membenarkan kacamata yang terhias di wajah manisnya. Dia menoleh ke arahku dan dengan tatapan datar dia menjawab seruanku tadi.

“Mianhae..”

Aku mengerjap. lagi-lagi, setelah beberapa kali aku membully-nya hanya satu kata yang ia ucapkan. Maaf? Yang benar saja! dia tidak marah atau berusaha memakiku? Bukankah dengan begitu dia berusaha tahu identitas gadis yang selalu memberikan kesulitan padanya hampir setiap hari?

Setelah itu dengan cepat ia menyeberangi jalan menuju gedung universitas, meninggalkanku yang terpaku karena reaksinya yang selalu sama. Ia seperti tidak ingin tahu apapun tentangku. Aku ingin berteriak memanggilnya tapi, egoku lebih mendominasi dan berhasil membuat mulutku bungkam.

 

Memang caraku untuk menarik perhatiannya salah. Aku seringkali menjahilinya tak peduli dia seniorku. Toh, dia tidak membalas semua hal buruk yang sudah kuberikan padanya. aku tidak mungkin mendekatinya dengan cara biasa seperti memberinya cokelat atau surat cinta. Oh, tidak mungkin. aku Lee Min Ah, gadis cantik, populer, berkelas, dan tentu saja banyak pria yang tergila-gila padaku. Akan terlihat aneh dan ajaib jika aku merayu seorang namja yang menurut orang-orang terlalu biasa untuk disukai orang sepertiku. Namun mereka yang mengatakan namja itu biasa, dia salah besar. karena bagiku, segala kesederhanaan yang dimilikinya adalah keindahan tersendiri.

 

Bukankah keindahan itu, lahir dari sebuah kesederhanaan? Dan dialah namja yang berhasil membuatku mengerti arti lain dari cinta..dia..Lee Sungmin.

 

The story begin..

 

—o0o—

 

Seoul, beberapa tahun kemudian.

 

“Oppa, kenapa kau tidur di sini??” Ini sudah ketiga kalinya aku mendapati suamiku, Lee Sungmin tertidur di sofa setelah lelah pulang bekerja. Bahkan ia tertidur tanpa sempat membuka sepatu dan jas kerjanya.

 

Bukankah aku sangat beruntung bisa menikah dengan pria yang kucintai. Jangan mengira kami menikah karena saling mencintai. Itu salah besar. beberapa bulan lalu, Eomma memaksaku untuk menikah. Sebelumnya aku sempat menolak karena karirku sebagai Plan Manager di sebuah perusahaan multinasional sedang dalam masa keemasan. Tapi, saat mengetahui bahwa calon suamiku adalah Lee Sungmin, tanpa berpikir dua kali aku segera menikah. Tak peduli berapa banyak namja yang patah hati mendengar berita pernikahanku.

 

Saat kutemui kembali setelah tiga tahun tidak melihatnya, Lee Sungmin tetap sama. Memakai kacamata yang mungkin bagi sebagian orang membuatnya tampak culun, kuno atau apalah. Sikapnya pun tetap dingin dan ia pasrah saja ketika orang tua kami menentukan tanggal pernikahan.

 

Dan sekarang, setelah pernikahan kami berjalan hampir empat bulan, dia tetap tidak menunjukkan perubahan. Sikapnya seolah dia pria lajang. Dia hampir melupakan keberadaanku di rumahnya sebagai seorang istri. Dia selalu lembur karena tugasnya menumpuk sebagai seorang Direktur muda perusahaan milik Appa mertuaku. Dan yang paling utama adalah…sampai detik ini dia belum menyentuhku sama sekali. padahal, setiap kali bertemu kedua orang tua kami selalu bertanya kapan kami akan memberikan cucu untuk mereka.

 

Ini semua salahku. Sungmin pasti membenciku karena sudah membuat hidupnya kacau. Aku pernah dengar bahwa dia menikahiku karena terpaksa. Appa mertua mengancam tidak akan memberikan perusahaan padanya jika ia tidak menikah. Jadi, aku adalah tebusan atas perusahaan yang sekarang sedang dikelolanya?

 

Namun, terlepas dari semua kenyataan itu, aku tetap bahagia bisa menikahi Sungmin. Dia benar-benar pria idamanku. Sederhana, tidak banyak bicara, namun pekerja keras dan pintar. Ia bahkan menolak rumah yang dihadiahkan kedua orang tua kami dan memilih tinggal di apartement yang dibelinya dari hasil kerja kerasnya sendiri. bukankah itu tipe suami idaman?

 

Sekarang, melihat wajah tenangnya saat tertidur membuatku nyaman. Meskipun dia selalu menolak tidur satu kamar denganku, tapi diam-diam aku sering memperhatikannya saat tertidur di sofa seperti ini. Ah, tidak hanya sekarang, dulu pun aku sering melakukannya.

 

Saat masih kuliah dulu, Sungmin selalu tertidur di halaman belakang kampus yang sepi. Dia tidur terlentang di bawah pohon rindang yang sejuk. Aku sering sekali diam-diam menghampirinya dan memperhatikan wajah tenangnya saat tidur. dia sangat tampan.

 

“Oppa, kau tahu..aku sangat mencintaimu..” gumamku sambil memperhatikan wajahnya. bahkan sekarang ia jauh lebih tampan dari saat kuliah dulu. aku melepas kacamatanya lalu bergerak mengecup keningnya lembut. Hanya saat ia tertidur aku bisa melakukan ini.

“Jalljayo..” gumamku lagi. aku melepaskan sepatu yang masih terpasang di kakinya lalu ke kamar untuk mengambil selimut. Ku selubungi tubuhnya agar tidak kedinginan.

 

Baiklah, selamat malam suamiku..

 

—o0o—-

 

“Masih belum ada perubahan juga?” pertanyaan Shin Je Young mengagetkan lamunanku. Sahabatku itu entah sejak kapan sudah duduk di depanku dengan piring makan siang di hadapannya.

“Belum. Sungmin Oppa masih tetap bersikap dingin.” Ucapku lemah. Nasi goreng yang menjadi menu makan siangku sudah dingin dan membuatku tidak nafsu lagi. entah sudah berapa lama aku melamun.

“Ini juga salahmu, Min Ah. Seharusnya dulu kau tidak membully-nya. Mungkin dia masih menaruh dendam padamu” ucapan Je Young yang pedas itu seperti sebuah tamparan keras untukku.

“Oh, ayolah, haruskah kau mengingatkannya. Aku tahu aku salah..haruskah aku meminta maaf?” erangku frustasi.

“Ya. Lakukanlah. Atau sebaiknya kau berpisah saja dengannya..” usul Je Young dengan wajah riang. Aku membelalak kaget. Tidak. Sampai kapanpun aku tidak akan bercerai dengannya!!

“Kenapa kau selalu mengusulkanku untuk bercerai dengan Sungmin Oppa? Oh, aku tahu kenapa. kau pasti menaruh perasaan padanya, iya kan!!” tuduhku dengan mata menyipit. Aku memang bukan asal bicara. Dulu, Je Young-lah yang paling menentangku untuk menjahili Sungmin. Dan aku bisa melihat raut gembiranya saat melihat namja yang menjadi incaranku itu. aku curiga sahabat ku ini pasti menaruh minat juga pada Sungmin-ku.

 

Je Young mengerjap. mendadak duduknya tidak tenang. sepertinya dugaanku tepat sasaran. “Ah, itu..bagaimana mungkin  kau mencurigai sahabatmu sendiri???” dia malah balik menuduhku dengan menodongkan sendok ke arahku. Aku memutar bola mata malas.

“Kau tahu, terkadang sahabat baik adalah musuh dalam selimut!!” ucapku dengan penuh penekanan.

Je Young melotot padaku. “Lee Min Ah, aku tidak menyukai suamimu!!” tegasnya emosi.

“Oh, kalau tidak mengapa kau seemosi ini?”

“Lee Min Ah, aku sahabatmu!!”  ucapnya agak berteriak dan sukses membuat perhatian seisi kafetaria tertuju pada kami.

“Baik-baik aku menyerah. Kau tidak menyukai suamiku, benar. bagus sekali karena sepertinya..kau harus mulai berhati-hati karena fans fanatikmu itu datang lagi..” di akhir kalimat aku mengulum senyum karena dari pintu kafetaria kulihat seorang namja berjalan ke arah meja kami dengan senyum lebar. Je Young melirik sekilas dan tidak perlu waktu lama untuk membuatnya kembali mendengus sebal melihat pria yang selalu mengganggunya itu.

“Ungghh..kenapa dia kemari?!!” cicitnya jengkel. Aku menahan tawa melihatnya.

“Bersiaplah, sebentar lagi bencana akan menimpamu” bisikku gembira.

 

“Chagii..”

 

Je Young tersentak kaget saat namja itu memeluk bahunya dari belakang. dia menggeram lalu melepaskan dengan cepat pelukan namja itu.

“Sudah berapa kali kubilang untuk tidak sembarangan memelukku, Cho Kyuhyun!!!” sungutnya kesal. Kyuhyun, namja yang mengagumi sahabatku itu tersenyum tanpa merasa bersalah. Dia duduk di bangku kosong tepat di sebelah Je Young.

“Itu artinya, jika aku menciummu boleh bukan..”

“Tidak..”

“kenapaaa??”

“Kita belum menikah.!!”

“Oh, kalau begitu aku akan melamarmu segera!!”

“Cho Kyuhyun, jangan bertingkah. Apa kata pegawai lain jika melihat kau terus berlaku semena-mena seperti ini?”

“memang apa yang akan mereka bilang? Ah, aku bisa meminta Appa untuk menjadikanmu sekretarisku. Dengan begitu kita bisa bersama setiap saat”

“Kau..”

 

Sungguh, aku sangat iri melihat mereka bertengkar seperti itu. aku ingin sekali mengalami situasi dimana aku bisa banyak bicara dengan Sungmin. Lewat bertengkar, kami bisa menyalurkan segala penat dan ganjalan dalam hati.

 

Dan Je Young adalah orang yang beruntung menurutku. Kyuhyun adalah atasan kami.  Tentu saja dia tampan dan populer di antara pegawai wanita.Dia putra tunggal Presdir perusahaan tempatku bekerja. Dan Je Young adalah sekretaris Presdir. Namja itu sudah mengejar-ngejarnya sejak kami masuk perusahaan ini, tepat dua tahun yang lalu. Dan hubungan mereka membuatku sangat iri. Meskipun Je Young tidak kunjung memberikan respon, tapi Kyuhyun tidak pernah menyerah. Kyuhyun bisa saja memilih yeoja manapun yang ia inginkan. Namun sepertinya cinta memang bisa membuat seseorang gila.

 

“Arrghh..aku pergi..” lamunanku kembali hilang ketika kudengar seruan Je Young. Kuangkat kepalaku menatapnya yang kini beranjak dari kursi. Sepertinya dia mulai pusing menanggapi tingkah Kyuhyun, seperti biasanya.

“Kenapa pergi, Je Young sayang.. bagaimana ini..” Kyuhyun menoleh padaku seolah meminta saran.

“Kejar dia. Mengganggunya adalah satu-satunya jalan untuk merebut seluruh perhatiannya” ucapku pada Kyuhyun. karena itulah yang kulakukan pada Sungmin Oppa.

“Oke!!!” dia mengacungkan jempolnya lalu pergi.

 

Andai Sungmin Oppa tidak sedingin sekarang, mungkin kehidupan pernikahanku bisa jauh lebih indah.

 

—o0o—

 

Hari ini aku kembali pulang seorang diri. Aku ingin sekali seperti beberapa teman kerjaku yang sudah menikah, mereka dijemput oleh suami masing-masing. Namun, aku seperti gadis yang belum menikah saja. melakukan apapun selalu seorang diri. Di perjalanan, aku melihat beberapa pasangan saling bergandengan mesra. Aku iri. Aku juga melihat pasangan suami istri yang berjalan-jalan membawa anak mereka. Oh, aku sungguh iri. Kapan aku akan seperti mereka?

 

Ponselku berdering. Sial, aku sedang menyetir. Siapa yang meneleponku? Aku melirik sekilas dan terkesiap ketika tahu panggilan ini berasal dari ibu mertuaku. Aku segera menepikan mobil lalu menjawab panggilan.

“Yeobseo, Eomma..”

“Min Ah, kau ada di mana? Eomma sudah berdiri selama sepuluh menit di depan pintu apartemenmu..”

 

Apa? Eomma berada di depan apartement?

 

“Em, Eomma.. aku masih di jalan, tunggu sebentar. Sekitar sepuluh menit lagi aku pasti tiba.”

“Oh, baiklah. Berhati-hatilah.”

 

—o0o—-

 

Author POV

 

Setelah menutup telepon, ia segera menjalankan mobilnya kembali dan perlu sekitar sepuluh menit untuk tiba di depan apartementnya yang berada di kawasan elit Seoul.

Begitu mobil terparkir di garasi khusus penghuni apartemen, ia berjalan cepat menuju apartementnya yang berada di lantai tiga.

“Eomma” panggil Min Ah begitu menemukan sosok ibu mertuanya di depan pintu.

“Oh, syukurlah kau cepat datang Min Ah. kaki Eomma hampir saja keram..” desah Eomma lega.

Min Ah tersenyum lalu memeluk sekilas Eomma.

“Maaf, Eomma..tadi jalanan sedikit macet. Ada perlu apa Eomma kemari?”

“Kita bicarakan di dalam sambil minum teh”

 

Min Ah mengajak Eomma memasuki apartementnya dan Sungmin. Eomma duduk di ruang tamu sederhana namun tetap elegan dan nyaman.

“Apa setiap hari Sungmin tidak pernah menjemputmu bekerja?” tanya Eomma sambil meminum teh. Min Ah terkesiap.

“Terkadang ia menjemputku. Hanya saja hari ini Sungmin Oppa sedang sibuk di kantor..” kilah Min Ah beralasan. Ia tidak mau orang tua mereka mengetahui permasalahan besar yang terjadi dalam rumah tangganya.

“Oh, pantas saja. hari ini dia pasti sangat sibuk..”

“Begitulah..” Eomma tersenyum. Dia meletakkan cangkir teh pada tempatnya lalu menatap menantunya itu dengan wajah cerah.

“Min Ah, kapan kau dan Sungmin berencana memberikan kami cucu?”

 

Min Ah terperanjat kaget dan hampir saja tersedak teh. Ia menatap Eomma dengan ekspresi campur aduk.

“Kami sekarang, sedang sibuk dengan pekerjaan.”

“Jangan hanya mementingkan pekerjaan. Kami ini sudah tua. Kami ingin sekali menimang cucu. Lagipula bukankah hidup kalian tidak perlu dicemaskan lagi. bukankah meskipun hanya Sungmin yang bekerja kalian tetap bisa hidup berkecukupan”

“Iya..” Min Ah mengangguk ringan dengan kepala menunduk. Tak bisa dipungkiri bahwa ia pun memimpikan menjadi seorang ibu. Tapi.. bagaimana bisa terwujud jika Sungmin saja tidak berbicara padanya sama sekali.

 

Terdengar suara pintu dibuka, kedua orang itu menoleh ke arah pintu dan mendapati seorang namja masuk dengan wajah lelah.

“Eomma..” ucapnya kaget ketika mengetahui ada ibunya di ruang tamu.

“Sungmin..” Eomma bangkit lalu memeluk sekilas putra kesayangannya itu.

“Eomma kemari mengapa tidak bilang? Aku bisa menjemputmu” Sungmin melirik sekilas ke arah Min Ah yang masih duduk di tempatnya.

“Ah, kau pasti sibuk”

“Ngomong-ngomong, kenapa Eomma kemari?”

“Eomma ingin menginap di sini. Hari ini Appa-mu pergi ke jepang. Eomma tidak mau bermalam sendirian di rumah”

Min Ah dan Sungmin berpandangan selama beberapa detik. Bagaimana ini, hanya ada dua kamar di apartement. Jika Eomma tahu mereka selama ini tidur di kamar yang terpisah, bisa terjadi masalah besar.

“Em..” Sungmin dan Min Ah berbicara di saat yang bersamaan. Min Ah terkejut dan memutuskan agar masalah ini di serahkan pada Sungmin saja.

“Baiklah Eomma..” ucap Sungmin dengan senyum mengembang. Min Ah terkesiap lalu kepalanya cepat terangkat menatap suaminya dengan tatapan heran. Apa? dia setuju? Bukankah dengan begini artinya mereka akan tidur satu kamar malam ini?

 

—-o0o—-

 

Akhirnya, Min Ah dan Sungmin sepakat membiarkan Eomma tidur di kamar yang selalu ditempati Min Ah. terpaksa kini kedua orang itu harus tidur bersama.

“Kau sedang apa?” tanya Sungmin ketika melihat Min Ah sibuk di dapur membuatkan makan malam.

“Tentu saja membuat makan malam, Oppa..” gumam Min Ah antara senang dan terkejut. Ini pertama kalinya Sungmin lebih dulu memulai pembicaraan. Apa keberadaan Eomma memaksa Sungmin untuk bersikap seromantis mungkin demi tidak menimbulkan kecurigaan di mata Eomma. Sudut bibirnya naik membentuk senyuman namun sepertinya Sungmin tidak menyadarinya.

 

Sungmin merebut pisau dari tangan Min Ah lalu mengambil alih tugasnya membuat makan malam.

“Kau ingin membullyku dengan memasukkan bahan aneh ke dalam masakanmu? Tidak bisa, aku tidak mau Eomma keracunan karena perbuatanmu. Biar aku saja!!!”

Min Ah mengerjapkan mata berkali-kali. Ia tersinggung sekaligus terkejut atas ucapan panjang yang di lontarkan Sungmin. Ini pertama kali ia mendengar Sungmin berbicara panjang lebar sejak ia mengenalnya. Dan ia baru tahu bahwa suara suaminya itu sangat indah.

Sekarang ia hanya diam di samping Sungmin, memperhatikan namja itu yang sibuk memotong sayuran, membuat berbagai macam masakan dengan cekatan. Ia baru tahu kalau Sungmin pandai memasak. Ia menatap takjub Sungmin yang kini sudah menyelesaikan satu menu lengkap hidangan korea dan sekarang menyelesaikan satu hidangan terakhir.

“Selesai”

“Wah, Oppa..kau hebat sekali…” seru Min Ah takjub. Ia mengulurkan tangannya hendak meraih salah satu potong ayam di piring yang sekarang dibawa Sungmin.

“Yak, itu masih panas—“

“Auchhhh…” Min Ah terkesiap kaget begitu jarinya menyentuh salah satu potong daging yang masih mengepulkan asap. Tubuhnya terhuyung ke belakang, hampir jatuh.

 

“Aaaaa—“ Sungmin terperanjat kaget dan tangannya refleks menangkap pinggang gadis itu. Min Ah  membuka matanya begitu sadar ia tidak terjatuh. Sungmin berhasil menahannya tepat beberapa puluh senti sebelum tubuhnya mencium lantai. Mereka terdiam sesaat menyadari posisi mereka terlalu dekat dan mata mereka saling bertemu satu sama lain.

 

“Ah, romantisnya..”

 

Sebuah suara membuat alam khayal keduanya buyar. Baik Sungmin maupun Min Ah mengerjapkan mata, sadar bahwa posisi mereka terlalu ‘dekat’. Sungmin segera membenarkan posisi mereka hingga berdiri tegak. Ia berdehem lalu memilih meletakkan piring yang masih dipegangnya ke atas meja. Eomma tersenyum simpul lalu duduk di salah satu kursi meja makan.

“Ayo makan, anak-anak..” ia berusaha mencairkan suasana yang mendadak saja kaku.

 

Mereka makan malam dalam suasana hangat. Eomma banyak menceritakan kisah-kisah lucu mengenai masa kecil Sungmin.

“Eomma, aku tidak tahu Sungmin Oppa bisa memasak” ucap Min Ah. Sungmin melirik kaget.

“Oh, itu karena dulu kami sering meninggalkannya sendiri di rumah. Jadi, dia belajar mengurus dirinya sendiri termasuk belajar memasak.”

“Jinjja?” Min Ah melirik Sungmin yang tetap menundukkan kepalanya pura-pura menikmati makan malam.

“Dulu, perusahaan Appanya tidak sebesar sekarang. Eomma dan Appa bekerja siang malam untuk membangun perusahaan dan seringkali meninggalkannya sendirian. Karena itu, yah.. Sungmin sudah hidup mandiri sejak dulu”

 

Min Ah terdiam. Mendengar cerita Eomma, rasanya ia bisa memahami mengapa Sungmin berwajah datar dan tampak tidak bahagia. Dia pasti…kesepian.

 

—-o0o—-

 

Eomma membuat susu untuk mereka bertiga. Ia melirik pada anak-anaknya yang kini sedang menonton bersama di ruang tv. Ia menghela napas. Sampai kapan mereka akan terus seperti itu? meskipun mereka berusaha tampak harmonis, namun sebagai ibu ia tahu bahwa kehidupan rumah tangga Sungmin-Mn Ah tidak serukun kelihatannya. Maka dari itu, hari ini ia akan bertindak sedikit keterlaluan. Ia mengambil botol kecil berisi obat lalu memecahkan salah satu pil dan memasukkan bubuknya ke dalam salah satu gelas. Senyumnya tertarik membentuk seringaian ‘jahat’.

 

“Sungmin, Min Ah, ini susu kalian. Minumlah..” Eomma meletakkan dua gelas di meja depan sofa.

“Eomma, gomawo..” ucap Min Ah dengan senyum ramah. Eomma balas tersenyum namun mendadak ia teringat. Gelas mana yang tadi ia masukkan obat perangsang itu ya? Perbandingannya 50 : 50. Tapi, siapapun yang meminumnya rasanya tidak masalah.

Min Ah mengambil satu gelas lalu meneguknya hingga habis. Begitu pun yang dilakukan Sungmin.

 

Baiklah, setelah ini kalian harus mewujudkan satu keinginan kami. Batin Eomma. ia sudah tidak sabar lagi ingin memiliki cucu. Bukan apa-apa. tapi karena baik Min Ah maupun Sungmin sama-sama anak tunggal. Pada siapa lagi mereka berharap selain pada kedua anak mereka itu?

 

To be continued

 

73 thoughts on “Hello My Glassess Namja (Part 1)

  1. sementara nunggu seri shady girl yang masi proses.. yaah.. saya re-read ff ajalah.. masi menarik minat saya soalnya ^^ seperti series hello my glasses namja beserta saudaranya hello my charming yeoja ini niih😀 dan yang baru2 itu eg: school in love dkk.. masi belum menarik buat aku baca.. hehe nanti lah kalo udah ending hihi😉
    let’s read ^^

  2. pernikahan yg kek gitu rasanya pasti..hambar:/
    nggak nyangka eommanya sungmin evil juga,ah semoga nggak siasia usahanya😄 kk~

  3. astaga..eomma sungmin ternyata punya ide yg agak wah biar rumah tangga anakny g kaku..tp lucu jg sampe eomma sungmin yg bertindak lgsg..hehehe..

  4. Lagi boring nih eonn. Liat ada ff yg blm ku baca, lngsng baca deh, trnyta ada sungmin😀

    Wah apa yg akan terjadi selanjutnya ??
    Caranya min ah unik, masa ngedeketin sungmin lake Acara dibully. Tpi aku suka…

  5. itu cara min ah buat deket sm sungmin aneh dn beda :v gak bisa bayangin wajah sungmin yg datar dan penyendiri
    eomma nya sungmin nekat amat yakk -,-

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s