Guardian Angel (Part 1)

Tittle : Guardian Angel Part 1

Author: Dha Khanzaki a.k Shin Je Young
Genre: Romance, fantasy (gaje), Switch Gender (SG)

Lenght : Chapter 1 of 4
Cast:

  • Jo Youngmin (Yeoja)
  • Kim Donghyun
  • Jo Kwangmin (Yeoja)
  • Kim Jaejoong a.k Appa
  • Kim Taeyeon a.k Umma

other cast:

  • (tokoh2 gaje bakal muncul s’iring brjalan’y cerita)

Balik lagi Author yang super gaje tapi berusaha supaya ceritanya gak gaje, Shin Je Young.. Aku sekarang bawa FF yang bergenre agak aneh. Jo Twins aku bikin jadi yeoja di sini, hehehe.. buat chingudeul yang biasnya Jo Twins, mianhae kalo gak suka ama ceritanya. Author gak ada maksud apa-apa. Biar ceritanya seru aja…

warning: Cerita ini hanya fiktif belaka n murni hasil dari otak author yg udah ngebul mikirin ide cerita yg bagus. Jadi jika ada kesalahan karakter, pengetikan, ceritanya ngawur ato gaje, hehehe, maklum aja ya.. Author masih punya banyak kekurangan.

HAPPY READING..

Guardian Angel By Dha Khanzaki


@@@

Siang itu, di sebuah gedung berlantai 9, tepat di tepiannya berdiri namja berparas tampan. Headphone terpasang di telinganya dan mengalunkan lagu I’ll Be There. Matanya terpejam, menghayati makna dari lagu itu. Tetesan bening pun meleleh di sudut kedua matanya. Ia menangis.

Ya, namja itu adalah Kim Donghyun. Dalam bayangan matanya terbayang beberapa kejadian tidak menyenangkan. Tentang hidupnya. Juga terselip kenangan saat dia kecil, saat ia brtemu dengan gadis manis yang menangis sendirian di rumah sakit.

“Tidak ada lagi alasan untuk ku hidup di dunia ini” gumamnya dengan suara berat. Ini keputusan akhir yang dibuatnya. Ia sudah muak dengan keadaan hidupnya yang berantakan. Orangtua yang tidak pernah rukun, selalu bertengkar, teman-teman yang selalu mengejeknya karena masalah orangtuanya yang sudah jadi gosip masyarakat. Maklum, kedua orangtuanya adalah penyanyi terkenal. Dan satu-satunya benda yang bisa membuatnya tenang, kalung pemberian orangtuanya sudah ia berikan pada oranglain.

Donghyun membuka mata. Langkahnya mendekati sisi gedung. Ia menaiki pagar pembatas. Hatinya sudah bulat. Ia akan mengakhiri hidupnya sendiri.

“Selamat tinggal semuanya” lirih Donghyun datar smbil memandang hiruk pikuk kota Seoul dari ketinggian. Donghyun melepaskan pegangannya dan terjun dari lantai 9 itu. Pandangannya berubah gelap.. Dunia menjadi gelap gulita dalam sekejap..

Aku sudah mati.. Pikir Donghyun. Kepalanya berdenyut sakit dan badannya terasa ringan.

—-o0o—-

Ketika ia membuka mata, yang tertangkap pertama kali adalah ruangan putih.. Benar, ia sudah ada di surga. Donghyun melebarkan pandangannya dan melihat ada kursi, buket kecil, dan.. Selang infus menempel di tangannya. Eh, tunggu dulu! Ini bukan surga melainkan rumah sakit!!

Donghyun terkesiap dan bangun. Otaknya mulai bekerja. Itu artinya ia belum mati. Badannya bergetar. Mana mungkin.. Ia terjun dari lantai 9. Tidak mungkin ia masih hidup dan hanya merasa sakit di bagian kepala. Donghyun memegang kepalanya sendiri. Tidak ada perban, dan badannya tidak terluka sedikitpun. Aneh sekali. Sangat..

“Kau sudah sadar rupanya..”

Donghyun menoleh mendapati ada suara seorang yeoja.

“Haa! Siapa kau!!” Sargah Donghyun panik. Seorang yeoja sedang duduk di sampingya sambil menopang dagu di kasur tempat ia berbaring. Yeoja itu tersenyum manis. Sangat manis. Ah tidak, ia cantik sekali. Matanya coklat dan ia berambut blonde panjang dan bergelombang di bagian bawah rambutnya.

“Aku yang sudah menolongmu” jawabnya dengan suara ceria, senyum manis itu masih ada di wajahnya.

“Menolongku? Kau yang membawaku kemari?”

“Andwae. Aku yang menyelamatkanmu saat kau terjun”

Donghyun mengerutkan dahi. Apa maksud yeoja ini?

“Mustahil. Mana mungkin. Memang kau bisa terbang” ujar Donghyun setengah bercanda.

Yeoja itu mengerjap. “Tentu saja. Aku kan guardian angel mu” jawabnya langsung

Donghyun langsung tertawa. Yeoja ini mencoba membodohinya. Dia pikir ia akan percaya dan menelan kalimat itu mentah-mentah.

“Kau pikir aku percaya! Dilihat dari sudut manapun kau itu manusia!!” Bentak Donghyun.

Yeoja itu berdiri. Donghyun bisa melihat dress putih selutut yang dipakainya. Sangat indah. Membuat yeoja ini makin terlihat cantik.

“Kau pasti bertanya-tanya kan, mengapa kau masih hidup padahal terjun dari tempat setinggi itu. Jawabannya sederhana. Aku yang menolongmu karena aku malaikat penjagamu” jelasnya panjang lebar.

Yeoja ini gila. Batin Donghyun dengan mata menyipit curiga. Bagaimana bisa dia ditolong oleh yeoja gila seperti ini?!

“Kau bohong!” ucap Donghyun tak percaya.

“Aku tidak bohong”

“Kau bohong!! Sudah, aku brterima kasih sekali karena sudah kau tolong tapi kumohon jangan membohongiku. Oke” pinta Donghyun

“Tapi aku tidak bohong” kekeuh-nya.

Donghyun sudah tidak kuat lagi. Rasanya ia ingin meledak dan membentak yeoja gila di hadapannya agar sadar dan tidak berkata gila lagi. Tapi tidak jadi karena mendadak pintu terbuka. Lee Jeongmin dan Hyun Seong, dua sahabat karibnya masuk bersamaan. Membuat yeoja itu agak menjauh

“Kau tidak apa-apa? Aku kaget sekali mendengar kau ditemukan pingsan di depan gedung A” ujar Jeongmin dengan wajah cemas

“Kenapa? Ada apa sebenarnya?” Hyun seong juga ikut bertanya

Donghyun bukannya menjawab malah berseru tidak jelas.

“Kalian, kalian lihat yeoja gila itu kan?! Tolong buat dia sadar dan tidak bicara ngawur. Itu sangat mengganggu dan membuatku bingung” cecar Donghyun sambil menunjuk yeoja itu yang berdiri di belakang mereka.

Jeongmin dan Hyunseong menengok ke arah yang dimaksud. Wajah mereka merengut karena tak menemukan sosok apapun selain ruang kosong. Mereka  bingung.

“Yeoja mana?” tanya Jeongmin dengan kening berkerut.

“Tidak ada siapapun. Ya! Kau ingin menakuti kami?!” Hyunseong bingung sekaligus takut juga.

Donghyun tercengang, heran, dan tidak percaya. Masa teman-temanya tidak bisa melihat yeoja itu. Jelas-jelas gadis itu ada di depan mata mereka.

“Kalian jangan bercanda!” seru Donghyun dengan nada tinggi.

“Kami serius. Tidak ada yeoja disini” jawab Hyunseong yakin. Dimatanya ia memang tidak melihat orang lain di ruangan itu.

“Aigoo, ini pasti efek dari benturan di kepalamu” Jeongmin mendekat dan memeriksa kepala Donghyun

“Tidak.. Mungkin..” lirih Donghyun, makin bingung. Kedua temannya itu lalu pergi memanggil dokter karena takut terjadi sesuatu yang serius dalam otak kawannya.

Setelah Jeongmin dan Hyunseong pergi, Yeoja itu kembali memdekat.

“Sekarang kau percaya kan? Orang lain tidak akan bisa melihatku. Hanya kau yang bisa” ujarnya penuh misteri. Donghyun terdiam. Otaknya makin terasa aneh. Cenat cenut tidak jelas. Ia bukan orang yang berpikir irasional. Percaya pada hal-hal berbau mistik dan ghaib. Ia masih waras. Tapi bagaimana ia menjelaskan kejadian ini? Dan teman-temannya yang tidak bisa melihat yeoja ini.

Donghyun melirik yeoja itu lagi. Mau tidak mau, akhirnya ia percaya juga.

***

PRANGG!!

Saat membuka pintu rumah, Donghyun sudah di suguhkan pemandangan menyesakkan. Orangtuanya kembali bertengkar.

“Pergi kau dan jangan kembali!!” teriak Kim Taeyeon, Ummanya pada namja di hadapannya.

“Baik! Ku harap kau tidak menyesal dan memohon padaku untuk kembali!” Kim Jaejoong, Appanya balas berteriak. Kepala Donghyun berdenyut sakit. Ia tidak tahan mendengar suara teriakan saling mencaci dari mulut orangtuanya. Mereka hanya sibuk mengurus masalah masing-masing hingga melupakan keberadaannya. Bahkan mereka tidak sadar kalau hari ini anak mereka hampir saja mati bunuh diri.

“Aigoo, itu orangtuamu? Mereka tidak rukun ya?” ujar ‘guardian angel’ yang brdiri di sampingnya. Entah siapa namanya. Donghyun menatap dengan mata kosong pemandangan yang menjadi santapannya sehari-hari itu.

“jangan pedulikan mereka. Ini sudah jadi sarapanku sehari-hari” Donghyun melangkah masuk. Kim Jaejoong berjalan cepat melewatinya dengan tampang kesal. Bahkan tidak menoleh sedikitpun. Jaejoong berjalan pergi, membanting keras pintu rumah. Donghyun hanya menghela napas berat. Ia lalu menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.

—-o0o—-

Tiap hari keadaannya selalu seperti itu. Orangtuanya selalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing di dunia entertainment dan pulang selalu bertengkar. Masalahnya bisa apa saja. Sampai-sampai mereka melupakan dirinya, juga tidak tahu kalau putranya sangat frustasi dan hampir saja mengakhiri hidupnya sendiri jika tidak ditolong oleh arwah penasaran di dekatnya, yang mengaku sebagai ‘guardian angel’.

“Donghyun-ssi, tadi kulihat Ummamu menangis”

“Biar saja. Aku ingin istirahat” ia membaringkan diri di sofa. Sebenarnya Donghyun sangat cemas, tapi ia sudah malas. Ia tidak mau melihat pemandangan miris lagi.

“Siapa namamu?” tanya Donghyun, ia bangkit lalu melirik pada yeoja jejadian itu. “Tidak mungkin kan aku memanggilmu ‘guardian angel’!” lanjut Donghyun dengan nada menyindir.

“Youngmin. Kau bisa memanggilku Youngmin” jawabnya dengan wajah ceria.

“ternyata kau punya nama juga.” ujar Donghyun malas. Ia kembali merebahkan dirinya.

“Donghyun-ssi, kenapa tadi kau ingin bunuh diri? Apa karena masalah keluargamu?” tanya Youngmin, ia duduk di tepi tempat tidur

“Bukan urusanmu!” tegas Donghyun. Ia bangkit kemudian mengamati arwah itu. Youngmin manggut-manggut.

“Yah.. Kau tidak bilang pun aku tahu semuanya. Aku kan malaikat penjagamu”

“Kalau begitu kenapa bertanya!” kesal Donghyun. Youngmin tersenyum lalu berjalan mendekati Donghyun. Berlutut di hadapannya yang sedang duduk di sofa.

“Karena itu aku ada di sini” ucap Youngmin lembut.

Donghyun mengerjap melihat Youngmin yang tersenyum tulus padanya.

“Aku di sini untuk menyelamatkanmu” lanjut Youngmin. Namja itu terperangah.

“Menyelamatkanku?” Youngmin mengangguk, lalu kembali berdiri.

“Iya. Menyelamatkan orang yang brpikir hidupnya sudah rusak dan ingin mati dengan cara yang menyedihkan”

“Bunuh diri maksudmu?” tanya Donghyun sarkastis.

“Iya. Kau tahu, bunuh diri bisa membuatmu sulit bereinkarnasi”

Donghyun tersenyum sinis. “Jika aku harus hidup kembali dalam keadaan seperti sekarang, aku lebih memilih mati”

Youngmin menggeleng cepat “Kau salah. Jika kau mati kau justru akan menyesal. Karena hidup itu jauh lebih menyenangkan di bandingkan kematian.”

“Oh ya, bagian mana yang menyenangkan! Di hidupku tidak ada yang seperti itu! Sekarang jangan ganggu aku! Aku ingin istirahat!” Donghyun kembali berbaring lalu memejamkan mata. Youngmin diam.

“Hah, sepertinya tugasku akan sulit” gumamnya.

—o0o—

Donghyun agak cemas ketika melangkahkan kakinya melewati gerbang, memasuki gedung sekolah, kemudian  berjalan di koridor. Takut ada orang yang bisa melihat keberadaan Youngmin, ‘arwah’ yang sekarang selalu mengekor di belakangnya. Ternyata tidak. Mereka tampak biasa saja.

“Ha, lihat, kau masih berani masuk juga. Kau tidak malu apa, masalah orangtuamu seluruh murid di skolah ini sudah tahu” seseorang mencibir ketika Donghyun lewat. Donghyun melengos malas. Ia menoleh pada orang yang sudah menyindirnya itu.

“Ya! Untuk apa kau urusi masalahku? Urus saja masalahmu sendiri!” balas Donghyun datar. Lalu pergi. tatapan dingin, cara bicara yang datar, dan aura mencekam di sekitarnya membuat orang tadi bungkam. Donghyun segera membalikkan badannya pergi.

“Donghyun-ssi, kau sangat keren! Bagus sekali ucapanmu tadi. Huh, kalau aku, sudah kumasukkan ke tong sampah orang tadi” kata Youngmin. Donghyun tidak menjawab. Tentu saja. Mana mungkin ia menjawab. Orang-orang di koridor akan menganggapnya gila karena berbicara sendiri.

“Hei, kau sudah masuk?” seru Jeongmin saat Donghyun tiba di kelas.

“keadaanmu memang sudah lebih baik?” Hyun seong ikut berkomentar

“Begitulah” ucap Donghyun sambil duduk di bangkunya yang berada di paling belakang. Youngmin ikut duduk di bangku sebelahnya, kebetulan ia duduk seorang diri. Yah, tidak ada yang mau duduk dengannya.

—o0o—

“Wah, rasanya sudah lama sekali aku tidak menikmati pelajaran dari guru sperti ini!” seru Youngmin kagum. Donghyun menoleh sebentar, kemudian kembali fokus ke arah Bu Hyorin yang sedang menjelaskan pelajaran di depan

“Donghyun-ssi, bagaimana rasanya? Menyenangkan bukan” lanjut Youngmin sambil menoleh pada namja itu.

“Tidak!” jawab Donghyun pelan, tegas, cepat dan datar.

“Ha, aneh sekali. Aku saja sangat rindu dengan suasana sperti ini..” Youngmin terus mengoceh. Donghyun jadi terganggu lalu ia menggebrak meja, tanpa sadar.

“Bisakah kau diam!!” teriak Donghyun jengkel. Suasana kelas yang sepi membuat ulah Donghyun jadi pusat perhatian. Seisi kelas menoleh bingung. Apa yang dibentak Donghyun atau siapa.

“Kim Donghyun!! Apa yang kau lakukan?!” Bentak Bu Hyorin. Pelajarannya jadi terhenti karena Donghyun tiba-tiba membuat keributan.

Donghyun berhenti menatap Youngmin dan menoleh ke arah orang-orang di kelas, terutama Bu Hyorin yang wajahnya sudah sangar di depan sana.

“Kim Donghyun, kemari!” perintah Bu Hyorin galak.

“Waduh.. Eotteohke..” lirih Youngmin panik. Donghyun tidak punya pilihan. Ia berdiri dan maju ke depan kelas. Murid lain hanya bisa menyaksikannya dengan tatapan iba. Bu Hyorin terkenal galak dan killer. Itu alasan kenapa kelas selalu sepi seperti di kuburan jika sedang pelajarannya.

Youngmin mengikuti Donghyun ke depan lalu berdiri di sampingnya, tepat di hadapan mereka berdiri Bu Hyorin yang bertampang cantik tapi sangar tengah melipat tangan di depan dada.

“Iya bu. Ada apa?” tanay Donghyun. Ia tidak panik sedikitpun. Padahal murid lain seperti itu.

“Apa kamu menyimak pelajaran ibu?” tanay Bu Hyorin galak.

“Iya” jawabnya tenang. Bu Hyorin rupanya tidak menerima begitu saja pengakuan Donghyun. Ia menulis beberapa soal di papan tulis lalu menatap Donghyun lagi.

“Kalau begitu kerjakan soal-soal ini. Jika kau memang menyimak pelajaran ibu tadi”

Murid lain terkejut. Soal di papan sangat sulit. Bahkan mereka yang menyimak dengan sangat baik pun tidak mengerti.

“Eotteohke..” Youngmin panik dan bergerak-gerak gelisah. Apa yang harus dilakukannya? Ini bukan situasi siaga satu. Jadi ia tidak bisa menggunakan kekuatannya. Donghyun menatap soal-soal itu sejenak. Lalu mengambil kapur dan menjawab soal-soal itu dengan lancar. Tak lama ia selesai mengerjakan semuanya.

“Apa segini cukup Bu?” tanay Donghyun ketika sudah menyelesaikan soal-soal itu. Ibu guru itu terbelalak sesaat namun tidak bisa protes. Ia meneliti setiap jawaban dan tidak ada yang salah. Malah jawabannya nyaris sempurna.

“Ya, kau boleh duduk” ucap Bu Hyorin.

Murid lain yang kagum langsung bertepuk tangan. Seperti biasa, Donghyun selalu brhasil menakhlukan Bu Hyorin.

“Daebak! Donghyun-ssi, tak kusangka kau ternyata pintar!” seru Youngmin sambil mengacungkan kedua jempolnya saat Donghyun sudah duduk di tempatnya lagi.

“Diamlah, Youngmin. Kau mau aku di hukum bu killer itu lagi” desis Donghyun pelan agar oranglain tidak ada yang dengar. Youngmin langsung duduk manis.

“Araseo. Mianhae”

—-o0o—

Saat istirahat, Donghyun berjalan santai ke kantin sementara Youngmin mengikutinya di belakang. karena bosan terus diacuhkan, Youngmin iseng menoleh kiri kanan dan tanpa sengaja pandangan matanya terbentur pada sesuatu yang menarik di dalam sebuah ruangan.

“Donghyun-ssi, lihat, ada piano!” seru Youngmin. Donghyun menoleh malas ke arah ruang kesenian yang kebetulan dilewatinya. Di dalam sana memang ada piano.

“Ya terus” tanya Donghyun tidak paham

“Kita masuk. Dan memainkannya” ucap Youngmin semangat sambil menggerakan jarinya seperti orang yang tengah main piano.

“Shireo! Kau mainkan saja sendiri” jawab Donghyun dingin. Ia kembali berjalan

“Waeyo? Aku suka sekali bermain piano”

“Tapi aku tidak!” ujar Donghyun tegas. Ia berbalik ke arah Youngmin, menatapnya dengan wajah dingin dan menusuk.

“Aku benci musik dan tetek bengeknya! Jangan pernah mengajakku bermain piano, menyanyi, atau apapun yang berhubungan dengan itu!”

Youngmin cemberut “Tapi kau suka mendengarkan musik kan, buktinya kemarin di kamarmu kulihat banyak CD lagu”

Donghyun mendengus kesal “Aku mendengarkan musik hanya untuk menghibur diri” lanjutnya lalu kembali berjalan pergi

“Haah.. Benar-benar pribadi yang sulit!” Youngmin putus asa.

—o0o—

Sekarang rumah begitu sepi dan lenggang. Kedua orangtuanya sedang pergi. Donghyun setidaknya lega, dia tidak perlu mendengar suara-suara bising yang bisa mmbuat kepalanya pening. Donghyun ke dapur untuk mengambil makanan di kulkas sementara Youngmin berkeliaran di sekitar ruang tengah.

“Wow, trofinya banyak sekali. Ah, Kim Taeyeon dan Kim Jaejoong memang sudah tidak diragukan lagi kehebatannya” gumam Youngmin saat dia melihat banyak trofi dan penghargaan musik yang diraih kedua orangtua Donghyun.

Donghyun kembali dengan membawa apel dan minuman ringan. Ia melihat arwah jejadian itu senyam senyum menatapi piala-piala orangtuanya. Tiba-tiba saja ia teringat sesuatu.

“Youngmin” panggil Donghyun.

“Nde” ia menoleh

“Sepertinya kau lebih muda dariku. Saat kau hidup, apa kau seorang pelajar juga?”

Youngmin terkesiap, takjub. “bagaimana kau tahu aku pernah hidup?”

Donghyun duduk di sofa yang menghadap TV, ia meneguk minumannya lalu kembali menatap Youngmin

“Kau pikir aku bodoh? Bukankah arwah yang menjadi malaikat penjaga karena ada hal yang membuatnya tidak bisa pergi dan harus menjadi malaikat penjaga dalam periode trtentu agar dia bisa melakukan hal yang masih mengganjal itu” ujarnya panjang lebar.

Youngmin diam sesaat. Kagum juga. Ternyata dia menjaga orang yang hebat.

“Ah, ternyata kau memang pintar!” ucap Youngmin. Dia menghela napas berat. Pandangannya mulai meredup.

“Memang benar. Aku menjadi penjagamu karena ada hutang yang ingin aku lunasi. Aku tidak bisa pergi sebelum melunasinya.” jawab Youngmin dengan wajah sendu.

“Pada siapa kau harus melunasi hutangmu?”

“Adikku”

Donghyun agak terkejut “Adik? Jadi kau punya adik? Itu artinya kau juga punya keluarga?”

Youngmin menggeleng “Tidak. Kedua orangtuaku sudah tidak ada. Mereka meninggal karena kecelakaan. Aku hanay tinggal berdua dengan adikku”

Eh, Donghyun terdiam. Ia jadi tidak enak hati karena sudah bertanya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Youngmin semasa hidupnya. Tumbuh tanpa orangtua dan hanya tinggal bersama adiknya. Omona, pasti sangat menyedihkan.

“Karena itu Donghyun-ssi, bantulah aku menyelesaikan tugasku dengan baik. Oke!” pinta Youngmin

“Oh, nde” jawab Donghyun linglung.

Youngmin tersenyum. Padahal dalam hati ia sedih. Aku sudah melanggar peraturan. Harusnya aku tidak berkata macam-macam padanya. Batin Youngmin. Tapi entah kenapa ia tidak bisa menolak menjawab pertanyaan Donghyun. Melihat namja ini, menatapnya dalam-dalam, membuatnya semakin merasa menyesal, tidak tahu kenapa. Yang pasti ia menyesal kenapa ia harus meninggal dan menjadi penjaganya. Hal ini membuatnya sesak.

Oh dear, apa mungkin ia jatuh cinta pada orang yang dijaga olehnya? Ini tidak mungkin!! Ia tidak boleh tertarik pada orang yang masih hidup. Ini tidak boleh terjadi! Teriak Youngmin dalam hati.

_to be continued_

26 thoughts on “Guardian Angel (Part 1)

  1. Annyeong…fanfict pertama yang aku baca di blog author…

    Kkk~guardiannya c youngmin…….aku suka alurnya.. kaanya menarik..
    Aku bakal baca fanfict author sampe abis…hehehehe..aku bakal sering ngintipin author…kk
    Eoh ea..thanks juga buat yg udah kasih recommend blog nya author^^
    (^ㅗ^=

  2. Waaahhh min, salam kenal ya min, aku pembaca baru😀
    lucu juga ya min klo si kembar Jo Kwangmin dan Jo Youngmin jadi Yeoja😀

  3. youngmin punya hutang apa,,??
    kasian dia gak bisa pergi sebelum urusan nya selesai sekarang malah harus berhadapan dg org macam donghyun,,
    lalu apa guardian angel boleh jatuh cinta,,??

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s