Shady Girl [Part 3]

Judul       : Shady Girl Part 3
Author    : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre       : Romance
Length      : Chapter 3 of ??

Main Cast:

  • Park Hae Bin
  • Lee Donghae

Support Cast:

  • Lee Dong Il a.k.a Appa Donghae
  • Leeteuk
  • Shin In Sung
  • Cho Kyuhyun

Shady Girl By Dha Khanzaki4

——o0o—–

Silau… begitulah hal yang dirasakan Haebin ketika dia siuman setelah tak sadarkan diri cukup lama.

“Di mana aku?” gumamnya. Ia melihat-lihat sekitarnya, tempat yang sangat asing. Ruangan itu tampak rapi, bersih, dan mewah. Bahkan ranjang yang kini menjadi tempatnya berbaring begitu empuk dan terlihat mahal. Ya ampun, apa dirinya terdampar di istana di dunia antah berantah?

Haebin menampar pipinya pelan. “berhenti menngkhayal, Park Haebin..” ia memperingatkan diri sendiri agar tidak terlalu banyak berimajinasi lagi. Ia sudah berusaha menghentikan kebiasaannya yang suka mengkhayal tentang negeri dongeng. Ia bisa gila jika terus berada di dunia khayal itu.

“Ini pasti masih di Korea..” tambahnya tak henti celingukan. Ia beranjak turun dari tempat tidur yang nyaman itu dan mencoba melihat pemandangan di luar jendela. Haebin menyibakkan tirai putih tipis yang menutupi jendela besar di sebelah sisi ruangan itu. Cahaya matahari yang menyilaukan langsung menyerang matanya ketika tirai itu tersibak. Haebin sampai menyipitkan matanya.

Perlahan setelah ia bisa beradaptasi dan tidak merasa silau lagi, Haebin perlahan melangkahkan kakinya menginjak balkon yang ada di balik jendela itu. Matanya mengerjap beberapa kali melihat pemandangan di hadapannya.

“Daebaaakkk… bagaimana bisa di dunia ini ada taman seindah itu..” serunya kagum.. matanya begitu berbinar menikmati hamparan taman yang di tata sedemikian rupa hingga menghasilkan paduan indah  yang menyenangkan di pandang mata. Haebin perlahan menuruni tangga yang ada di samping balkon, beranjak menapaki taman yang selalu ia imajinasikan di dalam khayalannya. Ia bahkan tidak menyangka taman seindah ini benar-benar ada.

“Bunga mawar, daisy, silvia, bahkan tulip pun ada..” taman itu begitu berwarna dengan berbagai macam bunga. Haebin menyentuh salah satu kuntum bunga mawar yang baru saja merekah dan terdapat beberapa titik embun di permukaannya.

“Hm.. wangi..” gumamnya

“Ternyata kau ada di sini, Nona Haebin..”

Suara seseorang membuat Haebin tersentak. Ia buru-buru menegakkan diri lalu membalikkan badannya. Seorang namja berdiri di hadapannya kini, menampakkan senyum yang membuat kegugupannya menghilang entah kemana.

“Nugu? Kenapa Anda memanggilku Nona?” tanya Haebin heran. Pria itu sepertinya memiliki kedudukan penting di rumah ini. Bisa dilihat dari penampilannya.

“Saya Leeteuk, asisten pribadi Tuan Lee. Pemilik rumah ini.”

“He!!?? Tuan Lee??” Haebin terbelalak ketika kembali mendengar nama itu di sebutkan. Ia baru teringat. Bukankah terakhir kali sebelum ia jatuh pingsan saat itu ia melihat Tuan Lee di hadapannya?

“Jadi Tuan Lee yang membawaku ke sini? Ke rumahnya?”

Pria bernama Leeteuk itu mengangguk, lalu mempersilakan Haebin untuk ikut pergi bersamanya.

“Mari, Nona.. Tuan sudah menunggumu di dalam” ucapnya ramah. Demi buah apel yang jatuh dari pohonnya.. seumur hidup ia tidak pernah diperlakukan sesopan ini. Karena terharu dengan perlakuan Leeteuk terhadapnya, ia mengikuti kemana namja itu akan membawanya.

Di sebuah ruangan, tepatnya ruang makan. Haebin berpikir begitu karena di ruangan itu terdapat meja makan yang besar dan mewah serta di atasnya sudah tersaji berbagai macam hidangan yang baunya saja sudah membuat perut Haebin bergolak. Refleks ia memegangi perutnya yang berbunyi itu. Ia memang lapar. Entah kapan ia terakhir kali makan.

“Haebin-ah, kemari, duduk di sini.” Ucap Tuan Lee yang sudah lebih dulu berada di sana.

Dengan ragu Haebin duduk di salah satu kursi yang ada di samping kiri pria itu.

“Kamu lapar kan? Nah.. di sini kau boleh makan sepuasnya sampai kau kenyang.” Ucapnya dengan wajah ceria.

“Jinjja?” tanya Haebin tidak percaya. Lupakan soal dirinya yang tidak ingin bertemu Tuan Lee, kali ini ia sangat lapar dan ingin segera menyantap makanan di hadapannya.

Tuan Lee mengangguk. Ia segera memerintahkan pelayan agar menyiapkan peralatan makan untuk Haebin. Dan setelah itu tanpa ragu Haebin segera menyantap makanan yang sudah tersedia. Tuan Lee tersenyum senang melihat Haebin yang bisa makan dengan lahap.

“Tuan, haruskah saya membangunkan Tuan muda untuk ikut sarapan juga?” ucap Leeteuk pelan di sebelah Tuan Lee.

“Tidak usah. Biar dia istirahat. Bukankah semalam dia pulang larut karena mengurusi proyek di Incheon..” jawab Tuan Lee tanpa mengalihkan pandangannya dari Haebin.

“Baik, Tuan.” Leeteuk mengangguk paham.

Seusai makan.. Haebin serasa kembali hidup. Perutnya terasa penuh dan tenaganya pulih kembali.

“Tuan Lee, terima kasih atas makanan pagi ini. Hidangannya begitu lezat.” Ucap Haebin.

“Sama-sama. Yang penting kau senang.”

Haebin terdiam, ia mendadak di ingatkan kembali dengan kejadian beberapa hari lalu ketika Tuan Lee datang ke rumahnya dan memintanya menikah. Oh, Haebin lupa.. jangan-jangan ini salah satu rencana dari Tuan Lee agar ia bersedia menikah dengannya..

“Ekhem.. Tuan, sebenarnya ada tujuan apa Anda membawaku kemari?”tanya Haebin langsung. Mungkin ini terkesan tidak sopan, tapi kali ini Haebin tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya.

“Ah, itu..” Tuan Lee membenarkan posisi duduknya. “Aku memang sengaja membawamu kemari. Agar kau tidak perlu bekerja di tempat itu lagi.”

“Nde..” Haebin tersentak mendengarnya. “Jadi Anda sudah meminta pada bos klub malam itu agar tidak memperkerjakan aku lagi?”

Tuan lee menganggukan kepalanya.

#flashback#

 

“Ada apa Tuan datang kemari?” tanya Kang Jae Woo, pemilik dari klub malam mewah itu ketika Lee Dong Il, orang yang dihormatinya datang menemuinya di sana.

“Aku ingin kau menyerahkan seseorang padaku.” Ucap Tuan Lee langsung.

Jae Woo membulatkan matanya, kaget. “Maksud Anda siapa? Anda memintaku untuk membawa seseorang kemari dengan bantuan kami”

“Bukan. Tapi aku ingin kau membawa seseorang yang bekerja di sini padaku.”

“Siapa?”

“Park haebin, pelayan baru yang kau pekerjakan itu. Aku meminta kau untuk menyerahkannya padaku.”

Lagi-lagi Jae Woo mengerjap. “Tapi aku tidak bisa. Gadis itu memiliki banyak hutang padaku. Aku tidak akan menyerahkannya sebelum dia melunasi semua hutang keluarganya.” Elak Jae Woo

“Aku akan membayarnya.” Jawab Tuan Lee dengan tenang.

“Mwo?”

“kubilang aku yang akan melunasi semua hutangnya. Jadi urusanmu dengannya sudah selesai dan aku bisa membawanya pulang.”

“Tapi…” Jae Woo masih belum juga mengerti. Tuan Lee menyipitkan matanya, menatap bos klub malam itu dengan tatapan yang tajam. Jae Woo mengerti maksudnya. Tuan Lee memang tidak bisa dilawannya.

“Baiklah, aku mengerti. Rocky.. Rocky..” panggil Jae Woo pada salah seorang kaki tangan kepercayaannya.

Seseorang masuk dengan tergopoh-gopoh ke dalam ruangan itu. “Iya bos”

“Bawa yeoja bernama Park Haebin itu kemari. Cepat!!” Perintahnya

“Baik bos.” Pria yang dipanggil Rocky itu segera pergi.

“nah, jadi kita sudah sepakat. Akan kulunasi semua hutangnya hari ini juga. Akan kusuruh asistenku mengirim uangnya ke rekeningmu. Jadi setelah ini aku harap kau tidak perlu mencarinya lagi..” ucap Tuan Lee

“Araseo. Tapi.. ngomong-ngomong ada urusan apa Anda dengannya?” tanya Jae Woo penasaran “Ah, apa dia akan Anda jadikan….” Jae Woo menunjukkan ekspresi mesumnya. Tuan Lee mengeleng lemah sambil berdecak.

“Aku bukan orang seperti itu.” Lalu ia tersenyum. “Akan kunikahkan dia dengan putraku” ucapnya.

#flashback end#

“Iya. Jadi kau tidak perlu ke sana lagi.”

“Jinjja??? Jadi aku terbebas dari tempat menakutkan itu? Kya… tuan Lee.. jeongmal gowawo..” Haebin segera bangkit dari duduknya lalu membungkukkan badan pada Tuan Lee.

“Tidak perlu sungkan.” Ucap Tuan Lee

“Lalu, bagaimana dengan hutang-hutangku?” tanya Haebin baru teringat

“Oh soal itu. Tenang saja, sudah kulunasi semuanya. Jadi kau benar-benar sudah tidak ada urusan lagi dengan mereka.”

Haebin menghentikan senyumnya. Ia menatap Tuan Lee dengan pandangan yang tak bisa diungkapkan. Bingung, tidak percaya, dan takut.

“Kenapa Anda melunasinya?” nada suara Haebin menjadi lebih berat dari sebelumnya.

“kenapa? Tentu agar kau terbebas dari mereka.”

“Benarkah? Sungguh tidak ada maksud lain..”

Tuan Lee kembali membenarkan posisi duduknya. “ sebenarnya.. aku membawamu kemari untuk meminta sesuatu darimu..”ucapnya

Benarkan.. memang selalu ada udang dibalik batu. Tuan Lee pasti memiliki maksud lain membawanya kemari dan melunasi semua hutangnya. Tapi Haebin tetap menunggu apa yang akan dikatakan oleh Tuan Lee.

“Kumohon Haebin.. menikahlah..”

Haebin menegang.. pria tua bangka ini benar-benar sudah kelewatan. Batin Haebin kesal. Mana mungkin ia meminta gadis yang usianya jauh dibawahnya untuk menikah dengannya. Mustahil! Tak peduli dia sekaya dan sehebat apapun ia tetap tidak mau menikah!

“Tuan, aku menolak!” tegas Haebin membuat tuan Lee dan Leeteuk yang sejak tadi berdiri di sampingnya kaget.

“Kenapa?” tanya Tuan Lee tak percaya.

“Ini masalah usia, Tuan..” ucap Haebin

“Usia apanya?” Tuan Lee bingung.

“Usiaku baru 23 tahun, itupun 4 bulan lagi. Sementara..” Haebin menatap Tuan Lee.

“Sementara apa? Apa putraku kurang muda untukmu? Usianya baru 26 tahun. Kalian hanya berbeda 3 tahun dan menurutku itu tidak berlebihan.”

Seketika Haebin menghentikan pikirannya yang sudah melantur kemana-mana. Tadi Tuan Lee mengatakan apa? Jangan-jangan telinganya sudah salah dengar.

“Tadi apa yang Anda katakan? Putra?”

Tuan Lee mengangguk. “Iya. Putraku. Kau akan kunikahkan dengannya. Kau pikir apa lagi?”

Haebin sekejap merasakan seluruh tubuhnya memanas karena malu. Ya ampun, ia sudah berpikiran macam-macam tentang tuan lee. Jadi dia memintanya untuk menikah dengan putranya..

“Mianhae Tuan.. kukira..” Haebin menunduk malu. Tuan lee yang mengerti maksud dari perkataan Haebin langsung tertawa.

“kau kira akan menikah denganku? Itu tidak mungkin Haebin-ah.. aku sudah sangat tua untuk memikirkan hal tersebut. Aku lebih memilih melihat anak-anakku menikah daripada diriku sendiri yang menikah…”

Haebin hanya mengangguk tanpa sanggup mengangkat kepalanya. Haduh, ini seperti maling yang tertangkap basah. Malu sekali rasanya. Jika di sana ada lubang, mungkin ia sudah terjun ke dalam lubang itu. Leeteuk yang ada di samping Tuan Lee pun menutup mulutnya untuk menahan tawa atas tingkah Haebin.

“Ah, itu dia putraku..” Tuan Lee menunjuk ke arah belakang Haebin saat matanya menangkap sosok anaknya yang baru menuruni tangga.

Mengikuti arah yang maksud Tuan Lee, kepala Haebin menoleh ke arah belakangnya. Dan di saat itulah, dia melihat sosok namja itu.. yah, matanya tidak mungkin salah mengenali. Dia, namja yang tengah turun dari tangga itu adalah  Donghae, namja yang ditemuinya di klub malam itu. Diakah putra Tuan Lee? Mata Haebin sampai terbelalak melihatnya.

@@@

*Donghae Pov*

Malam ini pun seperti biasa, aku menyibukkan diri di kantor hingga larut dengan berbagai berkas proyek yang kutangani bersama rekan sekaligus sahabatku, Choi Siwon. Sebuah proyek besar yang jika berhasil, mungkin Appa akan menyerahkan posisinya sebagai Presdir padaku. Sedikit percaya diri memang, tapi aku yakin bisa menyelesaikannya dengan baik.

Sebenarnya akhir-akhir ini orang tua itu kembali membuatku pusing. Bagaimana tidak, dia menyuruhku untuk menikah dengan gadis pilihannya. Kenapa cara berpikirnya begitu ketinggalan jaman, sekarang ini bukan trendnya perjodohan. Apa tidak cukup dia dulu melarangku menikah dengan gadis pilihanku hingga membuatku jadi seperti ini? Dan pada akhirnya aku tetap harus menikah juga kan.. dengan gadis pilihannya. Mustahil!!

Apa ini alasan dia dulu tidak mengijinkanku menikah? Entahlah.. yang aku tahu pria yang kusebut Appa selama 26 tahun hidupku itu memang sangat egois. Pikirkanlah sudah berapa orang yang ia usir dari kehidupanku? Mulai dari ibuku, adikku, sampai gadis yang aku cintai. Betapa egoisnya dia. Haruskah aku membencinya? Tentu saja..

Pagi ini, aku terbangun dengan mimpi buruk itu lagi. Mimpi yang selalu membuatku merinding tiap kali kembali terjaga. Mimpi yang bahkan tidak sanggup aku lupakan. Dan sukses membuatku benci pada dunia dan seisinya.*lebay lu Hae!*

Dan akhirnya saat yang paling ingin kuhindari tiba juga. Ketika aku turun, di ruang makan aku melihat gadis itu, gadis yang mungkin kelak akan menjadi istriku. Dia memperhatikanku dengan mata tidak berkedip sama sekali. Aku tidak tahu kenapa? Apa mungkin dia terpesona padaku? Kuakui aku memang tampan, keren, dan kaya.

Tapi, kenapa rasanya aku pernah bertemu dengan gadis ini…?

*Donghae Pov End*

*Haebin Pov*

Benarkan.. dia memang namja yang pingsan karena mabuk waktu itu, dan namja yang sudah membentakku dengan wajah dinginnya. Tidak salah lagi. Dan sekarang, setelah dia berada di hadapanku, aku semakin yakin kalau itu dia. Jika waktu itu aku melihatnya dalam ekspresi dingin dan dalam keadaan tidak sadar, maka hari ini aku melihat wajahnya yang baru saja bangun tidur. Polos,dan tampan…

“kenapa melihatku seperti itu?” ucapnya dengan nada dingin. Aku seketika mengerjapkan mata. Seolah tersadar kembali karena suaranya.

“Tidak..” aku segera mengalihkan pandanganku. Sedikit dari sudut mataku aku melihat Donghae masih tetap berdiri di tempatnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Appa, siapa gadis ini?” tanyanya agak sinis di telingaku.

“Ah, perkenalkan, dia Park Haebin, gadis yang akan menjadi istrimu nanti.” Ucap Tuan Lee.

GUBRAKK!!!

Sukses jantungku yang sudah berdebar tidak karuan ini semakin berpacu cepat mendengar jawaban Tuan Lee. Apa tadi dia bilang? ‘Gadis yang akan menjadi istrimu’ omona…

“Haebin-ah, dia lee Donghae, putraku yang menjadi calon suamimu itu” ujar Tuan Lee. Aku segera berdiri menghadap donghae, lalu membungkukkan badanku sekilas.

“Park Haebin imnida.. bangapseumnida..”

Aku bahkan tidak sanggup menatap mata tajam namja ini. Dia menatapku intens dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu kembali menatap wajahku.

“Apa pekerjaanmu?” tanyanya dengan nada curiga

“Nde?” ujarku tidak mengerti. Kemudian aku baru paham ketika melihat baju yang kupakai sekarang, pantas saja tatapannya tampak mencurigaiku seperti itu. Dia pasti berpikiran macam-macam dengan pakaian yang kukenakan ini. Rok super mini dan baju yang ketat tampak agak menggoda.

“aku hanya pelayan biasa..” jawabku agak ragu.

Pandangan matanya kian menajam. “Pelayan biasa?” ulangnya tidak percaya

“Iya. Sungguh.” Tegasku takut. Kenapa aku jadi ketakutan begini? Loh, aku kan memang pelayan. Selain bekerja di klub itu aku juga bekerja di kafe.

“Lalu kenapa pakaianmu seketat itu?” tanyanya sambil menunjuk pakaian yang kupakai ini. Huwe.. rasanya aku ingin menangis sekarang juga. Bagaimana ini.. aku serasa direndahkan sekarang.

“Sudahlah, Donghae. Tidak penting dia bekerja apa. Yang penting dia adalah gadis yang baik.” Tuan Lee memotong pembicaraan kami. Aku agak lega atas pembelaan dari Tuan Lee. Kemudian aku kembali duduk sementara Donghae tetap berdiri di tempatnya.

“Tentu saja itu penting. Aku tidak ingin pendamping hidupku adalah ‘gadis yang tidak jelas asal-usulnya’”

Mataku membulat. Donghae mengucapkan bagian terakhir kalimatnya dengan sedikit penekanan. Entah kenapa, tapi kulihat Tuan Lee sedikit bereaksi atas ucapan yang dilontarkan Donghae barusan.

“Bukankah itu yang Appa katakan padaku ketika melarangku menikah dengan gadis pilihanku? Begitupun kali ini. Aku akan menolak jika gadis yang kau calonkan tidak jelas asal-usulnya. Permisi.” Ucap Donghae dengan suara tinggi. Donghae segera angkat kaki dari ruangan ini. Dia pergi entah kemana yang pasti menghilang dari penglihatan kami.

Aku memandangi Tuan Lee yang tampak pasrah sambil menghela napas. Jantungku tetap berdebar tidak karuan. Bagaimana ini? Aku tidak tega melihat wajah Tuan Lee seperti itu. Seperti ada penyesalan yang mendalam di wajahnya.

“Maaf ya kalau dia sedikit arogan dan cepat sekali marah.” Kata Tuan Lee

“Ah, tidak apa-apa Tuan. Tapi, apa Tuan tidak apa-apa? Sepertinya Tuan terlihat pucat.” Yah.. yang kulihat kali ini adalah wajah seorang ayah pada umumnya. Yang letih memikirkan masa depan anak-anaknya.

“Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku.”

“Em. Tuan.. apa yang terjadi? Sepertinya putramu menolak pernikahan ini.”Aish.. mulut ini tidak berhenti untuk berbicara! Harusnya aku tidak perlu bertanya hal yang kompleks seperti itu.

“Jangan pikirkan itu. Kau tetap akan menikah dengannya.” Ucapnya

“Tapi kenapa harus aku? Dia benar Tuan, siapa aku ini? Aku hanya seorang gadis miskin yang terlibat hutang dengan seorang rentenir. Tuan bukannya bisa mencarikan gadis yang lebih layak untuknya, tentu gadis dari keluarga yang baik-baik, berpendidikan, dan berkepribadian baik juga.” Ini juga salah satu yang membuatku heran.

“Tidak. Hanya kamu yang pantas untuk menikah dengannya. Kau adalah gadis pilihanku untuknya. Hanya kamu yang bisa mengubahnya. Mengubah sifatnya sekarang. Dan mengembalikan Lee Donghae seperti dulu.”

Kali ini aku kurang paham dengan ucapannya. Mengembalikan Lee Donghae seperti dulu, apa maksudnya?

@@@

*Author Pov*

Haebin membuka buku mata kuliahnya dengan lemas dan tanpa gairah sedikitpun. Pikirannya terus fokus pada kejadian kemarin, di rumah mewah Tuan Lee, yang tak lain adalah Appa dari namja dingin nan misterius Lee Donghae. Sungguh ia tidak menyangka sedikitpun kalau namja itu akan menjadi suaminya kelak.

“Haebin… Haebin..” In Sung menghampiri tempat duduk Haebin dengan langkah tergesa, ia tampak panik sekaligus senang.

“Hmmm…” Haebin menggumam malas.

“Bangun dulu..” In Sung memaksa Haebin yang menempelkan kepalanya di meja untuk bangun.

“Ada apa sih? Apa Tom Cruise berkunjung ke kampus kita?” tanya Haebin malas melihat In Sung yang sangat bersemangat.

“Kau tahu, selama 1 minggu ke depan kita akan diajar oleh seorang dosen pengganti.”

“Hmm.. lalu?” ucap Haebin masih tidak berminat. In Sung yang gemas segera mengguncang-guncang tubuh Haebin.

“Ada apa denganmu? Kau tidak senang? Kudengar dosen pengganti itu masih muda dan sangat tampan..” ucap In Sung. “Dan dia adalah Professor termuda di Universitas Seoul sana..”

Haebin tetap belum memperlihatkan ekspresi yang diharapkan In sung. Dia hanya mengangguk malas. “Lalu apa hubungannya denganku?”

In Sung terdiam. “memang tidak ada hubungannya denganmu sih. Tapi kau lihat di luar sana, gadis-gadis itu tampak histeris mendengar berita ini. Aku kira kau akan senang juga. Ah, aku menyesal bercerita padamu.”

“Insung-ah, mianhae..” rajuk Haebin yang melihat Insung kesal dan membuka buku pelajaran dengan cepat.

“Jangan pedulikan aku!” ucap Insung jadi merajuk juga.

@@@

Siswa-siswi di ruangan itu saling berpandangan melihat sang dosen pengganti yang tadi begitu diributkan. Memang tampan seperti yang di isukan semua orang, terlihat muda karena wajahnya tak jauh berbeda dengan siswa di kampus itu. Malah terkesan childish. Tapi yang membuat semuanya terpana adalah penampilannya. Ia tidak berpenampilan selayaknya orang yang berpendidikan tinggi. Pakaian rapi, dan bersih.. semuanya tidak ada di diri dosen baru itu. Dia hanya memakai sweter biasa, celana jins yang sudah belel, dan baju yang agak kusut. Bahkan rambutnya pun berantakan. Omona.. dia lebih mirip gelandangan dibandingkan seorang dosen pengganti yang menurut kabarnya adalah professor termuda di Universitas Seoul.

“Perkenalkan semuanya, aku Cho Kyuhyun.. dosen pengganti untuk satu minggu ke depan. Salam kenal” ucapnya setengah berteriak lalu menundukkan kepalanya sejenak.

Hee…. semua orang di kelas itu terpana menanggapinya…

..To be continued..

104 thoughts on “Shady Girl [Part 3]

  1. haha duh pasti haebin malu bener tuh di kiranya harus nikah ma temen appanya :v
    mknya haebin jngan suka berajinasi aneh2, trnyata haebin bisa ngomong bijaksana juga ya ke orang lain kirain egk hehe :v
    eahh tuh ikan mokpo judes amat sih -,-

  2. Wahhh blm apa2 Haebin udh d tolak ama Donghae???
    Sprtinya Donghae pnya msallu kurng enak ama ayahnya…
    Wahh mhsiswa mhsiswi psti kcwa liat pnmpilan Kyu yg urakan wkwkwkwkwkwk

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s