Shady Girl [Part 8]

Author : Julia Shin a.k.a Shin Je Young
Genre : Married life, romance
FB : Dha Khanzaki

Cast :

  • Park Haebin
  • Lee Donghae

Support cast :

  • find by yourself ^^

Shady Girl by Dha Khanzaki2

—o0o—

Sungmin tertegun sejenak, namun Tak disangka berikutnya Sungmin malah tergelak. Haebin mengerutkan keningnya.

“Wae Oppa.. ada yang salah?”

“Dia memang baik. Sangat baik. Terutama pada wanita. Dan kau tahu apa sisi buruknya?”

Haebin menggeleng. “Dia itu playboy kelas kakap.” Lanjut Sungmin.

“PLAYBOY!!”

“Iya. Wajarlah.. pria seumurnya bisa bermain dengan banyak wanita. Kau tahu, hanya sekedar kencan biasa.”


Mulut Haebin bungkam. Kenapa pria sebaik dan memiliki senyum seramah itu, wajah setampan itu, bisa memiliki sisi buruk begitu. Benar ternyata kalimat ‘nobody perfect’ itu.

“yah.. meskipun playboy, dia tetap seorang anak yang berdedikasi pada keluarganya. Menjadi kepala keluarga dan kakak yang mengurusi dongsaengnya yang nakal.”

Harus Haebin akui Eunhyuk itu serang kakak yang baik meskipun tegas kepada Taemin, adiknya yang sering membuat masalah itu. Entah dengan cara apa dia mendidiknya, tapi Eunhyuk berhasil membuat Taemin yang senakal itu patuh dengan semua perintahnya.

“Eh, tapi.. kepala keluarga??” tanya Haebin bingung.

“Appa Eunhyuk meninggal saat ia akan masuk kuliah. Demi keluarganya, dia berusaha keras menggantikan sang Ayah menjadi kepala keluarga sekigus meneruskan bisnis yang sudah dirintis oleh Ayahnya. Di saat remaja seusianya asyik bermain dengan teman-temannya, Eunhyuk yang saat itu berusia 19 tahun sibuk belajar ini itu untuk mengelola bisnis yang diwariskan padanya. Ia bahkan rela mengesampingkan cita-citanya menjadi seorang fotografer demi menghidupi keluarganya.”

“Hebat.. bahkan dia pun memiliki pengalaman sehebat itu.. pasti berat menjalani hari-hari bekerja demi menghidupi keluarga.”

“ya.. dia sangat bekerja keras. Saat kuliah dulu, seusai belajar, ia cepat cepat kembali ke perusahaan ayahnya untuk bekerja.”

“Perusahaan? Eunhyuk mewarisi perusahaan.”

“Oh, aku lupa bilang. Eunhyuk sekarang adalah CEO dari SJ group, group yang membawahi SJ TV.”

Lagi-lagi untuk yang ke sekian kalinya, mulut Haebin menganga lebar. Kenyataan yang didengarnya begitu menakjubkan. Mereka benar-benar manusia yang tak terduga.

“Dia juga seorang CEO?” Haebin merosot dari tempat duduknya, terkejut berkali-kali membuat tubuhnya melemah.

“Kau akan semakin kagum padanya jika mengetahui bagaimana dia berusaha waktu itu. Membangun perusahaan di usia yang begitu muda, membuatnya mendapat cibiran dan kecaman dari berbagai pihak yang meremehkan kemampuannya. Banyak orang yang meragukan kemampuannya dalam memimpin perusahaan sebesar itu. Namun, bukan Eunhyuk namanya jika menyerah hanya karena cibiran dan kritik pedas. Meskipun dia mendapat tekanan yang sangat besar, dia berjuang keras membuktikan pada semua orang bahwa remaja sepertinya pun mampu memimpin perusahaan. Bermodalkan kerja keras dan optimisme, akhirnya dia bisa memetik hasil dari jerih payahnya. Kau bisa lihat sendiri kan kalau SJ TV menjadi channel Tv tersukses.”

Perjuangan Eunhyuk pasti sangat melelahkan. Haebin semakin mengagumi namja yang sudah pernah menjadi pahlawan baginya itu. Jadi stasiun TV yang sekarang sangat populer di kalangan masyarakat itu bisa jadi sesukses itu berkat usahanya? Luar biasa.

“Lalu, bagaimana dengan Choi Siwon? Dari segi penampilan luar, dia itu namja yang keren dan tampan. Tapi..dia itu memiliki kadar kepercayaan diri yang tinggi.” Haebin juga teringat saat ia bertemu dengan Siwon. Lagi-lagi klub malam itu menjadi tempat kejadiannya.

“Dia memang keren dan menjadi pujaan banyak wanita. Hanya saja..” Sungmin ragu sesaat, “Dia itu sedikit ceroboh, cepat panik dan cerewet..”

Nah. Itu hal baru yang diketahui Haebin. Tapi jika diingat-ingat, memang ada benarnya. Dulu saat Haebin berbicara dengannya di telepon dan bilang Donghae mabuk, dia mendengar suara gaduh dari tempat Siwon. Apa itu karena dia mendadak panik dan membuat sekitarnya berantakan akibat ulah paniknya itu? Hihihi.. lucu sekali jika memang benar. Haebin tertawa pelan mengingatnya.

“Tapi..” mendadak Sungmin melanjutkan, membuat Haebin berhenti tertawa. “Kisah hidupnya jauh lebih memilukan dibanding yang lain.”

“Benarkah..” Haebin tidak sabar untuk mendengar ceritanya.

“Siwon itu anak yang ditelantarkan keluarganya sejak kecil. Ketika usia 4 tahun, ia dititipkan oleh keluarganya ke sebuah panti asuhan. Dengan janji akan menjemputnya lagi suatu hari nanti. Namun ternyata orangtuanya tidak kunjung menjemputnya di panti asuhan. Siwon yakin dia pasti dilupakan. Begitulah.”

Haebin menutup mulutnya. “Aigoo.. kenapa bisa begitu. Jahat sekali mereka”

“Entahlah apa sebabnya. Siwon yang sudah putus asa menunggu, tumbuh menjadi anak berandal yang suka berbuat onar. Berkelahi bukan lagi hal aneh baginya. Sampai akhirnya ada seorang keluarga yang mau mengadopsinya. Sejak itu juga Siwon berjanji untuk mengubah kebiasaan buruknya dan melupakan masa lalunya yang buruk. Dia belajar dengan baik, mencoba membanggakan keluarga yang sudah membawanya ke kehidupan baru. Sampai sekarang ia menjadi arsitek terbaik di Korea, semua itu dia dedikasikan untuk orangtua yang sudah merawatnya hingga kini.”

Haebin merenung. Dulu seorang Choi Siwon pun pernah mengalami kenangan yang buruk. Dibuang oleh orangtuanya sendiri. Itu pasti sangat menyesakkan.

“Apa dia pernah mencoba mencari tahu keberadaan orangtua kandungnya?” haebin penasaran.

“Sepertinya tidak. Siwon bukan orang  yang melihat ke belakang. Dia kan melupakan keluarga yang sudah melupakannya. Mungkin karena itu juga ia paling tidak suka dilupakan. Ia ingin semua orang mengingatnya, ingat bahwa ada seorang Choi Siwon di dunia ini.”

Ah, jadi itu alasan kenapa dulu Siwon pernah memintanya agar tidak melupakannya. Yah.. dilupakan itu memang menyedihkan. Ia bahkan pernah merasakannya. Di saat Ayahnya hanya mementingkan keperluan Kakaknya, ia hanya bisa berdiri jauh tanpa bisa berkutik. Ayahnya tak pernah sekalipun bertanya apa yang diinginkannya. Seolah dia lupa bahwa Haebin pun anaknya yang berharap mendapatkan perlakuan yang sama.

“Bahkan sampai saat ini pun Siwon tetap berharap gadis yang disukainya tidak melupakannya. Dan dia tetap menunggu di tempat itu tiap tahunnya.”

Haebin mengerutkan kening. Ia tidak paham dengan cerita barusan. Maksudnya? Kenapa tiba-tiba membahas soal gadis yang disukai Siwon?

“Gadis yang disukai?”

“Siwon menyukai seorang gadis, sangat suka. Ah, mungkin itu cinta. Namun sang gadis belum memberikannya jawaban pasti. Siwon kemudian meminta gadis itu untuk menemuinya di bawah Namsan Tower untuk memberitahukan bagaimana perasaan gadis itu terhadapnya. Dan hingga saat ini, gadis itu tidak kunjung datang. Dan Siwon, tiap tahun, ditanggal yang sama selalu datang ke tempat itu berharap gadis itu ingat janji mereka dan muncul di hadapannya.”

Ah, Haebin ingat kejadian itu. Saat dia bertemu dengan Siwon di bawah Namsan Tower. Ia memang melihat ekspresi penuh pengharapan dari raut wajahnya yang putus asa itu. Jadi saat itu Siwon sedang menunggu gadis yang dicintainya?

“Oppa, kau tahu siapa gadis yang disukainya?” haebin tidak bisa menahan diri untuk bertanya.

“Tiffany Hwang. Kau tahu kan.”

Otak Haebin berputar cepat. Mendengar namanya Haebin ingat sesuatu. Seketika ia mengerjap setelah menyadarinya. “Ah.. Tiffany Hwang! Bukankah dia artis yang sekarang memilih menjadi atase di kedutaan Korea untuk Inggris?” yah, tidak salah lagi. Tiffany Hwang, artis yang sempat populer itu memang cantik dan berbakat.

“Iya. Memang dia.” Jawab Sungmin tenang. Ah.. haebin menghela napas. Siapa yang menyangka Tiffany yang hebat itu ternyata gadis yang dicintai Siwon..

Sesaat suasana hening. Sungmin dan Haebin tenggelam dalam pikiran masing-masing. Haebin memandang Sungmin lekat, ia tersenyum penuh arti.

“Lalu bagaimana dengan Oppa? Apa Oppa juga memiliki kisah menakjubkan seperti mereka?”

Sungmin terdiam, kepalanya menengadah ke arah langit. “aku..”

Sungmin mengangkat bahunya. “Aku hanya pengacara biasa. Tidak ada yang istimewa.” Ucapnya dihiasi senyum yang begitu hangat. “Kecuali Minki tentunya. Dia membuat hidupku menjadi sangat berarti.” Sorot mata Sungmin berbinar kala mengucapkannya.

Haebin tersenyum kembali. “Siapa Minki?”

“Putriku.”

“Apaa!!!!!!” teriak Haebin super kaget. Matanya terbelalak bahkan ia sampai bangkit dari duduknya saking terkejut.

“Oppa.. kau sudah menikah dan mempunyai anak?!!” seru Haebin tak percaya. Ia menelaah Sungmin dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dari sudut manapun tak terlihat kalau namja ini ternyata sudah berkeluarga.

“Ne. Putriku berusia 4 tahun sekarang.” Sungmin tersenyum cerah. Haebin menganga kembali. Sungguh.. ia tidak bisa percaya. Namja seaegyeo ini ternyata sudah menjadi seorang Appa. Bukankah itu berarti Sungmin menikah di usia muda. Siapa yeoja beruntung yang bisa mendapatkan namja sepertinya..

Haebin kembali duduk di tempatnya. “Kalau begitu, Oppa, kau harus mengenalkanku pada istrimu.” Ia mendadak semangat. Akhirnya ia bisa bertemu kerabat yeoja yang usianya tidak jauh berbeda dengannya.

“Itu tidak mungkin” ujar Sungmin. Mendadak binar itu hilang dari wajahnya.

“Wae?”

Sungmin menerawang ke langit, yang saat itu cerah dengan awan putih mengarak melintasi cakrawala. “Istriku.. dia sudah meninggal dunia.”

“Ah, Mianhae Oppa..” Haebin mencelos hatinya melihat ekspresi sedih Sungmin. Sekaligus ia merasa sangat bersalah sudah menanyakan hal yang tidak sepatutnya. Oh Tuhan, sungguh ia tidak bermaksud mengingatkan Sungmin akan istrinya yang sudah tiada itu.

Sungmin menundukkan kepalanya, lalu tersenyum. “Gwaenchana. Sekarang aku sudah baik-baik saja.” Ia terdiam sejenak, mengenang masa lalunya. “Dulu saat awal kematian istriku, hidupku terasa sangat berat. Tapi waktu itu sudah terlewat kini. Tidak ada lagi penyesalan. Aku harus bisa merelakannya pergi.”

Haebin mendengarkannya dengan seksama. Bagaimanapun Sungmin tampak begitu tegar. Bahkan haebin tidak melihat sama sekali raut sedih di wajah tampannya. Hanya kebahagiaan yang tampak.

“Pasti sulit menjadi seorang single parent. Membesarkan anakmu seorang diri. Oppa, ternyata kau lebih mengagumkan dari yang kukira” ujar haebin jujur.

“Aku tidak membesarkan Minki seorang diri. Ada Appa dan Umma yang membantuku. Juga Eomonim dan Abeoji. Mereka memberikanku spirit dan membantuku menjaga Minki.”

“Tentu saja..” haebin tersenyum melihat Sungmin tersenyum cerah.

“Kenapa Oppa tidak menikah lagi? Kau masih sangat muda dan tampan” tanya Haebin

Sungmin tampak menerawang memikirkan jawabannya. Namun senyum itu tak kunjung hilang dari bibirnya. “Jika hanya mencari istri memang tidak sulit. Tapi belum tentu dia bisa menjadi ibu yang baik bagi Minki. Aku tidak bisa memikirkan perasaanku sendiri. Kebahagiaan dan masa depan Minki adalah prioritas utamaku sekarang.” Sungmin membenarkan posisi duduknya, sementara Haebin mengerjap mendengar jawaban Sungmin.

“Jadi aku akan menikah jika menemukan wanita yang bisa menjadi istri sekaligus ibu untuk Minki..” lanjutnya.

“Ouwh.. Oppa.. kau benar-benar Appa yang baik..” seru Haebin kagum. Sangat kagum.

Sungmin menghela napas di akhir ceritanya. “Jadi, setelah mendengar cerita ini, kau pasti mendapatkan banyak hal kan.”

Hening. Haebin tampak merenung.

Hmm.. rupanya dia banyak mendapatkan pelajaran dari cerita-cerita yang didengarnya. Bagaimana perjuangan Kyuhyun untuk membuktikan pada Ayahnya tentang tidak ada impian yang mustahil untuk diwujudkan. Tentang tekad kuat agar bisa mendapatkan pengakuan dari orangtua dan niat mulia untuk menolong orang-orang yang menderita penyakit mematikan, seperti yang diajarkan Kibum.

Tak lupa juga pelajaran yang ia dapat dari seorang Eunhyuk yang bekerja keras demi keluarganya. Mengesampingkan semua ego dan cita-citanya demi kelangsungan hidup keluarga setelah ditinggal pergi Ayahnya. Meski dengan semua kesuksesan yang telah diraihnya, dia tetap baik dan sangat bertanggung jawab terhadap keluarga. Dan dari Siwon, dia mendapatkan pelajaran bahwa masa lalu yang tidak menyenangkan tidak perlu diingat lagi. Lupakan masa lalu dan bukalah lembaran yang baru. Pasti hidupnya akan jadi lebih baik. Seburuk apapun masa lalu yang dialaminya.

Dari Sungmin, ia belajar tentang ketegaran. Berusaha bangkit dari keterpurukan setelah ditinggal orang yang paling disayangi dan hidup dengan penuh kebahagiaan. Wuah.. banyak sekali yang di dapatnya hari ini.

“Kau tidak ingin bertanya yang lain?” Sungmin membuyarkan lamunan Haebin.

“Yang lain?”

“Tentang Donghae? Apa kau tidak penasaran bagaimana masa lalunya? Aku yakin itu yang sebenarnya ingin kau tahu.”

“Em, aku ragu Oppa” jujur haebin. Ia memain-mainkan ujung kaosnya.

“Kenapa?” Sungmin tidak mengerti

“Jika nanti aku tahu masa lalunya, aku takut aku akan terluka. Dan tidak bisa membuatnya bahagia lagi.” Haebin memiliki alasan mengapa mengatakannya. Ia sempat mendengar sedikit tentang Donghae yang begitu mencintai yeoja bernama So Yeon. Dan yeoja itu lah yang sudah mengambil semua ekspresi gembira dari Donghae.

Sungmin memegang pundak Haebin, mencoba memberinya kekuatan. “Aku sangat mendukungmu Haebin. dan aku bisa paham kenapa paman ingin kau menikah dengan Donghae.”

“Kenapa?”

“Karena kau yeoja yang baik, polos, dan penuh perhatian.”

Haebin menundukkan kepalanya. ia masih merasa tidak yakin.

“jadi Kau jangan khawatir. So yeon bukanlah hal yang harus kau cemaskan saat ini.”

Helaan napas itu kembali terulang. “Oppa, bisakah kau ceritakan soal So yeon? Dan benarkah bahwa dia penyebab hilangnya kegembiraan Donghae?”

Kali ini Sungmin agak ragu apakah harus menceritakannya atau tidak. Namun ia merasa Haebin harus tahu masa lalu Donghae.

“Yah.. begitulah. Donghae sangat mencintai So Yeon. Bahkan mereka akan menikah jika Paman tidak melarang mereka. Donghae sampai bersimpuh di depan paman mengharapkan restu darinya. Tapi paman tetap kukuh dengan keputusannya bahwa So Yeon adalah gadis yang tidak jelas asal usulnya, dan Donghae tidak boleh menikah dengannya. Sejak itu, Donghae sedikit berubah. Dan tibalah kejadian itu.” Sungmin diam.

Bulu roma Haebin meremang. “Kejadian apa?” cecarnya tak sabar

“Hari itu, paman mengatakan akan mempertimbangkan keputusannya merestui mereka jika So Yeon membawa orangtuanya datang menemui paman. Dan So yeon pergi untuk menjemput orangtuanya. Namun di tengah perjalanan, ia mengalami kecelakaan. Mobil yang ditumpanginya terlibat dalam kecelakaan maut. So Yeon tewas.”

Pandangan Haebin mengabur karena airmata yang terbendung. Hatinya begitu sesak mendengar cerita Sungmin. So Yeon kecelakaan? Tewas? Tidak mungkin. Perlahan tetes air mata itu pun meleleh di pipinya.

“setelah kematian So Yeon, Donghae benar-benar menjadi pribadi yang berbeda. Dia seperti orang yang tidak memiliki ekspresi lain selain dingin dan suram. Senyumannya yang tulus dan menenangkan itu lenyap tak berbekas. Semua karena kepergian So Yeon. Aku tidak tahu bagaimana perasaannya. Dia tidak pernah membicarakannya dengan siapapun. Bahkan kami sudah mengupayakan segala cara untuk mengembalikan Donghae yang dulu. Donghae yang ceria, ramah, menyenangkan, murah senyum, dan rendah hati. Tapi semua sia-sia.”

Haebin masih tercengang. Airmata kian deras mengaliri wajahnya. Meski tidak tersedu, namun kesedihan dan rasa simpati itu tidak bisa ia sembunyikan.

“Paman juga merasa sangat menyesal. Dia jauh lebih sedih melihat putranya seperti mayat hidup. Donghae anak yang sangat patuh. Meskipun ia tidak suka diatur, namun ia sangat mematuhi semua perintah paman. Saat paman mengusir bibi pun, Donghae masih bisa tersenyum meski sempat kecewa. Tapi kepergian So Yeon, sungguh membuat Donghae berubah menjadi orang yang berbeda. Kuakui sampai saat ini ia masih mematuhi paman, tapi kebenciannya terhadap paman bisa terlihat jelas di matanya. Dan aku tidak suka melihatnya hidup seperti itu.” Jelas Sungmin panjang lebar.

Benar dugaan haebin sebelumnya. Setelah mendengar cerita tentang masa lalu Donghae, dia pasti akan sangat terluka. Kenyataan bahwa ternyata Donghae begitu mencintai So Yeon yang sudah meninggal dunia, membuat hatinya bertanya-tanya. Masih adakah ruang di hati Donghae untuknya? Dengan kondisi seperti ini bisakah dia mengobati luka di hati Donghae?

Tuhan.. what should I do??? Batin Haebin.

—–o0o—-

“Aku ingin bertemu dengan Minki, Oppa” seru Haebin ketika mereka sudah kembali masuk ke dalam rumah.

“Kebetulan sekali. Aku mengajaknya kemari hari ini.” Sungmin menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan, mencari sosok putrinya yang tadi ia titipkan pada Leeteuk.

“Mana ya? Bukankah tadi dia bersama Leeteuk Hyung.” Gumamnya

Haebin ikut mencari-cari. Mereka kemudian bertemu dengan Leeteuk di ruang makan, namun sayang ia tidak bersama dengan Minki.

“Loh, Hyung, mana Minki?” tanya Sungmin setengah panik. Leeteuk yang sedang menikmati tehnya menengok.

“Oh, dia ku antar ke atas tadi. Mungkin sekarang sedang membangunkan Donghae.”

Sungmin menyunggingkan senyumnya, lalu ia menoleh pada Haebin.

“Kenapa Oppa tersenyum?” Haebin tidak mengerti.

“Kalau kau ingin lihat ‘Donghae yang dulu’, kau bisa melihatnya ketika dia bersama Minki.”

Mata Haebin melebar. Walau setengah dari kata-kata Sungmin tak dimengertinya, namun ia merasa akan melihat sesuatu yang menakjubkan jika sekarang juga ia menyusul Minki ke atas.

@@@

Donghae tengah tidur cantik di atas ranjang empuknya. Semalam ia bekerja hingga lupa waktu dan kembali ke rumah sudah lewat tengah malam. Jadi di hari libur seperti ini sangat dimanfaatkan olehnya untuk bersantai dan tidur lebih lama.

Sebenarnya ia sudah terjaga sejak 10 menit yang lalu. Namun matanya seolah enggan untuk terbuka. Perlahan ia merasakan ranjangnya bergerak. Sepertinya ada seseorang yang naik ke atas ranjangnya. Donghae masih juga menutup matanya. Ia merasakan sebuah tangan memeluk erat lehernya dan tak lama, bibir mungil yang basah pun ia rasakan mendarat di pipinya, mengecupnya dengan cepat.

Donghae menggeliat merasakan perlakuan itu. Ia perlahan membalikkan badannya dan membuka matanya. Ia menyipitkan matanya sejenak, sosok itu mulai tampak jelas di matanya.

Donghae mengerang pelan ketika menyadari yang kini berada di sebelahnya adalah Minki.

“Ergh.. Minki..” erangnya, seulas senyum terbit di bibirnya. tangannya pun terulur mengelus kepala gadis kecil berusia 4 tahun itu. Minki tersenyum dan makin mengeratkan pelukannya.

“Oppa..” serunya riang. Suaranya yang khas anak kecil itu membuat semangat Donghae seolah kembali terisi penuh.

Meski lelah, Donghae memaksakan diri untuk bangun. Minki duduk di sebelahnya sambil menatap matanya yang berbinar-binar itu. Dan wajahnya yang ceria membuat Donghae makin gemas.

“Ais… ada apa kamu membangunkan Oppa pagi-pagi begini, Min-chan..” Donghae menggelitiki pinggang Minki sambil tertawa pelan. Gadis kecil itu menggeliat dan ikut tertawa juga.

“Oppa..Minnie melindukanmu..”

“Jinjjayo.. kalau begitu peluk Oppa.” Pinta Donghae dengan wajah cerah. Gadis kecil itu segera memeluk Donghae dan duduk di atas pangkuannya.

Haebin mengintip dari balik pintu yang terbuka sedikit. Ia benar-benar takjub melihat pemandangan di depannya. Bagaimana bisa seseorang yang dingin seperti Donghae bisa begitu hangat dan penuh senyuman seperti itu di depan gadis kecil? Apa ini yang dimaksud Sungmin dengan ‘Donghae yang dulu’? wajahnya, ekspresinya, semuanya tampak menakjubkan. Seperti itu kah Donghae sebelum ditinggal pergi So Yeon?

Ekspresi yang memancarkan kebahagiaan tulus dari dalam hati. Yang sekarang bahkan Donghae tidak pernah tunjukkan di depan orang lain. Kenapa ekspresi seperti itu bisa menghilang begitu saja..

Pintu kamar Donghae ia tutup secara pelan. Haebin menyandarkan dirinya pada pintu. Kepalanya terdongkak menatap langit-langit rumah itu. Kini entah dari mana ia mendapatkan kepercayaan diri yang tinggi. Ia harus bisa membuat Donghae kembali seperti dulu. Iya..

@@@

“Ah, tidak terasa kalian besok akan menikah..” seru Tuan Lee membuat Haebin yang sedang mengunyah steak itu hampir tersedak. Matanya kini teralih ke arah pria tua yang berada di seberangnya itu. Mereka bertiga sekarang tengah makan malam. Makan malam terakhir bagi Haebin sebagai gadis lajang karena tak terasa besok hari pernikahannya tiba juga.

Sesekali ia melirik Donghae yang tetap tenang menikmati makan malamnya. Apa dia tidak gugup sedikitpun? Bagaimana bisa ia bisa setenang ini padahal besok adalah hari pernikahannya.

“Bagaimana perasaanmu, Haebin-ah?” kini Tuan Lee bertanya padanya.

“Aku sejujurnya sangat gugup” aku Haebin jujur.

“Bagaimana denganmu, Donghae?” Tuan Lee bertanya pada putranya.

“Biasa saja.” Donghae menjawabnya dengan nada datar. Haebin merengut kecewa. Ternyata moment istimewa bagi Haebin tidak berarti apa-apa bagi Donghae.

Tuan Lee menghela napas. Kemudian ia bangkit lebih dulu. “Ah, aku ada urusan yang harus kuselesaikan. Kalian bicaralah lebih dulu”  ia pergi meninggalkan Donghae dan Haebin berdua saja.

Suasana seperti saat di restoran terulang kembali. Suasana sepi yang membuat napas Haebin sesak.

“Besok, apa Appamu akan mendampingimu besok?” Donghae bertanya lebih dulu.

Deg deg..

Ditanya perihal keluarga membuat Haebin terenyak. Hatinya mendadak terasa sakit seperti ditimpa sebuah batu yang besar. Ia menundukkan kepalanya. menyadari hal itu, Donghae menatap Haebin lekat-lekat.

“Kenapa?” Donghae melihat ekspresi Haebin begitu memelas.

“Appa.. sudah meninggal dunia.” Lirih Haebin

Donghae mengerjapkan matanya. Ia jadi tidak enak hati sudah bertanya.

“Mianhae.” Donghae diam sejenak. “Bagaimana dengan ibumu?”

Kini Haebin mengangkat kepalanya. dari sorot mata yang diperlihatkan, Donghae bisa melihat sorot kesedihan di manik matanya itu.

“Dia juga tidak mungkin datang..” napas Haebin tercekat mengingat kondisi ibunya yang tidak memungkinkannya untuk hadir.

Muka haebin makin tampak memilukan. Tubuhnya tampak bergetar.

“keluargamu? Apa akan ada yang datang?” Donghae jadi ingin lebih tahu tentang kondisi keluarga Haebin.

Haebin menggeleng lemah dan menunduk. “Tidak akan ada yang datang dari mereka.” Jawabnya pelan.

Tepat di saat itu, Hati Donghae yang beku seakan tersentuh sesuatu yang entah apa itu namanya. Dalam hati ia bertanya-tanya, mengapa bisa ada seseorang yang dalam kondisi seperti itu masih bisa tegar dan tetap tersenyum seperti itu.

To be continued..

Maaf untuk typo, bahasa berantakan, cerita ngawur, atau pun feel gak dapet. ^^

75 thoughts on “Shady Girl [Part 8]

  1. Qu mndadak khiLangan kata2 saat tau So Ye0n mninggaL…

    Smua 0rg pny msa LaLu yg buruk trnyta😥

    Lee D0nghae..
    Smua uda bs bangkit dr msa LaLu mreka., dan skrng tnggL kau ^^

  2. Kasian sungmin oppa, semoga segera menyusul Hae-Bin ya oppa?
    Wahh daebakk suami ku bisa lupain kesedihan nya kalo bersama minkie^^
    Part terakhir sedih*cup*cup haebin

  3. Haebin semngat ya buat balikin donghae ke donghae yg dulu..fighting!!
    Dan entah kenapa aku jdi ikut tersentuh wktu haebin bilang kalo gak ada satupun klaurgany yg datang…😦😥

  4. Wahh sungmin udh nikah dan punya anak umur 4taun???
    Kok anaknya sungmin manggil donghae oppa sihh??
    Semoga donghae bisa cepet2 cinta sm haebin ..

  5. gmn tanggapan donghae klo tau ibu haebin menderita gangguan jiwa ? kasian haebin … sepertinya dia juga mempunyai masa lalu yang tak kalah kelam ..

  6. nah, donghar udah mulai tersentuh. orang seperti haebin saja bisa tegar, kenapa dia sendiri tidak bisa seperti itu? mhngkin itu yang ada dipikiran donghae.

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s