Shady Girl [Part 2]

Judul       : Shady Girl Part 2
Author    : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre       : Romance
Length     : Chapter 2 of ??

Main Cast:

  • Park Haebin
  • Lee Donghae

Support Cast:

  • Choi Siwon
  • Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk
  • Elison Kim
  • Kim Mi Ra
  • Na Hyun Jung

Shady Girl By Dha Khanzaki4

—o0o—

Tangisan mulai keluar dari mulutnya. Haebin menangis sejadi-jadinya karena takut. Ia tidak tahu dirinya akan diapakan hari ini. Mungkinkah pria itu akan menyuruh Haebin menjual dirinya sendiri? Oh.. tidak…

“Diam kau dasar gadis murahan!!” teriak salah satu anak buahnya segera memasang lakban di mulut Haebin dan mengikat tangan dan kakinya. Haebin tetap mengangis sampai akhirnya mereka tiba di klub malam itu.

Tubuh haebin yang sudah lemas dipaksa keluar dari mobil. Setelah melepas ikatan di kaki dan lakban, orang-orang suruhan pria jahat itu menyuruh membawa Haebin ke dalam Klub lewat pintu belakang. Dan kali ini pun Haebin kembali di seret dengan kasar.

“Bos, dia gadis yang kubicarakan tadi di telepon.” Ucap pria itu pada seorang pria yang duduk di balik meja di sebuah ruangan yang rapi dan tampak mewah.

“hmm.. dia seperti katamu. Lumayan juga..” ucapnya seraya menganggukan kepalanya dan wajahnya itu tampak mesum. Haebin menundukkan kepalanya. Perasaan takut kini menguasai dirinya.

“Tempatkan dia di ruangan VVIP. Biar dia melayani tamu VVIP kita.” Lanjutnya. Pria tadi mengangguk menanggapi ucapan bosnya. Lalu ia menoleh pada Haebin yang menunduk takut.

“Dengar, kau diminta melayani tamu-tamu penting klub ini. Mereka semua dari kalangan keluarga kaya. Dengan begini kau cepat bisa melunasi hutangmu sekaligus bersenang-senang. Hahahah..” pria itu tertawa dan membuat Haebin makin terpuruk. Kini ia merasa masa depannya akan suram. Siapapun.. tolonglah diriku.. teriak Haebin dalam hati.

Haebin kini di bawa ke ruang ganti. Pria itu meminta seorang yeoja yang sudah lebih dulu kerja di sana untuk memberikan Haebin pengarahan dan mendandaninya.

“Pakai ini. Ini seragam pegawai ruang VVIP” ucapnya ramah, Haebin mengambilnya ragu-ragu. Pakaian itu berupa blouse lengan pendek berwarna putih dengan dasi pita bersimpul kupu-kupu. Dipadukan rok lipit pendek berwarna hitam.

“Siapa namamu” tanya yeoja itu pada Haebin yang masih menatapi baju di hadapannya wajah bingung.

“Park Haebin imnida..” ucapnya segera setelah tersadar.

“Aku Kim Mira..” Mira mengulurkan tangannya. Haebin menjabat tangan Mira dengan senyuman kikuk.

“Anu.. pakaian ini.. apa tidak terlalu mini..” tanya Haebin ragu.

“tidak. Memang begitu seragam di sini.” Ucap Mira. Haebin memperhatikan Mira yang memakai pakaian yang sama dengannya. Pakaian itu benar-benar pas di badan dan membuat lekukan tubuh terlihat sangat jelas. Apa ini tidak terlalu vulgar? Nanti jika ada yang berpikiran kotor dan melakukan hal yang tidak semestinya bagaimana ini…

“Cepatlah pakai. Aku akan membantumu berdandan.”

“Baik.”

Dengan terpaksa Haebin segera mengganti bajunya dengan seragam itu. Setelah dipakai, ia mematut dirinya sendiri di cermin. Ya ampun, dia menelan ludah sendiri. Bagaimana mungkin ia bisa memakai rok semini ini dan pakaian seketat ini.. apa pandangan orang terhadapnya nanti.

“Lihat, kau tampak cocok memakainya.” Ucap Mira segera menuntun Haebin ke depan meja rias untuk di dandani.

“Apa aku harus juga memakai make up?” tanya Haebin ketika Mira mulai mengolesi mukanya dengan foundation dan bedak.

“Iya.. agar terlihat lebih menarik.”

“Tapi nanti aku akan terlihat seperti tante-tante.”

Mira tertawa pelan. “Tidak akan. Kau malah akan lebih cantik.”

Begitu selesai, Haebin tidak sanggup melihat dirinya lagi di cermin. Rasanya ia seperti melihat sosok orang lain saja.

“ini bukan aku.” Ucapnya lemas menatapi dirinya sendiri.

@@@

“Ingat ya.. layani tamu dengan senyum.. buat tamu senyaman mungkin dan jangan sampai membuat tamu itu marah. Kau tahu, tamu VVIP itu semua adalah teman bos kita. Kau tidak mau kan berurusan dengannya.” Mira memberikan beberapa peringatan sebelum Haebin memulai pekerjaannya.

Haebin mengangguk paham. Semoga yang terjadi nanti bukan yang seperti ada di pikirannya. Haebin menarik napas sejenak sebelum masuk ke dalam ruang VVIP tempat ia akan melayani tamu di sana. Oh Tuhan.. kata ‘melayani’ di sini semoga benar-benar melayani.

“Oh.. kau pelayan baru..” ucap seorang pria berseru sesaat setelah Haebin membuka pintu dan masuk. Haebin tersenyum lalu membungkukkan badannya.

“Park Haebin imnida..” ucapnya. Haebin menatapi satu-satu pria yang berusia 40 tahun hingga 50 tahunan itu dengan tatapan ragu namun senyum itu tetap ada di wajahnya. Jadi ini tamu VVIP, sepertinya mereka orang-orang penting sampai bisa termasuk tamu VVIP. Yah.. lebih baik ia melayani pria-pria tua ini.. daripada harus anak muda yang pasti akan membuatnya 2 kali lipat lebih gugup.

Ternyata Haebin hanya di minta menemani mereka mengobrol sambil meminum wine, sesekali Haebin juga menuangkan wine untuk mereka.

“Ah, nona Haebin, bisa kah kami meminta 1 botol wine lagi?” tanya salah 1 pria berjas abu-abu pada Haebin.

“oh tentu Tuan, sebentar, saya ambilkan.” Ucap Haebin lalu bangkit keluar. Ketika berjalan di lorong, ia menghela napas lega, sangat lega karena sesaat ia bisa selamat dari tempat mengerikan itu. Semoga setelahnya pun tidak terjadi apa-apa.

Haebin berjalan menuju tempat bartender dan meminta 1 botol wine. Ia duduk di bangku tinggi yang ada di meja bar sambil menunggu. Ia juga sesekali menggerakkan badannya mengikuti alunan lagu yang berbunyi memenuhi ruangan klub malam itu. Beberapa orang di lantai dansa tengah berjoget ria mengiringi alunan musik beat dari DJ.

“Jadi seperti ini yang namanya klub malam orang-orang kelas atas.” Gumamnya kagum. Sangat berbeda dengan bayangannya tentang klub malam selama ini.

“Sialan! Orangtua itu benar-benar membuatku gila!”

Kepala Haebin berputar cepat ke arah suara itu. Seseorang mengumpat di sampingnya. Ia sepertinya mabuk, rambunya tampak berantakan karena beberapa kali di acak-acak sendiri oleh tangannya. Dan di tangannya ada segelas minuman yang sepertinya minuman keras. Tanpa sadar Haebin terus memperhatikannya. Wajahnya tidak terlihat karena rambut yang berantakan itu menutupi sebagian wajahnya. Yang jelas dia namja. Kepalanya pun menunduk seperti hendak terjatuh. Oh tidak, ia bukan hendak jatuh. Tapi memang akan jatuh!

Dengan gerakan cepat Haebin segera menahan bahu pria itu yang hampir saja tersungkur di lantai. “Aish, berat..” Haebin, dengan tenaga yang dimilikinya segera menempatkan tubuh pria itu hingga kepalanya tersandar di meja.

“Aigoo.. kasihan dia.. apa ada temannya di sini?” Haebin celingukan sendiri menoleh ke kiri dan kanan. Lalu ia bertanya pada salah seorang bartender.

“Chogi.. apa kau kenal tuan ini?”

Bartender melirik namja yang ditunjuk Haebin, yang sekarang tengah tak sadarkan diri.

“Biasanya dia bersama teman-temannya. Tapi sepertinya kali ini dia datang sendiri.”

“Aish.. menyusahkan saja.. aku ingin meninggalkannya tapi kasihan dia..” Haebin jadi melupakan tugasnya membawa wine ke ruang VVIP itu. Ia malah mengurusi namja pingsan yang bahkan tidak dikenalnya. Haebin membenarkan rambut namja itu yang berantakan. Seketika ia mengerjap ketika mengamati dengan seksama wajah namja itu.

“Dia kan.. namja dingin yang waktu itu..” serunya dengan suara pelan. Haebin tidak mungkin melupakan wajahnya. Wajah yang tampan, dingin dengan sorot mata yang mampu membuat siapapun merasa terlempar ke alam lain. Ya… namja ini memang dia..

“Kenapa kau bisa mabuk seperti ini?” kini namja ini di tidurkan di sofa yang ada di ruangan khusus. Kasihan jika dia harus berbaring dengan posisi seperti tadi.

Haebin membuka beberapa kancing bagian atas kemeja yang dipakai namja itu agar ia tidak sesak. Namja ini berkeringat dan wajahnya yang sedang terlelap itu tampak gelisah. Sepertinya ia bermimpi buruk.

Haebin mengambil tissue yang tersedia di atas meja dan mengelap peluh di pelipis namja itu. Sesekali Haebin termangu menatapi wajah tampan namja itu, meskipun raut wajahnya tampak tidak tenang, tapi tidak mengurangi pesonanya. Hmm.. andai ia bisa memiliki suami seperti namja ini. Pasti akan sangat membahagiakan. Ia tersenyum sendiri membayangkannya. Haebin seketika tersentak dan menggelengkan kepala cepat, menepis pikirannya yang mulai melantur.

“kau pasti membawa ponsel kan? Maaf aku lancang, tapi aku harus menghubungi seseorang agar bisa menjemputmu kemari.” Haebin meraba-raba saku jas namja itu. Dan begitu menemukannya, ia segera menekan tombol 1, kira-kira akan tersambung pada siapa nomor itu.

“yeobseo..” seseorang di ujung sana menjawabnya, dari suaranya jelas sekali ia namja. Haebin bersorak dalam hati. Namun belum ia membuka mulutnya, seseorang di ujung sana sudah lebih dulu menerjangnya dengan rentetan kata-kata yang panjang. Haebin hanya bisa menyimak bagian terakhirnya saja. “…jadi cepat kembali Lee Donghae, atau kau akan dipecat dari jabatanmu sekarang!!” cerocosnya. Haebin menelan ludah, melirik namja yang pingsan di sampingnya. “Jadi namamu Lee Donghae..” gumamnya tanpa sadar.

“Hallo, Donghae… ya..” namja di ujung sana itu kembali berceloteh..

“Maaf..” ucap Haebin. Seketika hening di ujung sana. Sepertinya namja itu kaget karena yang menjawab adalah suara yeoja.

“Kau.. bukan Donghae? Mana dia? Kenapa kau menelepon menggunakan ponselnya?”

“Anu, sebenarnya tuan bernama Donghae itu kini sedang pingsan karena mabuk. Jadi bisakah anda menjemputnya kemari?” ucap Haebin

“MWO? Pingsan! Mabuk! Aigooo….” namja di ujung sana malah panik tidak jelas, dari ponsel terdengar suara gaduh di iringi suara benda jatuh dan lainnya. Apa yang dilakukan orang itu? Haebin menjauhkan ponsel dari telinganya dan menatapnya dengan kening berkerut. Orang itu kembali berkoar-koar, cepat-cepat Haebin kembali menempelkan ponsel di telinganya.

“Araseo.. aku akan menjemputnya. Sekarang dimana dia?” cecarnya panik.

Haebin menyebutkan klub malam beserta alamatnya. Segera setelah itu sambungan diputuskan secara sepihak.

“dia ini siapa? Aneh sekali..” gerutu Haebin. Kini perhatiannya kembali teralih pada namja bernama Lee Donghae itu. Dia tetap damai dalam tidurnya. Meski begitu kenapa raut wajahnya tadi seperti orang gelisah dan ketakutan. Pasti dia sedang dalam masalah besar.

“Baiklah tuan Lee Donghae, sebentar lagi temanmu akan datang menjemputmu. Aku akan kembali. Tidak apa-apa kan kau kutinggal.” Ucap Haebin seperti orang bodoh mengajak pria pingsan berbicara. Jelas-jelas dia tidak akan menjawab.

Baru haebin beranjak bangkit dari duduknya, tiba-tiba tangan Donghae menahannya, menggenggam erat pergelangan tangannya. Haebin yang kaget, secepat mungkin menoleh padanya. Dia kira namja itu sudah siuman, nyatanya tidak. Matanya tetap menutup. Haebin mengerutkan kening. Namja ini kan pingsan, kenapa bisa menahan tangannya?

“Kajima..” lirihnya dengan suara pelan, mirip igauan. Yah, namja itu memang mengigau.. mulutnya berkomat-kamit mengucapkan kalimat tidak jelas dan matanya yang tertutup itu kembali gelisah, alisnya saling bertautan seperti orang kebingungan. Haebin tidak tega jadinya. Ia kembali duduk. Kini hatinya pun ikut cemas. Haebin kembali mengusap keringat yang muncul di pelipis donghae.

“Tuan, sebenarnya kau ini mimpi apa..” Haebin tidak tega melihat wajah tersiksa Donghae.

“Kajima…So Yeon-ah.. jangan tinggalkan aku..” igaunya lagi. Haebin mengerjap, namja ini menyebut nama yeoja di alam bawah sadarnya. Apa dia orang yang teramat penting?

Dan kali ini Haebin lebih kaget lagi, karena namja ini mulai meneteskan airmatanya. Omona.. seburuk itukah mimpinya? Genggaman tangannya di pergelangan tangan Haebin makin erat, membuat Haebin merinding.

“Baiklah aku tidak akan pergi. Tapi Tuan, kau tidak perlu sampai menangis seperti ini..” ia mengusap airmata yang mengalir di pipinya. Entah kenapa haebin jadi ikut sedih. Sebagai siswa jurusan psikologi, ia tentu bisa melihat bagaimana tertekannya namja ini sampai-sampai dalam keadaan tak sadarkan diri pun dia bisa mengigau sampai menangis.

Tak lama, terdengar suara pintu terbuka dengan satu sentakan cepat, hingga menimbulkan suara gaduh.

“Mana Donghae…” teriaknya kencang. Haebin sampai terperanjat dan cepat berdiri. Dia melihat seorang namja tampan berjalan mendekati mereka. Penampilannya sangat rapi.

“Dia di sini..” haebin menunjuk donghae yang masih tak sadarkan diri berbaring di sofa.

“Ya ampuun.. kenapa bisa begini??? Sudah kubilang jika tidak bisa minum jangan memaksakan diri untuk minum!!!” bentaknya. Haebin terheran-heran. Namja ini gila, mengapa mengajak orang pingsan bicara? orang pingsan mana mungkin bisa menjawab bentakannya itu tidak akan digubris meskipun ia berteriak sampai tenggorokannya kering.

“Aku akan membawanya pulang sekarang.”

“Oh, gomawo..” haebin membungkukkan kepalanya.

“Kenapa kau yang berterima kasih? Harusnya kan aku. Oh iya, siapa namamu?”

“Park Haebin Imnida..”

“ok Haebin-ah, kau tentu tahu siapa aku kan?” ucapnya narsis.

Haebin melongo mendengarnya. Kenapa ia senarsis itu? Haebin memperhatikan namja itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia tidak ingat pernah melihatnya dimana. Meskipun harus diakui wajahnya tampan. Sangat tampan.

“Aku Choi Siwon. Yang tadi kau telepon.” Jawab Siwon lebih dulu karena Haebin tak kunjung menjawab.

“Iyakah?” Haebin malah balik bertanya. Ia tadi hanya asal memencet nomor, jadi tidak terlalu memperhatikan siapa yang dia telepon.

Siwon berkacak pinggang di depannya, ia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, menelepon seseorang. Haebin hanya tertegun melihat tingkah anehnya. Tak lama terdengar suara ponsel berdering. Haebin menoleh kiri-kanan, dan yang berbunyi ternyata ponsel milik Donghae yang tergeletak di atas meja.

“Angkat itu.” Perintah Siwon. Haebin segera meraih ponsel itu. Dan melihat nama yang tertulis di layar. Benar-benar nama namja itu yang muncul. ‘CHOI SIWON CALLING’

Haebin mendengus dan tertawa tipis. “Jadi kau menelpon hanya untuk ini? Lucu sekali.” Ucap Haebin agak jengkel.

“Tentu saja. Kau harus mengingat namaku.” Tambah Siwon. Haebin menghela napas pasrah. Ya ampun, namja ini menderita kelebihan kadar percaya diri ya?

“Sekarang saatnya kau pulang, Lee Donghae..” ucapnya lagi pada temannya itu. Dengan gerakan cepat, ia membopong tubuh Donghae yang lemas. Kelihatannya seperti ringan-ringan saja. Padahal tadi Haebin susah payah membopong tubuh Donghae ke ruangan ini.

“kalau begitu kami pamit, nona Park Haebin. Dan sekali lagi terima kasih.” Siwon menundukkan kepala sekilas lalu pergi sambil memapah Donghae.

“Ah, ne. Hati-hati di jalan.” Jawab Haebin. Setelah mereka pergi, Haebin sempat termenung, ia memegangi tangan yang tadi dicengkram namja itu. Ada yang aneh menjalari seluruh tubuhnya. Oh Tuhan.. apa ini?

@@@

“Kau harus bekerja di klub malam itu?” tanya Hyun Jung kaget. Haebin mengangguk menanggapi pertanyaan dari teman 1 kerjanya di kafe itu.

“lalu bagaimana dengan pekerjaanmu di sini?” tanyanya lagi.

Haebin menggeleng. “Entahlah. Yang pasti tiap malam aku harus bekerja di sana. Jika tidak, debt collector itu akan terus mengejarku seumur hidup.” Haebin tampak pasrah dengan keadaannya.

“Yah.. yang penting kau bisa menjaga diri. Semua pekerjaan itu tidak ada yang sulit kok..” hibur Hyunjung.

“Kau benar.. aku harus tahan.”

Setelah pulang dari kerja part time’nya di kafe, ia menyempatkan diri mengunjungi In Sung yang kini tengah mengurusi anak-anak kecil di TK tempatnya mengajar. Yah, sahabatnya In Sung memang di minta ibunya untuk mengajar anak-anak itu sepulang dari kuliah. Tk itu sendiri milik yayasan keluarganya.

“Jinjjayo? Kau dipaksa bekerja di klub malam itu?” reaksi Insung sama kagetnya dengan Hyunjung. Haebin mengangguk. Pandangannya kini terarah ke anak-anak kecil yang sedang berlarian di lapangan depan TK.

“Begitulah..” suara haebin begitu pelan. Ia pasrah.

“Aigoo.. Haebin-ah, andai aku ini kaya raya.. aku sudah membantumu membayar hutang-hutang itu. Tapi kau tahu kan keluargaku.. mereka sangat perhitungan dengan uang..”

“Ara. Tidak apa-apa Insung-ah.. aku akan baik-baik saja. Kalau begitu aku pamit ya.. aku harus bersiap-siap untuk bekerja di klub itu.”

@@@

Donghae terbangun dari tidurnya. Kepalanya terasa begitu penat dan berat. Ia meringis sebentar saat ia memaksakan tubuhnya untuk bangun.

“Kenapa aku bisa ada di sini?” suaranya serak, ini mungkin akibat dari alkohol yang diminumnnya semalam. Ia meremas rambutnya, dunia seperti berputar begitu cepat rasanya. Membuat kepalanya pusing.

“kau mabuk semalam, Hae-ah..” ucap Leeteuk, asisten pribadi ayahnya.

“Benarkah Hyung? Pantas kepalaku terasa pusing. Tubuhku remuk semua rasanya.” Keluhnya sambil mengerjapkan mata berusaha menormalkan penglihatannya yang agak buram. Leeteuk duduk di tepi ranjang, tepat di samping donghae.

“minumlah obat dulu.” Leeteuk memberikan obat dan segelas air putih pada Donghae.

“Gomawo Hyung.” Donghae mengambilnya. Tanpa banyak tanya, ia segera menenggak obat itu agar keadaannya lebih baik.

“Siapa yang mengantarku kemari?”

“Semalam Siwon yang mengantarmu.”

Donghae menyerahkan kembali gelas yang isinya sudah habis setengah. “Benarkah? Aku tidak ingat sudah meneleponnya.”

“Entahlah kalau soal itu. Kau tanya sendiri saja padanya. Tapi yang membuatku heran adalah kenapa kau bisa mabuk-mabukan seperti itu? Kau tahu kan keadaanmu kurang baik akhir-akhir ini. Ayahmu sampai cemas setengah mati..” jelas Leeteuk seperti biasa. Ia selalu menasihati Donghae jika anak itu sudah mulai sulit dikontrol seperti kali ini.

Donghae tersenyum sinis. “Mencemaskanku? Apa itu yang ada dipikirannya? Jika iya, harusnya dia yang kemari bukan kau.”

“jangan bilang begitu. Ayahmu ada rapat penting dengan klien dari Jepang hari ini. Jadi dia sudah berangkat sejak pagi tadi. Tapi percayalah, semalaman dia menunggumu di sini. Kau saja yang tidak menyadarinya.”

Donghae diam, mulutnya bungkam tidak menanggapi ucapan Leeteuk. Dia menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya dan beranjak dari tempat tidur.

“mau kemana?”

“Aku akan bersiap-siap ke kantor. Aku bosan di rumah”

“Jangan. Kau istirahat saja.” Cegah Leeteuk seraya bangkit

“Jangan melarangku, Hyung. Hanya dengan bekerja aku bisa melupakan masalahku.” Ucapnya.

Leeteuk menghela napas, kemudian mengangguk pelan. “Terserah kau saja. Aku sudah memperingatkanmu. Jika terjadi sesuatu padamu, jangan salahkan aku” ia kemudian keluar dari kamar Donghae.

Di dalam kamar mandi, Donghae diam sambil menyandarkan dirinya pada pintu. Ekspresinya tidak dapat dijelaskan. Yang pasti ia begitu sedih.

“Aku memang berharap sesuatu terjadi padaku.” Gumamnya dengan suara rendah dan berat. Ia tampak menahan airmatanya sendiri.

@@@

“Semuanya akan baik-baik saja.” Haebin menarik napas sekali lagi sebelum memulai pekerjaannya. Ia selalu merasa takut jika harus menapakkan kakinya ke tempat bernama klub malam itu.

“kenapa? Kau terlihat sedih. Gembiralah..” hibur Mira

Haebin melirik Mira yang tampak gembira dan tidak ada beban. “Kenapa kau bisa gembira seperti ini Mira-ah? Apa kau tidak merasa pekerjaan ini akan membuatmu menjadi lebih rendah.”

Mira tersenyum sekilas, lalu menatap Haebin dengan seksama. “Aku tahu apa maksudmu. Aku juga tahu kau melakukan ini karena paksaan keadaan iya kan? Aku juga sama sepertimu. Keadaan memaksaku melakukan pekerjaan ini. Tapi harus bagaimana lagi. Aku tidak mempunyai pilihan lain atau..” Mira menghentikan kalimatnya.

“Atau apa?”

“Atau keluargaku yang akan menjadi sasaran mereka. Keluargaku tidak ada satu pun yang mengetahui aku bekerja di sini. Aku yakin mereka akan kecewa jika mengetahuinya.” Jelas Mira.

Haebin merasa tidak enak telah bertanya hal yang membuat ekspresi Mira sedih seperti itu. “Mianhae. Aku tidak akan bertanya lagi.”

“Tidak apa-apa. Sudahlah, sekarang ayo kita bekerja.”

Haebin memandangi Mira yang berjalan pergi menduluinya. Gadis itu saja bisa sangat tegar mengapa dirinya tidak?

Untuk kali ini saja, ia harus mencoba bersabar.

“Wuah.. kau pelayan baru yaa..”

Haebin sedikit membelalakan matanya ketika melihat orang-orang yang kini berada di ruang VVIP. Sungguh berbeda dengan orang-orang kemarin. Mereka sekumpulan anak muda yang tengah berpesta pora. Namun Haebin segera menyesuaikan dirinya, ia tersenyum sekilas lalu masuk dengan tangan membawa nampan berisi beberapa botol minuman beralkohol.

Selama mereka berpesta, Haebin sedikitpun tidak bisa tenang. Anak-anak muda itu begitu agresif dan tingkahnya sedikit di luar batas kesopanan. Beberapa bahkan ada yang terang-terangan bercumbu dengan pasangan masing-masing di hadapan Haebin. Gadis itu hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia merasa malu menyaksikan adegan dewasa seperti itu secara langsung. Apalagi di antara banyak orang seperti ini.

“Eh, nona.. bagaimana kalau kau ikut berpesta bersama kami. Sayang kan kalau kau hanya berdiri seperti patung di sini menyaksikan kegembiraan ini.” Ajak salah satu namja yang berpakaian ala orang-orang kaya.

“Ah tidak tuan. Terima kasih.” Tolak Haebin halus. Namun rupanya namja itu tidak menggubris ucapan Haebin. Dia dengan seenaknya meletakkan tangannya di bahu Haebin.

“Ayolah. Ini semua gratis..” rayunya dengan tampang mesum. Haebin menegang akibatnya.

“Tidak tuan. Terima kasih.” Kembali Haebin menolaknya. Dengan gerakan pelan ia menurunkan tangan namja itu dari bahunya.

“Jangan malu. Ayo.” Namja itu dengan lancangnya menarik Haebin ke salah satu sofa di sudut ruangan yang agak gelap. Karena suasana memang remang-remang. Dan keadaan orang-orang yang sudah mulai terpengaruh alkohol membuat mereka tidak begitu mempedulikan Haebin dan namja itu.

“Tuan, kumohon lepaskan.” Pinta Haebin setengah meronta.

Namja itu menjatuhkan Haebin di atas sofa. Lantas ia duduk di samping Haebin sambil mendekap erat pinggangnya.

“Akan kubuat kau melayang, chagi.. kita lakukan hal yang menyenangkan sekarang.” Bisiknya di telinga Haebin.

Bulu kuduk Haebin meremang. Namja ituk, dengan ekspresinya yang kian menunjukkan nafsu mulai mendekatkan wajahnya hendak mengecup bibir haebin. Dengan sekuat tenaga Haebin berusaha mendorong tubuh namja itu agar menjauh dari wajahnya.

“Jebal tuan.. jangan lakukan ini..” pinta Haebin yang hampir menangis.

“aku tidak tahan melihatmu. Kau sangat menggairahkan, sayang..” ucapnya terus berusaha mencium haebin meski berkali-kali gagal karena Haebin terus menggerakkan tubuhnya agar terlepas dari dekapan namja itu.

“Arrgh.. Tuan.. kumohon…” Haebin kini sudah tidak bisa menahan airmatanya lagi. Ia tak kuasa melawan namja sekuat itu dengan tenaga yang dimilikinya.

Plakkk!!!!!

Dengan segenap tenaga yang tersisa, Haebin menggerakkan tangannya yang terbebas untuk menampar pipi namja kurang ajar itu. Seketika namja itu memegang pipinya yang kemerahan akibat tamparan Haebin. Wajahnya menggeram, ia menatap Haebin dengan pandangan yang menakutkan.

“Dasar kau wanita jalang!!” bentaknya keras. Lalu ia mendorong Haebin hingga terlentang di sofa dan berusaha merobek pakaian yang dikenakan gadis itu. Haebin terus meronta dan menjerit meminta tolong namun tidak ada satupun yang menolongnya.

Haebin sudah pasrah dengan keadaan. Ia hanya menyerahkan semua hidupnya kini pada Tuhan…

Byuur….

“Arrggh… siapa ini yang menyiramku!!!” teriak namja itu karena ada seseorang yang menyiramnya dengan segelas wine dari belakang. Namja itu menoleh cepat pada pelaku yang sudah berbuat hal memalukan itu padanya. Haebin segera bangkit dan merapikan bajunya yang robek di sana sini karena ulah namja itu.

“kau.. Lee Hyukjae!! Untuk apa kau menyiramku hah!!” teriaknya pada temannya itu.

Namja bernama Lee Hyukjae itu hanya tersenyum sinis sambil memutar bola matanya. Ia kemudian menatap namja yang sudah di siram wine olehnya dengan pandangan merendahkan.

“Ya. Kim Kyoung Jae, aku tahu kau ini suka menggoda wanita.. sama sepertiku. Tapi tidak sekurang ajar itu kau memperlakukan wanita..” ucapnya dengan suara tegas. Kemudian ia menarik Haebin hingga berdiri dan segera memintanya berdiri di sampingnya. Haebin menurut saja karena merasa berada di sebelah namja itu lebih aman.

“Aku baru saja akan bersenang-senang dengannya. Jika kau mau juga aku bisa memberikan kesempatan padamu..” kilah Kyoung Jae atau biasa di sapa Eli itu.

“Tapi nona ini sudah menolakmu. Bahkan ia meronta-ronta tidak ingin kau sentuh. Itu sama saja dengan kau memperkosanya. Aku bisa meminta Sungmin Hyung untuk menggugat perbuatanmu jika kau berani melakukannya lagi. Araseo!!” ancam Hyukjae sambil berkacak pinggang.

“Ara.. mianhae..” ucap Eli sambil mengusap kepala dan jasnya yang basah.

“Ya! Bagaimana ini! Jasku kotor karena ulahmu, Eunhyuk! Bertanggung jawablah! Kau tahu, ini jas buatan Italy yang sangat mahal!” teriaknya sambil menunjukkan bagian bahu jasnya yang bernoda wine.

“Baik. Akan aku ganti jas murahanmu itu! Lagipula kau memang pantas mendapatkannya.” Eunhyuk mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya dan menyerahkannya pada Eli.

“Telepon saja butik itu dan minta jas yang sama seperti yang kau pakai sekarang. Dan semua biaya aku yang membayarnya.” Lanjutnya lagi. “Nona, ayo pergi. Semua orang di sini mulai gila jika telah menenggak alkohol.”

Haebin mengangguk dan mengikuti Eunhyuk pergi keluar dari ruangan itu.

“Gomawo.. tuan..” ucap Haebin setelah berada cukup jauh dari ruangan tadi. Eunhyuk membalikkan badan lalu tersenyum.

“tidak apa-apa. Maafkan temanku. Dia itu mudah sekali tergoda apalagi oleh yeoja cantik sepertimu..” di saat seperti ini sempat-sempatnya Eunhyuk mengeluarkan jurus gombal gembelnya. Haebin tidak menjawab, ia masih syok dengan kejadian tadi. Beberapa menit yang lalu, ia hampir diperkosa oleh orang itu.. namja bernama Kim Kyoung Jae itu..

“Aku tahu kau terkejut. Tapi tenang saja, aku akan memberikan pelajaran yang setimpal untuk Eli. Oh iya, siapa namamu?” tanya Eunhyuk

“Park Haebin imnida..”

“Aku lee Hyukjae. Tapi aku lebih senang kau memanggilku Eunhyuk.” Eunhyuk mengulurkan tangannya. Sesaat Haebin sempat ragu apakah harus membalas uluran tangan itu atau tidak. Namun pada akhirnya ia tetap memutuskan untuk menjabat tangannya.

“Senang bertemu denganmu.” Ucapnya dengan senyuman indah.

“Aku juga..” jawab Haebin “dan sekali lagi terima kasih.. aku akan membalas kebaikanmu di lain hari..” tambah Haebin sambil membungkukkan badannya berkali-kali.

“Ah, tidak perlu. Aku senang membantu..” ucapnya.

“Park Haebin, apa yang terjadi padamu.?” Mira yang kebetulan lewat begitu syok melihat penampilan haebin. Ia cepat menghampiri haebin.

“Tidak apa-apa Mira.. hanya insiden kecil.”

Eunhyuk pamit pergi, sekali lagi Haebin menundukkan kepalanya dan ia membiarkan Mira memapahnya menuju ruang ganti. Di sana, Haebin duduk dengan pandangan menerawang. Tubuhnya begitu lemas dan bergetar.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Bajumu sampai sobek seperti ini.” Mira menyampirkan sweter miliknya ke tubuh Haebin.

“Aku.. hampir saja di sentuh oleh namja itu..” ucap Haebin lemah. Seketika Mira menganga.

“Ya Tuhan..” ucapnya segera menutup mulutnya sendiri. Ia tak percaya Haebin akan mengalami kejadian seperti ini.

“Maksudmu, salah satu tamu di ruang VVIP itu hampir saja melakukan sesuatu padamu?”

Haebin dengan lemah menganggukkan kepala. “Untung namja tadi menyelamatkanku. Jika tidak, entah apa yang terjadi padaku. Mungkin aku sudah tidak sanggup lagi melihat matahari terbit esok hari.” Haebin perlahan menitikkan airmata. Yah,, airmata yang sejak tadi ia bendung akhirnya tumpah juga. Mira duduk di samping Haebin, mengusap punggung gadis itu agar ia tenang.

“Ara.. sudah tenanglah.. yang penting sekarang kau tidak apa-apa..”

Bukannya tenang, tangisan Haebin malah kian menjadi-jadi. Ia tidak mau bekerja seperti ini lagi. Ia tidak mau..

“Aku ingin keluar dari pekerjaan ini.. aku..” ia menangis sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.

“Sudah…” Mira memeluk Haebin dan mengusap-usap kepalanya. Hanya ini yang bisa dilakukannya. Ia pun ingin keluar dari semua ini. Tapi jika takdir berkata lain, ia tidak kuasa untuk menolaknya.

Mendadak pintu ruang ganti terbuka tiba-tiba. Gerombolan pria kekar masuk membuat Haebin maupun Mira menghentikan sejenak kegiatan mereka.

“Ada apa ini?” tanya Mira heran. Haebin segera menghapus airmatanya. Pria yang kemarin sudah menyeret Haebin ke tempat ini kembali lagi.

“Park Haebin.. kemari kau..” ucapnya dengan nada tajam. Ia mencengkram baju yang dipakai Haebin hingga memaksanya berdiri.

“Ikut aku..” pria itu dengan kasar menarik Haebin keluar.

“Haebin..” teriak Mira yang tidak sanggup menolong Haebin. Gadis itupun kembali merasakan ketakutan yang sama seperti saat di seret dari rumahnya dulu.

“Tuan.. aku akan dibawa kemana sekarang?” tanya Haebin dengan suara bergetar takut.

“Menemui bos..” jawabnya lantang. Haebin menegang.. ini pasti menyangkut kejadian kemarin.. pasti para orangtua dari ruang VVIP itu mengadu karena Haebin mendadak menghilang dan menelantarkan mereka. Wah.. pasti akan terjadi badai setelah ini..

Eotteohke…. Haebin menutup matanya erat-erat.

“Bos, aku sudah membawa yeoja ini!!” ucap pria itu ketika sudah sampai di ruangan bosnya. Ternyata tidak hanya ada bosnya di ruangan itu. Melainkan ada tamu lain yang datang di sana. Omona.. jangan-jangan kali ini ia akan di jual pada teman bosnya itu. Pria itu terus mencengkram sweter yang dipakai Haebin hingga yeoja itu meringis karena merasakan sakit di bahu dan lehernya.

“Ya!! Apa yang kau lakukan padanya!! Singkirkan tanganmu!!” teriak pria yang menjadi tamu bosnya itu. Pria yang memegang Haebin segera menurut. Ia melepaskan cengkramannya di sweter Haebin. Karena mendadak, Haebin tersungkur hingga jatuh di lantai.

“Haebin-ah.. kau tidak apa-apa?”

“Ne.. aku tidak..” Haebin tiba-tiba melupakan rasa sakit di lehernya karena ia mengenal baik suara pria yang berkata di hadapannya ini. Ia mendongkakkan kepalanya untuk melihat siapa orang itu. Matanya melebar seketika.. ternyata.. orang yang di hadapannya ini adalah tuan Lee.. pria yang memintanya untuk menikah itu..

Seketika semuanya terasa gelap.. yang terakhir kali Haebin rasakan adalah benturan keras ketika tubuh dan kepalanya bertubrukan dengan lantai yang dingin.

“Haebin..” teriak Tuan Lee kaget..

==To be continued==

97 thoughts on “Shady Girl [Part 2]

  1. Pertemuan pertama haebin donghae. Tp karna hae lg mabok ya gak ada kesan hehehe. Love tak selalu at 1st sight. Gue kira eunhyuk bakal jd smcm cinta segitiga. Abis eunhyuk nya jd hero penyelamat haebin si. Next

  2. aku ska karakter donghae yg angkuh, dingin, juga sombong. biasanyakan karakter donghae itu peria yg lembut, romantis bertolak blakang dgn karakter donghae di shandy girls part” awal.

  3. menurut feeling cenayang saya yang suka ngasal, itu orang2 yang muncul berasal dari lingkungan yang sama.. bahasa jawanya seublekan.. LOL😄 maksudnya itu orang2 yang dilayani haebin dan itu sama donghae itu selingkungan.. :3
    dan siwon.. mahsyaAllah bang~ pede nya gede banget yaak.. >.< aigoo aigoo aigoo.. saya cuman pernah baca ff yang pake karakter siwon dikit doang, jadi nggak ngerti karakter yang biasa dia maenin kek apa, tapi dari kemunculannya yang sekilas itu….. kkkkkkkk aigoo~ /salah fokus ya komen saya .____./

  4. Suami pertama gue kenapa#plak ? apa ada terjadi sesuatu sama pacar nya yang jadi buat donghae dingin?
    haduhh untung hyukie selametin kalo kagak*angkat tangan* deh
    Ayah nya donghae suami ku ngapain ke situ? apa mau bayar utang2 nya haebin?

  5. ketemu kedua kalinya mala donghae mabuk dan gak sadar,- yang jadi penolong haebin dikira donghae eh malah eunhyuk.. next chapter=>

  6. Eunhyuk, Donghae, Tuan Lee?! Sebenernya siapa mereka ? Dan siapa yg akan di nikahkan sama Haebin ?!
    Makin penasaran sama kelanjutannya, cuss ke part berikutnya.

  7. Hee Bin kayanya salah paham deh,karna sebenarnya mungkin Hee Bin mau dinikahkan dengan Donghae ! Bukan sama tuan Lee -_- ada Eunhyuk sebagai penyelamat Hee Bin,apakah akan terjadi cinta segitiga ?

  8. haebin terlalu shock sama insiden dan permasalahan yang dia terima hingga menyebabkan dia tidak sadarkan diri. haebin-ah fighting!

  9. Wahhh Eunhyuk daebakkkkk dy jd pnylmat buat Haebin,,wlw tampangnya mesum kekekekkek
    smg deh Tuan Lee cpt mmbwa Haebin kluar dri pkrjaan sprti itu,,,,bnr2 gk cocok utknya…

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s