Shady Girl [Part 4]

Judul        : Shady Girl Part 4
Author      : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre        : Romance
Length       : Chapter 4 of ??

Main Cast:

  • Lee Donghae
  • Park Hae Bin

Support Cast:

  • Lee Dong Il a.k.a Appa Donghae
  • Lee Sungmin
  • Leeteuk
  • Cho Kyuhyun
  • Kim Kibum
  • Shin In Sung

Shady Girl By Dha Khanzaki4


——-o0o——–

Kyuhyun menatap bingung murid-murid yang ada di hadapannya. Mereka melongo, seolah menyaksikan sebuah kejadian langka yang sangat mustahil. Bagaimana mungkin ada di dunia ini seorang professor yang gayanya serampangan seperti dirinya. *Pernah nonton drakor ‘What’s Up’ gak chingu..? kurang lebih gayanya kayak Woo Young seusangnim gitu.. guru yang serampangan*

“Ah, aku tahu apa yang ada di pikiran kalian” ucap Kyuhyun sambil nyengir kuda. Ia menggaruk bagian kepalanya. “Entah apa yang orang gosipkan tentang aku. Dan aku yakin kalian kecewa dengan kenyataannya.”

Anak-anak di kelas itu kembali berpandangan. Kemudian mendadak suasana menjadi ramai karena semua orang bersorak gembira.

“Hahah.. tidak apa-apa Prof.. kau tetap kereeeen..” teriak salah seorang siswi yang duduk di bangku paling belakang.

Kyuhyun tertawa di tempatnya. “Benarkah? Baiklah. Kalau begitu adakah yang ingin kalian tanyakan sebelum kita memulai pelajaran?” ujar Kyuhyun sambil meletakkan buku yang di bawanya di atas meja yang ada di sebelah kiri papan tulis.

Seorang siswi mengangkat tangannya.

“In Sung-ah..” ujar Haebin kaget karena sahabatnya itu nekad mengangkat tangannya.

“Ne. Nona yang di sana, ingin bertanya apa.” Ucap Kyuhyun

In Sung menegakkan tubuhnya di tempat duduk. “Professor, berapa umurmu?” tanyanya dengan wajah polos. Sontak pertanyaan itu membuat Kyuhyun dan seisi kelas tertawa.

“Wae? Aku hanya penasaran.” Bela In Sung

“Memang kenapa? Ada masalah dengan wajahku?” tanya Kyuhyun sebelum menjawab pertanyaannya.

In Sung menggelengkan kepalanya. “Ani. Kau terlihat sangat muda untuk ukuran seorang guru besar.”

Kyuhyun mengangguk. “Kalau kubilang usiaku 40 tahun apa kalian percaya?” candanya.

“MWO!!!!” semua orang dikelas itu berteriak kaget dan menunjukkan ekspresi ketidak percayaan.

“Jangan berbohong Prof.. kau masih sangat muda begitu..” cetus salah seorang murid.

Kyuhyun tergelak kembali. “Tentu saja itu bohong.” Ucapnya. Ia tersenyum ramah, begitu manis. Membuat siswi di kelas itu terpekik kagum.

“Usiaku baru 25 tahun. Sebenarnya 24 tahun. Bulan depan usiaku baru 25 tahun. “ ucapnya

Kali ini semuanya berseru kagum. Tak terkecuali Haebin. Ia hampir menganga mengetahui usia profesor di hadapannya yang begitu muda.

“Mustahil. Hanya berbeda 2 tahun denganku..” gumamnya.

@@@

*Haebin Pov*

Ternyata ada juga orang sepintar dirinya. Entah aku harus kagum atau iri. Atau mungkin keduanya. Lihatlah gayanya menerangkan. Sangat mudah di pahami dan menarik. Aku yakin siswi-siswi di kelas ini bukannya memperhatikan materi yang dijelaskan melainkan memperhatikan pengajarnya. Termasuk yeoja di sampingku ini. In Sung sejak tadi sibuk senyam-senyum dan pandangannya fokus ke depan. Aku yakin dia tidak menyimak materinya. Dan buku catatannya pun masih putih bersih tak ada coretan sedikitpun. Harus kuakui meskipun penampilannya seperti seorang tunawisma, tapi skillnya setingkat dengan Albert Einstein.

Sementara diriku juga tidak bisa menyimak pelajarannya dengan baik. Bukannya terpesona pada Professor Kyu-sebutan siswi di kelas ini untuknya-melainkan ada hal lain yang terus mengganggu pikiranku. Apalagi kalau bukan ucapan Tuan Lee yang mengharapkanku menikah dengan putranya, Lee Donghae. Aku mengenalnya saja tidak. Bagaimana mungkin aku menikah dengan namja itu. Dan parahnya lagi dia menolak pernikahan ini. Aku sendiri belum mengatakan apa aku menerima pernikahan itu atau tidak.. ah.. aku pusing…

“Ya.. murid yang di sana..” samar-samar aku mendengar seseorang berteriak. In Sung mengguncang-guncang tubuhku. Lantas aku segera menoleh ke arahnya.

“Wae?” tanyaku bingung. In Sung tidak menjawab, malah menunjuk ke arah depan. Oow..aku tahu maksudnya.. aku menengokkan dengan pelan kepalaku ke arah depan. Benar saja, Professor Kyu di depan sana tengah memandangku dengan dahi berkerut dan bertolak pinggang.

“ne Professor..” ucapku takut.

“Apa yang kau lakukan sampai tidak memperhatikan penjelasanku? Kau mencorat-coret nama namja yang kau sukai di atas bukumu itu?” tanyanya.

Aku mengerjap dan segera melihat buku catatan yang tanpa sadar sudah kucorat-coret dengan nama Lee Donghae. Omona.. kenapa dia bisa tahu aku sedang mencorat-coret nama seseorang? Dan perlu ditegaskan. Aku tidak menyukainya, Lee donghae..

Aku segera menutup buku catatanku. “Tidak.. aku hanya…” aku menghentikan kalimatku.

“Apa?” tanyanya

“Aku hanya.. mengantuk..” ucapku pada akhirnya. Orang-orang dikelas seketika menertawakanku. Aduh, aku tahu ini ucapan terbodoh yang pernah ku utarakan. Tapi aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi.

“Ho.. mengantuk ya.. kau boleh melanjutkan pelajaran di luar kelas ini, nona Haebin” ucapnya lagi. He? Bagaimana dia tahu namaku?

“Tidak Professor. Sekarang aku sudah tidak mengantuk lagi..” ucapku segera.

@@@

Akhirnya pelajaran pun berakhir. Aku berniat untuk pergi bekerja lagi di kafe. Aku belum memutuskan berhenti bekerja di sana. Ketika melintasi gerbang depan kampus, aku melihat Professor Kyu sedang jongkok mengamati sesuatu di dekat pohon. Hei, aku jadi tertarik mengetahui aksinya itu. Aku mendekat.

“Professor, kau sedang apa?” tanyaku. Dia menoleh sebentar, lalu mengamati sesuatu yang ada di sana. Objek perhatiannya itu adalah sebuah rumpun bunga bougenvil yang belum berbunga.

“Oh, lihat ini..” ucapnya dengan wajah sumringah, seperti seorang anak kecil yang baru menemukan mainan baru. Aku memperhatikan baik-baik benda di telapak tangannya itu, yang kini ia tunjukkan padaku.

“Kyaaa.. prof.. itu kan ulat bulu..” pekikku geli ketika mengetahuinya. Ia mengangguk cepat.

“Memang iya. Kau pikir apa.” Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil trasparan dan memasukkan ulat itu ke dalam kotak. Aish.. hobinya sangat aneh.  Untuk apa dia mengumpulkan hewan menjijikkan seperti itu.

“Itu untuk apa Prof. Penelitian?”

“Sejenisnya. Aku sudah mengumpulkan beberapa ulat dari spesies yang berbeda….” dia mulai berbicara hal-hal tentang sains yang tidak ku mengerti. Tentang rekayasa genetika atau entahlah. Yang pasti itu tidak ada hubungannya dengan psikologi yang kupelajari sekarang.

“Araseo. Aku paham Prof.. jadi berhentilah bercerita.” Ucapku seraya mengangkat tanganku.

“Ah, Mianhae.. aku terlalu senang.” Ucapnya. Haduh.. dia karakter guru paling aneh yang pernah kutemui. Aku memperhatikan penampilannya dengan lebih seksama. Di lihat dari sudut manapun, memang tidak terlihat kalau dia adalah seseorang yang berpendidikan tinggi.

Professor Kyu mengangkat ponselnya yang berdering. “Oh, ne.. aku akan ke sana segera.” Ucapnya segera. “Baiklah, sampai di sini dulu. Aku harus pergi karena urusan yang sangat krusial. Bye..” ucapnya. Ia segera berlari menghampiri mobil sport mewah yang terparkir tak jauh dari tampatku berdiri ini. Aku mengerjap. Tunggu dulu.. mobil mewah?? Dia membawa mobil mewah ke kampus ini??? Bagaimana mungkin!!! Bukannya penampilannya itu.. aish…

Kyaaa… ada apa sebenarnya dengan dunia ini….

Aku frustasi sendiri hari ini. Sepertinya aku harus berkonsultasi pada psikolog yang lebih kompeten dariku.

@@@

*Author Pov*

“Bagaimana? Kau bersedia kan menikah dengan putraku?” tanya Tuan Lee untuk ke sekian kalinya. Hari ini pun Tuan Lee tidak berhenti membujuk Haebin agar mau menikah dengan putranya.

Demi Tuhan, memangnya ada yang salah dengan Lee Donghae? Sampai Appanya sangat bernafsu untuk menikahkannya dengan gadis seperti Haebin. Donghae itu kan tampan. Pasti bisa dengan mudah mendapatkan pendamping hidup.

“Jika putra anda bersedia.. mungkin aku bisa menyetujuinya.” Ucap Haebin. Dia mengatakan itu karena yakin Donghae pasti akan menolak pernikahan ini.

“Benarkah? Itu masalah mudah. Dia pasti setuju dengan perjodohan ini. Kita akan membicarakannya bersama malam ini. Aku yakin dia akan setuju. Untuk sementara, kau tinggal saja di rumah ini, Haebin-ah.” Ucap Tuan Lee.

Tentu saja dibilang begitu Haebin senang. Tinggal di rumah mewah seperti ini siapa yang menolak?

Otaknya boleh saja senang. Namun berbeda dengan hatinya. Ia sangat gelisah. Bagaimana jika donghae menolaknya? Apakah ia akan kembali pada kehidupan lamanya? Ah, memang apa salahnya dengan itu? Hanya saja pemikiran itu membuatnya sangat gelisah. Aigoo.. apa mungkin ia berharap bisa menikah dengan putra Tuan Lee yang tampan, dingin, dan misterius itu?

Haebin mondar-mandir di kamarnya. Apa yang sudah dipikirkannya?

Akhirnya malam pun tiba. haebin di kamarnya menunggu dengan perasaan bercampur aduk. Panik, gelisah, gugup, dan takut. Sampai seorang pelayan datang dan memintanya untuk turun makan malam bersama Tuan Lee. Kegugupannya tetap saja belum lenyap.

“Ah, Haebin-ah.. kau tiba juga..” ujar Tuan Lee. Dia meminta Haebin duduk di dekatnya. Dan di meja makan itu, selain duduk Lee Donghae juga duduk seorang lagi. Namja yang tak kalah tampan dan imut seperti Donghae. Donghae enggan menatapnya sedikitpun sementara namja yang satu lagi tersenyum ramah padanya.

“Oh.. diakah gadis yang kau maksud, paman?” tanyanya

“Iya. Perkenalkan, dia Park Haebin. Haebin-ah, dia Lee Sungmin. Keponakanku.” Ucap Tuan Lee.

Namja bernama Sungmin itu menundukkan kepalanya dan Haebin pun membalasnya dengan melakukan hal yang sama.

“Donghae.. kau sangat beruntung. Dia tampak cantik seperti yang dibilang Paman.” Bisik Sungmin pada Donghae.

“Ya.. Hyung.. kenapa kau malah mendukung Appa..” protes Donghae seraya menatapnya tajam.

“Memang sejak kapan aku mendukungmu..” ujar Sungmin

“Cih..” Donghae mendecak kesal.

Acara makan malam itu berlangsung sepi. Semuanya sibuk dengan kegiatan masing-masing sampai akhirnya Tuan Lee berinisiatif berbicara.

“Bagaimana? Setelah melihatnya kau setuju kan, Sungmin?” tanya Tuan Lee.

“Tentu saja paman. Dia sangat serasi jika di sandingkan dengan Donghae.” Jawab Sungmin antusias. Haebin hanya tersenyum tanpa bisa mengatakan apapun. Sebenarnya apa yang diinginkan keluarga ini dariku? Batin Haebin agak curiga. Sesekal ia melirik Donghae yang tetap menunjukkan ekspresi yang sama. Wajah yang datar dan seolah dia tidak peduli pada dunia. Wajah yang sangat menyedihkan.

“Kau sendiri Donghae? Appa ingin mendengar pendapatmu.” Tuan Lee beralih pada Donghae. Namja itu menghela napas.

“Apa jika aku mengutarakan pendapatku akan mengubah keinginanmu untuk menikahkanku dengannya?” tanyanya dingin. Haebin mengerjap.

“Tentu saja tidak.” Tegas Tuan Lee.

“Kalau begitu apa gunanya pendapatku.” Tambahnya lagi.

Tuan Lee kembali menghela napas. Ekspresi yang Haebin lihat kemarin kembali muncul di wajah rentanya. Donghae bangkit dari tempat duduknya. Ia menatap Tuan Lee dan Haebin bergantian.

“Baiklah, jika Appa menginginkanku menikah dengannya, lakukan saja. Toh dari dulu pendapatku tidak berguna.” Ucapnya.

Seulas senyum gembira terbit di wajah Tuan Lee. “Benarkah. Kau bersedia? Baiklah..”

“Dengan syarat.. “ tambah Donghae dengan tatapan tajamnya.

“Apa?”

“Berikan jabatan sebagai Presdir padaku. Dan juga..” donghae menarik napas sejenak “Di pernikahanku nanti, aku ingin Ibuku datang” tambahnya.

Untuk syarat yang pertama Tuan Lee tidak tampak terkejut. Tapi untuk syarat terakhir yang dilontarkan donghae, tampak raut kaget di mukanya.

“I…Ibumu..” ujar Tuan Lee dengan suara bergetar. Haebin menatap keduanya bingung.

“Ya.. Lee Donghae.. jangan berlebihan begitu..” ucap Sungmin menenangkan Donghae yang sudah mulai menunjukkan emosinya.

“Aku tidak tahu kemana kau mengusirnya. Yang pasti dia harus datang di pesta pernikahanku nanti. Itu syarat yang kuajukan.” Donghae lalu pergi.

Omona.. Haebin tidak percaya telah menyaksikan adegan seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga ini? Dan yang paling membuat haebin tercengang adalah ekspresi terakhir Donghae yang tampak begitu terluka. Sepertinya ia memendam cukup lama luka yang dalam dan luka itu belum juga sembuh hingga saat ini.

Jantung haebin ikut berdebar kencang karenanya. Apa salah dirinya hingga terlibat dalam keluarga yang begitu rumit seperti ini.

“Tenang saja. Donghae itu memang seringkali labil emosinya.” Ucap Sungmin melihat Haebin terpaku.

“Araseo Oppa. Tidak masalah.” Ucap Haebin tenang. Padahal hatinya tidak.

@@@

“Kau mengerti, pernikahanmu dengan Donghae akan dilaksanakan bulan depan.” Ungkap Leeteuk pada Haebin pagi itu. Haebin yang seperti biasa, menikmati paginya di taman bunga itu memekik kaget.

“Nde.. secepat itu kah???”

Leeteuk mengangguk. “Tuan ingin segera melihat kalian menikah.”

Haebin merosot dari tempat duduknya. Seperti inikah yang namanya takdir? Benar-benar tidak dapat diperkirakan.

“Lalu? Apa Donghae benar-benar bersedia menikah denganku?” tanya Haebin memastikan.

“Bukankah dia sudah mengatakannya semalam.”

“Lalu bagaimana dengan syarat yang diajukannya? Apa Tuan Lee bisa memenuhinya?”

Leeteuk tersenyum. “Tentang itu tidak perlu kau khawatirkan. Tuan Lee pasti bisa mengatasinya.”

“Begitu..” Haebin mengagguk paham. Sejujurnya ia sangat cemas dan tidak bisa berhenti tidur semalam.  Ia tidak mau menikah dengan orang yang tidak mencintainya. Lalu bagaimana dengan dirinya? Motif apa yang membuatnya setuju menikah dengan donghae?

Apa karena harta yang dimilikinya?

Bukan.

Lalu apa karena dia tampan?

Bukan juga.

Lalu apa?

Haebin merengung sejenak. Sepertinya ada alasan lain kenapa ia bisa setuju. Apa karena Tuan Lee begitu baik padanya karena sudah melunasi semua hutang keluarganya? Jika begitu sama saja dia menikah untuk membalas budi.

@@@

Haebin ingin mengenal lebih dekat namja calon suaminya itu. Tapi jangankan mengenalnya, berbicara dengannya saja hampir mustahil. Padahal mereka tinggal serumah, tapi sepertinya Donghae menghindar untuk bertemu dengannya. Ia selalu berangkat cepat dan pulang pun begitu larut.

“Hmmfftt..” haebin menghela napas lagi. Akhir-akhir ini ia menjadi orang yang pendiam dan lebih senang menghabiskan waktunya merenung. Bahkan di kantin yang ramai pun dia hanya duduk merenung sambil memain-mainkan ponselnya. Sementara sahabatnya In Sung, sibuk membaca komik sambil memasang headphone di telingannya.

“Kau tidak pergi? Bukankah kau bilang ada janji dengan calon suamimu untuk membeli cincin tunangan kalian?” tanya In Sung.

“Entahlah.. lagipula waktunya belum tiba kok.” Jawab Haebin malas

Yah.. Haebin memang tidak bisa menyembunyikan masalahnya. Ia selalu bercerita semua uneg-unegnya pada sahabatnya itu. Termasuk janji yang di ucapkan tuan Lee pagi tadi, bahwa sepulang kuliah nanti dia harus datang ke sebuah tempat yang ditentukan untuk memilih cincin pertunangan. Tentu bersama dengan Donghae. Dia sendiri penasaran apakah Donghae akan menjemputnya atau dia harus pergi sendiri ke sana. Dalam hati ia berharap Donghae lah yang akan datang menjemputnya.

“Sssttt.. siapa dia?” bisik semua orang di kantin. Otomatis perhatian Haebin dan In Sung tertuju pada sesorang yang berjalan menuju kantin. Haebin menyipitkan mata melihatnya.

“Omona.. namja tampan Haebin-ah..” seru Insung sambil mengguncang tangan Haebin.

Yeoja itu mengangguk saja dengan dahi berkerut. Jujur saja, dia tidak mengenali siapa namja itu. Apa dia murid baru? Ia akui penampilannya begitu rapi dan luar biasa. Gayanya ketika berjalan itu mampu membuat siapapun tercengang. Sangat keren.

Dan siapa sangka… kini namja keren itu… berjalan menuju Haebin dan berhenti tepat di hadapannya. Semua orang seketika saling berbisik dan ada yang berseru melihat kejadian itu. Tak terkecuali In Sung.

“Kau Park Haebin?” tanya namja itu sambil mengeluarkan senyumnya. Haebin terperangah, matanya membulat dan mulutnya hampir menganga lebar.

“ne..” jawab Haebin gugup.

“Perkenalkan, aku Kim Kibum, orang yang diminta Donghae untuk menjemputmu.” Ucapnya seraya mengulurkan tangan dan dihiasi senyum yang sangat sangat indah.

Omonaaaaa.. semua orang terpana melihatnya..

Senyumnya… senyumnya mampu membuat orang terkena serangan jantung!!! Begitu mematikan… namun kemudian Haebin kembali tercengang.

“Donghae… Lee Donghae yang memintamu agar menjemputku???” tanya Haebin gelagapan. Kibum mengangguk.

“Bukankah tadi aku sudah mengatakannya?”

“lalu kenapa bukan Donghae sendiri yang datang kemari menjemputku?”

Kibum mengangkat bahunya. “Entahlah, anak itu terkadang sulit dimengerti.”

“Kau… siapanya Donghae? Teman?” kini In Sung yang bertanya.

“Teman? Yah.. bisa di bilang begitu. Ah tidak.. aku memang temannya.”

In Sung langsung berdiri dan mengulurkan tangannya. “Aku Shin In Sung, temannya Haebin.”

Kibum menjabat tangan In Sung seraya memamerkan senyum mematikannya. Hal ini semakin membuat In Sung merasa dirinya akan melumer.

“Duduk dulu saja. Waktunya juga belum tiba kok” ujar Haebin.

Kibum memperhatikan meja di hadapannya, ia mengerutkan dahi mengamati tiap detil tempat yang akan didudukinya. Kemudian ia meraba dengan 1 jari meja itu dan mengamati lagi apa ada debu yang tertempel di sana. Hmm.. ternyata ada sedikit debu yang menempel di tangannya. Ia menggeleng pasrah seraya menghela napas. Haebin maupun In Sung memperhatikan tingkah Kibum dengan tatapan heran plus melongo.

“Mian, aku tidak bisa duduk. Tempat ini kurang nyaman untukku.” Ucapnya. Dia mengambil sapu tangan dari dalam jas yang dipakainya, kemudian menggunakan itu untuk membersihkan tangannya.

“Kita sudah ditunggu olehnya, sebaiknya kita berangkat saja sekarang.”

“Oh, ayo.” Ucap Haebin bangkit. Ia pamitan dulu pada In Sung sebelum pergi.

“Hati-hati di jalan dan semoga sukses Haebin-ah..” teriak In Sung sambil melambaikan tangannya.

“Araseo. Gomawo.” Haebin balas berteriak.

“Omo..KIM KIBUM…” teriak seseorang ketika Kibum dan Haebin akan masuk ke dalam mobil. Kibum menoleh, lantas ia meringis sedikit melihat sosok yang tadi memanggilnya itu. Dialah Cho Kyuhyun, dosen pengganti dengan penampilan yang eksentrik. Datang menghampiri Kibum sambil berlari kecil lalu langsung memeluk namja itu.

“Huwa.. bogoshipoyo..” teriaknya sambil mengguncang tubuh Kibum dalam dekapannya. Haebin hanya melongo menyaksikan kejadian itu. Pikirannya yang sempit itu kembali melantur ke mana-mana. Ha.. jangan-jangan.. mereka… gay… kenapa peluk-pelukan mesra begitu? Ia sampai harus mundur selangkah.

“Lepaskan aku, Cho Kyuhyun!” ujar Kibum dengan nada tinggi sambil mendorong tubuh Kyuhyun menjauh dari tubuhnya. Kemudian ia sendiri merapikan bajunya dan sedikit menepuk-nepuk bagian yang tadi bersentuhan dengan Kyuhyun ketika memeluknya.

“Wae? Aku merindukanmu.. memang kau tidak merindukanku?”

Kibum mendelik. “Kita kan hanya tidak bertemu selama 3 bulan.”

“tapi menurutku tetap lama.”

“Hmm.. kau belum berubah juga rupanya. Tetap seperti dulu.” Kibum menggeleng-gelengkan kepalanya seraya sesekali berdecak.

“Kau juga. Tetap seperti dulu. Apa magangmu di Swiss berhasil?”

“Tentu saja. Aku bisa bekerja di tempat Appa mulai besok.”

“Huwaa.. chukkae…” Kyuhyun mengulurkan tangannya. Kibum hanya memandangi tangan itu tanpa berniat menjabatnya.

“Ya! Aku sudah mencuci tanganku dengan sabun anti kuman tadi. Jika itu yang kau takutkan.”

Kibum mengalihkan pandangannya. “Sudahlah. Sekarang aku ada urusan penting. Donghae memintaku mengantarkan tunangannya sekarang.”

“Tunangan?” Kyuhyun tersentak kaget. Tak lama ekspresinya lebih sumringah lagi. “Jadi.. dia.. benar-benar akan bertunangan begitu? Omona..aku kira itu hanya gosip.” Kyuhyun berhenti sejenak. “Siapa gadis itu?”

Kibum tidak menjawab, kepalanya menoleh pada Haebin yang sejak tadi hanya diam menatapi ke dua orang itu. Arah pandang Kyuhyun tertuju pada Haebin,ia terbelalak.

“Oh.. Jadi kamu orangnya.. wah.. aku tidak menyangka Donghae akan menikah dengan muridku sendiri.” Seru Kyuhyun.

“Tunggu, apa maksudmu dengan muridmu? Kau mengajar di sini?” Kibum tidak percaya dengan apa yang tadi di dengarnya.

Kyuhyun berdiri dengan bangga. “Tentu saja. Biar muda begini aku adalah professor di sini.”

“Kau serius? Aku kira kau belajar di sini.”

Kini Haebin mengerjap.

“Kau kenal dengan Donghae, Professor?”Haebin tidak percaya.

Kyuhyun menatap Haebin. “Iya. Dia temanku saat kuliah dulu. Bukan hanya teman biasa, tapi teman yang sangat sangat dekat.”

Mulut Haebin menganga mengetahuinya. Tidak mungkin.. kenapa dunia ini terasa begitu sempit..

“Halo.. Haebin.. nona Haebin..” Kyuhyun menggerakkan tangannya di depan muka Haebin yang terpaku. Haebin mengerjap-ngerjapkan matanya saat tersadar.

“I..iya prof.. aku terkejut ternyata kau teman baik Donghae..” aku Haebin.

“Aku juga terkejut tahu kau akan menikah dengannya. Hmm.. aku kira dia akan menolak seperti sebelum-sebelumnya. Tak kusangka kini dia menerimanya.. xixixi” dia malah terkekeh sendiri. Sementara Haebin semakin ngeri melihat tingkah aneh dosennya itu.

“Sudah, lupakan dia. Sebaiknya kita pergi atau akan ada seseorang yang mengomel nantinya.” Kibum mengajak Haebin agar segera masuk ke dalam mobilnya.

“Hei. Aku ikut yah..” Pinta Kyuhyun

“Loh, memangnya kau tidak ada jadwal mengajar?”

“Sudah selesai kok. Kajja.”

Ketika Kyuhyun akan naik ke mobil, Kibum menahannya. “Ya! Pakai mobilmu sendiri sana!”

“Waeyo? Kau pelit sekal padaku.”

“Sana pakai mobilmu..”

“Kim Kibum.. jebal..” Kyuhyun merengek pada temannya itu. Kibum menggeleng.

“Pakai mobilmu!” tegasnya. Ia tanpa basa-basi lagi segera masuk ke mobil dan menjalankan mobilnya meninggalkan Kyuhyun sendiri.

Haebin melihat dari kaca mobil Kyuhyun yang ditinggalkan Kibum pergi sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal. Haebin cekikikan menanggapinya.

“Kelihatannya professor kesal.” Ucap Haebin.

“Biarkan saja. Sikap childishnya harus diberantas.” Balas Kibum.

“Oh iya, kenapa Donghae memintamu menjemputku?” tanya Haebin.

Kibum mengangkat bahunya. “Entahlah, mungkin saat ini aku satu-satunya teman yang tidak sibuk. Atau.. dia memang sengaja menyuruhku. Aku tidak yakin. Yang pasti dia itu sulit dimengerti dan terkadang menyebalkan.” Jelas Kibum sambil menyetir. Haebin mengangguk-anggukan kepalanya. Bahkan teman yang sudah lama mengenal Donghae pun masih bilang anak itu sulit dimengerti apalagi dirinya.

To be continued

90 thoughts on “Shady Girl [Part 4]

  1. halooo reader baru yang mampir ke sini😀 !
    itu karakter nya kok keren2 gitu sih apalagi si profesor…. >.<
    dapet inspirasi darimana atuh??
    anime? ato yang lainnya?

  2. lagi2 saya salah fokus di chapter ini…😄
    KYUHYUUUUUUUUUUUUUUUNNNN!!!!!!!!!!! puahahahahahaha… profesor macam apa pake rengek2 ditempat umum.. aigoo…😄 /ilang udah apa yang mau saya bilang gara2 scene terakhir.. >.</

  3. Kenapa syarat nya umma donghae harus hadir? gue kira udah meninggal ternyata dia masih idup, dan kemana??
    Kayak’a donghae masih belom bisa nerima haebin deh? makanya dia suruh kibum?
    wkwkwkwk ada ua profesor yang begitu?#geleng2

  4. Hahaha
    Kyuhyun lucu bgt. Prosefor sikapnya masih kayak anak kecil bukan kayak profesor😀
    Penasaran sebenernya ibu nya donghae kemana??

  5. kalo baca ff ini gak bisa 1,2 chapter doang eonn T.T karna kekepoan yg besarlah membuatku nggak bisa berhenti kalo mata belum panas ngadepin gadget ^-^)v

  6. astaga .. gimana bisa karakter para suju aneh gitu. Kyuhyun bener2 titisan einstein …
    dan kibum? hadohh .. jd si manusia perfeksionis yg gila kebersihan ..
    ngakak bacanya. seru bgt ..😀

  7. Kyuhyun sifatnya sangat berbeda,daebak eonnie ngerubah kyuhyun dengan watak yg berbeda.
    Donghae kenapa si? Frustasi sama masa lalu?
    Cus ah ke part selanjutnya.

  8. Maaf baru sempet komen, tadinya mau komen di part 1 tpi saking asiknya baca jadi lupa udah sampai part 4. Dari semua ff author aku masih penasaran sama Shady girl ini. Gak tau kenapa, tapi aku suka banget. Semangat thor nulis karya2nya. 😁

  9. syarat yang tidak sulit. ya ampun si kibum segitunya -,- ini juga si cho, tingkahnya ngga mencerminkan orang-orang pintar. mungkin karena dia terlalu pintar makanya dia begitu wkwk biasanya yg bertingkah aneh itu si henry wkwk tp ini ff dri zaman kapan yak? henry nya kan blm ketahuan alay wkwk

  10. Kyaaaa… ni ff rame bener ya😀 banyak castnya tp tersusun sgt rapi dan bahasanya enak di bc🙂 aq salut loh, gmn nasib haebin selanjutnya y kl di kelilingi cowok2 ganteng😀

  11. Betul itu,,tmnnya aja bilang bgtu,aplg Haebin yg bru knal???
    Wah lucu jg ya sifat Kyu trnyata kekanakan wuahaaaaaaa
    jd Donghae sudah sring djdohkan,,tp dgn Haebin tdk mnolak,ad apa ya???

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s