Shady Girl [Part 7]

Judul          : Shady Girl Part 7
Author       : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre          : Romance

Main Cast  :

  • Park Hae Bin
  • Lee Donghae

Shady Girl by Dha Khanzaki2

——o0o——

“Oh.. kalian tiba juga..” seru Tuan Lee ketika melihat Donghae dan Haebin memasuki ruangan super luas itu. Senyumnya kian melebar karena kini yang disaksikannya adalah Donghae yang tengah menggenggam tangan Haebin. Mungkinkah rencananya berhasil?

“Appa.. apa maksudnya ini..” Donghae tidak bisa berteriak karena tak disangka ruangan itu dipenuhi oleh orang-orang. Kebanyakan rekan bisnis Tuan Lee maupun dirinya. Dan ada juga kerabat dekat dan jauh.. serta beberapa dari temannya.

Haebin sendiri hanya menganga. Bahkan ia tak menyangka akan menghadiri acara seperti ini.
“Apa lagi? Ini acara pertunangan kalian.” Ucap Tuan Lee dengan entengnya. Seketika kedua orang itu membelalakkan matanya secara bersamaan.

“Tunangan???” pekik Donghae dan Haebin bersamaan. Donghae segera melepaskan tangan Haebin yang dipegangnya. Haebin agak kaget juga mendadak Donghae melepaskan tangannya.

“Appa, mengapa semua begitu mendadak?” protes Donghae.

“Hmm.. jika tidak seperti ini kapan lagi? Kau pasti akan terus mengelak” jelas Tuan Lee. Donghae kini paham kenapa sejak tadi pagi banyak sekali yang mengucapkan selamat padanya. Jadi ini penyebabnya. Pasti Appanya mengumumkan berita pertunangannya kepada semua orang.

Donghae baru akan membuka mulut untuk protes, namun ia mengurungkannya karena ada beberapa orang yang menghampirinya untuk mengucapkan selamat.

Dan malam itu, acara pertunangan pun dilaksanakan tanpa bisa dihindari. Donghae memakaikan cincin di jari manis Haebin di depan semua orang yang hadir. haebin juga memakaikan cincin pada jari manis Donghae setelahnya. Semua orang bertepuk tangan setelahnya, suasana makin terasa meriah. Donghae tidak mungkin bermuka masam di depan semua orang seperti ini. Hal itu akan membuat citranya, Appanya, dan perusaannya buruk. Ia menghela napas sejenak, lalu perlahan ia mulai bersandiwara. Di depan semua orang ia tersenyum, pura-pura.

Haebin juga tersenyum. Ada perasaan bahagia menyusup di antara relung hatinya. Jadi seperti ini rasanya bertunangan. Ia memandangi cincin yang kini melingkar di jarinya. Tadi Donghae memakaikan ini padanya. Alangkah bahagianya.. dia menoleh ke arah Donghae. Matanya sedikit melebar takjub melihat Donghae tersenyum seperti itu. Oh.. my.. jadi seperti itu wajah seorang Lee Donghae ketika tersenyum? Begitu indah dan menenangkan hatinya. Walau ia tahu Donghae pasti hanya berpura-pura, tapi, menyaksikan wajah gembiranya.. memberikan kebahagiaan sendiri padanya.. senyum itu.. wajah gembira itu.. harus bisa muncul setiap hari di wajahnya.. dan mulai kini.. haebin akan berusaha untuk mewujudkannya..

—–o0o—–

Hari ini Haebin harus pergi ke sebuah tempat untuk fitting baju pengantin. Kegugupan kembali menyergapnya. Mencoba gaun pengantin adalah salah satu impiannya sejak kecil dan siapa sangka kini moment itu tiba juga.

“Apa gaun ini tidak membuatmu sesak, nona?” tanya salah satu pegawai butik itu. Haebin mematung di depan cermin. Ia melihat sosok yeoja terbalut gaun pengantin yang sangat cantik dari cermin itu. Meski sempat terpaku, namun Haebin buru-buru memusatkan kembali pikirannya.

“Tidak. Ini pas.” Gaun pilihan Tuan Lee ini memang pas dengan ukuran tubuhnya yang ramping. Haebin sangat bersyukur karena akhir-akhir ini badannya jadi lebih kurus. Dengan begitu ia tidak akan malu memakai gaun pengantin seperti ini.

Haebin di bantu beberapa orang pegawai untuk keluar dari fitting room. Ia hendak memperlihatkannya pada Tuan Lee dan Donghae yang sejak tadi sudah menunggu.

“Wah.. cantik sekali menantuku..” komentar Tuan Lee takjub melihat Haebin muncul dengan gaun pengantin. Haebin tersipu malu, pipinya yang putih itu tampak merona.

“Gomawo..”

“Donghae, coba kau lihat istrimu” Tuan Lee menginstruksikan Donghae yang sejak tadi diam sambil membuka-buka majalah untuk sejenak melihat Haebin. Donghae menengokkan kepalanya ke arah Haebin yang berdiri tak jauh dari hadapannya.

Jujur saja, saat Donghae menatapnya dari ujung rambut hingga kaki, Haebin merasa sangat gugup. Apa yang dipikirkan Donghae saat melihatnya dengan gaun ini? Mendadak ia sangat penasaran.

Donghae tertegun sesaat. Ia hanya melihat seorang gadis dengan gaun pengantin indah melekat pas di tubuhnya dan tersenyum bahagia. Itu saja. Tak ada perasaan special lain.

Sedetik kemudian benaknya kembali teringat kenangan bersama So yeon lagi. Dulu, mereka pun sempat mencoba pakaian pengantin sebelum meminta restu pada sang Ayah. Dan saat itu Donghae sangat terkesan dengan penampilan So Yeon dengan gaun pengantin pilihannnya. Melihatnya ia merasa sangat yakin sudah memilih gadis yang tepat.

Dan sekarang, melihat Haebin dalam balutan busana pengantin seperti itu tidak lagi membuat minatnya bangkit. Jiwanya sudah terlanjut mengecap bahwa di matanya, So Yeon-lah gadis paling cantik yang memakai gaun pengantin.

“Bagaimana, dia cantik bukan?” Tuan Lee bertanya sekali lagi, dia tadi melihat Donghae tertegun. Apa mungkin sudah mulai terpesona pada Haebin? Donghae mengangguk lemah, antara peduli dan tidak.

“Jika menurutmu cantik, jawabannya mungkin begitu.”

Mendengar kalimat tadi membuat perasaan Haebin sedikit terluka. Bukan dari kata-katanya, melainkan dari cara Donghae mengucapkannya. Seolah dia tidak berminat sama sekali terhadapnya. Dan itu membuatnya tersinggung.

@@@

@Namsan Tower

Seusai fitting gaun pengantin-yang berakhir tidak menyenangkan karena Donghae memutuskan pergi untuk urusan pekerjaan-Haebin memutuskan pergi untuk sedikit menemukan penyegaran diri. Dan Namsan Tower adalah tempat pertama yang terlintas di pikirannya. Di sana ia bisa melihat pemandangan kota Seoul dari sudut pandang yang berbeda, merasakan hembusan angin semilir yang menyejukkan, memberikan relaksasi tersendiri baginya.

Saat berjalan pelan di sekitar sana, tanpa di duga Haebin bertemu dengan seseorang yang dikenalnya. Dia berdiri di dekat pohon sakura dengan kepala mendongak menatapi Namsan Tower di depan sana. Dari ekspresinya yang terlihat sedih dan putus asa, haebin bisa menyimpulkan dia pasti sedang mengenang sesuatu, atau menunggu sesuatu?

“Kali ini pun dia tidak datang..” gumam Siwon pelan.

Haebin mendekatinya perlahan untuk sekedar menyapa.

“Siwon-ssi, sedang apa kau di sini?” tanya Haebin. Namja itu menoleh. Seulas senyum muncul saat matanya menangkap sosok Haebin.

“Tidak.. aku hanya jalan-jalan. Kau sendiri?”

“Aku juga sedang melihat-lihat di sini.”

Wajah sedih tadi mendadak menghilang. Kini yang dilihat Haebin adalah wajah gembira Choi Siwon seperti yang biasanya ditunjukkan olehnya. Haebin agak heran dengan perubahan ekspresi yang begitu cepat. Tapi dia tidak berhak  untuk bertanya.

“Kalau begitu kita sama. Wah.. kenapa bisa begitu ya?” ujarnya.

“Kemarin kalian begitu serasi.” Siwon menyinggung soal pertunangan semalam. Haebin jadi teringat kembali pada kejadian semalam. Di mana ia bertunangan tanpa di duga olehnya sama sekali. Dan di acara itu pula, ia kembali bertemu dengan sahabat-sahabat Donghae. Kyuhyun, professor aneh itu, Kibum, Dokter yang sangat terobsesi pada kebersihan, Eunhyuk, namja yang baik namun sangat tegas terhadap dongsaengnya, dan Siwon, manusia yang memiliki kadar kepercayaan diri melebihi batas manusia normal. Di tambah Donghae yang dingin dan seperti manusia dunia lain itu.. benar-benar persahabatan yang sempurna..

“Gomawo..” Hanya kata itu yang bisa diucapkan haebin. Sejujurnya ia pun bingung harus mengatakan apa jika bertemu dengan orang-orang yang menyinggung soal pernikahannya. Hmm..rasanya dia ingin lari saja dari kehidupan ini jika mengingat semua yang terjadi pada dirinya..

@@@

1 minggu lagi adalah hari pernikahannya dengan Donghae. Haebin merasakan kegugupan yang luar biasa. Dia bahkan tidak bisa tidur semalaman karena terus memikirkan pernikahan yang akan berlangsung tak lebih 7 hari lagi. Padahal segala persiapan sudah diurus oleh Tuan Lee. Dia tidak perlu memikirkan apapun. Hanya duduk manis di kamarnya saja.

Pagi ini, haebin kembali diam di kursi taman favoritnya. Memandangi bunga-bunga yang mekar di halaman rumah itu. Tapi anehnya, itupun tidak mampu menghilangkan kegusaran hatinya.

“kucari kemana-mana, ternyata ada di sini.”

Haebin menoleh ketika mendengar suara seseorang.

“Sungmin Oppa..” serunya. Sungmin menghampiri Haebin lalu duduk di sampingnya.

“Hmm.. ini salah satu tempat favoritku di rumah ini. Kau tahu, selain pemandangannya indah, udaranya juga sejuk.” Sungmin menarik nafas dalam-dalam,lalu membuangnya perlahan. Ia beralih menatap haebin yang diam.

“Kenapa? Calon pengantin tidak boleh bersedih begini.” Hiburnya. Haebin menggeleng, ia tersenyum tipis.

“Aku tidak bersedih, Oppa..”

“Lalu kenapa kau tampak sedih..” Sungmin mengamati wajah Haebin. Ia memang melihat raut kesedihan di wajahnya.

Sekali lagi Haebin tersenyum untuk meyakinkah Sungmin. “Lihat, aku baik-baik saja.”

“em..baiklah, aku percaya.”

Haebin diam sejenak, ia kemudian teringat sesuatu. “Oppa, apa kau mengenal teman-teman Donghae?”

“Maksudmu Eunhyuk, Siwon, Kibum dan Kyuhyun?”

Haebin mengangguk semangat. Sungmin memiringkan kepalanya sejenak, berpikir. Sesaat kemudian ia tersenyum.

“Tentu saja. Memang kenapa?”

“Ani.. aku hanya merasa perlu mengenal mereka saja. Jika di amati baik-baik, sepertinya mereka memiliki kemiripan sifat dengan Donghae. Benar kan?”

“Dibilang benar, tidak juga. Di bilang salah, kurang tepat. Jadi yah seperti itulah. Apa yang ingin kau ketahui tentang mereka?”

Haebin mengingat ingat sejenak beberapa peristiwa yang dialaminya beberapa waktu lalu. Saat dia bertemu Siwon, lalu Eunhyuk, kemudian Kyuhyun dan terakhir Kibum. Rasanya semuanya begitu ajaib.

“Oppa benar-benar mengenal mereka dengan baik?”

“Tentu saja. bagaimanapun aku adalah sunbae mereka saat di kampus dulu.”

“Benarkah?” Haebin takjub

“Aku tahu dengan baik karakter masing-masing dari mereka berikut masalah mereka. Kau tahu, mereka itu memiliki masalah dan latar belakang yang berbeda.”

Mata Haebin melebar takjub dengan sendirinya. Ia berkali-kali menganggukkan kepalanya. Sedetik kemudian keningnya kembali mengerut.

“Tapi tetap saja aku penasaran dengan mereka.”

“Contohnya?”

“Professor Kyuhyun, dia itu sangat aneh. Bayangkan, mana ada dosen yang penampilannya serampangan sepertinya. Dan lagi, tingkahnya itu sulit dipahami.” Haebin terbayang kali pertama dia bertemu dengan Kyuhyun. Di depan kelas, namja itu berhasil membuat semua orang tercengang dengan penampilannya.

Sungmin tersenyum. “kau boleh saja bilang dia aneh, serampangan, dan sulit dimengerti. Namun aku harus mengakui bahwa Kyuhyun itu benar-benar anak multitalenta.”

“Multitalenta?” Haebin tidak mengerti. Multitalenta apanya? Memang benar dia pintar. Tapi.. multitalenta… entahlah.

“dibalik penampilannya yang buruk itu, dia anak yang jenius. Kemampuannya tidak bisa dihitung. Dari segi prestasi, banyak yang sudah diraihnya. Dia bahkan berhasil menyelesaikan gelar masternya di usia 21 tahun.”

“Nde!!!!” Haebin tanpa sadar memekik. Berarti jika dia menjadi Kyuhyun, dia berhasil menyelesaikan S2 tahun lalu?? Omona.. Haebin bahkan sampai saat ini belum bisa menyelesaikan S1nya.

Sungmin merengut. “Dia bahkan mendahului kami semua lulus S1 dan meneruskan studinya di Harvard university. Padahal usianya masih sangat muda waktu itu.”

Haebin mengangguk-angguk lagi. Mulai saat ini dia tidak bisa memandang sebelah mata pada Kyuhyun.

“Jika sepintar itu kenapa dia tidak memilih bekerja di Blue House saja ya? Kenapa hanya menjadi professor di Universitas?” Haebin menerawang ke langit yang biru.

“Apa kau tidak tahu? Kyuhyun adalah CEO dari perusahaan game yang sekarang sedang booming?. Kau tahu kan, QC Corp? Itu adalah perusahaan miliknya.”

“Uapa..!!!” Haebin lagi-lagi dibuat kaget. “Namja serampang~ eh, dia CEO? Pemilik perusahaan??” ternyata pepatah ‘don’t judge the book from its cover’ itu benar.

Sungmin mengangguk. “Itu adalah perusahaan yang dibangun dari hasil kerja kerasnya selama 4 tahun terakhir. Dia sangat terobsesi untuk membangun perusahaan game sendiri. Kau tahu kenapa?”

Haebin menggeleng. “Dia ingin membuktikan pada Ayahnya, bahwa dia juga bisa hidup mapan dengan hasil usahanya sendiri.”

Haebin belum bereaksi, masih diam. Sungmin melanjutkan. “Ayahnya itu adalah presdir dari Cho Corp, perusahan ekspor impor. Sudah kau pastikan betapa kayanya keluarga Kyuhyun itu. Karena dia adalah anak sulung di keluarganya, sejak kecil Kyuhyun terus dididik untuk menjadi penerus Cho corporation”

“Tapi bagaimanapun Kyuhyun memiliki ketertarikan dan pemikiran sendiri. Dia bersikeras tidak mau meneruskan perusahaan Ayahnya dan memilih untuk menjadi seorang programmer game. Yah.. bermain game adalah salah satu hobinya. Ayahnya marah besar dengan mengatakan menjadi seorang programmer tidak akan menjamin masa depannya. Kata-kata Ayahnya waktu itu sangat memukul batin Kyuhyun. Sejak saat itu, dengan mengandalkan kejeniusannya, ia bekerja keras membangun perusahaan sendiri. Dan bisa lihat hasilnya sekarang, perusahaannya berkembang pesat hanya dalam kurun waktu 4 tahun.”

“Daebak..” seru Haebin geleng-geleng kepala. Ia tak habis pikir. Kenapa bisa ada orang sehebat itu. Dengan bermodalkan obsesi dan keinginan untuk membuktikan diri.. apapun harapan bisa terwujud.

“Sekarang Kyuhyun bisa berdiri tegak tanpa rasa malu di hadapan Ayahnya. Membuktikan bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini. Dia bisa hidup mapan bukan dari hasil usaha orangtuanya, melainkan usahanya sendiri.”

Terbayang kembali sosok Kyuhyun yang bagai gelandangan itu membawa sebuah mobil sport yang harganya mampu membuat mata terbelalak. Apa itu juga hasil dari kerja kerasnya?

“Jika Kyuhyun anak yang berjiwa pemberontak, lain halnya dengan Kibum. Dia itu kebalikan dari Kyuhyun” jelas Sungmin.

Pikiran Haebin kembali menerawang. Memang benar, jika di ingat-ingat, moment saat dirinya pertama kali bertemu Kibum, namja itu sangat terobsesi pada kebersihan. Berbeda sekali dengan Kyuhyun yang terkesan tidak peduli pada kebersihan. Awalnya Haebin berpikir dia itu orang yang memiliki kelainan karakter. Ternyata Kibum itu adalah seorang Dokter. Wajar saja kan.

“Dia begitu terobsesi pada kebersihan. Segalanya harus steril dari kuman.” Sungmin mulai bercerita lagi.

“I know it”

“Kebiasaannya itu berawal sejak dia masuk rumah sakit karena keracunan makanan saat kecil.”

“Karena itu juga dia memilih jadi Dokter?”

Sungmin terdiam sejenak. “Sebagian benar.. sudah kukatakan, Kibum itu kebalikan dari Kyuhyun. Jika Kyuhyun menolak meneruskan pekerjaan ayahnya, maka Kibum dengan senang hati mengikuti jejak sang Ayah.”

“Jadi maksud Oppa Ayahnya Kibum itu dokter juga?”

“Tepat. Bukan sekedar dokter, tapi juga pemilik dari Seoul General Hospital.”

“Hee..rumah sakit besar itu..” seru Haebin.

“Ayahnya berharap Kibum mewarisi rumah sakit itu karena sang kakak-Kim Heechul-menolak untuk menjadi dokter dan memilih menjadi seorang disainer perhiasan.”

Kim Heechul.. oh, iya.. orang yang ditemuinya waktu itu. Orang yang merancang cincin pertunangan yang kini dipakainya.

“Ayah Kibum itu sangat membanggakan kakaknya, Heechul. Sejak kecil ia selalu iri pada perlakuan ayahnya yang berbeda terhadapnya dan kakaknya. Ia selalu dianggap anak kecil yang tidak bisa melakukan apapun. Karena itu. Dia ingin membuktikan pada dirinya sendiri terutama pada sang Ayah, bahwa dia bukan anak kecil dan bisa melakukan hal-hal hebat seperti menjadi Dokter.”

“Wuah..” Haebin hanya bisa berdecak kagum mendengar cerita mereka. “Aku tahu bagaimana perasaan seperti itu. Appa.. dia juga selalu membanggakan kakakku yang pintar. Sementara aku, hanya bisa menatap iri kakak yang bisa mendapatkan sepenuhnya perhatian dari Appa.” Kenang Haebin. Yah.. masa lalu yang tidak mungkin bisa terulang.

“Sebenarnya. Bukan itu alasan sebenarnya Kibum ingin menjadi dokter.”

“Nde..!! ada alasan lain?”

Sungmin menerawang kembali, seperti mengenang sesuatu. “Karena dia pernah mengalami kejadian pahit. Kehilangan seseorang yang disayanginya. Dia meninggal karena penyakit kanker. Sahabatnya, Im Yoona.”

Haebin terdiam, merenung. Kehilangan orang yang sangat disayangi. Haebin juga tahu bagaimana rasanya. Saat mengetahui Ayahnya tewas dalam kecelakaan, ia merasa tidak sanggup untuk hidup normal lagi. Kehidupannya berubah 180 derajat. Dan itu membuatnya begitu sesak.

“Sejak saat itu Kibum bertekad, jika ia menjadi dokter, ia tidak akan membiarkan orang-orang mengalami apa yang dirasakannya. Rasa pedih dan penyesalan ketika orang yang berada di dekatnya tewas karena penyakit mematikan. Ia pasti akan berusaha menyembuhkan orang-orang yang mengalami nasib serupa seperti sahabatnya.”

“Niatnya amat mulia.” Komentar Haebin kagum. Sepertinya mulai sekarang ia tidak boleh berpikir hal tak baik tentang Kibum.

“Eunhyuk juga seperti itu. Dia namja yang baik. Kau tahu Oppa, dia sudah menyelamatkanku dari bahaya.” Ingatan Haebin kini terlontar pada peristiwa di klub malam itu. Saat itu, dia benar-benar berpikir Eunhyuk adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menolongnya.

Tak disangka Sungmin malah tergelak. Haebin mengerutkan keningnya.

“Wae Oppa.. ada yang salah?”

“Dia memang baik. Sangat baik. Terutama pada wanita. Dan kau tahu apa sisi buruknya?”

Haebin menggeleng. “Dia itu playboy kelas kakap.” Lanjut Sungmin.

“PLAYBOY!!”

“Iya. Wajarlah.. pria seumurnya bisa bermain dengan banyak wanita. Kau tahu, hanya sekedar kencan biasa.”

Mulut Haebin bungkam. Kenapa pria sebaik dan memiliki senyum seramah itu, wajah setampan itu, bisa memiliki sisi buruk begitu. Benar ternyata kalimat ‘nobody perfect’ itu.

“yah.. meskipun playboy, dia tetap seorang anak yang berdedikasi pada keluarganya. Menjadi kepala keluarga dan kakak yang mengurusi dongsaengnya yang nakal.”

Harus Haebin akui Eunhyuk itu serang kakak yang baik meskipun tegas kepada Taemin, adiknya yang sering membuat masalah itu. Entah dengan cara apa dia mendidiknya, tapi Eunhyuk berhasil membuat Taemin yang senakal itu patuh dengan semua perintahnya.

“Eh, tapi.. kepala keluarga??” tanya Haebin bingung.

“Appa Eunhyuk meninggal saat ia akan masuk kuliah. Demi keluarganya, dia berusaha keras menggantikan sang Ayah menjadi kepala keluarga sekigus meneruskan bisnis yang sudah dirintis oleh Ayahnya. Di saat remaja seusianya asyik bermain dengan teman-temannya, Eunhyuk yang saat itu berusia 19 tahun sibuk belajar ini itu untuk mengelola bisnis yang diwariskan padanya. Ia bahkan rela mengesampingkan cita-citanya menjadi seorang fotografer demi menghidupi keluarganya.”

“Hebat.. bahkan dia pun memiliki pengalaman sehebat itu.. pasti berat menjalani hari-hari bekerja demi menghidupi keluarga.”

“ya.. dia sangat bekerja keras. Saat kuliah dulu, seusai belajar, ia cepat cepat kembali ke perusahaan ayahnya untuk bekerja.”

“Perusahaan? Eunhyuk mewarisi perusahaan.”

“Oh, aku lupa bilang. Eunhyuk sekarang adalah CEO dari SJ group, group yang membawahi SJ TV.”

Lagi-lagi untuk yang ke sekian kalinya, mulut Haebin menganga lebar. Kenyataan yang didengarnya begitu menakjubkan. Mereka benar-benar manusia yang tak terduga.

“Dia juga seorang CEO?” Haebin merosot dari tempat duduknya, terkejut berkali-kali membuat tubuhnya melemah.

“Kau akan semakin kagum padanya jika mengetahui bagaimana dia berusaha waktu itu. Membangun perusahaan di usia yang begitu muda, membuatnya mendapat cibiran dan kecaman dari berbagai pihak yang meremehkan kemampuannya. Banyak orang yang meragukan kemampuannya dalam memimpin perusahaan sebesar itu. Namun, bukan Eunhyuk namanya jika menyerah hanya karena cibiran dan kritik pedas. Meskipun dia mendapat tekanan yang sangat besar, dia berjuang keras membuktikan pada semua orang bahwa remaja sepertinya pun mampu memimpin perusahaan. Bermodalkan kerja keras dan optimisme, akhirnya dia bisa memetik hasil dari jerih payahnya. Kau bisa lihat sendiri kan kalau SJ TV menjadi channel Tv tersukses.”

Perjuangan Eunhyuk pasti sangat melelahkan. Haebin semakin mengagumi namja yang sudah pernah menjadi pahlawan baginya itu. Jadi stasiun TV yang sekarang sangat populer di kalangan masyarakat itu bisa jadi sesukses itu berkat usahanya? Luar biasa.

“Lalu, bagaimana dengan Choi Siwon? Dari segi penampilan luar, dia itu namja yang keren dan tampan. Tapi..dia itu memiliki kadar kepercayaan diri yang tinggi.” Haebin juga teringat saat ia bertemu dengan Siwon. Lagi-lagi klub malam itu menjadi tempat kejadiannya.

“Dia memang keren dan menjadi pujaan banyak wanita. Hanya saja..” Sungmin ragu sesaat, “Dia itu sedikit ceroboh, cepat panik dan cerewet..”

Nah. Itu hal baru yang diketahui Haebin. Tapi jika diingat-ingat, memang ada benarnya. Dulu saat Haebin berbicara dengannya di telepon dan bilang Donghae mabuk, dia mendengar suara gaduh dari tempat Siwon. Apa itu karena dia mendadak panik dan membuat sekitarnya berantakan akibat ulah paniknya itu? Hihihi.. lucu sekali jika memang benar. Haebin tertawa pelan mengingatnya.

“Tapi..” mendadak Sungmin melanjutkan, membuat Haebin berhenti tertawa. “Kisah hidupnya jauh lebih memilukan dibanding yang lain.”

“Benarkah..” Haebin tidak sabar untuk mendengar ceritanya.

“Siwon itu anak yang ditelantarkan keluarganya sejak kecil. Ketika usia 4 tahun, ia dititipkan oleh keluarganya ke sebuah panti asuhan. Dengan janji akan menjemputnya lagi suatu hari nanti. Namun ternyata orangtuanya tidak kunjung menjemputnya di panti asuhan. Siwon yakin dia pasti dilupakan. Begitulah.”

Haebin menutup mulutnya. “Aigoo.. kenapa bisa begitu. Jahat sekali mereka”

“Entahlah apa sebabnya. Siwon yang sudah putus asa menunggu, tumbuh menjadi anak berandal yang suka berbuat onar. Berkelahi bukan lagi hal aneh baginya. Sampai akhirnya ada seorang keluarga yang mau mengadopsinya. Sejak itu juga Siwon berjanji untuk mengubah kebiasaan buruknya dan melupakan masa lalunya yang buruk. Dia belajar dengan baik, mencoba membanggakan keluarga yang sudah membawanya ke kehidupan baru. Sampai sekarang ia menjadi arsitek terbaik di Korea, semua itu dia dedikasikan untuk orangtua yang sudah merawatnya hingga kini.”

Haebin merenung. Dulu seorang Choi Siwon pun pernah mengalami kenangan yang buruk. Dibuang oleh orangtuanya sendiri. Itu pasti sangat menyesakkan.

“Apa dia pernah mencoba mencari tahu keberadaan orangtua kandungnya?” haebin penasaran.

“Sepertinya tidak. Siwon bukan orang  yang melihat ke belakang. Dia kan melupakan keluarga yang sudah melupakannya. Mungkin karena itu juga ia paling tidak suka dilupakan. Ia ingin semua orang mengingatnya, ingat bahwa ada seorang Choi Siwon di dunia ini.”

Ah, jadi itu alasan kenapa dulu Siwon pernah memintanya agar tidak melupakannya. Yah.. dilupakan itu memang menyedihkan. Ia bahkan pernah merasakannya. Di saat Ayahnya hanya mementingkan keperluan Kakaknya, ia hanya bisa berdiri jauh tanpa bisa berkutik. Ayahnya tak pernah sekalipun bertanya apa yang diinginkannya. Seolah dia lupa bahwa Haebin pun anaknya yang berharap mendapatkan perlakuan yang sama.

“Bahkan sampai saat ini pun Siwon tetap berharap gadis yang disukainya tidak melupakannya. Dan dia tetap menunggu di tempat itu tiap tahunnya.”

Haebin mengerutkan kening. Ia tidak paham dengan cerita barusan. Maksudnya? Kenapa tiba-tiba membahas soal gadis yang disukai Siwon?

“Gadis yang disukai?”

“Siwon menyukai seorang gadis, sangat suka. Ah, mungkin itu cinta. Namun sang gadis belum memberikannya jawaban pasti. Siwon kemudian meminta gadis itu untuk menemuinya di bawah Namsan Tower untuk memberitahukan bagaimana perasaan gadis itu terhadapnya. Dan hingga saat ini, gadis itu tidak kunjung datang. Dan Siwon, tiap tahun, ditanggal yang sama selalu datang ke tempat itu berharap gadis itu ingat janji mereka dan muncul di hadapannya.”

Ah, Haebin ingat kejadian itu. Saat dia bertemu dengan Siwon di bawah Namsan Tower. Ia memang melihat ekspresi penuh pengharapan dari raut wajahnya yang putus asa itu. Jadi saat itu Siwon sedang menunggu gadis yang dicintainya?

“Oppa, kau tahu siapa gadis yang disukainya?” haebin tidak bisa menahan diri untuk bertanya.

“Tiffany Hwang. Kau tahu kan.”

Otak Haebin berputar cepat. Mendengar namanya Haebin ingat sesuatu. Seketika ia mengerjap setelah menyadarinya. “Ah.. Tiffany Hwang! Bukankah dia artis yang sekarang memilih menjadi atase di kedutaan Korea untuk Inggris?” yah, tidak salah lagi. Tiffany Hwang, artis yang sempat populer itu memang cantik dan berbakat.

“Iya. Memang dia.” Jawab Sungmin tenang. Ah.. haebin menghela napas. Siapa yang menyangka Tiffany yang hebat itu ternyata gadis yang dicintai Siwon..

Sesaat suasana hening. Sungmin dan Haebin tenggelam dalam pikiran masing-masing. Haebin memandang Sungmin lekat, ia tersenyum penuh arti.

“Lalu bagaimana dengan Oppa? Apa Oppa juga memiliki kisah menakjubkan seperti mereka?”

Sungmin terdiam, kepalanya menengadah ke arah langit. “aku.”

to be continued

85 thoughts on “Shady Girl [Part 7]

  1. Aku kagum sama author, kamu punya imajinasi yang WOOW BANGET. Bisa buat cerita sebagus itu dan aku kagum banget sama kamu. Terus dikembangin lagi ya imajinasinya. FIGHTING ya…🙂

  2. Bener bener daebak, bsa menggambarkan karakter dan crita sahabat shabt donghe dngn detail.
    Alur nya keren, ga kecpetan, bikin betah bca nya.

  3. Wow Daebakkk.. bener2 epep ini, sumpah author keren imajinasi nya lancar banget*kayak jalan tol* kisah hidup yang menabjuk kan?
    iyaa.. dong Sungmin oppa juga*penasaran*

  4. Semua cast memiliki kisah yg tragis di masa lalu tpi sukses di masa sekarang, ada hikmahnya juga.
    Penasaran sama sungmin latar belakangnya gmana, cus ke part selanjutnya.

  5. Sesi curhat2an rupanya hheehe
    emng ya tmn2 Donghae daebak2 smua .. Salut utk klian oppa2 yg tampan.. Trus gmna ya kisah Sungmin sndri???

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s