Shady Girl [Part 5]

Judul        : Shady Girl Part 5
Author     : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre        : Romance
Length      : Chapter 1 of ???

Main Cast:

  • Park Hae Bin
  • Lee Donghae

Support Cast:

  • Kim Kibum
  • Kim Heechul
  • Choi Siwon
  • Leeteuk
  • Jung So Yeon
  • Lee Dong Il (Appa Donghae) a.k.a Tuan Lee
  • Na Hyun Jung
  • Yesung (Oppa Hyun Jung)

Shady Girl By Dha Khanzaki4


——-o0o——-

Di sebuah tempat di pinggiran kota Seoul..

Kibum menepikan mobilnya di depan sebuah gedung berlantai 2. “Kita sudah sampai. Ayo turun.” Kibum membuka sabuk pengamannya lalu keluar dari mobil di susul Haebin. Sejenak Haebin tertegun memperhatikan bangunan di hadapannya. Mirip sebuah rukan kecil namun tampak berkelas.

“Ini tempat apa?” tanya Haebin ketika Kibum mengajaknya masuk.

“Tempat kau akan mendapatkan cincin tunanganmu.”

“Hah?”

Di dalam, Haebin tidak melihat hal yang begitu istimewa selain tempat duduk biasa dan beberapa tempat berkaca yang memamerkan perhiasan indah.

Haebin memperhatikan salah satu kalung berliontin batu safir berwarna biru yang indahnya tidak bisa di jelaskan. Kelihatannya sangat mahal.

“Hyung..” ucap Kibum ketika melihat seseorang muncul. Haebin menoleh, ia melihat Kibum sedang menghampiri seseorang.

“Kenapa lama sekali. Kau tahu, Donghae sudah hampir kehabisan kesabarannya di dalam sana.” Keluhnya.

“Maaf Hyung, tadi aku diganggu oleh setan tengik.” Ucap Kibum.

Namja yang dipanggil Hyung itu menoleh ke arah Haebin. Ia lalu tersenyum manis. Omo.. Haebin baru menyadari namja ini pun tak kalah mempesonanya seperti Kibum.

“Kaukah calon istri Donghae? Wah.. tak kusangka kita akhirnya bertemu juga.” Ucapnya. Haebin hanya tersenyum.

“Perkenalkan, aku Kim Heechul. Orang yang akan mendisain cincin pertunangan dan pernikahan kalian”

Haebin menjabat tangan Heechul. “Park Haebin imnida..”

“Dan kuharap adikku tidak bertindak aneh padamu.” Ucap Heecul lagi. Haebin berhenti tersenyum. “Nde..” ucapnya tidak paham.

Heechul menepuk pundak Kibum. “Dia ini adikku.” Ucapnya.

“Nde…!!” seru Haebin kaget.

“Kenapa? Tidak mirip ya?” tanya Heechul.

Haebin menggeleng. “Bukan begitu.” Ia terdiam. Pantas sama-sama tampan. Batinnya.

“Hyung, mulai sekarang kau tidak bisa memperlakukanku seperti dulu lagi.” Ucap Kibum sambil menyingkirkan tangan Heechul dari pundaknya. Heechul tampak terkejut, tapi sepertinya ia hanya pura-pura.

“Oh, aku lupa. Haruskah sekarang aku memanggilmu Dokter Kim?” ujar Heechul

“Kau.. kau dokter?” tanya Haebin ikut kaget.

“Kenapa? Aku tidak cocok menjadi dokter?” tanya Kibum

“Tidak. Cocok kok.” Ucap Haebin. Ah, sungguh.. bebarapa kenyataan yang terjadi hari ini sangat mengejutkannya. Pantas saja tingkah laku Kibum jika diperhatikan begitu terobsesi pada yang namanya kebersihan. Ternyata dia dokter toh.. padahal sebelumnya Haebin kira dia memiliki kepribadian aneh.

“Ayo,kuantar kau ke dalam. Di sana calon suamimu sudah menunggu.”

“Ca.. calon suami..” Haebin mengulangi kalimat itu karena sampai kini ia masih belum terbiasa mendengarnya.

Di sebuah ruangan khusus, ia melihat Donghae tengah duduk di atas sofa sambil menyesap tehnya. Pandangannya tetap sama. Dingin dan tanpa ekspresi.

“Hei.. Lee Donghae..” seru Kibum seraya menghampirinya. Donghae menoleh, ia hanya mengangkat tangannya. “Oh, kau sudah tiba di Korea dengan selamat rupanya.” Ujarnya

Kibum berdiri di hadapan Donghae dengan tangan terlipat. “Kau.. benar-benar dingin. Bisakah kau menyambutku dengan sedikit senyuman? Kau bahkan sudah menyuruhku yang baru tiba di korea ini untuk menjemput tunanganmu itu” cerocos Kibum

Donghae melirik Haebin yang berdiri di samping Heechul, lalu kembali memokuskan perhatiannya pada Kibum.

“Oh, kau benar-benar membawanya kemari. Gomawo.” Ucapnya datar. Ia lalu bangkit.

“Ayo Hyung, sebaiknya kita cepat mendiskusikan mengenai cincin itu karena urusanku masih banyak.” Ucap Donghae. Heechul mengangguk.

“Baiklah. Nona Haebin, kau duduklah dulu. Aku akan mengambilkan beberapa disain yang sudah kubuat.” Heechul pergi. Dan kini Haebin canggung berada di antara namja itu.

Kibum duduk di sofa yang tadi ditempati Donghae. Sementara dirinya dan Donghae tetap berdiri dengan jarak yang lumayan jauh.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Donghae agak sinis. Haebin mengerjap lagi.

“Aku tidak menatapmu.” Elak Haebin. Ia tadi memang tidak menatap.. hanya.. yah.. sedikit mengamati Donghae walau durasinya agak lama.

“Lalu yang kau lakukan tadi apa?” ujar Donghae dingin.

Haebin membuka mulutnya untuk menjawab, namun ia tidak menemukan ide membalas kalimat donghae. Jadi ia menutup mulutnya kembali dan memilih mengalihkan pandangannya.

“Ya.. kalian berdua.. apa tidak pegall berdiri begitu. Duduklah.” Tegur Kibum. Haebin kemudian memilih duduk di sofa yang ada di dekatnya dan Donghae duduk di dekat Kibum. Suasana kembali terasa canggung.

“Kenapa Hyung lama sekali. Aku sudah ada janji dengan Siwon untuk menyelesaikan proyek itu.” Keluh Donghae.

“Kau sekarang bekerja sama dengannya?” tanya Kibum

“Tentu saja. Dia salah satu arsitek terbaik di Korea. Dan proyek ini sangat membutuhkan keterampilannya itu.”

Kibum mengangguk angguk paham. “Dia memang gigih” ucap Kibum.

“Kau tidak perlu mengkhawatirkan proyek itu. Sudah kuselesaikan dengan baik.” Seseorang bersuara. Otomatis perhatian semua orang di ruangan itu tertuju pada seseorang yang baru masuk itu.

“Oh, Choi Siwon..” seru Kibum seraya bangkit.

“Kibum.. kau sudah kembali?” Siwon kaget sekaligus gembira. Siwon menghampiri teman lamanya itu lalu merangkulnya sejenak.

“Siwon, kenapa kau kemari?” tanya Donghae heran.

“Kan sudah kubilang, aku sudah menyelesaikan semua urusan kita. Jadi kau tidak perlu buru-buru pergi karena aku juga ingin melihat calon istrimu itu. Mana dia..” Siwon mengedarkan pandangannya dan menemukan sosok Haebin duduk mematung sedari tadi. Ia hanya memperhatikan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Oh.. dia.” Siwon mengerutkan keningnya karena ia merasa mengenal yeoja di hadapannya itu.

“Aigoo.. kau kan gadis yang waktu itu..” seru Siwon.

Haebin menegang.. dia bertemu namja aneh waktu itu lagi..

“Siwon, kau mengenalnya?” tanya Donghae. Siwon memandang Donghae dengan wajah cerah.

“Kau tidak ingat? Dia kan gadis yang menolongmu saat pingsan karena mabuk di klub malam itu.” Jelas Siwon.

Donghae mengerutkan kening. Gadis yang menolongnya? Otaknya kembali berputar ke kejadian minggu lalu. Di saat ia pergi ke klub malam untuk melepas stressnya yang sudah menumpuk. Bagaimana tidak, Ayahnya-Tuan Lee- kembali memintanya untuk bersedia di jodohkan dengan gadis pilihannya dan itu membuat kepalanya begitu berat dan kejiwaannya terganggu.

Malam itu ia pergi ke klub malam mewah dan menghabiskan beberapa gelas sampanye sampai akhirnya ia mabuk dan tak ingat apapun lagi. Mungkin saat itu ia pingsan atau entahlah. Tapi samar-samar ia memang merasa ada seorang yeoja yang membopongnya ke sebuah ruangan. Setelah itu ia benar-benar tidak ingat apapun lagi dan terbangun sudah berada di dalam kamarnya sendiri.

“Kau mabuk di klub malam?” tanya Kibum kaget. “Ya.. sudah kubilang kau itu tidak bisa minum kenapa nekat meminum alkohol” protes Kibum

“Aku stress waktu itu. Apa menurutmu ada cara lain selain menenggak alkohol?” tanya Donghae dengan tatapan tajamnya. Kibum tidak menjawab.

“Ah, Jadi kau benar-benar tidak ingat yah? Wajarlah, kau kan sedang mabuk waktu itu. Tak kusangka yang kutemui waktu itu adalah calon istrimu.” Ujar Siwon. Dia mendekati Haebin yang tetap tak bergeming di tempatnya.

“Nona, kau ingat aku kan? Yang waktu itu kau temui” ujar Siwon kembali menunjukkan kenarsisannya yang di ambang batas kewajaran itu.

Haebin mengangguk lemah. “Tentu saja. Mana mungkin aku melupakanmu, Choi Siwon-ssi”. Tentu saja, orang yang memiliki kelebihan kadar percaya diri sepertinya sangat langka di dunia ini. Mana mungkin aku melupakannya. Batin Haebin

Siwon mengepalkan tangannya, senang. “Yes, akhirnya ada juga yang tidak melupakanku.” Serunya.

Haebin menghela napas. Oh Tuhan.. apa salahnya kali ini dipertemukan oleh orang-orang aneh seperti mereka…

@@@

“Bagaimana kalau yang ini? Bukankah ini tampak sederhana namun glamor.” Ucap Heechul menunjukkan salah 1 cincin pada Haebin dan Donghae.

Haebin mengangguk antusias. “Indah sekali.” Ucapnya. Kemudian ia melirik Donghae yang tetap dengan ekspresi sama, datar.

“Bagaimana, Donghae-ssi?” tanya Haebin takut-takut.

Donghae menggelengkan kepalanya. “Tidak. Pilih yang lain saja.”

Heechul mengangguk lalu menunjukkan cincin yang lain. Sudah beberapa kali dongahe menolak cincin yang ditunjukkan Heechul. Padahal semuanya menurut Haebin begitu indah.

Kibum dan Siwon yang memperhatikan dari jauh hanya menggelengkan kepala.

“Apa anak itu belum bisa melupakan So Yeon?” tanya Kibum sambil berbisik. Siwon yang berada di sebelahnya menggeleng lemah.

“Belum. Lihat saja ekspresinya. Datar. Seolah semua ekspresinya yang dulu sudah dibawa pergi oleh gadis itu.” Timpal Siwon. Kibum menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mengerti, apa sebegitu menyakitkannya ketika hubungan kita tidak direstui oleh orangtua?” ujar Kibum

Siwon memalingkan wajahnya menatap Kibum. “Tentu saja” jawabnya. Ia menunjukkan ekspresi tidak percaya. “Memang kau belum pernah jatuh cinta ya?” tambah Siwon.

Kibum balas menatap Siwon. “kau pikir?”

“Mana aku tahu.” Jawab Siwon. Ia mengalihkan pandangannya ke Haebin dan Donghae kembali.

“yang pasti.. di saat kau jatuh cinta pada seseorang, kau rela melepaskan apapun agar bisa tetap bersamanya. Namun di saat kau di hadapkan pada masalah hubunganmu dengannya tidak di restui oleh orangtuamu, mana yang akan kau pilih? Orangtuamu atau orang yang kau cintai itu?” tanya Siwon. Kibum berpikir sejenak.

“Tentu saja orangtuaku.” Jawabnya tegas.

Siwon mengangguk. “Kalau begitu benar, kau memang belum pernah jatuh cinta.” Jawabnya datar.

“Ya..” protes Kibum namun tak ditanggapi oleh Siwon.

“Sebenarnya kau ingin cincin yang mana? Atau kau ingin aku mendisain lagi cincin sesuai keinginanmu?” tanya Heechul yang sudah tidak sabar dengan Donghae yang sedari tadi terus menolak cincin yang ditunjukkannya. Padahal dia sudah mengeluarkan semua masterpiecenya demi Donghae, yang notabenenya adalah anak dari teman baik ayahnya.

Donghae diam. Aku tidak ingin yang manapun. Batin Donghae. Sekarang memilih cincin sama sekali tidak berarti lagi. Semenjak hubungannya dengan So Yeon, mantan yeojachingunya berakhir, hidupnya kini seolah tidak penting.

Haebin kembali melihat ekspresi itu.. ekspresi yang menyiratkan luka yang dalam dan selama ini dipendam olehnya. Oh.. sebenarnya masalah apa yang terjadi sampai meninggalkan ekspresi yang menyedihkan seperti itu.. haebin jadi ingin melakukan sesuatu untuk menghapusnya.

“Bagaimana kalau ini saja, Donghae-ssi” Haebin menunjukkan sebuah cincin bertatahkan berlian. Tidak terlalu kelihatan mewah memang, cukup sederhana namun tetap cantik.

“Kenapa kau memilih itu?” tanya Donghae bingung.

Haebin tersenyum memandangi cincin itu. “Tidak ada alasan khusus. Aku hanya merasa cincin ini indah dan sederhana. Kau tahu, pepatah kecantikan itu lahir dari sebuah kesederhanaan, kurasa itu gambaran yang tepat untuk cincin ini.” Jelas Haebin.

Donghae mengerjap.. kata-kata yang diucapkan Haebin barusan.. kenapa bisa sama seperti yang pernah diucapkan So Yeon padanya dulu.. entah kenapa sesuatu kini terasa menjalar dan membuat jantungnya berdegup. Tanpa sadar ia tertegun menatapi Haebin..

Siwon dan Kibum yang duduk memperhatikan dari jauh ikut mengerjap melihat perubahan ekspresi Donghae.

“Kau lihat ekspresinya tadi..” seru Kibum tak percaya dengan suara pelan.

“Iya.. kurasa Haebin memberikan pengaruh yang baik padanya.” Timpal Siwon takjub.

“Kau benar. Kurasa gadis itu bisa mengembalikan Donghae seperti dulu.” Tambah Kibum.

“Aku jadi tidak sabar melihat kelanjutan hubungan mereka.” Ucap Siwon lagi.

@@@

Akhirnya Donghae setuju untuk memilih cincin yang dipilih Haebin sebagai cincin pertunangan mereka. Sementara untuk cincin pernikahan, Donghae bilang itu lain kali saja.

Di kamarnya..

Donghae berdiri di balkon kamar yang menghadap ke taman yang menjadi tempat favorit Haebin di rumah itu.

Kini di tangannya ada sebuah kotak kecil. Donghae mengela napas, ia membuka kotak itu. Dan menatap 2 buah cincin indah yang ada di dalamnya. Sebenarnya cincin itu adalah cincin yang akan dia berikan pada So Yeon di hari pernikahan mereka. Namun siapa sangka jika sang ayah melarang mereka menikah hanya karena asal usul So Yeon yang tidak jelas.

#Flashback#

“Tidak akan! Sampai kapanpun aku tidak akan mengizinkan kalian menikah!” ujar Tuan Lee dengan suara tinggi. Sepasang kekasih yang ada di hadapannya tercengang.

“Appa, kau bilang aku bebas memilih pendamping hidup! Dan dialah yeoja pilihanku!” Donghae menggenggam erat tangan So Yeon, yeoja yang sudah 1 tahun terakhir menjalin kasih dengannya.

“Iya! Tapi bukan dengan gadis tidak jelas sepertinya!” tuduh Tuan Lee dengan tangan menunjuk So Yeon. Yeoja itu membelalakkan matanya, seluruh tubuhnya bergetar seketika. Bahkan Donghae pun bisa merasakannya.

“Mianhae..Tuan..” suara So Yeon bergetar. Donghae semakin erat menggenggam tangan yeoja itu.

“Appa.. kumohon restui kami..” Donghae bahkan sampai bersimpuh di depan Appanya yang teguh pendirian itu.

Tuan Lee tidak menghiraukan permohonan anaknya itu. Jika dia sudah memutuskan sesuatu bahkan tidak akan ada yang bisa menggoyahkannya. Dia membalikkan badannya, lalu pergi. Dia  tidak ingin memandang wajah memelas anaknya tiu.

So Yeon tidak tega melihat Donghae seperti itu. Ia menghampiri Donghae dan meminta namja itu berdiri.

“Sudahlah Donghae-ah.. jika Appamu tidak mengizinkan kita.. kau tidak bisa mendesaknya.”

“Tapi So Yeon-ah.. Apa kau tidak ingin kita menikah?” tanya Donghae dengan wajah sedihnya.

“Aku ingin. Namun.. jika Appamu tidak setuju.. kita harus mengalah..”

“Jung So Yeon!! Bagaimana mungkin aku melepaskanmu hanya karena Appa tidak merestui kita! Jika dia tidak mengizinkan kita, kita menikah diam-diam saja.. tidak perlu restu darinya. Kajja..” Donghae yang sudah tersulut emosinya menarik So Yeon pergi.

“Donghae.. jangan begini.. kumohon…” pintanya sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Donghae. Namun dia tidak menghiraukannya. So Yeon tidak pernah melihat Donghae sekalap ini. Dan dia sudah merasa sangat bersalah karena Donghae bertengkar dengan Ayahnya karena dirinya. Tanpa diduga airmata pun mengalir. So Yeon menangis

Donghae berhenti berjalan karena mendengar isak tangis So Yeon. Ia menoleh, benar, yeoja itu menangis. Donghae perlahan melepaskan tangannya.

“So Yeon.. mianhae.. apa aku terlalu kasar padamu? Apa aku sudah menyinggung perasaanmu?” ujar Donghae cemas, perlahan ia menghapus airmata di pipi So Yeon.

Gadis itu menggeleng. “Kumohon Donghae-ah.. kau jangan bertengkar dengan Ayahmu hanya karena aku..”

“Tapi.. aku ingin menikah denganmu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku jika tidak bersamamu.” Lirih Donghae.

So Yeon tidak menjawab. Donghae memegang kedua tangan gadis itu seraya menatapnya dengan pandangan meneduhkan..

“So Yeon.. apa kau mencintaiku?” tanya Donghae lembut. So Yeon balas menatap namja di hadapnnya itu.

“Tentu saja. Aku sangat mencintaimu.”

Donghae tersenyum dan segera memeluknya. “Kalau begitu kau tidak perlu mencemaskan Ayahku. Kita bisa menikah meski tanpa restunya.” Ucap Donghae terus mendekapnya.

So Yeon melepas pelukan Donghae. Ia menatap lurus mata kekasinya itu. Matanya yang jernih itu kembali meneteskan airmata. Dan tangannya mengusap pelan pipi Donghae.

“Kau salah Donghae.. restu orangtua itu sangat penting bagi sebuah pernikahan. Jika kau ingin pernikahan kita diberkati dan bahagia, maka restu dari orangtua kitalah kuncinya. Apa kau pikir aku akan bahagia jika kita menikah sementara Ayahmu memendam rasa sakit hati karena putranya tidak mematuhi perintahnya?” ujar So Yeon di iringi isakannya.

Ia menggeleleng lemah. “Aku tidak akan bahagia. Donghae.. jadi Kumohon.. kau jangan bertengkar dengan Ayahmu karena aku. Kita bisa menikah jika Ayahmu sudah merestui kita..”

Donghae pun tak kuasa menahan airmatanya, perlahan tetesan bening itu meleleh di sudut matanya. Ia tahu betul mengapa So Yeon sangat mewanti-wanti Donghae agar selalu patuh pada orangtuanya. Karena gadis itu tidak ingin Donghae mengalami hal yang sama seperti dirinya. Dulu So Yeon memang pernah bertengkar dengan orangtuanya dan memutuskan pergi meninggalkan mereka. Dan itulah yang hingga kini sangat di sesali So Yeon.

“Ara.. jika itu maumu.. aku akan menurutinya.” Donghae memengang tangan So Yeon yang mengusap pipinya, kemudian kembali menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

#flashback end#

Donghae menghapus airmata yang tanpa diduga menetes begitu saja ketika ia mengenang masa lalunya bersama gadis yang dicintainya.  Sekarang semua itu hanya tinggal kenangan. Sekarang hubungan mereka sudah berakhir.

Perhatiannya kini kembali tertuju pada cincin di tangannya. Seharusnya cincin ini melingkar dengan indah di jari manis So Yeon. Seharusnya cincin ini jadi milik So Yeon. Namun semuanya sirna karena Ayahnya. Hanya karena orang itu tidak merestui mereka.

“Huwa.. akhirnya kau mekar dengan cantik..” Donghae mendengar suara seseorang berteriak di bawah sana. Ia berpaling ke arah sumber suara. Matanya menangkap sosok Haebin tengah berjingkrak-jingkrak senang di depan rumpun mawar merah muda yang baru saja mekar. Dia tidak habis pikir, entah kenapa sejak kejadian kemarin ada sesuatu yang mengusik dirinya.

Kali ini pun ia kembali tertegun menatap gadis itu. Haebin yang tampak begitu bahagia dan tampak berbeda di antara bunga-bunga di taman. Sama seperti ibunya dulu yang sangat menyukai bunga. Bukankah taman itu juga hasil karya ibunya? Orang pertama yang diusir oleh Ayahnya dari kehidupannya.

“So Yeon.. apa kau mengizinkanku jika aku memberikan cincin ini pada orang lain?” Donghae bertanya sendiri. Ia berniat memberikan cincin ini pada Haebin di hari pernikahan mereka. Entah kenapa ia melakukannya. Hanya saja menurut Donghae cincin ini sudah terlalu lama berada di kotak ini. Cincin ini butuh seseorang sebagai tempat tinggal barunya. Bukan kotak ini.

@@@

“Kau akan pergi kuliah?” tanya Tuan Lee ketika berpapasan dengan Haebin di pintu depan rumah.

“Ah, iya..”

“Tidak di antar Donghae?” tanya Tuan Lee lagi.

Haebin menggeleng. “Tadi dia sudah berangkat lebih dulu ke kantor.”

Tuan Lee mendesah. “Anak itu benar-benar.. kalau begitu, apa kau bisa menyetir mobil?”

“nde..” Haebin menggeleng.

“Jika kau bisa, kau boleh pakai salah satu mobil yang terparkir di sana.” Ujar Tuah Lee. Haebin menoleh pada deretan mobil yang terparkir di sebelah sisi rumah. Matanya terbelalak kagum.

Aku ingin mobil ferrari merah itu.. batin Haebin dengan wajah memelas. Dia kini merasa sangat menyesal karena tidak bisa menyetir mobil.

“Benar-benar.. Leeteuk.. kau antarkan Haebin ke kampusnya.” Perintah Tuan Lee pada Leeteuk di sampingnya.

“Tapi Tuan.. bukankah aku harus membantumu menyiapkan keperluan rapat?” ujar Leeteuk.

“Tidak apa-apa. Itu bisa menunggu. Kau antarkan dulu saja, lalu kembali segera ke kantor.”

“Baik, tuan..” Leeteuk mengangguk kemudian membukakan pintu mobil untuk Tuan Lee. Tak lama mobil yang dinaiki Tuan Lee melaju meninggalkan rumah.

“Kajja.. Haebin-ssi.. kau ingin naik mobil yang mana?” tanya Leeteuk sopan. Dengan ragu dan malu Haebin menunjuk mobil ferrari merah yang tadi dikaguminya.

“Hmm.. pilihan yang bagus.” Leeteuk mempersilakan Haebin masuk lebih dulu.

“Anda sudah berapa lama bekerja dengan Tuan Lee, Leeteuk-ssi?” tanya Haebin ketika dalam perjalanan.

“Aku sudah tinggal bersama Tuan Lee sejak usiaku 12 tahun. Dulu aku bukan siapa-siapa tanpanya. Aku hanya seorang bocah yang dicampakkan oleh dunia. Tidak punya orang tua dan tempat tinggal. Beruntung aku bertemu dengan Tuan Lee dan beliau mengajakku untuk tinggal dengannya. Beliau menyekolahkanku hingga perguruan tinggi. Beliau selain memberiku pendidikan juga mengajariku agar menjadi orang yang baik. Dan sekarang, sudah waktunya aku membalas semua budi baik beliau.. jadi jika ditanya sudah berapa lama.. mungkin sekitar 17 tahun.”

Haebin terbelalak kagum. “Wah.. sudah lama juga ya.. Tuan Lee benar-benar orang baik. Tidak semua orang loh bisa melakukan apa yang dilakukannya..”

“Tentu saja. Menurutku beliau orang paling baik di dunia ini. Karena itu, aku tidak berani melawan semua perintahnya.”

Setelah mendengar cerita Leeteuk, Haebin tidak bisa berpikir sembarangan tentang Tuan Lee lagi. Dia memang orang baik sepertinya. Tuan Lee juga sudah melunasi semua hutang keluarganya. Bukankah itu juga termasuk tindakan baik.

“Oh, iya.. kau sudah lama tinggal dengannya. Pasti tahu kenapa Donghae-ssi jadi seperti sekarang. Dingin dan tampak tidak bahagia.”

Leeteuk terdiam. “Em.. aku tidak yakin aku orang yang tepat untuk menceritakannya.” Leeteuk ragu. Ah, ini sangat membuat Haebin penasaran.

“Ayolah.. ceritakan sedikit saja..” pinta Haebin. “Mungkin jika aku mengetahui sedikit masalahnya aku bisa membuatnya kembali seperti dulu.”

Leeteuk menoleh sekilas. “Kuharap juga begitu. Namun masalah ini sedikit kompleks”

“Memang serumit itukah?”

“Emm..” Leeteuk mengangguk. “Namun masalah awal yang membuat Tuan Muda seperti itu karena Tuan Lee pernah bertengkar hebat dengan Nyonya dan mengusir Nyonya dari rumah.” Jelas Leeteuk

Ah, Haebin ingat, Donghae memang pernah mengungkit masalah Ibunya yang diusir oleh Tuan Lee. Jadi itu penyebab awal Donghae seperti itu.

“Tapi itu hanya penyebab awal..”

“Lalu apa penyebab sebenarnya?”

“Itu..” Leeteuk tampak ragu.

Haebin sangat menantikannya dengan wajah penasaran. “Apa.. katakanlah..”

“Karena Tuan Lee tidak merestui hubungannya dengan seorang yeoja bernama So Yeon”

“Nde..” Haebin kaget.

“Sejak itu hubungan Tuan muda dengan gadis itu berakhir. Dan sejak itulah, tuan muda menjadi seperti ini.”

Haebin terdiam.. jadi sebelumnya Donghae sempat mencintai seorang yeoja? Bahkan Donghae sampai seperti ini ketika sudah putus dengan yeoja itu? Oh Tuhan.. jika begini jadinya Donghae pasti mencintai yeoja itu dengan sepenuh hatinya. Dan mungkinkah gadis seperti dirinya bisa mengobati seseorang dengan luka seperti itu? Rasanya mustahil…

Sesampainya di kampus, Haebin menundukkan kepalanya pada Leeteuk.

“Gomawo, Leeteuk-ssi sudah mengantarku.”

“Cheonma” Leeteuk tersenyum lalu kembali menjalankan mobilnya keluar dari kampus.

Ia merenung sepanjang hari itu. Mungkinkah ia kuat menikah dengan seorang namja yang hatinya sudah terisi oleh yeoja lain? Dan yang paling membingungkan adalah ia tidak tahu alasan Tuan Lee sebenarnya mengapa memintanya untuk menikah dengan putranya itu. Apa untuk menyembuhkan luka di hati Donghae?

“Heei tunangan Donghae..” Haebin mengerjap dari lamunannya. Ia secepat kilat menoleh ke arah suara kencang yang memanggilnya dengan sebutan yang tak lazim.

“Professor Kyu!!” protes Haebin. Ia merasa risih di panggil dengan sebuatan ‘tunangan Donghae’. Mereka bahkan bertunangan saja belum.

Kyuhyun tanpa malu duduk di sampingnya dan dengan seenaknya meletakkan tangannya melingkari bahu Haebin.

“Yaa!! Professor!!” protes haebin kembali. Kyuhyun seenaknya saja merangkulnya.

“Hei.. bagaimana hubunganmu dengan Donghae sekarang? Apa sudah ada kemajuan sampai mana? Dan bagaimana kalian bertemu?” Kyuhyun menghujaninya dengan berbagai macam pertanyaan.

Haebin mendesah berlebihan. “Kemajuan? Kemajuan apa? Bahkan kalau mobil bisa dibilang belum distarter sama sekali”

“Really? Wah.. namja itu benar-benar berhati es..ckckck.. harusnya aku menjatuhkannya ke dalam kawah gunung kilimanjaro sana.” Cerocosnya. Haebin mendelik ke arahnya.

“Professor.. sebenarnya apa yang kau makan selama ini? Kenapa perilakumu aneh sekali?”

“Yang kumakan? Tentu saja makanan manusia.”

“Aigoo.. tapi kenapa sikapmu aneh..” Haebin menyingkir dan berdiri. Dia lalu pergi meninggalkan Kyuhyun.

“Ya.. kenapa meninggalkanku begini.. hei.. jika kau menemaniku dan mendengarkan ceritaku akan kuberitahu sedikit rahasia Donghae padamu..” seru Kyuhyun seraya mengejarnya. Tapi Haebin terlalu malas untuk menanggapi orang aneh seperti Kyuhyun.

@@@

Haebin melihat-lihat deretan toko yang ada di sepanjang jalan. Ia menghela napas sekali lagi.

“Eotteohke..” erangnya pasrah..

“Wae? Kalau ingin beli masuk saja.”

Haebin menoleh mendengar suara seseorang. “Hyun Jung-ah..” serunya tak percaya melihat teman satu pekerjaannya. Yeoja itu tersenyum manis.

“Haebin..” seru Hyun Jung senang lalu memeluk Haebin.

“Senang bisa bertemu denganmu lagi.. kenapa kau tidak bekerja di kafe lagi? Aku kan jadi tidak ada tempat untuk bercerita lagi..” ujar Hyun Jung sambil mengguncang-guncang tangan Haebin.

“Ah, mianhae.. aku ada sedikit masalah..”

“Omo..” seru Hyun Jung mendadak. Ia lalu menangkup kedua pipi Haebin. “Kau kurus sekali. Apa kau kurang makan, Haebin-ah..”

Haebin tertawa miris. “Tidak juga.” Kurang makan bagaimana? Tiap hari aku menikmati paling tidak menu lengkap masakan Perancis. Batin Haebin. Hyun Jung mengangguk paham.

“Eh.. kau lihat sepatu model baru.” Ia melirik ke arah etalase toko yang memajang sepatu model baru. Haebin ikut melihat apa yang dilihat Hyun Jung. Ia mengangguk.

“Iya. Itu model terbaru.”

“Kajja.. kau ingin melihatnya kan..” Hyun Jung mengajak Haebin masuk. Haebin hanya duduk di salah satu kursi yang disediakan di sana. Ia mengamati Hyun Jung yang sibuk memilih-milih high heels. Ia tersenyum sendiri. Andai ia bisa seperti itu juga.

“Haebin-ah.. menurutmu bagus yang mana?” tanya Hyun Jung seraya menunjukkan 2 high heels model berbeda.

“Yang itu bagus.” Ujar Haebin. “Jinjjayo.. nona.. tolong bungkus yang ini ya.. dan yang ini juga..” ujar Hyun Jung pada penjaga toko.

“Kau beli 2 high heels?” tanya Haebin takjub.

“Ne.. yang satu lagi untukmu.” Ungkapnya membuat Haebin kaget.

“Nde..!!!” serunya hampir berteriak. Hyun Jung mengangguk.

“tapi.. tapi ini kemahalan, Hyun Jung-ah..”

“Tidak apa-apa. Hitung-hitung ini sebagai hadiah dariku.. hadiah pernikahan..” ucapnya..

Haebin kembali terkejut. “Hyun Jung, kau tahu aku akan menikah?”

Hyun Jung memukul pelan pundak Haebin. “Tentu saja. Kau pikir aku tidak penasaran kenapa kau tidak masuk kerja. Aku mendatangi temanmu, In Sung. Dan dia bilang kau akan segera menikah. Kau jahat tidak bercerita padaku. Padahal aku selalu bercerita padamu.”

“Ah.. mianhae..” ucap Haebin malu.

“Siapa nama calon suamimu?” tanya Hyun Jung ketika mereka berjalan berdua menyusuri sepanjang jalan.

“Lee Donghae..” jawab Haebin

“Kapan aku bisa bertemu dengannya? Apa nanti aku di undang ke pernikahanmu?” tanya Hyun Jung lagi.

“Tentu saja..” ujar haebin asal. Haduh. Bahkan ia tidak tahu apakah Tuan Lee mengizinkannya mengundang teman-temannya atau tidak.

“Huh. Kenapa kau cepat sekali menemukan calon suami. Padahal aku berniat menjodohkanmu dengan Yesung Oppa..” ujar Hyun Jung

“Hahaha.. mungkin dia memang bukan jodohku..”

“Benar juga..”

Tin tin..*suara klakson mobil*

Kedua gadis itu menoleh. Sebuah mobil berhenti di dekat mereka. Seorang namja turun dari mobil. Dia tersenyum manis pada Hyun Jung dan Haebin.

“Hyun Jung-ah.. ayo pulang.” Ucap Yesung, yang tak lain dan tak bukan adalah Oppa dari Hyun Jung.

“kalau begitu aku pamit ya. Bye bye..” Hyun Jung melambaikan tangannya pada Haebin dan Haebin membalasnya.

“Beruntung sekali Hyun Jung.. punya Oppa yang super baik dan perhatian seperti itu..”

Kemudian Haebin kembali melanjutkan perjalanan pulangnya. Ia tersenyum sendiri melihat kantong yang berisi high heels pemberian Hyun Jung. Yeoja itu memang sangat baik dan loyal.. yang Haebin tahu Hyun Jung itu anak dari seorang pengusaha sukses. Tapi entah kenapa gadis itu memilih bekerja di kafe biasa seperti itu. Kakaknya saja-Yesung- adalah serang Jaksa.

Hah.. hidup terkadang sulit dimengerti..

To be continued…

84 thoughts on “Shady Girl [Part 5]

  1. lagi2 kyuhyun mengalihkan perhatian saya.. T^T mianhe~~ tapi sikap ajaibnya bener2………………… kyaaaaaaaaaaaaaa~~~~ >.<

  2. Haebin sabar ya ngadepin donghae😊 *ngomng apa lho😒

    Mian ya un kekny akhir2 ini aku komenny gak jelas deh…bgg mau komen apaan pikiran lgi buntu kaga jelas…mian

  3. ternyata donghae kehilangan 3orang sekaligus dalam hidupnya makanya dia jadi begitu :(( semangat yah haebin luluhkan hatinya donghae..

  4. Disini Leeteuk oppa jadi pelayan tuan lee
    Yesun oppa jaksa.
    Heheheh sebenarny gk pantes yesung oppa jd jaksa pantesnya jd dokter
    Lalu kibum oppa baru jd jaksa

    Hahahaha tp tersrh authornya

  5. Si kyuhyun meski nongolnya bentar bikin dunia berpaling buat dia, ah.. Dasar cuyun.
    Semoga donghae bisa buka hatinya buat haebin.
    Cus ke part selanjutnya.

  6. eish ternyata dokter toh. pantesan gitu amat lihat-lihat tempat -,- omo, donghae-ah sikapmu itu -,- entah kenapa peran donghae disini dan diimajinasiku berbeda, aku berfikir donghae itu kyuhyun hahaha

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s