Shady Girl [Part 1]

Judul      : Shady Girl [Part 1]
Author     : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre      : Romance
Length     : Chapter 1 of ??

Main Cast:

  • Lee donghae
  • Park Haebin

Shady Girl By Dha Khanzaki4

Happy Reading


——-o0o——-

Di sebuah Pemakaman,

Donghae menatapi nisan di depannya dengan wajah datar. Tak ada airmata walau hanya setetes saja. Seolah seseorang yang terbaring di bawah nisan itu bukan seseorang yang penting baginya.

And The Story Begin..

.

.

.

@@@

“kyaaaa…” jeritan memilukan, atau tepatnya sebuah jeritan pasrah bercampur ketakutan jelas terdengar keluar dari mulut Hae Bin, dia sekarang tengah berlari.

“Berhenti di sana, gadis gila!” teriak beberapa orang pria berjas hitam dan bertampang preman yang mengejar gadis itu, lebih tepatnya kabur dari mereka.

“Tidak mau! Apa jika aku berhenti kalian akan melepaskanku?” teriak Hae Bin sambil tak hentinya berlari.

“Tentu saja tidak!” balas salah seorang pria seraya berteriak tak kalah keras.

“Kalau begitu, aku tidak akan berhenti, weekkk~” Hae Bin mempercepat tempo melewati beberapa orang di sekitarnya dengan cepat, tak peduli kakinya yang terasa berdenyut karena ia berlari sambil mengenakan high heels.

“Eotteohke? Aku harus lari kemana ini??” gumamnya panik, ia dengan cekatan melepas high heelsnya, dan kembali berlari seraya kepalanya tak henti berpindah ke kanan dan ke kiri mencari tempat perlindungan. “Ah, mobil itu!” ide untuk bersembunyi terlintas ketika ia menemukan sebuah mobil yang terparkir dalam keadaan terbuka salah 1 pintunya. Tanpa pikir panjang lagi ia segera masuk dan menutup pintu mobil rapat-rapat agar para preman kiriman debt collector yang selama ini menagih hutang padanya tidak dapat menemukannya.

“Mereka tidak menemukanku kan?” tanyanya pada diri sendiri sesaat setelah ia rasa suasana cukup aman. Ia melongokkan kepalanya menatap ke arah luar jendela. Benar saja, tidak ada tanda-tanda pria berjas hitam itu. Sepertinya mereka sudah menghilang entah kemana.

“hmft.. untunglah..” Haebin menghela napas lega. Ia mengusap dadanya beberapa kali.

*Haebin Pov*

Aish.. leganya.. mereka itu benar-benar gigih. Berapa kilometer mereka mengejar-ngejarku sedari tempatku bekerja. Untung aku dikaruniai Tuhan kemampuan berlari yang luar biasa, jika tidak, mungkin aku sekarang sudah berakhir di tangan preman-preman itu. Kalian pasti bertanya-tanya kenapa aku, Park Haebin, gadis berpenampilan modis ini bisa dikejar-kejar oleh pria pria preman itu. Ya, nasib seseorang memang tidak selalu bagus. Secara fisik aku mungkin bisa dibilang, mendekati sempurna. Tapi tidak untuk nasibku.

Aku terlahir dalam keluarga yang sederhana. Bahkan sangat sederhana. Aku harus banting tulang setiap hari untuk memenuhi kebutuhan hidupku dan untuk biaya pendidikanku yang super mahal. Apapun bisa saja ku kerjakan untuk menghasilkan uang. Tapi tidak dengan cara yang haram tentunya. Namun beginilah keadaan hidup seseorang yang serba kekurangan. Seperti kebanyakan yang terjadi di sebuah novel, keluargaku pun berhutang pada seorang rentenir yang super sadis dan beginilah akhrinya, aku yang dikejar-kejar oleh penagih hutang itu agar melunasi semua hutang keluargaku. Kenapa harus aku?

Tentu saja. Kepada siapa lagi mereka menagih hutang selain padaku. Hanya tinggal aku yang tersisa. Kakakku sudah pergi entah kemana, dan Ayahku, meninggal dunia beberapa tahun lalu karena sebuah kecelakaan maut di jalan tol. Dan ibuku.. jangan tanya kenapa.. ibuku.. semenjak kehilangan kakak dan ayahku.. kejiwaannya mengalami sedikit gangguan.. yah begitulah.. sekarang ia berada di panti rehabilitasi karena aku tidak mungkin menjaganya di rumah. Ibuku.. dia butuh perawatan intensif dari seseorang yang kompeten.

“Nugu?”

Kepalaku terangkat kaget. Suara berat seorang namja berhasil membuyarkan perhatianku pada preman-preman yang kini sudah menghilang. Dengan gerakan cepat kepalaku menoleh ke arah kursi depan yang entah sejak kapan sudah diduduki oleh seorang namja yang.. emh.. entahlah.. tapi harus kuakui dia tampan.. sangat tampan malah.. jika diukur dengan angka 1-10, namja ini patut mendapat angka 10!!

Tatapan matanya yang dingin, tajam dan menusuk membuatku panik setengah mati. Aku pasti sekarang sedang gelagapan. Peluh menetes pelan di pelipisku.

“Aku… aku kebetulan masuk ke sini. Tadi aku mendapatkan masalah, jadi..”

“Keluar!” ucapnya tegas memotong kata-kataku. Mulutku bungkam seketika sekaligus terpaku. Sekarang raut wajahnya begitu menyeramkan.

“Tapi..” aku berusaha menjelaskan keadaan yang sebenarnya agar dia tidak marah lagi. Sayang kan wajah tampannya harus dirusak oleh ekspresi dingin seperti itu.

“AKU BILANG KELUAR!!!!” bentaknya galak, super galak. Dan suaranya yang keras dan menggelegar itu membuat gendang telingaku hampir saja jebol.

“Ne. Araseo..” aku takut. Sungguh.. namja ini jauh lebih menyeramkan dari debt collector yang mengejarku tadi.

Secepat kilat aku turun dari mobil itu. Segera setelah aku menutup mobil, mobil itu bergerak pergi menyatu dengan ratusan mobil lain di jalan raya. Aku menghela napas lega.

“Huh, ada yah namja sedingin itu di dunia ini.” Gumamku heran. Oke, sekarang bukan waktunya memperdebatkan namja tampan itu. Buat apa punya wajah tampan tapi sifat seburuk itu. Aku yakin tidak akan ada yang betah tinggal lama-lama di sampingnya.

Aish.. aku memikirkannya lagi! Park Haebin.. lupakan dia…

Kutepuk kepalaku hingga pening. Sekarang aku harus pulang dan bersiap-siap untuk bekerja.

Ketika sampai di depan rumahku yang sederhana.. yah, satu-satunya yang tersisa dari keluargaku dulu. Aku kembali terkejut karena di depan rumah berdiri 2 orang pria berjas hitam dan sebuah mobil mewah. Huwa.. jangan-jangan debt collector itu belum menyerah juga.. atau malah lebih parah.. mereka berniat menyita rumahku.. hartaku satu-satunya dengan keluargaku.. andwae..

Kuberanikan diri mendekat setelah mengumpulkan semua rasa percaya diri dan keyakinan yang kupunya. Dengan langkah tegas, aku menghampiri 2 orang pria yang berjaga di depan rumah.

“Permisi, Anda siapa? Ada keperluan apa di depan rumahku?” tanyaku dengan suara tenang. Padahal hatiku dag dig dug tidak jelas.

“Apa anda Nona Park Hae bin?” tanya salah satu dari mereka.

Aku mengangguk sambil mengangkat sebelah alisku. “memang kenapa?”

“Tuan sudah menunggu Anda di dalam. Untung anda cepat kembali.” Ucapnya ramah

Aku terheran-heran. Mana ada debt collector seramah  ini. Hmm.. apa ini hanya salah satu dari cara mereka. Dengan hati dipenuhi rasa curiga, aku berjalan masuk ke dalam rumah yang bergaya tradisional ini.

Benar saja, di ruang tamu, seseorang yang memakai jas hitam mewah dan beberapa bodyguard di belakangnya tengah duduk di sofa tamu. Hei, bagaimana cara dia masuk ke dalam rumah ini? Ini kecurigaanku yang lain.

“Ah, Nona Haebin..” ucap pria yang kira-kira berusia 50 tahun ketika menyadari kehadiranku. Ia segera berdiri. Tunggu, wajahnya tidak asing bagiku. Dimana ya aku pernah melihatnya..

“maaf, tapi anda siapa?” tanyaku.

Ahjussi ini tersenyum ramah padaku. Benar, aku memang mengenalnya. Senyumnya tidak asing bagiku. Tapi siapa dia?

“kau tidak mengingatku? Ini aku, tuan Lee Dong Il, teman Appamu. Kita bertemu ketika pemakaman Appamu dulu.”

Aku menepuk tanganku ketika mengingatnya. Ya.. pantas saja wajahnya familiar. Kami memang pernah bertemu ketika pemakaman Ayahku. Beliau yang menghiburku ketika aku menyerah dengan hidupku. Yah,, saat itu aku sangat terpuruk.

“Oh.. Tuan.. senang bertemu denganmu kembali.” Ucapku sambil membungkukkan badanku berkali-kali.

Aku menghidangkan secangkir teh padanya. Dia sudah berbaik hati mau mengunjungiku di tempat yang sederhana seperti ini. Padahal, dia itu orang yang sangat kaya loh.. hhihi.. aku bisa menebaknya dari mobil mewah yang terparkir di depan rumahku. Dan beberapa bodyguard yang mengawalnya.

“Ada keperluan apa hingga Tuan mengunjungiku di sini?” tanyaku.

Tuan Lee menatap rumahku sejenak, kepalanya kembali menatapku.

“kau tinggal di tempat seperti ini. Apa kau merasa nyaman?”

“Yah.. ini kan tempat ku dibesarkan. Tentu aku nyaman.”

“Jika aku memberikanmu tempat yang lebih nyaman apa kau mau?” tanyanya membuatku terbelalak kaget.

“maksud Tuan?” tanyaku hati-hati.

Dia menyeruput pelan tehnya, lalu kembali berbicara. “aku akan memberikanmu semua yang kau butuhkan. Rumah, baju, perhiasan mahal, mobil, atau kau mungkin ingin punya hotel atas namamu sendiri?”

Tubuhku menegang mendengarnya. Apa ahjussi ini sudah gila atau tidak waras? Mengapa tiba-tiba, tanpa angin dan badai ingin memberiku materi sebanyak itu.

“Mian Tuan, tapi apa maksud anda? Aku tidak mengerti.

“Aku tahu sekarang kau sedang mengalami kesulitan finansial.” Ucapnya membuatku sedikit paham arah pembicaraan ini.

“Jadi maksud anda, anda akan memberikan apapun padaku karena aku sedang mengalami kesulitan finansial?” tanyaku, nadaku sedikit tertahan. Sebenarnya aku marah, dia telah menyinggung perasaanku.

“ne. Asalkan kau memenuhi satu permintaanku.”

Sudah kuduga. Pasti ada udang di balik batu!! Aku menggeram tertahan.

“Apa permintaan anda.” Tanyaku penasaran. Boleh kan aku tahu. Jika ucapannya selanjutnya sesuai dengan apa yang kupikirkan, aku akan mengusirnya detik itu juga.

“Ubah margamu menjadi Lee, dan menikahlah.”

Jdeeertt!!!

Seolah mendengar suara bom yang mendentum keras tepat di telingaku, aku terpaku dan aku yakin mataku melotot lebar dan mulutku menganga. Secepat kilat kunormalkan kembali kondisiku dengan menggelengkan kepala.

“Maaf jika perkataanku kasar, Tuan Lee. Tapi pergilah dari rumah ini” ucapku seraya berdiri.

Pria di depanku ini tidak terlihat tersinggung. “Kumohon Park Hae Bin, terimalah tawaran ini. Hidupmu bisa berubah jika kau mengikuti tawaranku.” Ucapnya lagi.

“Silakan pergi tuan..” ucapku sekali lagi sambil mengarahkan tanganku ke pintu.

“Kenapa aku harus menuruti permintaan anda dan menikah.. apa hak anda..” ucapku. Oke, kuakui emosiku sudah mulai naik.

“Aku memang tidak memiliki hak. Namun aku sedang memohonn padamu. Semua kesulitan hidupmu akan kutanggung jika kau mengabulkan permintaanku.” Ucapnya lagi.

“Tidak..” tegasku. “Tak peduli anda teman baik ayahku atau bukan, tapi silakan keluar sekarang!”

Akhirnya Tuan Lee menyerah juga dan keluar. Aku segera menutup pintu dan menguncinya. Badanku terasa lemas dan terpaksa aku menyandarkan diri ke pintu.

“Apa lagi sekarang.. Tuan Lee pasti sudah gila.. untuk apa dia memintaku menikah.” Ucapku heran dan bingung.

@@@

*Author Pov*

@Myungji University

“Tidak salah lagi, pasti pria itu menyukaimu dan berniat menjadikanmu istri simpanannya.” Ucap Shin In Sung, sahabat dekat dari Park Hae Bin.

Hae bin mengerjapkan mata. Seolah baru menyadari hal yang tidak terpikirkan olehnya itu. Ia menghentikan kegiatannya memasukkan buku ke dalam tas. Kelas baru saja selesai tadi dan Hae bin segera menceritakan kejadian kemarin pada In Sung.

“Kau benar. Itu mungkin saja terjadi..” Hae bin jadi ngeri sendiri. Untung kemarin ia menolak mentah-mentah tawaran Tuan lee, jika tidak entah bagaimana masa depannya jika harus menjadi istri dari pria yang usianya terpaut 30 tahun dengannya.

“Tapi ada baiknya juga kau terima tawarannya. Dia menawarimu segalanya, Hae bin. Hidupmu yang suram ini bisa berubah 360 derajat dan kau mendadak akan menjadi seorang putri.” In Sung mulai berimajinasi lagi.

Hae Bin mendesah. “Jika yang ada di otakku hanya uang dan kekayaan, mungkin aku akan segera menerimanya. Tapi tidak, In Sung-ah.. uang bukan satu-satunya kebutuhan untuk hidup.”

“Memang sih.. lalu apa yang kau butuhkan? Cinta? Jangan picik Hae bin-ah. Tanpa uang, cinta tidak akan ada. Uang memang bukan segalanya. Tapi segalanya membutuhkan uang. Termasuk cinta”

“Huh,itu kan menurutmu.”

“Tapi Hae bin, pikirkan saja lagi. Kau membutuhkan uang kan sekarang. Pikirkan, mungkin jika kau menikah pria itu akan melunasi semua hutang keluargamu, termasuk membayar biaya kuliahmu yang belum kau bayar selama 1 tahun itu.”

“In Sung, cukup. Aku tidak ingin membahasnya..” ucap Hae bin begitu selesai membereskan semua bukunya, ia segera pergi meninggalkan In Sung.

@@@

Baru saja ia membahas perihal biaya kuliah, ia mendapatkan surat peringatan dari sekolah. Isi surat itu mengatakan, ia akan di D.O jika tidak segera melunasi biaya administrasi dalam tempo yang ditentukan.

Hae bin melempar surat yang dibacanya itu dan menendang tembok di dekatnya. Mana bisa dia di D.O semudah itu setelah semua perjuangan yang dilakukannya untuk masuk jurusan psikologi universitas itu.

“Aaargggh.. aku benci…” teriak Hae Bin sambil mengacak rambutnya.

Jika ia dikeluarkan dari universitas, bagaimana dengan cita-citanya yang ingin menjadi seorang psikolog? Dan menyembuhkan ibunya yang menderita tekanan mental itu? Ini tidak boleh terjadi.

Bahkan ketika kerja pun, Hae bin masih terpikirkan semua masalah keuangannya. Hingga ia melakukan kesalahan, tanpa sengaja ia menjatuhkan gelas-gelas yang sedang dibawanya. Manager kafe tempat ia bekerja segera mengomelinya. Berkali-kali Hae bin meminta maaf dan berjanji akan bekerja lebih hati-hati.

“Eotteohke..” ucapnya kebingungan sendiri. Kini ia sedang dalam perjalanan pulang. Di saat kepalanya dipenuhi berbagai macam pikiran menjari jalan keluarnya, ia melihat di sebuah etalase manekin yang memakai baju yang sangat indah dan sepatu model terbaru pun di pajang di etalasenya.

“Omona.. ini model terbaru..” serunya girang. Sejenak ia melupakan semua masalahnya. Yah, 1 hal yang Hae bin sukai selain membaca buku dan memandangi langit, yaitu fashion. Tapi selama ini ia selalu mengurungkan niatnya untuk memanjakan dirinya sendiri. Padahal ia sangat ingin seperti yeoja pada umumnya, memakai baju dan aksesorisnya yang indah. Tapi demi hidup dan membayar hutang-hutangnya, ia harus melupakan keinginannya itu.

“Tidak, Hae bin, sadarlah.. lupakan high heels cantik ini..” serunya menenangkan diri agar tidak bernafsu pada benda itu. Ia kemudian kembali melanjutkan perjalannya dengan perasaan kalut.

@@@

“Apa aku terima saja permintaan tuan Lee?” hae bin memandangi kartu nama yang dipegangnya dengan ragu. Tuan Lee sempat meninggalkan kartu namanya sebelum pergi agar jika Hae bin berubah pikiran, ia bisa segera menghubunginya.

“Ah tidak! Menikah di usiaku yang ke 23? Rasanya sangat aneh dan gila! Apalagi jika suamiku adalah kakek-kakek?” Hae bin mengurungkan niatnya lagi. Kemudian ia hendak pergi tidur ketika mendadak seseorang mengetuk-ngetuk pintu rumahnya dengan sangat kencang hingga menimbulkan keributan.

Hae bin menegang, jangan-jangan itu debt collector yang kembali untuk menagih hutang..

“Buka!!! Aku tahu kau di dalam!!!” seru pria dari balik pintu. Ya.. benar kan dugaannya..

Eotteohke… haebin merinding dalam keadaan berdiri kaku..

 

Haebin merinding di tempatnya berdiri. Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan memikirkan ide yang mungkin terlintas. Namun rupanya otaknya bekerja lebih lambat dari gerakan orang di balik pintu. Tanpa basa-basi mereka yang tadi mengedor pintu kini mendobrak pintu rumah haebin hingga engsel pintunya rusak.

Deg.. deg…deg…

Sekujur tubuh Haebin gemetar tak menentu. Seorang yang sudah dikenalnya, yakni bawahan rentenir yang sering menagih hutang kepadanya bergerak maju dengan wajah menakutkan.

“Saatnya kau membayar hutangmu, nona..” ucapnya dengan nada tak kalah menyeramkan.

Kaki Haebin mundur selangkah. “A..aku.. akan bayar.. aku janji.. tapi tidak hari ini.. jebal, lepaskan aku kali ini..”

”Huh, kau sudah sering menghindar nona. Kali ini tidak akan ada keringannan untukmu seperti hari-hari sebelumnya. SEKARANG CEPAT BAYAR HUTANGMU!!!” teriak pria itu tepat di depan Haebin..

Perasaan Haebin sudah campur aduk tak menentu. Ia segera mengambil langkah seribu untuk kabur. Tapi sama saja seperti maling yang menyerahkan diri dengan masuk ke kandang singa, Haebin dengan mudahnya tertangkap oleh anak buah pria itu yang ternyata sudah berjaga di sekeliling rumahnya.

“kyaaaa….jebal lepaskan aku…” pinta Haebin dengan wajah memelas. Kini ia tengah ditahan oleh 2 orang pria kekar. Pria berwajah menakutkan itu menyeringai.

“Bagaimana jika aku beri kau kemudahan dalam membayar hutangmu?” tawarnya. Haebin mendelik tajam.

“Shireo! Aku yakin kau sudah merencanakan hal yang bukan-bukan untukku. Iya kan!” Haebin menuduh.

Pria itu menyeringai lagi, kali ini lebih horor. Bulu kuduk Haebin sampai berdiri. Pria itu mendekat, ia mencengkram pipi Haebin dengan tangannya yang kekar. Gerakan tangan pria itu begitu kasar sehingga Haebin meringis kesakitan.

“Wajahmu lumayan. Dan tubuhmu pun bisa dimanfaatkan. Kau pasti cocok bekerja di klub malam baru milik bos..” ucapnya dengan senyum lebar yang membuat Haebin ingin menyumpal mulutnya itu dengan sepatu.

“Aku tidak mau!! Tolong lepaskan aku…” Haebin meronta-ronta namun gerakannya itu kalah kuat oleh 2 orang pria kekar yang menahan tangannya.

“Seret dia ke mobil! Dan bawa ke klub baru itu!!” perintah pria itu di iringi anggukan cepat oleh anak buahnya.

“ANDWAE… TOLOONNG!!!” Teriak Haebin sambil berusaha melepaskan diri ketika mereka menyeret tubuhnya secara paksa ke dalam sebuah mobil.

To be continued..

135 thoughts on “Shady Girl [Part 1]

  1. Wowww crita yg mnarikkk ak suka karakter hae dsini yg mrip dgn sftnya embul di bnyak ff yg lain hahahahha
    Very nice eonni ^-^

  2. hai. aku reader baru. izn baca ya.
    ff nya keren. aku suka gaya bahasanya🙂
    penasaran apa yg akn trjadi sm haebin. gimana kisah dy sampe alhirnya sm donghae. trus nisan syp yg d kunjungi donghae d part awal?

  3. haebin salah paham nih haha lagian tuan Lee ngomongnya ngga lengkap -,- dia ngga ngomong haebin harus married sama siapa. berjuanglah melawan debt collector haebin-ah hahahaaa

  4. wait wait kyaknya tuh haebin salah paham, bukan menikah ma tuan lee tapi ma anaknya kan ya…
    ak ijin baca lanjutannya eonni

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s