Shady Girl [Part 6]

Judul          : Shady Girl Part 6
Author        : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre          : Romance
Lenght        : Chapter 6 of ??

Main Cast :

  • Park Hae Bin
  • Lee Donghae

Support Cast:

  • Lee Taemin
  • Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk
  • Lee Sungmin
  • Leeteuk
  • Kwon Yuri
  • Others

Shady Girl by Dha Khanzaki2


——–o0o——–

“Nuna yang di sana… minggir…” teriak seseorang mengagetkan Haebin. Belum sempat Haebin menggeser tubuhnya sedikit ia sudah ditabrak seseorang hingga jatuh.

Brugghh…

“Auch..” Haebin merasa bagian pantatnya berdenyut-denyut sakit karena berbenturan langsung dengan badan jalan.

Ia melihat seorang namja muda berseragam SMU terkulai dengan posisi yang sama di hadapannya. Baru ia akan protes beberapa namja yang sepertinya preman datang dan dengan cepat meraih kerah namja SMU itu dan menariknya paksa hingga berdiri.

“Kau.. Lee Taemin.. dasar bocah tengik..” ujar pria itu dengan suara tinggi, kemudian tanpa basa-basi segera menghajar anak bernama Lee Taemin itu hingga kembali terkapar di trotoar. Taemin bangkit dan kembali membalas pria yang sudah memukulnya tadi. Akhirnya mereka berkelahi.

“Kyaa..” Haebin menjerit melihatnya. Ia tidak tega melihat namja itu dipukuli hingga menetes darah di sudut bibirnya dan menimbulkan memar di beberapa bagian tubuhnya. Haebin segera berlari mencari bantuan. Begitu  melihat ada mobil polisi yang terparkir tak jauh di sana, Haebin segera menghampiri.

“Anu pak polisi.. tolong.. ada yang berkelahi di sana..” Haebin panik luar biasa. Begitu mendengarnya polisi itu segera berlari ke tempat yang dimaksud Haebin. Dan orang-orang yang berkelahi itu segera diamankan oleh polisi.

@@@

Di kantor polisi,

Taemin dan 2 orang yang terlibat perkelahian dengannya sedang di interogasi oleh polisi dan Haebin hanya mengamati mereka.

“kau sudah menelepon keluargamu?” tanya Haebin pada Taemin. Namja itu mengangguk dengan wajah tertunduk. Haebin mengeluarkan sapu tangan dari tasnya. Ia duduk di sebelah Taemin, meraih dagu namja itu dan mengelap darah yang ada di sudut bibirnya.

“Aigoo.. sayang sekali wajahmu yang tampan ini jadi penuh luka seperti ini..”

Taemin meringis ketika Haebin tak sengaja sedikit menekan bagian yang memar.

“Ah, Mianhae.. sakit ya.. kau harus segera di obati.”

“Tidak perlu Nuna.. gomawo sudah menolongku.” Ucap Taemin.

Haebin menghela napas. “Baiklah. Aku akan segera menunggumu sampai keluargamu datang. Oh iya.. siapa namamu?”

“Lee Taemin imnida”

“Kau masih sekolah ya? Kelas berapa?”

“Kelas 3 SMU” jawabnya sopan.

“Nde.. kalau begitu kenapa berkelahi seperti tadi..? memang kau pandai berkelahi?”

“Mereka.. mengejekku.. aku sebal. Jadi kuhajar mereka. Tak tahunya aku malah di kejar.”

Haebin tersenyum. “Dengar ya, Taemin.. aku tidak melarangmu untuk berkelahi. Tapi jika kau ingin berkelahi, satu hal yang harus kau ketahui. Yaitu.. kau harus menang.” Ujar Haebin. Taemin menatap Haebin dengan seksama.

“Aku harus menang?” tanyanya ulang.

“Em.. jika kau tidak yakin.. lebih baik jangan berkelahi. Dan kau hanya boleh melakukannya jika kau sedang dalam keadaan terdesak. Dan hanya dalam keadaan genting saja. Araso…”

“iya.. aku paham..”

Tak lama terdengar suara ribut beberapa orang masuk ke ruangan itu.

“Taemin.. Lee Taemin.. kemana kau..” seru seseorang. Haebin refleks berdiri. Taemin mengenal suara berat itu. Seketika tubuhnya menegang, ia ikut bangkit dan bersembunyi di balik tubuh Haebin.

Orang itu masuk ke dalam ruangan itu. Haebin terkejut melihat orang yang muncul dengan ekspresi panik itu. Taemin semakin menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh Haebin.

“Omo.. kau kan.. yeoja yang waktu itu..” ujar namja yang kabarnya keluarga Taemin  ketika mengenali Haebin.

“Oh, Ne.. kau.. Lee Hyukjae-ssi” kata Haebin. Dia tidak mungkin melupakan orang yang sudah menolongnya dari kejahatan namja yang hampir memperkosanya dulu.

“Park Haebin-ssi..” Eunhyuk tersenyum manis pada Haebin. Itu hanya sesaat, karena ia kembali teringat pada urusan sebenarnya ia datang kemari. Ekspresinya kembali menyeramkan.

“Ya..Lee Taemin.. kemana kau..” ujarnya hampir berteriak. Taemin berhenti bersembunyi di balik tubuh Haebin. Ia memberanikan diri menghadapi Eunhyuk.

“Ne, Hyung.. aku di sini..” ujar Taemin takut dengan kepala menunduk. Haebin kembali dibuat terkejut. Akhir-akhir ini dia memang sering merasakan kaget karena berbagai kejadian yang ia alami.

“Kau..” Eunhyuk menunjuk dongsaengnya itu dengan amarah tinggi. Taemin semakin mengkerut. Ia tahu, Hyungnya itu sangatlah tegas padanya.

@@@

“Duduk bersimpuh!!” perintah Eunhyuk. Taemin paham, ia segera bersimpuh di tempatnya berdiri. Kepalanya pun menunduk tanda kalau ia menunjukkan ketakutannya terhadap Eunhyuk.

“Apa yang sering kukatakan padamu tentang tindak kekerasan?” Eunhyuk berjalan bolak-balik di depan Taemin yang bersimpuh, menginterogasi adiknya itu seperti polisi. Haebin menyaksikannya dengan keheranan.

Taemin makin menundukkan kepalanya. “Dilarang melakukan tindak kekerasan apapun alasannya.” Ucap Taemin. Eunhyuk mengangguk-angguk.

“Kau ingat itu tapi kenapa sekarang kau lakukan lagi?” Eunhyuk tampak seperti polisi yang menginterogasi pelaku pembunuhan.

Taemin memberanikan diri mengangkat kepalanya. “Tapi Hyung, mereka mengejekku..”

Eunhyuk kembali melayangkan death glare-nya pada Taemin, sukses membuat namja berusia 18 tahun itu menunduk kembali.

“Mengejek ataupun menghina, kau harus bisa menahannya..” Suara Eunhyuk meninggi.

Haebin tidak tahu harus berbuat apa untuk membantu Taemin. Dia hanya berdiri mematung tak jauh dari Taemin.

“Maaf Tuan, bagaimana tentang penyelesaian kasus ini?” tanya salah seorang petugas polisi pada Eunhyuk.

“Oh, tenang saja, pengacaraku akan segera tiba. biar dia yang menyelesaikannya.” Jawab Eunhyuk sopan.

Tak lama seseorang datang. Haebin terkejut melihat siapa yang datang. Ternyata dia adalah Lee Sungmin, keponakan dari Tuan Lee yang dikenalnya saat makan malam bersama beberapa hari yang lalu. Setelah dia menyelesaikan segala urusannya dengan polisi, ia baru menghampiri Haebin dan menyapanya. Wah.. Haebin sedikit terpesona.. Sungmin tampak berbeda dengan pakaian resmi seperti ini.

“Sungmin Oppa.. jadi kau pengacara pribadi dari Lee Hyukjae-ssi?” tanya Haebin kaget “Begitulah..” ujar Sungmin. “Kau sudah kenal lama dengan Eunhyuk?”

“Tidak juga. Bertemu secara tidak sengaja. Dan siapa sangka sekarang aku terlibat masalah dengan dongsaengnya.”

Sungmin tersenyum, dan itu terlihat sangat manis di mata Haebin. “Taemin itu memang sedikit nakal. Maklumlah anak remaja. Tapi dia sangat patuh pada Hyungnya.” Jelas Sungmin.

“Begitukah?”

“Tentu..”

Perhatian mereka kemudian teralih pada Eunhyuk yang sampai sekarang masih juga menginterogasi dongsaengnya yang malang itu.

“Memang dia mengatakan apa padamu sampai kau terlibat perkelahian seperti ini?” Eunhyuk berjongkok di hadapan Taemin. Kini ekspresinya tidak menyeramkan lagi. Ia sudah merendahkan suaranya. Dia tampak seperti seorang kakak pada umumnya yang perhatian pada adiknya.

Taemin tetap dalam posisi sama, bersimpuh dengan kedua tangan bertumpu pada pahanya. “Mereka bilang.. aku ini berandalan karena tidak ada Appa yang mengajariku berperilaku..” Suara Taemin bergetar ketika mengucapkannya. Kalimat itu membuat Eunhyuk mengerjap. Ia tercengang mendengar Taemin mengungkit soal Appa mereka. Sekarang ia paham kenapa Taemin yang begitu patuh pada perintahnya rela melanggarnya. Taemin memang sangat sensitif jika berbicara soal Appa mereka.

“Araso.. sudah.. lain kali kau tidak perlu meladeni orang-orang yang mengejekmu tentang Appa. Biarkan saja mereka.” Eunhyuk mengelus kepala Taemin dengan lembut. Ia tersenyum.

“Berdirilah..” Eunhyuk meraih lengan Taemin agar berdiri.

“jadi Hyung sudah memaafkan perbuatanku?” tanya Taemin ragu.

“TIDAK!!” tegas Eunhyuk, wajah menyeramkannya kembali. “Kau tetap harus mendapatkan hukuman setelah ini!”

“Nde…” seru Taemin tidak percaya

Sungmin maupun Haebin menahan tawa melihat ekspresi Taemin yang pasrah itu. Dibilang kasihan, tentu saja. Eunhyuk sedikit tega pada adiknya itu.

“Ayo, sekarang minta maaf pada Nuna itu..” perintah Eunhyuk, tangannya menunjuk Haebin. Taemin menurut, ia menghampiri Haebin dan membungkukkan badannya.

“Jeosonghamnida..” ucapnya berkali-kali.

“Ah.. tidak apa-apa.. lagipula aku tidak terluka sedikitpun kok..” ucap Haebin jadi tidak enak hati.

“Sungmin Hyung, terima kasih sudah membantuku kali ini.” Eunhyuk menghampiri Sungmin.
“Sama-sama. Kau boleh minta bantuanku kapan saja.” Sungmin beralih memandang Taemin.

“Taemin, lain kali kau jangan membuat Hyungmu khawatir lagi, arra..”

Taemin mengangguk patuh. “Ne, Hyung.. gomawo..”

Haebin tersenyum. Ternyata senakal apapun Taemin tetap anak yang patuh. Bukankah itu bagus. Dia bukan anak yang sulit diatur.

Setelah menyelesaikan kasus Taemin, Eunhyuk mengajak mereka makan siang bersama. Sebagai tanda terima kasih pada Sungmin dan sebagai permintaan maaf pada Haebin. Sementara Taemin diminta Eunhyuk untuk pulang lebih dulu sebagai permulaan hukumannya.

“jadi kalian sudah saling kenal?” Sungmin takjub ketika mengetahui kalau Haebin dan Eunhyuk sudah saling mengenal sebelumnya.

“Bertemu secara tidak sengaja di klub malam” ucap Eunhyuk sambil menyesap Cappucinonya.

Haebin menunduk malu mengingat kejadian hari itu. Ia berada dalam kondisi yang teramat memalukan saat itu. Dan ia tidak ingin membahas lagi hari paling memalukan dalam hidupnya.

“Jinjja.. wah.. sangat menarik.” Komentar Sungmin

“Lalu, kalian juga sudah saling kenal rupanya.” Eunhyuk balik bertanya.

“Ah, soal itu.. aku baru mengenalnya beberapa hari yang lalu” ucap Haebin lebih dulu.

“Ne. Kita bertemu saat makan malam di rumah Paman Lee” timpal Sungmin.

“Oh, Tuan Lee Dong il?” Eunhyuk juga mengenal CEO dari L.D Corporation itu. “Aku juga tidak tahu kau mengenal Tuan Lee, Haebin-ssi” kini perhatiannya teralih pada haebin.

“Kau tidak tahu ya? Haebin ini calon istri Lee Donghae..”

Uhhukk.. uhhukk..

Secara bersamaan, baik Haebin maupun Eunhyuk tersedak minuman masing-masing. Haebin sampai saat ini masih tidak terbiasa mendengar orang menyebutnya calon istri Lee Donghae. Sementara Eunhyuk terkejut untuk alasan lain. Yah.. bagaimanapun ia sangat terkejut dengan berita ini.

“Benarkah? Dia calon istri Donghae?? Wah.. akhirnya menikah juga..” serunya di sela-sela senyum lebar 2 senti miliknya. “Haebin-ssi, chukkaeyo..” Eunhyuk mengulurkan tangannya untuk menyelamati calon istri temannya itu.

Haebin masih berusaha menenangkan dirinya setelah sempat terkejut tadi. “Gomawo..” ujarnya lalu menjabat tangan Eunhyuk. Oh, dia baru teringat sesuatu.

“Kau.. mengenal Donghae juga? Lee Hyukjae-ssi?” tanya Haebin ragu. Eunhyuk tegas mengangguk.

“Bagaimana mungkin tidak kenal. Sejak SMP sampai sekarang kami berteman.” Jelasnya.

Otak Haebin mendadak kosong. Ada apa ini sebenarnya? Mengapa  orang-orang yang ditemuinya akhir-akhir ini semua berhubungan dengan Lee Donghae? Aneh memang. Tapi sepertinya ini yang namanya takdir.

“Ah..kalau begini aku harus meminta imbalan dari Donghae, aku kan sudah menyelamatkan calon istrinya waktu itu.” Eunhyuk menerawang sendiri, entah membayangkan apa.

“menyelamatkan?” tanya Sungmin bingung. Haebin segera menyela.

“Ah, tidak penting. Semuanya kan sudah lewat. Jadi tidak perlu di bahas lagi..” Haebin agak panik. Jangan sampai siapapun tahu kejadian di klub malam itu atau ia tidak akan bisa memandang dunia lagi.

“Kapan kalian akan menikah?” Eunhyuk kembali bertanya.

“Awal bulan nanti..” jawab Haebin. Ah.. ia baru tersadar.. jika awal bulan nanti berarti hari itu tinggal 2 minggu lagi.. eotteohke.. tiba-tiba saja ia jadi gugup sekali.

“Cepat sekali.!! Wah.. kau harus mengundangku, Haebin-ah..” Eunhyuk kini tidak bersikap formal lagi setelah mengetahui Haebin adalah calon istri sahabatnya.

“Tentu saja..” Haebin mengangguk lemah.

@@@

Donghae kembali membanting ponselnya ke meja kerjanya. Bagaimana tidak, ia kesal. Seharian ini telinganya sampai panas mendengar ucapan selamat yang terus datang dari teman-temannya. Entah bagaimana kabar ini bisa menyebar dengan begitu cepat, bahkan surat undangan pun belum di bagikan. Tidak mungkin gadis itu yang menyebarkannya. Dia tidak mengenal teman-temannya.. oh, tentu selain Kibum dan Siwon.

“Orang-orang yang menyebalkan. Apa tidak ada hal lain yang bisa mereka urusi selain memberiku ucapan selamat?” gerutunya. Ia membuka map berisikan laporan keuangan dengan gerakan cepat. Tidak hanya teman-temannya, bahkan beberapa pegawai kantor dan bawahannya memberikan ucapan selamat padanya.

“Pasti orangtua itu yang menyebarkannya” gumam Donghae mengingat Appanya begitu semangat menikahkannya dengan Haebin, gadis yang tak jelas asal-usulnya itu.

Seusai rapat tadi, beberapa anggota dewan direksi pun memberinya ucapan selamat. Yah.. bagaimanapun Donghae tidak mungkin menanggapinya dengan dingin. Ia terpaksa tersenyum dan pura-pura gembira di depan mereka. Dan ketika di tanya seperti apa calon istrinya itu, Donghae hanya tersenyum dan menjawab seadanya. Oh, bahkan  ia baru tersadar kalau ia tidak tahu apapun mengenai gadis itu. Selain namanya..

Tok tok..

“Masuk..” ujar Donghae, tetap tidak beranjak dari tempat duduknya.

Kwon Yuri, sekretarisnya yang cantik itu masuk. Ia menundukkan kepalanya sebentar.

“Pak, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda sekarang.”

“Siapa?” Donghae mengerutkan keningnya.

“Aku….” teriak seseorang dengan wajah innocent menerobos masuk sebelum dipersilakan.

Donghae menghela napas berat melihat Cho Kyuhyun masuk. Seperti biasa, dia memang selalu datang seenaknya dan tanpa di undang.

“Baiklah, Yuri, kau boleh pergi.” Ujar Donghae. Yuri lalu pergi.

Donghae meletakkan map yang sedari tadi dipegangnya. Ia lalu menatap Kyuhyun dengan pandangan datar.

“Ada apa kau kemari? Memang kau tidak ada pekerjaan lain?” Donghae bangkit dari duduknya.

“Tidak ada. Makanya aku kemari.” Kyuhyun lalu duduk di kursi yang tadi di duduki Donghae. Kyuhyun meraba kantong jas Donghae yang tersampir di kursi yang di dudukinya. Ia menemukan dompet dan membukanya. Perlahan senyum evil muncul di bibirnya. ia mengambil sesuatu dari dalam dompet Donghae dan segera mengembalikan Dompet itu ke tempatnya.

“Sepertinya jadi General Manager itu menyenangkan..” ucap Kyuhyun seraya menyandarkan punggungnya di kursi Donghae. Donghae hanya berdiri di dekat jendela, ia memandang ke bawah, tepat ke arah jalan yang saat itu ramai oleh mobil yang berlalu lalang.

“Yah.. tidak semenyenangkan menjadi orang bebas sepertimu.” Gumamnya.

“He? Maksudmu?” Kyuhyun tidak mengerti. Ia memutar kursinya menghadap Donghae.

Pandangan Donghae tidak berubah, ia tetap dingin.

“Bukan apa-apa.” Elaknya.

“Hei.. aku bukan orang bebas seperti yang kau kira. Kau tahu, aku ini lebih sibuk dari yang kau kira.” Bela Kyuhyun kini tangannya bergerak mengutak-atik laptop Donghae. *anak ini bener-bener gag tau diri..-_-*

“Oh.. kau menyimpan game buatanku? Kau tahu.. ini laris manis di pasaran..” seru Kyuhyun menyadari ada beberapa game buatannya di laptop Donghae.

“Ya.. sebenarnya apa urusanmu datang kemari?” Donghae tak peduli apa yang dikatakan Kyuhyun tadi.

“Ah, aku baru ingat. Selamat yah..” ucapnya. Namun matanya malah fokus memainkan game buatannya sendiri yang ada di laptop Donghae. “Kau akan menikah sebentar lagi kan?” tambahnya.

Donghae mengerutkan kening. Bahkan Kyuhyun pun tahu.. professor muda yang di otaknya hanya ada soal game dan penelitian anehnya itu bahkan sampai mengetahui hal seperti ini?

“Darimana kau tahu?” tanya Donghae datar.

“Itu.. calon istrimu, Park Haebin.. dia muridku di kampus tempatku mengajar sementara” jelas Kyuhyun. Tangannya tetap lincah memainkan game.

Reaksi Donghae agak berbeda, ia terkejut. “Haebin? Jadi dia yang memberitahumu?” tanyanya curiga.

Kyuhyun menggeleng. “Aku tahu dari Kibum. Anak polos sepertinya mana mungkin memberitahu hal pribadi seperti itu pada orang baru sepertiku.”

Oh.. donghae kira haebin yang mengatakannya sendiri. Pasti saat kibum diminta untuk menjemput Haebin mereka bertemu dan tanpa sengaja Kibum mengatakannya.

“Anak polos?” Donghae kini bertanya. Entah kenapa ia jadi ingin tahu sedikit tentang Haebin.

“Iya. Dia itu sangat polos dan terlalu apa adanya. Saat dikelasku dia berani tidak memperhatikan pelajaran dariku dan lagi, dia satu-satunya murid yang berani bilang aku ini aneh di depanku secara terang-terangan. Wah.. benar-benar gadis yang menarik.”

“Kau memang aneh. Dia benar.” Donghae membenarkan ucapan Haebin.

Kyuhyun hanya mengangkat bahunya, sepertinya ia pun mengakui kalau dirinya sedikit aneh.

“Sejujurnya aku senang mendengar kau menikah. Itu artinya kau sudah bisa mengucapkan selamat tinggal pada masa lalumu yang kelam itu.” Lanjut Kyuhyun.

Donghae seakan diingatkan kembali dengan kejadian beberapa waktu silam. Saat-saat paling kelam dalam hidupnya. Bahkan sampai detik ini pun ia masih terus dibayangi oleh kejadian itu. Membuat hidupnya menjadi begitu sesak dan gelap.

“Begitukah menurutmu?” Donghae malah balik bertanya.

“Ya.. mulai sekarang belajarlah untuk bisa berdamai dengan Appamu.. bagaimanapun dia tidak memiliki niat sama sekali untuk menghancurkan kebahagiaanmu” Kyuhyun mulai menasihati..

Donghae tersenyum sinis. “Berdamai? Kau sendiri? Apa sudah berdamai dengan Appamu?”

Kata-kata Donghae telah memukul batin Kyuhyun, ia membalikkan badannya kembali fokus ke depan laptop. Ekspresinya berubah, tampak dengan jelas rasa pilu dan kesedihan di wajah Kyuhyun. “Itu masalah lain. Jangan samakan dengan masalahmu”jawabnya dengan suara rendah.

“Apa bedanya.”

“Jelas beda. Lihat, aku bahagia sementara kau.. bertengkar dengan Appamu malah membuatmu seperti harimau yang kehilangan taringnya. Suram”

Donghae mulai malas di ceramahi namja yang seharusnya jadi Hoobaenya itu.

“Sudahlah, kau pulang saja. Aku malas mendengar ceramahmu.”

Kyuhyun mengendikkan bahunya lalu bangkit. Tak biasanya ia menurut.

“Kalau begitu aku pulang. Bye bye..”

Setelah Kyuhyun pergi, Donghae mendapati ponselnya kembali berdering. Ya ampun… kali ini siapa lagi yang mengganggu ketenangannya?

“Yeobseo..” Donghae berbicara dengan nada malas

“ini aku, Leeteuk.”

“Oh.. ada apa Hyung?”

“Tuan bilang besok kau harus meluangkan waktu pergi bersama nona Haebin untuk fitting baju pengantin. Jangan terlambat, karena Tuan akan datang untuk melihat.”

“Aish.. orangtua itu benar-benar..” gumam Donghae pelan. “Ne, Hyung. Aku tahu. Ada yang lain?”

“Ada. hari ini jangan pulang terlambat, Tuan ingin kalian menemaninya makan malam di luar.”

“Kalian?” tanya Donghae

“Tentu saja kau dan Nona Haebin.”

Donghae membelalakkan matanya. Hari ini pun harus bertemu dengan gadis itu?

@@@

“Tunggu, apa maksudnya ini??” Haebin berseru pada beberapa orang pelayan yang masuk ke kamarnya membawakan sesuatu di dalam kotak yang dipegang mereka.

“kami akan membantu anda bersiap-siap, Nona Haebin” ucap salah seorang pelayan sambil membungkukkan badannya.

“Bersiap siap untuk apa?” Haebin bingung

“Acara makan malam.”

“Nde..” Haebin kaget. Tanpa bisa mengelak ia pasrah saja ketika pelayan-pelayan itu memakaikannya sebuah gaun malam dan merias wajahnya serta menata rambutnya.

15 menit kemudian.

“Bagaimana, nona? Apa Anda puas?” pelayan itu menghadapkan Haebin pada sebuah cermin besar seukuran tubuhnya. Haebin terbelalak. Entah kata apa yang pantas menggambarkan perasaan yang kini menyelimuti dirinya. Yang jelas, ia begitu bahagia bisa melihat dirinya sendiri tampak seperti putri dengan balutan gaun malam berwarna biru langit dan sepatu warna senada. Rambutnya yang semula lurus kini dibuat bergelombang. Ia meraba lehernya yang kini di hiasi sebuah kalung yang tak kalah indah. Dan di telinganya juga menggantung anting-anting yang cantik. Omona.. hari ini sepertinya ibu peri memperkenankan dirinya menjadi cinderella.

“Kalian.. hebat sekali..” lirih Haebin. “Gomawo..” ia menundukkan kepalanya pada para pelayan yang sudah membantunya.

“Sama-sama, Nona.. kalau begitu sebaiknya Anda segera pergi.”

“Oh, baik..”

Di restoran sebuah hotel mewah, Donghae duduk di salah satu meja yang ada di sudut ruangan. Dari situ ia bisa melihat secara bebas pemandangan malam kota Seoul dari ketinggian karena kaca jendela restoran itu melapisi hampir seluruh sisi dinding.

Ia baru saja tiba. namun baik Ayahnya dan Haebin belum tampak sosoknya. Penampilannya sudah sangat rapi. Balutan jas karya desainer ternama melekat dengan indah di tubuh atletisnya. Dan rambutnya pun di tata sedemikian rupa hingga membuatnya tampak kian mempesona.

“Mianhae.. apa sudah menunggu lama?” suara yeoja membuat perhatiannya dari jendela teralih. Ia hampir mengeluarkan kata makian, namun terhenti ketika melihat Haebin dalam penampilan yang berbeda dari biasanya. Donghae tidak mengucapkan sepatah katapun. Hanya sesaat tertegun, kemudian ia kembali pada sikap biasanya.

“Kau lama sekali.” Ujarnya datar.

Haebin pun sempat tidak percaya namja keren di hadapannya ini adalah Donghae. Kali ini dia tampak berbeda. Biarpun tetap keren, namun terlihat perbedaan jelas antara Donghae yang sering dilihatnya dan Donghae yang sekarang ada di hadapannya.

“Kenapa kau hanya berdiri? Kau tidak mau duduk?” suara Donghae membuyarkan lamunannya.

“Ne..” Haebin segera duduk di kursi tepat di sebelah sisi Donghae.

Untuk beberapa saat lamanya, mereka tidak saling bicara dan hanya diam. Baik Donghae maupun Haebin tidak berniat untuk memulai percakapan lebih dulu. Suasana menjadi kaku dan canggung. Donghae duduk di tempatnya sambil sesekali melirik arloji di pergelangan tangan kirinya.

“Kemana orangtua itu? Kenapa lama sekali?” gumamnya pelan.

haebin sesekali mencuri pandang ke arah Donghae di saat namja itu tidak melihat kearahnya. Beberapa detik lamanya ia tertegun memandangi wajah tampan Donghae. Ia memang melihat segurat ekspresi sedih di wajahnya. Kini, dalam jarak sedekat ini.. ia keinginannya untuk menghapus ekspresi itu dari wajah Donghae semakin menguat. Yah.. Donghae harus kembali bahagia.. harus..

cepat-cepat Haebin mengalihkan pandangannya di saat Donghae menolehkan pandangannya. Sekarang, gantian Donghae yang memandangi Haebin dalam diam. Memandang lebih intens wajah gadis itu mengingatkannya pada sesuatu. Tapi ia tidak tahu itu apa. Ia hanya merasa pernah melihat Haebin sebelumnya.

Namun berduaan di restoran ini mengingatkannya pada kenangan dengan So Yeon dulu. Mereka sering makan malam di restoran ini. Bersenang-senang bersama menghabiskan malam berdua. Kenangan itu terekam dengan baik di otaknya. Dan sekarang, yeoja yang bersamanya di restoran itu adalah yeoja lain. Dia menghela napas. Cukup mengenang masa lalunya. Ia kini kesal karena Appanya tak kunjung muncul sampai detik itu.

“Sepertinya Appa membohongi kita..” Donghae berinisiatif berbicara lebih dulu. Haebin menoleh.

“Mungkin..” ucap Haebin gugup. Ia juga merasakan hal yang sama. Tuan Lee pasti sengaja merencanakan ini agar mereka bisa saling mengakrabkan diri. Tapi nyatanya, suasana malah lebih canggung karena mereka tidak ada yang memulai untuk mendekatkan diri.

Haebin memeluk tangannya sendiri. Gaun malam yang terbuka di bagian atas ini membuatnya merasakan udara malam dengan jelas. Ia merasa sedikit hawa dingin membelai kulitnya.

“Kau kenapa?” Donghae heran melihat haebin mulai tidak tenang di tempat duduknya.

“Ah, tidak..” Haebin buru-buru membiasakan dirinya lagi.

“Permisi, Tuan, Nona.. Kalian diminta untuk pindah ke ruangan lain sekarang.” Ucap seorang laki-laki yang tampaknya pegawai hotel itu.

“Pindah ke mana?” tanya Haebin kaget. Apa mereka akan di usir?

“Di ball room, orang-orang sudah menunggu anda.”

“Nde.. ballroom..” seru Donghae dan Haebin bersamaan.

Mereka ikuti saja apa yang diminta pelayan itu. Haebin agak kesulitan saat berjalan karena gaun yang dikenakannya memiliki ekor yang agak menjuntai hingga lantai. Ia jadi berjalan agak lambat di belakang Donghae.

Donghae menyadari haebin kesulitan berjalan. Dia berhenti, lalu membalikkan badannya menghadap Haebin. Ia menatap Haebin dengan ekspresi sebal.

“Ah, mianhae.. kau tidak perlu menghiraukanku.” Haebin tahu Donghae pasti kesal karena kelambatannya. Donghae sebenarnya ingin mengomel, namun ia merasa sekarang bukan saat yang tepat untuk menyalurkan emosinya.

Donghae mengulurkan tangannya. “Pegang tanganku.”

“Nde..” Haebin seolah tidak yakin dengan telinganya. Namun tanpa membantah ia menyambut tangan Donghae yang terulur. Tanpa membuang waktu lagi Donghae berjalan sambil menggenggam tangannya. Menuntunnya untuk berjalan.

Deg.. deg.. deg..

Debaran jantung haebin kian mengencang. Ia merasakan listrik bertegangan rendah mengalir dari tangan yang digenggam oleh Donghae.. eotteohke.. ia sangat gugup sekarang.. dan senang..

To be continued..

87 thoughts on “Shady Girl [Part 6]

  1. JANGAN BILANG ITU TUAN LEE MAU BIKIN PESTA PERTUNANGAN TANPA DONGHAE-HAEBIN KETAHUI!!!!!!!!!!!!! PUAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA TUAN LEE DAEBAKK!!😄

  2. cara eunhyuk mendidik taemin tradisional tp berkesan..udh jarang orang tua yg pake cara itu..g pake kekerasan tp ketegasan..keren..

  3. salut eunhyuk didik taeminnya gak pake kekerasan.
    kyu ngambil apa tuh di dompetnya donghae kaga bilang”. haebin mulai jatuh cinta nih sama donghae..

  4. Oh my god..
    Suami gue si mbul jdi pencuri kecil >.< hahahhahhahahhaha aigoo si hae gak sadaraja lagi ckckckck bkatnya embul emng patut diacungi jempol 😅

  5. Sebel sama Haeppa,kan kasihan Hee Bin😦 kenapa sikap Haeppa kaya gitu ? Pengen cepet liat Haeppa jatuh cinta sama Hee Bin !

  6. haha bener-bener tak bisa diduga. ada-ada aja caranya agar orang-orang tersebut berhubungan dengan donghae wkwkw ciiee ciiee pegangan tangan ekwkw

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s